Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

KIMIA ANALISIS DASAR TITRASI ASAM BASA

DISUSUN OLEH KELOMPOK :


HIDAYANTI
LISTIANA KAMARIAH
MELIANA TUTUT
NISA ANGRAINI
NOR FAJERIYATI
NURUL MAISYAROH
SILVA DEVI
WAHYUNIARTI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM STUDI DIII FARMASI
BANJARMASIN, 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Dalam

kehidupan

sehari-hari

terdapat

bahan

makanan,

makanan maupun minuman yang dikonsumsi oleh manusia


yang mengandung banyak senyawa kimia, senyawa kimia ini
ada yang bermanfaat bagi manusia dan ada pula yang justru
berbahaya. Dalam ilmu kimia terdapat suatu cabang ilmu
yang berhubungan dengan teori dan praktek dari metodemetode yang digunakan untuk menentukan kadar senyawasenyawa tersebut yaitu kimia analisis kuantitatif. Salah satu
metode yang digunakan adalah metode titrasi asam basa
Sebagai seorang kimiawan, pengetahuan tentang prinsip dan
teori tersebut adalah hal yang perlu diketahui dan dipelajari
sebagai

suatu

kemampuan

untuk

dapat

berguna

bagi

masyarakat.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar kita dapat
mengetahui dan mampu menjelaskan tentang titrasi asam
basa beserta penerapannya. Selain itu makalah ini juga dibuat
dengan tujuan untuk membuka pola pikir srta memenuhi
tugas yang diberikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Titrasi

Titrasi merupakan suatu proses penentuan banyaknya suatu


larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan
untuk bereaksi
tertentu

yang

secara lengkap dengan sejumlah contoh


akan

dianalisis

(belum

diketahui

konsentrasinya). Prosedur analisis yang melibatkan titrasi


dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut
analisis volumetri.
Titrasi dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di
dalam proses titrasi, yaitu:
1. Titrasi asam-basa
Prinsip dasar dari

metode

titrasi

ini

adalah

reaksi

penetralan
H+ + OHH2O
Yang terdiri dari H+ (asam), OH- (basa) dan menjadi H2O
(netral)
2. Titrasi redoks (Oksidimetri)
Prinsip dasar dari metode titrasi ini adalah reaksi reduksi
dan oksidasi
O+R
Hasil
Yang terdiri dari O (Oksidator) dan R (Reduktor)
3. Titrasi pengendapan
Prinsip dasar dari metode titrasi ini adalah

Proses

pengendapan
L+ (aq) + X-(aq)
LX(s)
Yang terdiri dari kation dan Ion sehingga membentuk
endapan
4. Titrasi pengompleksan
Prinsip dasar dari metode titrasi ini adalah reaksi akseptordonor pasangan elektron
Mn+ + :L
[M : L]n+
Yang terdiri dari ion logam dan ligan sehingga membentuk ion
kompleks

Dalam makalah ini yang akan di bahas adalah lebih fokus


terhadap titrasi asam basa. Prinsip dari titrasi asam basa ini
adalah melibatkan asam maupun basa sebagai penitran/titer
ataupun

titran.

Kadar

larutan

asam

ditentukan dengan

menggunakan larutan basa begitu juga sebaliknya kadar


larutan basa ditentukan dengan menggunakan larutan asam.
Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat yang
apabila dilarutkan di dalam air akan mengalami disosiasi
dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion
positif. Beberapa asam dan hasil disosiasinya adalah sebagai
berikut:
H+ + Cl-

HCl
Asam klorida

ion klorida
H+ + CH3COO-

CH3COOH
Asam asetat

ion asetat

Basa di definisikan sebagai zat yang apabila dilarutkan di


dalam air mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion
hidroksil

sebagai

satu-satunya

ion

negatif.

Hidroksida-

hidroksida yang larut seperti natrium hidroksida atau kalium


hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air
yang encer. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara
kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa
dengan

menggunakan

alkalimetri

adalah

larutan

penetapan

baku

asam.

Sebaliknya

kadar

secara

kuantitatif

senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan


larutan baku basa. Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi
netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari
asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk

menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga


dikatakan

sebagai

reaksi

antara

donor

proton

dengan

akseptor proton.

