Anda di halaman 1dari 39

INTERPRETASI LOGGING

ANALISA KUALITATIF dan KUANTITATIF


Tujuan dilakukan interpretasi logging adalah untuk mendapatkan data dari lubang
bor sebagai sarana pada penilaian formasi dan penentuan letak zona produktif. Maka
setelah operasi logging dilakukan, hasil yang diperoleh berupa kurva yang perlu
diinterpretasikan dan dianalisa sehingga didapatkan hasil.
Interpretasi logging ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif
adalah menganalisa kurva log yang dipilih dan menganalisa lapisan-lapisan yang
diindikasikan sebagai lapisan prospek. Sedangkan secara kuantitatif adalah menentukan
harga parameter batuan sebagai petunjuk dalam menentukan jenis kandungan lapisan
prospek. Parameter batuan yang digunakan untuk menentukan kandungan lapisan adalah
saturasi air (Sw), dimana dalam penentuannya diperlukan parameter lainnya seperti
porositas batuan, densitas matrik batuan, volume clay dan sebagainya.
1. ANALISA KUALITATIF
Dalam menganalisa interpretasi logging, pasti diperlukan pengamatan secara cepat
pada lapisan formasi yang diperkirankan sebagai lapisan produktif. Adapun pengamatan ini
dapat berupa: identifikasi lapisan permeabel, ketebalan dan batas lapisan, evaluasi shalines,
adanya gas dan perbedaan antara minyak, air.
1.1. Identifikasi Lapisan Permeabel
Untuk mengidentifikasi lapisan produktif dapat diketahui dengan analisa cutting
dan analisa log. Pada analisa cutting dapat diperkirakan lapisan yang produktif dengan
menganalisa cutting yang sampai dipermukaan. Sedangkan analisa log pada pembacaan:
defleksi SP Log, separasi Resistivity, separasi Microlog, Caliper Log, dan Gamma Ray
Log. Adapun masing-masing log dapat diketahui sebagai berikut :
1. Defleksi SP Log: bilamana lumpur pemboran mempunyai perbedaan salinitas
dengan air formasi (terutama untuk lumpur air tawar), lapisan permeabel umumnya
ditunjukkan dengan adanya penambahan defleksi negatif (kekiri) dari shale base
line.
2. Separasi Resistivity: adanya invasi dan lapisan permeabel sering ditunjukkan
dengan adanya separasi antara kurva resistivity investigasi rendah.
Penilaian Formasi

3. Separasi Microlog: proses invasi pada lapisan permeabel akan mengakibatkan


terjadinya mud cake pada dinding lubang bor. Dua kurva pembacaan akibat adanya
mud cake oleh microlog menimbulkan separasi pada lapisan permeabel dapat
dideteksi oleh adanya separasi positif (micro inverse lebih kecil daripada micro
normal).
4. Caliper Log: dalam kondisi lubang bor yang baik umunya caliper log dapat
digunakan untuk mendeteksi adanya ketebalan mud cake, sehingga dapat
memberikan pendeteksian lapisan permeabel.
5. Gamma Ray Log: pada formasi yang mengandung unsur-unsur radioaktif akan
memancarkan radioaktif dimana intensitasnya akan terekam pada defleksi kurva
gamma ray log, pada umumnya defleksi kurva yang membesar menunjukkan
intensitas yang besar adalah lapisan shale atau clay, sedangkan defleksi
menunjukkan intensitas radioaktif rendah menunjukkan lapisan permeabel.
1.2. Ketebalan Lapisan Permeabel
Ketebalan lapisan batuan dibedakan atas dua, yaitu ketebalan kotor (gross
thickness) dan ketebalan bersih (net thickness). Ketebalan kotor (gross thickeness)
merupakan tebal lapisan yang dihitung dari puncak lapisan sampai dasar lapisan dari suatu
lapisan batuan. Sedangkan ketebalan bersih (net thickness) merupakan tebal lapisan yang
dihitung atas ketebalan dari bagian-bagian permeabel dalam suatu lapisan.
Penggunaan kedua jenis ketebalan tersebut juga mempunyai tujuan yang berbeda,
dimana

ketebalan kotor (gross isopach map) adalah untuk mengetahui batas-batas

penyebaran suatu lapisan batuan secara menyeluruh, dimana pada umumnya digunakan
untuk kegiatan eksplorasi. Sedangkan penggunaan ketebalan bersih adalah untuk
perhitungan cadangan. Peta yang menggambarkan penyebaran ketebalan bersih disebut
peta net sand isopach.
Jenis log yang dapat digunakan untuk menentukan ketebalan lapisan adalah: SP
Log, kurva Resistivity, kurva Microresistivity, dan Gamma Ray Log. Adapun dari defleksi
kurva log log tersebut:
1. SP Log, dapat membedakan lapisan shale dan lapisan permeabel.
2. Kurva Resistivity, hasil yang terbaik didapatkan dari laterolog dan induction log.
3. Kurva Microresistivity, pada kondisi lumpur yang baik dapat memberikan hasil
penyebaran yang vertikal.

Penilaian Formasi

4. GR Log, log ini dapat membedakan adanya shale dan lapisan bukan shale,
disamping itu dapat digunakan pada kondisi lubang bor telah dicasing, biasanya
dikombinasikan dengan Neutron Log.
1.2.1. Sifat-Sifat Fisik Lapisan Permeabel
Sifat-sifat fisik lapisan permeabel dapat diketahui dari analisa core yang dilakukan
dilaboratorium dan juga dengan analisa logging yang dilakukan saat pemboran maupun
setelah operasi pemboran selesai. Sifat-sifat lapisan produktif ini meliputi :

1.

