Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Mineral
Mineral dapat di definisikan sebagai padatan senyawa kimia homogen yang

terbentuk secara anorganik dan teradapat di alam. Terdiri dari senyawa senyawa kimia
tertentu diamana atom-atom didalamnya tersusun secara teratur.
1.1.1.Sifat Fisik Mineral
Suatu Mineral dapat dikenali atau di ketahui jenisnya dengan cara
mengetahui sifat fisiknya. Sifat fisik yang terdapat pada mineral berjumlah sepuluh,
antara lain :
1.1.1.1.Warna (Colour)
Suatu permukaan mineral jika terkena cahaya maka cahaya yang
mengenai mineral tersebut sebagian akan diserap dan sebagian akan
dipantulkan.
1.1.1.2. Perawakan kristal (crystal habit)
Suatu mineral tentu mengalami proses-proses pembentukan. Mineral
yang tidak mengalami gangguan pembentukan, maka mineral akan
mempunyai bentuk kristal yang sempurna.
1.1.1.3. Kilap (luster)
Jika suatu mineral terkena cahaya maka cahaya tersebut akan
memantul dari permukaan mineral, hal ini karena mineral mempunyai sifat
pemantulan dan pembiasan.
1.1.1.4. Kekerasan (hardness)
Kekerasan pada mineral dapat diartikan sebagai daya tahan mineral
terhadap goresan.
1.1.1.5. Gores (streak)
Gores merupakan warna asli dari mineral apabila mineral tersebut
ditumbuk sampai halus.

1.1.1.6. Belahan (cleavage)

Suatu mineral dapat pecah apabila mendapat tekanan yang melampaui


batas elastisitas dan plastilisitasinya. Bila pecahanya teratur sesuai dengan
struktur kristalnya, disebut belahan.
1.1.1.7. Pecahan (fracture)
Sama halnya dengan belahan, suatu mineral apabila mendapat tekanan
yang melebihi elastisitasnya dan plastisitasinya akan pecah. Dan bila
pecahanya tidak teratur, maka disebut pecahan.
1.1.1.8. Daya tahan terhadap pukulan (tenacity)
Dapat diartikan dengan suatu daya tahan mineral terhada pemecahan,
pembongkaran, penghancuran, dan pemotongan. Terdapat enam macam
tenacity, antara lain brittle, sectile, malleable, ductile, flexible, dan elactic.
1.1.1.9. Berat jenis (specific gravity)
Berat jenis ialah angka perbandingan antara berat suatu mineral
dibandingkan dengan berat air pada volume yang sama.
Berat Jenis
BJ =
Volume Mineral
1.1.1.10. Rasa dan bau (taste & odour)
Ada beberapa mineral yang memiliki rasa dan bau. Rasa pada mineral
hanya dimiliki oleh mineral yang bersifat cair (Suharwanto, 2016).
1.1.2. Sifat Kimia Mineral
Berdasarkan sifat kimianya, mineral dapat dikelompokan menjadi 2,
yaitu mineral silikat dan non silikat.
1.1.2.1. Mineral Silikat
Mineral silikat merupakan bagian terbesar dari mineral pembentuk
mineral batuan yang sekitar 90 persen dar kerak bumi. Mineral ini merupakan
kombinasi unsur unsur utama yang terdapat di bumi ; O,Si, Al, Fe, Ca, Na,
k, Mg. Pada dasarnya semua batuan beku, batuan sedimen terdiri dari mineral
silikat (Noor 2009).

1.1.2.2. Mineral Non Silikat


Mineral non silikat adalah kelompok mineral yang unsur
pembentukanya bukan dari silika. Secara garis besar semua mempunyai
komposisi kimia yang bersifat sulfida dan oksida (Djauhari Noor.2009).
1.2. Hornblende
Horblende adalah kelompok mineral silikat yang berbentuk prismatik atau
kristal yang masuk dalam kelompok amfibol. Hornblende pada gambar terlihat
berwarna hitam, kilap yang terlihat adalah kilap arang dan perawakan kristalnya
adalah prismatik. Mineral ini banyak dijumpai pada jenis batuan beku dan batuan
metamorf.

Hornblende

berbentuk

prismatik

panjang.

Bentuk

inilah

yang

membedakan dengan firoksin yang berbentuk prismatik pendek. Hornblende


umumnya dijumpai pada batuan yang menyusun kerak bumi (Noor.2009).

