Anda di halaman 1dari 60

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

BAB I. FILOSOFI RANCANGAN


I.1.A Umum
Rencana Garis (Lines Plan) adalah Gabungan dari 3 gambar dua dimensi
yang terdiri dari Body Plan(Gambar potongan melintang kapal), Halfbreadth
Plan(Gambar potongan membujur kapal yang dilihat dari atas), dan Sheer
Plan(Gambar potongan membujur kapal yang dilihat dari samping) yang apabila di
gabungkan akan terlihat Rancangan awal dari bentuk kapal yang akan di rancang.
Tugas Rencana Garis ini merupakan Mata Kuliah Bersyarat dan mata kuliah
prasyarat di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS. Tugas Rencana Garis
adalah Mata Kuliah Prasyarat dari mata kuliah Desain II, Desain III, dan Desain IV.
Dalam pembuatan desain rencana garis dan bukaan kulit ini, dapat
menggunakan beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas
tersebut. Namun untuk kali ini dosen menyarankan agar menggunakan metode
gambar yaitu metode yang menggunakan diagram untuk menentukan luasan di tiaptiap stationnya agar dicapai suatu nilai tahanan sekecil-kecilnya yang disesuaikan
dengan panjang dan kecepatan kapal. Selain itu dengan metode gambar ini, kita
juga dapat menentukan nilai Coeffisien block, Coeffisien prismatik,
danCoeffisienmidship. Namun metode ini, diawali dengan perhitungan speed length
ratio sehingga setelah ditarik garis sesuai perhitungan tersebut, dapat ditemukan
nilai-nilai seperti yang disebutkan diatas. Metode ini biasa disebut sebagai Metode
NSP karena dalam pembuatannya menggunakan diagram NSP.
Sebagai pengolah data hitungan dipergunakan program Excel, sedangkan
untuk visualisasi penggambaran digunakan AutoCad. Program Excel dan AutoCad
dipilih karena hanya program inilah yang merupakan program pendukung pembuatan
Rencana Garis dan Bukaan Kulit secara manual sehingga sangat cocok jika
digunakan untuk pembelajaran bagi mahasiswa, artinya kedua program tersebut
hanya menampilkan input si operator bukannya bekerja otomatis seperti katakanlah
program Tribone yang merupakan suatu program aplikasi Lines Plan. Karena itu
selain proses perhitungan dan tahap tahap pembuatan Rencana Garis, pada
laporan ini juga akan dicantumkan beberapa aplikasi sederhana dari program Excel
dan AutoCad.
Dari adanya Tugas Rencana Garis ini, di harapkan mahasiswa dapat
meancang / menggambar Rencana Garis & Bukaan Kulit untuk suatu tipe dan
ukuran kapal. Dan yang pasti adalah Mahasiswa mengerti step-step untuk
mengerjakan Rencana Garis atau Lines Plan. Selain itu, tugas rencana garis ini juga
butuh ketelitian yang lebih agar Gambar yang dihasilkan bisa bagus dan lebih
presisi.
I.1.B Istilah-Istilah
Ada beberapa istilah istilah yang dipakai dalam penggambaran rencana garis dan
bukaan kulit ini sesuai dengan materi yang telah dipelajari dalam mata kuliah Teori
Bangunan dan Konstruksi Kapal. Istilah-Istilah tersebut sesuai dengan penjelasan seperti
gambar I.1.B.1 dibawah ini :

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 1

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar I.1.B.1
Gambar membujur kapal
Keterangan:

After perpendicular (AP)

Garis tegak buritan, adalah garis tegak yang dibuatmelalui linggikemudi bagian
belakang. Jika kapaltidakmemiliki linggi kemudi, makagaris tegak itu dibuatmelalui
sumbuporos kemudi.
Fore Perpendicular (FP)

Garis tegak haluan, adalah garis yang terletak pada titik potong antara linggi
haluan dengan garis air pada sarat muat yang telah di rencanakan.
B (Breadth)
Lebar kapal yang diukur pada sisi dalam plat di tengah kapal (tidak termasuk
tebal kulit lambung).
Bwl (Breadth at the waterline)
Lebar yang terbesar yang diukur pada garis air muat.
Boa (Maksimum Breadth)
Lebar terbesar yang diukur dari kulitlambung kapal termasuk jika
ada bagiangeladak yang menonjol keluarmelampauilambung.

Gambar I.1.B.2
Gambar melintang kapal

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 2

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

H (Depth/Height)

Tinggi adalah jarak vertikal yang diukur pada bidang tengah kapal (midship) dari
atas keel (lunas) sampai sisi atas geladak di sisi kapal.
T (Draught/Draft)
Sarat yang direncankanyaitu jarak vertikal yang diukur dari sisi atas lunas
sampai pada garis air.
Tmax (Draught/Draft maksimum)
Sarat maksimum yaitu tinggi terbesarlambung kapal yang
terendam di dalamairdiukur dari garis air muat sampai bagiankapal yang
paling rendah.
TF(Fore Draught/Draft)
Sarat di haluan kapal yang diukur pada FP (forward perpendicular).
TA(After Draught/Draft)
Sarat di buritan kapal yangdiukur padaAP (after perpendicular).

TM(Mean Draught/Draft)
Mean draught/draft, sarat rata-rata (TF+TA)/2 danselisih antaraTF
danTAdisebutTrim dari kapal.
Vs (Service speeds)
Kecepata dinasadalah kecepatan kapal saat beroperasi

LPP (Length between Perpendicular)


Panjang antara 2 garis tegak yaitu jarak horisontal antara garis tegak depan
(haluan/FP) dengan garis tegak belakang (buritan/AP).
Apabila data data di atas telah diketahui,maka dilakukan suatu perhitungan untuk
menentukan:

Length of Water Line (Lwl )


Merupakan panjang garis air yang diukur mulai dari perpotongan linggi buritan
dengan garis air pada sarat sampai pada perpotongan linggi haluan dengan garis air
pada sarat atau FP (jarak mendatar antara kedua ujung garis muat), yang
dirumuskan sebagai pertambahan panjang dari Lpp sebesar 5% yaitu:

LWL

( 1 + 5% ) LPP

Length of Displacement (Ldisp)


Merupakan panjang kapal imajiner yang terjadi karena adanya perpindahan fluida
sebagai akibat dari tercelupnya badan kapal, panjang ini digunakan untuk
menentukan seberapa besar luasan luasan bagian yang tercelup air, pada saat
dibagi menjadi dua puluh station. Panjang displacement dirumuskan sebagai
panjang rata rata antara Lpp dan Lwl, yaitu:
L

1
(L
2

+L )

Speed Length Ratio (Vs/Ldisp)


Merupakan suatu perhitungan yang digunakan untuk menentukangaris yang
terkandung dalam diagram NSPsehinggaluasan di tiap-tiap stationnya agar dicapai
suatu nilai tahanan sekecil-kecilnya yang disesuaikan dengan panjang dan
kecepatan kapal. Selain itu dengan metode gambar ini, kita juga dapat menentukan

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 3

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


nilai Coeffisien block, Coeffisien prismatik, dan Coeffisien midship. Dan perlu
diketahui bahwa nilai Ldisp dalam feet. Dalam penjelasan ini, diimplementasikan
seperti gambar I.1.B.3 dibawah ini:

Gambar I.1.B.3
Gambar diagram NSP

Coeffisien Block of Displacement (CB)


Merupakan nilai kegemukan kapal yang diperoleh dari pembacaan diagram NSP
atau perbandingan antara isi karena (volume badankapal yang tercelup dalam air)
dengan volume balokdengan panjang L, lebar B dan tinggiT. Apabila dilakukan
perhitungan, maka rumus yang digunakan seperti gambar I.1.B.4 dibawah ini:

CB =

Gambar I.1.B.4
Gambar penampang membujur kapal
CB yang rendah umumnya dijumpai pada kapal-kapalcepat sedangkan nilai CB yang
besar dijumpai dikapal-kapaltangker pengangkutmuatan minyakmentah.

Coeffisien of Midship(CM)
Merupakan perbandingan antara gading besar (Midship Area) dengan luasan suatu
bidang yang lebarnya B dan tingginya T, yang dirumuskan sebagai harga
pendekatan terhadap koefisien block displacement. Namun, dalam penentuan
nilainya saat perancangan inidiperoleh dari diagram NSP. Adapun perumusan yang
digunakan dalam menentukan nilai CM ini, yaitu:

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 4

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

CM =

Gambar I.1.B.5
Gambar penampang melintang kapal
CM yang besar dijumpai pada kapal-kapal sungai dan untuk kapal dengan
keperluanmuatan yang besar.

Coeffisien Block of Waterline(WL )


Merupakan perbandingan antara volume kapal dengan hasil kali antara
panjang, lebar dan sarat kapal.Coeffisien block ini menunjukkan kegemukan kapal.
Rumusnya yaitu:
=

Volume Displacement ( )
Merupakan volume perpindahan fluida (air) sebagai akibat adanya badan kapal yang
tercelup dibawah permukaan air, yang dirumuskan sebagai:

= L x B x T x CB
L = Panjang karene
B = Lebar karene
T = Sarat kapal
CB = Block coefficient
Selain itu apabila terjadi penambahan berat pada kapal atau diberi muatan, maka
Volume Displacementnya berubah, yaitu dengan rumus:

s = C x
Dimana C adalah koefisien penambahan berat.
Nilai C diperoleh dari:
Perkiraan yang umum digunakan untuk volume lambungkapal adalah
0,6% volume displasmen.

