Anda di halaman 1dari 4

Kecelakaan tidak memandang waktu, orang dan tempat.

Bisa saja kecelakaan itu justru


terjadi di Rumah Sakit dimana tersedia segala peralatan medis dan tenaga medis serta para
medis. Insiden itu mungkin lebih banyak terjadi diluar kawasan perawatan atau di sekitar rumah
sakit. Apabila terjadi insiden di area ini kepada siapa harus dimintakan pertanggung jawaban.
Kecelakaan mungkin saja terjadi ketika seseorang baru memasuki areal rumah sakit. Bisa
jadi suatu ketika pasien terjatuh atau pingsan karena lemahnya kondisi tubuh sebelum sampai di
Instalasi Gawat Darurat (IGD). Siapa yang bisa menolong pasien sedangkan dokter dan perawat
stand bye di bagian dalam Rumah Sakit.
Pada situasi dan kondisi seperti inilah diperlukan peran petugas non medik seperti
satpam, cleaning servis, dan tukang parkir dalam posisinya terdekat dengan korban. Kecepatan
pertolongan pertama kepada korban sangat menentukan keselamatan jiwa. Keterlambatan
pertolongan akan membuat kondisi fatal.
Oleh karena itu agar warga yang datang berobat ke institusi keesehatan mendapatkan
pelayanan paripurna dan terhindar dari insiden yang tidak diinginkan maka perlu dilakukan
pelatihan para pegawai non medis tersebut. Pelatihan Basic Life Support diikuti Satpam,
cleaning service, juru parkir, sopir dan pegawai lain yang terkait dengan pelayanan di rumah
sakit. Tujuan kemampuan kegawat daruratan diberikan kepada pegawai non medis dimaksudkan
untuk melakukan pertolongan pertama kepada pasien terutama kasus emergency sejak masuk
melalui pagar dan di sekeliling areal rumah sakit

SPGDT ( SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU)


Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) adalah suatu system pelayanan
pasien gawat darurat yang terdiri dari unsure pelayanan pra rumah sakit, pelayanan di Rumah
sakit. Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang menenkankan pada prinsip time saving is
life and lambing limb saving, yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum, awam
khusus, dan petugas medis, pelayanan ambulan gawat sarurat dan system komunikasi (Depkes:
2009)
Secara umum SPGDT merupakan suatu system koordinasi berbagai unit kerja (multi
sector), didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk
terselenggarakannya pelayanan terpadu penderita gawat darurat dalam keadaan bencana maupun
sehari-hari terdiri dari tiga subsistem yaitu pra rumah sakit, rumah sakit dan antar rumah sakit.
Fase pra Rumah Sakit merupakan fase dimana umumnya korban ditemukan oleh orang
awam atau orang awam khusus. Orang awam adalah Anggota Pramuka, Palang Merah Remaja
(PMR), Korp Sukarela (KSR), anak sekolah/Guru, Ibu Rumah Tangga, Pengemudi/Supir.
Sedangkan orang awam khusus/ Medical First Responder (MFR) adalah Polisi, Petugas
Pemadam Kebakaran, Satpam, Petugas SAR, Petugas PMI.
Orang awam dan orang awam khusus ini harus dilatih bagaimana menangani korban
gawat darurat dengan alat sederhana yang ditemukan disekitarnya. Misalnya,
1.
2.
3.
4.
5.

Melakukan permintaan pertolongan (call for help)


Melakukan resusitasi jantung paru
Menghentikan perdarahan
Memasang balut bidai
Memindahkan korban dengan benar.

Prinsip kerja pra rumah sakit diantaranya :


1. Waktu singkat dan respon time yang cepat
2. Pertolongan pertama dilapangan
3. Evakuasi medis yang cepat
Masyarakat dapat melakukan pertolongan saat terjadi keadaan darurat selama tindakan tersebut
tidak bersifat invasive. Oleh karena itu masyarakat sebaiknya diberikan informasi ataupun
pelatihan agar nantinya dapat melakukan tindakan dengan baik dan benar. Banyak prinsip yangf
dapat dijadikan panduan dalam perawatan pra rumah sakit, namun aspek yang utama adalah
JANGAN MEMBUAT CEDERA SEMAKIN PARAH/ DO NOT FURTHER HARM Yang

dicetuskan oleh Hiprocates, dan dijadikan panduan mulai dari penyakit sampai keruang operasi
(ruang perawatan) hingga pasien pulang
Jenis ambulans berdasarkan fungsi:
1. Ambulans Gawat Darurat
2. 2. Ambulans Transportasi

EKSTRAKSI, STABILISASI, DAN TRANSPORTASI


Pengertian ekstraksi adalah menarik dan memindahkan untuk membebaskan
korban dari keadaan yang sulit dengan cara yang sistematik, melibatkan tehknik penilaian
suasana. stabilisasi, mengeluarkan dan mengangkut korban dari termpat kejadian.
Stabilisasi adalah mengistirahatkan dan menangani korban sesuai dengan kondisi.
Transportasi adalah membawa korban kesarana medis yang sesuai dengan kondisi
korban. Transportasi harus dilakukan dengan waktu yang tepat yang memungkinkan
tindakan life and limb saving secepat mungkin. Direkomendasikan bahwa evakuasi
korban dari tempat kejadian ke fasilitas medis terdekat idealnya dilakukan 1 jam dari
kejadian, dan evakuasi ke fasilitas kesehatan level 2 atau 3 harus tidak lebih dari 4 jam
dari waktu kejadian.

MEKANIK TUBUH
Mekanik tubuh merupakan potensi seluruh kemampuan tubuh sebagai alat untuk
mengangkat, memindahkan dan mencegah cidera, dilakukan dengan usaha koordinasi
antara muskuloskletal dan system saraf untuk mempertahankan keseimbangan, postur dan
kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak dan melakukan aktivitas.
Prinsip dasar untuk mencegah cedera, adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Rencanakan gerakan sebelum mengangkat penderita,.


Gunakanlah paha untuk mengangkat, bukan punggung (jangan membungkuk).
Usahakan berat benda sedekat mungkin pada tubuh.
Prinsip susunan (Stack)- satukan gerak tubuh dalam satu kesatuan gerak.

Bayangkan bahu kita sebagi satu susunan dengan panggul, dan tungkai.
5. Kurangi jarak atau ketinggian, bila memindahkan sebuah benda (pusat gravitasi : 55
57 % tinggi badan).
Gunakan prinsip-prinsip diatas untuk memindahkan, menarik, menekan, membawa atau
menggapai suatu benda. Kuncinya adalah garis lurus dari tulang belakang yaitu dengan
menjaga kurva dari punggung bawah dalam garis normal dan pergelangan dan lutu dalam
satu garis normal.

TEKNIK PEMINDAHAN DAN PENGANGKATAN KORBAN

Anda mungkin juga menyukai