Anda di halaman 1dari 29

ABSTRAK

Herlina Susilowati, S.Pd. BIIKIN SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN


KARAKTER WIRAUSAHA. Karya Nyata pengelola lembaga kursus Kabupaten
Pati Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan latar belakang, fenomena usaha, pendidikan, pengangguran dapat di
tarik suatu permasalahan untuk menulis Karya Nyata di LKP Shalma di Kecamatan
Tlogowungu Kabupaten Pati di Provinsi Jawa Tengah permasalahan meliputi (1)
memberdayakan program life skill untuk berwirausaha atau usaha mandiri; (2)
mengimplementasikan learning by doing dalam upaya keterserapan peserta didik
pada dunia usaha dan dunia industri; (3) kendala yang dihadapi adalah kurangnya
kemauan peserta didik untuk mengeluarkan biaya dalam mengikuti kursus; (4) Tindak
lanjut Management Human Resource mengharapkan kerjasama pihak sekolah baik
tingkat SLTP/SLTA di Kabupaten Pati untuk memberikan informasi tentang identitas
para siswa yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih lanjut.
Strategi penyelesaian masalah dalam karya nyata menggunakan strategi manajemen
SDM. Tujuan dari pembuatan karya nyata yaitu ada dua yaitu tujuan umum dan
tujuan khusus. Tujuan umum yaitu membantu program pemerintah untuk mengurangi
pengangguran yang berdampak pengentasan kemiskinan, meningkatkan pendapatan
daerah, yang berdampak pada perkembangan pembangunan daerah pula. Adapun
tujuan khusus yaitu (1) meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik; (2)
memberdayakan potensi sumber daya manusia (peserta didik) untuk memanfaatkan
bakat, imajinasi dan kreatifitas untuk menciptakan produk berupa barang atau jasa;
(3) mendorong peserta didik untuk berkarakter wirausaha; (4) memotivasi peserta
didik untuk mampu bersaing dalam mencari peluang kerja (job opportunities) ataupun
usaha sendiri.

Sistem pembelajaran dengan learning and doing. Adapun hasilnya adalah BIIKIN
ENTREPRENEUR singkatan dari (Bekerja keras tidak pernah putus asa, Imajinasi
yang kuat, Ingin tampil beda, Kreatif, INovatif) merupakan kata kunci Karya Nyata.
Kata Kunci : Bekerja keras tidak pernah putus asa, Imajinasi yang kuat, Ingin
tampil beda, Kreatif, INovatif, Life Skill, Human Resource, Strategy
Management.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Fenomena usaha dalam kompetisi semakin keras, kondisi itu mendorong dunia usaha
mencari agar bisa menekan biaya yang layak dan efisien agar mampu bersaing.
Konsentrasi industri bergeser dari negara barat ke Negara berkembang di Asia karena
tidak dapat menyaingi biaya murah di Republik Rakyat Cina (RRC) dan Negara
Jepang. Negara-negara Asia lainnya termasuk Indonesia mulai menyadari bahwa saat
ini tidak hanya mengandalkan supremasi di bidang industri lagi tetapi mereka lebih
mengandalkan sumber daya manusia yang kreatif.
Menurut Depdiknas (2006:22) kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki
seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar
tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta
menemukan pemecahannya sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Pusat Data Statistik Pendidikan Kemdikbud 2011/2012 jumlah anak putus sekolah
(drop out) SMK/SMU/MA ditambah lulusan SLTP, SLTA tidak melanjutkan ke

