P. 1
Latar Belakang

Latar Belakang

|Views: 494|Likes:
Dipublikasikan oleh asersihotang

More info:

Published by: asersihotang on Apr 27, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

Latar Belakang Tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat berkekuatan 9.

0 skala Richer berpusat di Samudra Hindia, hanya beberapa mil arah barat Propinsi Aceh. Gempa bumi tersebut menyebabkan kerusakan besar dan memicu terjadinya tsunami, yang menghancurkan sebagian besar pesisir pantai bagian barat, Sri Langka, Thailand, dan Somalia. Propinsi Aceh merupakan tempat yang paling parah terkena dampak bencana pada tanggal 26 Desember tersebut. Tercatat 100.258 korban meninggal sejak hari pertama dan 129.549 orang hilang atau diperkirakan meninggal. Pengungsi di wilayah Aceh mencapai 417.124 orang di 20 daerah. Tsunami telah menyebabkan kehancuran sosial, ekonomi, dan lingkungan yang luas di daerah yang sebenarnya merupakan daerah miskin. Sisi lainnya, tsunami membangkitkan bantuan darurat dari luar Aceh yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Bencana ini diperkirakan menghancurkan 22% infrastruktur yang ada. Jalan-jalan dan jembatan di pesisir pantai Aceh bagian Barat mengalami kerusakan paling parah dan membutuhkan rekonstruksi. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) 2.900 hektar tanah ”hilang selamanya”. Sekitar 78% mata pencaharian, seperti perdagangan, bertani, dan mencari ikan, lenyap . Total kerusakan di Aceh diperkirakan mencapai US $4.5 Milyar. Banyak negara dan komunitas internasional menunjukan solidaritas yang tinggi terhadap korban yang masih hidup. Pulau Nias yang mengalami kerusakan kecil dari gempa bumi dan tsunami bulan Desember 2004 luluh lantak ketika gempa kedua terjadi pada tanggal 28 Maret 2005 dengan kekuatan 8,7 skala Richter. Korban meninggal tercatat 800 jiwa, dan terjadi pengungsian secara spontan dengan jumlah sekitar 70.000 orang di berbagai kamp dan barak sementara dari pemerintah. Bencana ini menyentak perhatian komunitas nasional dan internasional untuk melakukan respon darurat. Sebelum tsunami dan gempa bumi, lebih dari sepertiga penduduk Aceh dan Nias bertempat tinggal di perumahan, sekarang hampir setengahnya tidak punya tempat tinggal dan bergantung pada bantuan makanan. Oleh karena itu, pemulihan menyeluruh akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, lambat dan menjadi proses yang rumit. Saat ini tahapan pemberian bantuan telah bergeser. Dari tahap darurat dengan penekanan pada penyelamatan nyawa beralih pada pemulihan kondisi masyarakat. Sejak awal tahun 2006, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) mengambil alih semua koordinasi LSM-LSM dari UNORC (United Nations Recovery Coordination for Aceh and Nias). BRR telah menyelenggarakan pertemuan koordinasi untuk setiap kelompok kerja. Pada awalnya, BRR lebih mengkoordinir daripada pelaksana. Badan ini tidak dibentuk untuk melaksanakan seluruh proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Namun, lambatnya proses rekonstruksi dan rehabilitasi memaksa BRR untuk melaksanakan penerapan peraturan. Kabar ini telah ditegaskan oleh Boby Ali, Kepala BRR untuk daerah Aceh, Aceh Besar dan Sabang dalam pertemuan koordinasi kecamatan-kecamatan di kantor Progam Pendukung Pemerintah Daerah atau Local Government Support Program (LGSP). BRR membagi dan mengatur pertemuan dengan pemerintah lokal lewat pembukaan 11 kantor perwakilan di Aceh dan Nias. Kantor ini bertanggung jawab sampai tingkat pelaksanaan, sementara kantor pusat di Banda Aceh pada kebijakan rehabilitasi dan rekonsiliasi. Pihak-pihak berwenang setempat terutama di tingkat kecamatan mulai aktif.

