Anda di halaman 1dari 56

BAB I

APOTEK
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa
Indonesia. Pembangunan kesehatan pada dasarnya menyangkut semua segi
kehidupan, baik fisik, mental maupun sosial ekonomi. Menurut Undangundang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,
pembangunan

kesehatan

merupakan

upaya

untuk

memelihara

dan

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya,


dilaksanakan

berdasarkan

prinsip

non-diskriminatif,

partisipatif,

dan

berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia,


serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan
nasional (Depkes RI1, 2009). Salah satu tempat yang dapat membantu
pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan bagi masyarakat adalah
apotek.
Apotek
praktik

adalah

kefarmasian

sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan


oleh

Apoteker. Dalam peraturan pemerintah ini

mengatur pula pekerjaan kefarmasian yang meliputi pengadaan, produksi,


distribusi atau penyaluran dan pelayanan sediaan farmasi. Pekerjaan
kefarmasian tersebut

harus

dilakukan

oleh

tenaga

kesehatan

yang

mempunyai keahlian dan kewenangan yaitu Apoteker (Depkes RI2, 2009).


Berdasarkan hal tersebut kini telah terjadi pergeseran orientasi pada
pelayanan kefarmasian yang mengacu kepada pharmaceutical care. Dengan
demikian, fokus apoteker dalam pelayananannya di apotek tidak lagi
hanya pada manajemen persediaan obat, melainkan juga pada pelayanan
pasien. Apoteker selain menyiapkan dan menyerahkan obat, saat ini juga
harus memberikan pelayanan informasi terkait dengan obat yang diterima
pasien. Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus pada
pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif
yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien.
1

1.2 Tujuan PKPA di Apotek


Tujuan dari Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek adalah :
1. Meningkatkan pemahaman tentang peran, fungsi, posisi dan tanggung
jawab apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek.
2. Meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman
praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek.
3. Kesempatan melihat dan mempelajari strategi dan kegiatan-kegiatan yang
dapat dilakukan dalam rangka pengembangan praktik farmasi komunitas
di apotek.
4. Mempersiapkan memasuki dunia kerja sebagai tenaga farmasi yang
profesional.
5. Memberi gambaran nyata tentang permasalahan pekerjaan kefarmasian di
apotek
Manfaat PKPA di Apotek
1. Mengetahui dan memahami tugas dan tanggung jawab Apoteker dalam

1.3.

mengelola Apotek.
2. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di
Apotek.
3. Mendapatkan pengetahuan manajemen praktis di Apotek.
4. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi Apoteker yang
profesional.
2. Kegiatan PKPA dan Pembahasan
2.1. Profil Tempat Kerja Praktek Profesi Apoteker
Kimia Farma adalah perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia
yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Awalmya nama
perusahaan Kimia Farma adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co.
Berdasarkan kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda di masa
awal kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia
melakukan peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan
Negara Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Pada tanggal 16 Agustus 1971,
bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama
perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).
Pada tanggal 4 Juli 2001, PT Kimia Farma (Persero) kembali mengubah
statusnya menjadi perusahaan publik PT Kimia Farma (Persero) Tbk, dalam

penulisan berikutnya disebut Perseroan. Berbekal pengalaman selama


puluhan tahun, Perseroan telah berkembang menjadi perusahaan dengan
pelayanan kesehatan terintegrasi di Indonesia.
Sebagai perusahaan publik sekaligus BUMN, Kimia Farma berkomitment
untuk melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik sebagai suatu
kebutuhan sekaligus kewajiban sebagaimana diamanatkan Undang-undang
No. 19/2003 tentang BUMN (Kimia Farma1, 2013).
Visi PT. Kimia Farma adalah menjadi menjadi perusahaan jaring layanan
kesehatan yang terkemuka dan mampu memberikan solusi kesehatan
masyarakat Indonesia.
Misi PT. Kimia Farma adalah menghasilkan pertumbuhan nilai bagi
masyarakat melalui:
a. Jaringan layanan kesehatan yang berintergasi meliputi jaringan apotek,
klinik, laboratorium klinik dan layanan kesehatan lainnya.
b. Saluran distribusi utama bagi produk sendiri dan produk prinsipal.
c. Pengembangan bisnis waralaba dan peningkatan pendapatan lainnya
(Fee-based Income).
2.1.1. PT. Kimia Farma Apotek
PT. Kimia Farma Apotek adalah anak perusahaan PT Kimia Farma
(Persero) Tbk yang didirikan berdasarkan akta pendirian No. 6 tanggal 4
Januari 2003 yang dibuat dihadapan Notaris Ny. Imas Fatimah, S.H. di
Jakarta dan telah diubah dengan akta No. 25 tanggal 14 Agustus 2009 yang
dibuat dihadapan Notaris Ny. Imas Fatimah, S.H. Akta ini telah mendapat
persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia dengan Surat Keputusan No. : AHU-45594.AH.01.02.Tahun 2009
tanggal 15 September 2009 (Kimia Farma2. 2013)
PT Kimia Farma Apotek saat ini mengelola sekitar 650 apotek yang
tersebar diseluruh tanah air. PT. Kimia Farma, memiliki Business Manager
(BM) yang bertugas menangani pembelian, penyimpanan barang dan
administrasi seluruh Apotek Pelayanan dalam suatu wilayah. Apotek
pelayanan lebih berfokus pada pelayanan perbekalan farmasi dan pemberian
informasi obat kepada pasien. Dengan adanya konsep ini diharapkan

pengelolaan administrasi dan keuangan suatu apotek dalam satu area menjadi
lebih efektif dan efisien, serta mempermudah dalam pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan manajemen apotek secara keseluruhan.
PT Kimia Farma Apotek memiliki visi menjadi perusahaan jaringan
layanan kesehatan yang terkemuka, dan mampu memberikan solusi kesehatan
masyarakat di Indonesia. Dan misi PT Kimia Farma Apotek yaitu
menghasilkan pertumbuhan nilai perusahaan melalui:
1. Jaringan Layanan kesehatan yang terintergrasi meliputi jaringan apotek,
klinik, laboratorium klinik dan layanan kesehatan lainnya.
2. Seluran distribusi utama bagi produk sendiri dan produk prinsipal.
3. Pengmbangan bisnis waralaba dan peningkatan pendapatan lainnya (Fee
2.1.2.

Based Income)
Apotek Kimia Farma 356 Bandung
Apotek Kimia Farma 356 Bandung merupakan apotek pelayanan di bawah
naungan Business Manager Bandung yang bertempat di Jl. KH Ahmad
Dahlan No. 96 Bandung. Apotek Kimia Farma 356 Bandung ini menjalankan
fungsinya sebagai salah satu apotek pelayanan kefarmasian dan kesehatan
pada masyarakat melalui pelayanan setiap hari mulai jam 07.00 22.00.
Bangunan Apotek Kimia Farma 356 adalah bangunan permanen dengan
fasilitas yang cukup memadai dan lengkap yang terdiri dari ruang tunggu
pelanggan dan pasien, ruang penerimaan dan penyerahan resep, ruang
pengambilan obat dimana tersedia meja pelayanan informasi obat sebagai
tempat dimana apoteker memberikan obat dengan resep dokter sekaligus
pemberian informasi obat, ruang peracikan, ruang penulisan etiket dan
pengecekan etiket, lemari penyimpanan obat, lemari obat psikotropika dan
narkotika, lemari pendingin (kulkas), gudang penyimpanan stok obat,
mushola, dan toilet.
Apotek Kimia Farma 356 dilengkapi dengan sarana penunjang seperti area
parkir yang memadai, praktek dokter bersama yang terdiri dari dokter gigi,
dokter umum, dokter spesialis anak, serta swalayan farmasi yang menjual
barang-barang yang dapat dlihat langsung oleh konsumen terdiri dari
kosmetika, obat-obat topikal (balsem dan salep), produk-produk minyak dan

aroma terapi, obat OTC (Over The Counter), obat tradisional, madu,
multivitamin, produk baby care (perawatan bayi), tissue dan pembalut, alat
kontrasepsi, food supplement (suplemen makanan), perlengkapan mandi,
PKRT (Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga), Perlengkapan P3K, dan milk
and nutrition (susu dan produk gizi).
Jenis pelayanan yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 356 Bandung
antaralain :
1. pelayanan resep, baik tunai maupun kredit.
2. pelayanan UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri) dan swalayan
farmasi untuk produk OTC (Over The Counter) dan alat kesehatan.
3. pelayanan konsultasi, informasi, dan edukasi obat.
4. pelayanan praktek dokter.
Apotek ini dipimpin oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) yang
dalam struktur organisasi berkedudukan sebagai PhM Pharmacy manager
bertanggung jawab kepada Manajer Bisnis Bandung PT Kimia Farma Apotek.
Apotek Kimia Farma 356 beroperasi selama 7 hari dalam seminggu yang
dibagi menjadi tiga shift, yaitu shift pagi pukul 07.00 15.00 WIB, shift
middle pukul 10.00 17.00 WIB dan shift siang pukul 14.00 22.00 WIB.
Dalam bertugas PhM dibantu oleh Apoteker Pendamping dan tenaga teknis
kefarmasian untuk menangani pembelian, penjualan, dan pelayanan resep
serta informasi obat.
2.2.

Kegiatan PKPA
Prakterk Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dilakukan mulai tanggal 1-30
September 2015, bertempat di Apotek Kimia Farma 356, Jl. KH Ahmad
Dahlan (Jl. Banteng) No 96 Bandung selama 26 hari. Adapun kegiatan yang

dilakukan selama pelaksanaan PKPA meliputi


1. Melakukan pengamatan tentang Apotek Kimia Farma 356 Bandung.
2. Mengikuti kuliah umum yang dilakukan sebanyak 2 kali, bertempat di
Kimia Farma daerah Unit Bisnis Bandung Cihampelas
3. Mempelajari alur pemesanan, pembelian, penerimaan barang, penyimpanan,
pendistribusian, dan penjualan di Apotek Kimia Farma 356 Bandung

4. Mempelajari cara pencatatan dokumen dan kartu stok di Apotek Kimia Farma
356 Bandung

5. Mempelajari alur kegiatan pelayanan kefarmasian meliputi cara menghadapi


pasien, menyiapkan obat, meracik, memberikan etiket, memberikan Pelayanan
Informasi Obat dan pelayanan lainnya di Apotek Kimia Farma 356 Bandung
6. Mempelajari alur pengelolaan sistem keuangan diantaranya laporan neraca
keuangan dan perhitungan HPP teroritis di Apotek Kimia Farma 356
7. Mempelajari dan mengamati cara penanganan perbekalan kefarmasian
diantaranya penanganan sediaan berdasarkan golongan obat yaitu obat obat
narkotik dan psikotropik, OWA dan OTC di Apotek Kimia Farma

2.2.1

Pengamatan Lokasi dan Tata Ruang Apotek Kimia Farma 356


Apotek Kimia Farma 356 memiliki lokasi yang sangat strategis, hal
ini dikarenakan lokasi apotek yang tepat berada di depan Rumah Sakit
Muhammadiyah Bandung dan dikelilingi oleh beberapa praktek dokter
mandiri disekitar apotek. Berlokasi di Jl. KH Ahmad Dahlan Bandung dan
pemukiman merupakan nilai tambah tersendiri bagi apotek, hal ini
dikarenakan Jl. KH Ahmad Dahlan Bandung merupakan jalan yang selalu
ramai, berada disekitar perumahan dan berada di pusat perkotaan. Lokasi
apotek pun cukup mudah dijangkau baik oleh pejalan kaki, pengendara
motor maupun pengendara mobil.
Apotek Kimia Farma 356 memiliki sarana gedung yang cukup
representatif untuk melakukan semua kegiatan pelayanan apotek. Sarana
penunjang apotek seperti tempat parkir mampu menampung sekitar 4
mobil dan 15 motor. Apotek Kimia Farma 356 memiliki bangunan
permanen yang terdiri dari dua lantai yang memiliki tata ruang yang tertata
mulai dari bagian depan hingga belakang, terdiri dari:
a. Ruang tunggu
Ruang tunggu dilengkapi dengan kursi yang nyaman untuk pasien
(pelanggan), serta fasilitas televisi yang ditujukan untuk memberikan
kenyamanan pada pasien yang datang ke apotek.
b. Swalayan farmasi dan alat-alat kesehatan
Swalayan farmasi dibagi menjadi 8 area yang menyediakan mulai dari
kebutuhan bayi, susu, suplemen makanan (multivitamin), makanan
ringan, obat-obat bebas, kosmetika, alat kesehatan dan perbekalan
kesehatan lainya.
c. Meja penerimaan resep dan penyerahan obat

Meja penerimaan resep dan penyerahan obat ini dilengkapi dengan 2


perangkat komputer dan printer untuk melakukan transaksi penjualan
secara komputerisasi, debt device yang membantu mempermudah
pelanggan yang akan melakukan transaksi secara non tunai serta kursi
untuk pasien dan apoteker ketika melakukan interaksi komunikasi
mengenai obat.
d. Ruang peracikan
Ruang peracikan terletak di samping ruang penerimaan resep, dalam
ruang tersebut terdapat pendingin udara, kulkas, wastafel untuk
mencuci tangan,

lemari-lemari penyimpanan obat, alat-alat yang

digunakan dalam peracikan seperti neraca timbangan, mortir dan


stamper, dan tempat peracikan berada dalam lokasi yang tertutup,
sedangkan meja pemberian etiket dan pengemasan obat berada pada
lokasi yang cukup terbuka.
e. Ruang penyimpanan obat
Penyimpanan obat disimpan secara alfabetis berdasarkan golongan
farmakologinya seperti antibiotik, anti jamur, anti virus, generik,
sistem pencernaan, anti hipertensi, anti hiperlipidemia, anti diabetes,
hormon, analgesik dan anti piretik, vitamin dan golongan dermatologi
serta berdasarkan bentuk sediaan, yaitu tablet dan kapsul, sediaan
injeksi, sediaan cair (sirup, suspensi, emulsi), sediaan topikal (krim,
salep, gel), sediaan mata (tetes mata, salep mata), sediaan tetes oral
(drop). Selain itu, penataan obat di lemari juga didasarkan pada tingkat
kecepatan penjualan yaitu untuk obat-obat

fast moving. Obat-obat

narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus yang


lokasinya tertutup dan tidak terlihat oleh pelanggan.
f. Ruang praktek dokter
Ruang praktek dokter berada di lantai 1 dan lantai 2, dimana praktek
dokter yang terdapat di Apotek Kimia Farma 356 diantaranya dokter
umum, dokter umum avasinolog, dokter spesialis anak dan dokter gigi.
g. Mushola
h. Toilet
Dilihat dari segi prasarana, Apotek Kimia Farma 356 telah
memenuhi kriteria yang dipersyaratkan bagi suatu apotek sebagaimana
7

yang dijabarkan pada Permenkes Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar


Pelayanan Kefarmasian di Apotek, bahwa suatu apotek harus memiliki :
1.
2.
3.
4.
5.

Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.


Ruang Penerimaan resep
Ruang pelayanan resep dan racikan.
Tempat penyerahan obat.
Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi
dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan
medikasi pasien.
Ruang penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan

6.

Medis Habis Pakai


Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak
penyimpanan obat dan barang-barang lain yang tersusun dengan rapi,
terlindung dari debu, kelembaban, dan cahaya yang berlebihan serta
diletakkan pada kondisi ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan.
2.2.2

Struktur Organisasi
Struktur organisasi pada semua aspek Apotek Kimia Farma
pada prinsipnya adalah sama yaitu berpedoman pada ketentuan yang
telah ditetapkan oleh Direksi PT. Kimia Farma (Persero) Pusat, namun
dalam pelaksanaannya tiap apotek

dapat

menyesuaikan

struktur

organisasinya sesuai dengan kondisi dan sarana yang tersedia.


Apotek Kimia Farma 356 adalah salah satu apotek pelayanan yang
merupakan bagian dari Business Manager (BM) Bandung. Apotek Kimia
Farma 356 Bandung dipimpin oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek
(APA) yang bertanggung jawab langsung kepada Manajer Bisnis PT.
Kimia Farma Apotek Bandung. Di bawah apoteker terdapat pelaksanapelaksana yang mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing yang
terdiri dari Apoteker Pendamping dan Asisten Apoteker, struktur organisasi
apotek terdapat dalam Lampiran 1.

2.2.3

Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Farmasi


Pengelolaan perbekalan farmasi meliputi perencanaan, pengadaan,
penerimaan, pendistribusian dan penyimpanan. Sediaan farmasi meliputi
obat, bahan obat, obat tradisional, alat kesehatan dan kosmetik. Tujuan

pengelolaan perbekalan adalah untuk menjaga dan menjamin ketersediaan


barang di apotek sehingga tidak terjadi kekosongan barang.
Sebagai apotek pelayanan, kegiatan Apotek Kimia Farma 356
berpusat pada pelayanan permintaan obat, baik dalam bentuk obat-obatan
resep, Usaha Penyembuhan Diri Sendiri (UPDS) maupun pembelian obat
bebas. Sedangkan kegiatan yang berhubungan dengan administrasi seperti
pembelian barang, pembayaran hutang, penagihan piutang dan lainnya
dilakukan oleh Bisnis Manajer Bandung.
a.
Perencanaan dan Pengadaan Barang
Perencanaan merupakan kegiatan

pemikiran,

penelitian,

perhitungan dan perumusan tindakan-tindakan yang akan dilakukan


dimasa yang akan datang, baik berkaitan dengan kegiatan-kegiatan
operasional

dalam

pengelolaan

logistik,

penggunaan

logistik,

pengorganisasian maupun pengendalian logistik. Perencanaan barang


di apotek merupakan awal yang sangat menentukan dalam
perencanaan obat. Tujuan perencanaan obat dan perbekalan farmasi
yaitu menentukan jenis serta jumlah obat dan perbekalan farmasi yang
tepat sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar (Irmawati,
2014). Untuk Apotek Kimia Farma 356 sendiri dalam pengelompokan
sistem pareto menggunakan pengelompokan berdasarkan nilai barang
yang dihasilkan, yaitu daftar barang disusun mulai dari barang yang
memberikan kontribusi nilai tertinggi hingga terendah. Adapun
pengelompokan tersebut adalah (Anief, 2001):
a. Klasifikasi Pareto A : 15%-20% dari jumlah jenis barang bernilai
80 % dari omzet
b. Klasifikasi Pareto B : 20%-25% dari jumlah jenis barang bernilai
15% dari omzet
c. Klasifikasi Pareto C : 50%-60% dari jumlah jenis barang bernilai
5% dari omzet
Keuntungan dengan menggunakan analisis pareto adalah
perputaran lebih cepat sehingga modal dan keuntungan tidak terlalu
lama berwujud barang, namun dapat segera berwujud uang,

mengurangi resiko penumpukan barang, mencegah terjadinya


kekosongan barang yang bersifat fast moving dan meminimalisasikan
penolakan resep.
Sedangkan dalam penentuan jumlah barang yang akan dipesan,
menggunakan perhitungan berdasarkan analisa ROQ (Re Order of
Quantity) dan ROP (Re Order of Point). Dalam analisa ROQ
penentuan jumlah barang yang akan dipesan didasarkan melalui
analisis kebutuhan barang dengan melihat penjualan pada

suatu

periode waktu yang terjadi untuk perencanaan pengadaan barang


selanjutnya. Sedangkan dalam analisa ROP, perencanaan pengadaan
sediaan farmasi dilakukan dengan menyusun catatan jenis barang
yang telah mencapai batas buffer stock (stok minimal yang untuk
melakukan pemesanan) ke dalam buku defekta.
b.

Pemesanan Barang
Pemesanan barang baik obat maupun perbekalan farmasi
dilakukan oleh asisten apoteker (AA) yang bertanggung jawab
langsung kepada APA, obat-obat yang persediaanya sudah mencapai
batas buffer stock atau habis dicatat dalam buku defekta yang
selanjutnya akan direkap pada hari sabtu setiap minggunya ke dalam
format Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) dan dikirim secara
online ke unit Business Manager melalui program Kimia Farma
Information System (KIS) yang berisi daftar permintaan barang
Apotek Kimia Farma 356, jumlah dan jenis yang diinginkan. Pihak
BM selanjutnya apabila barang yang dipesan tidak terdapat di gudang
maka selanjutnya akan dibuat rekap BPBA dari semua apotek
pelayanan dalam bentuk Surat Pesanan (SP) gabungan. SP gabungan
selanjutnya diteruskan ke PBF terpilih. Selanjutnya barang yang telah
dipesan akan dikirim oleh pihak PBF langsung ke Apotek Kimia
Farma 356 Bandung Format BPBA terdapat dalam Lampiran 2.
Khusus untuk pemesanan narkotika dan psikotropika, Surat
Pesanan (SP) harus dibuat langsung oleh APA. Pada pemesanan obat
golongan narkotika menggunakan SP model N-9 rangkap empat,
10

dimana setiap jenis pemesanan narkotika menggunakan satu surat


pesanan yang dilengkapi dengan nomor SIK apoteker dan cap apotek
dan ditanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA). Selain
itu, pembeliannya hanya boleh ke Distributor Kimia Farma yang
bertindak sebagai distributor tunggal yang ditunjuk pemerintah. Untuk
pembelian obat golongan psikotropika dilakukan dengan cara yang
sama, tetapi untuk satu SP boleh berisi beberapa jenis psikotropika
dan pemesanannya dapat dilakukan ke PBF yang menyediakan obat
tersebut. Format Surat Pesanan Narkotika dan Psikotropika terlampir
pada Lampiran 3 dan Lampiran 4.
Kegiatan pembelian obat dan perbekalan kesehatan di
Apotek Kimia Farma 356 dikelompokkan menjadi :
a. Pembelian rutin
Pembelian rutin dilakukan dengan memesan obat-obat yang dicatat
pada buku defekta harian, yang kemudian dikirim via email ke
Bisnis Manajer (BM) dalam bentuk BPBA (Bon Permintaan
Barang Apotek). Pembayaran dilakukan oleh BM sesuai dengan
perjanjian.
b. Dropping
Dropping adalah penyerahan obat dan atau perbekalan farmasi
yang dilakukan dari Apotek Kimia Farma satu ke Apotek Kimia
Farma lainya dalam satu wilayah unit Business Manager
menggunakan BPBA (BPBA antar outlet) atau yang dikenal juga
dengan bon peminjaman. Dropping dilakukan jika barang yang
diminta tidak tersedia dalam persediaan apotek, untuk menghindari
penolakan resep obat.
c. Konsinyasi
Konsinyasi adalah suatu bentu kerjasama antara Apotek Kimia
Farma dengan suatu distributor maupun perusahaan untuk
menitipkan produknya, pembayaran produk konsinyasi dilakukan
ketika barang tersebut telah laku terjual. Bentuk kerjasama
konsinyasi hanya dapat dilakukan di Business Manager Bandung.
Setiap periode tertentu, supplier akan memeriksa dan melakukan

11

penagihan untuk barang-barang sudah terjual. Contoh barang


barang konsinyasi ini adalah alat alat kesehatan, suplemen, obat
baru dan lain sebagainya
d. Pembelian Mendesak
Pembelian mendesak dilakukan jika barang yang diminta tidak
ada dalam persediaan dan juga tidak ada di Apotek Kimia
Farma

lainnya. Untuk menghindari penolakan obat atau resep,

maka pembelian obat yang mendesak dapat dilakukan ke Apotek


c.

lain. Bon pembelian kemudian dilaporkan ke BM.


Penerimaan Barang
Barang yang diantarkan oleh PBF, diterima oleh bagian
penerimaan barang untuk selanjutnya diperiksa kesesuaian barang
yang diterima dengan surat pesanan. Hal-hal yang diperiksa
diantaranya tujuan pengiriman, jenis, jumlah, kualitas dan kadaluarsa.
Setelah barang yang diperiksa sesuai dengan surat pesanan, faktur
akan diberikan cap. Barang yang datang didata dan dimasukkan ke
dalam kartu stok. Kartu stok barang sesuai pada Lampiran 6. Apabila
barang yang diterima tidak sesuai dengan surat pesanan, maka bagian
penerimaan barang akan membuat nota pengembalian barang (retur)
untuk kemudian barang yang tidak sesuai akan dikembalikan ke
distributor dan ditukar dengan barang yang sesuai pesanan. Beberapa
poin yang harus diperhatikan ketika menerima barang diantaranya
adalah :
1. Alamat tujuan pengiriman barang
2. Pemeriksaan barang dan kelengkapannya
a. Tanggal penerimaan.
b. Nama distributor atau PBF.
c. Kesesuaian antara BPBA dengan faktur terkait nama, nomor
batch, kemasan dan jumlah barang barang yang dikirim, jika
terdapat ketidaksesuaian barang atau ada kerusakan fisik, maka
bagian

pembelian

akan

membuat

nota

pengembalian

barang/retur dan mengembalikan barang tersebut ke PBF yang

12

bersangkutan untuk ditukar dengan barang yang sesuai atau


untuk dikembalikan.
d. Kondisi barang, tanggal kedaluarsa (expired date). Untuk
syarat penerimaan kedaluarsa, tidak kurang dari satu tahun
untuk obat biasa, sedangkan untuk vaksin tidak kurang dari
tiga bulan.
3. Penomoran
Apabila barang sesuai dengan pemesanan, faktur akan diberi tanda
terima barang berupa nomor urut penerimaan barang (tercatat di
buku penerimaan barang) dan cap apotek serta petugas pembelian
akan mebubuhkan tanda tangan, nama penerima dan jam
penerimaan pada faktur asli sebagai bukti bahwa barang telah
diterima. Faktur asli dikembalikan ke PBF, dua lembar faktur
salinan disimpan di apotek. Satu lembar salinan dikirim ke BM
sebagai bukti pembelian dan satu lembar lainnya sebagai arsip
apotek.
4. Pengisian Stok Barang
Selanjutnya data administrasi barang yang diterima dimasukkan ke
dalam komputer, melalui administrasi penerimaan barang yang
terintegrasi dalam program KIS. Data yang dimasukkan antara lain
d.

nomor urut, nama barang, kemasan, jumlah, harga, dan diskon.


Penyimpanan Barang
Perbekalan farmasi yang telah diterima, kemudian disimpan sesuai
dengan tempatnya. Untuk obat bebas, penyimpanan disusun swalayan
farmasi dengan tujuan barang mudah dilihat dan tampak menarik,
penyusunan barang didasarkan atas bentuk dan jenis sediaan.
Sedangkan untuk obat ethical penyimpanan barang diletakan di
belakang counter penerimaan resep. Setiap penambahan barang dan
pengambilan barang dicatat dalam kartu stok. Kartu stok berisi tanggal
pengisian atau pengambilan, nomor dokumen (nomor resep, nomor
bon penjualan bebas, atau nomor penerimaan barang), no batch,
tanggal kadaluarsa jumlah barang yang diisi atau diambil, sisa barang,
dan paraf petugas yang melakukan kegiatan pengisian atau

13

pengambilan barang. Kartu stok ini diletakkan didalam rak tiap obat.
Kartu stok digunakan untuk memudahkan pengawasan terhadap
e.

persediaan barang
Pendistribusian Barang
Pendistribusian produk menggunakan sistem FIFO (First In First Out)
dan FEFO (First Expired First Out), yaitu produk yang diterima,
produk yang pertama dijual dan produk yang tanggal kadaluarsanya
lebih cepat, produk pertama dijual. Hal ini dilakukan untuk mencegah
adanya produk kedaluarsa. Penjualan produk dapat dilakukan secara
tunai maupun kredit. Seperti halnya pembelian, penjualan juga harus
dicatat. Pencatatan dapat dilakukan secara manual melalui kartu stok

2.2.4

dan secara komputerisasi.