pendidikan lebih tinggi sebesar 1,6 juta anak/tahun. Angka kemiskinan di Indonesia
sebesar 28,55 juta jiwa atau sebesar 11,4% dari total penduduk Indonesia (Sumber :
Sensus BPS, September 2013). Angka pengangguran terbuka di Indonesia sebesar 7,4
juta jiwa atau 6,25 % dari jumlah angkatan kerja sebesar 118,2 juta jiwa (Sumber :
Sakernas BPS bulan Agustus, 2013).
Berdasarkan hal tersebut di dalam dunia pendidikan melalui pendidikan non formal
peran lembaga kursus dan pelatihan dalam hal ini LKP Shalma membekali generasi
muda putus sekolah (drop out) yang ada di Kabupaten Pati dengan pendidikan life
skill. Pada pendidikan life skill dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta
didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Di LKP Shalma
program pendidikan life skill meliputi berbagai program yaitu program tata
kecantikan rambut (TKR), tata rias pengantin (TRP) dan menjahit.
Program life skill yang ada di LKP Shalma dapat dijadikan solusi untuk memecahkan
berbagai masalah sosial seperti kenakalan remaja, kriminalitas, narkoba, premanisme
yang akan mengganggu pembangunan dan stabilitas nasional.
Dengan mewujudkan visi dan misi lembaga kursus dan pelatihan di LKP Shalma
dapat mewujudkan peserta didik yang berjiwa entrepreneur melalui pendidikan life
skill dengan strategi pembelajaran mengarah pada teori learning by doing agar
bermanfaat bagi mitra LKP baik dari dunia usaha/industri dan entrepreneurship.
Dengan mewujudkan misi dan visi lembaga kursus dan pelatihan lembaga
SHALMA dalam mencetak pesertaa didik berjiwa interpreiner melalui program life
skill dengan pendekatan pelatihan learning by doing dengan semboyan doso muko
dengan seribu hasta , agar bermanfaat bagi mitra LKP baik dunia usaha-dunia
industri (DUDI), pemasok bahan salon kecantikan masyarakat.

B. MASALAH DAN TUJUAN


1. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang sudah disusun maka permasalahan penelitian diatas
sebagai berikut :
a. Bagaimana prosedur pelaksanaan Human Resource sebagai strategi dalam
pembentukan karakter wirausaha oleh peserta didik ?
b. Bagaimana hasil atau dampak yang dicapai dalam melaksanakan strategi
Management Human Resource sebagai strategi dalam pembentukan karakter
wirausaha oleh peserta didik dalam melayani masyarakat?
c. Bagaimana kendala yang dihadapi dalam melaksanakan strategi Management
Human Resource sebagai strategi dalam pembentukan karakter wirausaha oleh
peserta didik?
d. Bagaimana faktor pendukung untuk mengimplementasikan Human Resource
sebagai strategi dalam pembentukan karakter wirausaha oleh peserta didik?
e. Bagaimana tindak lanjut Management Human Resource sebagai strategi dalam
pembentukan karakter wirausaha oleh peserta didik ?
2. TUJUAN
Berdasarkan permasalahan tersebut maka tujuan penyusunan karya nyata ini adalah
sebagai berikut:
a. Dapat memberikan gambaran umum tentang implementasi pelaksanaan Human
Resource sebagai strategi pembentukan karakter wirausaha oleh peserta didik.
b. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau dampak positif dari pelaksanaan
strategi Human Resource sebagai strategi dalam pembentukan karakter wirausaha
oleh peserta didik dalam melayani masyarakat.
c. Dapat mengetahui kendala yang dihadapi dalam melaksanakan strategi
Management Human Resource sebagai strategi dalam pembentukan karakter
wirausaha oleh peserta didik.
d. Dapat mengetahui faktor pendukung dalam melaksanakan implementasi Human

Resource sebagai strategi dalam pembentukan karakter wirausaha oleh peserta didik.
e. Mengetahui tindak lanjut Management Human Resource sebagai strategi dalam
pembentukan karakter wirausaha oleh peserta didik

C. STRATEGI PEMECAHAN MASALAH


1. Alasan Pemilihan Strategi
Strategi pemecahan masalah dengan menggunakan teori manajemen sumber daya
manusia (Human Resources) yaitu : proses penerimaan sumber daya manusia, seleksi,
pengembangan dan pemanfaatan sumber daya manusia dalam rangka mencapai
tujuan (Waytee Casio dan Ellyas M Awad, 2006). Pengembangan SDM adalah
menyiapkan pelatihan-pelatihan yang dilakukan secara berkelanjutan untuk
menyiapkan tantangan masa depan. Secara praktek dapat disusun bagan sebagai
berikut :