Volume dari bagian lainnya yang tercelup di bawahpermukaan air


0,075% - 0,15% volume displasmen.
Nilai C berkisar antara 1,00675 1,00750

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 5

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar I.1.B.6
Gambar penampang membujur kapal
Berat Displacement ( )
Merupakan volume dari air yangdipindahkan oleh badan kapal. Dan istilah
seperti ini sama dengan bunyi hukum archimedes, yang rumusnya seperti dibawah
ini:
= L x B x T x CBx
L = Panjang karene
B = Lebar karene
T = Sarat kapal
CB = Block coefficient

= Berat jenis air

Selain itu apabila terjadi penambahan berat pada kapal atau diberi muatan, maka
Berat Displacementnya berubah, sehingga memeiliki rumus perhitungan yang
berbeda dengan sebelumnya, yaitu:

s = s x
= L x B x T x CBx

xC

Radius Bilga (R)


Merupakan jari-jari yang menunjukkan kelengkungan suatu pelat
menghubungkan pelat dasar dengan pelat sisi, yang dirumuskan sebagai:

yang

R = [(BxT)-Am]/(1-)
Rumus ini digunakan bilakapal memiliki dasar yang rata. Dan apabila kapal yang
didesain memiliki rise of floor, maka digunakan rumus :
R = B (2T - a) 2.BxTx
8 ( tg / 3600)

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 6

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar I.1.B.7
Gambar dasar rata

T-a
R

G
B
a

F
E
Gambar I.1.B.8
Gambar memiliki rise of floor

Luas Penampang Melintang Tengah Kapal / Midship ()


Merupakan suatu luasan yang terdapat pada bagian tengah kapal, yang dilihat
dengan pemotongan secara melintang dan penampang melintang memiliki lebar (B)
dan sarat (T). Oleh karena itu, untuk menghitung luasannya digunakan rumus di
bawah ini:

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 7

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Am = x T

Gambar I.1.B.9
Gambar Membujur

Gambar I.1.B.10
Gambar Melintang

Coeffisien Midship ( Cm / )
Merupakanperbandingan antara luas penampang gading besar yang terendam air
dengan luas suatu penampangyang memiliki lebar B dan tinggiT, yang dirumuskan
sebagai harga pendekatan terhadap koefisien block displacement, sebesar:
= Am / B x T

CMyang besar dijumpai pada kapalkapal sungai danuntuk kapal dengan


keperluanmuatan yang besar.

Gambar I.1.B.11
Gambar penampang melintang kapal
Coeffisien Prismatik Memanjang
CP adalah perbandingan antara volume badan kapal yangada di bawah
permukaan air (isi karene) dengan volumesebuah prisma dengan luas penampang
Am dan panjangL. Hal ini dapat dihitung dengan rumus :

CP = / Am x L
- Harga Cp umumnya
menunjukkankelangsingan bentuk
kapal.
- NilaiCp yang besar menunjukkan
adanyaperubahan yang kecil dari
bentuk penampangmelintang
disepanjang L.

Gambar I.1.B.12
Gambar penampang membujur kapal

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 8

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Coeffisien Prismatik Tegak/ Melintang
CVP adalah perbandingan antara volume badan kapal yangada di bawah permukaan
air (isi karene) dengan volumesebuah prisma dengan luas penampang AW dan
tinggiT. Kemudian untuk menghitung coeffisien ini, maka digunakan rumus :

CvP = / Aw x T

Gambar I.1.B.13
Gambar penampang membujur kapal
Coeffisien Prismatik of Perpendicular (Cp / PP )
P = PP /
Coeffisien Prismatik of Water Line (Cp / WL )
WL = WL /
Coeffisien Prismatik of Displacement (Cp / displ )
displ = displ /
Cara pembuatan Rencana Garis ini ada beberapa metode yang bisa
diterapkan, yaitu
Merancang sendiri berdasar pengalaman atau gambar rencana garis kapal yang
telah ada
Dengan metode Scheltema de Heere dari buku Buoyancy and Stability of Ship,
Ir. Scheltema de Heere and Drs. A.R. Baker, 1969,1970.
Dengan metode NSP berdasar hasil percobaan tangki tarik pada laboratorium di
Wageningen, Belanda
Dengan metode program Software dengan komputer
Dan dengan metode lainnya.
Pada
tugas
Rencana
Garis
saat
ini
menggunakan
metode
NSP(Nederlandsche Scheepsbouw Proefstasioen) yang berdasar hasil percobaan
tangki tarik pada laboratorium di Wageningen, Belanda. Dalam Perancangan Tugas
Rencana Garis ini, akan dijumpai beberapa istilah, yang pastinya istilah di dalam
dunia perkapalan. Berikut adalah gambar dari diagram NSP,

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 9

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Dan berikut adalah gambaran mengenai hasil akhir Tugas Rencana Garis yang akan
dikerjakan,

I.2. Curve of Sectional Area


CSA(Curve of Sectional Area) adalah kurva yang menunjukkan luasan dari
kapal tiap stationnya, baik yang di skala maupun yang tidak di skala. Kurva CSA ini
terdiri dari sumbu x dan sumbu y, dimana sumbu x adalah panjang kapal dan sumbu
y adalah Luasan kapal tiap stationnya.
Yang pertama di lakukan untuk membuat CSA adalah membuat CSA
displacement terlebih dahulu. Pada CSA displacement, sumbu x adalah Panjang
displacement kapal yang diperoleh dengan rumus L disp = (Lwl + Lpp) dan sumbu
y adalah Luasan kapal tiap stationnya yang diperoleh dari perhitungan pada diagram
NSP.

Gambar I.2.1
Penampang CSA

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 10

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Yang Kedua di lakukan adalah menyesuaikan CSA displacement menjadi
CSA Lwl dan CSA Lpp, berikut gambaran penyesuaian CSA tersebut(Cara
pembuatan akan di jelaskan pada bab selanjutnya). Selain CSA displacement, CSA
Lwl, dan CSA Lpp. Terdapat juga kurva A/2T dan kurva B/2. Seperti yang terlihat
pada namanya kurva A/2T didapatkan melalui perhitungan Luasan dibagi 2 dikali
Sarat Air. Untuk kurva B/2 didapatkan melalui perhitungan Lebar kapal dibagi 2(Cara
pembuatan akan dibahas pada bab selanjutnya)

Gambar I.2.2
Penampang A/2T dan B/2
I.3. Body Plan
Body Plan merupakan gambar potongan melintang kapal yang terdiri dari 2
bagian yaitu sebelah kanan adalah potongan melintang kapal dari haluan ke arah
midship (dari station 20 ke station 10) dan sebelah kiri adalah potongan melintang
kapal dari buritan ke arah midship (dari station 0 ke station 10). Berikut adalah
contoh penggambaran Body Plan di bawah Sarat Air (Atas), dan Body Plan yang
fix(Bawah)

Gambar I.3.1
Penampang Body Plan di bawah sarat

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 11

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar I.3.2
Penampang Body Plan keseluruhan
I.4. Halfbreadth Plan
Halfbreadth Plan merupakan potongan membujur kapal secara horizontal
yang dilihat dari atas kapal. Halfbreadth Plan bisa diperoleh dari proyeksi Body Plan
ke Luasan bidang Garis Air yang terdiri dari sumbu y adalah Lwl dan sumbu x adalah
B.. Berikut adalah gambar halfbreadth plan yang setengah jadi

Gambar I.4.1
Half Breadth Plan di bawah sarat
Berikut adalah gambar halfbreadth plan yang sudah selesai beserta sent line
dan sudah di proyeksikan dari body plan dan sheer plan,

Gambar I.4.2
Half Breadth Plan Keseluruhan

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 12

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

I.5. Sheer Plan


Sheer Plan merupakan potongan vertical kapal secara membujur dari Buttock
Line 3 (sisi kapal) hingga buttock line 1 (bagian midship kapal). Sheer Plan
merupakan hasil proyeksi dari Body Plan dan Halfbreadth plan. Pada sheer plan
terdapat beberapa bagian, yaitu Bulwark, Main deck, Forecastle Deck(Haluan), Poop
deck (Buritan), camber dan bagian lainnya. Berikut merupakan gambaran dari sheer
plan secara keseluruhan beserta body plan.

Gambar I.5.1
Sheer Plan

I.6. Geladak utama, geladak akil dan geladak kimbul

Geladak utama atau Main deck merupakan bagian kapal yang dihitung
dengan rumus sheer standar dengan notasi a, b ,c, x, y, dan z dari tinggi
kapal (H)

y
L

Rumus sheer standar :

x = 2,8 ( Lpp/3 + 10 )

a = 5,6 ( Lpp/3 + 10 )

y = 11,1 ( Lpp/3 + 10 )

b = 22,2 ( Lpp/3 + 10 )

z = 25,0 ( Lpp/3 + 10 )

c = 50,0 ( Lpp/3 + 10 )

Namun saat ini banyak perancang memakai geladak utama tanpa sheer yaitu mendatar,
dalam hal ini perlu diperhitungkan akibatnya terhadap syarat perhitungan lambung

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 13

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


timbul(freeboard) yaitu koreksi sheer dan tinggi haluan (bow-height). Pada geladak utama
juga terdapat lengkung melintangnya(camber) , jelasnya seperti gambar dibawah ini,

Gambar I.6.1
Penampang Chamber Kapal
Geladak Akil atau Forecastle deck merupakan bagian kapal yang letaknya +/- 2,4 ~ 2,5
meter sejajar dengan geladak utama. Geladak akil digambar mulai sekat tubrukan hingga ke
linggi haluan.

Gambar I.6.2
Penampang Haluan Kapal
Geladak Kimbul atau Poop deck merupakan bagian kapal yang hamper sama dengan
Geladak Akil, namun jika Geladak Akil ada di bagian haluan, jika Geladak Kimbul ada di
bagian buritan kapal. Jaraknya dari main deck sama yaitu +/- 2,4 ~ 2,5 meter dimulai dari
sekat kamar mesin hingga ke linggi buritan. Berikut gambaran tentang Poop deck.

