Anda di halaman 1dari 29

BAB I

KONVERSI ENERGI
1.1 Energi
Energi merupakan sesuatu pengertian yang tidak mudah didefinisikan dengan
singkat dan tepat. Energi yang bersifat abstrak yang sukar dibuktikan, tetapi dapat
dirasakan adanya. Energi atau yang sering disebut tenaga, adalah suatu pengertian
yang sering sekali digunakan orang. Kita sering mendengar istilah krisis energi
yang bermakna untuk menunjukkan krisis bahan bakar (terutama minyak). Bahan
bakar adalah sesuatu yang menyimpan energi, jika dibakar akan diperoleh energi
panas yang berguna untuk alat pemanas atau untuk menggerakkan mesin. Energi
dalam kehidupan sehari-hari arti gerak, misal seorang anak banyak bergerak dan
berlari-lari dikatakan penuh dengan energi. Energi juga dihubungkan dengan
kerja. Seseorang yang mampu bekerja keras dikatakan mempunyai energi atau
tenaga besar. Jadi boleh dikatakan energi adalah sesuatu kekuatan yang dapat
menghasilkan gerak, tenaga, dan kerja.
1.2 Konversi Energi
Energi dalam pengetahuan teknologi dan fisika dapat diartikan sebagai
kemampuan melakukan kerja. Energi di dalam alam adalah suatu besaran yang
kekal (hukum termodinamika pertama). Energi tidak dapat diciptakan dan tidak
dapat dimusnahkan, tetapi dapat dikonversikan/berubah dari bentuk energi yang
satu ke bentuk energi yang lain, misalnya pada kompor di dapur, energi yang
tersimpan dalam minyak tanah diubah menjadi api. Selanjutnya jika api
digunakan untuk memanaskan air dalam panci, energi berubah bentuk lagi
menjadi gerak molekul-molekul air. Perubahan bentuk energi ini disebut konversi.
Sedangkan perpindahan energi disebabkan adanya perbedaan temperatur yang
disebut kalor. Energi juga dapat dipindahkan dari suatu sistem ke sistem yang lain
melalui gaya yang mengakibatkan pergeseran posisi benda. Transfer energi ini
adalah kemampuan suatu sistem untuk menghasilkan suatu kerja yang

pengaruh/berguna bagi kebutuhan manusia secara positif. Jadi energi adalah suatu
kuantitas yang kekal, dapat berubah bentuk, dan dapat pindah dari satu sistem ke
sistem yang lain, akan tetapi jumlah keseluruhannya adalah tetap.
c. Sistem Konversi Energi dalam Suatu Sistem
Energi dalam suatu sistem tertentu dapat dirubah menjadi usaha, artinya kalau
energi itu dimasukkan ke dalam sistem dan dapat mengembang untuk
menghasilkan usaha. Sebagai contoh sistem konversi energi, apabila bahan bakar
bensin (premium) yang dimasukkan ke dalam silinder mesin konversi energi jenis
motor pembakaran dalam, misalnya sepeda motor. Energi (C8H18/iso-oktan atau
nilai kalor) yang tersimpan sebagai ikatan atom dalam molekul bensin/premium
dilepas pada waktu terjadi pembakaran dalam silinder, hasil pembakaran ini
ditransfer menjadi energi panas/kalor. Energi
panas yang dihasilkan ini akan mendorong torak/piston yang ada dalam silinder,
akibatnya torak/piston akan bergerak. Bergeraknya torak/piston terjadi
transformasi energi, yaitu dari energi panas menjadi energi kinetik. Selanjutnya
energi kinetik ditransfer menjadi energi mekanik yang menghasilkan usaha
(kerja). Kerja yang merupakan hasil kemampuan dari sistem yang berguna bagi
kepentingan manusia, yaitu dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang
jauh jaraknya.

2. Macam-macam Energi
a. Energi Mekanik
Energi yang tersimpan dalam energi kinetik atau energi potensial dan dapat
ditransisi atau transfer untuk menghasilkan usaha/kerja.

b. Energi Listrik
Energi yang berkaitan dengan akumulasi arus elektron dan bentuk transisi atau
transfernya adalah aliran elektron melalui konduktor jenis tertentu. Energi listrik
dapat disimpan sebagai energi medan elektrostatis dan merupakan energi yang
berkaitan dengan medan listrik akibat terakumulasinya muatan elektron pada
pelat-pelat kapasitor. Energi medan listrik ekivalen dengan energi medan
elektromagnetis yang sama dengan energi yang berkaitan dengan medan magnet
yang timbul akibat aliran elektron melalui kumparan induksi.
c. Energi Kimia
Energi yang keluar sebagai hasil interaksi elektron di mana dua atau lebih
atom/molekul berkombinasi sehingga menghasilkan senyawa kimia yang stabil.
Energi kimia hanya dapat terjadi dalam bentuk energi tersimpan. Bila energi
dilepas dalam suatu reaksi maka reaksinya disebut reaksi eksotermis yang
dinyatakan dalam kJ, BTU, atau kkal. Bila dalam reaksi kimia energinya terserap
maka disebut dengan reaksi endotermis. Sumber energi bahan bakar yang sangat
penting bagi manusia adalah reaksi kimia eksotermis yang pada umumnya disebut
reaksi pembakaran. Reaksi pembakaran melibatkan oksidasi dari bahan bakar
fosil.
d. Energi Nuklir
Energi nuklir adalah energi dalam bentuk energi tersimpan yang dapat dilepas
akibat interaksi partikel dengan atau di dalam inti atom. Energi ini dilepas sebagai
hasil usaha partikel-partikel untuk memperoleh kondisi yang lebih stabil. Satuan
yang digunakan adalah juta-an elektron reaksi. Reaksi nuklir dapat terjadi pada
peluluhan radioaktif, fisi, dan fusi.

e. Energi Termal (Panas)


Merupakan bentuk energi dasar di mana dalam kata lain adalah semua energi
yang dapat dikonversikan secara penuh menjadi energi panas. Sebaliknya,
pengonversian dari energi termal ke energi lain dibatasi oleh hukum
Thermodinamika II.
Bentuk energi transisi dan energi termal adalah energi panas (kalor), dapat pula
dalam bentuk energi tersimpan sebagai kalor laten atau kalor sensibel yang berupa
entalpi.

