Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PERENCANAAN PROGRAM EVALUASI PENYULUHAN

PENGEMBANGAN PROGRAM DALAM ORGANISASI

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.

Ardela Nurmastiti
Dewi Dzakiroh
Lia Hadlirotul Qudsi
Rochana Apriyanti

H0413003
H0413007
H0413023
H0413040

PROGRAM STUDI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2016

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyuluhan dapat menjadi sarana kebijaksanaan yang efektif untuk
mendorong pembangunan pertanian didalam situasi petani tidak mampu
mencapai tujuannya karena keterbatasan pengetahuan dan wawasan.
Sebagai sarana kebijakan, hanya jika sejalan dengan kepentingan
pemerintah atau organisasi yang mendanai jasa penyuluhan guna mencapai
tujuan petani. Organisasi penyuluhan mencoba membuat perubahan sesuai
dengan keinginan petani. Keberadaan organisasi petani merupakan
komponen penting dalam pembangunan pertanian. Dengan berada dalam
organisasi formal, petani yang berada pada posisi subjek sekaligus objek
pembangunan, dapat berperan dalam meningkatkan produksi pertanian,
meningkatkan kesejahteraan petani, memerangi kemiskinan, memperbaiki
dagradasi sumber daya alam, meningkatkan keterlibatan perempuan, serta
juga kesehatan, pendidikan, dan sosial politik.
Programa Penyuluhan Pertanian adalah pernyataan tertulis yang
disusun secara sistematis tentang Rencana Kegiatan Penyuluhan Pertanian,
yang menggambar kan keadaan sekarang, tujuan yang akan dicapai,
masalah yang dihadapi, dan rencana kegiatan penyuluhan yang dilakukan
secara partisipatif, guna mendukung pencapaian tujuan Program
Pembangunan Pertanian.Programa Penyuluhan adalah rencana tertulis
yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman
sebagai alat pengendali pencapaian penyuluhan (Permentan no.25 tahun
2009).Programa penyuluhan pertanian merupakan program pembelajaran
yang bertujuan merubah perilaku petani yang berkaitan dengan
pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang terjadi karena kehendak mereka
sendiri (partisipatif) sehingga masalah yang diambil adalah masalah
prilaku bukan non prilaku.
Pengembangan program penyuluhan pertanian dalam organisasi
diharapkan dapat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan

ketrampilan petani sebagai sasaran program yang tepat (meningkatkan,


menekankan

pada

segi

kualitatif).

memberikan

acuan

dalam,

meningkatkan kualitas sumber daya manusia terutama petani yang berada


dalam naungan organisasi melalui partisipasi petani, menyempurnakan
program yang telah atau sedang dilaksanakan menjadi program baru yang
lebih baik aspek yang disempurnakan meliputi komponen, proses, dan/atau
tujuan program, pengelolaan, dan sebagainya, memperluas program,
menekankan pada segi kuantitatif. Hal yang diperluas adalah jangkauan
program baik jangkauan wilayah maupun jangkauan sasaran
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat dikemukakan dalam makalah ini adalah
1. Bagaimana perubahan sebagai asas pengembangan program?
2. Apa Manfaat perencanaan program penyuluhan?
3. Bagaimana pengaruh organisasi terhadap kesejahteraan petani?
4. Pengembangan Program penyuluhan seperti apa yang bertujuan
untuk kesejahteraan petani?

II.

PEMBAHASAN

A. Perubahan sebagai Asas Pengembangan Program


Pengembangan

diartikan

sebagai

perbuatan

mengembangkan.

Sementara itu, mengembangkan diartikan sebagai upaya memperluas atau


mewujudkan potensi potensi, membawa suatu keadaan secara bertingkat ke
suatu keadaan yang lebih lengkap, lebih besar, atau lebih baik, memajukan
sesuatu dari yang lebih awal ke yang lebih akhir atau dari yang sederhana ke
tahapan perubahan yang lebih kompleks (Morris, 1976; Sudjana, 2000).
Pengembangan memiliki dua kegunaan yaitu untuk meningkatkan dan
memperluas

program

(Sudjana,

2000).