2.1 Prinsip Titrasi Asam Basa


Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer
ataupun

titran.

menggunakan

Kadar

larutan

larutan

basa

asam ditentukan dengan


atau

sebaliknya.

Titran

ditambahkan titer tetes demi tetes sampai mencapai keadaan


ekuivalen yang artinya secara stoikiometri titran dan titer
tepat habis bereaksi, dalam hal ini biasanya ditandai dengan
berubahnya warna indikator. Keadaan ini disebut sebagai
titik ekuivalen, yaitu titik dimana konsentrasi asam sama
dengan konsentrasi basa atau titik dimana jumlah basa yang
ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan :
[H+] = [OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan
dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut
sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi ini mendekati titik
ekuivalen, tapi biasanya titik akhir titrasi melewati titik
ekuivalen. Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering disebut
juga sebagai titik ekuivalen.
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada
titrasi asam basa yaitu:
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama
titrasi dilakukan,kemudian membuat plot antara pH dengan

volume titran untuk memperoleh kurvatitrasi. Titik tengah


dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalent.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada
titrant sebelum prosestitrasi dilakukan. Indikator ini akan
berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat
inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan
pengamatan, tidakdiperlukan alat tambahan, dan sangat
praktis.Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah
indicator

yangperbahan

warnanya

dipengaruhi

oleh

pH.

Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan


umumnya adalah dua hingga tiga tetes.Untuk memperoleh
ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat
mungkin dengan titik ekuivalen, hal ini dapat dilakukan
dengan memilih indikator yang tepat dan sesuai dengan
titrasi yang akan dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan
dengan

cara

melihat

perubahan

warnaindicator

disebut

sebagai titik akhir titrasi


Dalam titrasi asam basa, zat-zat yang bereaksi umumnya
tidak berwarna sehingga tidak diketahui kapan titik ekuivalen
tercapai. Misalnya pada larutan HCl dan larutan NaOH,
keduanya tidak berwarna dan setelah bereaksi, larutan NaCl
yang terbentuk juga tidak berwarna. Untuk mengetahui
bahwa titik ekuivalen pada titrasi telah dicapai, maka
digunakan

indikator

atau

penunjuk.

Indikator

ini

harus

berubah warna pada saat titik ekuivalen tercapai. Indikator


asam basa adalah petunjuk tentang perubahan pH dari suatu
larutan asam atau basa. Indikator bekerja berdasarkan
perubahan warna indikator pada rentang pH tertentu. Kertas

lakmus merupakan salah satu indikator asam basa. Lakmus


merah berubah warna menjadi biru jika dicelupkan ke dalam
larutan basa. Lakmus biru berubah menjadi merah jika
dicelupkan

ke

dalam

larutan

asam.

Terdapat

beberapa

indikator yang memiliki trayek perubahan warna cukup akurat


akibat pH larutan berubah, seperti indikator metil jingga, metil
merah, fenolftalein, alizarin kuning, dan bromtimol biru
Indikator asam basa umumnya berupa molekul organik yang
bersifat asam lemah dengan rumus HIn. Indikator memberikan
warna tertentu ketika ion H+ dari larutan asam terikat pada
molekul HIn dan berbeda warna ketika ion H + dilepaskan dari
molekul HIn menjadi In. Salah satu indikator asam basa
adalah fenolftalein (PP), indikator ini banyak digunakan karena
harganya murah. Indikator PP tidak berwarna dalam bentuk
HIn (asam) dan berwarna merah jambu dalam bentuk In
(basa). Berikut struktur fenolftalein:

Terdapat berbagai jenis indicator yang dapat digunakan untuk


melakukan titrasi asam basa, diantaranya adalah:
NAMA
Biru timol
Kuning metil
Jingga metil
Hijau

pH RANGE
1,2-2,8
2,9-4,0
3,1 4,4
3,8-5,4

WARNA
merah kuning
merah kuning
merah jingga
kuning biru

TIPE(SIFAT)
asam
basa
basa
asam

bromkresol
Merah metil
Ungu

4,2-6,3
5,2-6,8

merah kuning
kuning ungu

basa
asam

bromkresol
Biru bromtimol
Merah fenol
Ungu kresol
Fenolftalein
Timolftalein
Kuning alizarin

