Anda di halaman 1dari 21

TUGAS ASUHAN GIZI IV

STUDI KASUS : KANKER SERVIKS


Dosen Pembimbing : Etika Ratna Noer, S.Gz., M.Si

Disusun oleh:
Kelompok 7
Siti Majidah

(22030112120001)

Irfa Eka Angraresti

(22030112120011)

Gardinia Nugrahani

(22030112130017)

Nurul Riau Dwi S

(22030112140033)

Agung Dwi Prasetyo

(22030112130041)

Affini Nurratri U

(22030112140061)

Dziky Muhammad

(22030112140101)

Amanda Rambu Yuliana

(22030112140109)

PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Kasus
Ny. P seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun masuk rumah sakit dan ditempatkan di
Lontara I atas kamar 6 kelas 3dengan keluhan utama batuk, demam, haid tidak teratur, mual
dan muntah serta terjadi penurunan BB. Ny. P didiagnosis medis mengalami kanker servik
stadium IV A dan sedang menjalani kemoterapi. Berat badan Ny. P sebelum masuk rumah
sakit adalah 60 kg dan berat badan saat ini adalah 57 kg. Frekuensi makan sebanyak 3 kali
sehari, tidak memiliki alergi dan pantangan makanan apapun. Konsumsi nasi 3 kali sehari dan
biskuit 2 kali sehari. Berdasarkan hasil recall asupan Ny. P sebesar 1870,9 kkal. Ny. P
beragama islam dan bersuku bugis, suaminya seorang petani.
Data Biokimia:
Jenis Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

Ket

GDS

121

140 mg/dl

Ureum

22

10-50 mg/dL

Kreatinin

0,5

< 1,3 u/L

SGOT

52

< 38 u/L

SGPT

31

< 41 u/L

Albumin

2,2

3,5-5 gr/dL

Hb

11,7

12-14 gr/dL

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium tanggal 8 November 2010

Jenis Pemeriksaan
Keadaan Umum
BAK
BAB
Tensi
Respirasi

Hasil
Baik
Lancar
Baik
100/70 mmHg
80 x/menit

Suhu
Nadi

36,6 oC
20 x/menit
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Fisik/Klinis

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Skrining Gizi
Skrining gizi bertujuan untuk mengidentifikasi pasien yang beresiko malnutrisi atau
kondisi khusus. Kondisi khusus yang dimaksud adalah pasien dengan kelainan metabolik
hemodialisa anak, geriatrik, dengan kemoterapi atau radiasi, luka bakar, pasien dengan
imunitas,sakit kritis. Sebagian besar alat skrining terdiri dari 3 pertanyaan: penurunan BB,
penurunan asupan makanan, dan keparahan penyakit.
Terdapat beberapa alat skrining gizi, diantaranya adalah:1
1. MUST (Malnutrition Universal Screening Tools)
2. NRS 2002 (Nutritional Risk Screening)
3. MNA (Mini Nutritional Asessment)
4. SNAQ (Short Nutritional Asessment Quisioner)
5. STAMP (Screening Tools Asessment of Malnutrition in Pediatric)
6. SGA (Subjective Global Assesment).
Pada kasus ini, alat skrining gizi yang digunakan adalah NRS 2002 (Nutritional risk
Screening). Tujuan system NRS 2002 adalah untuk mendeteksi adanya undernutrisi serta
resiko perkembangan undernutrisi di rumah sakit.2Di dalam NRS 2002 juga terdapat
komponen MUST dengan penambahan pengkategorian keparahan penyakit, sebagai
gambaran adanya peningkatan kebutuhan gizi. Kami menggunakan skrining ini karena NRS
2002 tepat digunakan pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan mempertimbangkan
juga tingkat keparahan penyakit pasien serta usia dalam menentukan status gizi. Berikut ini
adalah skrining gizi Ny D menggunakan NRS 2002.3
Tabel 1 Skrining Awal
Ya
1
2
3
4

Apakah BMI <20,5 ?


Apakah pasien kehilangan berat badan dalam 3 bln terakhir?
Apakah pasein mengalami pengurangan asupan makan seminggu
terakhir
Apakah pasien mengalami penyakit serius (cth. Terapi intensif)

Tidak
TIDAK

YA
TIDAK
YA

Ya : Apabila terdapat jawaban "ya" untuk setidaknya satu pertanyaan, lakukan skrining pada tabel 2
Tidak: apabila terdapat jawaban "tidak" untuk semua pertanyaan, lakukan skrining ulang setiap
minggunya.
Apabila pasien terjadwal untuk operasi besar, intervensi gizi sebelum operasi harus dipertimbangkan untuk
menjaga status gizi
Tabel 2 Skrining Final
Status Gizi
Tidak ada
Score 0

Status Gizi Normal

Ringan
Score 1

Penurunan BB >5% dlm 3 bln atau


asupan makan dibawah 50-75%
kebutuhan normal

Sedang
Score 2

Penurunan BB >5% dlm 2 bln atau


BMI 18,5-20,5 + asupan makan 2560% kebutuhan normal

Berat
Score 3

Penurunan BB >5% dlm 1 bln (>15%


dlm 3 bln) atau BMI <18,5 + asupan
makan 0-25% kebutuhan normal

Score:

1+1

Keparahan Penyakit (~ peningkatan kebutuhan)


