Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia tentunya

tidak

lepas

dari

masa

pertumbuhan

dan

perkembangan. Perkembangan merupakan langkah awal ciri makhluk


hidup mencapai kesetaraan normal dengan sesamanya. Terutama pada
manusia,sebagai makhluk hidup yang kompleks, perkembangan secara
fisik dan mental merupakan satu indikator untuk menilai taraf kualitas
normalnya. Hal ini dikarena segala aspek hidup manusia baik secara
kognitif, emosional, fisik, moral dan lain sebagainya merupakan hal yang
dasar digunakan manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam rentang perkembangannya, setelah masa remaja manusia
kemudian memasuki masa Dewasa. Masa dewasa merupakan salah satu
fase dalam rentang kehidupan setelah masa remaja. Pengertian masa
dewasa ini dapat dihampiri dari sisi biologis, dan psikologis. Dari sisi
biologis masa dewasa dapat diartikan sebagai suatu periode dalam
kehidupan individu yang ditandai dengan pencapaian kematangan tubuh
secara optimal dan kesiapan untuk bereproduksi (berketurunan). Dari sisi
psikologis, masa ini dapat diartikan sebagai periode dalam kehidupan
individu yang ditandai dengan ciri-ciri kedewasaan atau kematangan,
yaitu (1) kestabilan emosi (emotional stability), mampu mengendalikan
perasaan: tidak lekas marah, sedih, cemas, gugup, frustasi, atau tidak
mudah tersinggung; (2) memiliki sense of reality-kesadaran realitasnyacukup tinggi: mau menerima kenyataan, tidak mudah melamun apabila
mengalami kesulitan, dan tidak menyalahkan orang lain dan keadaan
apabila menghadapi kegagalan; (3) bersikap toleran terhadap pendapat

orang lain yang berbeda; dan (4) bersikap optimis dalam menghadapi
kehidupan.
Dalam setiap perkembangannya seorang yang berada pada masa
dewasa baik dewasa awal, tengah maupun akhir memiliki perkembangan
dari berbagai aspek yang akan menunjang perkembangan seorang
individu dikehidupannya. Salah satu aspek tersebut adalah kognitif.
Perkembangan kognitif dan suatu perkembangan yang tidak dapat dilihat
secara langsung dan tidak mutlak bersifat empiris. Perkembangan kognitif
akan membentuk kepribadian seseorang juga akan berkontribusi besar
dalam penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai
manusia yang berada pada tahap dewasa, manusia akan mengalami
banyak perkembangan seiring dengan bertambahnya pengetahuan yang
didapat, pengalaman terdahulu, lingkungan, bahkan kecenderungan
hereditas. Hal ini lah yang akan membedakan satu manusia dengan
manusia yang lain. Untuk itulah latar belakang dari disusunnya makalah
ini adalah mengetahui perkembangan kognitif pada masa dewasa tiap
fasenya.
B. Rumusan Masalah
A. Bagaimanakah Perkembangan Kognitif pada Masa Dewasa Awal ?
B. Bagaimanakah Perkembangan Kognitif pada Masa Dewasa Tengah ?
C. Bagaimanakah Perkembangan Kognitif pada Masa Dewasa Akhir ?
C. Tujuan
A. Mengetahui Perkembangan Kognitif pada Masa Dewasa Awal
B. Mengetahui Perkembangan Kognitif pada Masa Dewasa Tengah
C. Mengetahui Perkembangan Kognitif pada Masa Dewasa Akhir

BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Kognitif Masa Dewasa Awal
2

Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Hurlock


(2002) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun
sampai kira-kira usia 40 tahun. Namun secara umum, individu yang
tergolong dewasa awal ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut
Santrock (1999) orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik secara
fisik, transisi peran sosial, maupun transisi secara intelektual. Perubahan
kognitif dimasa dewasa awal didukung oleh perkembangan korteks otak
besar, khususnya bagian otak depan. Sebenarnya kemajuan kognitif pada
masa ini dipicu oleh peristiwa dalam hidup masing masing individu
termasuk didalamnya belajar, membangun karir dan bergelut dengan
tuntutan pernikahan dan pengasuhan anak.
Beberapa ahli mengemukakan tentang mengapa kognisi seseorang
dapat berubah dimasa dewasa awal, hal tersebut sebenarnya dapat
ditinjau dari dua sudut pandang yaitu, pertama adanya transformasi dalam
struktur pemikiran ataupun cara berfikir yang khas dan baru serta adanya
perluasan perubahan perkembangan kognitif pada fase anak dan remaja,
kedua