Berdasarkan uraian di atas dapat jelaskan sebagai berikut :

1. Alasan pemilihan strategi pemecahan masalah (pemecahan masalah secara


teoritis). Untuk mengatasi persaingan pasar produk dari Negara Asia tetangga
khususnya Republik Rakyat Cina (RRC) yang harganya sangat bersaing,
maka kita perlu meningkatkan kreatifitas/inovasi industri kecil diantaranya
kerajinan yang berbasis ketrampilan agar menciptakan efisiensi biaya untuk
mampu mengatasi persaingan harga maupun kualitas. Memanfaatkan SDM
khususnya peserta didik dari generasi muda usia produktif, tidak mampu dan
drop out pengangguran yang betul-betul belum memiliki penghasilan tetapi
memiliki kemauan yang kuat untuk mengikuti kursus pelatihan.
2. Deskripsi strategi pemecahan masalah yang dipilih
Deskripsi strategi adalah merupakan gambaran umum dari strategi manajemen SDM.
Dalam Karya Nyata ini kita menggunakan teori manajemen SDM menurut Caria
(2006) bahwa pembelajaran organisasi adalah proses dinamis yang meningkatkan
organisasi untuk cepat mengubah dan disesuaikan. Proses ini mencakup
menghasilkan pengetahuan baru dan perilaku ketrampilan. Dalam Karya Nyata ini
pembelajaran pengembangan SDM berfokus kepada imajinasi, kreatifitas dan inovasi.
Untuk memberikan gambaran umum yang lebih jelas maka, kami sajikan penjelasan
sebagai berikut :
1. Imajinasi
Imjinasi adalah kemampuan berangan-angan untuk mengembangkan kreatifitas dan
inovasi. Kreatifitas dan inovasi dapat menciptakan barang yang tidak terpakai
menjadi suatu produk yang baru, (Prof. Dr. Utami Munandar, 1996). Jenis inovasi ada
dua yaitu verbal (kata-kata) dan virtual (gambar-gambar) (Robertson, 2009).
2. Kreatifitas

Kreatifitas adalah kegiatan orang-orang untuk memecahkan masalah dan ide-ide


untuk tujuan lain, tapi juga mengembangkan rencana-rencana yang memadai untuk
melaksanakan ide-ide baru (Shalley C E, 2004). Berguna tentang produk, praktek dan
prosedur.
3. Inovasi
Inovasi berasal dari kata innovare yang berarti membuat sesuatu yang baru (Tioo,
2001). Menurut kajian ilmiah inovasi di kelompokkan menjadi tiga pasangan yaitu :
1. Inovasi teknis dan administrasi. 2. Inovasi produk dan jasa. 3. Inovasi radikal dan
inovasi bertahap. Dengan teori tersebut di atas penulis menggambarkan diagram
BIIKIN sebagai berikut :

BAB II
PEMBAHASAN
A. PROSEDUR PELAKSANAAN KARYA NYATA
Karya nyata adalah pengalaman langsung, bukan gagasan/ide yang akan
dilaksanakan, memiliki nilai, keunggulan kekhasan dan keunikan tertentu. pada
prosedur pelaksanaan karya nyata ini peserta didik yang diberikan pelatihan adalah
pengangguran/tuna karya khususnya generasi muda usia produktif, tidak mampu,
drop out. Dalam strategi penerimaan peserta didik baru dengan pendekatan sumber
daya manusia di dalam proses management SDM terdapat 8 proses yang dilakukan
yaitu (Robbins dan Coulter, 2007).
1. Prencanaan sumber daya manusia PPDB
2. Recruitmen dan decruitmen
3. Seleksi
4. Orientasi
5. Pelatihan
6. Manajemen kinerja
7. Kompensasi dan benefit
8. Pengembangan pencitraan
Penerimaan peserta didik baru merupakan salah satu penentuan keberhasilan suatu
lembaga kursus. Cara penerimaan peserta didik baru di LKP Shalma dengan media

