Anda di halaman 1dari 27

Anatomi dan Fisiologi Darah

Kebanyakan sel pada organisme multiselular yang tidak dapat berpindah tempat untuk
mendapatkan oksigen dan nutrisi ataupun untuk mengeluarkan karbon dioksida dan zat-zat
sisa lainnya. Namun untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan 2 cairan yaitu darah dan
cairan interstisial. Darah adalah jaringan penghubung yang terdiri dari sebuah cairan metrix
ekstraselular yang disebut sebagai plasma darah yang larut dan mengandung berbagai jenis
sel dan fragmen sel. Cairan interstisial adalah cairan yang merendam badan sel, dimana
cairan ini berada di sekeliling sel dan cairan ini selalu diperbaharui oleh darah. Darah
bertugas untuk transportasi oksigen oksigen dari paru-paru da nutrisi dari saluran cerna
dengan berdifusi dari darah ke cairan interstisial lalu ke badan sel. Karbondioksida dan zat
sisa lainnya juga bergerak dengan berlawanan arah dari sebelumnya, dari badan sel ke cairan
interstisial lalu ke darah. Setelah itu zat sisa tersebut ditranspor ke paru-paru dan saluran
cerna, ginjal, kulit dan lainnya. Darah membentuk 6 sampai 8% dari berat badan tubuh total,
volume darah secara keseluruhan kira kira 5 liter. Tiga jenis sel darah utama adalah sel
darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Cairan
kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah membentuk
55% dari volume darah total. Sedangkan 45% sisanya adalah sel darah.
Fungsi Darah Pada Tubuh Manusia :
1. Fungsi utama darah adalah untuk transportasi
2. Eritrosit tetap berada dalam system sirkulasi
Mengangkut Hemoglobin (Hb) mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan,

Hb merupakan pengatur keseimbangan asam basa


Mengkatalisis reaksi CO2 dan air secara cepat dengan bantuan enzim karbon

anhidrase
3. Leukosit bertanggung jawab terhadap pertahanan tubuh dan diangkut oleh darah ke
berbagai jaringan tepat sel sel tersebut melakukan fungsi fisiologiknya.
4. Trombosit berperan mencegah tubuh kehilangan darah akibat perdarahan.
5. Plasma merupakan pengangkut utama zat gizi dan produk sampingan metabolik ke organorgan tujuan untuk penyimpanan atau ekskresi.
6. Eosinofil berperan untuk melakukan fagositosis, yaitu memusnahkan setiap sel asing
yang memasuki tubuh.

Hematopoiesis

Hematopoiesis merupakan proses produksi (mengganti sel yang mati) dan


perkembangan sel darah dari sel induk dimana terjadi proliferasi, maturasi dan
diferensiasi sel yang terjadi secara serentak. Proliferasi sel menyebabkan peningkatan
atau pelipat gandaan jumlah sel, dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan
sejumlah sel darah. Maturasi merupakan proses pematangan sel darah, sedangkan
diferensiasi menyebabkan beberapa sel darah yang terbentuk memiliki sifat khusus yang
berbeda-beda.
Tempat terjadinya hematopoiesis pada manusia :
1

Embrio dan Fetus


a. Stadium Mesoblastik, Minggu ke 3-6 s/d 3-4 bulan kehamilan : Sel-sel
mesenchym di yolk sac. Minggu ke 6 kehamilan produksi menurun diganti organorgan lain
b. Stadium Hepatik, Minggu ke 6 s/d 5-10 bulan kehamilan : Menurun dalam waktu
relatif singkat. Terjadi di Limpa, hati, kelenjar limfe
c. Stadium Mieloid, Bulan ke 6 kehamilan sampai dengan lahir, pembentukan di

sumsum tulang : Eritrosit, leukosit, megakariosit.


Bayi sampai dengan dewasa
Hematopoiesis terjadi pada sumsum tulang, normal tidak diproduksi di hepar dan
limpa, keadaan abnormal dibantu organ lain.

Macam-macam hematopoesis
1. Eritrosit (Eritropoesis)
Perkembangan eritrosit ditandai dengan penyusutan ukuran (makin tua makin kecil),
perubahan sitoplasma (dari basofilik makin tua acidofilik), perubahan inti yaitu nukleoli
makin hilang, ukuran sel makin kecil, kromatin makin padat dan tebal, warna inti gelap
Tahapan perkembangan eritrosit yaitu sebagai berikut :
a. Proeritroblas
Proeritroblas merupakan sel yang paling awal dikenal dari seri eritrosit.
Proeritroblas adalah sel yang terbesar, dengan diameter sekitar 15-20m. Inti
mempunyai pola kromatin yang seragam, yang lebih nyata dari pada pola kromatin
hemositoblas, serta satu atau dua anak inti yang mencolok dan sitoplasma bersifat
basofil sedang. Setelah mengalami sejumlah pembelahan mitosis,

proeritroblas

menjadi basofilik eritroblas.


b. Basofilik Eritroblas

Basofilik Eritroblas agak lebih kecil daripada proeritroblas, dan diameternya


rata-rata 10m. Intinya mempunyai heterokromatin padat dalam jala-jala kasar, dan
anak inti biasanya tidak jelas. Sitoplasmanya yang jarang nampak basofil sekali.
c. Polikromatik Eritroblas (Rubrisit)
Polikromatik Eritoblas adalah Basofilik eritroblas yang membelah berkali-kali
secara mitotris, dan menghasilkan sel-sel yang memerlukan hemoglobin yang cukup
untuk dapat diperlihatkan di dalam sediaan yang diwarnai. Setelah pewarnaan
Leishman atau Giemsa, sitoplasma warnanya berbeda-beda, dari biru ungu sampai
lila atau abu-abu karena adanya hemoglobin terwarna merah muda yang berbedabeda di dalam sitoplasma yang basofil dari eritroblas. Inti Polikromatik Eritroblas
mempunyai jala kromatin lebih padat dari basofilik eritroblas, dan selnya lebih kecil.
d. Ortokromatik Eritroblas (Normoblas)
Polikromatik Eritroblas membelah beberapa kali secara mitosis. Normoblas
lebih kecil daripada Polikromatik Eritroblas dan mengandung inti yang lebih kecil
yang terwarnai basofil padat. Intinya. secara bertahap menjadi piknotik. Tidak ada
lagi aktivitas mitosis. Akhirnya inti dikeluarkan dari sel bersama-sama dengan
pinggiran

tipis

sitoplasma.

Inti

yang

sudah

dikeluarkan

dimakan

oleh

makrofagmakrofag yang ada di dalam stroma sumsum tulang.


e. Retikulosit
Retikulosit adalah sel-sel eritrosit muda yang kehilangan inti selnya, dan
mengandung sisa-sisa asam ribonukleat di dalam sitoplasmanya, serta masih dapat
mensintesis hemoglobin. Retikulosit dianggap kehilangan sumsum retikularnya
sebelum meninggalkan sumsum tulang, karena jumlah retikulosit dalam darah perifer
normal kurang dari satu persen dari jumlah eritrosit. Retikulosit terdapat baik pada
sumsum tulang maupun darah tepi. Di dalam sumsum tulang memerlukan waktu
kurang lebih 2 3 hari untuk menjadi matang, sesudah itu lepas ke dalam darah.
f. Eritrosit
Eritrosit merupakan produk akhir dari perkembangan eritropoesis. Sel ini
berbentuk lempengan bikonkaf dan dibentuk di sumsum tulang. Pada manusia, sel ini
berada di dalam sirkulasi selama kurang lebih 120 hari. Jumlah normal pada tubuh
laki laki 5,4 juta/l dan pada perempuan 4,8 juta/l. setiap eritrosit memiliki
diameter sekitar 7,5 m dan tebal 2 m.
Perkembangan normal eritrosit tergantung pada banyak macammacam faktor,
termasuk adanya substansi asal (terutama globin, hem dan besi). Faktor-faktor lain,
seperti asam askorbat, vitamin B12, dan faktor intrinsic (normal ada dalam getah
lamung), yang berfungsi sebagai koenzim pada proses sintesis, juga penting untuk
pendewasaan normal eritrosit.
3