usia dewasa adalah usia yang dipandang sebagai masa

pencapaian pengetahuan yang lebih maju dalam suatu bidang tertentu,


sebuah pencapaian yang memiliki implikasi yang benar benar penting
terhadap pengolahan informasi dan kreativitas.
1. Perubahan Struktur Pemikiran
Piaget percaya bahwa seorang remaja dan seorang dewasa
berpikir dengan cara yang sama. Namun beberapa ahli perkembangan
percaya bahwa ketika masa dewasa awal individu mengatur pemikiran
operasional formal mereka. sehingga orang dewasa lebih sistematis
dalam merencanakan dan membuat hipotesis tentang masalah
masalah tertentu yang jika dibandingkan dengan remaja tentunya akan
berbeda. Orang dewasa dinilai lebih mampu untuk menyusun hipotesis
daripada remaja dan mampu menurunkan suatu pemecahan dari

suatu permasalahan. Piaget sendiri melihat kemungkinan bahwa


kemajuan penting dalam pemikiran pengikuti pencapaian operasional
formal. Piaget mengamati bahwa remaja lebih memilih sebuah
pandangan idealis dan tegas mengenai sebuah dunia. Namun
sebaliknya beberapa peneliti yang mempelajari tentang perkembangan
pemikiran pascaformal (postformal thought) perkembangan kognitif
melebihi operasi formal milik piaget. Untuk lebih jelasnya mengenai
perubahan struktur pemikiran ada beberapa teori yang dianggap
berpengaruh dalam perkembangan kognitif masa dewasa awal.
Secara umum, semua teori menunjukkan bagaimana upaya pribadi
dan pengalaman sosial memicu cara berfikir lebih rasional, fleksibel
dan praktis yang menerima ketidakpastian dan memiliki keragaman
dalam segala situasi. Teori tersebut antara lain :
a. Teori Perry : Kognisi Epistemik
Teori ini dikemukakan oleh William Perry pada tahun 1981. Kognisi
epistemik (epistemic cognition) mengacu pada refleksi seseorang
terhadap cara orang itu untuk sampai pada fakta, keyakinan dan juga
gagasan.

Dalam

perbandingannya

perry

mencatat

perubahan

perubahan cara berpikir orang dewasa muda yang berbeda dengan


remaja. Perry menjelaskan bahwa remaja sering memandang dunia
dalam dualism pola polaritas mendasar seperti salah ataupun benar,
kita atau merek, sedangkan pada fase dewasa awal individu mulai
menyadari perbedaan pendapat dan berbagai perspektif yang
dipegang orang lain. Pemikiran dualistik akhirnya digantikan oleh
pemikiran yang beragam akibat adanya perbedaan pandangan dan
pada saat itulah individu pada fase ini mulai menyadari bahwa orang
dewasa tidak selalu memiliki jawaban, pada fase dewasa awal individu
lebih memiliki pemikiran yang fleksibel dan toleran (Santrock, 2002)
Individu pada fase dewasa awal dihadapkan pada pergeseran
pemikiran kearah relativisme total yang menjadikannya memahami
4

bahwa kebenaran adalah relative. Dalam relativisme total, orang


dewasa awal mengakui bahwa relativisme menyentuh semua aspek
kehidupan tidak saja dunia akademis namun ada pemahaman bahwa
pengetahuan dibentuk tidak dengan sendirinya, bersifat kontekstual
dan tidak absolute. Jika individu telah melangkah pada komitmen
dalam pemikiran relativistic mereka akan lebih berusaha merumuskan
suatu perspektif yang lebih memuaskan. Individu bergerak melewati
sikap bahwa segala sesuatu adalah soal pendapat dan memunculkan
criteria rasional terhadap hal yang bisa di evaluasi (Berk Laura,2010 ).
b. Teori Labouvie-Viet: Pemikiran Pragmatis dan Kompleksitas
Kognitif Afektif.
Pandangan Gisela Labouvie-Vief pada tahun 1980 tentang kognisi
dewasa awal mengulangi unsur-unsur dalam teori Perry. Menurutnya
masa dewasa melibatkan gerakan dari pemikiran hipotesis menuju
pemikiran pragmatis (pragmatic thought) yaitu sebuah kemajuan
structural yang menjadikan logika sebagai alat pemecahan terhadap
masalah. Selain itu Labouvie-Vief (Berk Laura,2010 ) juga mengatakan
bahwa

