Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOLOGI DASAR
PERCOBAAN V
POPULASI, KOMUNITAS, DAN EKOSISTEM
NAMA

: ST. FADLIZAH ARIS

NIM

: H31115505

HARI/TANGGAL

: KAMIS/12 NOVEMBER 2015

KELOMPOK

: 6 (ENAM)

ASISTEN

: INDO TENRI AMPA

LABORATORIUM BIOLOGI DASAR JURUSAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Biologi adalah salah satu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
hubungan makluk hidup dan lingkungannya. Bumi memiliki banyak sekali jenisjenis mahkluk hidup, mulai dari tumbuhan dan binatang yang sangat kompleks
hingga organisme yang sederhana seperti jamur, amuba dan bakteri. Meskipun
demikian semua mahkluk hidup tanpa kecuali, tidak bisa hidup sendirian. Masingmasing tergantung pada mahkluk hidup yang lain ataupun benda mati di
sekelilinganya. Di dalam lingkungan terjadi interaksi kisaran yang luas dan
kompleks. Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang menggabungkan
pendekatan hipotesis deduktif, yang menggunakan pengamatan dan eksperimen
untuk

menguji

penjelasan

hipotesis

dari

fenomena-fenomena

ekologis

(Caudill, 2005).
Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama
jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik)
yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang
walaupun paling baik digambarkan secara statistic, unik sebagai milik kelompok
dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu. Komunitas adalah
kumpulan populasi tumbuhan dan tanaman yang hidup secara bersama di dalam
suatu lingkungan. Sebuah komunitas tumbuh-tumbuhan dan binatang yang
mencakup wilayah yang sangat luas disebut biome. Ekosistem tersusun atas
komponen-komponen yang saling berinteraksi (Campbell dkk., 2000).
1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah:

1.

Disini

saudara

akan

menggunakan

model

untuk

meneliti

bagaimana suatu populasi dapat tumbuh.


2. Dalam latihan ini saudara akan mempelajari suatu komunitas. Dan saudara
akan mengumpulkan data sebanyak mungkin selama waktu dan
kesempatan memungkinkan. Kemudian saudara memeriksa hubungan
antara masing-masing spesies, agar saudara dapat mengira-ngirakan urutan
nama yang paling penting dan untuk mengetahui struktur komunitas itu.
1.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 12 November 2015 pukul
08.00-11.10 WITA. Percobaan ini bertempat di Pelataran Pertanian Universitas
Hasanuddin Makassar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Individu berasal dari bahasa latin yaitu in (tidak) dan dividuus (dapat
dibagi) jadi individu merupakan bagian organisasi

kehidupan yang tidak

dapat dibagi lagi. Masing-masing unit yang disebut individu tersebut dapat
melakukan proses hidup yang masing-masing terpisah. Setiap individu seperti
pohon pisang dalam rumpunnya akan dapat hidup apabila dipisahkan dari
rumpunnya tersebut. Individu dalam ekologi memiliki makna yang sangat
penting, karena dari individu dapat dikumpulkan bermacam-macam data
untuk

mempelajari

tentang

kehidupan

dalam

hubungannya

dengan

lingkungannya (Caudill, 2005).


Dalam ekologi, populasi diartikan sekelompok idividu sejenis yang
menempati ruang dan

waktu

tertentu. Populasi adalah kelompok

kolektif

organisme dari jenis yang sama yang menempati ruang atau tempat tertentu
dan memiliki berbagai ciri atau sifat yang unik dari kelompok dan bukan
merupakan sifat milik individu di dalam kelompok tersebut. Populsi memiliki
sejarah hidup, tumbuh dan berkembang
individu.