3. Sumber-Sumber Energi
Sumber energi merupakan tempat muncul atau timbulnya energi yang dapat
dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dipermukaan bumi. Sumber energi dapat
dibedakan sebagai berikut:
1. Berasal dari bumi (terresterial),
2. Berasal dari luar bumi (extra terresterial),
3. Berdasarkan sifatnya.
Sumber energi dari bumi dapat dikategorikan jenis renewable atau non-depleted
dan non-renewable atau depleted energy. Sumber energi yang renewable atau
dapat didaur ulang, misalnya kayu, biomassa, biogas. Sumber energi dari luar
bumi bersifat tidak habis atau non-depleted energy resource, misalnya energi
surya dan energi sinar kosmis. Sedangkan energi yang sifatnya tidak bisa
diperbaharui atau dapat habis (non-renewable atau depleted energy) adalah
minyak bumi (mineral), baru bara, dan gas alam.

b. Sumber-sumber Energi yang Dapat Habis (Non-Renewable/Depleted Energy


Resources)
Sumber-sumber energi yang dapat habis dan langka daur ulang yang berasal
dari bumi (terresterial) adalah sumber-sumber energi konvesional yang pada
umumnya merupakan energi tambang atau energi fosil yang berasal dari perut
bumi, seperti minyak bumi, gas, batu bara, dan energi nuklir.
1) Sumber energi fosil
Energi fosil tersimpan dalam bentuk bahan bakar minyak, batu bara, dan gas.
Bahan bakar ini berasal dari fosil-fosil yang telah terbenam dalam perut bumi
miliyaran tahun yang silam, ada yang mengatakan minyak dan gas berasal dari
fosil-fosil binatang laut dan binatang darat, sedangkan batu bara dari fosil-fosil
kayu-kayu. Bahan bakar fosil ini diperoleh dengan jalan menambang dari dalam
perut bumi, minyak dan gas melalui pengeboran, sedangkan batu bara diperoleh
melalui pengalian permukaan atau dalam tanah.

Bahan bakar minyak diperkirakan akan habis pada akhir abad ke XXI. Gas alam
diprediksi oleh para ahli akan habis kurang lebih 100 tahun lagi, sedangkan
cadangan batu bara akan habis lebih kurang 200 sampai 300 tahun yang akan
datang. Ketiga jenis bahan bakar fosil tersebut dikategorikan sebagai energi yang
kurang akrab lingkungan karena kadar polusinya cukup tinggi. Kadar CO2
semakin meningkat akhir-akhir ini, menyebabkan suhu udara menjadi meningkat,
mengakibatkan sebagian es di kutub mencair dan tinggi permukaan laut terus
meningkat yang lambat laun akan mengakibatkan banjir besar di kota-kota yang
berada di tepi pantai di seluruh dunia.
2) Sumber energi nuklir
Sumber energi ini merupakan sumber energi hasil tambang lainnya yang termasuk
jenis logam non-ferro. Energi nuklir dapat dibudidayakan melalui proses fisi dan
fusi. Energi nuklir walaupun bersih, tetapi mengandung resiko bahaya radiasi
yang dapat mematikan sehingga pengelolaannya harus ekstra hati-hati dan juga
memelukan modal yang besar untuk investasi awal.
b. Sumber-sumber Energi yang Dapat Didaur Ulang (Renewable/Non-Depleted
Energy Resources)
Di sini ada dua jenis energi, yaitu energi yang dapat didaur ulang (renewable
energy) dan energi yang tidak habis sepanjang masa (non-depleted energy). Energi
yang dapat didaur ulang berasal dari bumi, antara lain biomassa, biogas, kayu
bakar, dll. Energi tidak habis sepanjang masa dari bumi (terreterial), panas bumi,
air laut, dan angin, sedangkan dari luar bumi, adalah energi matahari/surya.

1) Biomassa
Biomassa adalah proses daur ulang melalui fotosintesis di mana energi surya
memegang peranan. Daun menyerap energi surya untuk proses pertumbuhannya
dan mengeluarkan gas CO2.Energi surya yang diserap tumbuh-tumbuhan diproses
menjadi energi kimia sebagai energi dalam bentuk
tersimpan. Tumbuh-tumbuhan tersebut akan mengeluarkan energi tersimpan-nya
pada proses pengeringan maupun saat dibakar langsung. Dapat pula melalui
proses untuk menghasilkan bahan bakar yang cukup potensial, seperti etanol,
metana, atau gas lainnya, dan bahan bakar dalam bentuk cair (minyak nabati).
Nilai kalor/bakar dari tumbuh-tumbuhan kering dapat mencapai 4800 kkal/kg.
Beberapa proses konversi dari biomassa menjadi bahan bakar, adalah melalui:
1. Proses Pirolisa
2. Proses Hidrogasifikasi
3. Proses Hidrogenisasi
4. Proses Distalasi Distrutif
5. Proses Hidrolisa Asam
Bahan bakar hasil dari proses biomassa, dikenal dengan istilah bahan bakar
alternatif. Contoh bahan bakar alternatif ini, adalah:
a) Buah Bitanggul yang bernama latin Umpilum, sebagai salah satu bahan baku
membuat energi alternatif. Biji buah bitanggul bisa menghasilkan biodiesel.
Mulanya biji buah Bitanggul dijemur seharian hingga kering. Setelah itu
dibungkus dengan kertas saring. Setelah didiamkan dalam sejam, lalu dimasukkan
ke dalam tabung. Setelah itu, biji buah bitanggul yang telah dibungkus dalam
kertas diberi cairan Petrolium eter. Air yang menetes dari kertas saring tersebut
sudah menjadi biodiesel. Air yang berwarna merah tersebut, lalu diuapkan agar
berubah menjadi warna kuning bening agar terlihat seperti solar. "Lima buah
Bitanggul dapat menjadi 25 mililiter solar dalam waktu dua jam,"