2. Leukosit
- Leukosit Granulosit / myelosit
Myelosit terdiri dari 3 jenis yaitu neutrofil, eosinofil dan basofil yang
mengandung granula spesifik yang khas. Tahapan perkembangan myelosit yaitu :
1) Mieloblas
Mieloblas adalah sel yang paling muda yang dapat dikenali dari seri
granulosit. Diameter berkisar antara 10-15m. Intinya yang bulat dan besar
memperlihatkan kromatin halus serta satu atau dua anak inti.
2) Promielosit
Sel ini agak lebih besar dari mielobas. Intinya bulat atau lonjong, serta
anak inti yang tak jelas.
3) Mielosit
Promielosit berpoliferasi dan berdiferensiasi menjadi mielosit. Pada
proses diferensiasi timbul grnula spesifik, dengan ukuran, bentuk, dan sifat
terhadap pewarnaan yang memungkinkan seseorang mengenalnya sebagai
neutrofil, eosinofil, atau basofil. Diameter berkisar 10m, inti mengadakan
cekungan dan mulai berbentuk seperti tapal kuda.
4) Metamielosit
Setelah mielosit membelah berulang-ulang, sel menjadi lebih kecil
kemudian berhenti membelah. Sel-sel akhir pembelahan adalah metamielosit.
Metamielosit mengandung granula khas, intinya berbentuk cekungan. Pada
akhir tahap ini, metamielosit dikenal sebagai sel batang. Karena sel-sel
bertambah tua, inti berubah, membentuk lobus khusus dan jumlah lobi
bervariasi dari 3 sampai 5. Pada masing-masing tahap mielosit yang tersebut
di atas jumlah neutrofil jauh lebih banyak daripada eosinofil dan basofil.
-

Leukosit non granuler


1) Limfosit
Sel-sel precursor limfosit adalah limfoblas, yang merupakan sel
berukuran relatif besar, berbentuk bulat. Intinya besar dan mengandung
kromatin yang relatif dengan anak inti mencolok. Sitoplasmanya homogen
dan basofil. Ketika limfoblas mengalami diferensiasi, kromatin intinya
menjadi lebih tebal dan padat dan granula azurofil terlihat dalam sitoplasma.
2) Monosit
Monosit awalnya adalah monoblas berkembang menjadi promonosit.
Sel ini berkembang menjadi monosit. Monosit meninggalkan darah lalu
masuk ke jaringan, disitu jangka hidupnya sebagai makrofag mungkin 70 hari.

3. Seri Trombosit (Trombopoesis)


4

Pembentukan Megakariosit dan Keping-keping darah Megakariosit adalah sel


raksasa (diameter 30-100m atau lebih). Inti berlobi secara kompleks dan
dihubungkan dengan benang-benang halus dari bahan kromatin. Sitoplasma
mengandung banyak granula azurofil dan memperlihatkan sifat basofil setempat.
Megakariosit membentuk tonjolan-tonjolan sitoplasma yang akan dilepas sebagai
keping-keping darah. Setelah sitoplasma perifer lepas sebagai keping-keping darah,
megakariosit mengeriput dan intinya hancur.

Anemia
Definisi anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin
dan volume pada sel darah merah per 100 ml darah. Anemia menyebabkan jumlah oksigen
yang diikat dan dibawa hemoglobin berkurang, sehingga tidak dapat memenuhi keperluan
jaringan. Beberapa organ dan proses memerlukan oksigen dalam jumlah besar. Bila jumlah
oksigen yang dipasok berkurang maka kinerja organ yang bersangkutan akan menurun,
sedangkan kelancaran proses tertentu akan terganggu.
Akibat anemia bisa berbeda-beda pada setiap tahap kehidupan. Pada anak, anemia
bisa menghambat pertumbuhan fisik dan mentalnya. Pada masa remaja atau dewasa, anemia
bisa menurunkan kemampuan dan konsentrasi serta gairah untuk beraktivitas. Sementara
pada wanita hamil, anemia menyebabkan risiko pendarahan sebelum atau saat melahirkan,
risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau prematur, cacat bawaan, dan cadangan zat
5

besi bayi yang rendah. Anemia yang terjadi pada anak-anak dapat menggangu proses tumbuh
kembangnya. Bahkan perkembangan berpikir juga bisa terganggu dan mudah terserang
penyakit. Anemia yang terjadi pada seseorang bisa muncul karena bawaan (kongenital), akut
atau kronik, tidak berbahaya atau berbahaya menyangkut kehidupan, dan berat atau ganas.
Menurunnya jumlah sel darah merah dalam tubuh juga bisa terjadi karena zat gizi besi
digunakan untuk kepentingan lain (di luar untuk pembuatan sel darah merah). Hal ini terjadi,
misalnya, akibat kekurangan asam lambung, penyakit pada sumsum tulang, kekurangan zat
gizi yang diperlukan untuk pembentukan atau memproduksi sel-sel darah merah seperti asam
folat, vitamin B12, dan lainnya. Anemia bisa berakibat pada gangguan tumbuh kembang,
gangguan kognitif (belajar) serta penurunan fungsi otot, aktivitas fisik dan daya tahan tubuh.
Jika daya tahan tubuh menurun, maka risiko infeksi pun akan meningkat. Anemia bisa terjadi
saat masih bayi. Bila ini terjadi, tentunya bisa berdampak pada prestasi mereka saat usia
prasekolah dan sekolah. Akibatnya, bisa terjadi gangguan konsentrasi, daya ingat rendah,
kapasitas pemecahan masalah dan kecerdasan intelektual (IQ) yang rendah, serta gangguan
perilaku.
Ada beberapa penyebab timbulnya anemia, yaitu:
1. Karena cacat sel darah merah
Sel darah merah mempunyai komponen penyusun yang banyak sekali. Pada umumnya
cacat yang dialami sel darah merah menyangkut senyawa-senyawa protein yang
menyusunnya. Oleh karena kelainan ini menyangkut protein, sedangkan sintesis protein
dikendalikan oleh gen di DNA.
2. Karena kekurangan zat gizi
Anemia jenis ini merupakan salah satu anemia yang disebabkan oleh faktor luar tubuh,
yaitu kekurangan salah satu zat gizi. Anemia karena kelainan dalam sel darah merah
disebabkan oleh faktor konstitutif yang menyusun sel tersebut. Anemia jenis ini tidak dapat
diobati, yang dapat dilakukan adalah hanya memperpanjang usia sel darah merah sehingga
mendekati umur yang seharusnya.
3. Karena perdarahan
Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan kurangnya jumlah sel
darah merah dalam darah, sehingga terjadi anemia. Keadaan ini biasanya terjadi karena
6

kecelakaan dan bahaya yang diakibatkannya langsung disadari. Akibatnya, segala usaha akan
dilakukan untuk mencegah perdarahan dan kalau mungkin mengembalikan jumlah darah ke
keadaan semula, misalnya dengan tranfusi.
4. Karena Autoimun
Dalam keadaan tertentu, sistem imun tubuh dapat mengenali dan menghancurkan bagianbagian tubuh yang biasanya tidak dihancurkan. Keadaan ini sebanarnya tidak seharusnya
terjadi dalam jumlah besar. Bila hal tersebut terjadi terhadap sel darah merah, umur sel darah
merah akan memendek karena dengan cepat dihancurkan oleh sistem imun.