Populasi

memiliki

organisasi

seperti

apa

yang

dimiliki

oleh

dan struktur yang pasti dan jelas

(Soemarno, 2011).
Suatu komunitas terdiri dari semua organisme yang menempati suatu
daerah tertentu; komunitas adalah kumpulan populasi dari spesies yang berlainan.
Pertanyaan pada tingkat analisis ini meliputi cara berinteraksi di antara organisme
seperti predasi, kompetisi dan penyakit, yang mempengaruhi struktur dan
organisasi komunitas. Ekosistem adalah suatu komunitas tumbuhan, hewan dan
mikroorganisme beserta lingkungan non-hayati yang dinamis dan kompleks, serta
saling berinteraksi sebagai suatu unit yang fungsional. Manusia merupakan bagian

yang terintegrasi dalam ekosistem. Ekosistem sangat bervariasi dalam hal ukuran,
dapat berupa genangan air pada suatu lubang pohon hingga ke samudera luas
(Caudill, 2005).
Pertumbuhan populasi dibatasi oleh faktor-faktor yang bergantung dan
tidak bergantung pada kepadatan yang keutamaan relatifnya bervariasi sesuai
dengan spesies dan keadaan. Faktor bergantung pada kepadatan akan semakin
intensif ketika kepadatan populasi meningkat dan akhirnya dapat menstabilkan
populasi didekat daya tampungnya. Beberapa factor yang bergantung kepadatan
adalah kompetisi intraspesies untuk sumber daya yang terbatas, peningkatan
pemangsaan, cekaman akibat kepadatan, atau penumpukan toksin dapat
menyebabkan laju pertumbuhan populasi menurun pada kepadatan populasi yang
tinggi (Campbell dkk., 2000).
Faktor yang tidak bergantung pada kepadatan, seperti kejadian-kejadian
karena iklim dan kebakaran, menuurunkan ukuran populasi pada fraksi tertentu.
Populasi yang secara umum bersifat stabil kemungkinan mendekati suatu daya
tampung yang ditentukan oleh batas-batas yang bergantung pada kepadatan, akan
tetapi

fluktuasi

jangka

pendeknya

tidak

bergantung

kepadatan

(Campbell dkk., 2000).


Kedua kekuatan utama yang mempengaruhi pertumbuhan populasi, yaitu
angka kelahiran dan angka kematian, dapat diukur dan digunakan untuk
memprediksi bagaimana ukuran populasi akan berubah menurut waktu. Terdapat
dua model pertumbuhan yaitu model eksponensial dan model logistic. Model
eksponensial pertumbuhan populasi menjelaskan suatu populasi ideal dalam
lingkungan yang tidak terbatas. Model ini memprediksi bahwa semakin besar

suatu populasi akan semakin cepat populasi itu akan tumbuh dan model logistik
pertumbuhan populasi menyertakan konsep daya tampung. Pertumbuhan
eksponensial tidak dapat dipertahankan tanpa batas dalam populasi apapun. Suatu
model yang lebih nyata (realistis) membatasi pertumbuhan dengan menyertakan
daya tampung (Campbell dkk., 2000).
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan
lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan
logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi
antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem
dengan lingkungannya (Soemarno, 2011).
Ekosistem adalah suatu ruang atau suatu unit organisasi yang meliputi
organisme hidup dan substansi tak hidup yang berinteraksi menghasilkan suatu
pertukaran materi antara bagian hidup dan tak hidup. Ekosistem merupakan
tingkat organisasi paling tinggi diatas komunitas, atau merupakan kesatuan dari
suatu komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan. Untuk
mendapatkan materi dan energi yang di perlukan untuk hidupnya, semua
komunitas tergantung pada lingkungan abiotiknya. Organisme

produsen

memerlukan cahaya, energi, oksigen,air, dan garam- garam yang semuanya di


ambil dari lingkungan abiotik. Energi dan materi dari konsumen tingkat pertama
di teruskan ke tingkat kedua dan seterusnya melalui jaring-jaring makanan. Materi
dan energi berasal dari lingkungan abiotik dan akan kembali ke abiotik. Dalam hal
ini komunitas dalam lingkungannya (abiotik) merupakan suatu ekosistem. Jadi

konsep ekositem berdasarkan semua hubungan antar komunitas dan lingkungan


abiotiknya (Sahira dkk., 2013).
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan
berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik
antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik
adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.
Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk
hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan
merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan (Soemarno, 2011).
Suatu ekosistem meliputi populasi, komunitas, habitat dan lingkungan dan
dengan khusus menunjukkan pada interaksi dinamis dari semua