Pelayanan Obat dan Perbekalan Kesehatan Lainnya
Penjualan yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 356 meliputi
penjualan tunai dan kredit. Penjualan tunai merupakan penjualan langsung
kepada konsumen yang pembayarannya dilakukan secara tunai, sedangkan
penjualan kredit yaitu penjualan langsung kepada konsumen yang
ditanggung oleh perusahaan atau asuransi yang bekerja sama dengan
apotek Kimia Farma 356.
a.
Pelayanan Obat dengan Resep Tunai
Resep tunai merupakan permintaan obat tertulis dari dokter untuk
pasien yang dibayar secara tunai oleh pasien yang bersangkutan. Alur
pelayanan resep tunai di Apotek Kimia Farma 356 adalah sebagai
berikut:
1. Penerimaan resep dan diperiksa keabsahan resep
2. Dilakukan skrining resep untuk melihat ketersediaan obat, apabila
obat yang diresepkan tidak tersedia makan ditawarkan obat dengan
komposisi yang sama
3. Penetapan harga yang perlu dibayarkan oleh pasien dan di
informasikan kepada pasien total biaya keseluruhan
4. Pengisian data pasien untuk data patient medical record di apotek
Kimia Farma 356
5. Pasien melakukan pembayaran
6. Peracikan resep (penyiapan obat)
7. Pemberian etiket

14

8. Pemeriksaan akhir seluruh obat yang telah siap diserahkan oleh


apoteker
9. Pemanggilan nama pasien
10. Penyerahan obat yang disertai pemberian informasi kegunaan dan
cara pemakaian obat
Etiket terdapat pada Lampiran 7, plastik obat terdapat pada
Lampiran 8, label obat terdapat pada Lampiran 9, salinan resep
terdapat pada Lampiran 10, dan kwitansi terdapat pada Lampiran
11.
b.

Pelayanan Obat dengan Resep Kredit


Resep kredit merupakan permintaan obat yang ditulis oleh dokter
instansi atau perusahaan untuk pasien yang ditanggung oleh
perusahaan atau asuransi yang bekerja sama dengan apotek Kimia
Farma 356, dimana pembayaran dilakukan dalam jangka waktu
tertentu sesuai dengan persetujuan bersama.
Prosedur pelayanan resep kredit hampir sama dengan pelayanan resep
tunai, namun perbedaannya terletak pada pemberian harga dan
pembayarannya. Pada pelayanan obat dengan resep kredit pasien tidak
membayar secara langsung, cukup dengan menunjukan kartu identitas
kepegawaian pada petugas apotek dan memenuhi administrasinya.
Pada saat menyerahkan obat, petugas akan meminta tandatangan
pasien sebagai tanda terima. Resep diserahkan ke bagian administrasi
penjualan untuk dikumpulkan, dicatat, dan dijumlahkan berdasarkan
masing-masing perusahaan atau asuransi untuk diberikan ke Bisnis
Manajer.
Penjualan obat secara tunai maupun kredit dicatat pada laporan harian
apotek oleh petugas apotek. Resep-resep kredit dijumlahkan,
kemudian dibuatkan kuitansinya untuk penagihan pada saat jatuh
tempo pembayaran yang telah disepakati. Alur pelayanan resep tunai
di Apotek Kimia Farma 356 adalah sebagai berikut:
1. Penerimaan resep dan diperiksa keabsahan resep

15

2. Dilakukan skrining resep untuk melihat ketersediaan obat, apabila


obat yang diresepkan tidak tersedia makan ditawarkan obat dengan
komposisi yang sama
3. Pengisian data pasien untuk data patient medical record di apotek
Kimia Farma 356
4. Peracikan resep (penyiapan obat)
5. Pemberian etiket
6. Pemeriksaan akhir seluruh obat yang telah siap diserahkan oleh
apoteker
7. Pemanggilan nama pasien
8. Penyerahan obat yang disertai pemberian informasi kegunaan dan
cara pemakaian obat.
9. Penandatanganan bukti penerimaan obat.
c.
Pelayanan Obat Tanpa Resep Dokter
Pelayanan obat tanpa resep dokter dilakukan atas permintaan langsung
pasien. Obat yang dapat dilayani tanpa resep dokter meliputi obat
bebas, obat bebas terbatas, obat keras yang termasuk dalam Daftar
Obat Wajib Apotek (OWA), obat tradisional, kosmetik dan alat
kesehatan. Alur pelayanan UPDS yang ada di apotek Kimia Farma
356 adalah :
1. Menggunakan metode WWHAM (what, who, how long, action,
& medicine)
2. Memilihkan obat yang dibutuhkan sesuai dengan keluhan pasien,
3. Apabila pasien telah setuju tuliskan obat yang dibutuhkan dan
mintakan tanda tangan, nama, alamat pasien serta apoteker
memberikan paraf persetujuan pada form UPDS. Format form
UPDS dapat dilihat pada Lampiran 12
4. Apabila gejala sudah berlangsung selama tiga hari, anjurkan
d.

untuk menghubungi dokter


Penjualan Bebas dan Pelayanan Swalayan
Farmasi
Penjualan bebas dan pelayanan swalayan farmasi meliputi penjualan
obat bebas, obat bebas terbatas, perlengkapan bayi, kosmetik, alat
kesehatan, suplemen, vitamin, susu, perawatan kulit, perawatan
rambut, kosmetik, herbal health care, alat kontrasepsi dan perbekalan

16

farmasi lainnya yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Alur pelayanan
obat bebas adalah sebagai berikut :
1. Petugas menanyakan obat yang dibutuhkan oleh pelanggan atau
pelanggan menanyakan obat yang dicari
2. Memeriksa ketersediaan barang dan menginformasikan pada
pelanggan. Bila pelanggan setuju maka akan langsung diadakan
transaksi di kasir dan struk diserahkan kepada pembeli dan untuk
arsip.
e.

Pelayanan (Service) Lainnya


Pelayanan dapat menjadi cara untuk meningkatkan omzet apotek.
Terdapat berbagai pelayanan di apotek Kimia Farma seperti delivery
service, homecare dan telepharma.
1. Delivery service merupakan pelayanan pengantaran permintaan
barang pasien ke tempat tinggal pasien. Pelayanan delivery service
dapat dilakukan ketika pasien melakukan permintaan barang
melalui telepon atau pasien datang ke apotek untuk menebus resep
dan pasien meminta obat diantarkan. Syarat dapat dilakukan

delivery service apabila:


Pembelian minimal 100.000 rupiah
Jarak tujuan delivery maksimal 3 km
2. Homecare merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan di
tempat tinggal pasien. Homecare yang dilakukan di apotek Kimia
Farma dengan mengunjungi rumah pasien dan menjadi pengawas
minum obat (PMO) pasien.
3. Telepharma merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan
melalui telepon. Telepharma dapat dilakukan dengan apoteker
menghubungi pasien untuk menanyakan keadaan dan memastikan
apakah ada ketidakjelasan dalam aturan meminum obat. Dapat juga
pasien

2.2.5

yang

menghubungi

apoteker

Kimia

Farma

untuk

menanyakan ketidakjelasan aturan minum obat.


Sistem Pengelolaan Narkotika dan Psikotropik
Obat narkotika dan psikotropika merupakan obat yang dapat
menurunkan kesadaran dan dapat menyebabkan ketergantungan secara
terus menerus. Sehingga penggunaan narkotika dan psikotropika dapat

17

disalahgunakan oleh pihak tertentu. Oleh karena itu sistem pengelolaan


narkotika dan psikotropika perlu dilakukan pengawasan dengan ketat.
a. Pemesanan
Pemesanan obat narkotika dibuat langsung oleh APA dengan
menggunakan Surat Pesanan (SP) narkotika dan SP khusus (untuk
narkotika model N-9 rangkap 4, psikotropika model khusus rangkap
3). Untuk SP psikotropika, jumlah barang yang dipesan dalam satu SP
boleh lebih dari satu item sedangkan untuk SP narkotika, jumlah
barang yang dipesan hanya boleh satu jenis saja dalam satu SP. Surat
pesanan narkotika dan psikotropika harus ditandatangani langsung
oleh APA. Pemesanan narkotika hanya dilakukan ke PBF yang
ditunjuk oleh pemerintah yaitu PT. Kimia Farma Trading and
Distribution.
b.

Penerimaan
Penerimaan obat narkotika di apotek Kimia Farma 356 harus diterima
langsung oleh apoteker. Pemeriksaan faktur dengan SP serta
penandatanganan penerimaan dilakukan oleh apoteker. Kemudian obat
narkotika langsung dilakukan penyimpanan dalam lemari khusus.

c.

Penyimpanan
Obat narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus,
terpisah dengan obat lainnya. Lemari tersebut dan tidak mudah terlihat
atau mudah dijangkau oleh konsumen. Lemari tempat menyimpan
obat narkotika harus memenuhi ketentuan (Kemenkes, 2015):
1 Terbuat dari bahan yang kuat
2 Ukuran lemari: 40 x 80 x 100 cm
3 Tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah kunci
4
5

yang berbeda
Diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum
Kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung

jawab/Apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan.


d.
Pelayanan
Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pelayanan narkotika
dan psikotropika adalah sebagai berikut:
a Penyerahan obat golongan narkotika dan psikotropika dilakukan
berdasarkan resep dokter.

18

Resep yang mengandung obat golongan narkotika diberi tanda


garis merah dibawah nama obatnya dan dicatat nomor resep,
tanggal penyerahan, nama dan alamat pasien, nama dan alamat
dokter serta jumlah obat yang diminta dalam laporan pemakaian

narkotika.
Apotek tidak boleh mengulang penyerahan obat narkotika atas
dasar salinan resep dari apotek lain, salinan resep harus diambil di

apotek yang menyimpan resep aslinya.


Salinan resep dari narkotika dengan tulisan iter tidak boleh
dilayani sama sekali.

e.

Pelaporan
Pelaporan pemakaian obat narkotika dan psikotropika dilakukan setiap
bulan. Laporan ini menggunakan sistem aplikasi Sistem Pelaporan
Narkotik Psikotropik (SIPNAP) yang dibuat oleh Kemenkes RI. APA
yang telah memiliki user name membuat pelaporan yang berisi:
a.
Nama obat
b.
Asal industri obat
c.
Jumlah obat yang
masuk
d.

Jumlah

obat

yang

keluar
e.

Tujuan obat keluar

Laporan dibuat dalam bentuk file excel, kemudian apoteker mengupload

ke

website

SIPNAP

(sipnap.kemenkes.com).

Laporan

penggunaan obat psikotropika dan narkotika harus melalui tembusan


Kepala BPOM, Kepala Dinkes, Penanggung Jawab Narkotik Kimia
Farma dan Arsip.
f.

Pemusnahan
Pemusnahan narkotika dan psikotropika dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut (Kemenkes, 2015):
a.

APA

menyampaikan

surat pemberitahuan dan permohonan saksi ke Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota dan/atau Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan
Makanan setempat

19

b.

Balai

Besar/Balai

Pengawas Obat dan Makanan setempat, dan Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota menetapkan petugas di lingkungannya menjadi
saksi pemusnahan sesuai dengan surat permohonan sebagai saksi.
c.
Pemusnahan

d.

disaksikan oleh petugas yang telah ditetapkan


Setelah

pemusnahan

dilakukan, dibuat berita acara oleh APA bahwa pemusnahan telah


dilakukan. Berita acara dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan
tembusannya disampaikan kepada Direktur Jenderal dan Kepala
Badan/Kepala Balai
Pencatatan dan Pelaporan

2.2.6

Pencatatan dan pelaporan yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 356


meliputi
a

Pencacatan Permintaan Barang


Pencatatan permintaan barang dimasukan dalam format BPBA (Bon
Pesanan Barang Apotek), dimana pada hari sabtu setiap minggunya,
kebutuhan barang apotek diajukan atau dikirimkan ke BM Bandung

melalui aplikasi secara online


b Pencacatan Penerimaan Barang
Pencatatan barang yang diterima berdasarkan atas surat pesanan dan
faktur pembelian, dimana pencatatan dilakukan ketika barang datang dari
PBF ke apotek yang disertai dengan faktur pembelian. Bukti penerimaan
barang apotek beserta faktur dilaporkan ke BM Bandung setiap bulan
sebagai bukti bahwa apotek telah menerima barang sesuai pesanan, dan
c

digunakan pula sebagai bukti tagihan PBF ke BM Bandung.


Pencatatan stok barang
Pencatatan yang dilakukan dalam kartu stok berisi jumlah barang yang
masuk dari pembelian, jumlah barang keluar dari penjualan dan stok
barang yang tersisa. Pencatatan kartu stok sangat penting karena dapat
mempermudah pengawasan terhadap persediaan obat dan mencagah
adanya kehilangan, serta mengawasi arus barang agar penyalurannya

20

mengikuti kaidah FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired
First Out) sehingga mengurangi resiko obat-obat kadaluarsa.
d Pencatatan defekta
Defekta merupakan catatan yang berisi barang barang yang habis selama
pelayanan, atau barang barang yang stoknya kurang sehingga perlu
dilakukan pemesanan segera. Pencatatan defekta dilakukan oleh asisten
apoteker yang kemudian akan direkap tiap minggunya dalam format
e

BPBA.
Data Jaminan Pelayanan Resep
Data jaminan layanan resep merupakan data seluruh waktu pelayanan
resep racikan dan non racikan selama 1 bulan. Di apotek Kimia Farma
memiliki fasilitas waktu pelayanan resep non racikan maksimal 15 menit,
apabila lebih dari 15 menit maka pasien memperoleh diskon 5%.
Sedangkan fasilitas waktu pelayanan resep racikan dilakukan dengan
secepat mungkin.
Data jaminan layanan resep tersebut direkap setiap harinya dengan dilihat
jumlah resep yang masuk, jumlah resep yang dilayani dibawah waktu 15
menit, jumlah resep yang dilayani diatas waktu 15 menit dan rata-rata
waktu yang diperlukan untuk melayani resep per harinya. Rekap data
jaminan layanan resep racikan dibedakan dengan data jaminan layanan
resep non racikan. Data jaminan layanan resep yang telah direkap akan
dilaporkan ke BM. Setelah itu data jaminan layanan resep tersebut
menjadi acuan untuk evaluasi karyawan apotek disetiap bulannya untuk

meningkatnya pelayanan yang lebih baik lagi.


