Anda di halaman 1dari 35

HEMATEMESIS MELENA

Pembimbing: dr. Asep Syaiful Karim,


SpPD

Camila Kamal
030 10 061

Anatomi

Definisi

Perdarahan saluran cerna bagian atas


(SCBA) yaitu perdarahan yang berasal
dari dalam lumen saluran cerna di atas
(proksimal) ligamentum Treitz, mulai dari
jejunum proksimal, duodenum, gaster,
dan esophagus

Hematemesis adalah dimuntahkannya


darah dari mulut, darah bisa dalam
bentuk segar (bekuan/ gumpalan/ cairan
warna merah cerah) atau berubah karena
enzim dan asam lambung menjadi
kecoklatan dan berbentuk seperti butiran
kopi
Melena yaitu keluarnya tinja yang lengket
dan hitam seperti aspal (ter) dengan bau
khas, yang menunjukkan perdarahan
saluran cerna atas serta dicernanya
darah pada usus halus

Etiologi
Kelainan pada
esofagus
a. Pecahnya varises esofagus
Sirosis hepatis hipertensi portal
b. Karsinoma esofagus
Gambaran karsinoma yang hampir
menutup esophagus dan mudah berdarah
terletak di sepertiga bawah esophagus
c. Esofagitis dan tukak esofagus
Biasanya ringan sehingga lebih sering
timbul melena daripada hemetemesis

d. Sindrom Mallory-Weiss
Terdapat
gejala muntah
tanpa isi

Frekuensi
muntah
meningkat

Tekanan
intraabdomina
l meingkat

Pecahnya
arteri di
submukosa
esofagus/kardi
a

e. Esofagogastritis korosiva
Mengkonsumsi zat mengandung asam
sitrat dan asam HCl yang bersifat korosif

Kelainan pada
esofagus
a. Gastritis erosiva hemoragika
Penyebab terbanyak adalah akibat obatobatan yang mengiritasi mukosa lambung
atau obat yang merangsang timbulnya
tukak
b. Tukak lambung
Tukak lambung akut biasanya bersifat
dangkal dan multipel yang dapat
digolongkan sebagai erosi
Nyeri dan
pedih ulu
hati

Nyeri
bertamb
ah hebat

Muntah
darah

Nyeri dan
pedoh
berkuran
g

Melena

c. Karsinoma lambung
Pasien umumnya berobat dalam fase
lanjut dengan keluhan rasa pedih dan
nyeri di ulu hati, rasa cepat kenyang,
badan lemah

Kelainan pada
duodenum
a. Tukak duodeni
Tukak duodeni yang menyebabkan
perdarahan panendoskopi terletak di bulbus.
Sebelum perdarahan, pasien mengeluh nyeri
dan pedih di perut atas agak ke kanan
b. Karsinoma papilla Vateri
Gejala yang ditimbulkan adalah kolestatik
ekstrahepatal, juga dapat menimbulkan
perdarahan tersembunyi

Patofisiologi
MEKANISME
PERDARAHAN

Perdarahan
tersamar
intermiten

Perdarahan masif
dengan renjatan

Patofisiologi
Faktor penyebab perdarahan
1. Faktor pembuluh darah
2. Faktor trombosit
3. Faktor kekurangan zat pembekuan
darah

Patofisiologi
Terdapat dua teori
TEORI EROSI : pecahnya pembuluh darah
karena erosi dari makanan kasar
(berserat tinggi dan kasar) atau konsumsi
NSAID
TEORI ERUPSI : karena tekanan vena
porta terlalu tinggi, atau peningkatan
tekanan intraabdomen yang tiba-tiba
karena mengedan, mengangkat barang

Manifestasi Klinis
Gambaran klinis yang muncul bisa
berbeda-beda, tergantung pada :

Letak sumber perdarahan dan kecepatan


gerak usus
Kecepatan perdarahan
Penyakit penyebab perdarahan
Keadaan penderita sebelum perdarahan

Manifestasi Klinis
Merah
terang

Muntah
darah

BAB hitam

Merah
gelap

Manifestasi Klinis

Perdarahan <20%
sinkop
kepala terasa ringan
mual
perspirasi (berkeringat)
haus
pucat
akral dingin

Perdarahan 40%
takikardi
hipotensi

Diagnosis Banding

Hemoptoe
Hematokezia

Diagnosis
ANAMNESIS

1. Onset, jumlah, durasi, frekuensi


2. Perdarahan di bagian tubuh lain
3. Riwayat perdarahan sebelumnya dan riwayat
perdarahan dalam keluarga
4. Riwayat muntah berulang yang awalnya tidak
berdarah
5. Konsumsi jamu dan obat
6. Kebiasaan minum alkohol
7. Kemungkinan penyakit hati kronis, demam dengue,
tifoid, gagal ginjal kronik, diabetes mellitus, hipertensi,
alergi obat

Diagnosis
PEMERIKSAAN FISIK

Langkah awal adalah menentukan berat


perdarahan dengan fokus pada status
hemodinamik, pemeriksaannya meliputi :

Tekanan darah dan nadi posisi baring


Perubahan ortostatik tekanan darah dan nadi
Ada tidaknya vasokonstriksi perifer (akral dingin)
Kelayakan napas dan tingkat kesadaran
Produksi urin