bagian dari

lingkungan, terutama terfokus pada pertukaran materi antara bagian hidup dan
tidak hidup (Anwar, 1984).
Beberapa organisme yang jenisnya sama akan membentuk populasi,
beberapa populasi yang berbeda akan membentuk komunitas. Satu ekosistem akan
berbeda dengan ekosistem lainnya. Perbedaan ini terjadi di dasarkan ciri-ciri
komunitas yang menonjol (baik hewan maupun tumbuhan) karena setiap
organisme membentuk komunitas memiliki karakteristik yang bermacam-macam,
maka terbentuklah macam-macam ekosistem. Dalam ekosistem, tumbuhan
berperan

sebagai

produsen,

hewan

berperan

sebagai

konsumen

dan

mikroorganisme berperan sebagai decomposer (Caudill, 2005).


Ditinjau dari segi penyusunnya atau struktur fungsionalnya, ekosistem
dapat di bedakan menjadi 4 komponen (Southwick, 1972) yaitu:

a. Bahan tak hidup (abiotik) yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari air,
tanah, udara, sinar matahari dan sebagainya dan merupakan medium atau
substrat untuk berlangsungnya kehidupan.
b. Produsen yaitu sebagian besar tumbuhan berklorofil yang mampu mensintesis
makanan dan bahan anorganik yang sederhana, termasuk mikroorganisme yang
mampu melaksanakan khemosintesis.
c. Konsumen
d. Pengurai, perombak atau dekomposer yaitu organisme heterotropik yang berupa
bakteri dan jamur yang menguraikan atau merombak senyawa- senyawa
kompleks dari protoplasma mati menyerap sebagian dari hasil perombakan itu
dan melepaskan bahan-bahan anorganik sederhana untuk di pakai produsen.
Ekosistem terestrial merupakan ekosistem yang terbentuk paa suatu lahan
darat yang mempunyai fungsi sebagai faktor pembatas ekosistem, dan
berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya) (Sahira dkk., 2013).
Ilmu yang mempelajari ekosistem disebut ekologi. Ekologi berasal dari
dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos dan logos. Oikos artinya rumah atau
tempat tinggal, dan logos artinya ilmu. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan
oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914). Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih
relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70-an. Faktor biotik juga meliputi
tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas,
ekosistem, dan biosfer (Soemarno, 2011).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat Percobaan


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu pulpen, pensil,
penghapus, kalkulator.
3.2 Bahan Percobaan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu kertas grafik
serta komponen biotik dan abiotik yang ada diamati.
3.3

Prosedur Percobaan

3.3.1

Mengamati Ekosistem
Langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan ini sebagai

1
2
3
4
5

berikut:
Memilih daerah penelitian.
Menentukan data yang akan dikumpulkan atau diteliti. Dalam hal ini data
yang dikumpulkan adalah komponen biotik dan abiotik.
Mengumpulkan data.
Menyiapkan sebuah buku atau kertas untuk mencatat.
Mengidentifikasi komponen yang akan diteliti dan menentukan namanya.

3.3.2

Menghitung Populasi Burung Gereja


Langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan ini sebagai

berikut:
1
2

Mempersiapkan model.
Model I: Mengumpamakan disuatu pulau pada tahun 2015 dihuni

oleh 10
burung gereja (5 pasang jantan dan betina).
Asumsi I: Setiap Musim bertelur, setiap pasang burung gereja
menghasilkan 10 keturunan (5 pasang jantan dan betina).
Asumsi II: Setiap tahun semua tetua (induk jantan dan betina) mati
sebelum musim bertelur berikutnya.

Asumsi III: Setiap tahun semua keturunan hidup sampai pada musim
bertelur berikutnya. Dalam keadaan sebenarnya beberapa tetua akan hidup
dan beberapa keturunannya akan mati. Asumsi I dan III akan saling
memberikan suatu keadaan yang seimbang, sehingga akan mengurangi
perbedaan antara model yang dibuat dengan keadaan yang sebenarnya.
Asumsi IV: Selama pengamatan tidak ada burung yang meninggalkan atau
yang datang ke pulau tersebut.
3
4