meningkatnya

kapasitas

reflektif

orang

dewasa

muda

mengubah dinamika kehidupan emosional mereka sehingga individu


pada fase ini menurut teori Labouvie lebih mahir dalam memadukan
kognisi dengan emosi. Lebouvie-Vief menemukan bahwa dari masa
remaja hingga dewasa pertengahan orang mengalami peningkatan
kompleksitas kognitif-afektif yaitu kesadaran akan perasaan positif dan
negative serta menyelaraskan ke dalam sebuah struktur rapi dan
kompleks. Pada dasarnya menurut teori ini kompleksitas kognitifafektif menumbuhkan kesadaran lebih besar terhadap perspektif dan
motivasi untuk diri sendiri dan orang lain.
Individu dengan kompleksitas kognitif-afektif memandang kejadian
dan orang dengan cara yang toleran serta berpikiran terbuka.
Kompleksitas kognitif-afektif membantu mengatur dalam berpikir
5

rasional tentang dilemma dunia nyata. Pada kenyataanya saat masuk


fase dewasa awal kesadaran akan beragam kebenaran, integrasi
logika

dengan

realitas

dan

kompleksitas

kognitif-afektif

dapat

merangkum perubahan pemikiran. Pemikiran orang dewasa yang


semakin khas dan terikat konteks dapat menuju pada kompetensi
yang lebih tinggi. Selain kedua teori diatas adapula pandangan yang
disampaikan oleh K. Warner Schaie tentang perubahan kognitif pada
orang dewasa (Santrock,2002). Dia kemudian membagi fase fase
kognitif tersebut menjadi beberapa fase yaitu :
Fase mencapai prestasi (achieving stage)
Fase mencapai prestasi Merupakan fase dimasa dewasa awal
yang melibatkan penerapan intelektualitas pada situasi yang
memiliki konsekuensi besar dalam mencapai tujuan jangka

panjang, seperti pencapaian karir dan pengetahuan.


Fase tanggung jawab (responsibility stage)
Fase tanggung jawab merupakan fase yang terjadi ketika keluarga
terbentuk dan perhatian diberikan pada keperluan pasangan dan
keturunan. Perluasan kemampuan kognitif yang sama diperlukan
pada saat karir individu meningkat dan tanggung jawab kepada
orang lain muncul dalam pekerjaan dan komunitas. Fase tanggung
jawab sering dimulai pada masa dewasa awal dan terus berlanjut

ke masa dewasa tengah.


Fase eksekutif (the executive stage)
Fase eksekutif merupakan fase dimana seseorang bertanggung
jawab pada system kemasyarakatan dan organisasi sosial. Dimana
dalam

fase

ini

individu

membangun

pemahaman

tentang

bagaimana organisasi sosial bekerja dan berbagai hubungan

kompleks yang terlibat didalamnya.


Fase reintegratif (the reintegrative stage)
Fase reintegratif merupakan fase yang terjadi pada bagian akhir
masa dewasa dimana orang dewasa yang lebih tua memilih untuk
6

memfokuskan tenaga pada tugas dan kegiatan yang bermakna


untuk diri mereka.
2. Keahlian dan Kreativitas
Bagi orang dalam fase dewasa keahlian adalah perolehan
terhadap pengetahuan luas dalam satu bidang, atau usaha yang
memang didukung oleh spesialisasi. Dibandingkan dengan remaja,
orang dewasa awal lebih mengingat dan menalar dengan lebih cepat
dan efektif. Orang yang pada fase dewasa awal telah memiliki konsep
dan dapat merepresentasikan dalam cara cara yang lebih beragam
pada satu tingkat yang tentunya lebih mendalam.pada masa dewasa
awal individu menggunakan pengetahuan yang mereka miliki untuk
sampai pada banyak solusi. Bila sebuah masalah sifatnya menantang
orang pada fase dewasa awal cenderung membuat rencana lebih
dulu,

menganalisis

dan

mengategorikan

unsure-unsur

secara

sistematis dan memilih kemungkinan terbaik.


