Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN EKOLOGI HEWAN

PRAKTIKUM 01
I.
II.

Judul
: Mengenal Titik Kardinal Suhu Pada Ikan Kepala Timah
Tujuan
:
1. Untuk mengetahui titik kardinal suhu pada ikan kepala timah
2. Untuk melatih keterampilan mahasiswa menggunakan alat-alat

laboratorium
III. Landasan Teori
Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat membatasi pertumbuhan
dan distribusi hewan. Salah satu aspek yang membatasi kelangsungan
kehidupan hewan dipengaruhi oleh suhu. Dalam kaitannya dengan
organisme, maka prinsip dasar yang mengakibatkan suhu dapat mengatu
pertumbuhan dan penyebaran organisme adalah terletak pada pengaruh fisik
suhu terhadap tubuh organisme. Suhu yang terlalu tinggi dapata
mengakibatkan rusaknya enzim dan protein lain, dan menguapkan cairan
tubuh, dapat merusak vitamin, dapat merusak sel, jaringan, dan organ, dapat
merusak permeabilitas membran, dan merusak hormon. Sebaliknya, suhu
yang terlalu rendah dapat membekukan protoplasma, dapat menghambat
kerja enzim, menghambat kerja hormon, dan menghambat metabolisme.
(Swasta, 2003).
Berbicara tentang rentangan suhu yang dapat diterima oleh hewan,
maka setiap jenis hewan memiliki titik cardinal suhu sendiri-sendiri. Yang
dimaksud dengan titik kardinal suhu adalah titik-titik yang menunjukkan
batas suhu maksimum, suhu optimum, dan batas suhu minimum yang masih
dapat diterima oleh mahluk. (Swasta, 2003).
Setiap hewan memiliki titik kardinal suhu yang berbeda dengan hewan
lainnya. Titik kardinal adalah titik-titik yang menunjukkan batas suhu
maksimum, suhu optimum, dan suhu minimum yang bisa diterima oleh
hewan. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi yang memungkinkan hanya
50% anggota populasi suatu hewan bertahan hidup. Suhu minimum adalah
suhu terendah yang memungkinkan hanya 50% anggota pupulasi suatu
hewan

bertahan

hidup.

Suhu

optimum

adalah

nilai

suhu

yang

memungkinkan populasi suatu hewan menjalani hidup paling baik dan


menghasilkan keteurunan paling banyak.
1

Pada praktikum kali ini hewan yang digunakan adalah ikan kepala
timah. Nama ilmiah dari ikan ini adalah Aplocheilus panchax. Ikan ini dapat
ditemukan di sebagian Asia tenggara termasuk Indonesia. Ikan ini kerap
ditemukan di persawahan, saluran irigasi, kanal, dan reservoir. Ikan ini
menyukai perairan yang jernih dengan tanaman terapung padat. Kadar pH di
lingkungan tempat ikan kepala timah ini hidup sekitar 6.0 sampai 0.8 dan
IV.

V.

suhu lingkungannya sekitar 20-26C.


Alat dan Bahan
a. Alat:
1. Waskom aluminium lengkap dengan sekat pemisah
(1 buah)
2. Termometer
(2 buah)
3. Tally counter
(2 buah)
4. Kaki tiga yang besar
(1 buah)
5. Aerator
(2 buah)
b. Bahan:
1. Ikan kepala timah
(100 ekor)
2. Lilin batangan
(24 batang)
3. Es batu
(4 kg)
4. Kapas
(250 gram)
5. Air tawar
(30 liter)
6. Korek api
(1 kotak)
Prosedur Kerja
1. Prosedur Kerja Untuk Menentukan Suhu Maksimum
a. Mengisi waskom dengan air tawar sebanyak 15 liter.
b. Menaruh sekat di dalam waskom sehingga waskom terbagi menjadi
10 ruangan. Bila terdapat celah antar ruangan yang memungkinkan
ikan lewat, tutup menggunakan kapas.
c. Menaruh 50 ekor ikan di dalam waskom dengan ketentuan bahwa
setiap ruang diisi sebanyak 5 ekor ikan.
d. Mengukur suhu awal air tersebut dengan memakai termometer, lalu
membiarkan termometer itu tetap ada di sana untuk mengukur suhu air
selama pemanasan nanti.
e. Memulai memanaskan air dengan cara menyalakan 24 batang lilin di
bawah waskom yang ditopang dengan kaki tiga.
f. Selama melakukan pemanasan, mengamati perilaku ikan dengan
cermat untuk mengetahui kematiannya. Ikan yang sudah dinyatakan
mati bila posisi tubuhnya miring.
g. Menunggu kematian ikan sampai mencapai 50% dari seluruh jumlah
ikan menjadi mati (25 ekor).