Untuk penilaian hemodinamik


(keadaan sirkulasi) perlu
dilakukan evaluasi jumlah
perdarahan, dengan criteria:
Keadaan hemodinamik

Perdarahan (%)
<8

Hemodinamik stabil

8 15

Hipotensi ortostatik

15 25

Renjatan (syok)

25 40

Renjatan + penurunan kesadaran

>40

Moribund (physiology futility)

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu diperhatikan:
Stigmata penyakit hati kronis
Colok dubur karena warna feses memiliki
nilai prognostik
Aspirat dari nasogastric tube (NGT)
a. Aspirat putih keruh
b. Aspirat merah marun
Suhu badan dan perdarahan di tempat
lain

Pemeriksaan Penunjang

Tes darah : darah perifer lengkap, cross-match jika


diperlukan tranfusi
Hemostasis lengkap untuk menyingkirkan kelainan
faktor pembekuan primer atau sekunder : CTBT,
PT/PPT, APTT
Elektrolit : Na, K, Cl
Faal hati : cholinesterase, albumin/ globulin,
SGOT/SGPT
EKG& foto thoraks: identifikasi penyakit jantung
(iskemik), paru kronis
Endoskopi : gold standart untuk menegakkan
diagnosis dan sebagai pengobatan endoskopik awal.
Selain itu juga memberikan informasi prognostik
dengan mengidentifikasi stigmata perdarahan

BEDA PERDARAHAN SALURAN


CERNA BAGIAN ATAS (SCBA)
DENGAN BAWAH (SCBB)
Perbedaan

Perdarahan SCBA

Perdarahan SCBB

Manifestasi klinik umumnya

Hematemesis dan/atau melena

Hematokezia

Aspirasi nasogastrik

Berdarah

Jernih

Rasio (BUN : kreatinin)

Meningkat >35

<35

Auskultasi usus

Hiperaktif

Normal

Tatalaksana

Tatalaksana Umum
1. Utamakan airway-breathing-circulation
(ABC)
2. Pemasangan iv-line
3. Oksigenasi yang cukup
4. Mencatat intake- output, harus dipasang
kateter urine
5. Monitor tekanan darah, nadi, saturasi O2,
keadaan
lain sesuai komorbid
6. Melakukan bilas lambung agar
mempermudah tindakan endoskopi

Tatalaksana
Dalam melaksanakan tindakan umum ini,
pasien dapat diberikan terapi :

Transfusi untuk mempertahankan


hematokrit > 25%
Pemberian vitamin K 3x1 amp
Obat penekan sintesa asam lambung
(PPI)
Terapi lainnya sesuai dengan komorbid

Tatalaksana Khusus
a. Varises gastroesofageal

Terapi
medikame
ntosa
dengan
obat
vasoaktif:

- Glipressin
-Somatostati
n

Terapi
mekanik
dengan
balon
Sengstaken
Blackmore
atau
Minesota

Terapi
endoskopi
:
- Ligasi
Skleroterapi
- Terapi
radiologi
- Terapi
pembedaha
n

b. Tukak Peptik
Terapi
medikament
osa:
- PPI
- Obat
vasoaktif

Terapi
endoskopi
- Injeksi
- Termal
- Mekanik

Terapi
pembedahan

Algoritma Penatalaksanaan Penderita


Perdarahan SCBA

Komplikasi

Syok hipovolemik
Aspirasi pneumonia
Gagal ginjal akut
Sindrom hepatorenal koma hepatikum
Anemia karena perdarahan

Kesimpulan
Perdarahan saluran cerna atas (SCBA) yaitu

perdarahan dari lumen saluran cerna di atas


ligamentum Treitz mengakibatkan
hematemesis dan melena.
Hematemesis adalah muntah darah dalam
bentuk segar atau berubah karena enzim
dan asam lambung menjadi kecoklatan
berbentuk butiran kopi.
Melena adalah tinja yang lengket dan hitam
seperti aspal dengan bau khas.

Kesimpulan
Etiologi perdarahan SCBA antara lain :
1. Kelainan esophagus : pecah varises esophagus, Ca
esophagus, sindrom Mallory-Weiss, esofagogastritis
korosiva, esofagitis & tukak esofagus
2. Kelainan lambung : gastritis erosif hemoragika, tukak
lambung, Ca lambung
3. Kelainan di duodenum : tukak duodeni, Ca papilla
vaterii

Kesimpulan
Keadaan memperburuk prognosis : gagal

jantung kongestif/ infark miokard, PPOK,


sirosis, gagal ginjal, keganasan, >60 tahun,
gangguan pembekuan.
Komplikasinya yaitu : syok hipovolemik,

aspirasi pneumonia, gagal ginjal akut,


sindrom hepatorenal koma hepatikum,
anemia karena perdarahan.

Varises Esofagus

Ca Esofagus

Mallory-Weiss
syndrome

Esofagogastritis
korosiva

Esofagitis & tukak


esophagus

Gastritis Erosiva
Hemoragika

Tukak Lambung

Ca Lambung

Tukak Duodeni

Ca-papila Vateri