Tidak ada
kebutuhan gizi normal
Score 0
Fraktur pinggang* pasien kronis
Ringan
dengan komplikasi: sirosis*,
Score 1
COPD*. Hemodialisis kronis,
diabetes, oncology
bedah perut major* stroke*
Moderate
pneumonia parah, hematologic
Score 2
malignancy
head injury* Transplantasi
Berat
sumsum tlg blkg* pasien
Score 3
perawatan intensif (APACHE
>10)
Total:
2

Umur

apabila umur >= 70 th: tambahkan 1 pada skor total = total skor + umur
Skor >= 3 pasien berada dalam resiko gizi dan memerlukan intervensi gizi
Score < 3 skrining ulang setiap minggunya dan apabila pasien terjadwal untuk operasi besar, intervensi
gizi sebelum operasi harus dipertimbangkan untuk menjaga status gizi

Resiko malnutrisi didefinisikan dengan melihat status gizi dan resiko kondisi pasien
berdasarkan status saat ini yang diakibatkan karena adanya peningkatan kebutuhan yang
disebabkan karena stress metabolism sesuai kondisi pasien saat ini.
Perencanaan intervensi gizi diberikan kepada pasien dengan:
(1) Malnutrisi berat (skor = 3), (2) penyakit parah (skor = 3) atau malnutrisi sedang + penyakit
ringan (skor 2+1) atau malnutrisi ringan + penyakit sedang (1+2)
Keparahan Penyakit:
Score 1 : pasien dengan penyakit kronis, diharuskan dirawat dirumah sakit karena
komplikasi. Pasien dalam kondisi lemah namun dapat meninggalkan tempat tidur secara
regular. Kebutuhan protein meningkat namun masih dapat dipenuhi dengan pemberian oral
atau suplementasi.
Score 2 : pasien diharuskan untuk berbaring dikarenakan kondisi penyakitnya. Contohnya
kondisi abdominal surgery. Kebutuhan protein mengalami peningkatan, namun masih dapat
dipenuhi, pada kasus kebanyakan pemberian makanan artificial diperlukan.

Score 3 : pasien dengan perawatan intensif menggunakan ventilator. Kebutuhan protein


meningkat namun tidak dapat dipenuhi dengan pemberian makanan artificial. Pemecahan
protein serta kehilangan nitrogen sangat mungkin terjadi.
Hasil dari skrining gizi menggunakan NRS 2002 yang dilakukan terhadap Ny. P
menunjukkan skor 2. Yang berarti status gizi Ny. P masih dapat dikatakan baik namun
beresiko malnutrisi lanjut. Untuk itu, perlu dilakukan skring gizi setiap minggunya untuk
terus memantau kondisi status gizi Ny. P.
2.2.

Assessment
Domain

Data

Interpretasi Data

Kesimpulan

FH 1.1.1.1 Total
asupan energi

1870,9 kkal

Kebutuhan
energi Asupan energi total hanya 82%
terpenuhi (Kurang)
sebesar 2270 kkal

FH 1.5.1 .1 Total
asupan lemak

29,6 gram

Kebutuhan
lemak Asupan lemak total hanya 78%
terpenuhi (Kurang)
sebesar 38 gram

FH 1.5.2.1 Total
asupan protein

62,59 gram

Kebutuhan protein Asupan protein total hanya 73%


terpenuhi (Kurang)
sebesar 86 gram

335 gram

Kebutuhan
Asupan karbohidrat total hanya
karbohidrat sebesar
98% terpenuhi (Kurang)
341 gram

FH 1.5.3.1 Total
asupan karbohidrat

FH 1.2.2.5 Variasi Nasi 3xsehari


makanan
(1 gls),
konsumsi
snack biscuit
2xsehari
(2
keping)

FH 5.4.1 Waktu Makan


makan
sehari

3x

Tidak
ada
pantangan
makan apapun

FH 5.2.1 Pantangan

Simpulan Assessment Food History : Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan, total asupan
energi, karbohidrat, lemak, dan protein Ny. P tidak terpenuhi.
AD 1.1.1 Tinggi
badan
AD 1.1.2
badan

Berat

155 cm

57 kg

AD 1.1.4 Perubahan
berat badan
AD 1.1.5. BMI

3 kg selama 1
bulan
23,7kg/m2

Overweight

Simpulan Assessment Pengukuran Antropometri : BMI menurut BB/TB didapatkan hasil yaitu
23,7 kg/m2 yang masuk dalam kategori overweight.
BD 1.5.2 GDS

121 mg/dL

Normal : 140mg/dL

Normal

BD 1.4.15 Ureum

22mg/dl

Normal : 10-50mg/dl

Normal

BD 1.2.2 Kreatinin

0,5 mg

Normal : <1,3mg/dl

Normal

BD 1.4.3 SGOT

52

Normal : <38u/l

Tinggi

BD 1.4.2 SGPT

31

Normal : <41 u/l

Normal

11,7

Normal : 12-14gr/dl

Rendah

2,2

Normal : 3,5-5gr/dl

Rendah

BD

Hemoglobin

1.10.1

BD 1.11.1 Albumin

Simpulan Assessment Data Biokimia, Tes Medis dan Prosedur : Berdasarkan data
laboratorium, pasien memiliki nilai SGOT yang tinggi yaitu 52 u/l dan nilai albumin yang rendah
yaitu 2,2gr/dl.
PD 1.1.1 Keadaan
umum

