Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KIMIA

KEGUNAAN SEL ELEKTROLISIS DALAM


INDUSTRI

RISKI ASHARI
XIB/32

SMK ANALIS KESEHATAN NASIONAL SURAKARTA


TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PENGGUNAAN SEL ELEKTROLISIS

Penerapan dalam industri


Elektrolisis yang pertama dicoba adalah elektrolisis air (1800). Davy segera mengikuti dan
dengan sukses mengisolasi logam alkali dan alkali tanah. Bahkan hingga kini elektrolisis
digunakan untuk menghasilkan berbagai logam. Elektrolisis khususnya bermanfaat untuk
produksi logam dengan kecenderungan ionisasi tinggi (misalnya aluminum). Produksi
aluminum di industri dengan elektrolisis dicapai tahun 1886 secara independen oleh penemu
Amerika Charles Martin Hall (1863-1914) dan penemu Perancis Paul Louis Toussaint
Hroult (1863-1914) pada waktu yang sama. Sukses elektrolisis ini karena penggunaan
lelehan Na3AlF6 sebagai pelarut bijih (aluminum oksida; alumina Al2O3)
Sebagai syarat berlangsungnya elektrolisis, ion harus dapat bermigrasi ke elektroda. Salah
satu cara yang paling jelas agar ion mempunyai mobilitas adalah dengan menggunakan
larutan dalam air. Namun, dalam kasus elektrolisis alumina, larutan dalam air jelas tidak tepat
sebab air lebih mudah direduksi daripada ion aluminum sebagaimana ditunjukkan di bawah
ini.
Al3+ + 3e-> Al potensial elektroda normal = -1,662 V (10.38)
2H2O +2e-> H2 + 2OH- potensial elektroda normal = -0,828 V (10.39)
Metoda lain adalah dengan menggunakan lelehan garam. Namun Al2O3 meleleh pada suhu
sangat tinggi, sekitar 2050 C, dan elektrolisis pada suhu setinggi ini jelas tidak mungkin.
Namun, titik leleh campuran Al2O3 dan Na3AlF6 adalah sekitar 1000 C, dan suhu ini mudah
dicapai. Prosedur detailnya adalah: bijih aluminum, bauksit mengandung berbagai oksida
logam sebagai pengotor. Bijih ini diolah dengan alkali, dan hanya oksida aluminum yang
amfoter yang larut. Bahan yang tak larut disaring, dan karbon dioksida dialirkan ke filtratnya
untuk menghasilkan hidrolisis garamnya. Alumina akan diendapkan.
Al2O3(s) + 2OH-(aq)> 2AlO2- (aq) + H2O(l) (10.40) 2CO2 + 2AlO2 -(aq) + (n+1)H2O(l) >
2HCO3- (aq) + Al2O3nH2O(s) (10.41)
Alumina yang didapatkan dicampur dengan Na3AlF6 dan kemudian garam lelehnya
dielektrolisis. Reaksi dalam sel elektrolisi rumit. Kemungkinan besar awalnya alumina
bereaksi dengan Na3AlF6 dan kemudian reaksi elektrolisis berlangsung.
Al2O3 + 4AlF63-> 3Al2OF62- + 6F- (10.42)
Reaksi elektrodanya adalah sebagai berikut.
Elektroda negatif: 2Al2OF62- + 12F- + C > 4AlF63- + CO2 + 4e- (10.43)
Elektroda positif: AlF63- + 3e-> Al + 6F- (10.44)

Reaksi total: 2Al2O3 + 3C > 4Al + 3CO2 (10.45) Kemurnian aluminum yang didapatkan
dengan prosedur ini kira-kira 99,55 %. Aluminum digunakan dalam kemurnian ini atau
sebagai paduan dengan logam lain. Sifat aluminum sangat baik dan, selain itu, harganya juga
tidak terlalu mahal. Namun, harus diingat bahwa produksi aluminum membutuhkan listrik
dalam jumlah sangat besar.
Penerapan elektrolisis lainnya adalah penyepuhan logam, yaitu proses pemurnian logam dari
pengotor, seperti pemurnian tembaga untuk pembuatan kabel listrik. Contoh lainnya adalah
proses pelapisan perak kepada peralatan makan seperti sendok dan garpu.
Sel elektrolisis banyak digunakan dalam laboratorium dan industri, antara lain:
Penggunaan Elektrolisis dalam industri diantaranya adalah:

Untuk memproduksi zat

Banyak zat kimia yang diproduksi melalui elektrolisis seperti logam-logam alkali
magnesium,alumunium,fluorin,klorin,natrium,dan lainnnya.Contoh produksi:produksi klorin
dan NaOH dalam industri secara industri klorin dan NaOH dapat dibuat memlalui elektrolisis
larutan natrium klorida.Proses ini disebut proses klor-alkali.Elektrolisis larutan NaCL dapat
menghasilkan NaOH.Reaksi yang terjadi:pada proses elektrolisis keadaan harus dijaga agar
yang terbentuk tidak bereaksi dengan NaOH.Oleh karena itu ruang anoda dan katoda dipisah
kan denagn bebebagai cara yaitu dengan sel diafragma/sel merkuri.