publikasi yaitu dengan siaran radio pemasangan pamvlet baliho sehingga LKP
Shalma dapat mensosialisasikan profil LKP Shalma jenis program, kemitraan dengan
DU/DI dan pencitraan interprainer kisah succes story khususnya peserta didik baru,
strategi penerimaan PPDB dengan pendekatan sumber daya manusia melalui :

Implementasi terhadap 8 proses manajemen SDM yang dilakukan LKP SALMA yaitu
:
1. Perencanaan sumber daya manusia merupakan agenda program kerja yang
disusun oleh LKP SALMA untuk mendata siswa yang tidak mampu
melanjutkan, drop out menganggur dengan target jumlah siswa yang di
tentukan pertahunnya sesuai dengan sarana dan prasarana yang kita miliki.
Bekerjasama dengan lembaga pendidikan formal untuk menjalin kerjasama
melalui bimbingan guru BK (Bimbingan Konseling)
Contoh : MOU dengan MAN 01 PATI, MOU dengan MA ASSALAMAH.

2. Rekrutmen dan dekrutmen, rekrutmen adalah proses penerimaan peserta didik


baru dari generasi muda usia produktif, tidak mampu dan putus sekolah.
Penerimaan peserta didik baru merupakan salah satu penentu keberhasilan
suatu lembaga kursus.
Cara rekrutmen peserta didik baru di LKP Shalma yaitu :
1. Siaran Radio
2. Pemasangan Baliho

1. Melalui sosial media (facebook, tweeter, website dll)


Strategi penerimaan peserta didik baru dengan pendekatan sumber daya manusia
melalui :

email : lkpshalma@yahoo.com

Website : lkpshalma.wordpress.com

4. Orientasi adalah pengenalan peserta didik terhadap program kursus LKP Shalma
pada bidang tata kecantikan rambut, tata rias pengantin dan menjahit baik program
metode pembelajaran yang berakhir dengan uji kompetensi yang dilaksanakan oleh
LSK (Lembaga Sertifikasi Kompetensi), LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi).
5. Pelatihan peserta didik dengan metode eksperimen, eksperimen skill dalam
melaksakan KBM (Kegiatan Belar Mengajar) dengan metode learning by doing
management kinerja LKP SALMA dengan management pengembangan SDM jenis
progaram pelatihan tata kecantikan rambut TKR (Tata Kecantikan Rambut).

a. Kecantikan rambut dengan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi program


kegiatan belajar untuk tata kecantikan rambut di kemas dalam bentuk level kualifikasi
yunior style dan stylist setiap tingkat atau level jabatan mempunyai program yang
terdiri dari :
1) umum
2) inti
3) khusus
Dengan alokasi waktu @ jam 60 menit di LKP SALMA peserta didik menggunakan
SKL (Standart Kompetensi Kelulusan) dan kewirausahaan
Level : 2
Jabatan : yunior stylist, tingkat dasar,
Mata pelajaran umum : 26 jam,
Mapel inti : 178 jam,
Mapel khusus : 4 jam,
Kewirausahaan : 2 jam,
Jumlah total : 210 jam.

Level : 3
Jabatan

stylist

Mapel umum

30 jam,

Mapel inti

: 306 jam,

Mapel khusus

Kewirausahaan

: 2 jam,

Jumlah total

4 jam,

340 jam

1. Tata rias pengantin dapat merias penganten solo putri, pengantin modifikasi.
2. Bidang menjahit membuat souvenir berupa tas hajatan.

1. Manajemen kinerja lembaga LKP SALMA dapat menjalankan fungsi


management planing, organizing, actuicting, controlling. Telah dinilai
penilaian kinerja oleh P2PNFI.