Laporan stok opname
Stok opname adalah pemeriksaan jumlah dan kondisi fisik barang yang
dilakukan setiap akhir bulan. Namun, pada Apotek Kimia Farma 356 stok
opname dilakukan tiap 3 bulan yaitu pada bulan Maret, Juni, September,
dan Desember. Pemeriksaan dilakukan untuk mengecek apakah jumlah
fisik barang sesuai dengan data dalam kartu stok atau data di komputer.
Stok fisik yang dihitung adalah sisa fisik barang saat berakhirnya periode
stok opname. Tujuan dari stok opname adalah:
a. Mengetahui modal dalam bentuk barang.
b. Mengetahui HPP (Harga Pokok Penjualan)
21

c. Mengetahui adanya barang yang hilang, rusak atau kadaluwarsa.


d. Menginventarisasi barang-barang yang kurang laku atau tidak laku.
3.
3.1.

Simpulan dan Saran


Simpulan
Apotek Kimia Farma 356 Bandung telah sesuai dengan segala yang
diatur oleh Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan. Pengelolaan
sediaan dan keuangan apotek Kimia Farma diatur secara sentralisasi sehingga
memudahkan pengelolaan dan adanya kesamaan peraturan disetiap apotek
Kimia Farma. Apoteker Pengelola Apotek dan Apoteker Pendamping
mempunyai peran sentral dalam pengembangan apotek pelayanan sehingga
dapat memberikan kepuasan pelayanan terhadap konsumen dan memajukan
apotek.
Program PKPA di apotek, dapat meningkatkan pemahaman calon
apoteker terkait peran, fungsi dan tanggung jawab apoteker dalam pelayanan
kefarmasian di apotek, memberikan kesempatan bagi calon apoteker untuk
menggali kemampuan, wawasan dan pengalaman praktis dalam melakukan
praktek pekerjaan kefarmasian di apotek serta memberikan kesempatan bagi
calon apoteker untuk mempelajari strategi strategi yang dilakukan dalam
pengembangan praktek pekerjaan kefarmasian komunitas.
Saran
Mahasiswa PKPA bisa lebih dilibatkan dalam lapangan di apotek Kimia

3.2.

Farma seperti mempelajari sistem komputer yang digunakan. Selain itu


apotek perlu meningkatkan

pengadaan perbekalan farmasi yang belum

lengkap atau belum tersedia sehingga dapat menghindari penolakan resep


yang akhirnya yang dapat mengurangi keuntungan apotek.
4. Tugas Khusus
4.1. Definisi Hiperlipidemia
Hiperlipidemia atau dislipidemia didefinisikan sebagai suatu keadaan
gangguan metabolisme dimana kadar lemak di dalam darah meningkat di atas
batas normal, yang melibatkan kadar kolesterol total, LDL (low density
lipoprotein), trigliserida menjadi tinggi, HDL (high density lipoprotein) menjadi
rendah, atau kombinasi kelainan lain (Wells et al., 2009). Kondisi hiperlipidemia
bila berkelanjutan memicu terbentuknya aterosklerosis (hilangnya elastisitas
disertai penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri). Aterosklerosis
22

menjadi penyebab utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK) (Katzung,


2002).
Hiperlipidemia dikenal juga sebagai hiperlipoproteinemia, karena sebelum
mengalami sirkulasi dalam darah, lemak harus berikatan dengan protein
membentuk lipoprotein. Semakin banyak lemak yang dikonsumsi, semakin
banyak lipoprotein yang terbentuk. Kolesterol dalam darah akan mengalami
sirkulasi dalam bentuk kolesterol LDL dan HDL. Kolesterol LDL sering disebut
kolesterol jahat karena dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah dan
mengakibatkan serangan jantung. Sedangkan HDL dikenal sebagai kolesterol baik
karena berfungsi menyapu kolesterol bebas di pembuluh darah dan mampu
mempertahankan kadar trigliserida darah dalam kisaran normal (Suyatna, 2007).
4.2. Patofisiologi
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang paling utama
adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kenaikan kadar
trigliserida, dan penurunan kadar HDL. Dalam proses terjadinya aterosklerosis
semuanya mempunyai peranan yang penting dan berkaitan satu dengan yang lain.
Dislipidemia terbagi menjadi primer dan sekunder. Dislipidemia primer
familial hypercholesterolemia, diakibatkan oleh kerusakan genetik yang
mengkode enzim-enzim yang memetabolisme lipid atau defek gen yang
mengkode reseptor lipid pada sel sehingga mengakibatkan peningkatan level
plasma LDL dan berkembang menjadi aterosklerosis yang prematur. Dislipidemia
sekunder diakibatkan oleh beberapa penyakit sistemik yang sering terjadi, seperti
diabetes melitus, hipotiroid, konsumsi alkohol yang berlebihan dan nefrosis ginjal.
Aterosklerosis merupakan penyakit kronis pembuluh darah arteri yang
dikarakteristikan dengan penebalan dan pengerasan dinding pembuluh darah.
Keabnormalan tersebut diakibatkan oleh akumulasi lipid-laden makrofag yang
berada di dalam dinding pembuluh darah. Lipid ini nantinya akan menyebabkan
pembentukan lesi yang disebut plak.
Aterosklerosis merupakan proses patologis yang menyerang pembuluh darah
yang ada di seluruh tubuh. Proses ini akan menyebabkan terjadinya sindrom
iskemik dengan tingkat keparahan dan manifestasi klinis yang berbeda.

23

Pembentukan aterosklerosis yang terjadi di pembuluh darah koroner akan


menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner.
Proses aterosklerosis dimulai dengan jejas pada sel endotel yang melapisi
dinding pembuluh darah arteri. Hal-hal yang menyebabkan jejas pada endotel
meliputi faktor risiko yang sering kali menyebabkan terjadinya aterosklerosis,
seperti merokok, hipertensi, diabetes, peningkatan kadar LDL, serta penurunan
kadar HDL dalam plasma.
LDL masuk ke dalam lapisan intima pembuluh darah arteri melalui endotel
yang utuh. LDL yang berada di dalam intima dioksidasi oleh free oxygen radical
yang terbentuk dari reaksi enzimatik maupun nonenzimatik. Proses tersebut
menghasilkan lipid pro-inflamasi yang menginduksi endotel untuk mengeluarkan
molekul adhesi. Molekul adhesi ini mengaktivasi sistem komplemen dan
menstimulus pengeluaran kemokin. Seluruh faktor-faktor tersebut menyebabkan
penempelan dan masuknya leukosit mononuklear, terutama limfosit-T dan
monosit. Monosit berdiferensiasi menjadi makrofag. Makrofag memfagosit LDL
yang teroksidasi dan berubah bentuk menjadi sel busa. Sel busa lipid-laden
terakumulasi di dinding pembuluh darah dan membentuk lesi yang disebut dengan
fatty streak.
Makrofag memperbaharui LDL menjadi fragmen yang akan dipersentasikan
ke limfosit T. Proses tersebut menginduksi reaksi autoimun yang menyebabkan
pembentukan sitokin pro-inflamasi seperti interferon-, tumor necrosis factor-
(TNF-), dan interleukin-1. Mediator-mediator inflamasi ini akan menstimulus sel
endotel untuk mengeluarkan molekul adhesi dan aktivitas prokoagulan. Pada
makrofag, sel-sel mediator tersebut akan mengaktifasi protease, endositosis, dan
pengeluaran nitrit oxide (NO), serta sitokin. Mediator ini juga merangsang sel-sel
otot polos untuk berproliferasi, menghasilkan kolagen, dan bermigrasi ke lapisan
tunika intima dinding pembuluh darah untuk membentuk plak fibrosa. Plak
fibrosa dapat mengalami kalsifikasi dan menonjol ke lumen pembuluh darah.
Perkembangan plak yang progresif akan mengobstruksi aliran darah ke jaringan
distal, terutama selama aktivitas fisik yang nantinya akan menimbulkan gejala.
Plak fibrosa sering kali tidak stabil sehingga aliran darah yang lewat dapat
mengakibatkan pecahnya plak. Pecahan plak tersebut akan menyumbat aliran

24

darah apabila masuk ke dalam pembuluh darah kecil. Sumbatan pembuluh darah
ini yang akan menyebabkan terjadinya kematian jaringan.
Peningkatan konsentrasi LDL dan penurunan HDL dalam darah merupakan
indikator kuat untuk risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Asupan kolesterol
dan lemak yang tinggi, seringkali disertai dengan predisposisi genetik
mengakibatkan terjadinya akumulasi LDL di dalam serum. Kondisi ini
mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar LDL di dalam aliran darah. Oksidasi
dan migrasi LDL ke dinding pembuluh darah, serta fagositosis oleh makrofag
merupakan patogenesis aterosklerosis. HDL berfungsi mengembalikan kolesterol
yang berlebih dari jaringan ke hati untuk dimetabolisme. HDL juga berperan
dalam perbaikan endotel dan menurunkan terjadinya aterosklerosis. Oleh karena
itu, kadar HDL yang tinggi dalam darah melindungi pembuluh darah dari
terjadinya aterosklerosis.
Kriteria Dislipidemia
Optimal

Near
Optimal

Kolestrol
total
LDL

HDL
4.3.

Low

<200
<100

Trigliserida

Desirable

Borderline

200-239

100-129

130-159
<150

150-199
<40

High

Very
High

240
160189
200499
60

190
500

Etiologi
a. Dislipidemia Primer
Dislipidemia primer atau disebut juga hiperlipoproteinemia merupakan
penyakit dislipidemia yang dapat diturunkan (familial) yang disebabkan oleh
adanya kelainan genetik, yaitu pada reseptor LDL dan lipoprotein lipase.
Selain itu, dislipidemia golongan ini dapat juga muncul akibat kombinasi
faktor genetik dan lingkungan. Terdapat 5 jenis hiperlipoproteinemia yang

masing-masing memiliki gambaran lemak darah serta risiko yang berbeda.


1. Hiperlipoproteinemia tipe I
Hiperlipoproteinemia tipe I disebut juga hiperkilomikronemia familial,
merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi tetapi dapat ditemukan
pada saat lahir, dimana tubuh penderita tidak mampu membuang kilomikron
dari dalam darah. Anak-anak dan dewasa muda dengan kelainan ini
25

mengalami serangan berulang dari nyeri perut, hati dan limpa membesar, dan
pada kulitnya terdapat pertumbuhan lemak berwarna kuning-pink (xantoma
eruptif), serta pemeriksaan darah menunjukkan kadar trigliserida yang sangat
tinggi. Penyakit ini tidak menyebabkan terjadi aterosklerosis tetapi bisa
menyebabkan pankreatitis, yang bisa berakibat fatal. Penderita diharuskan
menghindari semua jenis lemak (baik lemah jenuh, lemak tak jenuh maupun
lemak tak jenuh ganda).
2. Hiperlipoproteinemia tipe II
Hiperlipoproteinemia tipe II disebut juga hiperkolesterolemia familial,
merupakan suatu penyakit keturunan yang mempercepat terjadinya
aterosklerosis dan kematian dini, biasanya karena serangan jantung. Kadar
kolesterol LDL-nya tinggi. Endapan lemak membentuk pertumbuhan
xantoma di dalam tendon dan kulit. Satu diantara enam pria penderita
penyakit ini mengalami serangan jantung pada usia 40 tahun dan dua diantara
tiga pria penderita penyakit ini mengalami serangan jantung pada usia 60
tahun. Penderita wanita juga memiliki risiko, tetapi terjadinya lebih lambat.
Satu dari dua wanita penderita penyakit ini akan mengalami serangan jantung
pada usia 55 tahun. Orang yang memiliki 2 gen dari penyakit ini (jarang
terjadi) bisa memiliki kadar kolesterol total sampai 500-1200 mg/dL dan
seringkali meninggal karena penyakit arteri koroner pada masa kanak-kanak.
Tujuan pengobatan adalah untuk menghindari faktor risiko, seperti
merokok, obesitas, dan mengurangi kadar kolesterol darah dengan
mengkonsumsi obat-obatan. Penderita diharuskan menjalani diet rendah
lemak atau tanpa lemak, terutama lemak jenuh dan kolesterol, serta
melakukan olah raga secara teratur. Menambahkan bekatul gandum pada
makanan akan membantu mengikat lemak di usus. Seringkali diperlukan obat
penurun lemak.
3. Hiperlipoproteinemia tipe III
Hiperlipoproteinemia tipe III merupakan penyakit keturunan yang jarang
terjadi, yang menyebabkan tingginya kadar kolesterol VLDL dan trigliserida.
Pada penderita pria, tampak pertumbuhan lemak di kulit pada masa dewasa
awal. Pada penderita wanita, pertumbuhan lemak ini baru muncul 10-15
tahun kemudian. Baik pada pria maupun wanita, jika penderitanya mengalami
26

obesitas, maka pertumbuhan lemak akan muncul lebih awal. Pada usia
pertengahan, aterosklerosis seringkali menyumbat arteri dan mengurangi
aliran darah ke tungkai.
Pemeriksaan darah menunjukkan tingginya kadar kolesterol total dan
trigliserida. Kolesterol terutama terdiri dari VLDL. Penderita seringkali
mengalami diabetes ringan dan peningkatan kadar asam urat dalam darah.
Pengobatannya meliputi pencapaian dan pemeliharaan berat badan ideal serta
mengurangi asupan kolesterol dan lemak jenuh. Biasanya diperlukan obat
penurun kadar lemak. Kadar lemak hampir selalu dapat diturunkan sampai
normal, sehingga memperlambat terjadinya aterosklerosis.
4. Hiperlipoproteinemia tipe IV
Hiperlipoproteinemia tipe IV merupakan penyakit umum yang sering
menyerang beberapa anggota keluarga dan menyebabkan tingginya kadar
trigliserida. Penyakit ini dapat meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis.
Penderita seringkali mengalami kelebihan berat badan dan diabetes ringan.
Penderita dianjurkan untuk mengurangi berat badan, mengendalikan diabetes,
dan menghindari alkohol, dapat juga diberikan obat penurun kadar lemak
darah.
5. Hiperlipoproteinemia tipe V
Hiperlipoproteinemia tipe V merupakan penyakit keturunan yang jarang
terjadi, dimana tubuh tidak mampu memetabolisme dan membuang kelebihan
trigliserida sebagaimana mestinya.vSelain diturunkan, penyakit ini juga bisa
terjadi akibat:
- Penyalahgunaan alcohol
- Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik
- Gagal ginjal
- Makan setelah menjalani puasa selama beberapa waktu.
Jika diturunkan, biasanya penyakit ini muncul pada masa dewasa awal.
Ditemukan sejumlah besar pertumbuhan lemak (xantoma) di kulit,
pembesaran hati dan limpa, serta nyeri perut. Biasanya terjadi diabetes ringan
dan peningkatan asam urat. Banyak penderita yang mengalami kelebihan
berat badan. Komplikasi utamanya adalah pankreatitis, yang seringkali terjadi
setelah penderita makan lemak, yang dapat berakibat fatal. Pengobatannya