Sadar

PD 1.1.5 Sistem
pencernaan

Mual, muntah
dan BAB 1-2
kali sehari

PD 1.1.9.1 Tekanan
darah

100/70 mmHg

Normal
mmHg

120/80

Rendah

PD 1.1.9.2 Laju
respirasi

20 kali/menit

Normal :
kali/menit

14-20

Normal

PD 1.1.9.3 Denyut
nadi

80 kali/menit

Normal :
kali/menit

60-100

Normal

PD 1.1.9.4 Suhu
tubuh

36,6oC

Normal

Simpulan Assessment Temuan Fisik Berfokus Pada Gizi : Penampilan keseluruhan Ny. P baik.
Tanda-tanda vital seperti laju pernapasan, denyut nadi dan suhu tubuh berada dalam batasan
normal. Namun, Ny. P seringkali mual muntah dan memiliki tekanan darah rendah.
42 tahun

Wanita

Bugis

Indonesia

CH 2.2.1 Terapi Kemoterapi ca.


medis
serviks std IV
A

CH 3.1.6 Pekerjaan

Ibu rumah
tangga

Islam

CH 1.1.1 Usia
CH 1.1.2
kelamin

Jenis

CH 1.1.3 Ras/suku
CH 1.1.4 Bahasa

CH 3.1.7 Agama

Simpulan Assessment Riwayat Pasien : Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan, Ny. P
memiliki diagnosis medis kanker serviks stadium IV A dan saat ini menjalani kemoterapi. Tidak
terdapat riwayat penyakit yang serupa dalam keluarganya.
CS 1.1.1 Perkiraan
kebutuhan energi

2270 kkal

Disesuaikan dengan
kondisi pasien dan
daya terima pasien.

CS 1.1.2 Metode
perhitungan

Perhitungan
kebutuhan
energy
bisa
mengunakan
Mifflin-St.
Joer
dengan
disertai
factor kondisi yang
dialami pasien.

BMR = (10 x BB) + (6,25 x


TB) (5 x U) 161
= (10 x 57) + (6,25 x 155) (5
x 42) 161
= 1587,75
AF = 10% x 1512,75 = 158,7
IF = 1,3 x 1746,45 = 2270 kkal

Pemberian
disesuaikan
kemampuan
penyerapan
cerna pasien.
Pemberian
disesuaikan
kemampuan
penyerapan
cerna pasien.

CS 2.1 Perkiraan
kebutuhan lemak

CS 2.2 Perkiraan
kebutuhan protein

CS 2.3 Perkiraan
kebutuhan karbohidrat

CS 3.1 Perkiraan
kebutuhan cairan
CS 4.1 Perkiraan
kebutuhan vitamin

30 35 mL/kg

L = 15 % x 2270
= 340,5/9
dengan
= 38 gram
saluran
P = 1,5 x 57
= 86 gram
dengan
saluran

Pemberian
KH = 60 % x 2270
disesuaikan dengan = 1362/4
= 341 gram
kemampuan
penyerapan saluran
cerna pasien.
1710 mL
Vitamin A : 500 mcg
Vitamin C : 75 mg
Vitamin E : 15 mg
Vitamin B6 : 1,3 mg
Vitamin B12 : 2,4
mcg

Magnesium : 320
mg
Zinc : 10 mg
Zat besi : 26 mg
Simpulan Assessment Standar Komparasi : Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan,
penentuan kebutuhan energi pasien dihitung menggunakan rumus Mifflin-St. Joer. Dari data
kebutuhan energi yang didapatkan maka dapat diketahui kemudian tingkat kebutuhan karbohidrat,
protein dan lemak. Selain itu, kebutuhan zat gizi mikro juga perlu diperhatikan pada pasien
kanker.
CS 4.2 Perkiraan
kebutuhan mineral

2.3.

Diagnosis
Malnutrisi (NI 5.2) berkaitan dengan perubahan fisiologis tubuh akibat peningkatan
kebutuhan nutrisi karena penyakit katabolik dalam waktu yang lama ditandai dengan
penurunan berat badan yang tidak diinginkan sebanyak 3 kg dalam 1 bulan, dan nilai
abnormal labroratorium : albumin (2,2 gr/dl), SGOT (52 U/L).

2.4.

Intervensi

a. Tujuan
1. Memberikan asupan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi dengan
memperhatikan kondisi fisik/klinis dan daya terima pasien
2. Mencegah terjadinya penurunan berat badan yang tidak diinginkan
3. Memberikan edukasi dan konseling gizi kepada keluarga dan pasien setelah
pasien memasuki fase pemulihan
b. Preskripsi
1. Perencanaan Diet
a. Memberikan asupan energi sebesar 2270 kkal melalui oral secara
bertahap.4,5
b. Modifikasi jumlah asupan karbohidrat 60% dari total kebutuhan energi
per hari yaitu sebesar 341 gram.5
c. Modifikasi jumlah asupan lemak 15% dari total kebutuhan energi per
hari yaitu sebesar 38 gram. Terutama jenis asam lemak omega 3 yang
berfungsi sebagai anti inflamasi.5
d. Modifikasi jumlah asupan protein sebersar 1,5 gram per kg berat badan
per hari sebesar 86 gram. Pemberian protein jenis arginin juga
diperlukan untuk mempertahankan imunitas tubuh.4
e. Memberikan vitamin A sebesar 500 mcg, vitamin C sebesar 75 mg,
vitamin E 15 mg, vitamin B12 sebesar 2,4 mcg, dan zinc sebesar 10
mg.4,5
f. Memberikan asupan cairan sebesar 1710 ml (30-35 ml/kg) per harinya
g. Memberikan edukasi dan konseling gizi pada pasien dan keluarganya
2. Edukasi Gizi
a. Tujuan : Memberikan edukasi mengenai keadaan penyakit pasien dan
memotivasi untuk tetap menjaga asupan makanan
b. Sasaran : pasien dan keluarga
c. Waktu

