Anda di halaman 1dari 10

OSTEOID OSTEOMA

BAB 1
PENDAHULUAN
Dunia kedokteran saat ini sangat maju dengan pesat terutama dengan perkembangan dan
aplikasi komputer bidang kedokteran sehingga ilmu radiologi turut berkembang pesat mulai
dari pencitraan organ sampai ke pencitraan selular atau molecular.
Pada keadaan penyakit yang berhubungan dengan tulang, pemeriksaan radiologi merupakan
salah satu pemeriksaan yang penting dalam usaha menegakkan diagnosis. Seperti misalnya
pada kasus tumor tulang, tidak cukup dengan hanya menggunakan pemeriksaan patologi
anatomi sebagai acuan penegakkan diagnosis. Foto roentgen tetap dilakukan sebagai
pembanding dari hasil biopsi.
Pemeriksaan radiologi pada tulang meliputi pemeriksaan skeleton axialis yang terdiri dari
vertebrae cervicalis, thoracalis, lumbalis, dan sacralis. Selain itu ada pula pemeriksaan
skeleton apendikularis yang terdiri dari coxae, extremitas superior dan inferior.
Pada prinsipnya proyeksi yang di pakai pada saat pemeriksaan tulang adalah proyeksi AP dan
lateral, terkadang oblique juga digunakan. Posisis oblique sangat membantu untuk
pemeriksaan vertebrae cervical dan lumbalis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Osteoid osteoma
Osteoid osteoma adalah tumor jinak yang sering menyerang terutama laki laki pada
usia 7 sampai 25 tahun. Tumor yang belum diketahui etiologi pastinya tersebut
biasanya tumbuh di lengan atau tungkai, tetapi dapat terjadi pada semua tulang. Di
korteks poros tulang panjang terdapat 80-90% kasus. Kebanyakan pasien akan
mengalami nyeri yang memburuk pada malam hari dan akan berkurang dengan
pemberian aspirin dosis rendah.
Tanda dan gejala
-

Nyeri yang semakin berat saat malam hari


Pincang
Skoliosis

Gejala dari Osteoid osteoma terkadang bisa sembuh dengan sendirinya, akan tetapi
membutuhkan waktu yang cukup lama. Osteoid osteoma biasanya memiliki 2 stage :
-

Stage 1 : selama 18-36 bulan dan selalu membutuhkan analgetik


Stage 2 : selama 3-7 tahun dengan kadang kadang menggunakan analgetik

Meminum alcohol dapat meningkatkan rasa nyeri pada penderita osteoid osteoma.

2. Anatomi tulang panjang


Beberapa hal yang perlu diingat kembali dalam rangka menganilisis tumor tulang pada foto
roentgen, ialah :
1. Tulang panjang dibagi menjadi epifisis, metafisis dan diafisis. Antara epifisis dan
metafisis terdapat garis lempeng epifisier.

2. Tulang terdiri atas 3 komponen yaitu korteks, spongiosa dan periost. Korteks dan
spongiosa dapat dilihat pada foto roentgen, tetapi periost tidak. Bila karena suatu
proses dalam tulang, misalnya radang atau neoplasma, periost mengalami iritasi atau
terangkat, maka periost akan membentuk tulang dibawahnya yang dikenal sebagai
reaksi awal periosteal.
Gambaran reaksi periosteal bermacam-macam :
- Berupa garis-garis yang sejajar dengan korteks, disebut lamellar.
- Berupa garis-garis yang tegak lurus pada korteks, disebut sunray appeareance.
- Berupa seperti renda, dan sebagainya.
3. Pada pemeriksaan tulang harus diperhartikan :
- Besar tulang
- Bentuk tulang
- Kontur tulang
- Densitas tulang, apakah meninggi atau merendah
- Korteks, apakah utuh atau tidak utuh yaitu menipis atau destruksi
- Spongiosa : adakah bayangan-bayangan radiolusen
- Ada/tidaknya periosteal
- Jaringan lunak sekitar tulang :
a. Pembengkakan
b. Perkapuran
c. Penulangan
3. Kelainan tulang menurut jenisnya

Menurut jenisnya, kelainan pada tulang dibagi atas :


1.
2.
3.
4.
5.

Osteoscelrosis involving the bones diffusely


Erlenmeyer flask-like metaphyseal diaphyseal expansion with and without sclerosis
Diffuse osteo-primarly diafisis
Osteosclerosis manifest participally by transverse bands in metafisis
Osteosclerosis manifest chiefly by longitudinal corticoperiosteal thickening/ scoliosis

in multiple bones or regions


6. Multiple irregular area of indiscriminate distribution
7. Osteosclerosis of a localized or regional type
8. Disease bone characterized by overgrowth of bone
Sedangkan Osteosclerosis of a localized or regional type, dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Epifisis predominan
- Epifisis dysplasia
- Hipotiroidium
- Congenital stippled epifisis
- Osteochondrosis
- Bone mark epifisis
2. Metafisis
- Infak tulang
- Osteistis condensans ilii
- Osteomyelitis garre
3. Kortikoperiosteal dan diafisis
- Osteoid osteoma
- Trauma periostitis
Tropical ulcer osteoma
4. Diagnosis banding osteoid osteoma
Neoplasma jinak
- Osteoid osteoma
- Osteoblastoma
- Osteoma
Infeksi
-