Untuk pemurnian logam, dengan prinsip

Logam kotor sebagai anode

Logam murni sebagai katode

Untuk penyepuhan (elektroplatting), dengan prinsip:


o Logam yang akan disepuh sebagai katode,
o Logam penyepuh sebagai anode.
o Elektrolit yaitu larutan yang mengandung ion logam penyepuh.
o Massa logam penyepuh akan berkurang.

Penyepuhan (Electroplating)

Suatu produk dari logam agar terlindungi dari korosi (perkaratan) dan terlihat lebih
menarik seringkali dilapisi dengan lapisan tipis logam lain yang lebih tahan korosi dan
mengkilat. Salah satu cara melapisi atau menyepuh adalah dengan elektrolisis. Benda yang

akan dilapisi dipasang sebagai katoda dan potongan logam penyepuh dipasang sebagai anoda
yang dibenamkan dalam larutan garam dari logam penyepuh dan dihubungkan dengan
sumber arus searah. Contoh: untuk melapisi sendok garpu yang terbuat dari baja dengan
perak, maka garpu dipasang sebagai katoda dan logam perak dipasang sebagai anoda, dengan
elektrolit larutan AgNO3. Logam perak pada anoda teroksidasi menjadi Ag+ kemudian
direduksi menjadi Ag pada katoda atau garpu. Dengan demikian garpu terlapisi. oleh logam
perak.

Penyulingan Tembaga

Salah satu elektrolisis yang paling menarik adalah pemurnian atau penyulingan logam
tembaga. Tembaga dapat dimbil dari bijinya, dengan cara ini sampai ke tingkat kemurnian
99%. Pengotornya sebagian besar adalah perak, emas, platina, besi dan seng menurunkan
konduktivitas listrik tembaga secara drastis sehingga harus disuling ulang sebelum dipakai
sebagai kawat atau kabel.

Tembaga tidak murni dipakai sebagai elektroda sebagai anoda pada sel elektrolisis yang
mengandung larutan tembaga sulfat dan asam sulfat (sebagai elektrolit). Katoda pada sistem
ini adalah tembaga dengan kemurnian tinggi. Jika selnya dijalankan pada tegangan yang
diperlukan, hanya tembaga dan pengotornya yang lebih mudah teroksidasi daripada tembaga,
seng dan besi yang larut disekitar anoda. Logam-logam yang kurang aktif akan runtuh dan
mengendap dibagian dasar wadah. Pada katoda, ion tembaga direduksi tetapi ion seng dan ion
besi tertinggal dilarutan karena lebih sukar tereduksi dari pada tembaga. Secara pelan-pelan
tembaga anoda terlarut dan tembaga katoda makin tumbuh. Suatu saat tembaga akan
mempunyai kemurnian 99,95%!
Kotoran yang terkumpul dibagian bawah biasanya disebut sebgai anoda, dapat dipindahkan
secara periodik dan nilai perak, emas dan platina dapat pula dihitung untuk memperoleh total
efisiensi pelaksanaan proses penyulingan.

Pembuatan Magnesium

Sumber utama magnesium adalah air laut. Mg2+ mempunyai kelimpahan terbesar ketiga
dalam laut, kalahannya oleh ion natrium dan ion klorida. Untuk memperoleh magnesium,
Mg(OH)2 diendapkan dari air laut. Pemisahan itu dilakukan dengan cara filtrasi dan lalu
dilarutkan dalam asam hidroklorit.
Mg(OH)2 + 2HCl MgCl2 + 2H2O
Larutan MgCl2 diuapkan dan menghasilkan MgCl2 padat yang lalu dilelehkan dan akhirnya
dielektrolisa. Magnesium bebas akan diendapkan pada katoda dan gas klorin dihasilkan pada
anoda.
MgCl2(l) Mg(l) + Cl2(g)

Pembuatan Aluminium

Bauksit adalah biji aluminium yang mengandung Al2O3-. Untuk mendapatkan aluminium,
bijih tersebut dimurnikan dan Al2O3 nya dilarutkan dan didisosiasikan dalam larutan elektrolit
eryolite. Pada katoda, ion-ion aluminium direduksi menghasilkan logam yang terbentuk
sebagai lapisan tipis dibagian bawah wadah elektrolit. Pada anoda yang terbuat dari karbon
Al(l) (katoda)
2O2- O2(g) + 4 e- (anoda)
4Al3+ + 6O2- 4Al(l) + 3O2(g) (total)
, ion oksida teroksidasi menghasilkan O2 bebas.
Reaksinya adalah :
Al3+ + 3e-