Keahlian penting bagi kreativitas dan pemecahan masalah.
kreativitas pada masa dewasa berbeda dengan masa remaja. Pada
masa dewasa awal kreativitas tidak hanya asli tetapi juga lebih
terarah. Menurut patricia arlin (Berk Laura,2010) peralihan dari
pemecahan masalah menuju problem finding adalah ciri inti dari
pemikiran pascaforma yang ditemukan pada fase dewasa awal. Selain
itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pencapaian kreatif
meningkat dimasa dewasa awal, dan akhirnya memuncak di akhir usia
30-an atau awal 40-an yang kemudian secara bertahap menurun.
3. Karir dan Pekerjaan
Pada saat memasuki masa dewasa awal hampir semua individu
memiliki focus untuk memiliki pekerjaan, mencari nafkah, membangun
karir bahkan dapat berkembang dalam sebuah karir. Hal hal seperti ini
dianggap penting pada masa dewasa awal. Berikut ini ada dua teori

yang menggambarkan bagaimana cara individu untuk membuat pilihan


menyangkut karir (Santrock, 2002 ) , yaitu :
a. Teori Perkembangan Ginzberg
Teori ini dikemukakan oleh Eli Ginzberg, dia menyebutkan bahwa
individu melalui tiga fase pemilihan karir yaitu fantasi, tentative
dan realistic. Usia dewasa awal berada pada fase realistic dalam
pemilihan karir. Pada fase ini individu mengeksplorasi lebih luas
karir yang ada, kemudian individu lebih memfokuskan diri pada
karir tertentu dan pada akhirnya memilih pekerjaan tertentu untuk
karirnya.
b. Teori Konsep Diri Super
Teori konsep diri tentang

karir

merupakan

teori

yang

dikemukakan oleh Donald Super. Menurutnya konsep diri individu


memaikan peran pokok dalam pemilihan karir. Super percaya
bahwa perubahan perkembangan dalam konsep diri tentang
pekerjaan terjadi pada waktu remaja dan dewasa awal (Super,
dalam Santrock, 2002). Dikatakan bahwa antara usia 18-22
tahun, individu mulai mempersempit pemilihan karir yang disebut
dengan fase pengkhususan (specification). Antara usia 21-24
tahun orang dewasa awal menyelesaikan pendidikan dan
pelatihan yang kemudian dilanjutkan dengan memasuki dunia
kerja yang disebut dengan fase implementasi (implementation).
Sekitar usia 25-35 tahun individu pada usia ini sudah memilih dan
cocok dengan karir tertentu fase seperti ini disebut dengan
konsolidasi (consolidation).
c. Teori tipe kepribadian Holland
Teori tipe kepribadian adalah pandangan ahli teori pekerjaan,
John Holland 1973-1987 yaitu penting membangun keterkaitan
atau kecocokan antara tipe kepribadian individu dan pemilihan
karier tertentu. Holland mengajukan 6 tipe kepribadian dasar

yang berhubungan dengan karier: realistik, investigatif, realistik,


sosial, wiraswasta dan konvensional.
Realistik, individu yang memiliki minat pekerjaan seperti ini
menyukai aktivitas diluar ruangan dan bekerja dalam kegiatan

manual.
Investigatif, tipe lebih menyukai mengenai gagasan dari pada
orang.

Tidak

menyukai

hubungan

sosial

dan

meresa

terganggu oleh situasi yang sangat emosional, serta biasanya


dipandang oleh orang lain sebagai penyendiri dan sangat

cerdas.
Artistik. Tipe ini memiliki orientasi kreatif. Individu-individu ini
menikmati bekerja dengan ide-ide dan bahan-bahan untuk

mengekspresikan dirinya dengan cara yang baru


Sosial. Tipe ini orientasi bekerja untuk dan dengan orang lain.
Tipe sosial cenderung memiliki orientasi menolong. Mereka
menikmati kegiatan memeliara dan mengembangkan orang
lain,

mungkin

bekerja

mendampingi

orang

lain

yang

menbutuhkan, terutama yang kurang beruntung.


Wiraswasta, Tipe lain yang lenih berorientasi pada orang dari
pada

terhadap

wiraswasta.indvidu

hal

atau

semacam

gagasan
ini

akan

adalah

tipe

cenderung

mendominasi orang lain, terutama ketika mereka ingin

mencapai suatu tujuan.


Konvensional, Tipe semacam ini biasanya berfungsi paling
baik dalam lingkungan dan pekerjaan yang terstruktur dengan
baik dan terlatih dengan pekerjaan yang memerlukan
ketelitian. Individu yang konvensional menyukai bekerja
dengan angka dan mengerjakan tugas-tugas administrasi,
tidak suka bekerja dengan ide-ide dan orang.