: selama intervensi

d. Tempat : ruang rawat inap


e. Durasi

: 15-20 menit

f. Metode : pemberian penjelasan dan informasi dan tanya jawab


g. Alat bantu : leaflet
h. Materi

Pengetahuan mengenai pentingnya makanan untuk mempertahankan


status gizi penderita kanker

Menfaat melakukan diet sesuai kebutuhan dan daya terima pasien


agar kondisi pasien tetap baik

3. Konseling Gizi
a. Tujuan : menjaga kondisi pasien tetap baik
b. Topik

: menjelaskan tata cara diet dan pemilihan bahan makanan

c. Sasaran : pasien dan keluarga


d. Waktu

: selama dirumah sakit dan home visit

e. Tempat : dirumah sakit dan dirumah pasien


f. Durasi

: 15-20 menit

g. Metode : observasi dan tanya jawab


h. Alat bantu : food model dan daftar bahan makanan khusus penderita
kanker
i. Materi

Menjelaskan tentang tata cara diet dan pemilihan bahan makanan


yang dianjurkan serta menghindari makanan yang dapat memperparah
kondisi pasien seperti makanan karsinogenik dan tinggi lemak

Memberikan contoh menu sehari kepada pasien dan keluarga

Memotivasi pasien dan keluarga untuk berkomitmen dalam


menjalankan dietnya

Menghimbau kepada keluarga untuk melakukan pengawasan terhadap


pasien.

c. Implementasi Menu
Menu

Bahan makanan

urt

Berat (g)

Makan pagi
nasi goreng

nasi

1 piring

100

kacang polong

15

wortel

15

telur ayam

40

kol

15

minyak kelapa sawit

1 sdm

air putih

air putih

1 gelas

Papaya

pepaya

2 ptg

5
400
60

Snack
singkong thailand

singkong

1 buah

120

santan

1sdm

20

gula

2sdm

10

maizena

1 gelas

air putih

1 gelas

100

Nasi

nasi

1 piring

150

Tempe

tempe

2 buah

88

sop pelangi

sosis

1 porsi

15

air putih
Makan siang

wortel

20

kubis

15

kentang

20

kuah
air putih

0
1 gelas

500

Snack
jus jambu

jambu

1/2 buah

60

gula

2 sdm

13

air putih

1 gelas

600

pisang

2 bh

160

Lontong

nasi

1 piring

100

tahu campur

tahu

1 porsi

15

Pisang
Makan Malam

air putih

taoge

20

kubis

15

kentang

15

kacang tanah

15

air putih

1 gelas

400

2.5.

Monitoring dan Evaluasi

Intervensi

Monitoring

Evaluasi

Memberikan asupan yang


cukup
untuk
memenuhi
kebutuhan
gizi
dengan
memperhatikan
kondisi
fisik/klinis dan daya terima
pasien

Melakukan
pemantauan
kebutuhan asupan dan daya
terima
pasien
dengan
memantau frekuensi mual
dan muntah serta memantau
status hidrasi pasien

Status gizi pasien dan


simpanan nutrisi optimal
serta asupan energi pasien
memenuhi
yaitu
2270
kkal/hari

Mencegah
terjadinya Melakukan pemantauan berat Berat badan pasien sudah
penurunan berat badan yang badan pasien secara berkala
bisa stabil
tidak diinginkan

Memberikan edukasi dan


konseling
gizi
kepada
keluarga dan pasien setelah
pasien
memasuki
fase
pemulihan

2.6.

Melihat
kemajuan
dari
pengetahuan dan pemahaman
pasien
dan
keluarga
mengenai penyakitnya dan
pemilihan makanan setelah
fase pemulihan

Terjadi perubahan perilaku


pasien dan kelurga terkait
pengetahuan dan pemahaman
mengenai
pemilihan
makanan yang tepat.

Pembahasan

A. Skrining
Skrining gizi bertujuan untuk mengidentifikasi pasien yang beresiko malnutrisi atau
kondisi khusus. Kondisi khusus yang dimaksud adalah pasien dengan kelainan metabolik
hemodialisa anak, geriatrik, dengan kemoterapi atau radiasi, luka bakar, pasien dengan
imunitas,sakit kritis.Langkah selanjutnya dilakukan pengkajian data antropometri untuk
mengetahui status gizi pasien.Hal pertama yang dilakukan dalam menangani kasus Ny. P
adalah melakukan skrining dengan menggunakan NSR dengan tujuan untuk mendeteksi
adanya undernutrisi serta resiko perkembangan undernutrisi di rumah sakit.
Sistem penilaian yang digunakan oleh alat NSR dibagi menjadi 4 kategori, yaitu
berisiko rendah, sedang dan tinggi dengan skor berkisar 0 sampai 3. Hasil dari skrining
gizi menggunakan NRS 2002 yang dilakukan terhadap Ny. P menunjukkan skor 2. Yang
berarti status gizi Ny. P masih dapat dikatakan baik namun beresiko malnutrisi lanjut.
Untuk itu, perlu dilakukan skring gizi setiap minggunya untuk terus memantau kondisi
status gizi Ny. P.

