Anda di halaman 1dari 10

DETEKTOR SINTILATOR CAIR

Oleh :
Tita Cholifah Rahayu
14/367539/TK/42540
Program Studi Teknik Nuklir

DEPARTEMEN TEKNIK NUKLIR DAN TEKNIK FISIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

DETEKTOR SINTILATOR CAIR


Tita Cholifah Rahayu
Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada
Jalan Grafika no. 2, Yogyakarta
tita.cholifah.r@mail.ugm.ac.id

ABSTRAK

Detektor Sintilator Cair (Liquid Scintillatpr Detectors) terdiri dari


campuran antara pelarut dengan satu atau lebih larutan. Pelarut yang digunakan adalah xylene,
toluene, hexamthylbenzene. Sedangkan larutan yang digunakan adalah p-terphenyl, PBD, POPOP.

Detektor jenis ini telah banyak dipakai dalam pengukuran


radiasi yang memancarkan radiasi dan rendah (low level
counting) seperti C14 dan tritium. Dalam low level counting
tersebut, nilai efisiensi dari detektor sintilator cair adalah
mendekati 100%. Detektor sintilator cair ini sangat banyak
digunakan karena mudah diperoleh, dapat dipakai dalam
jumlah yang besar (kiloliter) dan dapat diatur serta digunakan
sesuai dengan kebutuhan.

I.

PENDAHULUAN
Deteksi radiasi pengion dengan memanfaatkan prinsip cahaya yang diproduksi
dalam material tertentu saat proses sintilasi merupakan salah satu teknik yang telah
lama dipakai dalam deteksi radiasi. Proses sintilasi merupakan salah satu proses yang
paling berguna untuk deteksi dan spektrokopi radiasi.
Adapun dalam pemilihan bahan, harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Dapat mengkonversi energi kinetik dari partikel bermuatan ke cahaya
terdeteksi dengan efisiensi sintilasi tinggi.
- Konversi yang terjadi tersebut harus linear - cahaya yang dihasilkan harus
proporsional untuk deposit energi dalam range sebesar mungkin.
- Medium harus transparan untuk panjang gelombang dari pancarannya untuk
koleksi cahaya yang baik.
- Waktu peluruhan dari cahaya terinduksi harus lebih pendek sehingga dapat
menghasilkan pulsa sinyal yang cepat.
- Bahan harus memiliki kualitas optik yang baik dan pembuatannya dalam
ukuran yang cukup besar menjadi perhatian untuk praktek deteksi.
- Indeks bias mendekati kaca (~1.5) untuk mengijinkan kopel efisiensi dari
cahaya sintilasi ke photomultiplier tabung atau sensor cahaya.
Tidak ada bahan yang dapat memenuhi kriteria di atas 100%, sehingga
diberikan kompromi terhadap beberapa faktor di atas. Adapun bahan yang paling
banyak diaplikasikan dalam detektor sintilasi adalah krisal Alkali-Halida, Sodium
Iodide (inorganic scintillators) dan Liquids and Plastic sintilator (Organis scintillator).

Dalam hal ini, detektor sintilator cair banyak digunakan karena kecepatan responnya,
namun cahaya yang dihasilkannya sedikit. Sehingga detektor jenis ini cocok
digunakan dan menjadi pilihan untuk spektroskopi beta dan deteksi cepat neutron.
Tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk mengetahui apa saja bahan
aktif detektor sintilator cair, bagaimana mekanisme kerja detektor sintilator cair, apa
saja karakteristik detektor sintilator cair, apa saja keunggulan dan kelemahan detektor
sintilator cair, dan apa saja aplikasi perhitungan sintilator cair.
II.