b) Buah jarak merupakan tanaman yang sudah tidak asing bagi masyarakat
Indonesia. Tanaman ini digunakan sebagai bahan bakar pesawat Jepang saat
menjajah Indonesia pada 1942 sampai 1945. Hampir semua bagian tanaman ini
bisa dimanfaatkan. Kandungan minyak jarak mempunyai rendemen minyak
(trigliserida) dalam inti biji sekitar 55 persen atau 33 persen dari berat total biji.
c) Jagung menjadi alternatif yang penting sebagai bahan baku pembuatan ethanol
(bahan pencampur BBM). Karenanya, kebutuhan terhadap komoditas ini pada
masa mendatang diperkirakan mengalami peningkatan yang signifikan.Bioetanol
(C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber
karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Produksi bioethanol ini
mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu: Persiapan Bahan baku, Fermentasi,
dan Pemurnian.
2) Gas bio (Biogas)
Gas Bio (Biogas), adalah sumber energi yang bersih dan murah. Diproduksi
dari kotoran hewan dan sampah busuk melalui proses anaerobik melalui kegiatan
mikrobial aorganisme. Gas yang diperoleh mengandung 70 persen gas metan.
Suatu sistem gas bio terdiri dari:
1. Tanki pencampur
2. Pencerna (digester)
3. Tanki penyimpan gas
4. Pembakar gas
5. Kotoran hewan/sampah busuk sebagai bahan baku
Adapun proses terjadinya (diproduksinya) gas bio tersebut, adalah sebagai
berikut: Kotoran hewan (lembu)/sampah busuk dicampur dengan air, dimasukkan
ke dalam tanki pencampur, diaduk sampai rata sehingga membentuk lumpur
kotoran yang biasa disebut dengan slurry yang kemudian dimasukkan ke dalam
digester untuk menghasilkan gas bio. Gas yang terbentuk dikumpulkan dan
disimpan dalam tanki penyimpan gas. Suatu estimasi kasar memberikan gambaran
bahwa kebutuhan masak-memasak dengan gas bio untuk konsumsi 30 orang,

memerlukan 30 m gas per hari dengan kebutuhan kotoran binatang ternak seberat
200 kg yang dapat dihasilkan oleh lebih kurang 40 ekor lembu.
3) Air
Air adalah sumber energi yang dapat didaur ulang yang dapat dibedakan
menurut tenaga air (hydropower). Suatu energi air penggerak turbin bergantung
kepada energi potensial air pada suatu ketinggian tertentu. Energi potensial air
dikonversikan menjadi energi mekanis melalui sebuah turbin yang kemudian
dikonversikan kembali ke dalam bentuk energi listrik melalui sebuah generator
listrik. Daya keluaran dari pusat listrik tenaga air bergantung dari aliran massa air
yang mengalir dan ketinggi jatuhnya air. Indonesia memiliki potensi tenaga air
yang cukup besar. Penggunaan potensi tenaga air skala kecil dan menengah mulai
dikembangkan dan digalakkan akhir-akhir ini untuk menghasilkan pusat tenaga
mini dan mikrohidro di daerah-daerah yang potensi sumber energi airnya tidak
terlampau besar. Sumber energi air dapat digolongkan sebagai bagian dari sumber
energi surya. Hal ini mengingat keberadaan air berasal dari proses penguapan air
laut melalui radiasi sinar matahari. Hasilnya berakumulasi menjadi gumpalan
awan tebal yang mengandung uap air untuk kemudian berubah menjadi air hujan.
Air hujan ditampung dalam bendungan-bendungan sebagai sumber energi air yang
berpotensial tinggi.
4) Energi gelombang laut

Merupakan sumber energi yang berasal dari gelombang laut yang


dikonversikan melalui sistem mekanisme torak yang bekerja maju mundur
mengikuti irama gerak gelombang laut. Beberapa sistem energi gelombang laut
sedang dikembangkan dan akan menjadi alternatif untuk menghasilkan energi
listrik.

5) Energi pasang surut

Sumber energi yang diperoleh dari adanya perbedaan air laut pada saat pasang
dan surut. Di dunia ini terdapat daerah-daerah yang mempunyai perbedaan
pasang-surut yang cukup signifikan, yaitu lebih dari 10 meter. Selisih ketinggian
tersebut cukup potensial untuk menggerakkan turbin air berskala besar dengan
ketinggian jatuh yang rendah, tetapi dapat menghasilkan tenaga listrik dengan
daya besar sampai ratusan megawatt.
6) Energi gradien suhu

Sumber energi yang berasal dari perbedaan suhu air laut di permukaan dan pada
ke dalaman laut tertentu. Perbedaan suhu ini dimanfaatkan untuk menghasilkan
sistem konversi energi. Gradien suhu air laut yang dikenal dengan istilah OTEC
(Ocean Thermal Energy Conversion). Teknik energi gradien suhu memanfaatkan
suhu permukaan air laut yang diperoleh dari panas akibat pancaran matahari, jadi
boleh dikatakan bahwa energi gradien suhu sebagai bagian dari energi surya.
7) Energi angin
Merupakan sumber energi yang didapat dari perbedaan tekanan di permukaan
bumi sehingga terjadi aliran udara (angin). Perbedaan itu disebabkan adanya
radiasi matahari yang memanaskan permukaan bumi, akibatnya terjadi perbedaan
temperatur dan rapat massa udara yang berdampak pada perbedaan tekanan udara.
Aliran udara (angin) tersebut dapat dipercepat dengan adanya perputaran bumi
pada porosnya dengan kecepatan putaran konstan.
8) Energi panas bumi
Merupakan energi terresterial yang berlimpah adanya dan dapat dimanfaatkan
sebagai pembangkit tenaga listrik tenaga panas bumi. Secara alami temperatur