Kegunaan

pertama,

yaitu

meningkatkan, menekankan pada segi kualitatif. Pengembangan diarahkan


untuk menyempurnakan program yang telah atau sedang dilaksanakan
menjadi program baru yang lebih baik. Aspek yang disempurnakan meliputi
komponen, proses, dan/atau tujuan program, pengelolaan, dan sebagainya.
Kegunaan ke dua adalah untuk memperluas program, menekankan pada segi
kuantitatif. Hal yang diperluas adalah jangkauan program baik jangkauan
wilayah maupun jangkauan sasaran.
Perubahan yang dimaksudkan dalam hal ini bukanlah perubahan yang
bersifat alami, tetapi perubahan yang sengaja dilakukan manusia untuk
meningkatkan

kesejahteraan

hidupnya.

Perubahan

pada

hakekatnya

merupakan dasar dari pembuatan program. Dengan kata lain program yang
dibuat harus mengandung suatu perubahan dalam masyarakat sasaran. Lippitt
dkk. (Mardikanto, 1993) mengemukakan bahwa perubahan-perubahan yang
tidak alami itu disebabkan dua hal pokok:
1. Adanya keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau
untuk

memecahkan

masalah-masalah

yang

dirasakan,

dengan

memodifikasi sumber daya dan lingkungan hidupnya, melalui penerapan


ilmu pengetahuan atau teknologi yang dikuasainya.
2. Ditemukannya inovasi-inovasi yang memberikan peluang bagi setiap
manusia untuk memenuhi kebutuhan atau memperbaiki kesejahteraan
hidupnya, tanpa harus mengganggu lingkungan aslinya.

Sehubungan perubahan yang menjadi asas pengembangan program


tersebut, maka penyuluh bersama-sama masyarakat harus merancang
kegiatan-kegiatan yang menunjang perubahan yang diinginkan dari situasi
dan permasalahan yang ada dalam bentuk program. Perubahan semacam ini
disebut dengan perubahan berencana.
Tentang perubahan berencana ini Lippitt dkk (1958) mendefinisikannya
sebagai suatu perubahan yang diperoleh dari keputusan yang menginginkan
adanya perbaikan sistem kehidupan secara personal ataupun sistem sosial
dengan bantuan profesional dari luar.
Sedangkan Soemardjan (Soekanto,1982) mengungkapkan perubahan
berencana merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah
direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan
perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki adanya
perubahan itu dinamakan "agent of change", yakni seseorang atau
sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai
pemimpin satu atau lebih lembaga kemasyarakatan. Suatu perubahan yang
dikehendaki atau yang direncanakan selalu berada di bawah pengendalian
serta pengawasan "agent of change".
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan
terencana merupakan suatu proses perubahan yang diinginkan dan untuk
tercapainya dibutuhkan adanya bantuan dari pihak luar, yakni agen-agen
pembaharuan.
Selanjutnya Lippitt dkk. (1958) mengungkapkan bahwa untuk
menumbuhkan kebutuhan untuk berubah pada diri masyarakat dibutuhkan
tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Menumbuhkan kebutuhan untuk berubah.
Pada tahap ini masyarakat yang menjadi sasaran ditumbuhkan
kebutuhannya dengan merumuskan hal-hal yang menjadi kesulitan,
kebutuhan, ketidakpuasan, dan sebagainya. Hal-hal yang menjadi
kesulitan, kebutuhan, ketidakpuasan tersebut kemudian dijadikan sebagai
masalah yang harus dipecahkan. Sadar akan adanya masalah ini
menimbulkan keinginan untuk berubah dalam diri masyarakat, yang
kemudian akan mencari bantuan dari luar sistem sosialnya.

2.

Membangun hubungan untuk berubah.


Hubungan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah terbinanya hubungan
yang baik antara penyuluh dengan masyarakat. Penyuluh dapat

3.

melakukannya dari pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat.


Melakukan hal-hal yang berkenaan dengan perubahan.
Dalam tahap ini dilakukan klarifikasi atau diagnosis atas masalahmasalah yang dihadapi masyarakat. Hal lainnya adalah mencari alternatif
pemecahan masalah termasuk menetapkan tujuan dan tekad untuk
berubah. Tekad ini kemudian diwujudkan dalam usaha-usaha untuk

4.

berubah yang nyata.