1. Kompensasi LKP Shalma dalam memberikan kompensasi terhadap peserta


didik yaitu peserta didik yang berprestasi akan dibebaskan dari pembiayaan
kursus dalam sistem paket.
2. Pengembangan karir LKP Shalma kepedulian dalam pengembangan karir baik
alumni atau peserta didik diberikan workshop untuk produk-produk kosmetik
yang terbaru.
B. HASIL ATAU DAMPAK YANG DI CAPAI LKP SHALMA
Adapun hasil unggulan, kekhasan, keunikan, LKP Shalma mempunyai 4 (empat)
produk yaitu produk barang, produk jasa kecantikan, produk konsultan dan produk
kemitraan usaha dengan alumni peserta didik. Di LKP Shalma mempunyai 3 (tiga)
program yaitu tata kecantikan rambut, tata rias pengantin dan menjahit.

Hasil yang dicapai LKP Shalma dibidang tata kecantikan rambut (TKR) meliputi :
Peserta didik yang bekerja di salon kecantikan

3. Keunikan LKP Shalma peserta didik membuat produk inovatif dengan


pemanfaatan limbah potongan rambut berupa kerajinan membuat sanggul, subal
sunggar dan sambung rambut (Haier extention)

Juara III Cat Walk

Juara I kategori busana hijab

Juara II kategori performance


1. Layanan Masyarakat

Layanan masyarakat bidang sosial (CSR) LKP Shalma membuka :

Jasa salon kecantikan yang melayani perawatan kulit kepala, pangkas rambut,

rebonding/smoothing, pewarnaan rambut yang pelaksanaannya dilakukan oleh siswa


dan sekaligus belajar langsung melayani customer.

8. Kemitraan dengan lembaga pemerintah


Dinas pendidikan Kabupaten Pati memberikan pelatihan program kecakapan hidup

9. Kemitraan dengan alumni dengan meminjami peralatan salon dengan perjanjian


pembayaran berjangka dan pemberian peralatan sederhana
(lampiran tanda terima peralatan sederhana)
Hasil yang di capai LKP Shalma di bidang menjahit meliputi :
Dibidang menjahit peserta didik memperoleh implementasi pelajaran kewirausahaan
dengan cara pembelajaran membuat tas souvenir/tas hajatan. Peserta didik juga
mendapatkan income dari membuat tas hajatan yang bisa digunakan untuk
akomodasi/transport pada saat mengikuti pelatihan. Kemitraan dengan alumni peserta
didik diberi order dengan sistim upah dari LKP. Peserta didik juga difungsikan
sebagai tenaga penjual/penyalur produk tas.
Kekhasan pembelajaran menjahit LKP Shalma, peserta didik dalam melaksanakan
pembelajaran pelatihan menjahit dengan sistim final. Pembelajaran pelatihan
menjahit dengan sistim final yaitu mulai teori proses produksi, produk jadi
dilanjutkan sampai pemasaran. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Untuk produk tas ada dua macam yaitu (1) produk standar di jual untuk umum yaitu

di pasar tradisional (Pati, Rembang, Blora dan Kudus); (2) produk dalam bentuk
pesanan (order) khusus dari para user yaitu perorangan atau kelompok. Contoh :
komunitas pengajian, komunitas masyarakat.
Dalam pembuatan produk tas peserta didik diberikan pelatihan design, memotong
kain atau bahan yang efisien, mengaplikasikan atau memadukan kombinasi warna,
sistim menjahit yang baik dan benar, menyusun dan menyimpan hasil produk dalam
ruangan. Untuk meningkatkan pelayanan dapat pesan lewat telepon/HP maupun lewat
akses internet, pemasaran juga menggunakan media brosur (brosur terlampir).
Pesanan dalam jumlah tertentu diantar sampai alamat user. Bilamana ada keluhan dari
user cepat ditangani oleh tenaga professional yang dibantu oleh peserta didik.

Produk unggulan LKP Shalma dalam bidang menjahit peserta didik membuat
kerajinan tas dengan free design, artinya sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya
dengan biaya gratis.