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 14

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar I.6.3
Penampang Buritan Kapal
I.7. Bukaan Kulit
Bukaan Kulit adalahsebuah gambaran susunan plat kapal yang akan dipasang
sesuai dengan gambar Rencana Garis yang telah dibuat.
Adapun Susunan Pelat kulit kapal adalah

Pelat Lunas (Keel Plate)

Pelat Dasar (Bottom Plate / Garboard Strake)

Pelat Bilga(Bilge Strake)

Pelat Sisi(Side Plate)

Pelat Lajur sisi atas (Sheer Strake)


Berikut adalah gambaran plat pada kulit kapal

Gambar I.7.1
Penampang Konstruksi Kapal
Pembagian Pelat Kulit terdapat 3 bagian utama yaitu,

Bagian Tengah Kapal yang umumnya parallel middle body bentuk pelat banyak yang
datar sehingga tidak terlalu rumit bentuknya

Bagian haluan kapal mempunyai lengkungan pelat yang lebih banyak terlebih bila
memakai bulbous bow

Bagian buritan kapal lengkungan plat sangat kompleks. Karena terdapatr sterntube,
lobang tongkat kemudi, seachest, overboard)

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 15

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

BAB II. DETAIL LANGKAH DAN PERHITUNGAN


II.1. Penentuan ukuran dan dimensi lainnya
Untuk membuat Lines Plan, yang pertama kali harus dilakukan adalah mencari Kapal
Pembanding yang nantinya diambil data kapalnya dan data kapal tersebut nantinya akan
digunakan sebagai pedoman data kapal atau ukuran kapal baru yang akan dirancang. Data
Kapal Pembanding bisa didapatkan di Biro Klasifikasi tiap-tiap Negara seperti BKI, GL, NK,
BV, dan banyak lagi yang lainnya. Kemudian pilih data Kapal Pembanding yang sesuai
dengan ukuran yang diinginkan. Pada Tugas Lines Plan ini digunakan data kapal
pembanding sebagai berikut:
Data Kapal Pembanding
Register : NK Tahun 1994 Running No. 9108570
Tipe kapal

:Oil Carrier

Nama kapal

:ASEI MARU NO.2

Tahun pembangunan :1994


GT :

746

ton

Merek, tipe M/E: 1D : 4SA 6 CY

DWT:

1969

ton

Daya motor

: 735 kW

Lpp :

69

RPM

: 230

11,8

Kecepatan dinas (Vs)

5,25

Kecepatan percobaan (Vt):

4,707

knot
11,1

Setelah mendapatkan data kapal pembanding yang sesuai dengan ukuran yang
diinginkan, data kapal tersebut ditunjukkan kepada Dosen Pembimbing. Jika
disetujui maka Dosen Pembimbing akan menentukan dan memberikan data kapal
baru yang akan dirancang pada Tugas Lines Plan ini. Sesuai dengan persetujuan
Dosen Pembimbing, didapatkan Data Kapal baru yang akan dirancang sebagai
berikut:
Data Kapal Yang Dirancang:
Tipe kapal

Oil Carrier

Panjang (Lpp)

69

Lebar (B)

11,8

Tinggi geladak (H)

5,25

Sarat air (T)

4,7

Kecepatan dinas (Vs)

11

knot

Setelah mendapatkan Data Kapal yang akan dirancang, selanjutnya adalah


menentukan beberapa dimensi atau ukuran yang sangat diperlukan dalam proses
perhitungan kedepannya.

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 16

knot

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

1. Lwl, untuk mendapatkan Lwl menggunakan rumus,


Lwl
= Lpp+5%Lpp
= 69 m + (5% x 69 m)
= 69 m + 3,45 m
= 72,45 meter
2. L displacement, untuk mendapatkan L displacement menggunakan rumus,
L displacement
= (Lwl+Lpp)/2
= (72,45 m + 69 m)/2
= 70,725 meter
= 231.880 feet
3. Vs/Ldisplacement, hasil perhitungan rumus ini digunakan sebagai pedoman
awal untuk mendapatkan beberapa dimensi pada kapal yang dirancang melalui
Diagram NSP (sesuai kesepakatan Koordinator pada saat kuliah)
Vs/Ldisplacement = 11 knot : 231.880 feet
= 0,72
4. Setelah mendapatkan Vs/Ldisplacement, pada NSP kita tarik garis lurus
horizontal dari nominal angka Vs/Ldisplacement,

Sehingga akan didapat beberapa dimensi seperti berikut,


1. Coeffisien Midship of Displacement ( disp ) = 0.9832
2. Coeffisien Block of Displacement ( disp )
= 0.6964
3. Coeffisien Prismatik of Displacement ( disp ) = 0.7075

Kemudian setelah mengetahui garis mendatar yang diambil dari nilai speed length
ratio, maka dilakukanlah pengambilan prosentase luas tiap station pada diagram NSP,
dengan cara mencari titik potong antara garis station pada NSP dan garis mendatar

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 17

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


tersebut, selanjutnya tarik garis lurus ke atas dari perpotongan tersebut, kemudian
prosentase yang didapat dikalikan dengan luas midship (Am) sehingga luasan hasil
perkalian tersebut diimplementasikan dalam gambar CSA. Selain itu kita juga dapat
menentukan letak LCB dengan cara menentukan titik perpotongan antara garis
mendatar Vs/Ldisp dengan letak titik tekan b, kemudian tarik garis vertikal ke bawah
dan dapat diketahui nilai letak titik tekan dalam %Ldisp. Setelah semua data yang
diperlukan telah diketahui maka dilakukan perhitungan seperti tabel di bawah ini
kemudian dilakukan perhitungan koreksi terhadap data yang ada.
No.
Statio
n

0
1
2
3
4

0
10,3697662
29,5649533
50,4752904
69,8801055

0,0000
5,6544
16,1212
27,5233
38,1044

1
4
2
4
2

0
22,617787
32,242474
110,09307
76,208727

-10
-9
-8
-7
-6

0
-203,56
-257,94
-770,651
-457,252

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

84,514762
92,9240642
97,7702136
99,9238786
100
100
100
100
99,5201781
97,0003721
91,1741869
79,0933666
60,6120301
37,3847177
14,177928
0

46,0844
50,6698
53,3123
54,4867
54,5282
54,5282
54,5282
54,5282
54,2666
52,8926
49,7156
43,1282
33,0506
20,3852
7,7310
0,0000

4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
1
1=

184,33751
101,33964
213,24935
108,97338
218,1128
109,0564
218,1128
109,0564
217,06625
105,78511
198,86257
86,256378
132,2026
40,770427
30,923876
0
2315,2676

-5
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

-921,688
-405,359
-639,748
-217,947
-218,113
0
218,1128
218,1128
651,1987
423,1405
994,3129
517,5383
925,4182
326,1634
278,3149
0
460,0549

% Am

FS

A*FS

A*FS*N

2=

Setelah data CSA displasement diperoleh maka harus dilakukan koreksi agar sesuai
ketelitian dalam mengerjakannya dapat dipantau dengan mudah dan agar hasil yang
diharapkan sesuai dengan perhitungan yang akurat. Sebelum menentukan volume
displasmen dan letak titik tekan ( Lcb) kita tentukan dulu jarak tiap stationdalam CSA, yaitu :
h

= Ldispl / 20
= 3,536 meter

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 18

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


1.

Menentukan Volume Displacement (Vdispl)


Vdispl rumus = Cb. B. Ldispl. T
= 0,696 x 11,8 x 70,725 x 4,7
= 2731,565 m3
Vdispl simpson
= 1/3 A*FS h
= 2729,121 m3
Koreksi Volume Displacement
Vdispl

= [ Vdispl rumus - Vdispl simson ] / Vdispl rumus * 100%


= [ 2731,565 2729,121 ] / 2731,565 x 100%
= 0,09 %

< 0,5 % (Memenuhi)

2. Menentukan nilai Lcb


Lcb rumus
= Lcb NSP x Ldisp

= 1,046% x 72,725
= 0,74 meter

Lcb simpson = ( 1 / 2) x h
= (2315,2676/460,0549) x 3,536
= 0,70267 meter
Koreksi Lcb
Lcb

= ( Lcb rumus - Lcb simsn ) / Ldispl *100%


= (0,74 - 0,70267) / 72,725 x100%
= 0.052 %

< 0,1 % (Memenuhi)

II.2.2. Penggambaran CSA (menggunakan Ldispl)


Setelah mengetahui data-data yang telah dilakukan perhitungan seperti
diatas, maka perhitungan tersebut diimplementasikan dalam bentuk gambar yang
disebut CSA. CSA (Curve of Sectional Area) adalah gambar kurva luasan tiap
station. CSA ini dibuat dengan menggunakan skala 1 cm = 2 m2 agar didapat hasil
penggambaran yang proporsional dalam Auto Cad, yaitu seimbang antar panjang
Ldisp dengan tinggi luasan tiap station pada CSA. Adapun langkah-langkah
pembuatan CSA adalah sebagai berikut:
1. Buat garis horizontal sepanjang Length of Displacement (Ldisp) dengan
skala pada bidang koordinat X dan Y Membagi panjang Ldisp menjadi 20
bagian.
2. Pada ordinat dari hasil pembagian Ldisp menjadi 20 buat garis sepanjang
data yang ada pada tabel diatas, untuk masing-masing station sesuai nilai
X dan Y pada tabel. Bagian yang kita tarik garis kearah vertikal
menggunakan skala 1 cm = 2 m2 yang merepresentasikan luasan dari
setiap stationnya.
3. Menghubungkan ordinat ordinat yang didapat mulai dari AP sampai FP
sehingga membentuk sebuah kurva yang disebut dengan Curve of
Sectional Area Displacement (CSAdisp).Dimana hasil penghubungan garis
tersebut menghasilkan garis yang streamline. Kemudian untuk tabel dan
penggambaran tersebut masih menggunakan Length of Dispalcement
(Ldisp) dimana hanya ada 20 station. Dimana lebih jelasnya dapat dilihat
dalam gambar II.2.2.1, yang penggambarannya berdasarkan luas tiap
station hasil pembacaan diagram NSP.