h. Kalau ikan yang mati sudah mencapai 25 ekor, cepat membaca angka
suhu di termometer. Besarnya suhu air pada saat ini merupakan suhu
maksimum bagi ikan kepala timah.
i. Kalau sudah diketahui suhu maksimumnya, menghentikan pemanasan
karena tujuan sudah dicapai.
2. Prosedur Kerja Untuk Mengetahui Suhu Minimum
a. Mengisi waskom dengan air tawar sebanyak 15 liter.
b. Menaruh sekat di dalam waskom sehingga waskom terbagi menjadi
10 ruangan. Bila terdapat celah antar ruangan yang memungkinkan
ikan lewat, tutup menggunakan kapas.
c. Menaruh 50 ekor ikan yang baru di dalam waskom dengan ketentuan
bahwa setiap ruang terisi sebanyak 5 ekor ikan.
d. Mengukur suhu awal air tersebut dengan memakai termometer, lalu
membiarkan termometer itu tetap ada di sana untuk mengukur suhu air
selama pendinginan nanti.
e. Memulai mendinginkan air dengan cara menambahkan pecahanpecahan es dalam air secara bertahap.
f. Selama melakukan pendinginan, mengamati perilaku ikan dengan
cermat untuk mengetahui kematiannya. Ikan dapat dinyatakan mati
bila posisi tubuh ikan miring.
g. Menunggu kematian ikan sampai mencapai 50% dari seluruh jumlah
ikan menjadi mati (25 ekor).
h. Kalau ikan yang mati sudah 25 ekor, cepat membaca angka suhu di
termometer. Besarnya suhu air pada saat ini merupakan suhu
minimum bagi ikan kepala timah.
i. Kalau sudah diketahui suhu minimumnya, menghentikan pendinginan
VI.

karena tujuan sudah tercapai.


Hasil dan Pembahasan
1. Hasil
a.

Gambar 01. Menentukan Suhu Maksimum Pada Ikan Kepala Timah


b.
3

Gambar 02. Menentukan Suhu Minimum Pada Ikan Kepala Timah

c. Tabel 01. Menentukan Suhu Maksimum Pada Ikan Kepala Timah


Suhu Awal: 29C
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Ikan
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Suhu
39C
39C
40C
40C
40C
41C
41C
41C
42C
42C
42C
42C
42C
42C
42C
42C
42C
42C
43C
43C
43C
43C
44C
44C

Waktu
07.30
07.32
08.53
09.08
12.02
10.12
10.30
10.51
11.20
11.30
11.43
11.58
12.07
12.23
12.25
12.43
12.56
12.57
12.40
13.01
13.19
13.27
12.57
14.08

d. Tabel 02. Menentukan Suhu Minimum Pada Ikan Kepala Timah


4

Suhu Awal: 28 C
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Ikan
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
2
1
1
2

Suhu
15C
15C
14C
14C
14C
14C
14C
14C
14C
14C
13C
13C
13C
13C
13C
13C
13C
13C
12C
12C
12C
12C
12C
12C
12C
12C
12C

Waktu
12.30
12.42
12.08
12.41
12.56
12.58
13.03
13.07
13.13
13.19
13.20
13.20
13.34
13.35
13.40
13.41
13.37
13.49
14.01
14.02
14.10
14.13
14.14
14.16
14.20
14.46
14.49