Berdasarkan cara diatas, menghitung populasi burung gereja pada tahun


2015 sampai tahun 2019.
Pada Model II sebagai berikut :
Asumsi I : Tidak terdapat perubahan pada asumsi II, III, dan IV.
Asumsi II : Terdapat perubahan asumsi yaitu perubahan asumsi II
sedangkan asumsi lainnya tidak mengalami perubahan. Perubahan asumsi
II adalah 2/5 dari induknya masih dapat mempunyai keturunan lagi untuk
kedua kalinya, lalu kemudian mati.
Asumsi III : Terdapat perubahan asumsi yaitu perubahan asumsi III
sedangkan asumsi lainnya tidak mengalami perubahan. Perubahan asumsi
III adalah

setiap tahun 2/5 dari keturunannya mati sebelum musim

bertelur.
Asumsi IV : Terdapat perubahan asumsi yaitu perubahan asumsi IV dan
asumsi lainnya tidak mengalami perubahan. Perubahan asumsi IV yaitu
setiap tahun 50 burung gereja baru datang ke pulau tersebut.
5. Berdasarkan cara di atas, hitunglah populasi burung gereja pada tahun
2015 sampai tahun 2019 dalam model II.
6. Model III: Mengubah Asumsi III sebagai berikut, setiap tahun 2/5 dari
keturunan (jantan dan betina) sama jumlahnya, mati sebelum musim
bertelur. Asumsi lain tidak berubah.
7. Model IV: Mengubah asumsi IV sebagai berikut, Setiap tahun 50 burung
geraja baru (jantan dan betina sama jumlahnya) datang ke pulau tersebut

dari pulau lainnya.

Tidak seekorpun yang pergi. Asumsi lain tidak

berubah.
8. Membuat grafik berdasarkan tiap model yang telah dibuat.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Percobaan

4.1.1

Mengamati Ekosistem

A. Komponen Abiotik
1. Batu

5. Sampah Kering

2. Tanah

6. Kayu

3. Daun Kering

7. Cangkang Keong

4. Udara

8. Cahaya

B. Komponen Biotik
1. Pohon Cemara Kipas Thuja occidentalis
2. Pohon Mangga Mangifera indica
3. Pohon Pisang Musa paradisiaca
4. Pohon Kembang Merak Caesalpinin pulcheyrina
5. Belalang Valanga nigricornis
6. Jangkrik Gryllus bimaculatus
7. Kupu-kupu Sastragala sp.
8. Kadal Lacerta agills
9. Kucing Felis domesticus
10. Laba-laba Araneus diadematus
4.1.2

Menghitung Populasi Burung Gereja

1 MODEL I
a) Pada tahun 2015
Asumsi I
= 5 x 10

= 50 ekor (25 pasang)

=50 + 10

= 60 ekor (30 pasang)

= 60 - 10

= 50 ekor (25 pasang)

Asumsi II

Asumsi III

= 50 ekor (25 pasang)

Asumsi IV

= 50 ekor(25 pasang)

b) Pada tahun 2016


Asumsi I

= 25 x 10

= 250 ekor (125 pasang)

= 250+50

= 300 ekor (150 pasang)

= 300 50

= 250 ekor (125 pasang)

Asumsi I

Asumsi III

= 250 ekor (125 pasang)

Asumsi IV

= 250 ekor (125 pasang)

c) Pada tahun 2017

Asumsi I

= 125 x 10

= 1250 ekor (625 pasang)

= 1250+250 = 1500 eko (750 pasang)

Asumsi II

Asumsi III

= 1250 ekor (625 pasang)

Asumsi IV

= 1250 ekor (625 pasang)

= 1500 250 = 1250 ekor (625 pasang)

d) Pada tahun 2018

Asumsi I

= 625 x 10

= 6250 ekor (3125 pasang)

= 6250+1250 = 7500 ekor

Asumsi II

Asumsi III

= 6250 ekor (3125 pasang)

Asumsi IV

= 6250 ekor (3125 pasang)

= 7500 1250 = 6250 ekor (3125 pasang)

e) Pada tahun 2019

Asumsi I

= 3125 x 10

= 31250 ekor (15625 pasang)

= 31250 + 6250 = 37500 ekor (18750 pasang)