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 19

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar II.2.2.1
Gambar CSA sesuai perhitungan sebelumnya
II.2.3. Penggambaran CSA (menggunakan Lpp) Pada Auto Cad
Penggambaran CSA diatas masih menggunakan Length of Dispalcement,
maka untuk pembuatan CSA dengan menggunakan panjang Lpp maka dilakukan
proyeksi dari Ldispl kedalam Lpp dan Lwl, yaitu dengan cara :
1. Menentukan titik tengah Ldispyaitu dengan membagi Ldisp menjadi 2 bagian
yang sama panjang (station 10).
2. Dari titik tersebut (station 10 dari Ldisp), dibuat garis dengan ukuran Lwl
kekiri dan kekanan pada arah horizontal.
3. Grafik CSAdisp diubah untuk panjangnya menggunakan panjang Lwl dan
untuk luasan tiap stationnya tetap.
4. Bagian ujung kanan dari garis Lwl merupakan Fore Perpendicular (FP) dari
kapal, sehingga pada bagian ini dipakai sebagai acuan dalam pembuatan
garis Lpp, yaitu dengan cara melalui titik acuan FP, kemudian tarik garis
lurus mengarah ke arah kiri dengan panjang sesuai panjang Lpp kapal
yang diketahui, sehingga ditemukannya titik AP (After Perpendicular).
Namun dari titik AP ke kiri yaitu penambahan garis sepanjang 5 % Lpp
yang dibagi menjadi 2 station yaitu station -1 dan -2.Penambahan inilah
yangdisebut sebagai Cant Part, sedangkan station AP sampai station FP
adalah Main Part.Jadi Main Part yang ditambah dengan Cant Part adalah
Length of Water Line (Lwl ).

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 20

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


5. Garis Lpp yang telah dibuat dibagi menjadi 20 bagian / station dan pada
station 0 merupakan After Perpendicular (AP) dan pada station 10
merupakan midship kapal yang sesungguhnya.
6. Dengan menggunakan axis Lpp maka diperoleh CSA Perpendicular atau
CSA.
Karena terjadi penambahan, maka CSA Perpendicular atau CSA perlu
dilakukan koreksi terhadap volume dan letak LCB nya. Untuk lebih jelasnya, dapat
dilihat dalam Sketsa cara awal untuk pembentukan seperti cara-cara diatas, yaitu
:
1.

Dari tengah CSA displasemen kita tarik garis 1/2 Lwl kekiri dan kekanan

2.

Ujung garis Lwl pada sebelah kanan kita tarik garis lagi sepanjang Lpp kearah
kiri

3.
4.

Lpp tersebut kita bagi 20 bagian


Sisa dari Lwl adalah can part yang kita bagi menjadi 2 bagian yaitu
penambahan 5% Lpp.
Setelah itu perlebar CSA displacement ke ujung garis Lwl sehingga ada
luasan pada tiap station.

Gambar II.2.3.1
Gambar tentang CSA Lpp dan Lwl sesuai perhitungan
Penggambaran CSA diatas menggunakan perhitungan sehingga terbentuk
streamline. Dan untuk nilai luasan yang dihasilkan, dapat dilihat seperti tabel II.2
dibawah ini :

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 21

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Tabel CSA dariCSA Ldisp ke Lwl dan Lpp
No.
Station

Am (Gambar)

Am

FS

Am*FS

Am*FS*N

-2

0,3

-10,6

1,2
1,3

2,21952
5,26448

-10,3
-10

0
22,861056
-52,6448

4
2
4

49,1544
47,66
137,5144

-9
-8
-7

-442,3896
-381,28
-962,6008

-1

1,8496

0,9248
2,0248

1
2
3

6,1443
11,915
17,1893

21,7001

23,83
34,3786
43,4002

86,8004

-6

-520,8024

24,5315

49,063

196,252

-5

-981,26

6
7
8

26,1317
26,891
27,1588

2
4
2

104,5268
215,128
108,6352

-4
-3
-2

-418,1072
-645,384
-217,2704

27,175

52,2634
53,782
54,3176
54,35

217,4

-1

-217,4

10

27,175

54,35

108,7

11
12
13
14
15

27,175
27,1178
26,7607
25,8339
23,8255

4
2
4
2
4

217,4
108,4712
214,0856
103,3356
190,604

1
2
3
4
5

217,4
216,9424
642,2568
413,3424
953,02

16

19,9426

54,35
54,2356
53,5214
51,6678
47,651
39,8852

79,7704

478,6224

17

14,6233

29,2466

116,9864

818,9048

8,0088
2,8279
0

16,0176
5,6558
0

2
4
1

32,0352
22,6232
0

8
9
10

18
19
20

4,0496
12,2886

1= 2364,5668

256,2816
203,6088
0
2= 661,62106

Setelah data CSA Ldisp ke Lwl dan Lpp diperoleh maka harus dilakukan koreksi agar
sesuai ketelitian dalam mengerjakannya dapat dipantau dengan mudah dan agar hasil yang
diharapkan sesuai dengan perhitungan yang akurat. Sebelum menentukan volume lwl dan
lcb serta koreksinya maka terlebih dahulu menentukan beberapa hal perhitungan seperti
dibawah ini :

Menentukan lwl (Cblwl)yaitu dengan cara sebagai berikut:


= displ x ( Ldispl / Lwl )
lwl
= 0,696 x ( 70,725 / 72,45 )
= 0,68

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 22

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Menentukan h dari panjang Lpp:
h = Lpp / 20
= 69 / 20
=3,45 meter
Menentukan Volume Lwl :
Vlwl dengan rumus
=Lwl x B x T x lwl
=72,45 x 11,8 x 4,7 x 0,68
= 2731,56
m3
=1/3 x A*FS x h
Vlwl dengan simpson
= 1/3 x 2364,56 x 3,45
= 2719,25 m3
Koreksi Vlwl
Koreksi
= [ Vsimp - Vlwl ] / Vlwl x 100%
= (2731,56 - 2719,25) / 2731,56 x 100%
= 0,45 %
< 0,5 % (Memenuhi)
Menentukan letak Lcb di setiap masing-masing jenis L, yaitu:
Lcb terhadap displ
= 0,70267 meter
Lcb terhadap Lpp
=((A*FS)*FM/A*FS ) x h
= (-661,621056/ 2364,5668) x 3,45
= -0,97meter
Artinya nilai (-) tersebut menunjukkan bahwa letak Lcb terletak dibelakang
midship sepanjang perhitungan diatas

Menentukan Vdisp Lpp


Vdisp Lpp = 1/3 h x 1
= 1/3 h x 2364,5668
= 2719,252 m3
Penentuan LCB Lpp
LCB Lpp = h Lpp x 2 / 1
= 3,45 x 661,62106/2364,5668
= -0,965
Tanda minus berarti LCB Lpp terletak di belakang midship
Perpindahan midship
(midship CSA-Ldispl menjadi midship CSA-Lpp) = 1.725
koreksi LCB

= LCB simson disp 1 - perpindahan midship


= -1,022329923

Selisih LCB

= (LCB Lpp-LCB Koreksi)/Lpp


= (-0,965 +1,022329923)/69
= 0,08%< 0.1% (memenuhi)

II.3. Pembuatan A/2T dan B/2 dalam CSA


A/2T adalah perbandingan antara luasan tiap station dengan dua kali tinggi sarat
kapal, untuk mencari nilainya kita bagi luasan tiap station dengan nilai 2T. Fungsi A/2T ini
nantinya untuk pedoman dalam membuat bodyplan yaitu dalam tahap selanjutnya. A/2T ini
setelah dihitung disetiap stationnya dan ditemukan titiknya, maka titik tersebut dihubungkan

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 23

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


hingga membentuk garis setengah oval yang streamline. Apabila perhitungan A/2T untuk
setiap sationnya dapat dilihat di tabel

No.
Station

Am (Gambar)

Am

-2
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

0
0,9248
2,0248
6,1443
11,915
17,1893
21,7001
24,5315
26,1317
26,891
27,1588
27,175
27,175
27,175
27,1178
26,7607
25,8339
23,8255
19,9426
14,6233
8,0088
2,8279
0

0
1,8496
4,0496
12,2886
23,83
34,3786
43,4002
49,063
52,2634
53,782
54,3176
54,35
54,35
54,35
54,2356
53,5214
51,6678
47,651
39,8852
29,2466
16,0176
5,6558
0

A/2T

0,0000
0,1968
0,4308
1,3073
2,5351
3,6573
4,6170
5,2195
5,5599
5,7215
5,7785
5,7819
5,7819
5,7819
5,7697
5,6938
5,4966
5,0693
4,2431
3,1113
1,7040
0,6017
0,0000

Kemudian setelah dilakukan perhitungan disetiap stationnya, maka langkah


selanjutnya meimplementasikannya dalam bentuk gambar.Dan hal tersebut
ditunjukkan dalam gambar II. 3.1.