27

melalui penurunan berat badan, menghindari lemak dalam makanan, dan


menghindari alkohol, dapat juga diberikan obat penurun kadar lemak.
Secara rinci, perbedaan kelima jenis hiperlipoproteinemia tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut:
Jenis-jenis Hiperlipoproteinemia menurut WHO (1970)
Gangguan
lipoprein
Kilomikron
meningkat

Tipe

Kolesterol

LDL

TGA

Plasma

Tinggi

Rendah/
normal

Tinggi

IIa

Tinggi/ normal

Tinggi

Normal

IIb

Tinggi

Tinggi

Tinggi

III

Tinggi

Rendah/
normal

Tinggi

IV

Tinggi/ normal

Normal

Tinggi

VLDL meningkat

Keruh

Tinggi

Normal

Tinggi

Kilomikron dan
VLDL meningkat

Putih susu

Putih susu

LDL meningkat
LDL dan VLDL
meningkat
Kilomikron sisa
dan IDL
meningkat

Kuning
jernih
Keruh
Keruh

Klasifikasi hiperlipidemia menurut Fredrickson (1967)


Hiperlipidemia

Sinonim

Masalah

Hasil Lab

Tipe I

Sindrom BuergerGruetz,
hiperlipoprotenemia
primer,
hiperkilomikronemia
familial,
Hiperkolesterolemia
poligenik atau
hiperkolesterolemia
familial
Hiperlipidemia
kombinasi

Penurunan
lipoprotein lipase
(LPL) atau
perubahan ApoC2

Kilomikron
meningkat

Defisiensi
reseptor LDL

Hanya LDL yang


meningkat

Tipe Iia

Tipe Iib

28

Penurunan
reseptor LDL dan
peningkatan
ApoB

Tipe III

Disbetaliproproteinemia

Kekurangan
sintesa ApoE

LDL meningkat

Tipe IV

Hiperlipidemia
endogenus

VLDL meningkat

Tipe V

Hiperlipidemia familial

Peningkatan
produksi VLDL
dan penurunan
eliminasinya
Peningkatan
produksi VLDL,
penurunan LDL

VLDL dan
kilomikron
meningkat

b. Dislipidemia sekunder
Dislipidemia ini merupakan dislipidemia yang muncul karena adanya
penyakit lain lain yang mendahului. Hal lain yang dapat menyebabkan
penyakit ini adalah penggunaan obat golongan tertentu. Penyakit-penyakit
primer dan contoh obat yang dapat menyebabkan munculnya dislipidemia
sekunder dapat dilihat pada tabel berikut.
Penyebab Dislipidemia Sekunder
Hiperkolesterolemia

Hipertrigliseridemia

Dislipidemia campuran

SERING TERJADI
Hipotiroidisme
Sindrom nefrotik
Penyakit hati obstruktif

DM, alkohol
Obesitas
Gagal ginjal kronik

Hipotiroidisme
Sindrom nefrotik
Gagal ginjal kronik

Infark myocard
Infeksi, LES
Disglobulinemia
Sindrom nefrotik
Kelainan autoimun
Kehamilan

Penyakit hati
Akromegali

- bloker
Retinoid
Estrogen

Tiazid
Glukokortikoid
Retinoid

JARANG TERJADI
Porfiria akut intermiten
Kehamilan
Anoreksia nervosa

OBAT
Tiazid
Retinoid
Glukokortikoid
Progestin, androgen
4.4.

Manifestasi Klinik Hiperlipidemia

29

Hiperlipidemia atau hiperlipoproteinemia merupakan suatu kondisi, bukan


merupakan suatu penyakit sehingga tidak ada gejala-gejala klinisnya. Manifestasi
klinik dapat terlihat setelah pemeriksaan klinik di laboratorium. Pada tahap lebih
lanjut, beberapa tanda yang mungkin timbul antara lain: terjadinya pengendapan
lemak pada otot dan kulit (xanthoma). (Dipiro et al., 2008)
Secara klinis, hiperlipidemia dapat dikategorikan dalam 3 bentuk tergantung
kadar lipid yang meningkat, yaitu:
a) Hiperkolesterolemia (kolesterol meningkat)
b) Hipertrigliseridemia (trigliserida meningkat)
c) Hiperlipidemia campuran (kolesterol dan trigliserida meningkat).
Hiperkolesterolemia ditandai dengan peningkatan selektif LDL plasma dan
penyimpanan turunan kolesterol LDL pada tendon (xantoma) dan arteri (ateroma).
Defisiensi

lipoprotein

lipase

ditandai

dengan

terjadinya

akumulasi

kilomikron dan berhubungan dengan meningkatnya trigliserida plasma atau pola


lipoprotein tipe I (peningkatan kilomikron). Manifestasinya termasuk serangan
berulang pankreatitis dan sakit abdominal, xanthomatosis kutaneus yang hebat,
dan hepatosplenomegali yang mulai muncul saat masa anak-anak. Keparahan
simtom proporsional dengan asupan lemak dari diet, dan konsekuensinya
peningkatan kilomikron. Athenosklerosis yang dipercepat tdak dihubungkan
dengan penyakit ini.
Gejala klinis pasien dengan hiperlipoprotein tipe III (peningkatan IDL atau
Intermediate Density Lipoprotein) berkembang setelah umur 20 tahun yaitu
xantoma striata palmaris (perubahan warna menjadi kuning pada palma dan
berkerutnya digital); tuberosa xantoma (bulbus kutaneus xantoma); dan
ateroslerosis parah yang melibatkan arteri koroner, karotid internal, dan aorta
abdominal.
Hiperlipoproteinemia tipe IV (peningkatan VLDL) umum dan terutama
terjadi pada pasien obesitas, diabetes, dan hiperurisemia dan tidak memiliki
xantoma. Kondisi senkunder bisa terjadi pada peminum alkohol dan diperburuk
dengan stres, propestin, kontrasepsi oral, thiazid, atau bloker.
Tipe V (peningkatan VLDL dan kilomikron) ditandai dengan nyeri
abdominal, pankreatitis, munculnya xantoma, dan polineuropathy perifer. Pasien-

30

pasien yang memiliki obesitas, hiperurisemnia, dan diabetes; peminum alkohol,


eksogenus estrogen, dan gagal ginjal dapat memperburuk faktor yang telah ada.
Resiko aterosklerosis meningkat dengan penyakit tipe ini (Wells et al., 2009).
Manifestasi hiperlipidemia di kulit dapat berupa xantoma planum (xantelasma
palpebra, xantomata intertriginosa, xantomata striae palmaris), xantoma tendinea,
xantoma tuberosa, xantoma papuloeruptif (tubero eruptif). Adanya xantoma dapat
merupakan petunjuk yang patognomonik untuk kelainan genetik atau kelainan
lipoprotein tertentu (Wells et al., 2009).
Komplikasi Hiperlipidemia
Penyakit hiperlipidemia jarang merupakan penyakit tunggal. Hiperlipidemia dapat
menyebabkan dan disebabkan oleh bermacam-macam penyakit, antara lain :
a. Hipertensi
Kadar lemak dan kolseterol yang berlebih dapat menyebabkan kolesterol
membentuk plak di pembuluh darah. Plak yang terbentuk dapat menyebabkan
pembuluh darah mengeras dan menyempit, sehingga jantung harus bekerja
lebih keras untuk memompa darah melalui pembuluh-pembuluh tersebut,
sehingga tekanan darah menjadi abnormal dan tinggi yang dapat
menyebabkan penyakit jantung.
b. Diabetes Melitus
Pasien dengan penyakit diabetes dapat mengganggu keseimbangan antara
kadar HDL dan LDL. Penderita diabetes cenderung memiliki partikel LDL
yang menempel di pembuluh dan mudah merusak dinding pembuluh darah.
Glukosa dalam darah dapat menyelimuti LDL dan membuat LDL menetap
dalam aliran darah lebih lama dan menginisiasi pembentukan plak. Oleh
karena itu pasien diabetes kebanyakan memiliki HDL rendah dan trigliserida
tinggi, yang juga meningkatkan resiko penyakit jantung.
c. Penyakit Jantung Koroner
Apabila kadar kolesterol terlampau tinggi, kolesterol dapat terbentuk di
dinding pembuluh, membentuk plak, dan menyebabkan arteri mengeras
(aterosklerosis), dan mengurangi jumlah aliran darah karena penyempitan
pembuluh. Aliran darah yang berkurang dapat menyebabkan angina atau
serangan jantung ketika pembuluh tertutup seluruhnya.
d. Stroke

31

Apabila pembuluh darah yang membawa darah ke otak juga tertutup oleh
kolesterol/plak, maka otak akan kekurangan darah yang membawa oksigen
dan pasien dapat mengalami stroke.
Diagnosis Hiperlipidemia
Komponen utama yang dilihat pada diagnosa hyperlipidemia adalah usia,

4.5.

jenis kelamin (jika perempuan, menstruasi dan estrogen), pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan laboratorium.
a. Pemeriksaan fisik
1. Adanya faktor risiko kardiovaskular atau penyakit kardiovaskular individu
2. Riwayat keluarga penyakit jantung prematur atau gangguan lipid
3. Ada atau tidak adanya penyebab sekunder hyperlipidemia, termasuk obatobatan bersamaan
4. Ada atau tidak adanya xanthomas, sakit perut, atau riwayat pankreatitis,
penyakit ginjal atau hati, penyakit pembuluh darah perifer, aneurisma aorta
abdominal, atau penyakit pembuluh darah (stroke, atau transient ischemic
attack).
5. Diabetes mellitus dianggap sebagai setara risiko Penyakit Jantung Koroner.
Artinya, kehadiran diabetes pada pasien tanpa penyakit jantung koroner
dikaitkan dengan tingkat resiko yang sama seperti pasien tanpa diabetes tapi
setelah dikonfirmasi terdapat penyakit jantung koroner (Dipiro et al., 2008).
b. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan lipoprotein termasuk kolesterol total, LDL, HDL, dan
trigliserida harus diukur pada semua orang dewasa 20 tahun atau lebih pada
setidaknya sekali setiap 5 tahun untuk mencegah dan mewaspadai
hiperlipidemia. Individu harus berpuasa paling sedikit 12 jam sebelum
pengambilan sampel darah.

32

(Wells et al., 2009).


1. Kolesterol total
Menurut pedoman National Cholesterol Education Program (NCEP),
diharapkan kolesterol total adalah di bawah 200 miligram (mg) per desiliter
(dL). Batas tingkat tinggi adalah 200-239 mg/dL. Kolesterol tinggi
didefinisikan sebagai lebih besar dari 240 mg/dL.
Namun, beberapa bukti menunjukkan bahwa standar yang lebih ketat
mungkin lebih sesuai. Risiko kasus jantung menurun seiring menurunnya
jumlah kadar kolesterol, sehingga banyak pihak berwenang menyarankan
sasaran kolesterol total harus sekitar 150 mg/dL.
2. Trigliserida
Tingkat trigliserida normal adalah kurang dari 150 mg/dL. Ambang batas
trigliserida adalah 150 199 mg/dL, dan batas tinggi adalah 200 499
mg/dL. Tingkat 500 mg/dL atau lebih tinggi dianggap sangat tinggi.
3. Kolesterol HDL
Konsentrasi 60 mg/dL atau lebih tinggi adalah ideal. Secara umum,
konsentrasi HDL di bawah 40 mg/dL dianggap sebagai faktor risiko utama
terkena

penyakit

jantung

koroner.

33

Beberapa

ahli

menyarankan,

bagaimanapun, bahwa konsentrasi HDL harus dibandingkan dengan


kolesterol total. Dengan cara ini, nilai HDL harus setidaknya sepertiga dari
kolesterol total.
4. Kolesterol LDL
Menurut NCEP, kadar kolesterol LDL di bawah 100mg/dl dianggap ideal.
Kadar LDL 100-129 mg/dL mendekati optimal. Kadar ambang batas adalah
130-159 mg/dL. Kadar tinggi LDL adalah 160-189 mg/dL. Namun, semakin
banyak bukti yang mendukung standar yang lebih ketat. Banyak peneliti dan
dokter percaya bahwa 100 mg/dL harus menjadi batas atas untuk semua
orang, dan beberapa merekomendasikan pengurangan di bawah 70 mg /dL
untuk individu yang berisiko tinggi.
Studi terhadap populasi primitif dan bayi baru lahir normal telah mengubah
konsep kadar kolesterol normal. Konsentrasi kolesterol LDL pada manusia
normal dapat serendah 50 sampai 70 mg/dL. Risiko penyakit jantung koroner
menurun seiring dengan penurunan konsentrasi kolesterol LDL, dan dapat
mencapai level terendah sekitar 40 mg/dL (Azar, 2012).
4.6. Terapi
A. Terapi Non-Farmakologi
Tujuan dari terapi non-farmakologi yang dilakukan adalah untuk menjaga
tingkat kolesterol total dalam batas yang diperbolehkan, baik dengan
meningkatkan HDL, atau menurunkan LDL, VLDL, kilomikron, dan trigliserida.
Tindakan yang dapat dilakukan meliputi perubahan gaya hidup, antara lain:
1. Perubahan pola makan
Yang harus dilakukan adalah mengurangi makanan yang memiliki
kandungan lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol tinggi. Makanan yang
mengandung lemak jenuh antara lain adalah daging, keju, susu, dan mentega.
Makanan yang mengandung lemak trans seperti margarin, gorengan, minyak
sayur, dan panggangan seperti biskuit dan kue-kue. Dengan mengurangi
makanan tersebut akan menurunkan kolesterol total, LDL, dan trigliserida.
Namun ketika konsumsi lemak jenuh dikurangi, penting untuk mengetahui
apa yang harus diberikan sebagai penggantinya, karena lemak merupakan
sumber energi yang penting, maka perlu ditambah dengan mengkonsumsi
34