B. Assessment
Langkah selanjutnya dilakukan pengkajian data antropometri untuk mengetahui status
gizi pasien. Data yang diperlukan antara lain berat badan dan tinggi badan. Pada kasus
diketahui berat badan pasien 60 kg namun mengalami penurunan BB sebanyak 3 kg
menjadi 57 kg dan tinggi badan 155 cm, kemudian dilakukan perhitungan dengan
menggunakan BMI yaitu1 :

BMI

Berat badan(kg)
tinggi badan ( m ) tinggi badan ( m )

= 57/ (1,55)2
= 23,7 kg/m2 (overweight)
Setelah mengetahui status gizi pasien, kemudian dilakukan pengkajian data asupan
biokimia, pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan pasien, setelah itu dilakukan
penghitungan untuk kebutuhan gizi pasien dengan menggunakan rumus Mifflin St. Jeor.
Data laboratorium seperti serum transaminase hepar yaitu SGOT dan SGPT adalah
suatu enzim yang diproduksi didalam hati. Hepar merupakan suatu organ yang peka
terhadap zat toksik dan berperan penting dalam metabolism bahan toksik yang berfungsi
sebagai detoksifikasi.Nilai SGOT pada pasien menunjukan angka 52 u/l (Normal : <38 u/l)
yang menunjukan bahwa nilai SGOT pasien tinggi. Perubahan nilai SGOT merupakan
salah satu efek samping dari kemoterapi yang dialami oleh pasien terkait dengan penyakit
yang diderita. Mekanisme kerja obat-obat kemoterapi tidak bersifat selektif, maka selain
sel kanker yang terbasmi, sel normal yang bersifat aktif membelah seperti sel sumsum
tulang, saluran pencernaan, folikel rambut, dan sistem reproduksi juga ikut terkena
pengaruhnya. Beberapa efek samping yang tidak diinginkan akan timbul selama
kemoterapi, efek samping yang timbul bersifat akut dan jangka panjang. Efek samping
akut dapat terjadi beberapa jam sampai beberapa minggu setelah pemberian kemoterapi,
berupa mielosupresi, mual, muntah, alopesia, mukositis orointestinal, kelainan fungsi hati,
alergi serta ulserasi lokal. Tingkat kerusakan organ akibat efek samping kemoterapi
berbeda pada tiap individu tergantung berbagai faktor antara lain jenis dan dosis
kemoterapi yang dipakai, jangka waktu pemberian, faktor individu seperti ras, status gizi,
keadaan organ tempat detoksikasi, dan ekskresi obat tersebut.6
Ketika hepar terpapar oleh zat toksik dan terjadi nekrosis pada sel-sel, maka sel-sel
hepar akan melepaskan enzim-enzim didalam sel ke dalam darah. Perubahan kadar enzim
tersebut dalam darah dapat digunakan sebagai parameter terjadinya kerusakan pada
hepar.7Toksisitas kemoterapi pada hati dapat disebabkan oleh pemberian MTX, cytosin
arabinose, L-asparaginase, vinkristin.8Obat MTX dosis tinggi juga bersifat neurotoksik
khususnya bila diberi bersama-sama dengan terapi radiasi. Pemberian secara intravena dan
intratekal jarang menimbulkan neurotoksisitas yang serius. Dosis yang sangat tinggi dosis
10 kali MTX 33,6/m2 masih ditoleransi, tidak menimbulkan sekuele neurologis.9