Asumsi II

Asumsi III

= 31250 ekor (15625 pasang)

Asumsi IV

= 31250 ekor(15625 pasang)

2
a)

= 37500 6250 = 31250 ekor (15625 pasang)

MODEL II
Pada tahun 2015

Asumsi I

Asumsi II

= 5 x 10

= 50 ekor (25 Pasang)

= 50 + 10

= 60 ekor

= 2/5 x 10

= 4 (hidup)

= 3/5 x 10

= 6 (mati)

= 60 6

= 54 ekor (27 Pasang)

Asumsi III

= 54 ekor (27 Pasang)

Asumsi IV

= 54 ekor (27 Pasang)

b)

Pada tahun 2016

Asumsi I

Asumsi II

Asumsi III

= 27 x 10

= 270 ekor (135 Pasang)

= 54 4

= 50 ekor

= 270 + 50

= 320 (160 pasang)

= 2/5 x 50

= 20 ekor (hidup)

= 3/5 x 10

= 30 ekor (mati)

= 320 30

= 290 ekor (145 Pasang)


= 290 ekor (145 Pasang)

Asumsi IV
c)

d)

= 290 ekor (145 Pasang)

Pada tahun 2017


Asumsi I

Asumsi II

= 145 x 10

= 1450 ekor (725 pasang)

= 290 -20

= 270 ekor

= 1450 + 270

= 1720 (860 pasang)

= 2/5 x 270

= 108 (hidup)

= 2/5 x 450

= 180 ekor (hidup)

= 3/5 x 270

= 162 ekor (mati)

= 1720 162

= 1558 ekor (779 pasang)

Asumsi III

= 1558 ekor (779 pasang)

Asumsi IV

= 1558 ekor (779 pasang)

Pada tahun 2018


Asumsi I

Asumsi II

= 779 x 10

= 7790 ekor (3895 pasang)

= 1558 - 108

= 1450 ekor

= 7790 + 1450

= 9240 (4620 pasang)

= 2/5 x 1450

= 580 ekor (hidup)

= 3/5 x 1450

= 870 ekor (mati)

Asumsi III

= 8370 ekor (4185 pasang)

Asumsi IV
e)

= 8370 ekor (4185 pasang)

Pada tahun 2019

Asumsi I

Asumsi II

= 4185 x 10

= 41850 ekor (20925 pasang)

= 8370 580

= 7790 ekor

= 2/5 x 7790

= 3116 (hidup)

= 3/5 x 7790
= 49640 4674

= 4674 (mati)
= 44966 (22483 pasang)

Asumsi III

= 44966 (22483 pasang)

Asumsi IV

= 44966 (22483 pasang)

3
a)

MODEL III
Pada tahun 2015

Asumsi I

= 5 x 10

= 50 ekor (25 pasang)

= 50 + 10

= 60 ekor (30 pasang)

Asumsi II

= 60 10

= 50 ekor (25 pasang)

Asumsi III

= 2/5 x 50

= 20 ekor (mati)

= 50 20

= 30 ekor (hidup)

Asumsi IV
b)

= 30 ekor (15 pasang)

Pada tahun 2016

Asumsi I

= 15 x 10

= 150 ekor (75 pasang)

= 150 + 30

= 180 ekor ( 90 pasang)

Asumsi II

= 180 30

= 150 ekor (75 pasang)

Asumsi III

= 2/5 x 150

= 60 ekor (mati)

= 150 60

= 90 ekor (hidup)

Asumsi IV
c)

= 90 ekor (45 pasang)

Pada tahun 2017


Asumsi I

Asumsi II

= 45 x 10

= 450 ekor (225 pasang)

= 450 + 90

= 540 ekor (270 pasang)

= 540 90

= 450 ekor (225 pasang)

d)

Asumsi III

= 2/5 x 450

= 180 ekor (mati)

= 450- 180

= 270 ekor (hidup)

Asumsi IV

= 270 ekor (135 pasang)

Pada tahun 2018


Asumsi I

= 135 x 10

= 1350 ekor (675 pasang)

= 1350 + 270

= 1620 ekor (810 pasang)

Asumsi II

= 1620 270

= 1350 ekor (675 pasang)