Memperluas dan memantapkan perubahan.
Pada tahap ini keuntungan-keuntungan (ekonomis dan nonekonomis)
yang diperoleh dari perubahan perlu diperluas. Perluasan ini juga
sebaiknya diikuti dengan penyempurnaan dan pengembangan perubahanperubahan yang terjadi. Dengan demikian, selaln dapat dirasakan oleh

5.

masyarakat, perubahan tersebut dapat bersifat permanen.


Pemutusan hubungan
Tahap ini merupakan tahap pemutusan hubungan antara penyuluh dengan
masyarakat.

Pemutusan

ini

penting

untuk

tidak

menimbulkan

ketergantungan masyarakat terhadap keberadaan penyuluh.


Berdasarkan uraian tahapan di atas, maka dalam melaksanakan
tugasnya penyuluh harus memperhatikan tahapan tersebut. Penyuluh harus
mampu menumbuhkan kebutuhan untuk berubah dalam diri masyarakat,
membina hubungan, melakukan segala sesuatu yang berkenaan dengan
perubahan yang diinginkan, memperluas dan memantapkan perubahan
tersebut, dan pada akhirnya memutuskan hubungan.
B. Manfaat Perencanaan Program Penyuluhan
Perencanaan program menurut Rejeki (1998) diperlukan guna (1)
memberikan acuan dalam mempertimbangkan secara teliti tentang hal-hal
yang harus dilakukan, (2) menyediakan acuan tertulis yang dapat diunakan
oleh masyarakat, (3) menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan
terhadap adanya saran penyempurnaan, (4) memantapkan tujuan-tujuan yan
hendak dicapai, (5) menghindarkan pemborosan sumberdaya yang tersedia,

dan (6) menjamin kelayakan kegiatan yang dilakukan di dalam dan oleh
masyarakat.
Beberapa asumsi yang berhubungan dengan perencanaan program
penyuluhan yaitu (1) perubahan yang direncanakan merupakan syarat penting
bagi kemajuan sosial bagi orang dan masyarakat; (2) program penyuluhan
jika direncanakan dan dilaksanakan dengan tepat akan memberi kontribusi
yang signifikan pada perubahan yang direncanakan; (3) perencanaan
memungkinkan untuk memilih, mengatur, dan mengadministrasikan program
yang akan memberi kontribusi pada kemajuan sosial dan ekonomi
masyarakat; dan (4) orang dan masyarakat memerlukan bimbingan,
kepemimpinan dan bantuan penyuluhan untuk memecahkan masalah-masalah
mereka dalam suatu cara yang terencana dan sistematis.
Dalam Penyuluhan, adanya program sangat penting bagi kelangsungan
penyuluhan tersebut. Selain memberi acuan, dengan adanya program,
masyarakat diharapkan berpartisipasi atau turut ambil bagian dalam
perubahan yang direncanakan tersebut. Oleh karena itu pula Kelsey dan
Hearne (Mardikanto, 1993) menekankan pentingnya "pernyataan tertulis"
yang jelas dan dapat dimengerti oleh setiap warga masyarakat yang
diharapkan untuk berpartisipasi. Adanya pernyataan tertulis ini dapat
menjamin kelangsungan program dan selalu memperoleh partisipasi
masyarakat.

Perlunya atau manfaat program penyuluhan tersebut didasarkan pada


alasan berikut:
1. Memberi acuan dalam mempertimbangkan secara seksama tentang hal-

2.

hal yang harus dilakukan dan cara melaksanakannya


Merupakan acuan tertulis yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk

3.

menghindari terjadinya salah pengertian.


Sebagai pedoman pengambilan keputusan terhadap adanya usul/saran

4.

penyempurnaan.
Menjadi pedoman untuk mengukur (mengevaluasi) pelaksanaan

5.

program.
Adanya patokan yang jelas tentang masalah-masalah yang insidentil
(menuntut perlunya revisi program), dan pemantapan dari perubahan-

6.

perubahan sementara (hanya direvisi jika memang diperlukan).


Mencegah adanya salah pengertian tentang tujuan akhir, dan
mengembangkan kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan maupun yang

7.

tidak dirasakan.
Memberikan keterlibatan personil dalam setiap tahapan program yang

8.

berkesinambungan tersebut, hingga tercapainya tujuan.


Membantu pengembangan kepemimpinan, yaitu menggerakkan semua

9.

pihak yang terlibat dan menggunakan sumber daya yang tersedia.