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 24

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar II.3.1
Gambar penampang CSALpp dan Lwl dengan gambar A/2T
Kemudian setelah selesai menggambr A/2T, maka penggambaran dilanjutkan dengan
B/2. B/2 adalah lebar keseluruhan suatu kapal dibagi dua. Untuk mengambarkan B/2, maka
langkah pertama yang harus ditempuh adalah kita harus menentukan sudut masuk garis air
(pada grafik dengan cara menentukan pada sumbu x kemudian ditarik garis lurus ke atas
sampai memotong garis kontinu pada grafik dan dari titik temu itu kita tarik garis horisontal
maka akan mendapatkan nilai sudut masuk garis air), kemudian menentukan nilai B/2 yang
mempunyai persen luas 100% kemudian kita tambahkan untuk 1 atau 2 station ke depan
dan ke belakang inilah yang dinamakan dengan Paralel Middle Body. Kemudian dari Paralel
Middle Body kita desain sendiri garis melengkung yang stream line yang berakhir pada
station 2 untuk buritan dan untuk haluan berakhir pada station 20 dan sudut masuk kita
tambahkan kira-kira 1 cm dari FP. Secara sistematis perhitungannya dapat dilihat seperti
dibawah ini :
Dalam menentukan luas bidang garis air,
maka terlebih dahulu harus menentukan nilai a, yaitu:

= 0,248 + 0,778 x Cblwl


= 0,248 + 0,778 x 0,70263
= 0,7946

Jadi setelah menemukan nilai a, maka menemukan nilai luas bidang garis air (Awl) dapat
dicari :
Awl
=
Lwl x B x a
=
72.45 x 11.8 x 0.776899219
=
664,18
m2
Kemudian menentukan nilai 1/2 Awl yaitu:
1/2 Awl

=
=

1/2 x 664.18
332,0894557 m2

Sebelum menentukan sudut masuk, dicari terlebih dahulu :


lpp
= dis x Ldisp / Lpp
= 0,7075 x 70.725/ 69

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 25

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


=

0,6907

Setelah mendapat nilai-nilai diatas, maka angle of entrance dapat di cari

= lpp + (1.4 - lpp) x e


= 0,6907 + (1,4 0,6907) x0,99%

= 0,6977
Sehingga kerena Cb kapal rancangannya dapat dinamakan kecil, maka digunakan tinjauan
garis V, dan ditemukan sudut masuknya adalah 18 derajat
Untuk yang bagian AP, dalam mendesain kita harus benar-benar memperhatikan luas
Engine Room yaitu kira-kira dari station 2 sampai 4. terakhir kali setelah gambar B/2
terbentuk maka kita akan memperoleh nilai B/2 tiap station dengan cara mengukur panjang
garis vertikal dan dikalikan dengan skalanya. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada
Tabel berikut ini :
No.
Station

A
skala

Tinggi
Koordinat

-2
-1
AP
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
FP

0
3,025
4,145
6,524
8,149
9,674
10,717
11,216
11,604
11,680
11,800
11,800
11,800
11,800
11,800
11,580
11,454
10,837
9,423
7,500
5,096
2,612
0,000

0
1,5123
2,0727
3,2619
4,0745
4,8372
5,3585
5,6079
5,8021
5,8400
5,9000
5,9000
5,9000
5,9000
5,9000
5,7900
5,7270
5,4186
4,7117
3,7499
2,5482
1,3060
0,0000

FS

Tinggi Koor. X
FS

0,5
2
1,5
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
1
Hkord*FS

0
3,02
3,11
13,05
8,15
19,35
10,72
22,43
11,60
23,36
11,80
23,60
11,80
23,60
11,80
23,16
11,45
21,67
9,42
15,00
5,10
5,22
0
288,42

Menentukan nilai lebar pada paralel middle body, yaitu:

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 26

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


B/2

= 19 meter / 2
= 9,5 meter

Setelah mendapatkan data seperti di atas maka langkah selanjutnya adalah


melakukan koreksi antara data hasil perhitungan dengan data yang didapat dari hasil
penggambaran garis air yang datanya terdapat pada tabel. Adapun koreksinya antara AWL
hitungan dengan AWL dari tabel hasil penggambaran garis air adalah sebagai berikut :
Menentukan Awl simpson dan Koreksi
Awl Simpson
Koreksi

= 1/3 x Tinggi koor x Fs x h


= 1/3 x 478,52x 5,85
= 331,69
m2
= (Awl simpson - Awl rumus ) / Awl rumus x 100%
= (331,69 - 664,18)/ 664,18x 100%
= 0,121 %
< 0,5 % (Memenuhi)

Setelah mengetahui perhitungan yang dilakukan seperti diatas, maka dilakukan


penggambaran B/2 dengan hasil penggambaran seperti dibawah ini:

Gambar II.3.2
Gambar penampang CSALpp danLwl dengan gambar A/2T dan B/2
II.4. Pembuatan Bentuk Linggi Haluan dan Buritan
Bentuk Linggi Buritan (Stern)
Bentuk linggi buritan tergantung dari diameter propoller yang dapat diambil =
0,6T 0,7T, sedangkan diameter boss = 1/6 diameter propeller. Bentuk linggi
buritan tergantung konstruksinya, untuk single atau twin-screw, dengan atau
tanpa sepatu linggi, bentuk sendok (cruiser) atau terpotong (transom), dan
sebagainya.Apabila cara diatas diimplementasikan dalam bentuk skema gambar,
maka dapa dilihat seperti gambar dibawah ini :

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 27

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar II.4.1
Gambar ukuran bagian linggi buritan kapal
Secara sistematis perhitungannya maka dapat dilihat seperti perhitungan
dibawah ini :
1. Menentukan tinggi D:
D

= 0,69 x T
= 0,69 x 6,915
= 4,7714 meter
2. Menentukan tinggi a:
a

= 0,33 x T
= 0,33 x 6,915
= 2,2820 meter
3. Menentukan tinggi e:
e

= 0,12 x T
= 0,12 x 6,915
= 0,8298 meter
4. Menentukan tinggi b:
b

= 0,35 x T
= 0,35 x 6,915
= 2,4203 meter
Dengan dasar perhitungan seperti diatas maka akan didapat penggambaran seperti
gambar II.4.2 dibawah ini:

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 28

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar II.4.2
Gambar linggi buritan setelah dilakukan perhitungan
Bentuk Linggi Haluan (Stem)
Sebelummembuatgambar selanjutnya maka perlu dilakukan perencanaan
terlebih dahulu tentang bentuk dari haluan kapal yang akan kita buat. Untuk tinggi
haluan membentuk sudut kemiringan 15o terhadap sumbu vertikal. Bentuk dari
linggi haluan (stem) harus disesuaikan dengan bow line. Dewasa ini linggi haluan
dibuat dari pelat yang bentuknya makin ke atas makin membesar jari-jarinya. Pada
tugas rencana garis dan bukaan kulit kali ini tidak menggunakan bulbous bow karena
linggi haluan dengan bulbous bow digambar dengan teknik tertentu.Secara hasil
penggambaran dan perhitungan, maka dapat dilihat seperti gambar II.4.3 dibawah
ini:

Gambar II.4.3
Gambar haluan dengan dilakukan
perhitungan

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 29

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar II.4.4
Gambar haluan setelah perhitungan
II.5 Pembuatan Body Plan
Sebelum membuat desain Body Plan, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa body
plan adalah proyeksi stationstation pada kapal dari pandangan depan. Penjelasan
ini dapat diimplementasikan dalam bentuk gambar, yang penggambarannya seperti
gambar II.4.4 dibawah ini :

Gambar II.5.1
Membuat Body Plan
Body Plan merupakan proyeksi bentuk potongan potongan badan kapal
secara melintang pada setiap station dilihat dari depan atau belakang. Potongan
potongan badan kapal ini dibentuk berdasarkan data-data yang didapat berdasarkan
data-data Grafik A/2T dan B/2 dengan cara sebagai berikut:
Membuat kotak sepanjang lebar kapal dan selebar tinggi kapal
Membagi kotak menjadi dua bagian yang sama. Dimana dibagian tengah
pemotongan kotak ini menjadi titik acuan body plan, yaitu Center Line.
Mengukur dan memberikan pembatas terhadap station yang akan dibuat didalam
body plan dengan data yang digunakan setiap stationnya berdasarkan data dari
tabel II.3.1 dan II.4.2. Untuk station 0-10 diukurkan pada kotak sebelah kiri dan
pada kotak sebelah kanan untuk station 11-20.Untuk titik titik A/2Tdibuat garis
vertical ke bawah setinggi T dan untuk titik titik B/2 dibuat lengkungan
lengkungan Body Plan yang streamline.