Beberapa progam dibentuk oleh Badan-Badan Internasional seperti Bank Dunia dengan progam PPK-nya atau Progam Pengembangan Kecamatan, AIPRD atau AustraliaIndonesia Partnership for Reconstruction Development dengan progam : Pembangunan Koordinasi Kecamatan dan Progam Pendukung Pemerintah Daerah (LGSP). Bantuan tersebut akan mendorong pemerintah daerah setempat untuk mengembangkan daerah mereka yang hampir 60% sumber daya daerahnya hancur oleh tsunami. Beberapa forum koordinasi kecamatan juga dibangun di Meuraxa, Pulo Aceh, Masjid Raya, dan Baitusalam. Pada saat yang sama, pemerintah propinsi sibuk dengan masalah pengintegrasian kembali GAM berdasar pada Nota Kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tanggal 15 Agustus 2006. Gubernur Nangroe Aceh Darusalam, Azwar Abubakar membentuk BRA atau Badan Reintegrasi Aceh sebagai pihak independen untuk menangani masalah integrasi dan memberikan bantuan pada para korban konflik, khususnya mantan Tentara Nasional Aceh (TNA). Tim BRA terdiri dari pemerintah, TNI atau Tentara Nasional Indonesia, GAM dan LSM. BRA mengumumkan bahwa mereka menerima proposal dari mantan GAM untuk bantuan kerja. Namun, ketidaksenangan tampak muncul dari para mantan pejuang dan orang-orang GAM yang kembali. Mereka telah mengajukan proposal kepada BRA, namun proposal-proposal yang mereka ajukan cacat dan menyebabkan penolakan yang tidak jelas. Karena birokrasi dan mekanisme yang berbelit-belit, GAM dan LSM memutuskan untuk keluar dari keanggotaan BRA. Beberapa badan seperti Bank Dunia dan IOM (International Organization for Migration) memulai pendekatan komprehensif dan inklusif untuk mendukung progam integrasi di Aceh. Mereka membuat program berdampak cepat bagi masyarakat dengan menyalurkan dana sebesar Rp 50 juta untuk 230 komunitas korban konflik. Setiap desa juga menerima satu juta rupiah untuk mengadakan peusejuk (upacara selamatan) sebagai perdamaian dan perayaan atas penyelesaian proyek. Hal ini mungkin akan mengubah kecenderungan dari bantuan LSM di Aceh, dari rehabilitasi dan rekonstruksi ke program reintegrasi dan progam paska konflik. Bulan Agustus 2005 implementasi perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka tidak berjalan mulus. Sejak awal penandatanganan banyak anggota DPR yang tidak menyetujui perjanjian tersebut. Banyak dari mereka merasa tidak diikutsertakan dalam perundingan. Dan, bagi beberapa pihak yang lain MOU (nota kesepahaman) tersebut memberi porsi yang terlalu besar pada GAM dan kecuali ada jaminan Aceh tidak berpisah dari Indonesia. Masalah ini berawal dari proses penyusunan awal MOU yang menciptakan potensi konfrontasi antara pembuat kebijakan di Jakarta dan Aceh. Banyak orang Aceh mendukung RUU-PA atau Rancangan Undangan-Undang Pemerintah Aceh versi lokal. Kementrian dengan segera merevisi dan meninjau kembali peran militer, pengaturan udara, laut dan lain sebagainya. Revisi ini dipisahkan dari keseluruhan isi dari hukum yang memperkuat perjanjian perdamaian. Agaknya, tidak ada yang mengerti konteks politik dari perjanjian tersebut atau tingkat signifikansinya untuk Aceh. Hukum Pemerintahan Aceh dibentuk pada 11 Juli 2006 di Jakarta dan ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 2 Agustus 2006. Namun, beberapa prinsip dasar, konteks, dan poin tidak saja bertolak belakang dengan perjanjian Helsinki, tapi juga membuat keanehan dan kebingungan dalam pelaksanaannya kemudian. Beberapa insiden pemerasan terjadi yang menyebabkan ketegangan antara mantan