6,2-7,6
6,8-8,4
7,9-9,2
8,3-10,0
9,3-10,5
10,0-12,0

kuning biru
kuning merah
kuning ungu
t.b. merah
t.b. biru
kuning ungu

asam
asam
asam
asam
asam
basa

Contohnya

menggunakan

titrasi
indicator

HCl

menggunakan

yang

mempunyai

NaOH
pH

dapat

sekitar

misalnya fenol merah atau fenolftalein. HCl bereaksi dengan


NaOH akan membentuk NaCl dan H2O yang bersifat netral.
Contoh lain titrasi asam asetat menggunakan larutan NaOH
dapat menggunakan indicator dengan pH sesuai garam
Natrium Asetat yaitu pH 9-10 dapat menggunakan indicator
pp.
Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah jika
menggunakan sistem ekuivalen, sebab pada titik akhir titrasi
jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat
penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat
definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi

asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator.


Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang
mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi
daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika
konsentrasi itu lebih rendah.
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama
dengan mol-ekuivalen basa, maka hal ini dapat kita tulis
sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas
dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M)
dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada
basa, sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa
keterangan

N=Normalitas
V = Volume.
Salah satu contoh titrasi asam basa yaitu titrasi asam kuatbasa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) dengan asam
hidroklorida (HCl), persamaan reaksinya sebagai berikut:
NaOH(aq) + HCl(aq)

NaCl (aq) + H2O(l)

Gambar 2.1 set alat titrasi

2.3 Macam Macam Titrasi Asam Basa


Titrasi asam basa dibagi menjadi lima jenis tergantung pada
jenis asam dan basa yang direaksikan, jenis asam dan basa
yang direaksikan akan mempengaruhi perubahan pH yang
dapat digambarkan sebagai kurva titrasi yang dihasilkan dari
plot antara pH dengan asam atau basa yang ditambahkan.
Bentuk

karakteristik

dari

kurva

yang

berbeda-beda

menggambarkan perbedaan konsentrasi dan sifat kekuatan


asam basanya,berikut ini merupakan jenis titrasi asam basa
beserta kurva titrasinya :
1. Asam kuat - Basa kuat
Titrasi asam kuat-basa kuat contohnya titrasi HCl dengan
NaOH. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

NaOH(aq) + HCl(aq)

NaCl (aq) + H2O(l)

Ion H+ bereaksi dengan OH- membentuk H2O sehingga hasil


akhir titrasi pada titik ekuvalen PH adalah netral.

Gambar 2.2.1 Kurva Titrasi Asam Kuat Basa Kuat

2. Asam kuat - Basa lemah


Titrasi ini ini

Pada akhir titrasi terbentuk garam yang

berasal dari asam lemah dan basa kuat. Contoh titrasi ini
adalah asam asam klorida sebagai asam kuat dan larutan
amonia

sebagai

basa

lemah.dalam

reaksi

ini

terbentuk garam yang bersifat asam.


NH4OH (aq) + HCl (aq)
NH4Cl (aq) + H2O

akan

Gambar 2.2.2 Kurva Titrasi Asam kuat Basa Lemah

3. Asam lemah - Basa kuat


Titrasi Asam lemah-basa kuat contohnya adalah titrasi
CH3COOH sebagai asamlemah dengan NaOH sebagai basa
kuat sehingga membentuk garam yang bersifat basa.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut
NaOH + CH3COOH CH3COONa + H2O

Gambar 2.2.3 Kurva Titrasi Asam Lemah Basa Kuat

4. Asam Lemah Basa lemah


Titrasi Asam lemah-basa lemah contohnya adalah titrasi
CH3COOH sebagai asam lemah dengan

NH 4OH sebagai

basa lemah sehingga membentuk garam yang berasal dari


asam lemah dan basa lemah. Jika Ka > Kb kelarutan
bersifat asam, jika Kb > Ka kelarutan bersifat basa. Reaksi
yang terjadi adalah sebagai berikut :
CH3COOH + NH4OH

CH3COONH4 + H2O

5. Asam kuat - Garam dari asam lemah

Titrasi Asam kuat-garam dari asam lemah contohnya


adalah titrasi HCl sebagai asam kuat dengan NH4BO2 yang
bersifat sebagai

garam dari asam lemah. Reaksi yang

terjadi adalah sebagai berikut :