Kemudian setelah menggambar beberapa station, maka untuk station yang


paralel middle body, penggambarannya sama dengan jari-jari bilga. Jari-jari bilga
merupakan kelengkungan sebelah kanan dan kiri bawah kotak. Jari-jari bilga ini

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 30

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


juga merupakan kelengkungan Body Plan pada station -station yang memiliki
nilai B/2 maksimum, Jari jari ini didapat dari rumus:

Menentukan Radius Bilga Kapal

R = 1/2.{(B x T) Am}/(1-1/4)
R = [1/2 {( 11.8 x 4.7)- 54.5282}/(1-1/4)]
= 2.1669
= 1,472meter
Menentukan Nilai Setengah Lebar Kapal
Nilai 1/2 lebar kapal = B / 2
= 5,9 meter
Gambar proyeksi station kedalam body plan

Adapun pada penggambaran body plan perlu diperhatikan tentang kesamaam


luas pada bidang yang dibentuk, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar II.5.1 dibawah ini:

Gambar II.5.2
Gambar tentang cara pembuatan station pada body plan
Luasan AOB harus sama dengan luasan COE atau memiliki batas toleransi
sebesar 0,5%. Petunjuk kali ini membahas tentang pemeriksaan luasan area
pada Body Plan. Ada beberapa cara untuk mengetahui dan mengubah luasan
pada Body Plan, salah satunya adalah sebagai berikut:
1. Setelah dibuat garis A/2T dan B/2 langkah selanjutnya yaitu menarik garis lengkung
Poly Line (sembarang).
2. Lalu pada perpotongannya dengan garis A/2T antara area atas dan bawah dipisah
dengan garis Poly Line yang masing masing areanya tertutup.
3. Untuk mengetahui luasan area pada masing masing Poly Line, caranya dengan
meng-klik salah satu Poly Line, kemudian setelah ter-select salah satu Poly Lineklik

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 31

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


kanan pada mouseProperties , maka pada layout AutoCad akan muncul chart
properties.
4. Untuk langkah selanjutnya hanya perlu menggeser pointer pointer pada Poly Line
hingga kedua area luasannya sama. (Dengan syarat tetap streamline).
5. Setelah menyelesaikan hal itu, maka selanjutnya dibuat buttuck line. Secara
sistematis perhitungannya seperti dibawah ini:
Menentukan Jarak Setiap BL :
Jarak BL
= (1/2 x B )/ 4
= (1/2 x 11,8)/ 4
= 1,475 meter
Setelah melakukan beberapa perhitungan seperti tutorial yang diatas, maka akan
didapat penggambaran body plan seperti gambar II.5.2 dibawah ini:

Gambar II.5.3
Gambar body plan setelah dilakukan perhitungan seperti penjelasan diatas
II.6 Pembuatan Halfbreadth Plan
Half breadth plan ini merupakan gambar irisan-irisan kapal jika dilihat dari
atas, pada setiap garis air (water line) dan penglihatan ini dianggap tampak kapal
dengan lebar kapal sesungguhnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar II.6.1
dibawah ini:

Gambar II.6.1
Gambar proyeksi tampak kapal ke dalam half breadth plan

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 32

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

II.6.1 Half Breadth Plan


Untuk membuat half breadth plan, pada kotak Body Plan dibuat garis
horizontal yang disebut sebagai garis water line (WL). Garis garis ini memiliki
ketinggian tertentu yang diukur mulai dari garis dasar pada Body Plan . Pada kapal
ini terdapat 9 buah water line yaitu : 0 m WL; 0.5 m WL; 1 m WL; 2 m WL; 3m WL;4
m WL; 5 m WL; 6.9 m WL; dan 8.8m WL.
Selanjutnya diukur jarak tiap kurva masing masing station dengan center
line untuk tiap water linenya.Kemudian dari ukuran-ukuran tersebut dibuat grafik atau
kurva yang stream line untuk masing masing WL. Apabila kurva yang dibuat tidak
stream line maka dilakukan perubahan pada Body Plan. Kurva kuva ini
menggambarkan bentuk separuh kapal yang dilihat dari atas.Pada WL sarat grafik
atau kurva nya akan sama dengan grafikB/2.
Membuat Sent Line
Membuat Sent Line dengan cara menarik garis diagonal pada kedua
sisi Body Plan dimulai dari center line kesisi bawah center line dan diukur
jarak tiap kurva section dengan titk awal garis diagonal tadi. Secara
jelasnya dapat dilihat seperti gambar II.6.1.1 dibawah ini

Gambar II.6.1.1
Gambar tentang cara proyeksi station pada body plan ke dalam garis sent line
Setelah data Sent Line didapat kemudian digambarkan dengan cara
mengambar garis lurus sepanjang LWLyang dibagi perstationnya dan
selanjutnya titik-titik itu digambarkan pada tiap station dengan posisi
dibawah garis LWL. Penggambaran garis ini harus secara stream line.
Untuk jelasnya dapat dilihat seperti gambar II.6.1.2 dibawah ini :

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 33

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar II.6.1.4
Gambar merupakancara penggambaran half breadth plan dari hasil proyeksi
Pembuatan Half Breadth Plan Secara Keseluruhan
Kemudian setelah menggambar sent line, maka akan dilanjutkan
dengan penggambaran WL pada half breadth plan, yaitu hasil proyeksi
dari perpotongan tiap station dengan garis WL di body plan baik body plan
bagian belakang kapal, maupun depan kapal. Setelah mengetahuinya,
maka juga dilakukan penggambaran garis buttock line pada half breadth,
yaitu dibagi menjadi 4 garis horizontal yang jaraknya sama. Dimana cara
proyeksinya dapat dilihat lebih jelas pada gambar II.6.1.3 dan II.6.1.4
seperti dibawah ini:

Gambar II.6.1.3
Penggambaran cara proyeksi ini untuk setengah lebar kapal, yang terdapat 10
station bagian buritan dari midship.

Gambar II.6.1.4
Gambar merupakancara penggambaran half breadth plan dari hasil proyeksi

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 34

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Setelah melakukan proyeksi seperti cara diatas hingga perpotongan WL maximum
dengan station 20 dan juga memperhatikan stream line gambar, maka akan diperoleh hasil
pernggambaran seperti gambar II.6.1.5 dibawah ini:

Gambar II.6.1.5
Gambar half breadth plan secara keseluruhan setelah dilakukan proyeksi dari body plan
II.7. Pembuatan Sheer Plan
Sheer plan adalah proyeksi irisan-irisan atau potongan-potongan kapal
secara vertical memanjang dilihat dari sisi samping kapal. Maka untuk
penggambaran sheer plan ini, diperlukan beberapa tahap penyelesaian gambar,
yaitu seperti dibawah ini:

Penggambaran Buttock Line


Buttock line adalah garis yang menyatakan bentuk irisan kapal jika dibuat
dari samping. Pembuatannya adalah berdasarkan data pada half breadth
plan dan proyeksi dari body plan, yang nantinya titik-titik potong tersebut
disambungkan sehingga menjadi sebuah garis yang disebut buttock line.
Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar II.7.1 di bawah ini:

Gambar II.7.1
Gambar proyeksi half breadth plan
Secara detail penggambaran ini dapat dilakukan dengan cara yaitu
pertama kita bagi lebar kapal menjadi 4 bagian yang sama baik pada body
plan maupun pada half breadth plan. Lalu dari perpotongan antara garis-garis
lurus itu dengan garis-garis air (water lines), kita proyeksikan ke sheer plan,
dengan cara menarik garis lurus ke atas. Garis-garis vertikal ini jika
dipotongkan dengan garis-garis air (water lines) pada sheer plan yang sesuai
pada half bread plan. Selanjutnya juga dilakukan proyeksi dari body plan ke
sheer plan, yaitu perpotongan antara garis BL dengan station pada body plan
diproyeksikan ke sheer plan, tepatnya di station pada sheer plan yang sesuai
dengan station pada body plan yang berpotongan tersebut, maka akan
terbentuk titik-titik yang jika dihubungkan akan terbentuk buttock line. Dan
juga diperhatikan bahwa tiap-tiap garis baik pada water line maupun pada
buttock line harus mempunyai bentuk yang fair dan stream line. Jika tidak,

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 35

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


maka harus dirubah supaya bisa fair dan stream line. Tentu saja perubahan
ini akan berpengaruh pada bagian-bagian sebelumnya, misalnya merubah
bodyplan.Untuk lebih jelasnya, maka dapat dilihat seperti gambar II.7.2
dibawah ini:

Gambar II.7.2
Gambar tentang cara pengambaran buttock line dari proyeksi half breadth plan

Gambar II.7.3
Gambar buttock line keseluruhan setelah dilakukan proyeksi body plan dan half breadth plan

II. 8. Pembuatan Geladak utama,Geladak akil dan Geladak kimbul


Membuat Sheer Standart
Untuk membuat sheer standart maka LPP dibagi menjadi 6 bagian.
Dimana secara sistematis perhitungannya, dapat dilihat dibawah ini:
Pembagian tinggi geladak = Lpp/6
= 69/6
= 11,5 meter

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 36

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Pembagian tersebut meliputi 3 bagian di depan Midship dan 3 di belakang
midship. Masing-masing digaris dan dibuat sesuai dengan ukuran
peraturan sheer standart , untuk skema caranya seperti gambar II.8.1
dibawah ini:

Lpp/6
L

Pa
nja
ng
Lpp

Lp
p/

L
p
LppE

Gambar II.8.1
Gambar tentang cara penambahan sheer pada kapal
Maka setelah mengetahui cara seperti diatas, maka dilakukan perhitungan
seperti dibawah ini:
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Di depan Midship
Menentukan nilai tinggi x pada main deck
X
= 2,8 ( Lpp/3 +10)
= 2,8 ( 69/3 + 10)
= 92,4 mm
Menentukan nilai tinggi y pada main deck
Y
= 11,1 ( Lpp/3+10 )
= 11,1 ( 69/3 + 10 )
= 366,3 mm
Menentukan nilai tinggi z pada main deck
Z
= 25,0 ( Lpp/3+10 )
= 25,0 ( 69/3 + 10 )
= 825 mm
Di belakang Midship
Menentukan nilai tinggi a pada main deck
a
= 5,6 ( Lpp/3+10 )
= 5,6 ( 69/3 + 10 )
= 184,8 mm
Menentukan nilai tinggi b pada main deck
b
= 22,2 ( Lpp/3+10 )
= 22,2 ( 69/3 + 10 )
= 732,6 mm
Menentukan nilai tinggi c pada main deck
c
= 50,0 ( Lpp/3+10 )
= 50,0( 105,01/3 + 10 )
= 1650 mm

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 37

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Pembuatan Camber
Didalam pembuatan camber pada kapal, fungsinya agar terdapat
sheer pada kapal, sehingga kapal memiliki alat untuk mengalirkan air yang
masuk pada kapal, supaya air yang terdapat pada geladak kapal tidak
menumpuk dan tidak mengganggu stabilitas kapal.
Untuk perhitungan nilai camber secara keseluruhan, maka akan didapat:
Camber kapal

=1/50 B
= 0,236 meter

Membuat Forecastle deck,Poop Deck dan Bulwark


Forecastle deck
Forecastle deck merupakan bangunan yang terletak tepat diatas main
deck pada bagian haluan yang memiliki ketinggian 2,4-2,5 meter diukur dari
geladak utama (upper deck side line), sedangkan untuk panjang dari
bangunan ini ditentukan panjangnya mencapai Collision Bulkhead atau 5%
sampai 8% Lc. Serta diletakkan tepat pada frame/gading. Apabila
diimplementasikan dalam gambar penjelasan tersebut, maka dapat dapat
dilihat pada gambar II.8.2.