Menghindarkan pemborosan sumber daya, dan sebaliknya merangsang

efisiensi.
10. Menjamin kelayakan kegiatan yang dilakukan di dalam masyarakat dan
yang dilaksanakan sendiri oleh masyarakat setempat.
C. Pengaruh organisasi terhadap kesejahteraan petani
Kesejahteraan petani tidak akan terwujud tanpa adanya pembangunan.
Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang melibatkan
perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap mental dan
kelembagaan, termasuk pula akselerasi pertumbuhan ekonomi, pemerataan
pendapatanm, pengurangan pengangguran dan pemberantasan kemiskinan.
Pertanian merupakan basis dasar dari kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Hal ini dikarenakan kebutuhan bangsa akan ketahanan pangan secara mandiri
yaitu dari sektor pertanian. Permasalahan kemiskinan saat ini selalu terkait

dengan sektor pertanian, terutama sektor pertanian di wilayah perdesaan.


Keterbatasan akses informasi dan teknologi menjadi masalah yang serius bagi
petani untuk mengetahui bagaimana mengakses modal dalam rangka
pemenuhan kebutuhan usahatani. Peran organisasi tani di tingkat desa sangat
erat dengan akses permodalan. Oleh karena itu, diperlukan organisasi tani
yang

kuat,

terarah

dan

memiliki

manajemen

SDM

yang

bisa

dipertanggungjawabkan. Organisasi petani itu sendiri merupakan kumpulan


petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan,
kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) dan keakraban
untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Organisasi petani
dibentuk untuk mempermudah anggota-anggotanya mencapai sebagian apa
yang dibutuhkan atau diinginkan, Dengan kesadaran semacam itu setiap
anggota menginginkan dan akan berusaha agar kelompoknya dapat benarbenar efektif dalam menjalankan fungsinya, dengan meningkatkan mutu
interaksi atau kerjasamanya dalam memanfaatkan segala potensi yang ada
pada anggota dan lingkungannya untuk mencapai tujuan kelompok. Manfaat
organisasi petani yaitu untuk memudahkan para penyuluh pertanian
melakukan

pembinaan

mengembangkan
melaksanakan

dalam

usahanya,

memfasilitasi

Memudahkan

program-program

yang

para
akan

para

petani

pengambil

dalam

kebijakan

dikembangkan

Serta

Memudahkan penyuluh pertanian melakukan pemberdayaan terhadap petani.


Mengorganisasikan petani secara formal merupakan pendekatan utama
pemerintah untuk pemberdayaan petani. Hampir pada semua program, petani
disyaratkan untuk berkelompok, dimana kelompok menjadi alat untuk
mendistribusikan bantuan (material atau uang tunai), dan sekaligus sebagai
wadah untuk berinteraksi baik antar peserta maupun dengan pelaksana
program

(Badan SDM

Deptan,

2007; Balitbangtan,

2006). Untuk

mewujudkan ini, telah dihabiskan anggaran dan dukungan tenaga lapang yang
cukup besar. Organisasi merupakan sebuah unit pembuatan keputusan
(sebagaimana Binswanger dan Ruttan, 1978), tempat aktor berinteraksi secara
lebih intensif untuk menjalankan aktifitas mencapai beberapa tujuan yang