Porositas

Saturasi fluida

Permeabilitas

Tekanan kapiler

Porositas ( )
Untuk penentuan harga porositas dapat dilakukan dengan analisa core dan
kombinasi logging. Analisa core adalah tahapan analisa inti batuan setelah conto inti
batuan dari formasi diperoleh. Tujuan analisa core adalah untuk mengetahui informasi
langsung tentang sifat-sifat fisik batuan yang ditembus selama pemboran berlangsung.
Core yang didapat sedikitnya telah mengalami dua proses, yaitu proses pemboran dan
proses perubahan kondisi tekanan dan temperatur. Penentuan porositas dengan kombinasi
logging dapat dilakukan dengan cara :

a.

Density Log
Dalam menentukan porositas batuan juga dipengaruhi oleh lithologi kandungan

fluida batuan. Porositas dari Density Log biasanya dinotasikan dengan

FDL

(Porositas

Formation Density Log) yang mempunyai harga sesuai dengan persamaan dibawah ini:

FDL

ma b
ma f

..................................................................................(1)

Keterangan :
ma = Densitas matrik batuan, gr/cc

Penilaian Formasi

b =Densitas bulk yang dibaca pada kurva FDL untuk setiap kedalaman yang
dianalisa, gr/cc
f = Densitas fluida, gr/cc
b.

Neutron log
Pembacaan Neutron Log baik SNP maupun CNL tidak hanya tergantung pada
porositas tetapi juga lithologi dan kandungan fluidanya. Oleh karena itu penentuan

porositas harus mengetahui lithologinya. Harga dari porositas neutron (

) dapat diketahui

dengan menggunakan persamaan dibawah ini:

N 1.02 NLog 0,0425

...............................................................(2)
Keterangan :

Nlog

= Porositas yang terbaca pada kurva Neutron Log

0,0425 = Koreksi terhadap limestone formation

Lalu besarnya porositas neutron yang mengandung shale atau clay (

Nc

) dapat diketahui

dari persamaan dibawah ini:

Nc N Vclay Nclay
......................................................................(3)

Keterangan :
Vclay

= Volume clay (dari GR Log)

Nclay

c.

= Porositas yang terbaca pada kurva neutron pada lapisan

clay

Sonic log
Dalam menentukan porositas, sonic log sama seperti pada neutron log atau density

log. Harga

dapat diketahui juga dengan menggunakan persamaan dibawah ini:

t log t ma
t f t ma
................................................................................(4)

Keterangan :

Penilaian Formasi

tlog = Transite time yang diperoleh dari pembacaan defleksi kurva sonik
untuk setiap kedalaman, sec/ft
tma = Transite time matrik batuan, sec/ft
tf = Transite time fluida (air), sec/ft
Batasan porositas pada suatu lapangan dapat diklasifikasikan menjadi :
0

-5%

- 10 % = Jelek

10

- 15 %

= Sedang

15

- 20 %

= Baik
20 - 25 %

2.

= Sangat jelek

= Baik sekali

Saturasi Fluida
Didalam reservoir umumnya terdapat lebih dari satu macam fluida. Untuk
mengetahui jumlah masing-masing fluida maka perlu diketahui saturasi masing-masing
fluida tersebut. Umumnya pada formasi zona minyak, kandungan air dalam formasi
disebut interstial water atau connate water.
Saturasi minyak (So) adalah :
So

volume pori pori yang diisi oleh minyak


volume pori pori total

........................... (5)

Saturasi air (Sw) adalah :


Sw

volume pori pori yang diisi air


volume pori pori total

............................................. (6)
Saturasi gas (Sg) adalah :
Sg

volume pori pori yang diisi oleh gas


volume pori pori total

.................................. (7)
Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :
Sg + So + Sw = 1 ............................................................................... (8)
Jika diisi oleh minyak dan air saja maka :
So + Sw = 1 ...................................................................................... (9)

Penilaian Formasi

3.

Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai kemampuan batuan berpori untuk meloloskan
fluida melalui pori-pori yang saling berhubungan tanpa merusak partikel pembentuk
batuan tersebut.
Karena ada tiga macam fluida yang mengisi pori-pori batuan maka dikenal :
a. Permeabilitas absolut, bila batuan berisi satu macam fluida (saturasi 100%)
b. Permeabilitas afektif, bila ada dua atau lebih macam fluida yang mengisi pori-pori
batuan tersebut.
c. Permeabilitas relatif, adalah perbandingan antara permeabilitas absolut dengan
permeabilitas effektif.
Dalam menentukan permeabilitas batuan pada lapisan produktif dapat dilakukan
analisa logging secara kuantitatif.
Willy dan Rose memberikan persamaan empiris dalam batuan pasir, sebagai berikut:
C. 3

K
Swi

......................................................................................(10)

dimana: harga C tergantung densitas hidrokarbon, untuk densitas minyak


C = 250, sedangkan untuk gas kering, C = 79.
4. Tekanan kapiler
Di dalam pori-pori batuan reservoir dapat mengandung minyak, air, dan gas secara
bersama-sama. Setiap fluida akan mempunyai tegangan permukaan yang berlainan.
Tegangan permukaan timbul akibat adanya dua fasa fluida yang tidak dapat bercampur,
seperti gas dan minyak, gas dan padatan, minyak dengan padatan dan sebagainya. Tekanan
kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada antara permukaan dua
permukaan fluida yang tidak saling campur (cairan-cairan atau cairan-gas), sebagai akibat
dari terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkan mereka. Besarnya tekanan kapiler
ini dipengaruhi oleh adanya tegangan permukaan, sudut kontak antara minyak-air-zat padat
dan jari-jari kelengkungan pori.
Tekanan kapiler mempunyai pengaruh yang penting dalam reservoir minyak
maupun gas, yaitu :

Mengontrol distribusi saturasi di dalam reservoir.