Gejala umum anemia atau sindrom anemia diantaranya adalah :

Rasa lemah
Cepat lelah
Telinga berdenging
Mata berkunang-kunang
Kaki terasa dingin
Sesak nafas
Dispepsia
Palpitasi

Klasifikasi Anemia
Terdapat beragam jenis pengklasifikasian anemia, pada klasifikasi anemia menurut
morfologi, mikro dan makro menunjukkan ukuran pada sel darah merah sedangkan kromik
menunjukkan warnanya. Secara morfologi, pengklasifikasian anemia terdiri atas:
a. Anemia normositik normokrom
Patofisiologi anemia ini terjadi karena pengeluaran darah atau destruksi darah yang
berlebih sehingga menyebabkan Sumsum tulang harus bekerja lebih keras lagi dalam
eritropoiesis. Sehingga banyak eritrosit muda (retikulosit) yang terlihat pada gambaran darah
tepi. Pada kelas ini, ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung
hemoglobin dalam jumlah yang normal tetapi individu menderita anemia. Anemia ini dapat
terjadi karena hemolitik, pasca pendarahan akut, anemia aplastik, sindrom mielodisplasia,
alkoholism, dan anemia pada penyakit hati kronik.
b. Anemia makrositik normokrom
7

Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom
karena konsentrasi hemoglobinnya normal. Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau
terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan atau
asam folat. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker, sebab terjadi gangguan pada
metabolisme sel
c. Anemia mikrositik hipokrom
Mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam jumlah yang
kurang dari normal. Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi),
seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik, atau
gangguan sintesis globin, seperti pada talasemia (penyakit hemoglobin abnormal kongenital).
Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau
oleh penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak, atau akibat
pardarahan kronik karena polip pada kolon, penyakit-penyakit keganasan, hemoriod atau
menstruasi. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolisis,
terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau
karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan
dimana sel darah merah itu sendiri terganggu atau macam gangguan herediter adalah:
Hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan, misal nya anemia

sel sabit.
Gangguan sintetis globin misalnya talasemia.
Gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter.
Defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase).

Berikut adalah pengklasifikasian anemia menurut etiologinya:


1

Anemia aplastik
Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di sumsum tulang yang

dapat menimbulkan kematian, pada keadaan ini jumlah sel-sel darah yang dihasilkan tidak
memadai. Penderita mengalami pansitopenia yaitu kekurangan sel darah merah, sel darah
putih dan trombosit. Secara morfologis sel-sel darah merah terlihat normositik dan
normokrom, hitung retikulosit rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang menunjukkan
suatu keadaan yang disebut pungsi kering dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi
8

pergantian dengan jaringan lemak. Langkah-langkah pengobatan terdiri dari mengidentifikasi


dan menghilangkan agen penyebab. Namun pada beberapa keadaan tidak dapat ditemukan
agen penyebabnya dan keadaan ini disebut idiopatik. Beberapa keadaan seperti ini diduga
merupakan keadaan imunologis.

Anemia defisiensi besi


Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik

hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintetis hemoglobin. Defisiensi besi merupakan
penyebab utama anemia di dunia. Khususnya terjadi pada wanita usia subur, sekunder karena
kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil.
Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata mengandung 3 sampai 5 g besi,
bergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya. Hampir dua pertiga besi terdapat dalam
hemoglobin yang dilepas pada proses penuaan serta kematian sel dan diangkut melalui
transferin plasma ke sumsum tulang untuk eritropoiesis. Dengan kekecualian dalam jumlah
yang kecil dalam mioglobin (otot) dan dalam enzim-enzim hem, sepertiga sisanya disimpan
dalam hati, limpa dan dalam sumsum tulang sebagai feritin dan sebagai hemosiderin untuk
kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut.

Anemia megaloblastik

Anemia megaloblastik diklasifikasikan menurut morfologinya sebagai anemia makrositik


normokrom. Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam
folat yang mengakibatkan sintesis DNA terganggu. Defisiensi ini mungkin sekunder karena
malnutrisi, malabsorpsi, kekurangan faktor intrinsik (seperti terlihat pada anemia pernisiosa
dan postgastrekomi) infestasi parasit, penyakit usus dan keganasan, serta agen
kemoterapeutik. Individu dengan infeksi cacing pita (dengan Diphyllobothrium latum) akibat
makan ikan segar yang terinfeksi, cacing pita berkompetisi dengan hospes dalam
mendapatkan vitamin B12 dari makanan, yang mengakibatkan anemia megaloblastik
Walaupun anemia pernisiosa merupakan prototip dari anemia megaloblastik defisiensi
folat lebih sering ditemukan dalam praktek klinik. Anemia megaloblastik sering kali terlihat
pada orang tua dengan malnutrisi, pecandu alkohol atau pada remaja dan pada kehamilan
dimana terjadi peningkatan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fetus dan laktasi.
9

Kebutuhan ini juga meningkat pada anemia hemolitik, keganasan dan hipertiroidisme.
Penyakit celiac dan sariawan tropik juga menyebabkan malabsorpsi dan penggunaan obatobat yang bekerja sebagai antagonis asam folat juga mempengaruhi.

Anemia Aplastik
Definisi
Anemia aplastik menurut Hoffbrand, 2005 menyebutkan juga bahwa Anemia aplastik
didefinisikan sebagai pansitopenia yang disebabkan oleh aplasia sumsum tulang, dan
diklasifikasikan menjadi jenis primer dan sekunder.
Definisi lainnya menurut Widjanarko, 2007 merupakan kegagalan hemopoiesis yang
relatif jarang ditemukan namun berpotensi mengancam jiwa.
Ada pula yang mendukung Anemia aplastik merupakan gangguan hematopoesis yang
ditandai oleh penurunan produksi eritroid, mieloid dan megakariosit dalam sumsum tulang
dengan akibat adanya pansitopenia pada darah tepi, serta tidak dijumpai adanya sistem
keganasan hematopoitik ataupun kanker metastatik yang menekan sumsum tulang menurut
Aghe, 2009 .
Prevalensi
Ditemukan lebih dari 70 % anak-anak menderita anemia aplastik. Tidak ada
perbedaan secara bermakna antara laki-laki dan perempuan, tetapi beberapa penelitian
nampak insiden pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Penyakit ini termasuk
10

penyakit yang jarang dijumpai di negara barat dengan insiden 1-3 dalam 1 juta pada setiap
tahunnya. Namun di negara timur seperti Thailand, dan negara asia lainnya seperti indonesia,
Taiwan dan Cina insidennya lebih tinggi.
Insidensi penyakit ini rendah ditemukan pada penelitian prospektif di Britania Raya,
Prancis, Brasil. Kemudian insidensi anemia aplastik secara geografis bervariasi. Kejadiannya
lebih rendah di Eropa, Amerika Utara, Amerika dan Brasil dan lebih tinggi di daerah Asia.
Berdasarkan dari dua penelitian epidemiologi yang dilakukan di Eropa dan Asia dengan
menggunakan metodologi yang sama, angka kejadian penyakit ini di Asia 2 sampai 3 kali
lebih tinggi diibandingkan di negara barat. Variasi dari kejadian ini dapat mencerminkan
perbedaan paparan faktor lingkungan termasuk virus, obat-obatan dan bahan kimia, latar
belakang genetik, kriteria diagnostik dan desain penelitian.
Telah dilakukan penelitian oleh IAAAS (International Agranulocytosis and Aplastic
Anemia Study) suatu penelitian multicenter case-control Internasional mulai dari tahun 1980
sampai 1986 menilai risiko diskrasia darah (agranulositosis dan anemia aplastik)
dihubungkan dengan penggunaan obat-obatan dan faktor risiko lainnya. Walaupun IAAAS
berakhir pada tahun 1986, skema surveilan untuk diskrasia ini dilanjutkan di Barcelona. Data
terbaru mengenai anemia aplastik mengacu pada data tahun 1980 sampai Desember 2003
Selama penelitian terhadap 110.197.224 orang, sebanyak 235 orang telah
teridentifikasikan dan dikonfirmasi menderita anemia aplastik yang memberikan angka
kejadian 2,34 perjuta penduduk pertahun. Pada tabel 1 memperlihatkan spesific incindence
rates (SIR) menurut umur dan jenis kelamin. Spesific incindence rates untuk jenis kelamin
adalah 2,54 untuk laki-laki dan 2,16 untuk wanita.
Umur saat Diagnosis (tahun)