Selain ketiga teori tersebut dalam karir dan pekerjan terdapat


eksplorasi, perencanaan dan pengambilan keputusan. Untuk
masalah eksplorasi, perencanaan dan pengambilan keputusan karir
orang pada usia dewasa awal tidak sistematis dan tidak memiliki arah
dalam eksplorasi dan perencanaan karir mereka (Super, dalam
Santrock, 2002 ). Hal seperti ini terjadi karena pada usia ini dalam
eksplorasi karir dan pengambilan keputusan masih berada dalam
ambiguitas, ketidakpastian dan stress (Lock, dalam santrock, 2002 ).
Tidak hanya itu pekerjaan di masa dewasa awal juga menjadi sebuah
tanggung jawab yang besar bagi individu yang memasuki masa
dewasa awal, ketika individu pada periode dewasa awal memasuki
sebuah pekerjaan untuk pertama kalinya kemungkinan besar mereka
dihadapkan pada masalah dan kondisi yang tidak diantisipasi
sebelumnya. Transisi ketika individu mencoba untuk menyesuaikan diri
dengan peran baru. Saat orang pada dewasa awal memasuki
pekerjaan maka yang dilakukan adalah individu tersebut harus
membangun identitas pekerjaan yang berbeda dan menempatkan
dirinya dalam dunia kerja.
B. Perkembangan Kognitif Masa Dewasa Tengah
Masa dewasa madya dimulai pada usia 40-60 tahun. Pada masa ini
kemampuan fisik ataupun psikologis mulai menurun (Santrock,2002).
Pada masa pertengahan tuntutan kognitif dari kehidupan sehari-hari
merambah situasi baru dan terkadang lebih menantang.
1. Atensi
Berdasarkan penelitian dikatakan bahwa saat berada pada fase
dewasa tengah individu mengalami kesulitan untuk melakukan dua hal
yang

kompleks

sekaligus.

Berkurangnya

kemampuan

untuk

memusatkan perhatian atau atensi sebenarnya bisa disebabkan oleh


melambatnya pengolahan informasi, ada akhirnyamembuat informasi

10

yang diserap lebih sedikit jumlahnya. Berkurangnya kecepatan


pengolahan

juga

berperan

terkait

menurunnya

seiring

usia

kemampuan untuk menggabungkan potongan informasi visual ke


dalam sebuah pola bermakna.
2. Memori
Dari usia 20 tahun hingga 60 tahun, jumlah informasi yang bisa
dipertahankan oleh orang dalam memori kerja mereka menjadi
semakin berkurang. Orang dewasa paruh baya dan tua lebih lemah
dalam mengingat dibandingkan orang dewasa awal. Perubahan ini
sebagian besar diakibatkan oleh berkurangnya penggunaan strategi
memori.

Selain

kemungkinan

itu
juga

berkurangnya
berperan,

kapasitasis
memicu

memori

kesulitan

kerja
dalam

mempertahankan daftar yang harus diingat dan mengolahnya diwaktu


bersamaan (Park & prayer, dalam Santrock,2002)
3. Pemecahan Masalah dan Keahlian
Kebanyakan orang pada usia dewasa tengah memiliki kesempatan
untuk menampilkan pertumbuhan kognitif dalam bidang pemecahan
masalah. Individu pada usia ini telah memiliki pengetahuan yang luas
serta terpadu yang mereka dapatkan dari pengalaman-pengalaman
sebelumnya. Tidak hanya itu, memang seperti diketahui keahlian
sudah berkembang dimasa dewasa awal, namun ternyata puncak dari
keahlian tersebut bisa mencapai usia paruh baya yang mengarah
pada pendekatan sangat efisien dan efektif terhadap pemecahan
masalah.
Orang pada usia dewasa tengah juga lebih menekankan pemikiran
melalui sebuah masalah praktis, dimana mereka berusaha memahami
dengan lebih baik, menafsirkan dari perspektif yang berbeda dan
memecahkan melalui analisis logis.
4. Kreativitas
Pencapaian kreativitas condong dikatakan mencapai puncak pada
akhir usia tiga puluhan. Namun meskipun begitu tidak bisa dikatakan