Penilaian Formasi

Merupakan mekanisme pendorong minyak dan gas untuk bergerak atau mengalir
melalui pori-pori reservoar dalam arah vertikal.

1.3. Water Oil Contact (WOC) atau Gas Oil Contact (GOC)
WOC adalah suatu level dimana fluida yang diproduksikan adalah 100 % air,
demikian juga GOC, yaitu apabila diatas level yang diproduksikan 100 % adalah gas.
Penentuan lapisan produkif dengan letak WOC dan GOC dapat dilakukan salah satunya
dengan analisa kualitatif dan kuantitatif berdasarkan interpretasi dari hasil logging yang
ada.

1.3.1. Lapisan Minyak


Untuk mengidentifikasi lapisan produktif tersebut merupakan lapisan minyak maka
dapat ditentukan dengan interpretasi logging. Dari interpretasi logging hanya dilakukan
pada lapisan porous dan permeable. Adanya perbedaan sifat fisik minyak, air, dan gas akan
memberikan defleksi kurva yang berbeda sehingga dapat diketahui indikasi keberadaan
ketiga fluida tersebut.
Interpretasi adanya Minyak

Defleksi kurva resistivity log pada minyak relatif lebih besar dari air namun
lebih kecil dari gas. Kedudukan kurva MSFL Log disebelah kiri dari kurva LLD
Log.

Defleksi kurva neutron log dan densitas log saling mendekati atau separasi
relatif sempit dengan kedudukan kurva Neutron Log disebelah kanan dan kurva
Density Log disebelah kiri.
Interpretasi Lapisan Minyak Secara Kuantitatif, digunakan untuk mencari besarnya

harga resistivity air formasi, porositas, saturasi air formasi dan evaluasi V clay, yang pada
akhirnya bermanfaat pada penentuan besarnya cadangan minyak dan gas yang terkandung
didalam lapisan produktif yang telah diinterpretasikan secara kualitatif.
1.3.2. Lapisan Gas

Penilaian Formasi

Dalam mengidentifikasi lapisan produktif tersebut merupakan lapisan gas, maka


juga dapat ditentukan dengan mud log dan analisa logging. Untuk gas yang terkandung
dalam lumpur maupun dalam cutting dapat dianalisa dengan beberapa cara, antara lain :

Hot wire analyzer


Gas chromathograph
Infrared analyzer
Untuk mengetahui lapisan tersebut merupakan lapisan gas dapat juga ditentukan
dengan interpretasi logging

Interpretasi adanya gas.


1. Defleksi kurva log tahanan jenis sangat menonjol dan relatif lebih besar pada zona
gas dibandingkan minyak dan air, dimana separasi kurva MSFL log dan LLD log
relatif renggang dibandingkan dengan separasi pada minyak dengan kedudukan
kurva MSFL log disebelah kiri dan kurva LLD log di sebelah kanan. Hal ini
disebabkan gas memiliki tahanan jenis yang lebih besar dibandingkan air atau
minyak.
2. Separasi kurva Neutron Log dan Density Log relatif renggang dibandingkan
separasi pada minyak dengan kedudukan kurva Neutron Log disebelah kanan dan
kurva Density Log disebelah kiri (separasi positif).
Dengan indikasi fluida yang ada maka secara langsung dapat pula diketahui batas
air antar fluida baik itu batas minyak-air atau batas minyak-gas, dengan catatan distribusi
porositas dan saturasi dianggap merata.
1.4. Evaluasi Shalines.
Ada beberapa cara untuk menentukan adanya kandungan clay (V clay) secara
kuantitatif, yaitu sebagai berikut :

a.

Vclay SP Log
Harga Vclay dari SP log dapat ditentukan dari rumus :
1
Vclay SP =

SPlog
SSP

......................................................................... (11)

Keterangan :
SP log = Pembacaan kurva SP pada formasi tersebut
SSP

Penilaian Formasi

= Harga pembacaan pada kurva SP maksimal.

Vclay akan berharga tinggi pada lapisan yang mengandung hidrokarbon, digunakan pada
lapisan pasir yang terisi air yang mempunyai tahanan batuan rendah sampai menengah
serta baik untuk laminated shale.
b.

Vclay Resistivity
Tahanan batuan dari campuran antara clay dan mineral tidak konduktif (quartz) serta
tidak dijumpai adanya porositas tergantung dari tahanan clay dan isi dari clay itu
sendiri. Kondisi ini dapat ditunjukkan dalam rumus Archie, sebagai berikut :
Rt = Rclay/(Vclay)b
Untuk lapisan shale yang mengandung hidrokarbon, Vclay dapat dicari sebagai berikut :
1/b

R clay .R l im R t

Vclay .Rt

Vclay .R lim R clay

......................................................... (12)

Keterangan :
Rclay = Tahanan lapisan clay yang berdekatan dengan lapisan prospek
Rt

= Tahanan batuan dalam reservoir

Rlim = Tahanan tertinggi pada lapisan hidrokarbon


c.