bumi meningkat 30C pada kedalaman setiap kilometer kecuali yang dekat
dengan gunung berapi yang aktif, di mana aliran magma yang panas dapat muncul
ke permukaan bumi dengan panas yang mencapai 250C. Temperatur panas bumi
pada kedalaman 25 km dari permukaan bumi dapat mencapai 750C. Secara
ekonomis kedalaman yang ideal untuk eksploitasi sumber panas bumi adalah
kurang dari 10 km dengan temperatur kerja 150 - 300C. Energi panas bumi yang
berada lebih kurang 10 km dari permukaan bumi berdasarkan estimasi mampu
memberi sistem energi panas dengan kapasitas produksi 200 MW selama 10.000
tahun. Energi panas bumi di daerah Kamojang Jawa Barat berkapasitas 150 MW.
9) Energi surya
Merupakan sumber energi yang berlimpah ruah, bersih, bebas polusi, dan tidak
akan habis sepanjang masa. Energi surya adalah energi di luar bumi (extra
terresterial energy) yang dapat dimanfaatkan melalui konversi langsung, seperti
pada fotovoltaik dan secara tidak langsung melalui pusat listrik tenaga surya.
4. Mesin Konversi Energi
Mesin konversi energi adalah mesin-mesin yang dapat mentranfer suatu energi ke
dalam bentuk energi lain. Mesin konversi energi dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu:
1. Mesin Konversi Energi Konvensional
2. Mesin Konversi Energi Non-konvensional
1. Mesin Konversi Energi Konvensional
Mesin konversi energi konvensional umumnya menggunakan sumber energi
konvensional yang tidak terbarui, kecuali untuk turbin hidropower. Mesin
konversi energi konvensional dapat diklasifikasi menjadi motor pembakaran,
mesin-mesin fluida, dan mesin pendingin.

2. Mesin Konversi Energi Non-konvensional


Mesin-mesin yang memanfaatkan sumber energi Terrestrial dan Extra Terrterial
yang berasal dari alam. Ada beberapa jenis Mesin konversi energi nonkonvensional; sistem pembangkit tenaga panas bumi, sistem pembangkit energi
surya, pesawat pengkonversi tenaga angin (wind power), pesawat pengkonversi
energi termal samudra (OTEC), pesawat pengkonversi energi pasang-surut, sistem
pembangkit energi gelombang laut, pembangkit uap energi nuklir, dan pesawat
magneto hydro dynamics (MHD)

BAB II

CONTOH SISTEM KOVERSI ENERGI


BOILER DAN TURBIN
2. 1 Pengertian Umum Boiler
Boiler merupakan suatu alat untuk menghasilkan uap pada tekanan dan
temperatur tinggi (superheated vapor). Perubahan dari fasa cair menjadi uap
dilakukan dengan memanfaatkan energi panas yang didapatkan dari pembakaran
bahan bakar.
Boiler pada PLTU Suralaya menggunakan batubara sebagai bahan bakar
utamanya. Sedangkan bahan bakar pendukung adalah solar dan residu, dimana
solar dan residu ini digunakan hanya sebagai pemantik awal (ignition) untuk
proses pembakaran. Penyaluran panas dari bahan bakar ke air demin dapat terjadi
secara radiasi, dan konveksi.
Bagian pemindah panas dari boiler terdiri dari pemanas mula (Low
Pressure Heater dan High Pressure Heater) , economizer, pemanas lanjut
(Superheater), dan pemanas ulang (Reheater).
Perpindahan panas dalam boiler terjadi dalam proses :
1.

Radiasi di ruang bakar

2.

Konveksi di Economizer dan Air Heater

3.

Kombinasi radiasi dan konveksi di Superheater dan Reheater.

2.1.2

Komponen Utama Boiler


Komponen utama boiler terdiri dari : wall tube, main drum, primary

superheater, secondary superheater, reheater, dan economizer. Sedangkan


komponen pendukung terdiri dari : mill pulverizer, air heater, sootblower, fan
dan safety valve.

Wall Tube
Dinding boiler terdiri dari pipa-pipa yang disatukan oleh membran, oleh
karena itu disebut dengan wall tube. Di dalam wall tube tersebut mengalir air yang
akan dididihkan. Dinding pipa boiler adalah pipa yang memiliki ulir dalam
(ribbed tube), dengan tujuan agar aliran air di dalam wall tube turbulen, sehingga

penyerapan panas menjadi lebih banyak dan merata serta untuk mencegah
terjadinya overheating karena penguapan awal air pada dinding pipa yang
menerima panas radiasi langsung dari ruang pembakaran .
Wall tube mempunyai dua header pada bagian bawahnya yang berfungsi
untuk menyalurkan air dari downcomer. Downcomer merupakan pipa yang
menghubungkan steam drum dengan bagian bawah low header. Untuk mencegah
penyebaran panas dari dalam furnace ke luar melalui wall tube, maka disisi luar
dari walltube dipasang dinding isolasi yang terbuat dari mineral fiber.

Steam Drum
Steam Drum adalah bagian dari boiler yang berfungsi untuk :
1. Menampung air yang akan dipanaskan pada pipa-pipa penguap (wall tube) dan
menampung uap air dari pipa-pipa penguap sebelum dialirkan ke superheater.
2. Memisahkan uap dan air yang telah dipisahkan di ruang bakar ( furnace ).
3. Mengatur kualitas air boiler, dengan membuang kotoran-kotoran terlarut di
dalam boiler melalui continious blowdown.
4. Mengatur permukaan air sehingga tidak terjadi kekurangan saat boiler
beroperasi yang dapat menyebabkan overheating pada pipa boiler.
Bagian-bagian dari steam drum terdiri dari : feed pipe, chemical feed pipe,
sampling pipe, baffle pipe, separator, scrubber, dryer, dan dry box.
Level air dari drum harus selalu dijaga agar selalu tetap setengah dari tinggi drum.
Sehingga banyaknya air pengisi yang masuk ke steam drum harus sebanding
dengan banyaknya uap yang meninggalkan drum, supaya level air tetap konstan.
Batas maksimum dan minimum level air dalam steam drum adalah -250 mm s/d
250 mm dari titik 0 ( setengah tinggi drum ).
Pengaturan level air dilakukan dengan mengatur Flow Control Valve. Jika
level air di dalam drum terlalu rendah akan menyebabkan terjadinya overheating
pada pipa boiler, sedangkan bila level air dalam drum terlalu tinggi, kemungkinan
butir-butir air terbawa ke turbin dan akan mengakibatkan kerusakan pada turbin.

Superheater

Superheater berfungsi untuk menaikkan temperatur uap jenuh menjadi uap


panas lanjut dengan memanfaatkan gas panas hasil pembakaran. Uap yang masuk
ke superheater berasal dari steam drum. Superheater terbagi dua yaitu Primary
Superheater dan Secondary Superheater.