HCl + NH4BO2 HBO2+ NH4Cl
Reaksi ion yang terjadi adalah H++ BO2- HBO2
6. Basa kuat - Garam dari basa lemah
Titrasi basa lemah dan asam kuat adalah analog dengan
titrasi asam lemah dengan basa kuat, akan tetapi kurva
yang terbentuk adalah cerminan dari kurva titrasi asam
lemah dengan basa kuat. Sebagai contoh disini adalah
titrasi NaOH yang bersifat basa kuat dengan CH3COONH4
yang merupakan garam dari basa lemah, dimana reaksinya
dapat ditulis sebagai:
NaOH + CH3COONH4 CH3COONa + NH4OH
Reaksi ion yang terjadi OH-+ NH4- NH4OH
2.4

Preparasi Larutan

Unsur merupakan zat-zat yang tidak dapat diuraikan menjadi


zat lain yang lebih sederhana oleh reaksi kimia biasa. Unsur
berfungsi sebagai zat pembangun untuk semua zat-zat
kompleks yang akan dijumpai. Senyawa merupakan zat yang
terdiri dari dua atau lebih unsur dan untuk masing-masing
senyawa individu selalu ada dalam proporsi massa yang
sama. Unsur dan senyawa yang dianggap sebagai zat murni
karena komposisinya selalu tetap. Sebaliknya, campuran
komposisinya dapat berubah-ubah.

Larutan adalah campuran homogen antara zat terlarut dan


pelarut.Pelarut yang umumnya digunakan adalah air. Untuk
menyatakan banyaknya zat pelarut dan terlarut dikenal istilah
konsentrasi. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan
beberapa cara seperti persen berat (% w/w), persen volume
(%v/v), molaritas, molalitas, ppm, fraksi mol, dan lain-lain.
Persen berat, system ini menunjukan jumlah dari gram zat
terlarut per seratus gram larutan. Secara matematis hal ini
dinyatakan

P=

sebagai

berikut

w
100%
w+w 0

(2.4.1) dimana P adalah persen berat zat terlarut, w


adalah jumlah gram zat terlarut, dan w0 adalah jumlah gram
zat pelarut.
Persen volume, didefinisikan sebagai banyaknya ml zat
terlarut dalam seratus ml larutan. Dapat dirumuskan menjadi :
%V=

(2.4.2)

volume solut
100
volume solven

Molaritas, sistem konsentrasi ini berdasarkan pada

volume dan dapat dipergunakan secara nyaman dalam


prosedur laboratorium, dimana volume dari larutan adalah
kuantitas yang diukur. Hal ini didefinisikan secara sisematis
sebagai sebagai berikut:
M=

mol
volume

. ...(2.4.3) Molalitas, didefinisikan sebagai jumlah mol

solut per kg solven. Berarti merupakan perbandingan antara


jumlah mol solute dengan massa solven dalam kg.
molalitas =

(2.4.4) Terkadang
sampel

dari

analis

standar

gr solut
1000

Mr
gr solven

menimbang

primer

atau

sejumlah

sesuatu

yang

banyak
belum

diketahui, melarutkannya dalam satu labu volumetrik, dan


mengambil sebagian larutan dengan menggunakan pipet.
Porsi yang diambil dengan pipet ini dinamakan alikoat. Alikoat
adalah seporsi dari keseluruhan yang diketahui, biasanya
berupa beberapa fraksi yang sederhana. Proses pengenceran
menjadi volume yang diketahui dan menghilangkan satu porsi
titrasi dinamakan mengambil alikoat. Prosedur laboraturium
dalam kimia analitik sering kali mensyaratkan pengambilan
alikoat dari sebuah larutan standar dan mengencerkannya
menjadi volume yang lebih besar dalam gelas volumetrik.
Teknik ini terutama berguna dalam prosedur spektrofotometrik
untuk menyesuakan konsentrasi zat terlarut sehingga galat
pengukuran

absorbansi

larutkan

dapat

diminimalkan.