2. Pembahasan
Titik kardinal suhu adalah titik yang menunjukan batas suhu maksimum,
suhu optimum dan batas suhu minimum yang masih dapat diterima oleh
mahluk (Swasta, 2003). Percobaan penentuan titik kardinal suhu ini
berusaha mencari data tentang suhu maksimum dan suhu minimum
berdasarkan Letal Concentration (LC) 50%. LC 50% artinya suatu kondisi
dimana kondisi faktor lingkungan (dalam hal ini adalah suhu) yang
menyebabkan 50% dari populasi hewan tidak mampu bertahan hidup atau
mati. LC 50% ini digunakan sebagai ketentuan untuk mengetahui suhu
maksimum maupun suhu minimum karena sesuai dengan pengertian dan
5

kesepakatan suhu maksimum dan minimum dalam ekologi hewan.


Pengertian dari suhu maksimum adalah suhu tertinggi dimana populasi
hewan yang masih memungkinkan bisa bertahan hidup hanya 50% saja,
sedangkan suhu minimum adalah suhu terendah dimana populasi hewan
yang masih memungkinkan bisa bertahan hidup hanya 50%.
Pada praktikum kali ini hewan yang digunakan adalah ikan kepala timah
yang memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Classis

: Actinopterygii

Ordo

: Cyprinodontiformes

Familia

: Aplocheilidae

Genus

: Aplocheilus

Spesies

: Aplocheilus panchax
Sumber: (Hamilton, 1822)

Hal yang menjadi alasan mengapa ikan kepala timah ini digunakan dalam
praktikum, yaitu secara ekonomi hewan ini mudah di dapat sehingga tidak
perlu membeli karena sampel yang digunakan sebanyak 100 ekor.
Selanjutnya adalah efisiensi waktu dimana ikan ini memiliki toleransi suhu
yang tidak terlalu luas serta gejala mortalitasnya jelas karena beberapa ikan
diantara hidup dan mati kadang ada pingsan, namun ikan ini tidak memiliki
gejala pingsan. Saat lewat dari ambang suhu maka langsung mati. Namun
ikan ini tidak representatif untuk digunakan sebagai simbolisasi seluruh
makhluk. Namun karena tujuan praktikum ini hanya mengenai memahami
maksud dari titik kardinal, hewan uji ini sudah cukup representatif.
Pada percobaan kali ini kami menggunakan ikan sebanyak 100 ekor.
Kemudian ikan tersebut akan diberikan perlakuan untuk mencari suhu
maksimum dan minimum dari ikan kepala timah. Untuk mengetahui suhu
6

maksimum dari ikan kepala timah ini, diberikan perlakuan dengan cara
memanasakan ikan di atas waskom yang telah berisi sekat dan masingmasing ruangan sudah terdapat ikan dengan jumlah yang merata. Dengan
pengisian sekat tersebut fungsinya agar ikan mendapatkan perlakuan yang
sama dan merata, jika tidak diberikan sekat maka ikan tersebut akan berada
dalam satu tempat dan bergerombol. Tujuan memanaskan ini adalah untuk
menaikan suhu air tesebut. Sebelum dipanaskan diukur suhu awal dari air
didalam waskom. Kemudian untuk mengetahui suhu minimum dari ikan ini,
diberikan perlakuan dengan cara memberikan es batu didalam waskom yang
sudah diberikan sekat dan masing-masing ruangan itu sudah terdapat ikan
dengan jumlah yang merata. Tujuan pemberian es batu ini sebagai pendingin
agar suhu air tersebut menurun. Sebelum melakukan pendinginan ukur
terlebih dahulu suhu awal air didalam waskom tersebut.
Dari hasil yang telah terdapat pada tabel dapat dibahas bahwa suhu
maksimum adalah 44C dengan suhu awalnya 29C. Artinya pada suhu
44C merupakan suhu tertinggi yang masih memungkinkan hanya 50%
anggota populasi ikan kepala timah yang mampu bertahan hidup. Jumlah
kematian ikan kepala timah akan terus meningkat seiring kenaikan suhu air.
Dengan waktu awal 00:00 menit hingga berakhir pada menit 14:08. namun
pada praktikum waktu (menit) ikan mati tabel nomor 5,19, dan 23
perhitungan menitnya tidak terurut karena human error. Sedangkan pada
suhu minimum ikan kepala timah adalah 12C dari suhu awalnya 28C.
Artinya pada suhu 12C merupakan titik suhu terendah yang memungkinkan
hanya 50% dari anggota populasi ikan kepala timah yang mampu bertahan
hidup. Jumlah kematian akan terus meningkat seiring penurunan suhu air.
Dengan waktu awal 00:00 menit hingga berakhir pada menit 14:49. Namun
pada praktikum waktu (menit) ikan mati tabel nomor 3 dan 4 perhitungan
menitnya tidak terurut karena human error.
Pada saat proses pencapaian suhu maksimum maupun minimum aktivitas
ikan ada dua yaitu secara eksternal (tingkah laku) dan internal (fisiologi).
Secara eksternal, tingkah laku menjelang kematian dapat diamati yaitu saat
melewati batas maksimalnya hewan akan senantiasa berusaha membebaskan
7

