Anda di halaman 1dari 4

JURNAL

Tinea Barbae
W. Baran, J.C. Szepietowski and R.A. Schwartz

Oleh:
Brenda Shahnaz Qurrota Aina Baihaqi
030.11.057

Pembimbing:
Dr. Eko Krisnarto, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK KULIT DAN KELAMIN


RSUD KOTA SEMARANG
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2015

Tinea barbae adalah penyakit kulit pada area berjenggot di wajah dan leher yang
jarang ditemukan. Penyakit infeksi jamur ini disebabkan baik oleh dermatofit zoofilik dan
antropofilik. Dermatofit patogenik dapat mudah ditemukan di seluruh dunia, namun lebih
sering di daerah beriklim tropis. Tinea barbae dapat menyerupai penyakit kulit lain sehingga
mudah terjadi kesalahan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan fisik mikologi penting pada
semua kasus.
PENDAHULUAN
Tinea barbae adalah infeksi kulit terbatas pada area berjenggot di wajah dan leher
yang jarang terjadi. Infeksi lebih sering dialami oleh pria - remaja dan dewasa. Gejala klinis
yang khas adalah erupsi pustul yang parah, plak profunda dengan inflamasi atau plak
superfisial tanpa inflamasi. Bentuk kelainan dengan inflamasi, paling banyak disebabkan oleh
dermatofit zoofilik - Trichophyton mentagrophytes var. granulosum or Trichophyton
verrucosum.

Figure 1. Inflammatory tinea barbae due to


Trichophyton mentagrophytes var. granulosum
infection.

Figure 2. Typical kerion Celsi caused by


Trichophyton mentagrophytes var. granulosum.
ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Secara umum, tinea barbae jarang terjadi, namun lebih sering terjadi di area dengan
cuaca tropis, yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi. Hampir seluruh pria dewasa
terinfeksi karena penyakit kulit ini terlokalisasi pada rambut dan folikel rambut di jenggot dan
kumis. Dermatofit yang menginfeksi wanita dan anak didiagnosis sebagai tinea faciei. Dulu,
infeksi ini sering ditularkan melalui tukang cukur karena penggunaan alat cukur sekali pakai
belum tersedia. Sekarang, sumber infeksi ini hampir seluruhnya tersingkirkan dan sebutan
lama tinea barbae, barbers itch, telah dilupakan. Di area pedesaan, ternak kuda, kucing,
dan anjing adalah sumber infeksi utama. Kini beberapa peneliti melaporkan infeksi ini sebagai
autoinokulasi dari kuku atau tinea pedis.
Tinea barbae disebabkan oleh jamur zoofilik dan antropofilik. Dermatofit zoofilik Trichophyton
mentagrophytes var. granulosum and Trichophyton verrucosum adalah yang paling sering
menyebabkan inflamasi pada kerion seperti plak dan infeksi yang terjadi lebih parah. Infeksi
yang disebabkan oleh jamur zoofilik lain yaitu, Microsporum canis and Trichophyton
mentagrophytes var. Intrdigitale lebih jarang terjadi. Beberapa tahun terakhir, beberapa