makanan yang dapat mengurangi produksi kolesterol dalam tubuh seperti


makanan yang mengandung serat larut dan berfungsi sebagai pengganti lemak
jenuh. Makanan dengan serat larut dapat mengurangi penyerapan kolesterol
dari usus. Contoh makanan dengan serat larut antara lain gandum, barley,
kacang, buah-buahan dan sayuran, juga perbanyak minum air putih dan
minuman bebas gula dibanding soda. Pola makan yang menggabungkan serat
larut, protein kedelai, sterol nabati dan kacang juga merupakan makanan
dengan efek spesifik penurun kolesterol. Produk sterol tanaman dapat
menurunkan LDL sekitar 10%, protein kedelai mengurangi kolesterol yang
diproduksi hati dan kacang-kacangan juga memiliki efek penurun kolesterol.
2. Olahraga rutin
Olahraga aerobik rutin seperti berjalan, jogging, berenang, atau
bersepeda yang meningkatkan denyut jantung selama 20-130 menit,
setidaknya 5x dalam seminggu merupakan cara yang efektif untuk
meningkatkan level HDL. Durasi dan intensitas olahraga memberikan
kontribusi penting dalam peningkatan HDL. Olahraga yang dilakukan secara
rutin dapat meningkatkan level kolesterol HDL sebanyak 5% dalam 2 bulan
dan menurunkan trigliserida.
3. Tidak atau berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol.
Zat kimia dalam rokok yang disebut akrolein dapat menghentikan HDL
dalam pemindahan LDL ke hati, menyebabkan tingkat kolesterol total yang
meninggi. Berhenti merokok dapat meningkatkan level HDL hingga 10%.
Menghindari alkohol juga dapat membantu mengurangi kadar trigliserida
hingga 5-10 mg/dL.
4. Menjaga berat badan ideal dan berusaha menurunkan berat badan
bagi penderita yang obesitas
Kolesterol tinggi dapat menyebabkan obesitas, maka dengan mengurangi
berat badan atau menjaga berat badan ideal, dapat membantu menurunkan
tingkat kolesterol tubuh.
5. Mengecek kadar kolesterol dalam darah secara rutin

35

Bagi non-penderita yang berusia diatas 20 tahun, dapat selalu melakukan


pengawasan terhadap kadar kolesterol tubuhnya dengan melakukan pengujian
minimal 5 tahun sekali. Bagi penderita, disarankan untuk melakukan
pengujian 3 bulan sekali untuk mengetahui keefektifan pengobatan dan
pengawasan terhadap kadar kolesterol total.
B. Terapi Farmakologi
Jalur metabolisme kolesterol dapat menjadi target terapi bagi penderita
hiperlipidemia. Obat hiperlipidemia digolongkan menjadi lima obat utama, yaitu :
a. Statin
Statin adalah first-line therapy untuk mengatasi hiperlipidemia karena statin
merupakan golongan yang paling berpotensi sebagai agen penurun LDL,
dengan rosuvastatin merupakan golongan statin yang paling bagus saat ini.
Statin menurunkan level LDL dengan menghambat HMG Co-A reduktase
sehingga konversi HMG Co-A menjadi mevalonat juga terhambat. Apabila
mevalonat terhambat, maka pembentukan kolesterol endogen tidak terjadi dan
LDL menurun. Selain itu, statin juga meningkatkan katabolisme LDL yang
dimediasi reseptor LDL. Statin dapat menurunkan kadar LDL hingga 1855%, kadar trigliserida hingga 7-30% dan meningkatkan kadar HDL hingga
5-15%. Contoh obat golongan statin yang beredar saat ini antara lain
simvastatin, lovastatin, pravastatin, fluvastatin, atorvastatin, dan rosuvastatin.
b. Bile Acid Resin (BAR)
BAR bekerja dengan cara berikatan dengan asam empedu dalam rongga usus
sehingga terjadi peningkatan ekskresi asam empedu dalam feses dan
terganggunya sirkulasi enterohepatik. Pengeluaran asam empedu akan
menstimulasi hati untuk membentuk asam empedu dari kolesterol darah
sehingga terjadi penurunan kadar kolesterol dalam darah khususnya LDL,
namun efek yang dihasilkan tidak sebagus statin, karena peningkatan sintesis
kolesterol hepatik sebanding dengan produksi VLDL hepatik. Contoh obat
golongan BAR antara lain kolestiramin dan kolestipol.
c. Niasin (Asam Nikotinat)
Mekanisme kerja niasin adalah menurunkan sintesis VLDL hepatik yang
berujung pada penurunan jumlah LDL. Niasin menginhibisi lipolisis yang

36

menyebabkan penurunan VLDL, juga dengan menurunkan katabolisme HDL


sehingga kadarnya meningkat. Niasin dapat menurunkan kadar LDL hingga
5-25%, dan kadar trigliserida 20-50%, juga meningkatkan kadar HDL
sebanyak 15-35%.
d. Asam Fibrat
Mekanisme kerja asam fibrat adalah dengan meningkatkan lipoprotein lipase
dan mengurangi sekresi VLDL dari hati ke plasma. Asam fibrat menghambat
ikatan asam lemak rantai panjang dengan trigliserida yang baru terbentuk
sehingga mempercepat pengeluaran kolesterol dari hati dan meningkatkan
ekskresi kolesterol dalam feses. Contoh obat turunan asam fibrat adalah
gemfibrozil, klofibrat, dan fenofibrat.
e. Ezetimibe
Ezetimibe bekerja menurunkan kolesterol dalam darah dengan mengurangi
absorbsi kolesterol di usus. Ezetimibe diabsorbsi dan dimodifikasi oleh
uridine-5-diphosphate glucuronosyl transferase di usus halus dan hati.
Bentuk glukuronidase dari ezetimibe diekskresikan dalam asam empedu dan
dikirim ke rongga usus untuk menghambat absorpsi kolesterol. Ezetimibe
menyerang transporter sterol (NPC1L1) yang bertanggung jawab terhadap
pengambilan kolesterol dan fitosterol dalam tubuh. Kelebihan dari ezetimibe
adalah tidak memengaruhi absorbsi vitamin larut lemak karena spesifik
menghambat absorpsi kolesterol dan sterol lainnya.
PENGOBATAN BERDASARKAN TIPE HIPERLIPIDEMIA
Tipe
Hiperlipidemia

Pilihan Obat

Tidak
diindikasikan

II a

Statin
Kolestiramin atau
kolestipol
Niasin
Statin

II b

Fibrat
Niasin

37

Kombinasi Terapi
Niasin atau BAR
Statin atau Niasin
Statin atau BAR
Ezetimibe
BAR, turunan asam fibrat,
atau Niasin
Statin, Niasin, BAR
Statin atau Fibrat
Ezetimibe

III
IV
V

Fibrat
Niasin
Fibrat
Niasin
Fibrat
Niasin

Statin atau Niasin


Statin atau Fibrat
Ezetimibe
Niasin
Fibrat
Niasin
Minyak Ikan

Keterangan :
- Kombinasi terapi antara BAR dengan statin adalah rasional, karena
reseptor LDL akan meningkat, mengarah ke penurunan kadar LDL yang
meningkat, penghambatan sintesis kolesterol intraselular, dan sirkulasi
-

asam empedu enterohepatik dihambat.


Kombinasi ezetimibe dan statin rasional karena pengurangan LDL

meningkat hingga 12-20% ketika dikombinasikan.


Interaksi antar obat dapat dihindari dengan interval waktu pemberian

obat, misal setidaknya 6 jam antara pemberian BAR dengan obat lain.
Niasin dosis rendah dapat dikombinasikan dengan statin atau gemfibrozil
untuk meminimalkan efek samping dan meningkatkan efek respon yang
diinginkan. Kombinasi ini memerlukan pengawasan yang ketat karena

dapat terjadi interaksi.


Kombinasi terapi dapat dipertimbangkan untuk dilakukan setelah

penggunaan monoterapi yang tidak memberikan efek yang diinginkan.


Regimen pengobatan yang bertujuan meningkatkan HDL, harus

menyertakan gemfibrozil atau niasin.


Secara umum, statin dan BAR, atau niasin dan BAR, memberikan
pengurangan kolesterol total dan LDL yang paling besar. Namun, harus
diingat bahwa kombinasi statin dengan obat-obat ini dapat meningkatkan
resiko hepatotoksisitas atau myositis.
Hasil Terapi yang Diinginkan

4.7.

Tujuan pengobatan adalah untuk menurunkan kolesterol total dan LDL agar
mengurangi resiko yang pertama atau berulang seperti infark miokardia, angina,
gagal jantung, stroke iskemia, atau bentuk penyakit arteri perifer lainnya seperti
stenosis karotid atau abdominal aortic aneurysm (Wells et al., 2009).
4.8.

Evaluasi Hasil Terapi

38

Evaluasi terapi jangka pendek terapi untuk hiperlipidemia didasarkan pada


respon terhadap diet dan terapi oleh obat yang diperiksa di laboratorium klinis
dengan mengukur kadar kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida untuk pasien
yang dirawat untuk intervensi primer, seperti halnya juga untuk menanggapi
respon pada intervensi sekunder. Hasilnya tergantung pada tingkat keparahan
penyakit, dan pasien yang memiliki beragam faktor risiko, harus dipantau lebih
sering. Pengukuran laboratorium lainnya yang digunakan meliputi kadar protein
C-reaktif, homocysteine, apolipoprotein B, dan lipoprotein. Karena banyak pasien
yang dirawat karena hiperlipidemia primer tidak menunjukan tanda gejala dan
mungkin tidak memiliki manifestasi klinik dari gangguan lipid genetik seperti
xanthomas atau eruptions, monitoring dan hasilnya tergantung pada hasil
pemeriksaan laboratorium. Pada pasien yang dirawat dengan intervensi sekunder,
gejala penyakit aterosklerosis (misalnya, angina atau intermittent claudication)
dapat membaik dalam kurun waktu bulan sampai tahunan. Pada pasien yang
memiliki xanthomas atau manifestasi hiperlipidemia lainnya, lesi yang
ditimbulkan harus diterapi. Pengukuran kadar lipid seharusnya dilakukan pada
saat puasa untuk meminimalisir gangguan pengukuran oleh kilomikron. Ketika
kondisi pasien sudah stabil, pemantaun diperlukan pada interval 6 bulan sampai 1
tahun (Dipiro et al., 2008).
Pasien dengan beragam faktor risiko dan memikili PJK harus dipantau dan
dievaluasi untuk kemajuan terapi dari beragam faktor risiko tersebut, seperti
hipertensi, pengurangan merokok, olahraga dan pengontrolan berat badan, dan
kontrol kadar gula jika diabetes. Tujuannya adalah untuk menjaga tekanan darah
<130/80 mm Hg, terutama untuk pasien dengan diabetes atau gangguan ginjal,
berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, berolahraga setidaknya 20 menit
per hari atau minimalnya tiga kali per minggu, dan menjaga kadar glukosa
plasmanya <100 mg/dL (Ambang batas untuk intoleransi glukosa). Evaluasi
invasif, seperti karakterisasi jantung, berguna pada pasien yang memiliki PJK dan
biasanya digunakan untuk perencanaan revaskularisasi dari pada melakukan
pemantauan dalam terapi penurunan lipid (Dipiro et al., 2008).

39

Evaluasi dari terapi diet merupakan bagian dari evaluasi hasil dalam terapi
hiperlipidemia,

dan

bantuan

terapi

diet

juga

direkomendasikan

untuk

memaksimalkan hasilnya. Penggunaan buku harian diet dan recall survey


instruments memungkinkan dalam pengumpulan informasi yang sistematis
tentang diet dan mungkin akan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap
rekomendasi diet. Pasien yang menjalani terapi resin harus memiliki profil
lipoprotein dalam keadaan puasa dan diperiksa setiap 4 sampai 8 minggu, hingga
dosis yang stabil tercapai; trigliserida harus diperiksa pada penggunaan obat
dengan dosis yang stabil untuk memastikan kadarnya tidak meningkat. Niasin
membutuhkan uji awal fungsi hati, asam urat, dan glukosa. Uji ulang sebaiknya
dilakukan pada dosis 1000 1500 mg/hari. Gejala miopati atau diabetes
sebaiknya dicari penyebabnya dan mungkin memerlukan penetapan kreatinin
kinase dan glukosa. Pasien dengan diabetes memerlukan pemantauan lebih sering.
Kadar lipoprotein saat puasa diukur 4 sampai 8 minggu setelah pemberian dosis
awal atau setelah terjadi perubahan dosis statin yang semestinya. Tes fungsi hati
seharusnya dilakukan pada tahap awal dan secara rutin dilakukan setelahnya
berdasarkan informasi yang didapatkan; para ahli percaya bahwa hepatotoksik dan
miopati dapat dipicu oleh gejala-gejala tersebut, sehingga diperlukan pemantauan.
Terapi menggunalan ezetimibe membutuhkan sedikit pemantauan khusus (Dipiro
et al., 2008).
4.9. Kajian Resep
4.9.1. Resep 1

40

A. Kajian Administratif
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Kriteria

Ada

Nama dokter
SIP dokter
Alamat dokter / RS
Tanggal penulisan resep
Tandatangan dokter
Nama pasien
Alamat Pasien
Umur
Jenis kelamin
Berat badan
Superscription (tulisan R/)
Subscription (obat /formula)
Inscription (pembuatan)
Signa (aturan pakai)

Tidak

B. Kesesuaian Farmasetik
No

Kriteria

Sesuai

Tidak sesuai

.
1
2
3

Bentuk dan kekuatan sediaan


Stabilitas
Kompatibilitas

(Ketercampuran )
C. Pertimbangan Klinis
1. Subjektif
Nama pasien : Ny. Suwarti
Tidak ada data umur, berat badan, dan keluhan pasien.
2. Objektif
Hasil pemeriksaan kimia klinis
No. Jenis pemeriksaan
1 Gula darah
sewaktu
2 Kolesterol total
3 Asam urat

Hasil
139

Satuan
mg/100 ml

Nilai normal
70-180

Kesimpulan
Normal

235
5,2

mg/100 ml
mg/100 ml

140-200
Lk. 3,4-7
Pr. 2,4-5,7

Cukup tinggi
Normal

3. Assessment
a. Analisis obat yang diberikan
Brainact 500 mg (mengandung citicoline 500 mg)
Indikasi
- Gangguan kesadaran akibat cedera kepala, bedah otak, dan infark
serebral stadium akut
41

Kesesuaian
Dosis

Kesesuaian
Durasi
Mekanisme
kerja

Kontraindikas
i
Efek Samping

- Meningkatkan rehabilitasi anggota gerak atas dan bawah pada


hemiplegia akibat apopleksi serebral
- 100-500 mg, 1 atau 2 kali sehari IV/IM : gangguan kesadaran
akibat cedera otak atau bedah otak
- 1000 mg sekali sehari IV selama 2 minggu : gangguan kesadaran
akibat infark serebral stadium akut
Frekuensi pemberian 2 kali sehari sudah sesuai
Sebagai prekursor fosfolipid, menghambat deposisi amiloid di
otak, meningkatkan neurotransmiter norepinefrin, dopamin, dan
serotonin, membentuk asetilkolin, menghambat aktivitas
fosfolipase dan sfingomielinase, dan memberikan efek
neuroproteksi.
Hipersensitivitas, pemberian bersama dengan Levodopa
Syok, ruam-ruam, psikoneurologik, gastrointestinal, fungsi hati
abnormal, diplopia.