anggota GAM dan polisi. Para mantan pejuang dan korban konflik yang lainnya meminta persamaan hak memperoleh bantuan. Mereka menyatakan menentang diskriminasi dan mendapat janji jaminan hidup (jadup) selama 7 bulan. Kebanyakan anggota mantan GAM tidak mempunyai pekerjaan dan belum menerima bantuan reintegrasi yang substansial. Untuk beberapa waktu mereka bersedia untuk menunggu. Sebaliknya, para pemimpin GAM terdahulu memperoleh sejumlah fasilitas dari pemerintah Indonesia dan melupakan anggota yang lain. Bulan Maret 2006, tahap pertama tugas AMM (Aceh Monitoring Mision) berakhir. Setelah enam bulan, AMM mengurangi jumlah titik monitoring dari 220 titik menjadi 85 titik dan menyetujui usulan pemerintah Indonesia untuk perpanjangan selama tiga bulan sampai 15 Juni 2005. Tugas ini masih berlanjut sampai Pilkada Aceh tapi tidak lebih dari tanggal 15 Desember 2006. Pihak-pihak yang terlibat dalam MoU Helsinki menyadari bahwa ini merupakan perpanjangan satu-satunya. Keterlibatan JRS Proyek respon tsunami di Aceh dibagi dalam 2 proyek area: Aceh Area 1 terdiri atas : site Banda Aceh, site Lamno, dan site Pulo Aceh. Aceh Area 2 membawahi site Langsa, site Meulaboh dan site Tapak Tuan. Laporan ini menggambarkan aktivitas di setiap site berdasar pada perencanaan kegiatan tahun 2006. Proposal 2006 adalah bagian proposal utama Tsunami Respon 2005-2006. Dengan pertimbangan perbedaan karakter dan konteks dari tiap tempat, maka laporan tidak ditulis dalam rangkuman Laporan Area1 dan Area 2 tetapi ditulis terpisah. JRS Aceh Area 1 Site Banda Aceh JRS mendampingi beberapa kelompok di Banda Aceh, yakni Kecamatan Mesjid Raya, Kemukiman Krueng Raya, Dusun Meunasah Keudee, Lamreh, Meunasah Mon, Meunasah Kulam, Lamsenia (bagian dari Kecamatan Leupung) dan Desa Labui. Area tersebut dipilih berdasarkan asumsi Lsm yang bekerja di sana hanya sedikit. Area tersebut diperpanjang sampai Abu Lam U, beberapa wilayah Lhok Panglima Laot dan Peukan Banda. JRS terlibat di daerah ini sejak 2005. JRS Banda dalam implementasi program menggunakan metode live-in untuk mengenali karakter masyarakat. Metode ini cukup efektif walaupun membutuhkan tenaga ekstra. Kurangnya personel dan luasnya daerah merupakan tantangan yang harus dihadapi. JRS di Banda Aceh mempunyai empat kategori program yaitu Health Care (HEA), Education (EDU), Support Local Groups (SLG) dan Restoring Life (RL). Proyek di Banda Aceh bertujuan membantu rehabilitasi jangka panjang dan meningkatkan mata pencaharian setelah bencana tsunami di desa dampingan JRS, seperti Meunasah Keudee, Meunasah Kulam, Lamsenia, Lhok Mee dan kelompok kerja di Labui. Site Lamno Selama masa emergensi, JRS terlibat dalam penyediaan kebutuhan pokok seperti makanan, peralatan dapur, peralatan rumah tangga, dan lain-lain. Semester pertama dari tahun program kedua, JRS Lamno memfokuskan kegiatan pada pembangunan Pesantren