Primary superheater
Primary Superheater berfungsi untuk menaikkan temperatur uap jenuh
yang berasal dari steam drum menjadi uap panas lanjut dengan memanfaatkan gas
panas hasil pembakaran. Temperatur masuk primary superheater adalah 304oC
dan temparatur keluarnya 414oC.

Secondary Superheater
Secondary superheater terletak pada bagian laluan gas yang sangat panas
yaitu diatas ruang bakar dan menerima panas radiasi langsung dari ruang bakar .
Temperatur uap masuk secondary superheater adalah 414o C dan temperatur
keluarnya sebesar 541oC dengan tekanan 169 kg / cm2. Uap yang keluar dari
secondary superheater kemudian digunakan untuk memutar HP Turbine.

Reheater
Reheater berfungsi untuk memanaskan kembali uap yang keluar dari HP
Turbine dengan memanfaatkan gas hasil pembakaran yang temperaturnya relatif
masih tinggi. Pemanasan ini bertujuan untuk menaikkan efisiensi sistem secara
keseluruhan . Perpindahan panas yang paling dominan pada reheater adalah
perpindahan panas konveksi. Perpindahan panas radiasi pada

reheater

memberikan efek yang sangat kecil sehingga proses ini biasanya diabaikan.
Temperatur uap masuk reheater adalah 335oC dengan tekanan sebesar 42,8 kg/cm2
sedangkan temperatur keluarnya adalah 541oC dengan tekanan 39 kg/cm2. Uap ini
kemudian digunakan untuk menggerakkan IP Turbine, dan setelah uap keluar dari
IP Turbine langsung

digunakan untuk memutar LP Turbine tanpa mengalami

pemanasan ulang.

Economizer
Economizer menyerap panas dari gas hasil pembakaran setelah melewati
superheater, untuk memanaskan air pengisi sebelum masuk ke main drum. Panas
yang diberikan ke air berupa panas sensibel. Pemanasan air ini dilakukan agar

perbedaan temperatur antara air pengisi dan air yang ada dalam steam drum tidak
terlalu tinggi, sehingga tidak terjadi thermal stress (tegangan yang terjadi karena
adanya pemanasan) di dalam main drum. Selain itu dengan memanfaatkan gas
sisa pembakaran, maka akan meningkatkan efisiensi dari boiler dan proses
pembentukan uap lebih cepat. Economizer berupa pipa-pipa air yang dipasang
ditempat laluan gas hasil pembakaran sebelum air heater.
Perpindahan panas yang terjadi di economizer terjadi dengan arah aliran
kedua fluida berlawanan. Air pengisi steam drum mengalir ke atas menuju steam
drum, sedangkan udara pemanas mengalir ke bawah.
2.1.3

Komponen Pendukung Boiler


Komponen pendukung boiler terdiri dari : mill / pulverizer, air heater,

sootblower, fan dan safety valve.

Mill / Pulverizer
Mill merupakan alat yang berfungsi untuk menghaluskan batubara agar
mencapai ukuran tertentu, sehingga dapat digunakan dalam proses pembakaran
.Tujuan dari penghalusan batubara ini adalah agar batubara lebih mudah terbakar
sehingga pembakaran sempurna dapat tercapai. Di PLTU Suralaya batubara
dihaluskan dari ukuran diameter rata-rata 5 cm menjadi sekitar 200 mesh.
Kerja dari mill harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kehalusan yang diinginkan sehingga energi yang dibutuhkan juga
semakin besar.
2.

Grindability / kekerasan batubara yang digunakan sebagai bahan bakar.

3.

Cara penghembusan serbuk batubara yang telah halus. Batubara harus


dikeringkan dengan semburan udara hangat.

Air Heater
Air heater merupakan alat pemanas udara. Panas diambil dari gas buang
hasil pembakaran sebelum masuk ke cerobong (stack). Dengan pemanfaatan gas
buang ini, maka dapat menghemat biaya bahan bakar sehingga bisa meningkatkan
efisiensi pembakaran.
Air heater yang digunakan dalam PLTU Suralaya adalah tipe Ljungstrom.
Tipe ini paling banyak digunakan di dunia karena performa dan ketahanannya

yang telah teruji. Selain itu tipe ini dapat digunakan dalam jangka waktu yang
lama sebelum dilakukan overhaul. Perbaikan dan perawatan berkala mudah
dilakukan pada air heater tipe ini karena desainnya yang sederhana. Bagian air
heater terdiri dari hot end element, intermediate element, dan cold end element.
Air heater yang digunakan terdiri dari primary air heater dan secondary
air heater. Secondary air heater berfungsi untuk memanaskan udara pembakaran
dengan memanfatkan gas sisa pembakaran sedangkan primary air heater
berfungsi untuk memanaskan udara primer yang digunakan untuk memanaskan
batubara di dalam mill dan sebagai sarana transportasi batubara dari mill menuju
ruang bakar.
Air heater yang digunakan di PLTU Suralaya ini adalah air heater jenis
regeneratif dimana gas sisa pembakaran dialirkan pada sebuah selubung tertutup
untuk memanaskan sebagian dari elemen air heater, dan elemen yang dipanaskan
ini diputar ke selubung yang lain dimana disini dilalui udara yang akan
dipanaskan sehingga terjadi perpindahan panas secara konduksi.

Soot Blower
Sootblower merupakan peralatan tambahan boiler yang berfungsi untuk
membersihkan kotoran yang menempel pada pipa-pipa wall tube, superheater,
reheater, economizer, dan air heater yang dihasilkan pada proses pembakaran.
Tujuannya adalah agar perpindahan panas tetap berlangsung secara baik dan
efektif . Sebagai media pembersih digunakan uap. Suplai uap ini diambil dari
primary superheater melalui suatu pengaturan tekanan PVC yang diatur pada
tekanan 40 kg/cm2. Setiap sootblower dilengkapi dengan poppet valve untuk
mengatur kebutuhan uap sootblower. Katup ini membuka pada saat sootblower
dioperasikan dan menutup kembali saat lance tube dari sootblower tersebut
mundur menuju stop.
Dilihat dari cara kerja pengoperasiannya sootblower dibagi atas :
1. Short Retractable Sootblower / Furnace Wall Blower , digunakan untuk
membersihkan pipa-pipa penguap (wall tube) pada daerah furnace.
2. Half Retractable Sootblower, digunakan untuk membersihkan pipa-pipa
economizer.