Gambar II.8.2
Gambar tentang cara peletakkan frame dan peletakkan collision bulkhead pada kapal
Bulwark
Bulwark merupakan pagar yang terbuat dari plat yang terletak pada
geladak tepi pada upper deck, forecastle deck dan poop deck yang berfungsi
sebagai pembatas untuk sisi kapal pada geladak paling rendah.
Direncanakan setinggi 1000 mm diukur pada geladak terendah. Untuk lebih
jelasnya, dapat dilihat seperti gambar II.8.3dibawah ini :

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 38

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar II.8.3
Gambar penampang Bulwark pada kapal
Poop Deck
Poop deck merupakan bangunan yang terletak diatas main deck pada
bagian buritan yang memilki ketinggian 2.4 sampai 2.5 meter diukur dari
geladak utama (upper deck side line) dan fungsinya untuk geladak kekuatan
dalam kapal.Sedangkan untuk panjang dari bangunannya akan dijelaskan
pada penjelasan dan gambar II.8.4berikut ini :

Gambar II.8.4
Gambar tentang cara pembagian frame dan peletakkan after peak bulkhead pada kapal
Menentukan Letak BULKHEAD
1. Jarak gading pada buritan sampai tabung poros maksimum Amaks < 600mm.
2. Ceruk buritan yaitu dari AP hingga sterntube bulkhead (termasuk di dalamnya
perhitungan letak ujung belakang tabung poros.
3. AP diambil sebagai no gading 0.
4. Jarak gading pada daerah sekat tabung poros kearah depan mengikuti rumus :
Ao = Lpp/500 + 0.48
Ao < 1000 mm
5. Menurut ketentuan BKI dalam jarak gading antara sekat tabung poros kedepan
dipakai jarak tidak boleh lebih dari 1000 mm.
6. Penentuan L rules sesuai dengan peraturan dalam BKI, yaitu dengan cara:
Nilai 96%Lwl = 96% x Lwl

Nilai 97% Lwl

= 96% x 72,45
= 69,552 meter
= 97% x Lwl
= 97% x 72,45
= 70,2765 meter

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 39

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Karena nilai Lpp kapal lebih kecil dibandingkan nilai L minimal yang
berdasarkan ketentuan dari BKI maka nilai L sesuai dengan BKI adalah
69,552 meter.
7.Penentuan L rules sesuai dengan peraturan dalam BKI, yaitu dengan cara:
Hc =
=
=
Lc1 =
=
=

0,85 x H
0,85 x 5.25
4,4625 meter
96 % Lwl
96% x 72.45
69,552 meter

Lc2 = Lpp pada 0.85 H


Lc2 = 68.9348

Setelah dibandingkan antara nilai Lc1 dengan Lc2 maka diambil


yang nilainya terbesar sehingga Lc = 69.552 meter
Untuk penentuan Lc1 ini perlu di implementasikan dalam bentuk gambar agar hasil
yang akurat dapat ditemukan, maka proses pencarian dengan bentuk penggambaran,
awalnya dilakukan dengan menentukan letak FPnya Lc. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat di gambar II.8.5dan seperti dibawah ini:

Hc
FPc

Gambar II.8.5
Gambar tentang cara penentuan FP dari Lc suatu kapal
Kemudian setelah menentukan FP dari Lc, maka langkah selanjutnya mencari panjag
Lc1 dengan cara mengukur panjang antara FP dari Lc sampai AP dari Lpp. Secara
lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar II.8.6 seperti dibawah ini :

Hc
Lc1
FPc

Gambar II.8.6
Gambar tentang cara penentuan panjang Lc1

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 40

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


8. Penentuan tinggi Bulwark, yaitu sesuai dengan ketentuan BKI, yaitu 2,4 2,5
sehingga diambil ukuran sebagaiberikut:
Tinggi dari geladak utama =
Tinggi tambahan pelat sisi =

2,4 meter
200 mm

9. Perhitungan jarak sekat tabung poros, sekat kamar mesin, sekat tubrukan adalah
sebagai berikut:
After Peak Bulkhead / Stern Tube Bulkhead :
Perhitungan sekat dimulai dari AP dan menggunakan jarakgading = 600mm dan
jaraknya minimal 3 jarak gading

Gambar II.8.6
Gambar penentuan Sterntube Bulkhead
Jarak sekat tabung poros

= 3,591 m dari AP dan terletak pada gading nomor 6

Sekat kamar mesin


Jarak gading sesuai dengan ketentuan BKI bahwa maksimal 1m antara After peak
bulkhead sampai collision bulkhead, yaitu dengan rumus diperoleh:
Ao

= Lpp/500 + 0.48
= 69/500 + 0.48
= 0.61 m dibulatkan menjadi 0.6 m untuk jarak gadingnya

Kemudian untuk penentuan panjang kamar mesin, sesua dengan aturan BKI jarak
sekat kamar mesin dari AP adalah antara 17% - 20% Lpp dan letaknya harus tepat di
nomor gading. Untuk itu secara sistematis perhitungannya seperti dibawah ini:

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 41

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


Panjang kamar mesin

= 17,391% x 69
= 12 m dari AP

Collision Bulkhead
Sesuai aturan BKI vol II, section 11, A.2.1 bahwa sekat ini terletak pada 0.05
0.08 Lcdari FPdan harus tepat di nomor gading, sehingga dalam penentuan
sekat tersebut dilakukan perhitungan yang sesuai aturan BKI. Dimana ketetuan
lainnya ditunjukkan dengan batas minimal suatu kapal dalam peletakan collusion
bulkhead, yaitu

Apabila kapal memiliki Lc 200 m, maka BKI mewajibkan untuk


peletakan collusion bulhead minimal 0,05 Lc dari FP (FP dari
perpotongan Lc dengan linggi haluan).
Apabila kapal memiliki Lc 200 m, maka BKI mewajibkan untuk
peletakan collusion bulhead minimal 10 m dari FP (FP dari perpotongan
Lc dengan linggi haluan).
Semua kapal barang harus mempunyai jarak peletakkan collusion
bulkhead dari FP (FP dari perpotongan Lc dengan linggi haluan) adalah
0,08 Lc

Secara penjelasan dengan skema gambar, dapat dilihat seperti gambar II.8.7
dibawah ini:
.

Gambar II.8.7
Gambar tentang aturan-aturan yang diberikan BKI untuk peletakkan coullison
bulkhead
Perhitungan sekat dimulai dari FP dan menggunakan jarakgading = 600mm
Jarak sekat tubrukan = 0,069 x Lc
= 0,069 x 69,552
= 4,8 m terhadap FP dan terletak di gading nomor 114

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 42

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar II.8.7
Gambar penentuan Collision Bulkhead

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 43

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

BAB III. RENCANA BUKAAN KULIT

III.1. Umum
Secara garis besar dalam perencanaan pembuatan kapal dibutuhkan
pendesainan yang akurat dan teliti, sehingga diperlukan petunjuk yang jelas terhadap
pekerja pembuat kapal agar hasil yang dicapai dapat maksimal seperti yang sudah di
desain. Dunia modern sekarang banyak berkembang teknologi yang canggih, sehingga
apapun yang kita kerjakan pasti tidak harus manual, namun ada alat-alat yang mendukung.
Tetapi hal itu akan bernilai percuma, apabila tidak didahului dengan rencana yang sesuai
perhitungan, terutama dalam pendesainan kapal, yaitu tidak hanya membutuhkan
perencanaan bentuk kapal, namun juga diperlukan rencana pemasangan pelat agar
maksimal hasil yang tercapai dan meminimalisir sisa pelat dalam pembuatan kapal.
Rencana bukaan kulit merupakan petunjuk yang sangat berguna bagi pekerja untuk
mengetahui susunan pelat, ukuran pelat dan tebal masing-masing pelat. Demikian juga saat
perbaikan (pergantian) pelat kulit, dapat diketahui bagian kulit kapal yang harus diganti
(replating) sesuai peraturan yang diikuti.
Kita tahu bahwa tidak mudah dalam membuat kapal karena pelat kulit kapal
berbentuk lengkung sesuai bentuk badan kapal, maka diperlukan teknik khusus yang
digunakan untuk mendapatkan ukuran dan bentuk masing-masing lembar pelat secara
benar, terutama untuk pengukuran, pemotongan dan pembentukan pelat dari suatu pelat
datar yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuknya di badan kapal. Ukuran pelat datar
haruslah sesuai dengan yang tersedia di gudang galangan atau di pasaran. Umumnya lebar
pelat standar adalah 1,5 m, 1,8 m, 2,1 m dan panjang pelat standar adalah 6 m, 9 m, 12 m.
Harus diusahakan agar sisa pelat terpotong sekecil mungkin.
Secara umum pelat kulit kapal terdiri dari lajur pelat membujur :
1. Pelat dasar (bottom plating) terdiri dari pelat lunas (keel plate), pelat pengapit lunas
(garboard strake) dan pelat bilga (bilge strake).
2. Pelat sisi kulit kapal (side shell plating) terdiri dari pelat sisi (side shell plating) dan
pelat lajur sisi atas (sheer strake)
3. Pelat sisi bangunan atas (superstructure) yang menerus dari pelat sisi kapal.
Dalam penyelesaian permasalahan bukaan kulit ini, perlu dilakukan perhitungan agar
dalam pembuatan kapal, khususnya pemasangan pelat dapat dikerjakan secara maksimal
dan hasilnya akurat. Untuk mendukung dalam perencanaan bukaan kulit, maka dibutuhkan
beberapa hala yang harus ada karena perencanaan dapat terlaksana apabila hal yang
dibutuhkan dibawah ini dapat dipenuhi, yaitu:
1. gambar rencana garis (lines plan)
2. rencana konstruksi (construction plan / steel plan).
Bahan diatas sangatlah berpengaruh dalam terlaksananya tugas perencanaan bukaan kulit,
agar perencanaan yang dihasilkan dapat sesuai dengan aturan-aturan pemasangan pelat