Jumlah

2-14

15-24

25-44

46-64

65

Kasus

N kasus

17

25

22

28

31

123

Kejadian

1,92

2,83

1,52

2,56

5,89

N kasus

12

11

15

31

43

Kejadian

1,43

1,41

1,00

2,58

4,89

Total
Kejadian

Laki-laki

2,54

Wanita
112
2,16
11

Total
N kasus

29

36

37

59

74

Kejadian

1,68

2,16

1,26

2,57

5,33

235
2,34

Tabel 1. Kejadian Anemia Aplastik menurut Umur dan Jenis Kelamin


Sebanyak 235 kasus, 197 kasus anemia aplastik memenuhi kriteria berat atau sangat
berat. Terdapat perbedaan tingkat keparahan ketika faktor umur diperhitungkan proporsi
tertinggi anemia aplastik sangat berat terlihat diantara pasien antara 45 sampai 64 tahun, dan
diantara umur 2 sampai 14 tahun (59,3% dan 48,3%). Proporsi kasus dengan anemia aplastik
sangat berat lebih sedikit pada penelitian ini.

Etiologi
Sebagian besar anemia aplastik tidak diketahui dengan jelas penyebabnya atau
idiopatik dan awalnya bersifat mendadak atau tiba-tiba. Penyakit ini terjadi secara bertahap
sehingga menjadi sulit dalam mencari penyebab kelainan ini karena belum adanya contoh
binatang percobaan yang tepat untuk penelitian yang lebih lanjut mendeteksi dari penyebab
anemia aplastik ini. Sejauh ini penyebab anemia aplastik dapat dibedakan atas penyebab
primer dan sekunder.
Secara etiologi, penyakit ini dapat dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu:
1

Faktor kongenital
Anemia aplastik yang diturunkan : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan
bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan sebagainya.
- Anemia Fanconi, adalah kelainan autosomal resesif yang di tandai oleh defek pada
-

DNA repair dan memiliki predisposisi ke arah leukimia dan tumor padat.
Diskeratosis kongenital, adalah sindrom kegagalan sumsum tulang diwariskan yang
secara klasik muncul dengan triad pigmentasi kulit abnormal, distrofi kuku, dan
leukoplakia mukosa. Diskeratosis kongenital autosomal dominan disebabkan mutasi
pada gen TERC (yang menyandi komponen RNA telomerase) dan pada akhirnya
mengganggu aktivitas telomerase dan pemendekan telomer abnormal.

12

Sindrom Shwachman-Diamond, adalah kelainan autosomal resesif yang ditandai


dengan disfungsi eksokrin pankreas, disostosis metafiseal, dan kegagalan sumsum
tulang. Seperti pada anemia Fanconi, penyakit ini memiliki resiko myelodisplasia

atau leukimia pada usia yang sangat muda.


Aplasia sel darah merah murni/pure red cell anemia (PRCA), yaitu anemia yang
timbul karena kegagalan murni sistem eritroid tanpa kelainan sistem mieloid atau

megakaryosit.
Faktor didapat
Sebagian anemia aplastik didapat bersifat idiopatik sebagian lanilla dihubungkan dengan:
Bahan kimia:
1. Insektisida: chlorade atau DDT
2. Hidrokarbon siklik: benzena & trinitrotoluena
Terdapat kasus anemia aplastik yang fatal dengan pajanan melampaui kadar 100

ppm.pada kadar pajanan yang lebih rendah, perubahan yang terjadi tergantung pada sel yang
menderita kerusakan yang terberat, namun terdapat variasi kerentanan dan bukti terjadinya
keracunan baru akan tampak setelah berminggu-minggu atau bertahun-tahun setelahnya.
Anemia aplastik akibat pajanan terhadap benzena secara mendadak mempunyai
prognosis yang lebih baik dibandingkan anemia aplastik idiopatik. Saat pasien disingkirkan
dari pajanan, sebanyak 40% kasus dapat sembuh total. Bila hiposelularitas bertahan lebih dari
4-6 bulan, penyembuhan tidak mungkin terjadi. Mereka akan terkena anemia aplastik setelah
pajanan dihentikan. Untuk pajanan di bawah 5 ppm, trans-trans muconic acid dalam urun
merupakan biomarker yang lebih baik. Ibu hamil dan menyusui, maupun anak muda tidak
boleh terpajan terhadap benzena dalam pekerjaan.
Obat-obatan :
Banyak obat kemoterapi yang mengsupresi sumsum sebagai toksisitas utamanya;
efeknya tergantung dengan dosis dan dapat terjadi pada semua pengguna. Berbeda dengan hal
tersebut, reaksi idiosinkronasi pada kebanyakan obat dapat menyebabkan anemia aplastik
tanpa hubungan dengan dosis. Hubungan ini berdasarkan dari laporan kasus dan suatu
penelitian internasional berskala besar di Eropa pada tahun 1980 secara kuantitatif menilai
pengaruh obat, terutama analgesic nonsteroid, sulfonamide, obat thyrostatik, beberapa
psikotropika, penisilamin, allopurinol, dan garam emas.
Tidak semua hubungan selalu menyebabkan hubungan kausatif: obat tertentu dapat
digunakan untuk mengatasi gejala pertama dari kegagalan sumsum (antibiotik untuk demam
atau gejala infeksi virus) atau memprovokasi gejala pertama dari penyakit sebelumnya
13

(petekie akibat NSAID yang diberikan pada pasien thrombositopenia). Pada konteks
penggunaan obat secara total. Chloramphenicol, merupakan penyebab utama, namun
dilaporkan hanya menyebabkan anemia aplasia pada sekitar 1/60.000 pengobatan dan
kemungkinan angka kejadiannya sebenarnya lebih sedikit dari itu.
Akibat kehamilan
Pada kehamilan kadang-kadang ditemukan pansitopenia yang disertai aplasia sumsum
tulang yang berlangsungnya bersifat sementara. Mungkin ini disebabkan oleh estrogen
dengan predisposisi genetik, adanya zat penghambat dalam darah atau tidak adanya
perangsang hematopoiesis. Anemia ini sembuh setelah terminasi kehamilan dan dapat
kambuh lagi pada kehamilan berikutnya.
Infeksi
Hepatitis merupakan infeksi yang paling sering terjadi sebelum terjadinya anemia
aplasia, dan kegagalan sum-sum paska hepatitis terhitung 5% dari etiologi pada kebanyakan
kejadian. Pasien biasanya pria muda yang sembuh dari serangan peradangan hati 1 hingga 2
bulan sebelumnya; pansitopenia biasanya sangat berat. Hepatitis biasanya seronegatif (non-A,
non-B, non-C, non-G) dan kemungkinan disebabkan oleh virus baru yang tidak terdeteksi.
Anemia aplastik terkadang terjadi setelah infeksi mononucleosis, dan virus Eipsten-Barr telah
ditemukan pada sum-sum pada sebagian pasien, beberapanya tanpa disertai riwayat penyakit
sebelumnya. Parvovirus B19, penyebab krisis aplastik transient pada anemia hemolitik dan
beberapa PRCA (Pure Red Cell Anemia), tidak biasanya menyebabkan kegagalan sum-sum
tulang yang luas.
Radiasi
Aplasia sumsum tulang merupakan akibat akut yang utama dari radiasi dimana stem
sel dan progenitor sel rusak. Radiasi dapat merusak DNA dimana jaringan-jaringan dengan
mitosis yang aktif seperti jaringan hematopoiesis

sangat sensitif.