3. Long Retractable Sootblower, digunakan untuk membersihkan pipa-pipa


superheater dan reheater.
4. Air Heater Sootblower, digunakan untuk membersihkan elemen-elemen
air heater.
Sebagai pengaman pada setiap adanya kegagalan sootblower, maka pada
panel kontrol dilengkapi dengan alarm sootblower failure. Jika terjadi
kegagalan operasi sootblower , operator harus segera mereset atau menormalkan
sootblower tersebut. Jika kegagalan sootblower berlangsung cukup lama dengan
kondisi valve terbuka, akan menimbulkan dampak serius terhadap pipa-pipa
boiler, dimana pipa akan tererosi oleh semburan uap dari sootblower. Pada unit 57 pengoperasian sootblower dilakukan 8 jam sekali/setiap shift kerja.

Safety Valve
Safety valve berfungsi sebagai pengaman ketika terjadi tekanan uap yang
berlebih yang dihasilkan oleh boiler. Tekanan berlebih ini dapat terjadi karena
overfiring pada saat penambahan mill atau adanya penurunan beban turbin secara
drastis.

Fan
Fan yang digunakan terdiri atas primary air fan, secondary air fan,
induced draft fan, seal air fan. Fan tersebut berfungsi untuk mengalirkan udara.
2.2 Pengertian Umum Turbin
Sistem turbin mencakup turbin itu sendiri, kondensor, dan pemanas awal
air (heater). Turbin berfungsi mengubah energi entalpi yang terkandung dalam
uap menjadi energi kinetik dengan proses ekspansi adiabatik. Energi kinetik
tersebut dimanfaatkan untuk memutar roda- sudu sehingga dengan perantaraan
poros akan menggerakkan generator dan menghasilkan energi listrik.
Uap keluar turbin tidak dibuang, tetapi diembunkan dengan cara
mendinginkannya pada kondensor. Pendinginan dilakukan menggunakan air tawar
atau air laut. Air kondensasi dipanaskan pada pemanas awal air sebelum kembali
ke boiler. Pemanas awal gunanya adalah untuk menaikkan efisiensi dan menjaga

agar air pengisi masuk ke boiler suhunya sudah cukup tinggi( 250C) sehingga
menghindarkan korosi pada pipa ekonomizer.
Turbin dilengkapi dengan sistem pelumasan, pengatur, dan pengaman agar
dapat bekerja dengan normal dan terhindar dari kerusakan yang lebih berat bila
terjadi gangguan.
2.2.1 Turbin
Tekanan uap masuk turbin antara 70 s/d 200 kg/cm 2, sedangkan tekanan
keluar sudu akhir sekitar 0.1 kg/cm2 (absolut). Temperatur uap masuk antara 450
C s/d 540 C dan temperatur uap keluar antara 50 C s/d 70 oC. Uap masuk turbin
melalui katup trotel yang berguna untuk mengatur putaran pada waktu start
sampai putaran kerja, sedangkan katup governor digunakan untuk mengatur
jumlah uap sesuai beban. Pada katup trotel terjadi penurunan tekanan, sedangkan
pada katub governor tidak mengalami penurunan tekanan. Tingkat pertama dari
turbin merupakan tingkat pengatur yang disebut juga tingkat Curtis. Tingkat
selanjutnya merupakan tingkat tenaga yang terdiri dari sudu-sudu aksi dan reaksi.
Jumlah tingkat antara 10 s/d 18. Pada 3 sudu terakhir sudah memasuki daerah uap
basah sehingga pada bagian ujungnya dibuat dari material khusus yang tahan erosi
air.
2.2.2 Kondensor
Kondensor berfungsi untuk mengembunkan uap keluar turbin pada
tekanan/suhu serendah mungkin agar diperoleh daya turbin yang setinggi
mungkin. Akibat pengembunan ini maka didalam ruang uap pada kondensor
terjadi tekanan hampa. Makin tinggi tekanan hampanya maka makin rendah
tekanan absolutnya, yang berarti makin baik. Keadaan hampa dipengaruhi oleh
kemampuan pendinginan dan adanya udara. Udara ini dikeluarkan dengan
penyedot udara (air ejector). Agar hampa tersebut selalu tinggi berarti tekanan
absolutnya rendah, maka harus diusahakan :
1. Pipa kondensor selalu bersih
2. Aliran air pendingin tidak terhambat
3. Penyedot udara berjalan baik

4. Tidak terjadi kebocoran udara pada katup ke sisi kondensor


Ada kemungkinan terjadi kebocoran pada pipa kondensor, sehingga air
laut masuk ke sistem uap karena tekanan air laut lebih tinggi dibanding tekanan
uap. Dalam hal demikian sistem air-uap menjadi tercemar oleh air laut yang
mengandung garam/mineral. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan parah pada
pipa boiler maupun sudu turbin
2.2.3 Pemanas Awal Air (heater)
Pemanas awal air gunanya untuk memanaskan air kondensat dan air
pengisi dengan menggunakan uap yang diambil dari turbin. Pemanas air biasanya
menggunakan tipe shell and tube. Bila pipa pemanas awal bocor, maka air akan
masuk ke sisi uap. Oleh karena itu katup balik pada pipa pengambilan harus
bekerja dengan baik agar air tersebut tidak mengalir masuk ke turbin. Bila
kebocoran tersebut diketahui maka harus segera disumbat. Bila terjadi gangguan
sehingga turbin mengalami trip, maka tekanan turbin menjadi hampa sehingga air
kondensat pada pemanas awal dapat menguap dan mengalir balik ke turbin
apabila katub baliknya tidak menutup dengan baik.
2.2.4 Sistem Pelumasan dan Minyak Kontrol
Sistem kontrol pada turbin menggunakan minyak hidrolik. Oleh karena
itu, minyak pelumas selain digunakan untuk pelumasan juga untuk pengatur
(kontrol) dan pengaman. Pada generator, gas hidrogen digunakan sebagai media
pendingin. Sistem minyak pelumas terdiri dari :
1. Pompa pelumas utama yang langsung dipasang pada poros turbin
2. Pompa pelumas bantu
3. Pompa pelumas darurat
4. Pompa pelumas pemutar turbin
5. Sistem pembersih (oil conditioner)
6. Pendingin dan saringan