DETEKTOR SINTILATOR CAIR


Bahan Aktif Detektor Sintilator cair
Porsi pelarut pada detektor sintilator cair adalah bervariasi mulai dari 60-99%
dari total larutan. Ketika radioisotop dilarutkan pada campuran bahan, partikel atau
cahaya akan menuju pelarut sebelum energinya habis. Oleh karena itu, pelarut harus
menjadi pengumpul energi yang efisien, serta harus mampu menyalurkan energi ke
molekul fosfor. Pelarut harus mampu melarutkan fosfor untuk memproduksi larutan
yang stabil dan dapat dihitung.
Bahan pelarut terbaik untuk detektor sintilator cair adalah senyawa aromatik
organik. Bentuk dasar pelarut yang digunakan dalam detektor sintilator cair adalah
toluena. Bentuk geometri dari toluena atau senyawa aromatik lain sangatlah baik
untuk interaksi , tangkapan energi dari partikel. Energi tertangkap ini secara umum
akan hilang dikarenakan transfer energi ke molekul pelarut lain., seperti toluena yang
memiliki kecenderungan untuk memancarkan cahaya atau menjalani alternatif model
peluruhan lain. Demikian juga dengan melewati larutan toluena meninggalkan jalur
energi molekul toluena/energi dari molekul-molekul inilah yang meninggalkan dan
keluar diantara pelarut senyawa aromatik, mengizinkan tangkapan yang efisien dari
fosfor yang telah dilarutkan. Berikut adalah beberapa pelarut yang dapat bekerja pada
detektor sintilator cair:

source 1: LSC Theory-National Diagnostics

Toluena; pseudocumene; PXE (phenyl xylylethane), memiliki ring aromatic untuk


menyerap energi radiasi.

Adapun proses dari terserapnya energi pada detektor sintilator cair adalah
sebagai berikut:

source 2: LSC Theory-National Diagnostics

Secara umum, fosfor (sintilator) dibagi menjadi dua jenis yaitu sintilator
primer dan sintilator sekunder. Termasuk 0.3-1% volume larutan, sintilator primer
menyediakan konversi dari tangkapan energi ke pancaran cahaya. Molekul dari
sintilator muncul untuk menginduksi momen dipol pada kerangka pelarut,
memperbolehkan transfer langsung dari energi antara sintilator, dan membangkitkan
molekul pelarut yang dipisahkan oleh lebih dari 10 molekul pelarut lain. Sintilator
primer harus mampu membangkitkan menuju keadaan dimana pancaran cahaya
membangkitkan molekul pelarut, dan dapat larut di pelarut pada konsentrasi yang
cukup untuk memberikan tangkapan energi yang efisien. Adapun bahan sintilator
primer adalah:
- Butyl PBD [2-Pheny1,S-(4-biphenyly1)-l,3,4-oxadiazol
- Napthalene
- PPO (2,5diphenyloxazole)
- p- Terphenyl
Sintilator sekunder, atau penggeser panjang gelombang (shifters), secara asli
termasuk dalam campuran bahan sintilasi untuk mengganti kerugian batas respons
spectral dari photomultiplier tube awal. Kebanyakan sintilator primer memancarkn
cahaya di bawah 48nm, tetapi respon dari phtomultiplier tube awal jatuh pada kisaran
nilai ini. Sintilator sekunder menangkap energi fluorescence (cahaya) dari bangkitnya
sintilator primer, dan memancarkannya kembali sebagai sinyal panjang gelombang
yang lebih panjang. Proses dimana energi ini diubah tempatnya masih belum jelas.
Sementara modern phototubes secara general dapat menghitung pulsa cahaya dari
sintilator primer, sintilator sekunder telah ditemukan untuk mengimprovisasi efisiensi
pada banyak kasus dan masih menjadi bagian dalam kebanyakan campuran.
Adapun bahan sintilator sekunder adalah sebagai berikut:
- BBO [2,5-Di(4-biphenyly1)-oxazole]
- Bis-MSB
- POPOP {1,4-Bis[2-(5-phenyloxazolyl)] -benzena)
- TPB
Telah ditemukan bahwa ikatan benzena, secara umum menghasilkan sintilator
superior. Sedangkan PPO adalah bahan yang paling sering dipakai untuk sintilator
primer, Bis-MSB merupakan bahan yang paling sering dipakai pada sintilator