Perhitungan yang melibatkan pengenceran bersifat langsung


dan simpel. Karena tidak ada reaksi kimia terjadi, jumlah mol
larutan dalam larutan asli harus sama dengan mol dalam
larutan final

Pembuatan larutan CH3COOH


Menimbang labu takar 100 ml kosong (a gram), mengisi
labu takar 100 ml dengan akuades sampai kira-kira nya.
Kemudian menimbang kembali (b gram) dan mengukur
suhunya (t1)

Menimbang gelas ukur kosong (c gram),

mengisi gelas ukur tersebut dengan larutan CH3COOH

pekat 4 ml, kemudian menimbangnya kembali (d gram)


dan mengukur suhunya (t2)

Menuangkan CH3COOH

pekat dengan perlahan-lahan dan hati-hati kedalam labu


takar, dan menambahkan kembali sejumlah akuades
hingga tanda batas. Mengocok campuran tersebut agar
homogen. Menimbang kembali kembali campuran tersebut
(c gram) dan mengukur suhunya kembali (t3)
Menentukan

sifat

pelarutan

asam

asetat

dan

konsentrasinya dalam satuan %(w/w), %(v/v), molaritas,


molalitas, ppm, dan fraksi mol.

Pembuatan larutan NaOH


Menimbang Kristal NaOH 0,4 gram dan melarutkannya
dalam

beker

glass

dengan

sedikit

air

kemudian

memindahkan larutan tersebut kedalam labu takar 100 ml


dan

mengencerkan

menambahkan

sampai

sejumlah

tanda

batas

akuades,

dengan
kemudian

mengocoknya supaya homogen. Menentukan konsentrasi


NaOH yang dibuat dalam molaritas dan %(w/v).

Pengenceran larutan CH3COOH


Memipet 10 ml larutan CH3COOH yang telah dibuat pada
prosedur 3.3.1. kemudian memasukkannya kedalam labu
takar 100 ml dan mengencerkannya dengan menambah
akuades sampai tanda batas pada labu takar 100 ml, dan
mengocoknya supaya homogen. Menentukan konsentrasi
CH3COOH hasil pengenceran.

2.5 Pembakuan Larutan

Larutan baku adalah suatu zat terlarut yang telah diketahui


konsentrasinya. Terdapat dua macam larutan baku, yaitu:
1. Larutan baku primer
Larutan baku primer adalah suatu larutan yang telah
diketahui secara tepat konsentrasinya melalui metode
gravimetric.

Nilai

sederhana,

setelah

konsentrasinya
dilakukan

melalui

penimbangan

perumusan
teliti

zat

pereaksi tersebut dan dilarutkan dalam volume tertentu,


contoh senyawa yang dapat digunakan sebagai larutan
baku

primer

adalah

Arsen

Trioksida

(As 2O3),

Kalium

Hydrogen Phtalat (KHP), Natrium Klorida (NaCl), Natrium


Karbonat
Zat yang dapat digunakan sebagai zat baku primer harus
memenuhi persyaratan berikut:
a. memiliki kemurnian yang tinggi hampir 100%
b. bersifat stabil pada suhu ruang maupun pada suhu
pemanasan, tidak higroskopis
c. memiliki berat molekul yang tinggi, untuk menghindari
kesalahan dalam penimbangan
d. mudah larut sempurna dalam pelarutnya serta memiliki
kelarutan tinggi
2. Larutan baku sekunder
Larutan baku sekunder adalah larutan yang konsentrasinya
diperoleh dengan cara menitrasi dengan larutan baku
primer, sifat larutan baku sekunder adalah mudah berubah,
sehingga larutan baku sekunder harus dibakukan terlebih
dahulu sebelum digunakan. Beberapa contoh larutan baku
sekunder yaitu: NaOH, AgNO3, KMnO4, Fe(SO4)

Pembuatan/penyediaan

pereaksi

atau

larutan

baku

berkaitan dengan titrimetri. Titrimetri diterapkan untuk

memperoleh pereaksi atau larutan yang konsentrasinya


tidak dapat dipastikan secara langsung dari zat padatnya
atau dengan kata lain konsentrasi dari pereaksi ini dapat
diketahui dengan melalui proses pembakuan terhadap
larutan baku primer.
Contoh

proses

pembakuan

larutan

yaitu

pembakuan

larutan HCl dengan larutan Natrium Tetraborat Dekahidrat


(Na2B4O7.10H2O). Yang bertindak sebagai larutan baku
primer

adalah

Na2B4O7.10H2O.