11

bahwa semakin bertambah usia maka akan menurun pencapaian


kreativitas individu, hal tersebut terlihat pada beberapa orang yang
diusia paruh baya masih mampu berkarya dengan hal hal yang sangat
kreatif. Walaupun begitu seperti halnya pemecahan masalah, kualitas
kreativitas dapat berubah seiring bertambahnya usia. Penilaian pada
saat dewasa awal hal kreatif tercipta bisa saja secara spontan dan
emosional, namun jika dibandingkan pada usia paruh baya karya
kreatif justru tercipta sebagai hasil pemikiran yang sungguh-sungguh
(Lubart & Strenberg, dalam Santrock 2002)
Usia paruh baya seperti ini menggabungkan pengetahuan dan
pengalaman luas menjadi sebuah cara berpikir yang unik. Selain itu
kreativitas pada masa dewasa tengah ini sering kali mencerminkan
ekspresi diri pada tujuan tujuan yang lebih altrusitik (Tahir&Gruber,
Berk Laura, 2010)
5. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja cenderung meningkat secara stabil sepanjang
kehidupan kerja dari usia 20 tahun sampai setidaknya usia 60 tahun.
Kepuasan mungkin meningkat karena semakin tua maka semakin
tinggi gaji yang diperoleh, terdapat komitmen yang lebih besar
terhadap pekerjaan seiring bertambahnya usia, dalam melakukan
pekerjaan jauh lebih serius dan lebih banyak mencurhakan diri pada
pekerjaan pada masa dewasa tengah dibanding pada masa dewasa
awal karena orang dewasa awal cenderung mengadakan percobaan
dengan pekerjaan mereka.
6. Perubahan Karir pada Paruh Kehidupan
Pengalaman perubahan karir di paruh kehidupan digambarkan
sebagai titik perubahan di masa dewasa oleh Daniel Levinson
(Santrock,2002). Satu aspek dari periode paruh kehidupan melibatkan
penyesuaian harapan yang ideal pada kemungkinan yang realistik
dipandang dari beberapa waktu yang tersisa di sebuah jabatan. Orang

12

paruh baya mungkin memfokuskan pada berapa banyak waktu yang


tersisa sebelum pension dan kecepatan mereka mencapai tujuan
pekerjaan mereka. jika individu merasa bahwa mereka terlambat atau
jika tujuan mereka dipahami sebagai sesuatu yang tidak realistis,
penyesuaian kembali dapat terjadi. Namun bisa saja timbul kesedihan
akibat adanya harapan-harapan yang tidak terpenuhi.

C. Perkembangan Kognitif pada Masa Dewasa Akhir


Masa dewasa akhir merupakan periode penutup dimana seseorang
individu telah mencapai kematangan dalam proses kehidupan, serta telah
menunjukkan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan berjalannya
waktu. Masa ini dimulai saat seseorang mulai berusia 60 tahun ke atas.
Saat seseorang mulai memasuki masa dewasa akhir, maka akan terlihat
gejala penurunan fisik, psikologis, dan intelektual. Proses inilah yang
disebut dengan istilah proses menua.
1. Penurunan intelektual pada masa dewasa akhir
Isu mengenai penurunan intelektual selama tahun-tahun dewasa
merupakan suatu hal yang provokatif. David Weschler (1972), yang
mengembangkan skala intelegensi Weschler menyimpulkan bahwa
masa dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual karena adanya
proses penuaan yang dialami setiap orang. Namun ternyata isu ini
lebih kompleks. John Horn berfikir bahwa beberapa kemampuan
menurun sementara kemampuan lainnya tidak. Horn menyatakan
bahwa kecerdasan yang mengkristal (crystallized intelegence), yaitu
sekumpulan informasi dan kemampuan-kemampuan verbal yang
dimiliki individu meningkat seiring dengan usia, sedangkan kecerdasan
mengalir (fluid intelegence) yaitu kemampuan seseorang untuk berfikir
abstrak, menurun secara pasti sejak masa dewasa tengah.

13

Dalam berpikir mengenai bagaimana mengkaji inteligensi pada


masa dewasa akhir, yang diperlukan adalah mempertimbangkan
komponen-komponen apa saja yang harusnya diteliti dan bagaimana
komponen itu harusnya diukur (Salthouse, dalam Santrock, 2002).
2. Perubahan dalam kelemahan memproses
Penurunan menyeluruh pada fungsi sistem saraf pusat, secara
luas dipercaya sebagai kontributor utama dalam kemampuan kognitif
dan efesiensi dalam pemrosesan informasi. Kemampuan yang
digunakan