sekunder. Napthalena adalah senyawa yang unik, dimana dapat dipakai sebagai bahan
detektor efisiensi rendah, juga sebagai pelarut, bersama bahan organik lain lainnya.
Mekanisme Kerja Detektor Sintilator Cair
Detektor sintilasi selalu terdiri dari dua bagian yaitu bahan sintilator dan
photomultiplier. Bahan sintilator dalam detektor jenis ini merupakan cairan yang akan
menghasilkan percikan cahaya bila dikenai radiasi pengion. Photomultiplier
digunakan untuk mengubah percikan cahaya yang dihasilkan oleh cairan menjadi
pulsa listrik. Mekanisme pendeteksian radiasi pada detektor sintilasi dapat dibagi
menjadi dua tahap yaitu :
proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan
cahaya dalam bahan sintilator
proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam
tabung photomultiplier.
Pada proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan
cahaya di dalam bahan sintilator, terjadi perpindahan/transisi elektron dari tingkat
energi yang lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah (disebut dengan proses
eksitasi) dalam bahan detektor (dalam hal ini adalah cairan). Dalam proses eksitasi
tersebut, dipancarkan energi berupa foton sinar-X. Karena bahan detektor
ditambahkan bahan pengotor berupa unsur aktivator (zat radioaktif, yang berfungsi
sebagai penggeser panjang gelombang), maka radiasi yang dipancarkannya bukan lagi
Sinar-X melainkan berupa sinar tampak.
Proses sintilasi ini akan terjadi apabila terdapat kekosongan elektron pada orbit
elektron yang lebih dalam. Kekosongan elektron ini dapat disebabkan karena lepasnya
elektron dari ikatannya (proses ionisasi) atau proses loncatnya elektron ke tingkat
energi yang lebih tinggi (lintasan elektron yang lebih luar) karena dikenai radiasi.
Semakin besar energi radiasi yang diterima, maka akan terjadi kekosongan elektron di
orbit sebelah dalam akan semakin banyak, sehingga percikan cahaya yang
dikeluarkannya akan semakin banyak. Cahaya tampak yang terjadi ini selanjutnya
akan dikonversikan menjadi sinyal elektrik.

source 3:http://ansn.bapeten.go.id/files/ins_Alat_Ukur_Radiasi.pdf

Pada proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam


tabung photomultiplier, photomultiplier ini berfungsi untuk mengubah percikan
cahaya tersebut menjadi berkas elektron, sehingga dapat diolah lebih lanjut sebagai
pulsa / arus listrik. Tabung photomultiplier ini terbuat dari tabung hampa yang kedap
cahaya dengan photokatoda yang berfungsi sebagai masukan pada salah satu ujungnya
dan terdapat beberapa dinode untuk menggandakan elektron seperti terdapat pada
gambar di bawah ini. Photokatoda yang ditempelkan pada bahan sintilator, akan
memancarkan elektron bila dikenai cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai.
Elektron yang dihasilkannya akan diarahkan, dengan perbedaan potensial, menuju
dinode pertama. Dinode tersebut akan memancarkan beberapa elektron sekunder bila
dikenai oleh elektron.

source 4: http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/Dasar_00.htm

Elektron-elektron sekunder yang dihasilkan dinode pertama akan menuju


dinode kedua dan dilipatgandakan kemudian ke dinode ketiga dan seterusnya
sehingga elektron yang terkumpul pada dinode terakhir berjumlah sangat banyak.
Dengan sebuah kapasitor, kumpulan elektron tersebut akan diubah menjadi pulsa
listrik.