Vclay Gamma Ray (GR) Log


Bila tingkat radioaktif clay konstan dan tidak ada mineral lain yang bersifat radioaktif,
maka pembacaan Gamma Ray setelah koreksi terhadap kondisi lubang bor dapat
dinyatakan :
GR read GR min
GR max Grmin

Vclay =

...................................................................... (13)

Keterangan :
GRread = Pembacaan GR pada interval prospek
GRmax = Hasil pembacaan log maksimal
GRmin = Hasil pembacaan log minimal.
d.

Vclay Neutron (N) Log


Indeks Porositas Neutron dapat dinyatakan sebagai berikut :

= . Nf + Nclay.Vclay ............................................................................................................ (14)

Penilaian Formasi

Keterangan :

= Harga porositas neutron pada pengamatan

Nclay

= Harga porositas neutron dari lapisan yang berdekatan.

Harga Vclay dapat dicari dengan persamaan :

(Vclay)N =

N /

Nclay

....................................................................... (15)

kualitas identifikasi clay neutron akan menjadi baik bila indeks porositas clay,

Nclay

besar, sedangkan pengaruh matrik dapat diabaikan karena kecil.


e.

Vclay Kombinasi Neutron-Density

Pada interval bersih yang mengandung gas,

akan terlalu rendah karena

Nf

pada

dasarnya lebih kecil dari 1 dan

terlalu tinggi karena f < filtrat lumpur sehingga A >


. Nf .............................................................................................................................................. (16)

ma f
A.
ma mf

.....................................................................(17)

Dengan anggapan pori-pori terisi filtrat lumpur :

b D. mf 1 D . ma
..................................................................(18)
Atau

b . f 1 D . ma
......................................................................(19)
Pada shaly yang berisi gas adalah :

N .N f Vclay . .clay
....................................................................(20)

D A. Vclay . .clay

Penilaian Formasi

.......................................................................(21)

10

N clay
Dimana

Dclay
dan

merupakan

yang diperoleh dari Neutron dan Density log,

sedangkan

Dclay

ma clay
ma mf
.............................................................................(22)

Sehingga
Vclay

N A/Nf D
N clay A/Nf Dclay
............................................................(23)

Nf
Koefisien A/
f.

tergantung dari fluida formasi, gas, minyak dan air.

Vclay Sonic-Density
Kombinasi dari Sonic-Density Log dapat dapat digunakan pada kombinasi NeutronDensity log. Keuntungan dari kondisi ini adalah dapat mengurangi ketergantungan
posisi garis Vclay = 0 pada lithologi dan kandungan fluidanya. Cross plot antara SonicDensity dapat dilakukan seperti pada Neutron Density, perlu diperhatikan bahwa
Sonic-Density dan Neutron-Density, dapat digunakan bila kondisi lubang bor baik.

g.

Vclay kombinasi Neutron-Sonic


Pada kombinasi SNP Neutron-Sonic tidak digunakan karena kedua log tersebut
mempunyai pengaruh yang sama terhadap clay, sedangkan kombinasi antara GNT
Neutron-Sonic dapat digunakan untuk menentukan indikasi Vclay, karena GNT

GNTclay SNPclay
mempuyai pengaruh terhadap clay yang lebih besar (

). Serta

kombinasi ini sangat bagus dipergunakan pada formasi gas.

5.2. ANALISA KUANTITATIF


5.2.1.

Porositas
Ada tiga macam log porositas yang biasa digunakan, yaitu: Log Densitas, Log
Neutron, dan Log Sonic. Tiap log menunjukkan respon porositas dengan cara yang
Penilaian Formasi

11

berbeda, sehingga kombinasi dari dua atau tiga log sangat penting untuk memberikan data
yang cukup dalam penentuan porositas, lithologi dan karakteristik reservoir serta
membedakan minyak dengan air.
5.2.1.4. Porositas yang Dihubungkan Dengan Faktor Formasi ( F )
Porositas ini merupakann porositas yang diperoleh dari Resistivity Log yang
berdasarkan atas hubungan antara faktor formasi (F) dengan porositas. Adapun hubungan
tersebut pada formasi bersih (clean formation) yang penuh air adalah :
F = Ro / Rw atau F = Rxo / Rmf ...........................................................(5-24)
Sedangkan untuk formasi hidrokarbon menggunakan perhitungan porositas flush
zone sebagai berikut :
2

F = Sxo .Rxo/Rmf................................................................................(5-25)
Keterangan :
Sxo : Saturasi air filtrate pada flush zone (dianggap Sxo = 1- Sor atau Sxo =
1

Sw )
Ro

: Tahanan formasi dengan saturasi air formasi 100 %

Rw : Tahanan air formasi


Rxo : Tahanan formasi pada flush zone
Rmf : Tahanan air filtrat
Sor : Saturasi air residu
Pada formasi shaly sand harga F dicari dengan persamaan dibawah ini :
1
Vcalay (1 Vclay)S 2w

Rt
Rclay
F.R w
...............................................................(5-26)
1
Vclay (1 Vclay)S 2xo