untuk belajar

dalam

menguasai

keterampilan

baru

cenderung menurun pada lansia. Akan tetapi walau kehilangan dalam


pemrosesan berhubungan dengan performa kognitif, hal tersebut tidak
memaparkan semuanya. Kemampuan tertentu, seperti penalaran,
kemampuan special, dan memori, tampaknya tidak menurun secepat
kecepatan pemrosesan. Salah satu kemampuan yang nampaknya
melamban sejalan dengan menambahnya umur adalah kemudahan
dalam beralih dari satu tugas atau fungsi ke yang lain. Hal ini
menjelaskan misalnya mengapa lansia cenderung kesulitan dalam
mengendarai mobil yang mensyaratkan perpindahan yang cepat di
antara kemampuan sekaligus mewaspadai kendaraan serta pejalan
kaki, membaca sinyal, dan mengabaikan informasi yang tidak relevan,
serta

keterampilan

tertentu

lainnya

yang

mensyaratkan

untuk

menjalankan kendaraan.
3. Pendidikan, pekerjaan, dan Kesehatan
Pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan adalah tiga komponen yang
paling berpengaruh dalam fungsi kognitif dari orang-orang dewasa
lanjut. Pada saat ini mereka telah memperoleh pendidikan yang lebih
baik. Pendidikan memiliki korelasi positif dengan skor-skor pada testes intelegensi. Orang-orang dewasa lanjut mungkin melanjutkan
pendidikan untuk sejumlah alasan. Pengalaman kerja menekankan
pada orientasi kognitif. Peningkatan penekanan pada proses informasi

14

di dalam pekerjaannya mungkin mempertinggi kecakapan intelektual


individu. Sedangkan, kesehatan yang buruk berkaitan dengan tes-tes
intelegensi pada masa dewasa akhir. Olahraga terkait dengan
perbaikan fungsi kognitif diantara orang-rang dewasa usia lanjut.
4. Fase Penurunan
Hipotesis fase penurunan

(terminal

drop

hypothesis) yang

menyatakan bahwa kematian didahului oleh suatu pengurangan fungsi


kognitif. Kira-kira pada suatu periode 5 tahun pertama sebelum
kematian. Jadi jarak dari kematian pada suatu populasi yang
kemudian meninggal seharusnya berkorelasi dengan kemampuan
pada tes-tes fungsi kognitif yang diberikan pada mereka sepanjang
periode

kritis

tahun.

Pada

penelitian-penelitian

yang

membandingkan orang-orang dewasa lanjut dan dewasa muda yang


mungkin berada pada periode 5 tahun dari kematiannya. Penyakitpenyakit kronis yang dialami orang-orang dewasa lanjut ini mungkin
dapat menurunkan motivasi, kewaspadaan serta energi untuk
menunjukkan kompetensi mereka ketika menjalankan tes fungsi
kognitif.
5. Memori
a. Memori jangka pendek
Para periset menilai memori jangka pendek dengan meminta
seseorang mengulang rangkaian angka, baik dalam urutan ke depan
maupun ke belakang (digit span backward). Kemampuan mengurutkan
angka ke depan akan terus bertahan seiring dengan peningkatan usia.
Tetapi tidak demikian dengan performa deretan terbalik, sebab
penjelasan yang diterima secara luas adalah pengulangan deret ke
depan hanya membutuhkan memori sensoris yang efesiensinya terus
bertahan sepanjang hidup. Sedangkan pengulangan deret terbalik
menuntut

pengolahan

informasi

dalam memori

kerja (working

15

memory), yang kemampuannya menurun secara gradual sejak sekitar


usia 45 tahun.
Memori sensoris : penyimpanan awal, singkat dan kontemporer

informasi sensoris.
Memori kerja : penyimpanan jangka pendek informasi yang

sedang diproses secara aktif.


b. Memori jangka panjang
Para periset pemrosesan informasi, membagi memori jangka
panjang ke dalam tiga komponen utama yaitu : memori episodik,
memori semantik, dam memori prosedural.
Memori episodic : Memori episodik ini berhubungan dengan
peristiwa tertentu atau memori ini disebut juga memori jangka
panjang pengalaman tertentu dihubungkan kepada waktu dan

tempat.
Memori semantic : Yang dimaksud dengan memori semantik
ialah seperti ensiklopedi mental. Memori tersebut menyimpan
pengetahuan fakta sejarah, lokasi geografis, adat, makna dari
kata-kata, dan yang lainya. Memori semantik tidak tergantung
kepada di mana dan kapan sesuatu pernah dipelajari, dan
memori tersebut menunjukan sedikit penurunan seiring dengan

bertambahnya usia.
Memori procedural : Mengingat bagaimana cara mengendarai
sepeda merupakan sala satu contoh dari memori prosedural.
Hal ini mencangkup keterampilan motor, kebiasaan dan cara
melakukan sesuatu yang sering kali diingat tanpa usaha yang
disadari. Penggunaan bawah sadar yang terus bertahan seiring
bertambahnya usia disebut juga priming, yang peningkatan
dalam

kemampuan

memecahkan

masalah,

menjawab

pertanyaan, dan melakukan tugas yang lalu.