Foto 1.1 Hornblende


(Koleksi Pribadi)

1.3 Piroksen

Piroksen adalah sebuah kelompok mineral silikat yang banyak ditemukan pada
batuan beku dan batuan metamorf. Struktur piroksen terdiri dari rantai tunggal silika
tetrahedral yang diikat bersama sama dengan ion ion besi dan magnesium. Piroksin
merupakan salah satu mineral yang dominan dalam batuan beku basalt. Batuan basalt
merupakan batuan yang umum pada kerak benua (Noor.2009).

Foto 1.2 Piroksen


(Koleksi Pribadi)

1.4 Biotit
Mineral Biotit ialah adalah nama yang digunakan untuk kelompok besar mineral
mika hitam yang biasanya ditemukan dalam batuan beku dan metamorf . Biotit kaya
akan besi(Fe). Biotit mempunyai warna hitam mengkilap yang membedakan dari
mineral ferromagnesian lainya. Biotit banyak ditemui pada batuan penyusun kerak
benua, termasuk batuan beku granit.

Foto 1.3 Biotit


(Koleksi Pribadi)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hornblende
Berdasarkan hasil praktikum acara pertama yang telah dilaksanakan di
Laboratrium Mineral Petrologi Program Studi Teknik Lingkungan Kebumian UPN
Veteran Yogyakarta, dengan mengamati dan mengidentifikasi 3 mineral yang salah
satunya adalah mineral hornblende yang berukuran 0,9cm x 0,5cm x 0,7cm. Mineral
ini berjenis mafic yang bisa dilihat dengan warnanya yang berwarna hitam, memiliki
perawakan prismatik, jika dilihat terlihat mineral tersebut memiliki kilap arang dan
tampak memiliki zat pengotor pada mineral tersebut yang berwarna putih.
Mineral Hornblende adalah batuan beku yang terbentuk dari larutan siklikat pijar
yang disebut magma. Magma tersebut kemudian beku di dasar bumi atau prosesnya
yang disebut intrusi. Pembekuan magma pada suhu sekitar 8000 C sampai 90 00 C.
Rumus kimia Hornblende adalah Ca2(Mg, Fe, Al)5 (Al, Si) 8022(OH)2. Hornblende
merupakan mineral pembentukan batuan beku seperti diorit, gabbro dan basalt.
Horblende adalah kelompok mineral silikat yang berbentuk prismatik atau kristal
berbentuk jarum yang masuk dalam kelompok amfibol. Hornblende terlihat
cenderung berwarna hitam, kilap yang dimiliki adalah kilap arang dan perawakan
kristalnya adalah prismatik. Mineral ini banyak dijumpai pada jenis batuan beku dan
batuan metamorf. Hornblende memiliki bentuk prismatik panjang. Bentuk prismatik
ini membedakan dengan piroksen yang berbentuk prismatik pendek. (Noor.2009).
Hornblende merupakan kelompok mineral silikat yang merupakan mineral
pembentuk batuan beku, kaya akan besi, magnesium dan kalsium. Berdasarkan hasil
pengamatan pada praktikum acara pertama yang telah dilaksanakan, bahwa mineral
hornblende umumnya berwarna hitam. Perawakan Kristal pada mineral hornblende
adalah prismatik panjang. hal ini dikarenakan terbentuk pada subhu yang tinggi
sehingga pembekuan magma terjadi sangat lambat dan mineral yang terbentuk
cenderung memiliki perawakan prismatik panjang dan besar besar. dapat diamati
juga bahwa mineral hornblende memiliki kilap yang menyerupai arang jika terkena
cahaya.
Berdasarkan praktikum acara pertama yang telah dilaksanakan, telah
diperoleh hasil data yang cukup akurat tentang mineral hornblende yang dominan

berwarna hitam. Hal ini dikarenakan mineral hornblende berjenis mafic atau gelap.
Hal ini disebabkan karena mineral hornblende tersusun dari unsur-unsur magnesium,
besi dan kalsium. Suhu yang tinggi pada saat pembentukan dan kandungan kimia
yang terkandung pada mineral hornblende yang menyebabkan warna pada mineral
hitam. Mineral hornblende bersifat asam dan memiliki kilap arang. Hal ini
dibuktikan setelah mengamati dengan teliti mineral hornblende, dan dapat dilihat
pada mineral tersebut timbul kilap yang menyerupai kilap pada arang. Mineral
Hornblende masuk dalam kelompok amfobil karna mineral tersebut mengandung
Besi(Fe),