Bila stem sel

hematopoiesis yang terkena maka terjadi anemia aplastik. Radiasi dapat berpengaruh pula
pada stroma sumsum tulang dan menyebabkan fibrosis.
Efek radiasi terhadap sumsum tulang tergantung dari jenis radiasi, dosis dan luasnya
paparan sumsum tulang terhadap radiasi. Pada pasien yang menerima radiasi seluruh tubuh
efek radiasi tergantung dari dosis yang diterima. Efek pada sumsum tulang akan sedikit pada
dosis kurang dari 1 Sv (ekuivalen dengan 1 Gy atau 100 rads untuk sinar X). Jumlah sel darah
14

dapat berkurang secara reversibel pada dosis radiasi antara 1 dan 2,5 Sv (100 dan 250 rads).
Kehilangan stem sel yang ireversibel terjadi pada dosis radiasi yang lebih tinggi. Bahkan
pasien dapat meninggal disebabkan kerusakan sumsum tulang pada dosis radiasi 5 sampai 10
Sv kecuali pasien menerima transplantasi sumsum tulang. Paparan jangka panjang dosis
rendah radiasi eksterna juga dapat menyebabkan anemia aplastik.

Klasifikasi
Jika kita melihat derajat pansitopenia darah tepi, anemia aplastik didapat
diklasifikasikan menjadi tidak berat, berat, atau sangat berat. Angka kematian setelah 2 tahun
dengan perawatan suportif saja untuk pasien anemia aplastik berat atau sangat berat sekitar
80%, infeksi jamur dan sepsis bakterial adalah penyebab kematian utama. Anemia aplastik
tidak berat sebagian besar tidak membutuhkan terapi karena cenderung tidak mengancam
jiwa penderitanya.
Klasifikasi Anemia Aplastik
Anemia aplastik umumnya diklasifikasikan sebagai berikut :
A.

Klasifikasi menurut etiologi :


1. Idiopatik : jika etiologinya tidak diketahui, ditemukan pada kira-kira 50% kasus.
2. Sekunder : jika etiologinya telah diketahui.
3. Konstitusional : adanya kelainan genetik yang dapat diturunkan, seperti contohnya
pada penderita anemia Fanconi.

B. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan atau prognosis


Klasifikasi
Deskripsi
Anemia aplastik Pasien yang tidak memenuhi kriteria anemia aplastik berat atau sangat berat;
tidak berat

dengan sumsum tulang yang hiposelular dan memenuhi dua dari tiga kriteria
berikut :
o netrofil < 1,5x109/l
o trombosit < 100x109/1
o hemoglobin <10 g/dl

Anemia aplastikS Seluraritas sumsum tulang <25% atau 25-50% dengan <30% sel
berat

hematopoietik residu dan dua dari tiga kriteria berikut :

netrofil < 0,5x109/l


15

trombosit <20x109 /l
retikulosit < 20x109 /l
Anemia aplastik Sama seperti anemia aplastik berat kecuali netrofil <0,2x109/l
sangat berat
Patogenesis
Setidaknya ada tiga mekanisme terjadinya anemia aplastik. Anemia aplastik yang
diturunkan (inherited aplastic anemia), terutama anemia Fanconi disebabkan oleh
ketidakstabilan DNA. Beberapa bentuk anemia aplastik yang didapatkan (acquired aplastic
anemia) disebabkan kerusakan langsung stem sel oleh agen toksik, misalnya radiasi.
Patogenesis dari kebanyakan anemia aplastik yang didapatkan melibatkan reaksi autoimun
terhadap stem sel.
Anemia Fanconi barangkali merupakan bentuk anemia aplastik yang diturunkan yang
paling sering karena bentuk yang lain merupakan penyakit yang langka. Kromosom pada
penderita anemia Fanconi sensitif (mudah sekali) mengalami perubahan DNA akibat obatobat tertentu. Sebagai akibatnya, pasien dengan anemia Fanconi memiliki resiko tinggi terjadi
aplasia, myelodysplastic sindrom (MDS) dan akut myelogenous leukemia (AML). Kerusakan
DNA juga mengaktifkan suatu kompleks yang terdiri dari protein Fanconi A, C, G dan F. Hal
ini menyebabkan perubahan pada protein FANCD2. Protein ini dapat berinteraksi, contohnya
dengan gen BRCA1 (gen yang terkait dengan kanker payudara). Mekanisme bagaimana
berkembangnya anemia Fanconi menjadi anemia aplastik dari sensitifitas mutagen dan
kerusakan DNA masih belum diketahui dengan pasti.

patofisiologi anemia fanconi, terjadi pada DNA yang rusak


16

Kerusakan oleh agen toksik secara langsung terhadap stem sel dapat disebabkan oleh
paparan radiasi, kemoterapi sitotoksik atau benzene. Agen-agen ini dapat menyebabkan rantai
DNA putus sehingga menyebabkan inhibisi sintesis DNA dan RNA.
Kehancuran hematopoiesis stem sel yang dimediasi sistem imun mungkin merupakan
mekanisme utama patofisiologi anemia aplastik. Walaupun mekanismenya belum diketahui
benar, tampaknya T limfosit sitotoksik berperan dalam menghambat proliferasi stem sel dan
mencetuskan kematian stem sel. Pembunuhan langsung terhadap stem sel telah dihipotesa
terjadi melalui interaksi antara Fas ligand yang terekspresi pada sel T dan Fas (CD95) yang
ada pada stem sel, yang kemudian terjadi perangsangan kematian sel terprogram (apoptosis).
Penyebab anemia aplastik sulit ditentukan, terutama karena banyak kemungkinan yang harus
disingkirkan. Jika tidak ditemukan penyebab yang pasti maka digolongkan ke dalam
penyebab idiopatik. Pendapat lain menyatakan bahwa penyebab terbanyak dari kegagalan
sumsum tulang adalah iatrogenik karena kemoterapi sitostatik atau terapi radiasi. Kerusakan
yang terjadi pada anemia aplastik terdapat pada sel induk dan ketidakmampuan jaringan
sumsum tulang untuk memberi kesempatan sel induk untuk tumbuh dan berkembang dengan
baik. Hal ini berkaitan erat dengan mekanisme yang terjadi seperti toksisitas langsung atau
defisiensi selsel stromal. Penyimpangan proses imunologis yang terjadi pada anemia aplastik
berhubungan dengan infeksi virus atau obat-obatan yang digunakan, atau zat-zat kimia.
Hematopoesis normal yang terjadi di dalam sumsum tulang, merupakan interaksi
antara progenitor hematopoetik stem cell dengan lingkungan mikro (microenvironment)
pada sumsum tulang. Lingkungan mikro tersebut mengatur hematopoesis melalui reaksi
stimulasi oleh faktor pertumbuhan hematopoetik. Sel-sel hematologik imatur dapat terlihat
dengan pemeriksaan flouresent activate flow citometry, yang dapat mendeteksi sel antigen
CD34+ dan adhsesi protein kurang dari 1% pada sumsum tulang normal.
Limfosit T sitotoksik aktif, memegang peran yang besar dalam kerusakan jaringan
sumsum tulang melalui pelepasan limfokin seperti interferon- (IFN-) dan tumor necrosis
factor (TNF-). Peningkatan produksi interleukin-2 mengawali terjadinya ekspansi
poliklonal sel T.aktivasi reseptor Fas melalui Fas-Ligand menyebabkan terjadinya apoptosis
sel target. Efek IFN- melalui interferon regulatory factor 1 (IRF-1), adalah menghambat
transkripsi gen dan masuk ke dalam siklus sel. IFN- juga menginduksi pembentukan nitric
oxide synthase

(NOS), dan produksi gas toksik

nitric oxide (NO) yang mungkin

menyebabkan efek toksiknya menyebar.