telah didefinisikan secara lebih tegas. Dalam dunia pertanian, organisasi,


sebagaimana Scott (2008), terdiri atas beragam level, mulai dari level
internasional sampai dengan grup-grup mandiri (individual organization),
misalnya kelompok tani dan koperasi-koperasi pertanian. Organisasi juga
menjadi wadah untuk mengelola sumber daya.
D. Pengembangan Program Penyuluhan untuk Kesejahteraan Petani
Salah satu contoh pengembangan program yang dicanangkan
pemerintah melalui Kementrian Pertanian mengenai program Pengembangan
Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang merupakan program revitalisasi
pertanian Presiden Republik Indonesia. Program ini bertujuan untuk
membantu mengurangi tingkat kemiskinan dan menciptakan lapangan
pekerjaan di perdesaan serta membantu penguatan modal dalam kegiatan
usaha di bidang pertanian sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
Kehadiran program PUAP diharapkan dapat mengatasi masalah kesulitan
modal yang dihadapi petani. Pelaksanaan program PUAP pada dasarnya
memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan atas biaya
total usahatani padi sebelum dan sesudah adanya program PUAP. Dengan
demikian secara nyata terdapat perbedaan pendapatan antara sebelum dan
sesudah mengikuti program PUAP. Sosialisasi secara lengkap dan
menyeluruh kepada anggota baru yang dinilai masih kurang dikarenakan
kesibukan pengurus Gapoktan dengan cara mengundang petugas penyuluh
lapang (PPL) dan Penyelia Mitra Tani (PMT). Desain program akan lebih
baik jika dilakukan dan diikuti program pengembangan SDM terutama
anggota Gapoktan usia produktif.Implementasi program PUAP akan lebih riil
terlihat apabila bentuk pinjaman diberikan berupa pembelian benih unggul
yang langsung dibagikan ke anggota sesuai nilai pinjaman dan sarana
produksi diadakan secara kolektif dalam rangka efektivitas harga beli yang
lebih murah. Mendirikan sejumlah unit-unit usaha bersama yang terkait
dengan pengadaan bahan-bahan pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan
input pertanian, sehingga petani tidak perlu lagi memberli keluar desa.

III.
PENUTUP
Dari bab pembahasan mengenai pengembangan program dalam organisasi
dengan berbagai penjelasan yang tertuang didalamnya maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut
1. Pengembangan diarahkan untuk menyempurnakan program yang telah atau
sedang dilaksanakan menjadi program baru yang lebih baik. Aspek yang
disempurnakan meliputi komponen, proses, dan/atau tujuan program,
pengelolaan, dan sebagainya
2. Perubahan pada hakekatnya merupakan dasar dari pembuatan program.
Dengan kata lain program yang dibuat harus mengandung suatu perubahan
dalam masyarakat sasaran. Sehubungan perubahan yang menjadi asas
pengembangan program tersebut, maka penyuluh bersama-sama masyarakat
harus merancang kegiatan-kegiatan yang menunjang perubahan yang
diinginkan dari situasi dan permasalahan yang ada dalam bentuk program.
Perubahan semacam ini disebut dengan perubahan berencana.
3. Dalam Penyuluhan, adanya program sangat penting bagi kelangsungan
penyuluhan tersebut terutama bagi organisasi petani. Selain memberi acuan,
dengan adanya program, masyarakat diharapkan berpartisipasi atau turut
ambil bagian dalam perubahan yang direncanakan tersebut
4. Organisasi petani dibentuk untuk mempermudah anggota-anggotanya
mencapai sebagian apa yang dibutuhkan atau diinginkan. Salah satu contoh
pengembangan program yang dicanangkan pemerintah melalui Kementrian
Pertanian mengenai program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan
(PUAP) yang merupakan program revitalisasi pertanian Presiden Republik
Indonesia. Program ini bertujuan untuk membantu mengurangi tingkat
kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan di perdesaan serta
membantu penguatan modal dalam kegiatan usaha di bidang pertanian
sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani

DAFTAR PUSTAKA
Angeles, London, New Delhi, Singapore: Sage Publication. Third Edition. hal.266
Badan Litbang Pertanian. 2006. Buku Panduan Umum Primatani. Badan Litbang
Pertanian, Jakarta.
Badan SDM Deptan. 2007. Program P4K. Pusbangluh, Deptan. Jakarta
Binswanger, Hans P. dan VW. Ruttan. Induced 1978. Innovation: Technology,
Institutions and Development. The Johns Hopkins University Press,
Baltimore and London. Hal. 329
Dra. Ida Yustina, Msi. Perencanaan Program Penyuluhan. http://library.usu.ac.id.
Diakses tanggal 23 Januari 2016.
Lippitt, R, J. Watson and B. Wesley. 1958. The Dynamics of Planned Change.
New York: Harcourt, Brace and World, Inc.
Mardikanto, Totok. 1992. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.
Mardikanto, Totok. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.
Rejeki, MC Ninik Sri, Perencanaan Program Penyuluhan (Teori dan Praktek),
Penerbitan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 1998
Scott, Richard W. 2008. Institutions and Organizations: Ideas an Interest. Los
Soekanto, Soerjono. 1982. Pengantar Sosiologi. Rajawali Pers.