Fungsi utama pelumas adalah untuk pelumasan bantalan turbin dan


generator. Sistem minyak hidrolik merupakan cabang dari sistem minyak pelumas
dan digunakan sebagai alat pengatur dan pengaman turbin. Minyak hidrolik
mengatur pembukaan katup generator dan pada saat start juga mengatur
pembukaan katup trotle. Minyak hidrolik juga berfungsi sebagai sistem pengaman
bila turbin mengalami gangguan dan harus segera dihentikan. Sistem pengaman
tersebut meliputi :
1. Pengaman tekanan bantalan
2. Pengaman tekanan hampa
3. Pengaman bantalan aksial
4. Pengaman terhadap gangguan system listrik
5. Pengaman putaran lebih

Pada saat salah satu gangguan tersebut terjadi, maka tekanan minyak pada
sistem pengaman akan hilang dan katup darurat menutup.

BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT
3.1 Tujuan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
1. Menyediakan pasokan listrik untuk kebutuhan masyarakat
2. Menggunakan sumber daya alam yang ada dengan efektif dan efisien
3.2 Manfaat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
1. Kebutuhan listrik masyarakat terpenuhi
2. Menambah lapangan pekerjaan untuk daerah sekitar pembangkit
3. Kerja sama perusahaan semakin luas dengan adanya kebutuhan
pembangkit seperti batu bara
4. Limbah batu bara dapat diolah menjadi batu untuk lantai

BAB IV
DASAR TEORI
4.1 Teori Dasar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
Pembangkit Listrik Tenaga Uap adalah pembangkit yang mengandalkan
energi kinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik. Bentuk utama
pembangkit listrik jenis ini adalah Generator yang di hubungkan ke turbin dimana
untuk memutar turbin diperlukan energi kinetik dari uap panas atau kering.
Pembangkit listrik tenaga uap menggunakan berbagai macam bahan bakar
terutama batu-bara dan minyak bakar serta MFO untuk start awal.
PLTU yang pertama kali beroperasi di Indonesia yaitu pada tahun 1962
dengan kapasitas 25 MW, suhu 500 C, tekanan 65 Kg/cm2, boiler masih
menggunakan pipa biasa dan pendingin generator dilakukan dengan udara.
Kemajuan pada PLTU yang pertama adalah boiler sudah dilengkapi pipa dinding
dan pendingin generator dilakukan dengan hidrogen, namun kapasitasnya masih
25 MW. Bila dayanya ditingkatkan dari 100 - 200 MW, maka boilernya harus
dilengkapi super hiter, ekonomizer dan tungku tekanan. Kemudian turbinnya bisa
melakukan pemanasan ulang dan arus ganda dan pendingin generatornya masih
menggunakan hidrogen. Hanya saja untuk kapasitas 200 MW uap yang dihasilkan
mempunyai tekanan 131,5 Kg/cm2 dan suhu 540 C dan bahan bakarnya masih
menggunakan minyak bumi.

Ketika kapasitas PLTU sudah mencapai 400 MW maka bahan bakarnya


sudah tidak menggunakan minyak bumi lagi melainkan batu bara. Batu bara yang
dipakai secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu batu bara berkualitas
tinggi dan batu bara berkualitas rendah. Bila batu bara yang dipakai kualitasnya
baik maka akan sedikit sekali menghasilkan unsur berbahaya, sehingga tidak
begitu mencemari lingkungan. Sedang bila batu bara yang dipakai mutunya
rendah maka akan banyak menghasilkan unsur berbahaya seperti Sulfur, Nitrogen
dan Sodium. Apalagi bila pembakarannya tidak sempurna maka akan dihasilkan
pula unsur beracun seperti CO, akibatnya daya guna menjadi rendah.

Skema PLTU Batu Bara


PLTU batu bara di Indonesia yang pertama kali dibangun adalah di
Suryalaya pada tahun1984 dengan kapasitas terpasang 4 x 400 MW. Kemudian
PLTU Bukit Asam dengan kapasitas 2 x 65 MW pada tahun 1987. Dan pada tahun
1993-an beroperasi pula PLTU Paiton 1 dan 2 masing-masing dengan kapasitas
400 MW. Kemudian PLTU Suryalaya akan dikembangkan dari unit 5 - 7 dengan
kapasitas 600 MW/unit. PLTU batu bara pada tahun 1994 kapasitasnya sudah
mencapai 2.130 MW (16% dari total daya terpasang). Pada tahun 2003
kapasitasnya diperkirakan sekitar 12.100 MW (37%), tahun 2008/09 mencapai
24.570 MW (48%) dan pada tahun 2020 sekitar 46.000 MW. Sementara itu
pemakaian batu bara pada tahun 1995 tercatat bahwa untuk menghasilkan energi
listrik sebsar 17,3 Twh dibutuhkan batu bara sebanyak 7,5 juta ton. Dan pada

tahun 2005 pemakaian batu bara diperkirakan mencapai 45,2 juta ton dengan
energi listrik yang dihasilkan mencapai 104 Twh.
Banyaknya pemakaian batu bara tentunya akan menentukan besarnya
biaya pembangunan PLTU. Harga batu bara itu sendiri ditentukan oleh nilai
panasnya (Kcal/Kg), artinya bila nilai panas tetap maka harga akan turun 1%
pertahun. Sedang nilai panas ditentukan oleh kandungan zat SOx yaitu suatu zat
yang beracun, jadi pada pembangkit harus dilengkapi alat penghisap SOx. Hal
inilah yang menyebabkan biaya PLTU Batu bara lebih tinggi sampai 20% dari
pada PLTU minyak bumi. Bila batu bara yang digunakan rendah kandungan SOxnya maka pembangkit tidak perlu dilengkapi oleh alat penghisap SOx dengan
demikian harga PLTU batu bara bisa lebih murah. Keunggulan pembangkit ini
adalah bahan bakarnya lebih murah harganya dari minyak dan cadangannya
tersedia dalam jumlah besar serta tersebar di seluruh Indonesia.
4.2 PRINSIP KERJA PUSAT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU)
Pusat listrik tenaga uap (PLTU) mempunyai bagian-bagian utama seperti:
1. Turbin uap (steam turbine).
2. Boiler (steam generator).
3. Kondensor (condenser).
4. Pompa-pompa (pumps).