TUGAS KIMIA
APLIKASI SEL ELEKTROLISIS

SMK ANALIS KESEHATAN NASIONAL SURAKARTA


Tahun 2013/2014

Nama

: Vivy Purwandai

No

: 39

Kelas

: XI B

Penggunaan Elektrolisis
Penerapan dalam industri
Elektrolisis yang pertama dicoba adalah elektrolisis air (1800). Davy segera mengikuti dan
dengan sukses mengisolasi logam alkali dan alkali tanah. Bahkan hingga kini elektrolisis
digunakan untuk menghasilkan berbagai logam. Elektrolisis khususnya bermanfaat untuk
produksi logam dengan kecenderungan ionisasi tinggi (misalnya aluminum). Produksi
aluminum di industri dengan elektrolisis dicapai tahun 1886 secara independen oleh penemu
Amerika Charles Martin Hall (1863-1914) dan penemu Perancis Paul Louis Toussaint
Hroult (1863-1914) pada waktu yang sama. Sukses elektrolisis ini karena penggunaan
lelehan Na3AlF6 sebagai pelarut bijih (aluminum oksida; alumina Al2O3)
Sebagai syarat berlangsungnya elektrolisis, ion harus dapat bermigrasi ke elektroda. Salah
satu cara yang paling jelas agar ion mempunyai mobilitas adalah dengan menggunakan
larutan dalam air. Namun, dalam kasus elektrolisis alumina, larutan dalam air jelas tidak tepat
sebab air lebih mudah direduksi daripada ion aluminum sebagaimana ditunjukkan di bawah
ini.
Al3+ + 3e-> Al potensial elektroda normal = -1,662 V (10.38)
2H2O +2e-> H2 + 2OH- potensial elektroda normal = -0,828 V (10.39)
Metoda lain adalah dengan menggunakan lelehan garam. Namun Al2O3 meleleh pada suhu
sangat tinggi, sekitar 2050 C, dan elektrolisis pada suhu setinggi ini jelas tidak mungkin.
Namun, titik leleh campuran Al2O3 dan Na3AlF6 adalah sekitar 1000 C, dan suhu ini mudah
dicapai. Prosedur detailnya adalah: bijih aluminum, bauksit mengandung berbagai oksida
logam sebagai pengotor. Bijih ini diolah dengan alkali, dan hanya oksida aluminum yang
amfoter yang larut. Bahan yang tak larut disaring, dan karbon dioksida dialirkan ke filtratnya
untuk menghasilkan hidrolisis garamnya. Alumina akan diendapkan.
Al2O3(s) + 2OH-(aq)> 2AlO2- (aq) + H2O(l) (10.40) 2CO2 + 2AlO2 -(aq) + (n+1)H2O(l) >
2HCO3- (aq) + Al2O3nH2O(s) (10.41)

Alumina yang didapatkan dicampur dengan Na3AlF6 dan kemudian garam lelehnya
dielektrolisis. Reaksi dalam sel elektrolisi rumit. Kemungkinan besar awalnya alumina
bereaksi dengan Na3AlF6 dan kemudian reaksi elektrolisis berlangsung.
Al2O3 + 4AlF63-> 3Al2OF62- + 6F- (10.42)
Reaksi elektrodanya adalah sebagai berikut.
Elektroda negatif: 2Al2OF62- + 12F- + C > 4AlF63- + CO2 + 4e- (10.43)
Elektroda positif: AlF63- + 3e-> Al + 6F- (10.44)
Reaksi total: 2Al2O3 + 3C > 4Al + 3CO2 (10.45) Kemurnian aluminum yang didapatkan
dengan prosedur ini kira-kira 99,55 %. Aluminum digunakan dalam kemurnian ini atau
sebagai paduan dengan logam lain. Sifat aluminum sangat baik dan, selain itu, harganya juga
tidak terlalu mahal. Namun, harus diingat bahwa produksi aluminum membutuhkan listrik
dalam jumlah sangat besar.
Penerapan elektrolisis lainnya adalah penyepuhan logam, yaitu proses pemurnian logam dari
pengotor, seperti pemurnian tembaga untuk pembuatan kabel listrik. Contoh lainnya adalah
proses pelapisan perak kepada peralatan makan seperti sendok dan garpu.
Sel elektrolisis banyak digunakan dalam laboratorium dan industri, antara lain:
1. Pemurnian Logam(electrorefining)
Prinsip pemurnian logam dengan menggunakan reaksi elektrolisis larutan dengan elektrode
yang bereaksi. Logam yang kotor ditempatkan di anode sedangkan logam murni ditempatkan
di katode. Larutan yang digunakan adalah yang mempunyai kation logam tersebut.
Contohnya yaitu pemurnian logam tembaga.
2. Penyepuhan atau pelapisan logam
Penyepuhan bertujuan melindungi logam terhadap korosi atau memperindah penampilan.
Prinsip penyepuhan secara elektrolisis yaitu logam yang akan disepuh dijadikan katode,
logam penyepuh sebagai anode dan kedua elektrode itu dicelupkan dalam larutan garam dari
logam penyepuh. Contoh: penyepuhan sendok besi dengan perak yang menggunakan larutan
perak nitrat, dimana pada katode terjadi endapan perak sedangkan anode perak terus menerus
larut.