BUDI. Di akhir semester ini, pembangunan tersebut sudah selesai 75%. Program ini diharapkan berakhir dalam 3 bulan ke depan. Program peningkatan pendapatan dalam skala kecil mempunyai fokus pada kelompok pembuat tikar di Meunasah Tutong dan Desa Mukhan, kelompok penjahit di Lamno, tukang cukur, bengkel dan usaha pembuat cincin sumur. JRS menyediakan training dan peralatan untuk kelompok tersebut. Selain program peningkatan pendapatan, JRS mengimplementasikan program lain yaitu Emergency Aid, Relief and Assistance (AID) dan Education (EDU). Fokus sektor pendidikan pada pendidikan tradisional seperti pesantren dan taman pendidikan AL Quran. Setelah menangani korban tsunami di Lamno, JRS menangani korban konflik di Calang, di Gleu Putoh, Panton Kabu dan Gunong Meulinteng. Berdasarkan rekomendasi dan data dari FFI (Flora Fauna Internasional), JRS memutuskan memberikan rumah tinggal sementara bagi masyarakat yang ingin kembali ke desanya. Proyek di Lamno bertujuan memfasilitasi rehabilitasi jangka panjang dan meningkatkan kesempatan pengungsi untuk memperoleh kehidupan yang layak pasca tsunami terutama di bidang pendidikan, budaya, agama, dan ekonomi di daerah dampingan seperti Pesantren BUDI, Meunasah Tutong, Meunasah Tengoh, Mukhan dan Lhok Kruet. Site Pulo Aceh Meulingge terletak di utara Kemukiman Beureuh dan terbentang di ujung utara Pulau Beureuh. Pada masa emergensi desa terpencil ini kurang mendapatkan bantuan. Tsunami dan gempa bumi yang meluluhlantahkan pulau kecil ini memaksa masyarakatnya mengungsi ke Banda Aceh. Selama masa evakuasi, mereka tinggal di kamp-kamp dan mendapat bantuan logistik dari berbagai organisasi. Harapan mereka untuk kembali ke tanah kelahiran di Pulo Aceh jarang ditawarkan pada mereka. Tingginya biaya untuk mencapai daerah tersebut, menjadi alasan klasik. . JRS terlibat dengan pengungsi di Meulingge sejak tahun 2005. Keadaan terpencil dan keengganan organisasi lain untuk menangani Meulingge menggerakkan JRS untuk menemani, melayani dan membela hak mereka. JRS di Pulo Aceh mengimplementasikan beberapa kategori program seperti Emergency Aid, Relief and Assistance (AID), Health Care (HEA), Education (EDU), Support Local Group (SLG) dan Restoring Life (RL). Bantuan ini mendorong masyarakat Meulingge untuk menata hidup mereka kembali setelah tsunami 2004. Saat ini, petani dan nelayan telah kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa, anakanak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dan tim JRS menikmati hubungan yang dekat dengan masyarakat. Walaupun jumlah personel JRS menurun, tim JRS tetap melanjutkan programnya. Tujuan program JRS di Pulo Aceh adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Meulingge seperti rumah sementara yang layak, pendidikan untuk anak-anak, bantuan kesehatan dan mata pencaharian untuk menciptakan kehidupan yang damai dan aman. JRS Aceh Area 2 Site Langsa JRS Langsa memberikan bantuan pada dua kategori komunitas; para korban tsunami di Kuala Simpang Ulim, Kuala Idi Cut, Kuala Parek, Langsa dan korban konflik di Desa

Sumber Mulia, Bukit Tiga Birem Bayeun, Alur Pinang, dan Kecamatan DK 1 yang kini menjadi Kabupaten Aceh Timur. JRS juga membantu anak-anak korban tsunami dan konflik yang sedang menimba ilmu di panti asuhan, pesantren dan universitas. Dalam semester pertama, JRS Langsa mempunyai 6 program, yaitu:
• •

• •

Emergency Aid, Relief and Assistance (AID) dengan program pemberian makanan tambahan dan beasiswa untuk murid-murid di Pesantren Bustanul Fakri. Health Care (HEA) dengan menyediakan bantuan medis, membangun kembali kamar mandi dan WC, penyediaan air bersih dan trauma healing bagi penerima bantuan. Education (EDU) berfokus pada penyediaan buku-buku bacaan, sekolah tenda, dan beasiswa.\Support Local Group (SLG) bekerja sama dengan LSM lokal dalam menyediakan bantuan pendidikan dan kesehatan untuk pengungsi. Restoring Life (RL) berfokus pada pembangunan rumah. Income Generating Activities (IGA) memberikan pinjaman modal bagi usaha kecil untuk kelompok perempuan dan melakukan monitoring pada para toke di Kuala Simpang Ulim. Information, Protection and Advocacy (ADV) berfokus pada advokasi untuk rekonstruksi rumah di Kuala Parek, Kuala Simpang Ulim dan Pemulangan pengungsi Sumber Mulia.