Magnesium(Mg),

Kalsium(Ca),

Alumunium(Al),

Silika(Sl)

dan

Oksigen(O). Mineral Hornblende yang diamati juga memiliki perawakan kristal


berbentuk prismatik. Data data tersebut didapatkan dari hasil Laboratorium pada
Praktikum acara pertama yang sesuai dengan petrogenesa Mineral Hornblende.
Pada penggunaanya, horblende biasa digunakan sebagai bahan penelitian
untuk meneliti struktur penyusun batuab pada kerak bumi. Orang-orang banyak
mengkoleksi mineral ini sebagai koleksi dan dijadikan hiasan hiasan di dinding. Pada
sektor industri, mineral hornblende digunakan sebagai bahan pembuatan asbes dan
bahan pembuatan industri tekstil. Hornblende cenderung juga cenderung digunaka
untuk bahan bangunan. Mineral hornblende bahkan dapat dijadikan perhiasan bagi
sebagian orang kaena struktur dan warna pada mineral hornblende yang terlihat
Ybagus. Penyebaran hornblende di indonesia banyak terdapat di pulau jawa yaitu di
daerah karangsambung, jawa tengah serta di pulau kalimantan. Biasanya banyak
terdapat di daerah lereng gunung vulkanik dan dapat ditemui di bawah permukaan
atau di permukaan yang merupakan hasil dari letusan gunung yang meletus
(Danisworo dkk.2009).

2.2. Piroksen
Berdasarkan hasil praktkum yang telah dilaksanakan pada acara pertama
praktikum di Laboratorium Mineralogi Petrologi Program Studi Teknik Lingkungan
Kebumian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, dengan
mengamati dan mengidentifikasi 3 mineral yang salah satunya adalah mineral
piroksen yang berukuran 1 cm x 0,7 cm x 0,8 cm. Didapatkan hasil bahwa mineral
piroksen berwarna hitam. Mineral piroksen memiliki perawakan kristal prismatik dan
terapat kilap yang menyerupai kaca. Terdapat juga zat pengotor pada mineral yang
berwarna putih.
Mineral Piroksen termasuk dalam kelompok mineral silikat komplek yang
berwarna gelap. Mineral Piroksen banyak ditemukan ditemukan pada batuan beku
dan metamorf terlihat bewarna hijau kehitaman, memiliki kilap kaca dan perawakan
kristalnya prismatik. Struktur kristal pada mineral piroksen disusun oleh ranti tunggal
tetrahedral yang terikat bersama ion-ion besi dan magnesium. Mineral piroksen
terbentuk dari magma yang temperaturnya sekitar 1100 Csampai 1200 C. Piroksen
merupakan mineral pembentuk batuan beku yang umum pada pada kerak samudra.
Piroksen memiliki tingkat kekerasan 5 sampai 6 skala mosh dengan rumus kimia
ABSI2O6 (Noor.2009).
Berdasarkan hasil pengamatan, mineral piroksen cenderung berwarna hitam
dan termasuk jenis mineral mafik. Dikarenakan mineral piroksen memiliki
kandungan kimia seperti besi, magnesium dan kalsium. mineral piroksen memiliki
perawakan kristal prismatik. Kilap yang ditimbuklan pada mineral piroksen
adalah kilap kaca. Karena mineral piroksen dapat memantulkan cahaya seperti
kaca.
Berdasarkan praktikum acara pertama yang telah dilaksanakan, telah diperoleh
hasil data yang cukup akurat tentang mineral piroksen yang dominan berwarna
hitam. Hal ini dikarenakan mineral piroksen berjenis mafik karena faktor kandungan
kimia dan suhu pada proses pembekuan yang sangat tinggi mencapai kurang lebih
11000 C. Mineral piroksen memiliki kilap kaca, Hal ini juga dikarenakan dipengaruhi
oleh proses pembekuan pada suhu yang tinggi. Dan telah dibuktikan setelah
mengamati dengan teliti mineral piroksen, dan dapat dilihat pada mineral tersebut
timbul kilap yang menyerupai kaca. Mineral piroksen yang diamati juga memiliki
perawakan kristal berbentuk prismatik. Data data tersebut didapatkan dari hasil

Laboratorium pada Praktikum acara pertama yang sesuai dengan petrogenesa


Mineral piroksen.
Banyak manfaat yang dapat digunakan dari pada mineral piroksen salah satunya
sebagai bahan bangunan seperti semen. Kegunaan lainya dapat dijadikan perhiasan
yang dimana perhiasan tersebut menggunakan batuan basalt. Di indonesia sendiri,
penyebaran batuan piroksen cukup luas, dapat ditemukan di daerah selatan pualu
jawa seperti pantai selatan Yogyakarta dan kulonprogo. Juga dapat ditemukan di
daerah pulau sumatera (Noor.2009).