17

Ringkasan patofisiologi anemia aplastik dengan beberapa etiologi

Banyak obat kemoterapi yang mengsupresi sumsum sebagai toksisitas utamanya;


efeknya tergantung dengan dosis dan dapat terjadi pada semua pengguna. Berbeda dengan hal
tersebut, reaksi idiosinkronasi pada kebanyakan obat dapat menyebabkan anemia aplastik
tanpa hubungan dengan dosis. Hubungan ini berdasarkan dari laporan kasus dan suatu
penelitian internasional berskala besar di Eropa pada tahun 1980 secara kuantitatif menilai
pengaruh obat, terutama analgesic nonsteroid, sulfonamide, obat thyrostatik, beberapa
psikotropika, penisilamin, allopurinol, dan garam emas.
Pada kehamilan kadang-kadang ditemukan pansitopenia yang disertai aplasia sumsum
tulang yang berlangsungnya bersifat sementara. Mungkin ini dapat disebabkan oleh estrogen
dengan predisposisi genetik, adanya zat penghambat dalam darah atau tidak adanya
perangsang hematopoiesis. Anemia ini sembuh setelah terminasi kehamilan dan dapat
kambuh lagi pada kehamilan berikutnya.
Hepatitis merupakan infeksi yang paling sering terjadi sebelum terjadinya anemia
aplasia, dan kegagalan sum-sum paska hepatitis terhitung 5% dari etiologi pada kebanyakan
kejadian. Pasien biasanya pria muda yang sembuh dari serangan peradangan hati 1 hingga 2
bulan sebelumnya; pansitopenia biasanya sangat berat. Hepatitis biasanya seronegatif (non-A,
non-B, non-C, non-G) dan kemungkinan disebabkan oleh virus baru yang tidak terdeteksi.
18

Kegagalan hepar fulminan pada anak biasanya terjadi setelah hepatitis seronegatif dan
kegagalan sum-sum terjadi pada lebih sering pada pasien ini. Anemia aplastik terkadang
terjadi setelah infeksi mononucleosis, dan virus Eipsten-Barr telah ditemukan pada sum-sum
pada sebagian pasien, beberapanya tanpa disertai riwayat penyakit sebelumnya. Parvovirus
B19, penyebab krisis aplastik transient pada anemia hemolitik dan beberapa PRCA (Pure Red
Cell Anemia), tidak biasanya menyebabkan kegagalan sum-sum tulang yang luas.
Aplasia sumsum tulang merupakan akibat akut yang utama dari radiasi dimana stem
sel dan progenitor sel rusak. Radiasi dapat merusak DNA dimana jaringan-jaringan dengan
mitosis yang aktif seperti jaringan hematopoiesis

sangat sensitif.

Bila stem sel

hematopoiesis yang terkena maka terjadi anemia aplastik. Radiasi dapat berpengaruh pula
pada stroma sumsum tulang dan menyebabkan fibrosis.

Manifestasi Klinis
Gejala klinik anemia aplastik timbul akibat adanya anemia, leukopenia dan
trombositopenia (pansitopenia), gejala ini dapat berupa :
a) Sindrom anemia : gejala anemia bervariasi mulai dari ringan sampai berat.
b) Gejala perdarahan : paling sering timbul dalam bentuk perdarahn kulit seperti
petekie dan akimosis.
c) Tanda-tanda infeksi dapat berupa febris, ulserasi mulut atau syok septik.
Anemia aplastik dapat muncul mendadak (dalam beberapa hari) ataupun perlahanlahan (berminggu-minggu atau berbulan-bulan). Hitung jenis darah menentukan manifestasi
klinis. Gejala anemia sendiri dapat menyebabkan kelelahan, sesak napas dan jantung
berdebar-debar, meningkatnya denyut nadi dan tampak pucat. Trombositopenia menyebabkan
mudah memar dan perdarahan mukosa. Neutropenia meningkatkan kerentanan terhadap
infeksi.
Pada anemia aplastik terdapat pansitopenia sehingga keluhan dan gejala yang timbul
adalah akibat dari pansitopenia tersebut. Pengurangan elemen lekopoisis menyebabkan
granulositopenia yang akan menyebabkan penderita menjadi lebih rentan terhadap infeksi
sehingga mengakibatkan keluhan dan gejala infeksi baik bersifat lokal maupun bersifat
sistemik. Trombositopenia tentu dapat mengakibatkan pendarahan di kulit, selaput lendir atau
pendarahan di organ-organ. Pada kebanyakan pasien, gejala awal dari anemia aplastik yang
19

sering dikeluhkan adalah anemia atau pendarahan, walaupun demam atau infeksi kadangkadang juga dikeluhkan.
Anemia aplastik mungkin asimtomatik dan ditemukan pada pemeriksaan rutin
Keluhan yang dapat ditemukan sangat bervariasi. Pada tabel terlihat bahwa pendarahan,
lemah badan dan pusing merupakan keluhan yang paling sering dikemukakan.
Pemeriksaan fisik pada pasien anemia
aplastik pun sangat bervariasi. Pada tabel
terlihat bahwa pucat ditemukan pada semua
pasien yang diteliti sedangkan pendarahan
ditemukan pada lebih dari setengah jumlah
pasien.

Hepatomegali,

yang

sebabnya

bermacam-macam ditemukan pada sebagian


kecil pasien sedangkan splenomegali tidak
ditemukan pada satu kasus pun. Adanya
splenomegali

dan

limfadenopati

dapat

meragukan diagnosis.
Gejala-gejala pada anemia

Keluhan Pasien Anemia Apalastik & Pemeriksaan Fisik pada Pasien Anemia Aplastik
Temuan Keluhan

Persentase

Temuan Pemeriksaan

Persentase

Pendarahan

(%)
83

Fisik
Pucat

(%)
100

Lemah badan

80

Pendarahan

63

Pusing

69

Kulit

34

Jantung berdebar

36

Gusi

26

Demam

33

Retina

20

Nafsu makan berkurang 29

Hidung

Pucat

26

Saluran cerna

Sesak nafas

23

Vagina

Penglihatan kabur

19

Demam

16

Telinga berdengung

13

Hepatomegali

Splenomegali

20

Pemeriksaan Penunjang
1

Pemeriksaan Laboraturium
a Pemeriksaan Darah
Pada pemeriksaan darah tidak akan selalu ditemukan pansitopenia pada stadium awal
penyakitnya. Anemia yang terjadi bersifat normokrom normositer. Pada anemia aplastik
tidak ditemukannya eritrosit muda atau leukosit muda dalam darah tepi. Anemia ini
dihubungkan dengan retikulosit yang rendah meskipun eritropoetinnya tinggi. Jumlah
retikulosit absolut kurang dari 40.000/l.
Jumlah granulosit yang ditemukan rendah. Pada pemeriksaan hitung jenis sel darah
putih menunjukkan penurunan jumlah neutrofil dan monosit. Limfositosis relatif terdapat
pada lebih dari beberapa kasus. Jumlah neutrofil kurang dari 500/mm3 dan trombosit
kurang dari 20.000/mm3 dapat menandakan anemia aplastik berat. Jumlah neutrofil kurang
dari 200/mm3 menandakan anemia aplastik sangat berat.
Jumlah trombosit yang berkurang secara kuantitias sedang namun secara kualitas
masih dikatakan normal. Perubahan kualitatif morfologi yang signifikan dari eritrosit,
leukosit atau trombosit bukan merupakan gambaran klasik anemia aplastik yang didapat
(acquired aplastic anemia).