R t Rclay
F.R w
................................................................(5-27)
Untuk mencari porositas, maka harga F dihubungkan dengan persamaan Archie
sebagai berikut :

F = a/

.............................................................................................(5-28)

Keterangan :

Penilaian Formasi

12

: Konstanta

m : Faktor sementasi
atau persamaan Humble :

2.15
F = 0.62 /

....................................................................................(5-29)

5.2.1.1. Porositas dari Single Tool Porosity


Sonic Log
Sonic log adalah log porositas yang mengukur interval transite time (t) dari
gelombang suara yang melewati tiap feet dari formasi, dimana t ini dipengaruhi oleh jenis
batuan dan porositas. Karena itu kecepatan pada matriks formasi (Tabel V-1.) harus

diketahui untuk menentukan porositas sonic (

) dengan chart (Gambar 5-1) maupun

rumus Wylie et.al.


Tabel V-1.
Kecepatan Sonic dan t Untuk Beberapa Jenis Matriks
(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)
Jenis Material
Sandstone
Limestone
Dolomites
Anhydrites
Salt
Casing (iron)

Vma (ft/sec)
18000-19500
21000-23000
23000-26000
20000
15000
17500

tma (sec/ft)
55.5-51.0
47.6-43.5
43.5-38.5
50.0
66.7
57.0

tma (sec/ft)
55.5-51.0
47.6
43.5
50.0
67.0
57.0

Persamaan Wylie :
t log t ma
t f t ma

............................................................................(5-30)

Keterangan :

= Porositas sonic

tma = Interval transite time matriks

Penilaian Formasi

13

tlog = Interval time formasi


tf

= Interval transite time fluida dalam sumur


(fresh mud = 189, salt mud = 185)

Assumsi yang digunakan dalam persamaan Wylie :


-

Porositas antar butiran seragam

Formasi mengandung air

Formasi terkompaksi (padat)

Formasi bersih (tidak mengandung shale)


Untuk batuan kurang kompak akan memberikan travel time yang lebih panjang dari
batuan kompak sehingga persamaan diatas harus ditambahkan dengan faktor kompaksi
(Cp), menjadi :
t log t ma
S
t f t ma

1
Cp

................................................................. (5-31)
t sh xC
100

Cp

.................................................................................... (5-32)

Keterangan :
Cp

= Faktor kompaksi

tsh = Interval transite time adjacent shale


C

= Konstanta, umumnya 1.0 (Hilchie, 1978)

Untuk efek hidrokarbon perlu koreksi untuk harga porositas, sebagai berikut :

x 0.7 (gas).............................................................................(5-33)

x 0.9 (minyak).....................................................................(5-34)

Density Log

Penilaian Formasi

14

Log Density merupakan log porositas yang mengukur electron density dari formasi.
Penentuan porositas hasil interpretasi Density Log dari formasi clean adalah sebagai
berikut :
b =

.f + (1- ).ma ..................................................................................................................... (5-35)

sehingga :
ma b
ma f

................................................................................. (5-36)

Keterangan :
ma

= Densitas matrik batuan, gr/cc


= 2.65 gr/cc untuk sandstone, kuarsa
= 2.68 gr/cc untuk limey sands
= 2.71 gr/cc untuk sandstones
= 2.87 gr/cc untuk limestones

= Densitas fluida formasi (pendekatan densitas dari filtrat lumpur yang


digunakan)
= 1.0 untuk air tawar
= 1.0 + 0.73 N untuk lumpur air asin

Harga porositas tersebut dikoreksi terhadap kondisi lubang bor sehingga persamaannya
menjadi :

Dcorr

Dclay

- Vclay) .......................................................... (5-37)

Keterangan :
ma clay
ma mf

Dclay

................................................................. (5-38)

clay = Densitas pada clay


mf

= Densitas pada mud filtrat

Neutron Log
Penilaian Formasi

15

Log Neutron merupakan log yang digunakan untuk mengukur porositas batuan
dengan mengukur kecepatan sinar gamma oleh detector yang menunjukkan banyak
sedikitnya hidrogen didalam batuan. Karena hidrogen paling banyak dijumpai didalam
fluida maka indeks hidrogen secara langsung berhubungan dengan porositas.

Untuk

Neutron Log dikoreksi terhadap lubang bor dengan menggunakan persamaan :

Ncorr

(Vclay x

) ............................................................ (5-39)

Nclay

Keterangan :

Nclay

= Porositas neutron di lempung

Pembacaan log neutron baik SNP maupun CNL tidak hanya tergantung pada
lithologinya, seperti terlihat pada Gambar 5.2.

Penilaian Formasi

16

tetapi juga

Gambar 5-1. Chart untuk Konversi Interval Transite Time (t)


Menjadi Porositas Sonic
(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

17

Gambar 5.2. Grafik Ekuivalen Porositas Neutron


(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

18

5.2.1.2.

Porositas dari Kombinasi Dua Log

Dalam menentukan porositas yang sebenarnya adalah sulit karena tergantung dari

lithologi dan fluidanya. Sehingga dalam menentukan

harus dua atau lebih mineral

batuan. Oleh karena itu, disamping dapat menentukan adanya minyak, gas dan komponen
matriks batuan, maka kombinasi logging seperti: Neutron-Density Log dan Neutron-Sonic

Log dapat menentukan

batuan yang kompleks. Sedangkan untuk Sonic-Density Log

kurang memberikan

yang baik, tetapi berguna untuk menentukan beberapa mineral

evaporate.