Prinsip kerja dari pusat listrik tenaga uap (PLTU) didasarkan pada siklus Rankine
seperti pada diagram T vs s dan h vs s dibawah ini.

Turbin uap untuk pembangkit menggunakan siklus uap tertutup, uap yang telah
memutar turbin dengan energinya dikondensasikan kembali menjadi air dan
dipompa ke boiler, selanjutnya dipanaskan lagi didalam boiler tersebut. Demikian
seterusnya siklus ini terjadi terus menerus.
Daerah dibawah garis lengkung k K k pada diagram T s dan h s
merupakan daerah campuran fasa cair dan uap. Uap didalam daerah tersebut
biasanya juga dinamakan uap basah. Garis k K dinamai garis cair (jenuh),
dimana pada dan disebelah kiri garis tersebut air ada dalam fasa cair. Sedangkan
garis k k dinamai garis uap jenuh, dimana pada dan disebelah kanan garis
tersebut air ada dalam fasa uap (gas). Uap didalam daerah tersebut terakhir
biasanya dinamai uap kering. Titik K dinamai titik kritis, dimana temperature
kritis dan tekanan kritis. Pada titik kritis keadaan cair jenu adalah identik.
1. Dari titik 1 ke titik 2 merupakan proses isentropis,didalam pompa.
2. Dari titik 1 ke titik 2 dan ke titik 3 merupakan proses pemasukan kalor
atau pemanasan pada tekanan konstan didalam boiler/ketel.
3. Dari titik 3 ke titik 4 merupakan proses ekspansi isentropic didalam turbin
atau mesin uap lainnya.
4. Dari titik 4 ke titik 1 merupakan proses pengeluaran kalor atau
pengembunan pada tekanan konstan, didalam kondensor.
Secara sederhana sebuah pembangkit listrik tenaga uap digambarkan
seperti pada gambar dibawah.

4.1

Perbaikan siklus tenaga uap.

Perbaikan siklus tenaga uap dapat dilakukan dengan jalan pemanasan ulang
(reheat), dimana setelah uap berekspansi didalam turbin, uap tersebut keluar dari
turbin dan dialirkan kedalam alat pemanas lanjut (reheater) yang berada didalam
ketel/boiler untuk dipanaskan kembali, kemudian baru uap itu dimasukkan
kedalam turbin berikutnya. Dengan demikian uap yang dialirkan ke turbin
energinya telah diperbesar dan setelah berekspansi di turbin uap, kondisi akhir uap
tekanannya menjadi berkurang (kurang dari 1 atmosfir) didalam kondensor
dengan kebasahan yang tertentu. Siklus proses ini seperti ditunjukkan pada
gambar dibawah.

Air laut yang jumlahnya melimpah ruah dipompa oleh CWP (Circulating Water
Pump) (1) yang sebagian besar dipakai untuk media pendingin di Condenser (6)
dan sebagian lagi dijadikan air tawar di Desalination Evaporator (2). Setelah air
menjadi tawar, kemudian dipompa oleh Distillate Pump (3) untuk kemudian
dimasukkan ke dalam Make Up Water Tank (4) yang kemudian dipompa lagi
masuk ke sistem pemurnian air (Demineralizer) dan selanjutnya dimasukkan ke
dalam Demin Water Tank (5). Dari sini air dipompa lagi untuk dimasukkan ke
dalam Condenser bersatu dengan air kondensat sebagai air benam ban. Air
kondensat yang kondisinya sudah dalam keadaan murni dipompa lagi dengan
menggunakan pompa kondensat, kemudian dimasukkan ke dalam 2 buah pemanas
Low Pressure Heater (7) dan kemudian diteruskan ke Deaerator (8) untuk
mengeluarkan atau membebaskan unsur O2 yang terkandung dalam air tadi.
Selanjutnya air tersebut dipompa lagi dengan bantuan Boiler Feed Pump (9)
dipanaskan lagi ke dalam 2 buah High Pressure Heater (10) untuk diteruskan ke
dalam boiler yang terlebih dahulu dipanaskan lagi dengan Economizer (11) baru
kemudian masuk ke dalam Steam Drum
(12). Proses pemanasan di ruang bakar menghasilkan uap jenuh dalam steam
drum, dipanaskan lagi oleh Superheater (14) untuk kemudian dialirkan dan
memutar Turbin Uap (15). Uap bekas yang keluar turbin diembunkan dalam
condenser dengan bantuan pendinginan air laut kemudian air kondensat
ditampung di hot well.
Bahan bakar berupa residu/MFO dialirkan dari kapal/tongkang (16) ke dalam
Pumping House (17) untuk dimasukkan ke dalam Fuel Oil Tank (18). Dari sini
dipompa lagi dengan fuel oil pump selanjutnya masuk ke dalam Fuel Oil Heater
(19) untuk dikabutkan di dalam Burner (20) sebagai alat proses pembakaran
bahan bakar dalam Boiler.
Udara di luar dihisap oleh FDF (Forced Draught Fan) (21) yang kemudian
dialirkan ke dalam pemanas udara (Air Heater) (22) dengan memakai gas bekas
sisa pembakaran bahan bakar di dalam Boiler (13) sebelum dibuang ke udara luar
melalui Cerobong/Stack (23).
Perputaran Generator (24) akan menghasilkan energi listrik yang oleh

penguat/exciter tegangan mencapai 11,5 kV, kemudian oleh Trafo Utama/Main


Transformater (25) tegangan dinaikkan menjadi 150 kV. Energi listrik itu lalu
dibagi melalui Switch Yard (26) untuk kemudian dikirim ke Gardu Induk melalui
Transmisi Tegangan Tinggi (27). Kemudian, tenaga listrik itu dialirkan lagi pada
para konsumen.