Pemeriksaan Sumsum Tulang


Pada pemeriksaan sumsum tulang ini, digunakan jarum besar untuk mengambil
sedikit cairan sumsum tulang dan diambil potongan kecil berbentuk bulat untuk biopsi.
Kedua sampel ini diambil di tempat yang sama yaitu di tulang pelvis.
Pada pasien anemia aplastik ini terlihat hanya ada beberapa sel hematopoetik dan lebih
banyak diisi oleh sel-sel stroma dan lemak. Limfosit, sel plasma, makrofag dan sel mast
mungkin terlihat meningkat, namun pada amnesia ini lebih terlihat jelas kekurangan selsel yang lain daripada terjadinya peningkatan elemen-elemen ini. Pada kebanyakan kasus
gambaran partikel yang ditemukan sewaktu aspirasi adalah hiposelular. Pada beberapa
keadaan, didapatkan normoseluler atau bahkan hiperseluler, akan tetapi megakariosit tetap
rendah. Biopsi sumsum tulang dilakukan untuk penilaian selularitas baik secara kualitatif
maupun kuantitatif. Semua spesimen anemia aplastik ditemukan gambaran hiposelular.

Laju Endap Darah


Laju endap darah selalu meningkat. Ditemukan bahwa 62 dari 70 kasus (89%)
mempunyai laju endap darah lebih dari 100 mm dalam jam pertama.

Faal Hemostasis
21

Waktu perdarahan memanjang dan retraksi bekuan buruk disebabkan oleh


e

trombositopenia. Faal hemostasis lainnya dapat dikatakan normal.


Pemeriksaan Virologi
Adanya kemungkinan anemia aplastik akibat faktor yang didapat, maka pemeriksaan
virologi perlu dilakukan untuk menemukan penyebabnya. Evaluasi diagnosis anemia

aplastik meliputi pemeriksaan virus hepatitis, HIV, provovirus, dan sitomegalovirus


Pemeriksaan Fluorescence in Situ Hybridization (FISH) dan Flow cytometry
Pemeriksaan-pemeriksaan ini adalah pemeriksaan yang spesifik. Pada pemeriksaan
FISH, dapat mengetahui adanya kelainan genetik jika pada pasien terdapat kelainan
genetik.

2) Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan radiologis umumnya tidak dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa
anemia aplastik. Survei skletelal khusunya berguna untuk sindrom kegagalan sumsum tulang
yang diturunkan, karena banyak diantaranya memperlihatkan abnormalitas skeletal. Pada
pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) memberikan gambaran yang khas yaitu
ketiadaannya elemen seluler dan digantikan oleh jaringan lemak.
Pemeriksaan Nuclear Magnetic Resonance Imaging merupakan cara terbaik untuk
mengetahui luasnya perlemakan karena dapat membuat pemisahan tegas antara daerah
sumsum tulang berlemak dan sumsum tulang berseluler. Dengan menggunakan USG
abdominal dapat ditemukan pembesaran limpa atau kelenjar limfa.

Diagnosis Banding
Diagnosis banding anemia yaitu dengan setiap kelainan yang ditandai dengan
pansitopenia perifer. Beberapa penyebab pansitopenia terlihat pada tabel

22

Penyebab Pansitopenia
Kelainan sumsum tulang
Anemia aplastik
Myelodisplasia
Leukemia akut
Myelofibrosis
Penyakit Infiltratif
Kelainan bukan sumsum tulang
Hipersplenisme
Sistemik lupus eritematosus
Infeksi: tuberculosis, AIDS, leishmaniasis, brucellosis

Menurut referensi lainnya, beberapa diagnosis banding yang perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut :
A. Anemia fanconi
Anemia fanconi adalah bentuk kongenital dari anemia aplastik dimana 10% dari
pasien terjadi saat anak-anak. Gejala fisik yang khas adalah tinggi badan yang pendek,
hiperpigmentasi

kulit,

microcephaly,

hipoplasia

jari,

keabnormalan

alat

kelamin,

keabnormalan mata, kerusakan struktur ginjal dan retardasi mental. Anemia fanconi
terdiagnosis dengan analisis sitogenik dari limfosit darah tepi yang menunjukkan kehancuran
khromosom setelah culture dengan bahan yang menyebabkan pemecahan khromosom seperti
diepoxybutane.
B. Myelodisplastic syndrome
Myelodisplastic syndrome adalah kelompok penyakit clonal hematopoietic stem cell
yang terdapat adanya kelainan diferensiasi dan maturasi dari sumsum tulang, yang membawa
pada kegagalan sumsum tulang dengan sitopenia, disfungsi elemen darah, dan kemungkinan
terjadi komplikasi leukemia. Kegagalan sumsum tulang biasanya hiperselular dan
normoselular.
walaupun begitu MDS dapat ditemukan dengan hiposelular. Penting untuk
membedakan MDS hiposelular dengan anemia aplastik untuk menentukan manajemen dan
prognosisnya. Yang membedakan MDS hiposelular adalah adanya abnormalitas clonal
23

cytogenetic yaitu adanya abnormalitas pada tangan kromosom 5q, monosomi 7q, dan trisomi
8. Pada MDS juga mungkin ditemukan adanya cincin sideroblas.
C. Myelofibrosis
Ada 2 ciri utama myelofibrosis yaitu extramedullary hematopoesis dan fibrosis
sumsum tulang. Extra medullatory hematopoesis Myelofibrosis. Ada 2 ciri utama
myelofibrosis yaitu extramedullary hematopoesis dan fibrosis sumsum tulang. Extra
medullatory hematopoesis menyebabkan hepatosplenomegali yang tidak terjadi pada anemia
aplastik. Biopsi sumsum tulang menunjukkan derajat retikulin dan fibrosis kolagen dengan
terjadinya peningkatan jumlah megakariosit.
D. Aleukemic leukemia
Aleukemic leukemia adalah penyakit yang memiliki ciri kehilangan sel blast pada
darah tepi dari pasien dengan leukemia, terjadi pada 10% dari semua penderita leukemia dan
biasanya muncul pada anak yang sangat muda atau pada orang tua. Aspirasi sumsum tulang
dan biopsy menunjukkan sel blast.
E. Pure red cell aplasia
Penyakit ini sangat jarang dan hanya melibatkan produksi eritrosit yang ditandai
dengan adanya anemia, penghitungan retikulosit kurang dari 1%, dan sumsum tulang yang
normoselular mengandung kurang dari 0,5% eritroblast. Untuk penyakit lainnya yang dapat
menunjukkan gejala sitopenia seperti leukemia dapat dibedakan yang pada leukemia
ditemukan tidak selalu adanya penurunan WBC. Kadar WBC pada leukemia dapat normal,
turun, atau meningkat.