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 44

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


yang terdapat dalam BKI. Adapun beberapa tahap yang harus diperhatikan dalam
perencanaan bukaan kulit pada kapal, yaitu:

III.2. Pembagian Gading Sepanjang Kapal


Dalam tahap ini, pembagian gading disepanjang kapal harus sesuai dengan aturan
dalam BKI, yaitu untuk jarak gading yang terdapat dibelakang after peak bulkhead
dan didepan collision bulkhead diharuskan maksimal 600 mm, sedangkan untuk
jarak gading yang terdapat diantara after peak bulkhead dan colllision bulkhead
harus sesuai dengan aturan perhitungan yang disyaratkan oleh BKI, yaitu:
ao =
+ ,
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gamabar III.2.1 dan III.2.2, seperti dibawah
ini dibawah ini :

Gambar III.2.1
Bagian buritan kapal

Gambar III.2.2
Bagian haluan kapal

Setelah mengetahui cara seperti, maka sesuai tahap tersebut dilakukan pembagian
gading sesuai aturan diatas, dan hasilnya seperti gambar III.2.3dan III.2.4 dibawah ini :

Gambar III.2.3
Gambar bagian midship hingga buritan kapal

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 45

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Gambar III.2.4
Gambar bagian midshiphingga haluan kapal

III.3. Proyeksi Gading-Gading Ke Dalam Body Plan


Setelah mengetahui letak gading yang telah dibuat sesuai aturan BKI, maka
dilakukan proyeksi gading-gading tersebut kedalam gambar body plan, dan untuk
hasilnya dapat dilihat seperti gamabr III.3.1 dibawah ini:

Gambar III.3.1
Gambar gading di body plan secara keseluruhan setelah dilakukan proyeksi
dari sheer plan dan half breadth plan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pemnggambaran bukaan kulit ini adalah :
1. Penumpu tengah dan penumpu sisi (centre girder, side girder),pelantaian (floor),
gading melintang (transverse framing) dan senta sisi (side stringer), gading
membujur (longitudinals) dan pelintang (transverses), tanktop, pondasi motor

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 46

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


induk, platform di kamar mesin, sekat melintang dan membujur (bulkhead),
geladak kedua dan seterusnya (untuk kapal lebih dari satu geladak) dan
konstruksi lainnya.
2. Harus diperhatikan jenis konstruksi kapal: melintang, membujur atau campuran.
Hal ini berhubungan dengan syarat klasifikasi tentang jarak minimum antar
sambungan pelat dengan alur las lainnya yang berdekatan. Hal ini diatur dalam
BKI volume II section 19:Welded Joints.
3. Untuk daerah tengah kapal yang parallel middle body dapat diusahakan
pemakaian pelat yang selebar mungkin.

III.4. Perhitungan panjang setiap gading pada body plan


Kemudian setelah menyelesaikan proyeksi gading-gading kedalam gambar
body plan, maka dilakukanlah perhingan panjang di setiap gadingnya, yang berfungsi
untuk penentuan ukuran pelat yang akan dipasang agar sesuai dengan ketentuan
BKI. Namun sebelum menghitung panjang tersebut, maka dilakukan pembagian
garis yaitu ditandai tiap perpotongan dengan konstruksi lainnya misalkan tanktop,
senta, selanjutnya lengkung gading (half girth) dibeberkan ke garis dasar. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat seperti gambar III.4.1 dibawah ini :

a
a

b
c

Gambar III.4.1
Gambar cara proyeksi disetiap lengkung gading ke bidang dasar untuk pengukuran
panjang(Half Girth)

III.5. Penggambaran Alur Pelat Yang Akan Di Pasang


Setelah menyelesaikan tahap diatas, maka akan diketahui lebar pelat disetiap
sisi-sisi kapal, yang akan tergambar dengan membentuk sebuah alur pemasangan
pelat. Dalam praktek penggambarannya secara jelas dapat dibuat lajur-lajur pelat
dimulai dengan pelat lunas (keel), pelat dasar (bottom plating: lajur A, B, C dan D),
dilanjutkan dengan pelat bilga (bilge plating: lajur E) dan pelat sisi (side plating: lajur
F, G, H, I, J, K) diakhiri pelat lajur sisi lajur atas (sheerstrake). Untuk tahap
penggambarannya awalnya pada beberan half girth di bidang dasar, dapat dimulai
menggambar lajur pelat, tidak melebihi ukuran pelat datar, mulai pelat lunas, pelat
dasar, pelat bilga, pelat sisi dan pelat lajur sisi atas, stelah pelat lunas lajur ditandai
a, b, c dan seterusnya. Sambungan lajur baik yang membujur (seam) maupun

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 47

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]


melintang (butt) tidak boleh dekat dengan alur las dari hubungan konstruksi lain
dengan pelat kulit, misal gading, senta, platform dll. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
seperti gambar III.5.1 dibawah ini :

Gambar III.5.1
Gambar hasil pengukuran panjang disetiap gading pada body plan sehingga menjadi
Bukaan kulit

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 48

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

BAB IV . DETAIL LANGKAH DAN PERHITUNGAN


Dalam Penggambarannya juga diperlukan perlukan perhitungan yang detail agar
gambar yang dihasilkan dapat akurat dan teliti. Maka untuk perhitungannya sesuai
dengan aturan dalam BKI, yaitu:

IV.1 Tinggi Center Girder


= 350 + 45
= 350 + 45 11,8 = 881

= 0,9

IV.2 Tebal Bottom Plate


Setelah mengetahui nilai dari tinggi center girder, maka dilakukan perhitungan
tebal bottom plate sesuai dengan aturan dalam BKI yang terdapat di section 6,B 1.2.
Dan untuk mengetahui ketebalannya maka dilakukan beberapa perhitungan pada
istilah-istilah yang terdapat dalam rumus tebal bottom plate, sehingga untuk
pengerjaannya dapat dilihat seperti tahap-tahap dibawah ini:
.

= 10.75

1.

= 10.75
= 2.1(

2.

300 69,552
100
+ 0.7)

= 7,252

. .

= 2.1 (0.696 + 0.7) 7,252 1 1 0,75 = 15,944


3. Sesuai aturan BKI section 6,C 5.2 bahwa untuk kapal yang nilai L terletak
diantara 100 m sampai 150 m , maka perhitungan nilai x/Lyaitu:
= 0,6 + 0,001
= 0,669
4. Untuk selanjutnya, sesuai dengan BKI section 4, B, tabel 4, maka perhitungan
yang dilakukan:
20
= 1.0 +
0,7 = 1,028
= 10

5.

= 10 4,7 + 15,944 1,028 = 63,39


Perhitungan diatas sesuia dengan peraturan dalam BKI di section 4, B, 3
=

6.

230

0 0.89

0.89

120

230
120
0 0.89
= 123,2
1
1
Dalam Perhitungan diatas, sesuai dengan peraturan BKI di
=

7.

6, B, 1.2

+ 0.48 = 0.6

Untuk tebal plat yang digunakan,menggunakan rumusan :

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 49

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

= 18.3

= 18.3 1

0.6

= 1.21

+
63,39
+ 1.5 = 9,37
123,2
+

= 1.21 0.6 63,39 1 + 1.5 = 7,28


Di ambil nilai terbesar dari
dan
Sehingga di dapat nilai ketebalan dari Bottom Plate minimal adalah 9,37

IV.3 Tebal Keel Plate dan Lebar Keel Plate


Menentukan tebal keel plate
=

+ 2.0

= 9,37 + 2 = 11,37
Jadi tebal plate pada keel plate / lunas minimal adalah 11,37 mm
Menentukan lebar Keel plate
= 800 + 5
= 800 + 5(69,552)
= 1147,76
= 1.2
Sesuai aturan BKI vol II, section 6, C.3 bahwa lebar maximum untuk
pelat lajur atas adalah 1800 mm, sehingga untuk lebar keel plate = 1,2 m

IV.4 Lebar Bilge Strake dan Sheer Strake


Untuk penentuan lebar dari pelat yang dipasang pada bagian bilge strake dan
sheer strake, sesuai ketentuan BKI vol II, section 6, C.3 bahwa lebar pelat
pada keelplate = lebar pelat bilge strake dan sheer strake. Maka sesuai
perhitungan diatas, lebar pelat pada bilge strake dan sheer strake adalah 1,2
m.

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 50

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

BAB V. GAMBAR RANCANGAN

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 51

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 52

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 53

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 54

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 55

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 56

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 57

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 58

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 59

ME091309 [TUGAS RENCANA GARIS DAN BUKAAN KULIT]

LAMPIRAN

Fatchurrachman Rizki Fauzi 4212100056 60