2.3. Biotit
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan , dengan mengamati
dan mengidentifikasi 3 mineral yang salah satunya adalah mineral biotit yang
berukuran 1,2 cm x 0,5 cm x 0,7 cm. Mineral biotit berwarna gelap, yang dapat
dilihat dengan ciri cirinya yaitu berwarna hitam. Mineral biotit memiliki perawakan
kristal prismatik dan terapat kilap yang menyerupai kaca. Juga terdapat zat pengotor
berwarna cokelat.
Mineral biotit adalah mineral silika yang termasuk dalam kelompok mineral
mika yang berbentuk pipih. Memiliki sifat mafik yaitu berwarna gelap. Dikarenakan
pengaruh suhu yang tinggi pada proses pembekuan, suhu tersebut sekitar 7000 C
sampai 900 C. Perawakan kristal pada mineral biotit berlembar menyerupai buku.
Mineral biotit memiliki kekerasan yang lunak. Hal ini sebabkan oleh struktur mineral
biotit yang berlembar. Selain itu mineral biotit juga memiliki kilap kaca yang terlihat
seperti kaca. Rumus kimia pada mineral biotit adalah 2(Mg, Fe)2 (OH)2 (AISi3O10)
(Noor.2009).
Mineral biotit merupakan Kelompok Mineral penyusun batuan beku.
Berdasarkan hasil pengamatan pada paktikum acara pertama yang telah
dilaksanakan, mineral biotit umumnya berwarna kehitaman dengan perawakan
kristal yang berlembar. Dan telah diamati bahwa mineral biotit memiki kilap
kaca. Hal ini karena kilap yang ditimbulkan mineral biotit yang seperti kilap
pada kaca jika terkena cahaya. Mineral biotit digolongkan dalam mineral
Allochromati karena warna asli pada mineral berubah di sebabkan oleh zat
pengotor.
Berdasarkan praktikum acara pertama yang telah dilaksanakan, telah diperoleh
hasil data yang cukup akurat tentang mineral biotit yang dominan berwarna hitam.
Hal ini dikarenakan mineral biotit berjenis mafik atau gelap. Mineral biotitit berjenis
mafik karena faktor suhu yang tinggi sekitar 7000 C sampai 90 00 C pada saat proses
pembekuan. Dan dapat dilihat pada mineral tersebut timbul kilap yang menyerupai
kaca. Kekerasan pada mineral biotit cukup lunak yang disebabkan oleh struktur
mineral biotit yang berlembar sebagai hasil dari sistem kristal monoklin. Data data
tersebut didapatkan dari hasil Laboratorium pada Praktikum acara pertama yang
sesuai dengan petrogenesa Mineral biotit.

Mineral biotit merupakan unsur pembentuk dari batuan beku dan metamorf.
Manfaat yang dapat digunakan dari pada mineral biotit salah satunya dapat dijadikan
penghias dinding pada rumah dan juga digunakan sebagai bahan pembuatan gips dan
atap rumah. Salah satu tempat di indonesia yang banyak terdapat mineral biotit
adalah belitung (Noor.2009).

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang di peroleh dari acara pertama praktikum Mineralogi
Petrologi Teknik Lingkungan UPN Veteran Yogyakarta dan berdasarkan kesesuain
dengan teori teori yang telah ada, maka didapatkanlah kesimpulan :
3.1. Hornblende
Warna pada mineral cenderung berwarna hitam, karena mineral tersebut berjenis
mafik dan memiliki kilap arang. Mineral tersebut memiliki perawakan Kristal
prismatik dan memiliki zat pengotor berwarna putih. Mineral tersebut adalah
hornblende.
3.2. Piroksen
Warna pada mineral cenderung berwarna hitam, karena mineral tersebut berjenis
mafik dan kilap yang terlihat ialah kilap kaca. Mineral tersebut memiliki perawakan
Kristal prismatik dan memiliki zat pengotor berwarna putih. Mineral tersebut adalah
piroksen.
3.3. Biotit
Warna pada cennderung berwarna hitam, karena mineral tersebut berjenis mafik
dan kilap yang terlihat ialah kilap kaca. Mineral tersebut memiliki perawakan Kristal
berlembar seperti buku dan memiliki zat pengotor berwarna cokelat. Mineral tersebut
adalaha biotit.

DAFTAR PUSTAKA
Danisworo Dkk. 2009. geologi.
Masrubi. 1978 Ilmu Batuan 1. Departemen Pendidikan dan kebudayaan direktrat
pendidikan menengah kejuruan.
Noor Djauhari. 2009. Pengantar Geologi.
Suharwanto. 2016. Panduan Praktikum Mineralogi Petrologi.