ELEKTROPLATTING

Elektroplatting adalah aplikasi elektrolisis pada pelapisan suatu logam atas logam yang lain.
Teknik ini bisa dipakai untuk memperbaiki penampakan dan daya tahan suatu logam.
Contohnya, suatu lapisan tipis logam chromium pada bemper baja mobil untuk membuatnya
menarik dan melindunginya dari karat. Pelapisan emas dan perak dilakukan pada barangbarang perhiasan yang berasal dari bahan-bahan logam yang murah. Berbagai lapisan-lapisan
tipis logam tersebut ketebalannya berkisar antara 0,03 s/d 0,05 mm.
Pembuatan Aluminium
Bauksit adalah biji aluminium yang mengandung Al2O3-. Untuk mendapatkan aluminium,
bijih tersebut dimurnikan dan Al2O3 nya dilarutkan dan didisosiasikan dalam larutan elektrolit
eryolite. Pada katoda, ion-ion aluminium direduksi menghasilkan logam yang terbentuk
sebagai lapisan tipis dibagian bawah wadah elektrolit. Pada anoda yang terbuat dari karbon,
ion oksida teroksidasi menghasilkan O2 bebas.
Reaksinya adalah :
Al3+ + 3e- Al(l) (katoda)
2O2- O2(g) + 4 e- (anoda)
4Al3+ + 6O2- 4Al(l) + 3O2(g) (total)
Pembuatan Magnesium
Sumber utama magnesium adalah air laut. Mg2+ mempunyai kelimpahan terbesar ketiga
dalam laut, kalahannya oleh ion natrium dan ion klorida. Untuk memperoleh magnesium,
Mg(OH)2 diendapkan dari air laut. Pemisahan itu dilakukan dengan cara filtrasi dan lalu
dilarutkan dalam asam hidroklorit.
Mg(OH)2 + 2HCl MgCl2 + 2H2O

Larutan MgCl2 diuapkan dan menghasilkan MgCl2 padat yang lalu dilelehkan dan akhirnya
dielektrolisa. Magnesium bebas akan diendapkan pada katoda dan gas klorin dihasilkan pada
anoda.
MgCl2(l) Mg(l) + Cl2(g)
Penyulingan Tembaga
Salah satu elektrolisis yang paling menarik adalah pemurnian atau penyulingan logam
tembaga. Tembaga dapat dimbil dari bijinya, dengan cara ini sampai ke tingkat kemurnian
99%. Pengotornya sebagian besar adalah perak, emas, platina, besi dan seng menurunkan
konduktivitas listrik tembaga secara drastis sehingga harus disuling ulang sebelum dipakai
sebagai kawat atau kabel.

Tembaga tidak murni dipakai sebagai elektroda sebagai anoda pada sel elektrolisis yang
mengandung larutan tembaga sulfat dan asam sulfat (sebagai elektrolit). Katoda pada sistem
ini adalah tembaga dengan kemurnian tinggi. Jika selnya dijalankan pada tegangan yang
diperlukan, hanya tembaga dan pengotornya yang lebih mudah teroksidasi daripada tembaga,
seng dan besi yang larut disekitar anoda. Logam-logam yang kurang aktif akan runtuh dan
mengendap dibagian dasar wadah. Pada katoda, ion tembaga direduksi tetapi ion seng dan ion
besi tertinggal dilarutan karena lebih sukar tereduksi dari pada tembaga. Secara pelan-pelan
tembaga anoda terlarut dan tembaga katoda makin tumbuh. Suatu saat tembaga akan
mempunyai kemurnian 99,95%!
Kotoran yang terkumpul dibagian bawah biasanya disebut sebgai anoda, dapat dipindahkan
secara periodik dan nilai perak, emas dan platina dapat pula dihitung untuk memperoleh total
efisiensi pelaksanaan proses penyulingan.