Untuk menentukan

pada dua campuran mineral adalah mudah dengan

menggunakan chart, sedang untuk

pada tiga mineral (Silica, Limestone dan Dolomite)

adalah dengan menggunakan chart dengan anggapan bahwa mineral terdiri dari mineral
Silika dan Dolomit.
a.

Neutron-Density Log
Pada Gambar 5.3. ditunjukkan cross plot antara Neutron-Density Log, dimana
garis-garis (Sandstone, Limestone, Dolomite, dll) merupakan titik lithologi yang jenuh air
dan dibagi menjadi bagian-bagian porositas. Pada formasi yang mengandung hidrokarbon
(h>0.25) porositas dari kombinasi dari dua log tersebut, sebagi berikut :
untuk lapisan yang terisi dengan cairan :

N D
2

....................................................................................(5-40)

Keterangan :

= Porositas dari Neutron Log

= Porositas dari Density Log

b.

Sonic-Neutron log

Penilaian Formasi

19

Plot antara Sonic-Neutron log akan memberikan hasil yang baik untuk lithologi
Sandstone, Limestone, Dolomite, seperti plot antara Neutron-Density Log. Crossplot kedua
log ini dapat dilihat pada Gambar 5.4.
c. Cross Plot antara Sonic-Density log
Cross plot antara Sonic-Density log akan memberikan hasil porositas batuan yang
kurang baik karena kesalahan dalam pemilihan pasangan lithologi akan memberikan hasil

yang jauh berbeda. Tetapi cross plot ini berguna untuk menentukan beberapa mineral
evaporate (penentuan lithologi), dapat dilihat pada Gambar 5.5.
Faktor faktor yang perlu diperhatikan dan yang mempengaruhi teknik cross plot
diantaranya pengaruh kondisi scale, porositas sekunder dan adanya hidrokarbon.Adanya
kandungan Shale dapat menyebabkan penyimpangan titik cross plot kearah titik shale pada

chart. Titik shale didapat dari pengeplotan harga porositas apperent (

Dsh,

Nsh,tsh) yang

diamati pada lapisan Shale. Harga shale ini hanya boleh mendekati parameter material
shale dalam lapisan permeabel.
Sonic Log tidak mengenal porositas vuggy dan rekah tetapi juga porositas
intergranular dan porositas sekunder. Sedang alat Neutron dan Density hanya mengetahui

total batuan,

sekunder ini biasanya ditulis sebagai secondary porosity index (SPI).

SPI =

sonic...............................................................................(5-41)

Keterangan :

= Porositas yang diperoleh dari Neutron Log dan atau Density Log
Adanya kandungan gas atau hidrokarbon ringan akan mempengaruhi pembacaan
alat density dan neutron, sedangkan sonic hanya terjadi pada formasi yang tidak kompak.

Pengaruh terhadap alat Neutron akan menurunkan pembacaan

Penilaian Formasi

20

, sedang untuk sonic juga


akan menambah

yang sebenarnya. Sehingga pada cross plot diperlukan koreksi gas atau

hidrokarbon ringan agar

Penilaian Formasi

dan indikasi lithologi menjadi besar.

21

Gambar 5.3. Cross Plot antara Neutron-Density Log


(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

22

Gambar 5.4. Penentuan Porositas dan Lithologi dari Neutron Sonic Log (SonicCNL)
(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Gambar 5.5. Penentuan Porositas dan Lithologi dari Sonic Density Log
(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

23

5.2.1.3. Porositas Dari Multy Porosity Logs


Multi Porosity Logs dapat mendefinisikan lithologi secara lebih baik, sehingga
dalam menentukan porositas akan menjadi lebih baik pula. Ada dua cara plot yang umum
digunakan yaitu M-N plot dan MID plot.
a.

M-N plot
Pengeplotan dari tiga data log porositas (Log Sonic, Log Neutron dan Log Densitas)
untuk interpretasi lithologi dapat dilakukan dengan M-N plot. Harga M dan N
didefinisikan sebagai :
M

t f t
0,01
b f

.............................................................................(5-42)
N

N f N
b f
......................................................................................(5-43)

Keterangan :
t

= Beda waktu interval dari log

= Densitas fluida (1.0 fresh mud dan 1.1 salt mud)

= Bulk density dari log

Nf = Porositas neutron fluida

= Porositas neutron dari log, porositas neutron ini dapat


ditentukan dari log CNL atau log Sidewall Neutron Porosity
(SNP)

pengalian 0,01 dimaksudkan supaya harga M dapat mempermudah pemakaian skala,


N dinyatakan dalam unit porositas limestone. Untuk fresh mud diberikan harga t f =

189, f 1,0 dan

Nf = 1,0. Metode M-N plot didasarkan atas harga parameter matriks

(tmax, ma,

Nma) dan parameter fluida. Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 5.6. M-N

plot.