Pasien memiliki diagnosis medis kanker serviks stadium IVA dan sedang menjalani
kemoterapi. Kemoterapi digunakan untuk menghentikan pembelahan sel, seringkali efektif
tetapi juga memiliki efek samping yang tidak diinginkan. Bahan kimia atau obat-obatan
bersifat sistemik sehingga dapat mempengaruhi sistem seluruh tubuh. Hal tersebut sangat
berbeda dengan terapi radiasi atau operasi yang digunakan untuk mengobati kanker secara
lokal. Efek kemoterapi sangat mempengaruhi status gizi dan asupan makanan.10Efek
samping yang umumnya terjadi adalah perubahan rasa, infeksi pada rongga mulut dan
kerongkongan, kerusakan jaringan dan kehilangan protein, kalium dan kalsium pada urin,
diare dan malabsorbsi, mual dan muntah dan kehilangan nafsu makan, sembelit serta
penurunan motilitas usus.11
Perhitungan kebutuhan energi pasien menggunakan rumus Mifflin St. Jeor dengan
aktifitas fisik sebesar 10% dan faktor stress sebesar 1,3 diperoleh total kebutuhan energi
sebesar 2270 kkal. Kebutuhan karbohidrat pasien yaitu 60% dari kebutuhan kalori,
kebutuhan lemak 15% dari kebutuhan kalori dan protein sebesar 1,5 gr/kgBB pasien.
Selain itu, kebutuhan zat gizi mikro tinggi antioksidan seperti vitamin C, vitamin E,
selenium, karotenoid dan asam folat dipercaya memiliki peran sebagai pencegah kanker.1,5
C. Diagnosis
Dari data yang didapatkan pada proses assessment masalah gizi yang dapat
disimpulkan adalah malnutrisi (NI-5.2). Malnutrisi yang terjadi dapat diakibatkan karena
perubahan fisiologis pasien akibat peningkatan kebutuhan nutrisi dikarenakan penyakit
katabolik yang lama (kronis) dan hal ini ditandai oleh beberapa indikator seperti
penurunan berat badan yang tidak diinginkan serta nilai abnormal dari laboratorium
(albumin dan SGOT).
Pada kanker stadium lanjut pasien sering jatuh kedalam kondisi kurang energi protein
(KEP) yang dikenal dengan kaxeksia. Kaxeksia adalah kumpulan gejala yang ditandai
dengan anoreksia, penurunan berat badan, kehilangan masa otot, disfungsi organ,
hipoalbuminemia, peningkatan kebutuhan basal dan gangguan metabolisme zat gizi serta
kelemahan.12Dari hasil pemeriksaan terjadi abnormalitas nilai biokimia yaiitu SGOT (52
U/L) yang termasuk dalam kategori tinggi. SGOT/AST (aspartate transaminase) adalah
suatu tes fungsi hati yang secara umum digunakan untuk mengetahui adanya gangguan
dalam organ hati.13
Serum albumin sering digunakan sebagai indikator pemeriksaan status gizi psien
kanker.14 Serum albumin merupakan komponen protein yang membentuk lebih dari
setengah protein plasma. Albumin diseintesis oleh hati. Albumin dapat meningkatkan
tekanan osmotik (tekanan onkotik) yang dibutuhkan untuk mempertahankan cairan
vaskuler. Penurununan nilai albumin serum akan mengakibatkan cairan dari pmbuluh
vaskuler keluar ke jaringan-jaringan, dan akhirnya dapat menyebabkan edema. 15Batas
normal untuk serum albumin adalah 3,5 5 g/dl untuk dewasa dan apabila <3,5 g / dL
disebut hypoalbuminemia.14Pada kasus ini nilai serum albumin menunjukkan 2,2 g/dl yang
berarti dapat digolongkan dalam kategori rendah. Dalam hal ini nilai serum albumin
rendah dapat diakibatkan karena malnutrisi yang diderita pasien akibat perubahan
fisiologis tubuh.

D. Intervensi
Intervensi untuk Ny P diberikan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi,
mencegah terjadinya penurunan berat badan yang tidak diinginkan, dan memberikan
edukasi dan konseling gizi kepada pasien. Zat gizi makro yang diberikan meliputi
protein, karbohidrat dan lemak. Untuk pasien kanker membutuhkan diet tinggi protein
karena pada tubuhnya terjadi hiperkatabolisme karena penyakit.1
Kapsul asam lemak omega 3 / EPA dan antioksidan dapat diberikan kepada pasien
untuk mempertahankan berat badan pada pasien serta mencegah terjadinya penurunan
berat badan.16,17Selain itu asam amino jenis arginin dapat digunakan untuk
meningkatkan imunitas tubuh pasien.
Pasien diberi bentuk makanan biasa dalam porsi kecil dan frekuensi sering secara
bertahap. Hal ini dilakukan untuk mengangani masalah mual muntah efek dari
kemoterapi yang diterima pasien. Selain itu untuk pasien mual muntah sebaiknya tidak
diberi makanan yang digoreng karena menimbulkan aroma yang cukup kuat serta
hindari minuman asam karena dapat meningkatkan keasaman lambung.1Hindari
makanan yang disajikan panas dan dingin, sajikan makanan yang sedikit atau tidak
mengeluarkan aroma. Jangan berikan pasien makanan yang mengandung tinggi lemak
dan terlalu manis. Lingkungan makan pasien harus dibuat senyaman mungkin sehingga
pasien merasa rileks dan nyaman.5
Mikronutrien yang dapat diberikan untuk pasien ini diantaranya vitamin B12,
vitamin A, vitamin C, vitamin E, folat, dan zink, yang merupakan antioksidan.
Antioksidan terbukti berperan dalam mencegah terjadinya kanker serviks.18,19,20Asupan
tinggi vitamin C dan selenium (atau kadar serum dalam darah) dapat mengurangi resiko
terjadinya CIN (cervical intraepithelial neoplasia) dan kanker serviks invasive.
VitaminC, vitaminE, beta-karoten danlycopene, yang dikenal sebagaiantioksidankuat
yangdapat
mencegahoksidasiproteinselulerdanDNA,
yang
dianggap
1,20
memilikiefekantineoplastikpada serviks.
Vitamin C merupakan vitamin larut air yang memiliki sifat antioksidan. Antioksidan
berperan untuk melindungi sel dari radikal bebas. Sebagai agen reduksi dan
antioksidan, vitamin C bereaksi langsung dengan O 2, OH dan hidroperoksida lemak.
Selain itu vitamin C juga berkerja sama dengan vitamin E yang merupakan antioksidan
larut lemak. Jadi vitamin C sangat bermanfaat ketika digunakan untuk terapi pada
kanker serviks.21, 22
Vitamin B12terkaitdenganasupanfolatseluler. Folat umumnya diperlukan untuk
synthesis, methylation, dan perbaikan DNA. VitaminB12danfolatmerupakan kofaktor
untuksintesis metionin, yangberfungsi mengkatalisis dari konversihomosistein,
dantingkat
metionin
berbanding
terbalikdengan
tingkathomocysteine.
Homosisteindapatdikaitkan dengan peningkatan risikokanker servikssebagai
penandafolatdankadar vitaminB12 yang rendah.20
Zinc digunakan untuk pertumbuhan sel dan juga berfungsi dalam mempertahankan
integritas membran sel. Ada kemungkinan sel kanker memakan zinc yang terdapat di