peneliti mendeskripsikan lesi yang sama dapat disebabkan oleh jamur antropofilik,
Trichophyton rubrum.
Reaksi imunologi (peningkatan alergi dan/atau reaksi iritan) pada jamur dapat
mempengaruhi perkembangan kerion, namun hanya sedikit peneliti yang menyatakan hal ini
merupakan efek metabolit dan/atau difusi toksin dari jamur. Jamur patogen seperti
Trichophyton spp. Menghasilkan beberapa enzim seperti keratinase yang penting untuk
menembus keratin pada epidermis, rambut, atau kuku.
GEJALA KLINIS
Infeksi sering dimulai pada leher atau dagu, namun manifestasi klinis tinea barbae
tergantung dari patogen penyebabnya. Kadang dermatofitosis ini dapat berkembang tanpa
lesi yang khas, namun selalu disertai pruritus. Terdapat berbagai gejala klinis yang dapat
terjadi. Dua macam klinis utama yang dapat dibedakan.
Tinea yang disebabkan oleh dermatofit zoofilik lebih parah, karena reaksi inflamasi
jamur ini lebih kuat. Dagu, pipi, dan leher sering terinfeksi. Gejala klinis ini memiliki bentuk
khas yaitu nodul yang terinflamasi / nodul-nodul dengan multipel pustul yang mengering di
permukaannya. Rambut rontok atau rusak; eksudat, pus, dan krusta menutupi pemukaan kulit
(kerion Celsi). Mencabut rambut menjadi lebih mudah dan tidak nyeri. Dapat disertai
limfadenopati regional. Jarang terjadi demam, dan malaise.
Tipe non inflamasi disebabkan oleh dermatofit antropofilik, dimulai dari plak datar,
eritem dengan tepi yang meninggi. Plak yang bersisik bertabur dengan papul, pustul, atau
krusta. Rambut yang dekat dengan kulit mengalami kerusakan, dapat menyumbat folikel
rambut. Plak kutaneus dapat tunggal atau multipel dan dapat berbentuk annular. Plak dapat
stabil bertahun-tahun atau membesar. Terkadang, khususnya saat pustul pada folikel yang
berkembang, rambut yang rontok dapat dijumpai, morfologi klinis menyerupai folikulitis
bakteri. Lesi pustular dengan rambut rontok merupakan ciri infeksi jamur kronik yang
menyerupai sycosis (folikulitis pustular pada jenggot). Oleh karena itu, disebut tine barbae
sycosiform.
DIAGNOSIS BANDING
Morfologi lesi tinea barbae adalah alasan utama berbagai penyakit kulit dapat
menyerupai infeksi jamur ini. Penyakit pada umumnya seperti folikulitis bakteri, dermatitis
atopi, dermatitis kontak, dan dermatitis seboroik dapat menyerupai tinea barbae. Jamur lain
dapat menginfeksi di area ini dengan lesi yang sama, khususnya pada neonatus dan pasien
immunocompromised. Terkadang infeksi dermatofit asli dapat menyerupai penyakit kulit lain,
seperti lupus eritematosa atau rosacea.
DIAGNOSIS
Pemeriksaan mikologi adalah dasar diagnosis. Pemeriksaan mikologi dengan
menggunakan mikroskop secara langsung dan kultur. Pada kasus yang jarang, jika
Microsporum canis menyebabkan tinea, pemeriksaan menggunakan lampu woods dapat
membantu menunjukkan fluoresence berwarna hijau pudar pada rambut yang terinfeksi.
Material yang terkumpul biasanya rambut yang menghilang dan kumpulan pustul. Jika
plak superficial dan tanpa pustul, pemeriksaan yang terbaik adalah kerokan dari tepi nya.
Pemeriksaan langsung menggunakan potasium hidroksida 20% dengan dimetil sulfoksida
merupakan pemeriksaan yang cepat, namun membutuhkan pengalaman. Pewarnaan
tambahan, seperti Swartz-Lamkin, Parker blue-black ink atau Chlorazol black E stain, kadang
dapat membantu. Spesimen diperiksa dengan mikroskop cahaya dan tergantung pada jamur
penyebabnya, pemeriksaan menunjukkan hifa yang khas dan/atau arthroconidia. Kultur
membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu dan menggunakan agar Saburaud dengan
sikloheximid dan kloramfenikol yang ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri
dan jamur non-dermatofitik. Identifikasi jamur berdasarkan morfologi dan koloni pada
mikroskop. Identifikasi patogen memberi petunjuk dari mana sumber infeksi dan membantu
pemilihan terapi yang tepat.
Pemeriksaan histologi dibutuhkan hanya pada kasus yang sulit. Pewarnaan
hematoksilin dan eosin sering tidak menunjukkan jamur dan pewarnaan periodic acid-Schif
(PAS) merupakaan rekomendasi. Pada spesimen biopsi, diperhatikan adanya folikulitis dan
perifolikulitis, dengan spongiosis dan infiltrat folikel limfositik. Terkadang, mikroabses
terbentuk oleh neutrofil dalam folikel keratin.
Campuran infiltrat inflamasi selular sering terjadi di dermis; dapat ditemukan pada
kerion giant cell kronik. Arthroconidia dan/atau hifa dapat ditemukan pada stratum korneum,
folikel rambut, dan batang rambut.

TATALAKSANA
Tatalaksana tinea barbae sama dengan tinea kapitis. Antimikotik oral dibutuhkan.
Beberapa penelitian dan pengalaman pribadi menunjukkan antifungal topikal tidak cukup
untuk mengontrol lesi tinea barbae secara menyeluruh. Oleh karena itu, pada banyak kasus
tatalaksana kombinasi antimikotik sistemik dan topikal direkomendasikan. Jika rambut
terlibat, dilakukan pencukuran dapat dipertimbangkan. Kompres hangat digunakan untuk
menghilangkan krusta dan debris, biasanya dilakukan sebagai terapi non-spesifik.
Kini, terbinafin 250 mg digunakan satu kali sehari dalam waktu setidaknya empat
minggu menjadi terapi pilihan. Di bidang kami, memiliki pengalaman baik dengan obat ini,
sebagai penghilang jamur dan klinis yang diperoleh dari seluruh pasien yang diobati. Pada
beberapa kasus griseofulvin dengan dosis minimal 20 mg/kg/hari (terapi minimal 8 minggu)
dapat dipertimbangkan. Itrakonazol 100 m/hari dalam 4-6 minggu juga efektif. Hal ini
dikonfirmasi oleh Maeda et al. yaitu seorang petani terinfeksi Trichophyton verrucosusm yang
efektif sembuh dengan itrakonazol 100 mg/hari (dalam dua bulan terapi). Sebagai zat topikal
biasanya dua kelompok antifungal: azoles dan allylamines.
Walaupun ada rekomendasi terapi umum untuk tinea barbae, namun penting untuk
diperhatikan seberapa sering terjadi pada pasien, regimen terapi, khususnya lama waktu
terapi, sebaiknya ditentukan tergantung pada evaluasi klinis dan laboratoris setiap individu.
Eliminasi sumber infeksi, khususnya kontak dengan hewan yang terinfeksi terlihat penting
untuk hasil akhir terapi. Selain itu, tatalaksana infeksi jamur lain, seperti tinea pedis dan
onikomikosis penting, karena kemungkinan autoinokulasi.