Neurotam 1 gr (Piracteam)
Indikasi
- Kapsul 400 mg, Kaplet salut selaput 800 mg dan 1200 mg :
gejala-gejala involusi yang berhubungan dengan usia lanjut,
kemunduran daya pikir, astenia, gangguan adaptasi, reaksi
psikomotorik yang terganggu.
- Alkoholisme kronik dan adiksi. Pengobatan detoksikasi (untuk
gangguan karena penghentian obat yang secara mendadak,
gangguan selera makan dan defisiensi).
- Gejala pasca-trauma. Disfungsi serebral sehubungan dengan
akibat pasca-trauma (sakit kepala, vertigo, agitasi, gangguan
ingatan).
- Sirup : Pengobatan gangguan tingkah laku pada anak-anak,
misalnya pada anak-anak yang hiperkinetik, enuresis.
- Pada kondisi yang berat, pengobatan infark serebral : injeksi IV
atau IM
Kesesuaian - Dosis lazim : 3 x 1 gram per hari
- Kasus akut : dosis per hari 3 - 9 g, 3-4 kali per hari
Dosis
- Kasus gawat : infus terus-menerus dengan dosis sampai 12 gram
per hari.
Kesesuaian
Frekuensi pemberian 3 kali sehari sudah sesuai
Durasi
Mekanisme
Sebagai nootropik dan neurotonik/neurotopik analog GABA

42

kerja
Kontraindikas
i
Efek Samping

meningkatkan aliran darah di otak, aktivator serebral


Pada penderita dengan kerusakan ginjal yang berat (bersihan
kreatinin di bawah 20 ml/menit). Hipersensitivitas.
Keguguran, mudah marah, sukar tidur, gelisah, gemetar, agitasi,
lelah, mengantuk, mual, muntah, diare, gastralgia, sakit kepala,
vertigo, mulut kering, libido meningkat, menambah berat badan
dan sebagian besar reaksi hipersensitif penyakit kulit. Pada
kebanyakan kasus, pengurangan dosis cukup untuk
menghilangkan semua efek samping.

Lapibal 500 g (mengandung mecobalamin 500 g)


Indikasi
Neuropati perifer (penyakit saraf tepi), tinitus, vertigo,
anemia megaloblastik karena defisiensi vitamin B12
Kesesuaian Dosis 500 g 3 kali sehari
Kesesuaian Durasi Frekuensi pemberian 3 kali sehari sudah sesuai
Mekanisme kerja
Sebagai nootropik dan neurotonik/neurotopik
Perhatian
Hentikan pemakaian bila tidak ada perubahan setelah
penggunaan selama beberapa bulan. Bayi baru lahir, bayi
prematur, dan anak-anak.
Efek Samping
Jarang : mual, diare, ruam kulit, anoreksia (kehilangan nafsu
makan), sakit kepala, berkeringat, demam.
Proxime (mengandung asam asetilsalisilat 100 mg dan glisin 45 mg)
Indikasi
Pencegahan infark myokard, angina tidak stabil, dan TIA
(transient ischemic attacks)
Kesesuaian - Dewasa : 1 tablet 1 kali sehari
- Infark myokard : maksimal 300 mg sehari
Dosis
- TIA : maksimal 1000 mg sehari
Kesesuaian
Frekuensi pemberian 1 kali sehari sudah sesuai.
Durasi
Mekanisme
Inhibitor COX-1 dan COX-2 memiliki efek sebagai
kerja
antikoagulan, antiplatelet/fibrinolitik.
Kontraindikas Alergi
termasuk
ashtma,
tukak
peptik,
hemofilia,
i
trombositopenia, gejala flu, trimester 3 kehamilan, anak di
bawah usia 12 tahun.
Efek Samping Iritasi saluran cerna, mual, muntah, pendarahan saluran cerna &
gastritis (penggunaan jangka panjang), reaksi hipersensitivitas
(dispepsia, dermatitis), trombositopenia.
Simvastatin
Indikasi

- Pencegahan risiko kardiovaskular menurunkan risiko

43

Kesesuaian
Dosis
Kesesuaian
Durasi
Mekanisme
kerja

Kontraindikas
i
Efek Samping

kematian karena penyakit jantung koroner, stroke


- Dislipidemia
- Dewasa : dosis awal 20-40 mg sekali sehari
- Pasien dengan PJK/PJK ekivalen : dosis awal 40 mg sekali
sehari
- Rentang dosis : 5-80 mg sehari
Frekuensi pemberian 1 kali sehari sudah sesuai (di malam hari)
Inhibitor HMG-CoA (Hidroksimetilglutaril-CoA) reduktase
menurunkan sintesis kolesterol di hati menurunkan
konsentrasi serum kolesterol total, LDL, VLDL, apo B, dan
trigliserida. Dapat memperlambat progresi aterosklerosis di arteri
koroner, antiinflamasi.
Penyakit hati (peningkatan serum aminotransferase), kehamilan,
menyusui, hipersensitivitas
Infeksi saluran pernafasan atas, sakit kepala, nyeri perut,
konstipasi, mual, myopati.

Candesartan (sebagai candesartan cilexetil)


Indikasi
- Hipertensi : tunggal atau kombinasi dengan obat hipertensi lain,
bisa digunakan pada pasien hipertensi dengan CKD (penyakit
ginjal kronis), diabetes melitus, atau gagal jantung.
- Gagal jantung kongestif : pilihan kedua bila intoleran terhadap
inhibitor ACE
- Diabetes nefropati : sebagai pilihan pertama
Kesesuaian - Dewasa : dosis awal, 16 mg sekali sehari
- Dosis terapetik : 8-32 mg sehari (dosis tunggal atau 2 dosis
Dosis
terbagi)
Kesesuaian
Frekuensi pemberian 1 kali sehari sudah sesuai
Durasi
Mekanisme
Antagonis reseptor angiotensin II menghambat pengikatan
kerja
angiotensin II pada resptor AT1 di berbagai jaringan (otot polos
vaskular, kelenjar adrenal) menghambat pelepasan aldosteron
dan efek vasokonstriksi menurunkan tekanan darah
Kontraindikas Hipersensitivitas
i
Efek Samping Nyeri punggung, pusing, infeksi saluran pernafasan atas,
faringitis, rhinitis
b. Identifikasi Drug Related Problem (DRP)
Parameter
Obat tanpa indikasi

Kondisi yang ditemukan


44

Indikasi tidak terobati


Salah pemilihan obat
Dosis subterapetik
Overdosis/toksisitas
Efek samping
Interaksi obat

Gagal mencapai terapi

Aspirin-candesartan (moderate)
NSAID menurunkan efek antihipertensi candesartan,
penggunaan bersama keduanya menyebabkan penurunan
fungsi ginjal. Pasien disarankan mengecek rutin tekanan
darah dan fungsi ginjal selama penggunaan keduanya.
Interaksi diharapkan tidak terjadi pada dosis rendah
aspirin.
Simvastatin-makanan (mayor)
Grapefruit dan grapefruit juice meningkatkan secara
signifikan konsentrasi simvastatin dalam darah
toksisitas otot rangka rhabdomyolisis : nyeri otot.
Serat (oat bran dan pektin) menurunkan efek simvastatin
diberi jeda minimal 2 atau 4 jam antara makan serat
dan simvastatin.
Candesartan-makanan (moderate)
Makanan/suplemen kaya kalium harus dihindari
meningkatkan risiko hiperkalemia pada pasien yang
mengonsumsi ARB.
-

c. Kesimpulan Penyakit
Dari obat-obat yang diberikan dokter, pasien diduga mengalami
hiperlipidemia, hipertensi, dan infark serebral akut/stroke iskemik.
Hipertensi merupakan faktor risiko hiperlipidemia. Hiperlipidemia dan
hipertensi merupakan faktor risiko stroke iskemik. Pada kasus ini,
berdasarkan penyebabnya pasien dikategorikan mengalami hiperlipidemia
sekunder dimana kemungkinan hiperlipidemia terjadi karena faktor gaya
hidup dan asupan berlebih lemak jenuh dan kolesterol. Tipe gangguan
lipid yang spesifik tidak dapat ditentukan karena tidak ada data nilai
LDL-C, HDL-C, dan trigliserida. Begitu pula dengan tipe hipertensi tidak
dapat ditentukan karena tidak ada data tekanan darah pasien. Hubungan
antara berbagai penyakit tersebut adalah kemungkinan berawal dari
hipertensi yang tidak terkontrol, ditambah faktor lain (gaya hidup, pola
45

makan) berkembang menjadi penyakit hiperlipidemia, dan hiperlipidemia


yang tidak terkontrol berkembang menjadi penyakit stroke iskemik.
4. Planning
a. Rencana terapi
- Tujuan Terapi
1. Menurunkan risiko/terjadinya kembali infark myokard,
angina, gagal jantung, stoke iskemik, dan penyakit arteri
perifer lainnya.
2. Memelihara tekanan darah, parameter lipid (kolesterol total,
LDL-C, HDL-C, dan trigliserida) dalam keadaan normal
sesuai target terapi.
3. Mencegah terjadinya kembali stroke menurunkan injuri
dan disfungsi neurologik, imobilitas, dan kematian.
4. Meningkatkan kualitas hidup pasien.
- Terapi Pasien
Obat
Injeksi brainact
500 mg

Aturan Pakai
2 x 1 ampul sehari

Keterangan
Untuk gangguan kesadaran akibat
infark serebri akut, brainact
sebaiknya mulai diberikan dalam
waktu 2 minggu pasca stroke.
Pemberian IV : IV lambat.

Injeksi neurotam
1 gr

3 x 1 ampul sehari

Pengobatan infark serebral dapat


diberikan dalam bentuk injeksi
IV atau IM

Lapibal 500 g

3 x 1 kapsul sehari

Dapat diberikan bersama atau


tanpa makanan

Proxime

1 x 1 tablet sehari

Diberikan sesudah makan

Simvastatin

1 x 1 tablet sehari

Diminum malam hari bersama


atau tanpa makanan

1 x 1 tablet sehari

Diberikan bersama atau tanpa


makanan

40 mg
Candesartan
8 mg
46

Kartu minum obat


Hari

Pagi

Siang

Malam
Lapibal

Lapibal
Senin

Lapibal

Proxime

Candesartan
Simvastatin
Lapibal
Lapibal
Selasa

Lapibal

Proxime

Candesartan
Simvastatin
Lapibal
Lapibal
Rabu

Lapibal

Proxime

Candesartan
Simvastatin
Lapibal

Proxime

Candesartan

Simvastatin

Kamis

Proxime
Jumat

Candesartan
Simvastatin

b. Terapi non farmakologi


- Olahraga teratur dengan intensitas sedang 30 menit per hari
minimal 3 kali dalam seminggu disertai penghentian merokok.
Pasien dengan CAD risiko tinggi harus dievaluasi sebelum
melakukan aktivitas fisik yang berat. Contoh olahraga : latihan
-

aerobik teratur seperti joging, tenis, renang bersepeda


Menurunkan berat badan terbukti dapat membantu menurunkan
risiko CHD (untuk BMI > 25 kg/m2 obesitas). Induksi

47

penurunan berat badan (harus didiskusikan dgn pasien) disertai


-

dengan aktivitas fisik teratur.


Terapi diet yg objektif yaitu menurunkan langsung konsumsi
lemak total, lemak jenuh, dan kolesterol utk mendapatkan bobot

badan yg sesuai.
Konsumsi serat larut dalam bentuk oat, pektin, gum, & psyllium

utk membantu menurunkan kolesterol total dan LDL-C


Konsumsi 2-3 g/hari sterol & stanol dari tanaman dapat

mengurangi LDL 6-15%. Contoh : margarin.


Konsumsi minyak ikan utk mengurangi trigliserida & kolesterol

VLDL (tetapi tidak berefek pada kolesterol total dan LDL).


Jumlah karbohidrat 55%-60% dari jumlah total kalori perhari
20-30 gr serat larut air, kacang polong, buncis, dan buah-buahan
Makanan yang mengandung kolesterol sebaiknya kurang dari

300 mg perhari, seperti kuning telur, daging


Makanan yang dapat membantu mengontrol kadar kolesterol

adalah ikan, ikan sardines, dan salmon


Lima atau lebih porsi buah-buahan dan sayur-sayuran per hari
Antioksidan, seperti vitamin C, beta-carotene dan vitamin E,

dan mineral.
c. KIE pasien
- Pasien disarankan untuk melakukan modifikasi gaya hidup
(Therapeutic Lifestyle Change) penurunan berat badan,
meningkatkan aktivitas fisik, diet yang seimbang, berhenti
-

merokok.
Pasien harus meminum obat hipertensi dan hiperlipidemia
secara rutin agar terhindar dari kekambuhan stroke-nya dan

risiko CHD.
Pemberian simvastatin di malam hari untuk menurunkan risiko

stroke
Memberitahu pasien bahwa simvastatin memiliki efek samping
myopathy dan rhabdomyolisis (nyeri otot, lemah, warna urin

coklat, gejala flu).