sirkulasi, sehingga menyebabkan deplesi zinc pada pasien kanker serviks. Peningkatan
rasio perbandingan Cu/Zn karena adanya penurunan jumlah Zn dan peningkatan Cu.
Hal ini merupakan faktor risiko pertumbuhan sel kanker atau karsinogenesis.19
Melakukan aktivitas fisik untuk mempertahankan lean body mass dianjurkan untuk
pasien, jangan terus bedrest untuk menghindari terjadinya penurunan jaringan otot.
Sedapat mungkin pasien melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan-jalan atau
kegiatan lain yang tidak terlalu melelahkan.1
Edukasi dan konseling gizi perlu diberikan kepada pasien dan keluarganya. Selain
itu edukasi dan konseling diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan
keluarga terkait cara memilih makanan yang diperbolehkan dikonsumsi oleh penderita
kanker untuk memenuhi kebutuhan pasien, mengendalikan/menjaga kondisi pasien, dan
mencegah terjadinya komplikasi. Edukasi dan konseling mengenai makanan yang perlu
di hindari bagi pasien kanker seperti makanan karsiogenik dan tinggi lemak.

BAB III
KESIMPULAN

3.1.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengkajian antropometri, biokimia, fisik, riwayat gizi dan
kesehatan pasien, maka di rumuskan diagnosis utama pasien yaknimalnutrisi (NI
5.2) berkaitan dengan perubahan fisiologis tubuh akibat peningkatan kebutuhan
nutrisi karena penyakit catabolic dalam waktu yang lama ditandai dengan penurunan
berat badan yang tidak diinginkan sebanyak 3 kg dalam 1 bulan, dan nilai abnormal
labroratorium : albumin (2,2 gr/dl), SGOT (52 u/l).
Intervensi yang dilakukan bertujuan untuk memberikan asupan yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan gizi dengan memperhatikan kondisi fisik/klinis dan daya terima
pasien, mencegah terjadinya penurunan berat badan yang tidak diinginkan,
memberikan edukasi dan konseling gizi kepada keluarga dan pasien setelah pasien
memasuki fase pemulihan. Intervensi yang dilakukan dengan pemberian diet asupan
energi 2270 kkal/hari, asupan protein 86 gram, lemak 38 gram, dan karbohidrat 341
gram. Selain makronutrien, juga diberikan mikronutrien yaitu vitamin A sebesar 500
mcg, vitamin C sebesar 75 mg, vitamin E 15 mg, vitamin B12 sebesar 2,4 mcg, dan
zinc sebesar 10 mg, serta asupan cairan sebesar 1710 ml (30-35 ml/kg) per harinya.

Daftar Pustaka
1. Young AM, Kidston S, Banks MD, Mudge AM, Isenring EA. Malnutrition screening
tools: Comparison against two validated nutrition assessment methods in older
medical inpatients. Nutrition. 2013;29:101-6.
2. Kondrup J, Rasmussen H H, Hamberg O et al. Nutritional Risk Screening (NRS
2002): a new method based on an analysis of controlled clinical trials. Clin Nutr 2003;
22: 321336
3. J. Kondrup et al. ESPEN Guidelines for Nutrition Screening 2002. Clinical Nutrition
(2003) 22(4): 415421. doi:10.1016/S0261-5614(03)00098-0
4. Nelms M. Nutrition Therapy and Pathophysiology, 2e. Kathrine P Sucher KL, Sara
Long Roth, editor. United States Wadsworth, Cengage Learning; 2011.
5. Abby S. Bloch. Nutrition Management of Cancer Patient. United States of America,
Jones & Bartlett Learning; 1990.
6. Balis FM, Holcenberg JS, Blaney SM. General Principles of Chemotherapy. Dalam:
Pizzo PA, Poplack DG, penyunting. Principles and practice of pediatric oncology.
Edisi ke-4. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2002. h. 237-308.
7. Cynthia Arfeliana. Pengaruh pemberian the hitam terhadap kadar SGOT, SGPT
mencit BALB/C. Universitas Diponegoro. 2010.
8. Maria A. Efek samping sitostatika dan penanggulangannya. Dalam: Wahidiyat I,
Gatot D, Mangunatmadja I, penyunting. Perkembangan mutakhir penyakit hematologi
onkologi anak. Naskah lengkap Pendidikan Berkala Ilmu Kesehatan Anak XXIV.
FKUI; 1991 6-7 September; Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 1991.
9. Moe PJ. High-dose methotrexate in childhood ALL. Pediatr Hematol Oncol 2000;
17:615-22.
10. American Institute for Cancer Research. HEAL Well: A Cancer Nutrition Guide.
2013.

Available

guide.pdf

from:

http://www.aicr.org/assets/docs/pdf/education/heal-well-

11. NICUS.

Dietary

Treatment

of

Cancer

Patients.