Melayani kursus tata rias pengantin dan menerima jasa rias pengantin gaya Solo putri,
gaya Jogja, gaya pengantin muslim, pengantin modifikasi.
C. KENDALA YANG DI HADAPI
Dalam pelaksanaan strategi Human Resource terdapat kendala yang dihadapi di
lapangan yaitu ;
1. Kurangnya sosialisasi oleh Pemerintah/Instansi terkait mengenai manfaat dari
lembaga kursus dan pelatihan.
2. Terbatasnya budget internal dalam pelaksanaan kursus dan pelatihan.
3. Kemauan peserta didik untuk mengikuti kursus masih rendah karena terbatasnya
kemampuan untuk mengeluarkan biaya dan rendahnya kemampuan SDM.
4. Kurangnya promosi LKP dalam perekrutan peserta didik.
5. Terbatasnya sarana dan prasarana LKP yang belum optimal sesuai dengan SOP
(standar operasional).

6. Biaya yang sangat tinggi untuk mengikuti uji kompetensi baik yang
diselenggarakan oleh LSK (Lembaga Sertifikasi Kompetensi) dan LSP (Lembaga
Sertifikasi Profesi).
7. Terbatasnya subsidi Pemerintah untuk mensubsidi pelaksanaan kursus untuk sarana
dan prasarana.
D. FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG
Banyak faktor pendukung yang menjadikan strategi Human Resource dapat
terlaksana untuk menciptakan karakter berwirausaha dan bermanfaat bagi masyarakat
pada umumnya. LKP Shalma telah memiliki tenaga instruktur yang telah berijazah
dan bersertifikat sesuai dengan bidang kompetensinya.
Sarana fisik gedung mebeler dan peralatan praktek yang canggih. Sarana dan
prasarana ATK dan media pembelajaran dengan menggunakan proyektor dan
peralatan audio visual. Letak LKP Shalma yang strategis pinggir jalan raya PatiTlogowungu, bersebelahan dengan Masjid Tlogowungu dan berada tepat di depan
Puskesmas.

E. TINDAK LANJUT DESEMINASI


Deseminasi adalah suatu kegiatan kepada kelompok masyarakat/ individu agar
memperoleh informasi timbul kesadaran yang akhirnya memanfaatkan informasi
tersebut. LKP Shalma menjalin kerjasama dengan guru BK di MAN 01 Pati dan MA
Assalamah untuk mencatat siswa yang tidak melanjutkan sekolah dan drop out untuk
mengikuti kursus tata kecantikan rambut, tata rias pengantin serta melakukan
kerjasama dengan Kepala Desa khususnya Desa Tlogowungu dan sekitarnya untuk
mencatat generasi muda putus sekolah dan drop out untuk mengikuti kursus.
Tindak lanjut untuk DUDI tetap menjaga kerjasama bilamana membutuhkan tenaga
kerja di bidang tata kecantikan rambut, tata rias pengantin dan menjahit. LKP Shalma

membutuhkan saran dan kritik dari DUDI yang berguna untuk menghasilkan SDM
yang berkompeten dengan melaksanakan angket kepuasan pelanggan.