Penilaian Formasi

24

Tabel V-2.
Menentukan M-N untuk Macam-Macam Mineral
(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)
Mineral

Sandstones (1)
Vm = 18,000
Sandstones (2)
Vm = 19,500
Limestone
Dolomite (1)

Fresh Mud

Salt Mud

(t = 1)

(t = 1.1)

N*

N*

.810

.628

.835

.669

.835

.628

.862

.669

.827

.585

.854

.621

.778

.516

.800

.554

.778

.524

.800

.554

.778

.532

.800

.561

.702

.505

.718

.532

1.015

.378

1.064
1.269

.408
1.032

= 5.5 30%
Dolomite (2)

= 1.5 5.5%
Dolomite (3)

= 0.1 5%
Anhydrite
mn = 2.98
Gypsum
Salt

b. MID Plot
Prinsip MID plot (Matriks Identification Plot) sama dengan M-N Plot. Pada MID

ta
yang terpenting adalah menentukan harga apparent total porosity (

), dapat dilihat pada

(tma ) a
Gambar 5.7. harga apparent matriks transite time (

Penilaian Formasi

25

, yang mana dapat dilihat pada

ma a
Gambar 5.8. dan apparent grain density

, yang mana dapat dilihat pada Gambar

5.9. Dapat juga dicari dengan persamaan sebagai berikut :


Time average relantionship

tma a

t s ta x t f
1 ta
..........................................................................(5-44)

Field observed relationship

tma a ts ta

ma a

x ts
c

..........................................................................(5-45)

b ta x f
1 ta

........................................................................(5-46)
Keterangan :
b = Bulk density dari density log
ts = Interval transite timr dari sonic log
f = Density fluida
tf = Transite time fluida

ta
= Apparent total porosity
c = Konstanta = 0,68

ma a

(tma ) a
Croos plot antara(

, dengan

, pada plot MID akan mengidentifikasi minera dari

batuan yang dapat dilihat pada Gambar 5.10.


5.2.2 Penentuan Resistivitas Air Formasi (Rw)
Ada beberapa metode yang digunakan untuk menghitung resistivitas air formasi,
yaitu :
1. Analisa Air Formasi
Pengukuran harga Rw dilakukan dipermukaan dari contoh air formasi dengan
melakukan pencatatan terhadap temperatur permukaan. Untuk mendapatkan harga Rw
pada temperatur formasi dimana contoh air formasi tersebut berasal maka digunakan
persamaan :
Penilaian Formasi

26

R w(Tf)

(Tpengukuran 6.77)
(Tformasi 6.77)

xR w(Ts)
..........................................................(5-47)

2. Metode SP
Langkah penentuan Rw dari metode SP adalah sebagai berikut :
-

Menentukan temperatur formasi (Tf) dalam 0F :


Tf

BHT Ts
x Depth SSP Ts
Depth Log

.......................................................(5-48)
Keterangan :
BHT = Temperatur dasar lubang
Ts

= Temperatur permukaan

SSP = Statik SP
-

Menentukan resistivitas filtrat lumpur (Rmf) pada temperatur formasi :


R mf

Ts 6.77
x R mf(Ts)
Tf 6.77

.....................................................................(5-49)

R mfc 0.85xR mf
-

Menentukan Rmfc :

.................................................(5-50)

Menentukan konstanta SP :

C 61 (0.133xTf )

R wc
-

Menentukan Rwc dari SP :

R mfc
SSP
10 C

................................(5-51)

............................................(5-52)

5.2.3 Penentuan Resistivitas Sebenarnya dan Resistivitas Flushed Zone (Rt ;


Rxo)
Besarnya Rt dapat ditentukan dari hasil pengukuran daerah yang tidak terinvasi
dengan menggunakan Induction Log atau Dual Laterolog, sedangkan untuk resistivity pada
flushed zone (Rxo) menggunakan Microresistivity Log yaitu MSFL.
5.2.4 Saturasi
1. Formasi Clean Sand/Carbonates

Penilaian Formasi

27

Sw

a x Rw
m x Rt

........................................................................................(5-53)
Keterangan :
Rw = Resistivity air, ohm-m
Rt

= True resistivity, ohm-m

Untuk formasi pasir m = 2; a = 0.81


Untuk formasi limestone dan dolomite m = 2; a = 1.00
Humble

m = 2.15; a = 0.62

n = exponential saturation faktor ( n = 2 )


2.

Formasi Shally Sand

Menentukan harga saturasi air pada zona invasi lumpur (Sxo) :


V

1 clay

2
V
1
c 2

clay

R xo
R clay
0.8 x R mf

x S n2
xo

........................................(5-54)

Menentukan saturasi hidrokarbon sisa (Shr) :

Shr 1 Sxo
.........................................................................................(5-55)

Menentukan porositas sebenarnya :

tc c x 1 0.1xS hr
.......................................................................(5-56)

Menentukan saturasi air formasi :

Vclay

V 2
1
clay
Rt
R clay

n
c 2
2

x
S
w
0.8 x R w

(Indonesian Equation)........(5-57)

5.2.5 Permeabilitas
Permeabilitas dapat diperoleh dari gradien tahanan/resistivity gradient dan crossplot

antara

versus Sw.

5.2.5.1. Permeabilitas dari Gradient Tahanan

Penilaian Formasi

28

Semakin tinggi zona transisi diatas permukaan air maka Sw semakin kecil dan
mengakibatkan tahanan batuan bertambah besar (lebih besar dari Ro). Persamaan
permeabilitas sebagai berikut :

2.3

k C ax
w h

............................................................................(5-58)

R 1
x
D Ro

a=

........................................................................................(5-59)

Keterangan :
a

= Gradien tahanan

C = Konstanta = 20
R = Perubahan resisitivity, ohm m
D = Perubahan kedalaman sebagai akibat perubahan resisitivity, ft
Ro = Resistivity minyak
3

w = Densitas air formasi, gr/cm


3

h = Densitas hidrokarbon, gr/cm


5.2.5.2. Permeabilitas dari Cross Plot Porositas dan Sw
Willy dan Rose memberikan persamaan empiris dalam batuan pasir, sebagai berikut
:

K=C.