Penatalaksanaan
Anemia berat, pendarahan akibat trombositopenia dan infeksi akibat granulositopenia
dan monositopenia memerlukan tatalaksana untuk menghilangkan kondisi yang potensial
mengancam nyawa ini dan untuk memperbaiki keadaan pasien.
Penanganan awal Anemia Aplastik:

Menghentikan semua obat-obat atau penggunaan agen kimia yang diduga menjadi
penyebab anemia aplastik.
24

Anemia : transfusi PRC bila terdapat anemia berat sesuai yang dibutuhkan.
Pendarahan hebat akibat trombositopenia : transfusi trombosit sesuai yang dibutuhkan.
Tindakan pencegahan terhadap infeksi bila terdapat neutropenia berat.
Infeksi : kultur mikroorganisme, antibiotik spektrum luas bila organisme spesifik tidak

dapat diidentifikasi.
Assessment untuk transplantasi sel punca allogenik : pemeriksaan histokompatibilitas
pasien, orang tua dan saudara kandung pasien

a. Terapi Supportif
Bila terdapat keluhan akibat anemia, diberikan transfusi eritrosit berupa packed red
cells sampai kadar hemoglobin 7-8% atau lebih pada orang tua dan pasien dengan
penyakit kardiovaskular.
Resiko pendarahan meningkat bila trombosis kurang dari 20.000/mm 3. Transfusi
trombosit diberikan bila terdapat pendarahan atau kadar trombosit dibawah
20.000/mm3 sebagai profilaksis. Transfusi trombosit konsentrat berulang dapat
menyebabkan pembentukan zat anti terhadap trombosit donor. Bila terjadi sensitisasi,
donor diganti dengan yang cocok HLA-nya (orang tua atau saudara kandung). Pemberian
transfusi leukosit sebagai profilaksis masih kontroversial dan tidak dianjurkan karena
efek samping yang lebih parah daripada manfaatnya. Masa hidup leukosit yang
ditransfusikan sangat pendek.
b. Terapi Imunosupresif
Obat-obatan yang termasuk terapi imunosupresif adalah antithymocyte globulin (ATG)
atau antilymphocyte globulin (ALG) dan siklosporin A (CSA).

ATG atau ALG

diindikasikan pada :
o Anemia aplastik bukan berat
o Pasien tidak mempunyai donor sumsum tulang yang cocok
o Anemia aplastik berat, yang berumur lebih dari 20 tahun dan pada saat pengobatan
tidak terdapat infeksi atau pendarahan atau dengan granulosit lebih dari 200/mm3
Mekanisme kerja ATG atau ALG belum diketahui dengan pasti dan mungkin
melalui koreksi terhadap destruksi T-cell immunomediated pada sel asal dan stimulasi
langsung atau tidak langsung terhadap hemopoiesis. Karena merupakan produk biologis,
pada terapi ATG dapat terjadi reaksi alergi ringan sampai berat sehingga selalu diberikan
bersama-sama dengan kortikosteroid. Siklosporin juga diberikan dan proses bekerjanya
dengan menghambat aktivasi dan proliferasi preurosir limfosit sitotoksik. Sebuah
protokol pemberian ATG dapat dilihat pada tabel.

25

Metilprednisolon juga dapat digunakan sebagai ganti predinison. Kombinasi ATG,


siklosporin dan metilprednisolon memberikan angka remisi sebesar 70% pada anemia
aplastik berat. Kombinasi ATG dan metilprednisolon memiliki angka remisi sebesar
46%.
Pemberian dosis tinggi siklofosfamid juga merupakan bentuk terapi imunosupresif.
Pemberian dosis tinggi siklofosfamid sering disarankan untuk imunosupresif yang
mencegah relaps. Namun, hal ini belum dikonfirmasi. Sampai kini, studi-studi dengan
siklofosfamid memberikan lama respon leih dari 1 tahun. Sebaliknya, 75% respon
terhadap ATG adalah dalam 3 bulan pertama dan relaps dapat terjadi dalam 1 tahun
setelah terapi ATG.
c. Terapi Penyelamatan
Terapi ini antara lain meliputi siklus imunosupresi berulang, pemberian faktorfaktor pertumbuhan hematopoietik dan pemberian steroid anabolik.
Pasien yang refrakter dengan pengobatan ATG pertama dapat berespon terhadap
siklus imunosupresi ATG ulangan. Pada sebuah penelitian, pasien yang refrakter ATG
kuda tercapai dengan siklus kedua ATG kelinci.
Pemberian faktor-faktor pertumbuhan hematopoietik seperti Granulocyte-Colony
Stimulating Factor (G-CSF) bermanfaat untuk meningkatkan neutrofil akan tetapi
neutropenia berat akibat anemia aplastik biasanya refrakter. Faktor-faktor pertumbuhan
hematopoietik tidak boleh dipakai sebagai satu-satunya modalitas terapi anemia aplastik.
Kombinasi G-CSF dengan terapi imunosupresif telah digunakan untuk terapi
penyelamatan pada kasus-kasus yang refrakter dan pemberiannya yang lama telah
dikaitkan dengan pemulihan hitung darah pada beberapa pasien.
Steroid anabolik seperti androgen dapat merangsang produksi eritropoietin dan selsel induk sumsum tulang. Androgen terbukti bermanfaat untuk anemia aplastk ringan dan
pada anemia aplastik berat biasanya tidak bermanfaat. Androgen digunakan sebagai
terapi penyelamatan untuk pasien yang refrakter terapi imunosupresif.
d. Transplantasi Sumsum Tulang
Transplantasi sumsum tulang merupakan pilihan utama pada pasien anemia aplastik
berat berusia muda yang memiliki saudara dengan kecocokan HLA. Akan tetapi,
transplantasi sumsum tulang allogenik tersedia hanya pada sebagan kecil pasien (hanya
sekitar 30% pasien yang mempunyai saudara dengan kecocokan HLA). Batas usia untuk
transplantasi sumsum tulang sebagai terapi primer belum dipastikan, namun pasien yang
26

berusia 35-35 tahun lebih baik bila mendapatkan terapi imunosupresif karena makin
meningkatnya umur, makin meningkat pula kejadian dan beratnya reaksi penolakan sumsum
tulang donor (Graft Versus Host Disesase/GVHD).
Pada pasien yang mendapat terapi imunosupresif sering kali diperlukan transfusi
selama beberapa bulan. Transfusi komponen darah tersebut sedapat mungkin diambil dari
donor yang bukan potensial sebagai donor sumsum tulang. Hal ini diperlukan untuk
mencegah reaksi penolakan cangkokan (graft rejection) karena antibodi yang terbentuk
akibat tansfusi.
Kriteria respon terapi menurut kelompok EBMT (European Bone Marrow
Transplantation) adalah sebagai berikut:
-

Remisi komplit : bebas transfusi, granulosit sekurang-kurangnya 2000/mm3 dan

trombosit sekurang-kurangnya 100.000/mm3


Remisi sebagian : tidak tergantung pada transfusi, granulosit dibawah 2000/mm 3 dan

trombosit dibawah 100.000/mm3


Refrakter : tidak ada perbaikan

Prognosis
Prognosis pada pasien tergantung dari usaha dari pasien untuk mencapai kesembuhan
dan usaha para tenaga. Pemberian penanganan yang berbeda daapt memberikan hasil dan
prognosis yang berbeda pada pasien. Pada pasien yang mengalami transplantasi sumsum
tulang, kesembuhannya dapat mencapai 70-90%, walaupun 20%-30% dari pasien yang
melakukan transplantasi sumsum tulang mengalami Graft versus Host Disease (GvHD).
Pemberian terapi imunosupresif yang intensif memberikan peningkatan yang signifikan pada
Blood Count pada 78% pasien dalam 1 tahun. Meskipun telah dilakukan penanganan atau
terapi, tetap masih ada resiko kekambuhan sekitar 36% pada pasien setelah 2 tahun.
Riwayat alamiah anemia aplastik dapat berakhir dengan remisi sempurna jarang
terjadi kecuali bila iatrogenik akibat kemoterapi atau radiasi. Remisi sempurna biasanya
terjadi segera. Namun penderia juga dapat meninggal dalam 1 tahun atau lebih. Hal ini terjadi
pada sebagian besar kasus. Selain itu ada juga beberapa penderita anemia aplastik dapat
bertahan hidup selama 20 tahun atau lebih. Membaik dan bertahan hidup lama namun
kebanyakan kasus mengalami remisi tidak sempurna.

27