BAB III
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. SIMPULAN
Dari uraian di atas dapat di ambil beberapa simpulan sebagai berikut:
1. LKP Shalma mewujudkan hasil karyanya sesuai dengan teori SDM/Management
Human Resource yang realitanya dapat menciptakan karakter berwirausaha atau
menjadi karyawan yang kreatif dan berkembang menjadi wirausaha pemula.
2. Keberhasilan Management Human Resource dalam pembentukan karakter
wirausaha tata kecantikan rambut dapat dilihat dari keterserapan peserta didik di
dunia usaha/industri dan banyaknya peserta didik yang berwirausaha dalam membuka
salon kecantikan. Selain membuka salon kecantikan peserta didik ada yang
berwirausaha membuat sanggul, subal sunggar, haier extention dari limbah pangkas
rambut. Dengan wirausaha tersebut peserta didik dapat meningkatkan kehidupan
secara individu dengan bertambahnya income keluarga sehingga berdampak pada
peningkatan kehidupan para alumni khususnya masyarakat yang semuanya dapat
mendukung program pemerintah daerah Pati pada khususnya.
Dalam bidang menjahit peserta didik dapat membuat produk kerajinan tas dengan
model standard dan free design yang di pasarkan di pasar, sebagai agen penerimaan
dari masyarakat, komunitas haji, komunitas pengajian dll sehingga mereka dapat
meningkatkan income keluarga. Dalam bidang tata rias pengantin dapat menerima
jasa rias pengantin.
3. Beberapa kendala yang dihadapi dalam strategi Human Resource yaitu kurangnya
sosialisasi dari Pemerintah (mitra LKP) mengenai manfaat dari LKP. Masih
rendahnya kemauan masyarakat untuk mengeluarkan biaya dalam rangka mengikuti
program kursus.
4. Faktor pendukung strategi Human Resource sebagai strategi pembentukan karakter
berwirausaha dengan didukung oleh tenaga instruktur yang kompeten sesuai dengan
ijazah dan program pelatihan. Sarana fisik gedung mebeler peralatan praktek yang

memenuhi memudahkan siswa untuk bekerja di salon kecantikan/wirausaha pemula


dalam mendirikan salon kecantikan.
5. Tindak lanjut dari strategi Human Resource strategi pembentukan karakter
berwirausaha dapat mensosialisasikan semua kegiatan dan hasil dari kursus ke publik
atau masyarakat sehingga member manfaat kepada DUDI atau institusi lembaga yang
kita jalin dalam rekrutmen peserta didik khususnya MAN 01 Pati dan MA Assalamah
Pati.
B. REKOMENDASI
Karya Nyata direkomendasikan untuk mitra/pihak-pihak terkait dalam strategi
Human Resource sebagai strategi pembentukan karakter wirausaha kepada :
1. Pemerintah daerah, mitra LKP, instansi terkait lebih memperluas sosialisasi
mengenai lembaga kursus dan pelatihan.
2. Pihak sekolah agar selalu kerjasama dengan lembaga kursus dan pelatihan dalam
upaya mengatasi siswa yang tidak melanjutkan dan putus sekolah agar melaporkan ke
lembaga LKP.
3. DUDI sebagai mitra senantiasa memberikan saran untuk peningkatan kompetensi
peserta didik.
4. Pemerintah daerah segera membuat tempat uji kompetensi tata kecantikan rambut
dengan biaya murah bahkan gratis sehingga mempermudah peserta didik memperoleh
sertifikat kompetensi.

DAFTAR PUSTAKA
Madjar, N., Oldham, G. R., & Pratt, M. G. (2002). Theres no place like home? The
contributions of work and non-work creativity support to employees creative
performance. Academy of Management Journal. 45,757-767.
Pittaway, L., Robertson, M., Munir, K., Denyer, D., & Neely, A. (2004). Networking
and innovation: A systematic review of the evidence. International Journal of
Management Reviews, 5/6(3/4), 137-168.
Arenius, P. (2005). A network based approach on opportunity recognition. Small
Business Economics, 24 (3), 249-265.
Uzzi, B., L.A.N Amaral & F. Reed-Tsochas (2007), Small-World Networks and
Management Science Research : A Review, European Management Review 4, 77-91
Baker, W.E. and Sinkula, J.M., (1999). The synergistic effect of market orientation
and learning orientation on organizational performance. J. Acad. Market. Sci., 27,
411-427.
Rakhsh. P, Ebadollah A. (2011), Creativity, organizational learning, and operation.
International Conference on Education and Management Technology IPEDR vol.13.
Robbins, S.P., & Coulter, M.2007, Management, Ninth Edition. New Jersey: Pearson
Education, Inc.
Departemen Pendidikan Nasional, (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.