Karakteristik Detektor Sintilator Cair


Berikut ini merupakan beberapa karakteristik dari detektor sintilator cair,
meliputi keluaran cahaya, pancaran maksimum gelombang, konstanta peluruhan,
panjang atenuasi, index bias, rasio H/C, densitas, Loading element% dari berat atau
fitur dist, flash point, dan kegunaan. Kesemua karakteristik tersebut akan dijelaskan
dalam bentuk tabel berikut:

source 5: Radiation Detection and Measurement-Glenn F.Knoll

Adapun dalam hal intensitas cahaya yang dipancarkan dalam hubungannya


dengan waktu konstan, nilainya dapat dihitung dengan cara berikut:
t

I =I 0(e e 1 )
Dengan 1 adalah waktu konstan yang mendeskripsikan populasi dari level
optikal, sedangkan adalah umur paruh.
Dalam hal ini juga berlaku rumus berikut:
I
=f ( t ) et /
I0

Keunggulan dan Kelemahan Detektor Sintilator Cair


Keunggulan dan kelemahan detektor ditentukan oleh berbagai karakter
detektor seperti efisiensi detektor, kecepatan detektor, resolusi detektor, dan beberapa
karakteristik lainnya. Pada detektor sintilator pada umumnya, efisiensi detektor yang
menunjukkan perbandingan jumlah pulsa listrik yang dihasilkan dengan jumlah
radiasi yang diterima sangatlah baik. Kecepatan detektor sintilasi, yang menunjukkan
selang waktu antara datangnya radiasi dan terbentuknya pulsa listrik juga sangat baik.
Sedangkan resolusi detektor sintilator, yang menunjukkan kemampuan detektor untuk
membedakan energi radiasi yang berdekatan tidak terlalu baik. Pada detektor sintilator
cair, selain karakteristik umum seperti yang telah disebutkan, terdapat juga beberapa
keunggulan dan kelemahan dari alat ini. Keunggulannya adalah bahwa detektor jenis

ini mudah dipakai dalam jumlah banyak, tidak terlalu bergantung pada perubahan
suhu, dan memungkinkan dibentuknya discriminator pulsa.
Sedangkan kelemahan utamanya adalah terjadinya quenching, yaitu
berkurangnya sifat transparan dari larutan (sintilator cair) karena mendapat campuran
sampel. Semakin pekat konsentrasi sampel maka akan semakin buruk tingkat
transparansinya sehingga percikan cahaya yang dihasilkan tidak dapat
mencapai photomultiplier. Salah satu agen yang dapat menyebabkan terjadinya
quenching adalah oksigen terlarut, oleh karena itu detector jenis ini haruslah tersegel
dengan baik dan semaksimal terhindar dari oksigen.
Berdasarkan keunggulan dan kelemahan yang telah disebutkan, penggunaan detektor
sintilator cair disarankan hanya untuk pengukuran radiasi yang memancarkan radiasi
dan yang rendah (low level counting)
Aplikasi Perhitungan Sintilator Cair
Adapun aplikasi dari perhitungan sintilator cair adalah sebagai berikut:
A. Menghitung Sample Diskret

Penetralan Sample (Eliminasi Chemiluminescence)


Netralisasi sample alkali kuat dilakukan untuk menghindari
chemiluminescence. Netralisasi ini dilakukan dengan menambahkan
asam asetat. Hal ini dikarenakan jika terjadi chemiluminescence,
perhitungan sample harus dilakukan secara berulang dalam jangka
waktu lebih dari satu jam sampai pembacaan yang dilakukan sudah
stabil.

Decolorizing
Ketika sample yang akan diukur berwarna gelap, dimana sample
menyerap gelombang 300-400nm, perlu dilakukan decolorizing.
Decolorizing ini dilakukan dengan menambahkan senyawa oksidan
kuat (contoh: Hydrogen Peroxide dan Benzoyl Peroxide) agar sample
menjadi tidak berwarna. Sample yang tidak berwarna akan
memudahkan proses sintilasi dan pembacaan detektor.