diri dari suasana panas. Misalnya lompat-lompat, hal ini menunjukan ikan
menjadi jauh lebih agresif yeng kemudian kehilangan kemampuan dan
mengambang miring atau terbalik. Saat suhu manimum hampir sama,
namun ikan cenderung bergerombol kemudian cenderung tidak aktif
kemudian mati yang ditandai dengan tubuhnya miring atau bahkan terbalik.
Secara internal cukup sulit diamati namun secara teori suhu akan banyak
sekali mempengaruhi faktor-faktor kehidupan seperti cairan-cairan dalam
tubuh misalnya, hormon, enzim, darah, cairan otak, dan sebagainya yang
jika suhu terlalu tinggi atau terlalu rendah akan membuat kerja organ dalam
tubuh terhenti seketika sehingga organisme dalam hal ini ikan kepala timah
menjadi mati.
VII. Simpulan
Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa titik kardinal
suhu maksimum dari ikan kepala timah ini adalah 44C dan titik kardinal
suhu minimum dari ikan kepala timah adalah 12C.
VIII. Jawaban Pertanyaan
1. Artinya pada suhu maksimum merupakan suhu tertinggi yang masih
memungkinkan hanya 50% anggota populasi ikan kepala timah bertahan
hidup. Artinya pada suhu minimum merupakan titik suhu terendah yang
memungkinkan hanya 50% dari anggota populasi ikan kepala timah
bertahan hidup.
2. Kelebihannya jika memakai aerator adalah membuat permukaan air
sebanyak mungkin bersentuhan dengan udara yang di mana fungsi alat
ini membantu melarutkan oksigen yang ada di udara ke dalam air agar
kandungan oksigen dalam air itu cukup dan gas serta zat yang biasanya
menimbulkann bau busuk dapat terusir dari air.
3. Berbeda. Karena setiap ikan memiliki batas ketoleransian yang berbeda
terhadap

suhu

lingkungan

baik

itu

suhu maksimum

maupun

minimumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Hamilton, F. 1822. An Account Of The Fishes Found In The River Ganges


And Its Branches. P. 211 & 380. Edinburgh : Printed For
Archibald Constable & Co. (Ilustrasi: Plate III Fig. 69)
Swasta, Ida Bagus Jelantik. 2005. Penuntun Praktikum Ekologi Hewan.
Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA IKIP Negeri Singaraja:
Singaraja.
Swasta, Ida Bagus Jelantik.2003. Diktat Ekologi Hewan Jilid I Konsep
Ekologi, Hewan dan Lingkungannya, Respon dan Adaptasi
Hewan, Habitat dan Relung Ekologi. Jurusan Pendidikan Biologi.
FMIPA IKIP Negeri Singaraja: Singaraja.