6. Kebijaksanaan

16

Kebijaksanaan merupakan pengetahuan seseorang ahli mengenai


aspek-aspek praktis dari kehidupan yang memungkinkan munculnya
keputusan yang bermutu mengenai hal-hal yang penting dalam
kehidupan. Penyelidik lain mendefinisikan kebijaksanaan sebagai
peluasan pemikiran postformal. Robert Sternberg mengklasifikasikan
kebijaksanaan sebagai kemampuan kognitif yang dapat pelajari dan
diuji. Merujuk kepada sternberg, kebijaksanaan adalah bentuk khusus
kecerdasan praktis yang memiliki aspek moral. Kebijaksaan tersebut
memanfaatkan

pengetahuan

terpendam

(tacit

knowledge)

dan

bertujuan mencapai kebaikan umum melalui penyeimbangan berbagai


kepentingan yang sering kali berlawanan. Kebijaksanaan juga
mengandung nilai tentang apa-apa yang akan berakhir dengan baik
dan bagaimana mencapai kebaikan itu.
Satu aspek dari kebijaksanaan yang terlihat meningkat saat orang
beranjak tua adalah ia menjadi lebih fleksibel di dalam mengubah dan
mengakomodasi tujuan-tujuan hidup terhadap keadaan kehidupan
yang baru dan kondisi-kondisi pribadi yang baru (Santrock,2002).
Orang-orang dewasa lanjut seperti halnya mereka yang lebih muda
lebih cenderung mencari kepuasan dari pada mencari kesenangan
yang sukar diperoleh.
7. Pekerjaan dan Pensiun
Pria lanjut usia biasanya lebih tertarik pada jenis pekerjaan yang
statis daripada pekerjaan yang bersifat menantang. Akibatnya, mereka
lebih puas pada pekerjaannya daripada orang yang lebih muda.
Beberapa orang tetap mempertahankan produktivitasnya sepanjang
kehidupannya. Orang-orang dewasa lanjut ini mungkin mengikuti
agenda pekerjaan yang melelahkan bagi pekerja yang lebih muda.
Sementara

untuk

Pensiun

sendiri

Robert

Atchley

(1976)

menggambarkan 7 fase pensiun yaitu :

17

Fase jauh (remote). Kebanyakan individu melakukan sesuatu

untuk mempersiapkan fase pension


Fase dekat (near), pekerja mulai berpartisipasi dalam program

pra-pensiun
Fase bulan madu, mereka melakukan sesuatu yang tidak
pernah dilakukan sebelumnya dan menikmati aktivitas dengan

waktu luang yang lebih banyak.


Fase kecewa, orang berusia lanjut menyadari bahwa bayangan

pra-pensiun mereka tentang fase pensiun tidak realistis.


Fase reoreientasi, mulai mengembangkan alternatif kehidupan

yang lebih realistic


Fase stabil, sudah memutuskan apa yang mereka pilih dan

bagaimana menjalani pilihan tersebut.


Fase akhir, peran mereka sudah bergantung karena mereka
sudah tidak dapat berfungsi secara mandiri.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perkembangan kognitif adalah perkembangan yang krusial pada
setiap fasenya baik itu masa dewasa awal, tengah maupun akhir. Segala
aspek yang mencakup didalamnya akan menentukan penyelesaian

18

masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pada perkembangan kognitif


banyak perubahan yang terjadi dan saling berbeda satu sama lain ditiap
fasenya perbedaan itulah yang kemudian memperlihatkan bagaimana
perkembangan seorang individu dalam kehidupannya.
B. Saran
Didalam penulisan makalah ini, kami menyadari isinya belum
sempurna dan lengkap dalam menjelaskan perkembangan kognitif pada
fase dewasa awal, tengah dan akhir. Untuk itu diharapkan kepada setiap
orang yang membaca makalah ini untuk mencari dari sumber atau media
yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Berk, Laura E. 2010. Development Throught The Lifespan Dari Dewasa
Sampai Menjelang Ajal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hurlock, E.B. 2002. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan,
Jakarta : Erlangga.
Santrock, J. W. 2002. Life Span Development, Jakarta : Erlangga.

19