/ (Swi)2................................................................................(5-60)

Harga C tergantung density hidrokarbon, berharga 250 untuk densitas minyak menengah,
berharga 79 untuk gas kering.

Harga Swi diperoleh dari crossplot

versus Sw, yang mana harga ini merupakan

harga Swi yang minimum dalam zona transisi. Permeabilitas setiap titik irreducible
saturation diperoleh dari Gambar 5.11. dimana harga permeabilitas tersebut dapat diplot

dalam crossplot

versus Sw seperti terlihat pada Gambar 5.12.

Pendekatan Permeabilitas Relatif


Penilaian Formasi

29

Pendekatan ini berdasarkan aliran listrik dan aliran fluidanya sebagai berikut :
1.

Untuk batuan basah air :


Aliran minyak dan air :
Ro
]
Rt

3/2

Krw = Swn [

................................................................(5-61)

Sw Swi 2
]
Swi ROS

Kro = 1 [

........................................................(5-62)

Aliran gas dan minyak :


R o 3/2
]
Rt

Krw = Swn3/2 [

...............................................................(5-63)

Krg = (1 Swi) [ 1 Swn1/4 (Ro/Rt)1/4]1/2 ......................................(5-64)


2.

Untuk clean formation :


Sw Swi
1 Swi

Swn =
3.

....................................................................(5-65)

Untuk shally formation :


Sw Swnm
1 Swnm

Swn =

....................................................................(5-66)

Swnm =

+ Swi clean .............................................................(5-67)

Keterangan :
Swn

= Saturasi air yang mobile.

Swnm = Saturasi air yang non mobile.

4.

= Hidrat yang menempati pori-pori.

Untuk batuan yang basah minyak :


Sw Soi
1 Soi

Som =

Penilaian Formasi

.........................................................................(5-68)

30

Gambar 5.6. M-N Plot untuk Identifikasi Mineral


(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

31

(ta )
Gambar 5.7. Menentukan Apparent Total Porosity (
(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

32

tma a
Gambar 5.8. Menentukan Apparent matrik Transite time
(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

33

ma a
Gambar 5.9. Menentukan Apparent Grain Density
(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

34

Gambar 5.10. MID Plot


(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

35

Gambar 5.11.Cross Plot porositas dan Saturasi Air


(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

36

Gambar 5.12. Cross Plot Porositas Sw


(Schlumberger, Log Interpretation Charts ,1972)

Penilaian Formasi

37

5.2.6. Ketebalan Effektif Lapisan


Batas lapisan dapat diketahui atau dideteksi karena adanya perubahan lithologi atau
perubahan porositas dan permeabilitas. Kurva yang digunakan dengan sendirinya harus
sensitive terhadap perubahan tersebut agar memberikan defleksi kurva yang baik. Umunya
digunakan SP Log untuk pengukuran resisitivity dengan jangkauan investigasi kecil,
Microlog Device dan Radioaktif Log.
5.2.6.1. SP Log
Ketebalan diukur pada dua titik pembelokan dalam interval defleksi SP Log yang
diperhatikan (minyak dan gas). Pengukuran ketebalan ini baik jika menggunakan lumpur
tawar pada formasi yang tahanannya kecil dan tidak dapat dipergunakan pada lumpur
dengan jenis air tawar. Biasanya digunakan pada clean sand formation, sedangkan untuk
formasi yang mengandung clay dapat ditentukan dengan metoda dibawah ini:

Metoda defleksi SP Log, dalam formasi yang mengandung laminasi sand-shale,


yang mana laminasi shale lebih tipis dari diameter lubang bor maka kurva SP dapat
digunakan untuk mengetahui ketebalan effektif lapisan batuan, cukup dengan
mengukur jarak antara titik pembelokan.

Metoda dibawah kurva SP Log, metoda ini mencakup pengukuran pada formasi
pasir lempung yang berisi air. Metoda ini mengukur luas daerah antara base line
dengan kurva SP (A) dan kemudian dibagi dengan SSP yang diperoleh dari SP
formula sehingga diperoleh harga hc
hc

A
SSP

................................................................................(5-69)

5.2.6.2. Resisitivity Microlog


Dengan jangkauan investigasi kecil, seperti short normal mempunyai ketebalan
kurang dari 40 cm, untuk LL8/SFL mempunyai ketebalan lebih dari 60 cm dan untuk
induksi/lateralog mempunyai ketebalan lebih dari 120 cm. Sedangkan microlog sangat
cocok untuk ketepatan sekitar 8-10 cm (khusus microlog dapat membedakan ketebalan
minyak dan gas), lalu untuk Proximity Log MSFL ketelitian sekitar 8-15 cm

Penilaian Formasi

38

5.2.6.3. Radioaktif Log


Log ini dapat digunakan pada sumur terselubung dengan ketelitian sekitar 30 cm,
lalu untuk Sonic Log, Density Log, Neutron Log ketelitiannya sekitar 60 cm

Penilaian Formasi

39