Asumsi III

= 2/5 x 1350

= 540 ekor (mati)

= 1350 540

= 810 ekor (hidup)

Asumsi IV
e)

= 810 ekor (405 pasang)

Pada tahun 2019

Asumsi I

Asumsi II

= 4185 x 10

= 41850 ekor (20925 pasang)

= 8370 - 580

= 7790 ekor

= 2/5 x 7790

= 3116 ekor (hidup)

= 3/5 x 7790

= 4674 (mati)

= 49640 4674 = 44966 (22483 pasang)


Asumsi III

= 44966 (22483 pasang)

Asumsi IV

= 44966 ekor (22483 pasang)

3
a)

MODEL IV
Pada tahun 2015

Asumsi I

Asumsi II

= 5 x 10

= 50 ekor (keturunan)

= 50 +10

= 60 ekor

= 60 10

= 50 ekor (25 pasang)

Asumsi III
Asumsi IV
b)

= 50 ekor (25 pasang)


= 50 + 50

= 100 ekor (50 pasang)

= 50x 10

= 500 ekor (anakan)

= 500 +100

= 600 ekor

= 600 100

= 500 ekor (250 pasang)

Pada tahun 2016

Asumsi I

Asumsi II
Asumsi III
Asumsi IV
c)

= 500 ekor (250 pasang)


= 500 + 50

= 550 ekor (275 pasang)

= 275 x 10

= 2750 ekor (keturunan)

= 2750 +550

= 3300 ekor

=3300 550

= 2750 ekor

Pada tahun 2017

Asumsi I

Asumsi II
Asumsi III
Asumsi IV
d)

= 2750 ekor
= 2750 + 50

= 2800 ekor (1400 pasang)

= 1400 x 10

= 14000 ekor (keturunan)

= 14000 +2800

= 16800 ekor

Pada tahun 2018

Asumsi I

Asumsi II

= 16800 2800 = 14000 ekor

Asumsi III
Asumsi IV
e)

= 14000 ekor
= 14000 + 50

= 14050 ekor(7025 pasang)

Pada tahun 2019

Asumsi I

= 7025 x 10

= 70250 ekor (anakan)

= 70250 +14050 = 84300 ekor

Asumsi II

= 84300 14050 = 70250 ekor

Asumsi III
Asumsi IV

= 70250 ekor (32.125 pasang)


= 70250 + 50

= 70300 ekor (35150 pasang)

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum maka disimpulkan bahwa:
1

Populasi dapat tumbuh berdasarkan dua model pertumbuhan yaitu


eksponensial dan logisistik. Dari model pertumbuhan populasi yang dibuat
menggambarkan model pertumbuhan eksponensial dimana ukuran populasi

meningkat dengan cepat mengikuti kurva berbentuk J.


Dari pengamatan yang dilakukan diperoleh data hubungan interaksi antara
makhluk hidup dan lingkungannya serta hubungan antar sesama komponen
biotik yang saling makan memakan dimana komponen biotik yang terpenting
ada dalam ekosistem adalah tumbuhan karena sebagai sumber makanan bagi
makhluk lainnya.

5.2 Saran Praktikum


Saran dalam praktikum ini yaitu, untuk memperoleh data yang lebih
lengkap seputar komunitas dan ekosistem dibutuhkan waktu yang lama agar data
yang diperoleh akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A., Jane B., Reece L. A., Urry M. L., Chain S. A., Wasserman P. V.,
Minorsky R. B. J., 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Erlangga, Jakarta.
Caudill, H., 2005. Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia: Suatu Kerangka Pikir
untuk Penilaian. Millennium Ecosystem Assessment, Jakarta.
Sahira, I. G., Danti Pratiwi., Shelfila F., Medina D. S., Muhammad S.,
Muhammad P. A., 2013. Ekosistem Terestrial. Jurnal Ekosistem Terestrial.
Vol.5 (3): hal. 1-2.
Soemarno, M. S., 2011. Ekosistem dan Sistem Wilayah. Jurnal Ekologi. Vol.3 (1):
hal. 1-3.
Southwick, 1972. Ecology and the Quality of Our Environmental. Van Nostrand,
New York.