Pasien yang mendapatkan

statin

sebaiknya

melakukan

pengecekan profil lipid (kolesterol, LDL-C, HDL-C, dan

48

trigliserida puasa ) secara rutin 4 sampai 8 minggu setelah dosis


-

awal atau perubahan dosis.


Tes fungsi hati pada tahap awal sebelum pengobatan dan secara

rutin pada penggunaan simvastatin.


Hindari memakan grapefruit/grapefruit juice selama pengobatan

dengan simvastatin.
Hindari makanan/suplemen kaya kalium (pisang dll) selama

pengobatan dengan candesartan.


Pasien dianjurkan untuk tidak mengubah pengobatan sendiri
tanpa anjuran dokter.

Evaluasi Target Terapi


-

Kolesterol total : < 200 mg/dL


LDL-C : < 100 mg/dL
Tekanan Darah : < 130/80 mmHg

4.9.2. Resep 2

A. Kajian Administratif
No.
1

Kriteria
Nama dokter
49

Ada

Tidak

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

SIP dokter
Alamat dokter / RS
Tanggal penulisan resep
Tandatangan dokter
Nama pasien
Alamat Pasien
Umur
Jenis kelamin
Berat badan
Superscription (tulisan R/)
Subscription (obat /formula)
Inscription (pembuatan)
Signa (aturan pakai)

B. Kesesuaian Farmasetik
No

Kriteria

Sesuai

Tidak sesuai

.
1
2
3

Bentuk dan kekuatan sediaan


Stabilitas
Kompatibilitas

(Ketercampuran )
C. Pertimbangan Klinis
1. Subjektif
Nama pasien : Ny. Suwarti
Tidak ada data umur, berat badan, dan keluhan pasien.
2. Objektif
Hasil pemeriksaan klinis
No
.
1.

Jenis
Pemeriksaan
Gula Darah
Sewaktu

Hasil

Satuan

Nilai Normal

Keterangan

139

mg/dL

70 - 180

Normal

2.

Kolesterol

235

mg/dL

140 - 200

3.
4.

Trigliserida
Ureum

110
27,2

mg/dL
mg/dL

5.

Kreatinin

0,7

mg/dL

6.

Asam Urat

5,2

mg/dL

7.
8

SGOT
SGPT

21
19

U/L
U/L

30 - 200
10 - 50
Lk 0,7-1,3 Pr
0,6-0,9
Lk 3,4-7 Pr 2,45,7
Lk 40 Pr 30
Lk 40 Pr 33

50

Hiperkolesterole
mia
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

3. Assessment
a. Analisis Obat
Pengobatan yang diberikan oleh dokter kepada pasien X sebagai
berikut:
1. Cholinaar
Kandungan: Citicoline
Mekanisme aksi:
Citicoline meningkatkan aliran darah dan konsumsi O2 di otak.
Citicoline juga terkait dengan biosintesis lesitin.
Indikasi :
Mencegah perluasan kerusakan otak setelah stroke dan trauma
pada kepala, meningkatkan rehabilitasi fungsi ekstremitas atas dan
bawah

pada

pasien

apoplectic

hemiplegic,

stupor

dan

ketidaksadaran yang terjadi akibat trauma di kepala dan pasca


brain surgery.
Dosis :
Sediaan per oral, Apoplectic hemiplegic: 1.000 mg satu kali
sehari, penurunan fungsi kognitif: 500-1000 mg/hr. Obat diminum
tanpa atau bersama makanan. Dosis yang diberikan 2 kali sehari
500 mg.
Kontraindikasi :
Ibu hamil dan menyusui.
ADR:
Anoreksia, mual, insomnia, sakit kepala dan eksitasi
(Sumber: MIMS Indonesia, diakses tanggal 19 September 2015)
Interaksi obat:
Karbidopa, levodopa, entacapone
(Sumber: drugs.com diakses tanggal 19 September 2015)
2. Neurotam
Kandungan : Piracetam
Mekanisme aksi
Piracetam melindungi korteks serebral terhadap hipoksia.
Piracetam juga menghambat agregasi platelet dan mengurangi
viskositas darah.
Indikasi : Terapi untuk cortical myoclonus dan kondisi penuaan
seperti dementia, alzheimer (Eropa), alcoholism, fenomena
Raynaud, DVT, stroke, tardive dyskinesia, dyslexia, brain injury,
vertigo.
Dosis:

51

Sediaan per oral, awal: 7,2 g/hari dalam 2-3 dosis terbagi, dosis
ditingkatkan 4,8 g setiap 3-4 hari hingga mencapai dosis
maksimum 24 g/hari. Tidak direkomendasikan untuk anak di
bawah 16 tahun (BNF 68); 1,6-9,6 g/hari (Medscape). Dosis yang
diberikan kepada pasien 2 kali sehari 1200 mg.
Kontraindikasi:
Cerebral haemorrhage, Huntingtons Chorea, gangguan hati,
gangguan ginjal, ibu hamil dan menyusui.
ADR:
Peningkatan berat badan, gelisah, hyperkinesia, sedangkan yang
jarang terjadi adalah mengantuk, depresi, asthenia, nyeri lambung,
mual, muntah, diare, sakit kepala, cemas, bingung, halusinasi,
vertigo, ataksia, insomnia, kelainan hemorrahgic, dermatitis,
pruritus, urtikaria.
Perhatian khusus:
Jangan menghentikan pengobatan secara tiba-tiba karena akan
menyebabkan withdrawal effect, meningkatkan resiko pendarahan
(tukak lambung, riwayat stroke hemorrhagic, penggunaan
bersama

obat

yang

meningkatkan

pendarahan),

kelainan

hemotasis, dan major surgery.


Interaksi obat:
Signifikan: cilostazol, clopidogrel, dipiridamol, eptifibatide,
prasugrel,

ticlopidine,

tirofiban.

Minor:

levothyroxin,

liothyronine, thyroid desiccated.


(BNF 68 2015, MIMS Indonesia dan Medscape diakses tanggal
19 September 2015)
3. Analsik
Kandungan : Methampyrone 500 mg, diazepam 2 mg
Indikasi :
Mengurangi nyeri sedang hingga berat, terutama colic dan postop.
Dosis :
Sediaan per oral, dewasa 1 kaplet per hari, jika nyeri tidak
berkurang 1 kaplet setiap 6-8 jam, maksimum 4 kaplet per hari.
Obat diminum setelah makan. Dosis yang diberikan 2 kali sehari 1
kaplet.

52

Kontraindikasi:
Pasien dengan tekanan darah sistol kurang dari 100 mmHg,
psikosis akut, ibu hamil dan menyusui, bayi berumur 1 bulan.
Perhatian khusus:
Gangguan hati dan renal, pasien depresi ringan, kelainan darah.
ADR:
Mengantuk, amnesia, ketergantungan, gangguan visual, hipotensi,
agranulositosis, reaksi alergi.
Interaksi obat:
Klorpromazin, simetidin, alkohol, depresan CNS lain.
(MIMS Indonesia diakses 19 September 2015)
4. Simvastatin
Mekanisme aksi:
- Statin secara kompetitif menghambat enzim

yang

bertanggungjawab untuk mengubah HMG CoA menjadi


mevalonate

yang

merupakan

tahap

awal

biosintesis

kolesterol. Penurunan kolesterol hepatoselular mendorong


upregulation reseptor LDL dan meningkatkan klirens LDL
-

dari sirkulasi darah.


Efek penurunan TG terjadi melalui 2 cara yaitu peningkatan
klirens VLDL dan VLDL remnant dari sirkulasi (dengan
upregulation reseptor LDL) dan penurunan sekresi VLDL
dari liver.

Dosis:
Menurut Applied Therapeutics (Koda Kimble), dosis awal dan
dosis lazim simvastatin adalah 20-40 mg (malam hari) dan dosis
maksimal adalah 80 mg (malam hari). Dosis harus ditentukan
secara individual berdasarkan baseline level LDL-C pasien, tujuan
terapi yang direkomendasikan dan respon pasien, penyesuaian
dosis dibuat pada interval 4 minggu atau lebih, dosis juga
disesuaikan dengan pengobatan lain yang dijalani pasien (Drug
Information Handbook, 17th Ed). Pasien dengan resiko CHD
tinggi memulai pengobatan dengan dosis 40 mg/hari (Medscape).
Simvastatin diminum bersama makanan untuk mengurangi

53

dispepsia. Dosis yang diberikan oleh dokter kepada pasien adalah


20 mg 1 kali sehari.
Kontraindikasi:
Pasien

dengan

penyakit

liver

atau

peningkatan

serum

aminotransferase secara persisten, ibu hamil dan menyusui,


hipersensitif terhadap simvastatin atau bahan lain dalam formulasi
(AHFS Drug Information Essentials, 2011).
ADR:
Sakit kepala, dispepsia, myositis (myalgia, CPK > 10 kali
normal), peningkatan level transaminase hepatik.
Interaksi obat:
Meningkatkan resiko myositis dengan penggunaan bersama obat
yang menghambat CYP3A4 (misalnya siklosporin, eritromisin,
CCB, fibrat, nefazodone, niasin, ketokonazol), perlu perhatian
khusus terhadap penggunaan bersama fibrat atau niasin (Applied
Therapeutics).
Monitoring parameters:
Profil lipid 4-8 minggu setelah perubahan dosis kemudian 6-12
minggu untuk jangka panjang, profil LFT selama 3 bulan
(dilakukan secara periodik), profil CPK, dan simptom myalgia
yang mungkin dialami pasien.
b. Drug Related Problems
Parameter
Kondisi yang ditemukan
Obat tanpa indikasi
Indikasi tidak terobati
Salah pemilihan obat
Citicoline dan Piracetam
Dosis subterapetik
Overdosis/toksisitas
Efek samping
Interaksi obat
Gagal mencapai terapi
c. Kesimpulan Penyakit
Berdasarkan pengobatan yang dipilih oleh dokter, pasien diduga
mengalami hiperlipidemia (tipe IIa), stroke iskemik dan telah melakukan

54

operasi. Banyak penelitian menyebutkan bahwa tingginya level kolesterol


berhubungan dengan peningkatan resiko stroke iskemik. Stroke iskemik
terjadi akibat obstruksi di dalam pembuluh darah yang menyuplai darah
ke otak. Kondisi yang mendasari terjadinya obstruksi adalah akumulasi
dari lipoprotein pada subendotelial, yang sering disebut aterosklerosis.
4. Planning
Berdasarkan pengobatan yang dipilih oleh dokter, pasien diduga
mengalami hiperlipidemia (tipe IIa), stroke iskemik dan telah melakukan
operasi. Banyak penelitian menyebutkan bahwa tingginya level kolesterol
berhubungan dengan peningkatan resiko stroke iskemik. Stroke iskemik
terjadi akibat obstruksi di dalam pembuluh darah yang menyuplai darah ke
otak. Kondisi yang mendasari terjadinya obstruksi adalah akumulasi dari
lipoprotein pada subendotelial, yang sering disebut aterosklerosis.
Statin menurunkan LDL-C sekitar 30-50%, tergantung dosis yang
diberikan. Pengobatan dengan statin mengurangi resiko stroke pada pasien
dengan aterosklerosis maupun beresiko tinggi mengalami aterosklerosis.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa statin mampu mengurangi resiko
stroke sekitar 21%. Resiko stroke menurun sampai 15,6% untuk setiap
10% penurunan LDL-C. Efek menguntungkan dari penggunaan statin pada
pasien stroke iskemik berhubungan dengan kemampuannya untuk
menurunkan progresi atau meningkatkan regresi aterosklerosis.
Mayoritas stroke terjadi akibat oklusi thromboembolic pada arteri
intrakranial sehingga peningkatan perfusi pada area iskemik merupakan
strategi pengobatan yang tepat. Pengobatan awal yang direkomendasikan
oleh American Heart Association dan American Stroke Association (2013)
adalah injeksi intravena fibrinolisis rtPA (Alteplase), injeksi intraarterial
fibrinolisis atau kombinasi keduanya dengan dosis rendah. Rekomendasi
kelas I lain adalah antiplatelet. Pemberian aspirin secara per oral (dosis
awal 325 mg) selama 24 sampai 48 jam setelah terjadi stroke
direkomendasikan untuk sebagian besar pasien. Rekomendasi kelas II
adalah antikoagulan, meskipun penggunaan argatroban maupun inhibitor
thrombin lain untuk pasien stroke iskemik akut belum ditetapkan.

55

Citicoline dan piracetam digunakan sebagai neuroprotective agent


untuk terapi stroke iskemik. Penelitian oleh Davalos A et al (2012)
menggunakan randomised, placebo-controlled, sequenial trial pada pasien
dengan stroke iskemik sedang hingga berat menunjukkan tidak ada
perbedaan efikasi yang signifikan maupun adverse effect yang muncul
dibandingkan dengan placebo.
De Deyn PP, et al (1997) dalam Treatment of Acute Ischaemic Stroke
With Piracetam dan Ricci S, et al (2012) dalam review artikel Piracetam
for Acute Ischaemic Stroke menyatakan tidak ada perbedaan yang
signifikan antara pasien yang diberi terapi piracetam dengan placebo.
AHA/ASA juga menyatakan penggunaan neuroprotective agent tidak
direkomendasikan karena tidak meningkatkan outcome pasien.
Sesuai dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya
penggunaan citicoline dan piracetam kurang direkomendasikan karena
efikasinya belum terbukti secara signifikan. Hal ini perlu dikonfirmasi
kepada dokter tentang pertimbangan pemilihan obat-obat tersebut. Analsik
tetap diberikan untuk pengobatan nyeri pasca operasi, dosis dapat dinaikan
sampai 3-4 kali sehari sesuai dengan respon pasien. Simvastatin tepat
diberikan kepada pasien dengan dosis 20 mg. Pasien tidak mengalami
gangguan hati maupun renal sehingga simvastatin relatif aman dan
merupakan pilihan pertama pada pasien yang memiliki total kolesterol
tinggi (peningkatan serum LDL-C). Penyesuaian dosis dapat dilakukan
setelah dilakukan monitoring terhadap profil lipid pasien setelah menerima
terapi.

56