Sebanyak

1,007

gram

kemudian dilarutkan dengan aquades 100 mL. dipipet 10


mL larutan boraks dipipet dan dimasukkan kedalam
Erlenmeyer dan ditambahkan beberapa tetes indicator
metil merah selanjutnya dititrasi dengan HCl 10,1 mL.
Berapa konsentrasi larutan asam klorida (HCl)? Apabila
diketahui Mr Na2B4O7.10H2O=381 gr/mol.
mol Na2B4O7.10H2O=

1,007 gram
-3
381 gr /mol = 2,643x10 mol

M Na2B4O7.10H2O =
2

2,643 x 103 mol


0,1 L

= 2,643x10-

Volume larutan boraks = 10 ml


Reaksi yang terjadi :
Na2B4O7.10H2O + 2HCl
2NaCl + 4H3BO4 + 5H2O
mmol Boraks = V lar.boraks x M boraks
= 10 mL x 2,643x10-2 M = 2,643x10-1
mmol
Karena 1 mol Na2B4O7.10H2O
maka:
mmol boraks =

2mol HCl

mmol HCl

mmol HCl = 2 x mmol Na2B4O7.10H2O


= 2 x 2,643x10-1 mmol = 5,286 x 10-1 mmol

M HCl =

5,286 x 101 mmol


10,1 mL

= 0,0523 M

2.6
Contoh Analisis metode titrasi asam basa
Titrasi asam basa dapat digunakan untuk mengetahui
kadar suatu zat di dalam sampel. Pada contoh berikut kami
akan memberikan sebuah contoh aplikasi analisis titrasi
asam basa yaitu untuk menentukan kadar H2SO4 didalam
sampel Air aki.
Kristal KHP seberat 2,331 gram dengan Mr=204 gram/mol
dilarutkan hingga 250 mL, kemudian dipipet 25 mL dan
dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH sebanyak v =
13,9 mL. larutan NaOH digunakan untuk menentukan kadar
H2SO4 didalam Air Aki. 10 mL air aki di encerkan dengan
100 mL aquades di dalam labu ukur kemudian dipipet 25
mL dan dititrasi dengan NaOH volume = 19,3 mL.
Berapakah kadar H2SO4 didalam air aki tersebut?
Langkah 1
Diketahui: w KHP = 2,331 gram
Mr = 204 gram/mol
V larutan= 250 mL = 0,25 L
V titrasi = 13,9 mL
V pipet = 25 mL
Ditanya: M NaOH?
Dijawab:
Mol

KHP=

Massa
Mr

2,331 gr
204 gram/mol

= 0,011 mol

mol
0,011 mol
=
=0,044 M
MKHP = volume
0,25 L
KH(C8H4O4)+NaOH
Mol KHP

KNa + H2O
mol NaOH

Mmol NaOH = MKHP x Vpipet


=

0,044 M

x 25 mL

= 1,15 mmol
M NaOH =

mmol 1,15 mmol


=
=0.082 M
volume
13,9 mL
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta : Erlangga


Day dan Underwood.2002.Analisis
Keenam. Jakarta : Erlangga

Kimia

Kuantitatif

Edisi

Ibnu, Sodiq. 2005. Kimia Analitik I. Malang : UM Press


Keenan, dkk.1989. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga
Mulyono. 2006. Teknik Membuat
Jakarta : Bumi Aksara
Rocky. 2012. Jenis-Jenis Titrasi.

Reagen

di

Laboratorium.

(http : / /rockychemistry. blogspot. com/ 2012/ 01 /jenis-jenistitrasi. html) Diakses pada tanggal 17 Desember 2012
pukul 14.00 wib
Rohman, Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis.Yogyakarta:Pustaka
Pelajar
Shofyan. 2010. Larutan Baku. (http://forum.um.ac.id) diakses
pada tanggal 17 Desember 2012 pukul 14.00 wib

Svehla, G.1985.Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kuantitatif


Makro dan Semimikro Edisi Kelima. Jakarta : PT Kalman
Media Pustaka
Wiliana, Anggi. 2012. Titrasi asam Basa. (http : //
anggiwilianandini. wordpress. com/kimia-kelas-xi/larutanasam-basa/titrasi-asam-basa/) Diakses pada tanggal 17
Desember 2012 pukul 14.00 wib