2012.

Available

from:

http://sun025.sun.ac.za/portal/page/portal/Health_Sciences/English/Centres%20and
%20Institutions/Nicus/Nutrition_Facts_sheets/Cancer%20-%20Treatment.pdf
12. S A Budi Hartati. Upaya peningkatan asupan makan pada pasien kanker. Instalasi Gizi
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Gizi Indon 2007, 30(1):70-72.
13. Wibowo AW, L Maslachch & Bijanti. Pengaruh Pemberian Perasan Buah Mengkudu
(Morinda citrifolia) Terhadap Kadar SGOT dan SGPT Tikus Putih (Rattus norvegicus)
dengan Diet Tinggi Lemak. Jurnal Veterineria Medika Universitas Airlangga. 2008
Vol. 1:1-5
14. Digant Gupta, Christopher G Lis. Pretreatment serum albumin as a predictor of cancer
survival: A systematic review of the epidemiological literature. Nutrition Journal.
2010, 9:69
15. Retno Wahyuningsih. Penatalaksanaan diet pada pasien. Graha ilmu. Yogyakarta.
2013.
16. Wigmore SJ, Ross JA, Falconer JS, et al. The effect of polyunsaturated fatty acids on
the progress of cachexia in patients with pancreatic cancer. Nutrition. 1996;12
(suppl):2730.
17. Wigmore SJ, Barber MD, Ross JA, et al. Effect of oral eicosapentaenoic acidon
weight loss in patients with pancreatic cancer. Nutr Cancer. 2000;36:17784.
18. Cho H, Kim M, Lee J, Son S, Lee K, Lee J, Lee J P, Hur S, Kim J. Relationship of
serum antioxidant micronutrients and sociodemographic factors to cervical neoplasia:
a case-control study. Clin Chem Lab Med. 2009;47(8):10051012.
19. M. Smita K. Naidu, A.N.Suryakar, Sanjay C. Swami, R.V.Katkam and K.M.Kumbar.
Oxidative Stress and Antioxidant Status in Cervical Cancer Patient. Indian Journal of
Clinical Biochemistry. 2007; 22 (2) 140-144.
20. S-K Myung, W Ju, SC Kim, HS Kim. Vitamin or antioxidant intake (or serum level)
and risk of cervical neoplasm: a meta-analysis. BJOG An International Journal of
Obstetrics and Gynaecology 2011; systematic review.
21. Niki E. Action of ascorbic acid as a scavenger of active stable oxygen radical. Am J
Clin Nutr. 1991; Vol, 54 (11): 195-45.
22. Koechlin A. Ascorbic acid in the prevention and treatment of cancer. Alternative
Medicine Review. 1998; Vol.3(3): 174-86.

LAMPIRAN
Contoh menu anjuran untuk Ny P

Menu

Bahan makanan

urt

Berat
(g)

energi
(kkal)

prote
in (g)

lema
k (g)

karbohi
drat (g)

Makan pagi
nasi goreng

nasi

1 piring

vitam
in C
(mg)

Asam
folat
(g)

vitam
in
B12
(g)

100

180

0.3

39.8

kacang polong

15

14.7

1.005

0.06

2.655

102

3.9

wortel

15

5.4

0.15

0.09

1.185

1068.
75

2.7

0
0.064
48

telur ayam

40

61.6

4.96

4.32

0.28

41.6

30.92
32

kol

15

4.35

0.21

0.03

0.795

12

7.5

44.2

400

60

27.6

0.3

7.32

219

46.8

minyak kelapa
sawit

1 sdm

air putih

air putih

1 gelas

pepaya

pepaya

2 ptg

Snack
singkong
thailand

vitam
in A
(RE)

seng
(mg)

singkong

1 buah

santan

1sdm

120

184.8

1.2

0.36

44.16

37.2

20

25

air putih

gula

2sdm

10

39.4

9.4

maizena

1 gelas

17.05

0.015

4.25

air putih

1 gelas

100

Makan siang
nasi

nasi

1 piring

150

270

4.5

0.45

59.7

tempe

tempe

2 buah

88

176.88

18.30
4

7.744

11.88

sop pelangi

sosis

4 sdm

15

67.2

2.175

6.345

0.345

wortel

20

7.2

0.2

0.12

1.58

1425

3.6

kubis

15

4.35

0.21

0.03

0.795

12

7.5

kentang

20

12.4

0.42

0.04

2.7

4.2

500

kuah
air putih

1 gelas

Snack
jus jambu

pisang
Makan
Malam

jambu

1/2
buah

60

29.4

0.54

0.18

7.32

15

46.8

gula

2 sdm

13

51.22

12.22

air putih

1 gelas

600

pisang

2 bh

160

172.8

1.6

1.28

38.88

0.32

14.4

lontong

nasi

1 piring

tahu campur

tahu

4 sdm

air putih

100

180

0.3

39.8

15

12

1.635

0.705

0.12

taoge

20

6.8

0.74

0.24

0.86

kubis

15

4.35

0.21

0.03

0.795

12

7.5

kentang

15

9.3

0.315

0.03

2.025

3.15

kacang tanah

15

84.6

3.825

6.66

3.825

air putih

400

1692.6

48.51
4

35.31
4

0.32

2911.
35

186.2
5

30.92
32

0.064
48

Total

292.69