Abses brodie

Akan tetapi hal terebut bisa dibedakan melalui temuan radiologinya

Massa

Neoplasma jinak
Osteoid Osteoma : < 2 cm; nidus radiolusen, dikelilingi sklerosis;, dapat
regresi denga sendirinya.
Osteoblastoma: large (> 2 cm), tidak ada regresi.
Osteoma : tidak ada reaksi periosteal & nidus radiolusen

Infeksi
Abses brodie : ada kerusakan kortikal dan ada jalur yang berkelok kelok
kearah luar abses.

1
5. Temuan radiologi osteoid osteoma
Osteoid osteoma terdiri dari Consists of a spherical nidusof osteoidtissue & bony
trabeculae superimposed on highly vascularizedconnective tissue
May initially appear on radiograph as a small sclerotic bone island within a
circular lucency
NO malignant potential

SizeRanges from 0.52 cm (avg1.5 cm)

No growth progression

May regress spontaneously over years

4
adalah 10% dari semua tumor benigna. Ia memiliki nidus yang biasa disebut dengan
niduslike focus dan terbentuk dari berbagai macam tulang yang memiliki tingkat

maturitas berbeda. Bagian tengah nidus merupakan bagian yang paling banyak
mengandung mineral.
Osteoid osteoma dibagi menjadi 3 klasifikasi berdasarkan temuan di radiografi, yaitu,
kortikal, medullary dan subperiosteal. Osteoid osteoma tipe kortikal merupakan yang
paling sering di temukan, biasanya terjadi di tulang tulang panjang, paling sering di
daerah femur dan tibia. Sedangkan tipe subperiosteal adalah yang paling jarang di
temukan.
Selain itu adapula pembagian tipe dari osteoid osteoma yang didasarkan pada temuan
di ct scan dan MRI, yaitu, subperiosteal, intrakortikal, endosteal dan intramedularry.
Temuan radiologi pada osteoid osteoma yang biasa ditemukan adalah intrakortikal
nidus yang dapat menunjukkan banyaknya mineralisasi disertai dengan penebalan
kortikal dan reaksi sklerosis pada tulang panjang

6. Pengobatan
Pengobatan pada osteoid osteoma biasanya hanya berdasarkan pada gejalanya saja, yaitu
untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan dengan menggunakan analgetik seperti
ibuprofen. Akan tetapi jika nyeri tidak kunjung berkurang meskipun telan diberikan anlgetik,
pembedahan adalah pengobatan yang dianjurkan.

Nidus berwarna radiolusen dan letaknya berada di tengah dengan bentuk bulat atau oval dan
berukuran kurang dari 2 cm. pada CT Scan, nidus berbentuk bulat atau oval dengan atenuasi
yang rendah, sedangkan area dengan atenuasi tinggi sering berada di tengah nidus yang
berarti ada mineralisasi dari osteoid. Sklerosis reaktif bisa timbul dari mild cancellous
sclerosis hingga extensive periosteal reaction kemudian terjadi bone formation.
CT scan menggambarkan osteoid osteoma lebih baik dibandingkan MRI, karena MRI
terkadang gagal menangkap gambaran dari nidus yang berukuran kecil.

Lokasi terjadinya osteoid osteoma


Lebih dari 50% kasus Osteoid osteoma terjadi pada femur dan tibia, 30% terjadi di tulang
belakang, carpal dan tarsal, dan yang terakhir paling jarang terjadi di tengkorak, scapula,
tulang iga, pelvis dan patella.

Kondisi yang mirip dengan gambaran osteoid osteoma


Beberapa kondisi mempuanyia gambaran yang mirip dengan gambaran osteoid osteoma,
yaitu, penebalan kortikal, reaktif sklerosis disekitar lesi osteolitik dan edem sumsum tulang
belakang. Kondisi kondisi tersebut diantaranya adalah abses intrakortikal, hemangioma
intrakortikal, kondroblastoma dan osteoblastoma.

Secara radiologis osteoid osteoma terlihat gambaran osteoblastik di sekitar tulang meduler
dan kortikal dan skleross disekitar nidus berkilau. Tampak penebalan kortikal dan sklerosis
meduler. Area radiousen dengan diameter sekitar 1 cm disebut nidus dengan pusat yang
kadang-kadang sudah terkalsifikasi, sehingga titik radioopak disebut bel nidus. Lesi
subperiosteal mungkin tidak dapat dilihat pada radiograf polos. Epifisis dan lesi metafiseal
mungkin hanya menampilkan perubahan sklerotik minimal sekitar nidus.

CT scan dianjurkan pada pemeriksaan osteoid osteoma apabila nidus tidak terlihat pada
radiografi konvensional, ketika tumor residua atau berulang hadir, atau bila tumor terletak di
daerah kritis. Pada CT scan, osteoma osteoid