Tujuan program-program JRS adalah memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dampingan khususnya di Kuala Simpang Ulim, Kuala Parek, Pesantren Nurul Ulum, Pesantren Bustanul Fakri, dan Panti Asuhan Malahayati dengan mendorong mereka agar mandiri dan mempunyai solusi yang berdaya tahan untuk masalah mereka. Site Meulaboh JRS mempunyai fokus pada pengembangan komunitas mahasiswa dan guru-guru bantu di Desa Kuala Tripa, Desa Babah Leung, dan Desa Blang Sibeutong. Masyarakat di Kuala Tripa dan Babah Leung telah kembali ke desa asal mereka, sementara para mahasiswa tetap tinggal di barak pengungsian. Di Alue Penyaring, JRS menemani korban konflik dan korban tsunami dari berbagai daerah. JRS Meulaboh menjalankan lima program kategori program, yakni :
• • • • •

Emergency Aid, Relief and Assistance (AID) dengan fokus pelayanan pemberian makanan tambahan untuk anak- anak. Health Care (HEA), yang berkonsentrasi pada penyediaan kamar mandi dan WC, sumur untuk Desa Kuala Tripa dan Babah Leung. Education (EDU) berfokus pada distribusi buku bacaan, beasiswa, dan stipendium untuk guru-guru bantu. Restoring Life (RL) fokus pada rehabilitasi rumah hunian. Income Generating Activities (IGA) menyediakan pinjaman modal untuk usaha kecil.

Tujuan program-program ini untuk menyediakan bantuan dan meningkatkan taraf hidup kelompok dampingan di Aceh Barat dan Nagan Raya, terutama di bidang pelayanan

medis, pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan sosial. Site Tapak Tuan JRS Indonesia pertama kali tiba di Tapak Tuan, Aceh Selatan pada pertengahan tahun 2004 untuk mempelajari situasi konflik di area tersebut. Rencana awal kami adalah menyuport pencari suaka di Kamp Lhok Bengkuang di Tapak Tuan. Kemudian tsunami pada bulan Desember 2004 menghantam hampir semua daerah pesisir utara, barat dan selatan. Sebagian kecil kabupaten Aceh Selatan yang terkena adalah daerah pesisir di Kecamatan Labuhan Haji Timur dan Kecamatan Kluet Selatan. JRS berkolaborasi dengan LSM lokal Yayasan Gampong Hutan Lestari (YGHL) untuk membantu korban tsunami di wilayah Aceh Selatan. JRS mendorong para korban konflik dan tsunami untuk mendapatkan solusi yang berdaya tahan dengan implementasi program sebagai berikut:
• • • • •

Emergency Aid, Relief and Assistance (AID) dengan menyediakan kebutuhan dasar. Health Care (HEA) berfokus pada bantuan kesehatan untuk pengungsi termasuk wanita dan anak-anak. Education (EDU) berkonsentrasi pada pendidikan alternatif untuk anak-anak. Restoring Life (RL) menyuport kelompok tari tradisional dan kelompok sosial sebagai bagian dari aktivitas trauma healing. Income Generating Activity (IGA) berkonsentrasi pada pinjaman lunak dan dana bergulir untuk perempuan, nelayan dan petani.

Tujuan program tersebut adalah melayani dan membantu korban tsunami dan konflik di Aceh Selatan untuk mandiri dalam bidang pendidikan, budaya, sosial dan ekonomi di daerah dampingan JRS, yaitu Koto Indarung dan Siurai Urai di Kecamatan Kluet Tengah, Rantau Binuang di Kecamatan Kluet Selatan, Lubuk Layu di Kecamatan Samadua, Dusun Sawang Indah di Kecamatan Labuan Haji, Sawang Ba`u di Kecamatan Sawang, Teupin Tinggi di Kecamatan Trumon, Jambo Papeun di Kecamatan Meukek. Tujuan JRS Tujuan keseluruhan Proyek Respon Tsunami adalah memenuhi kebutuhan dasar pengungsi di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Sebagian besar dari pengungsi merupakan masyarakat yang terabaikan dan mencari solusi yang berdaya tahan bagi kehidupan mereka. Tahun 2006, fokus program JRS adalah fase pemulihan dan rehabilitasi. Format laporan ini agak berbeda dari biasanya karena aktivitas dan anggaran yang dipisah dari setiap site. Akan tetapi, penjelasan mengenai tujuan dan aktivitas mengacu pada proposal Proyek Tsunami Response Program 2005-2006. Berikut ini adalah hasil yang dicapai yang diimplementasi di Aceh. Operasi ini dibagi menjadi 2 daerah: 1.Aceh Area 1 meliputi 3 site, yaitu Banda Aceh, Lamno dan Pulo Aceh 2.Aceh Area 2 meliputi 3 site, yaitu Langsa, Meulaboh, dan Tapak Tuan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->