B. Persiapan Sample Khusus

Thin Layer Chromatography (TLC) Plates


Berguna dalam Autoradiografi (fluorografi) dan perhitungan sintilator
cair dengan TLC Silica.

Menghitung sample pada filter Selulosa-Ester.


Dilakukan dengan tidak mengeringkan filter, karena akan menghambat
proses dispersi, jika filter telah berdada dalam kondisi kering, beri 1-2
tetes air suling.

Menghitung sample jaringan


Untuk menghitung sample jaringan yang efisien dan konsisten,
dikembangkan suatu pelarut jaringan, yang terdiri dari denaturan kuat

dan berbagai bahan lainnya yang akan melarutkan jaringan ketika suhu
tinggi.

Menghitung 14CO2
14

CO2 diuji kadar logamnya dengan menangkapnya pada fase cair


sebagai basa kuat kompleks untuk kemudian dihitung pada fase cair.
Proses ini dilakukan dengan bantuan OXOSOL C14 dan
CARBAMATE-1+OXOSOL 306.

Sample dalam Gel Polyacrylamide


Gel dianalisis sebagai ikatan radioaktif, yang kemudian diasamkan dan
dihitung untuk hasil kuantitatifnya. Pelarutan dilakukan dengan
hydrogen peroxide dan dihitung secara efisiem.

C. Sintilasi Aliran Cairan


Detektor aliran digunakan untuk memonitor perhitungan sintilator cair secara
kontinu dari tembusan kolom. Detektor aliran modern mempunyai kontrol
aliran keluar, memperbolehkan puncak radioaktif dalam chromatogram untuk
dikoleksi untuk analisis lebih jauh, atau dengan sederhana untuk memisahkan
zat radioaktif dari limbah nonradioaktif.
D. Sintilasi Cairan dan Keselamatan Radiasi
Bekerja dengan zat radioaktif membutuhkan perhatian yang besar untuk
masalah keamanan, untuk menghindari bencana yang merusak dan merugikan.
Pengukuran terus-menerus dilakukan untuk mencegah terlepasnya isotop pada
area yang tidak terproteksi. Sedangkan pengawasan dilakukan dengan tujuan
mendeteksi kejadian aksidental utnuk mencegah terjadinya kontaminasi zat
radioaktif. Pada bagian ini, dilakukan wipe test dengan menempatkan kertas a4
atau bahan absorbent lain pada cairan sintilator dan dilakukan perhitugan. Jika
nilai yang muncul melebihi nilai radiasi background, area terkontaminasi
tersebut harus dibagi lagi menjadi divisi yang lebih kecil dan dilakukan wipe
test kembali. Sampai diketahui area spesifik terkontaminasi, area tersebut
harus dibersihkan dari zat-zat radioaktif untuk kemudian dideteksi kembali
sampai nilai radiasi yang terdeteksi tidak melebihi radiasi background.
III.

KESIMPULAN
Dari pembahasan tentang detektor sintilator cair seperti yang telah dijelaskan,
didapatkan bahwa detektor sintilator cair sangat baik digunakan untuk mengukur
radiasi dan rendah, karena efisiensinya yang mendekati 100% serta kecepatan
respons yang baik. Sedangkan untuk pengukuran radiasi lain, pemilihan detektor jenis
ini masih terbilang kurang tepat.

IV.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Tsoulfanidis, Nicholas, Measurement and Detection of Radiation, Hemisphere


Publishing Corporation, London, 1983.
[2] Knoll, Glenn F, Radiation Detection and Measurement 3rd Edition, John Willey &
Sons, Inc, New York, 1989.
[3] http://ansn.bapeten.go.id/files/ins_Alat_Ukur_Radiasi.pdf diakses pada 22
Desember 2015
[4] http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/Dasar_00.htm
diakses pada 22 Desember 2015
[5] National Diagnostic Laboratory Staff, Principles and Applications of Liquid
Scintillation Counting, National Diagnostics, USA-Europe, 2004.