Anda di halaman 1dari 8

NAMA

NIM
KELAS

Judul

: RISALTUN NUR ROHMAH


: 130210102109
: EHBF B

: Penggunaan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Disertai LKS Kartun


Fisika pada Pembelajaran Di SMP

Penulis : I Ketut Mahardika, Maryani, Selly Candra Citra Murti


Sumber : Jurnal Pembelajaran Fisika Volume I, Nomor 2, September 2012
Analisis :
Creative Problem Solving (CPS) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada
keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan kreatifitas. Ketika
dihadapkan dengan situasi pertanyaan, siswa dapat melakukan keterampilan memecahkan
masalah untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya. Tidak hanya dengan cara
menghafal tanpa dipikir, ketrampilan memecahkan masalah memperluas proses berpikir
siswa. Dengan membiasakan siswa menggunakan langkah-langkah yang kreatif dalam
memecahkan masalah, diharapkan siswa tidak hanya akan menjadi seorang problem solver
yang lebih baik, tetapi juga akan menguasai kemampuan kemampuan lainnya daripada siswa
yang diarahkan untuk melakukan latihan saja.
Permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah perbedaan hasil
belajar fisika siswa menggunakan model CPS disertai LKS kartun fisika dengan tidak
menggunakan model CPS disertai LKS kartun fisika, pengaruh signifikan penggunaan model
CPS disertai LKS kartun fisika terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah
siswa, serta peningkatan aktvitas belajar antara siswa kelas model CPS disertai LKS
kartun fisika dengan kelas tanpa model CPS disertai LKS kartun fisika pada pembelajaran
fisika di SMP.
Penggunaan model pembelajaran creative problem solving disertai lks kartun fisika pada
pembelajaran sudah menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Siswa dituntut untuk
berfikir kreatif dalam menyelesaikan persoalan. Peningkatan aspek kognitif siswa dapat dilihat
melalui presentase kognitif produk dan kognitif proses, dapat juga dilihat dari nilai pretest dan
posttest, hal tersebut ditunjang oleh aspek psikomotorik yaitu meningkatnya kreativitas siswa
untuk memecahkan suatu persoalan.

Peningkatan aspek psikomotorik dapat dilihata melalui kemampuan memecahkan


masalah. Diperoleh nilai persentase rata- rata peningkatan pemecahan masalah siswa sebesar
82,71%. Hasil tersebut kemudian disesuaikan dengan tabel kriteria aktivitas pemecahan
masalah siswa, dari keriteria tabel menunjukkan bahwa siswa kelas eksperimen berada
pada kriteria Pemecahan masalah baik. Penggunaan model pembelajaran creative problem
solving disertai lks kartun fisika memiliki pengaruh peningkatan kemampuan pemecahan
masalah siswa terhadap hasil belajar fisika siswa.

Hasil belajar dan keaktifan siswa untuk kelas model CPS mencapai ketuntasan
belajar. Hasil ini sesuai dengan hasil yang dilakukan dalam penelitian ini skor untuk
kognitif produk mencapai angka ketuntasan hingga 77,7% sehingga dapat dikatan bahwa
model CPS mampu meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan dasar teori.
Peningkatan ini dimungkinkan karena model CPS disertai LKS kartun fisika dapat
membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi fisika secara menyenangkan.

Dari 3 aspek yang diamati aspek memperhatikan memperoleh persentase 94,04%, mengajukan
pertanyaan 81,07%, menjawab pertanyaan 77,81% dan mengemukakan pendapat 84,6%.
Hasil ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan model CPS akan dapat meningkatkan
aktivitas siswa di dalam kelas.

Judul

: Pengaruh Lesson Study Menggunakan Model Inquiry pada Pembelajaran Fisika Siswa
Kelas X Sman 1 Tenggarang

Penulis : I Ketut Mahardika, Maryani, Selly Candra Citra Murti


Sumber : Jurnal Pembelajaran Fisika Volume I, Nomor 2, September 2012
Analisis :
Dalam
mengatasi
pembelajaran yang kurang memberi tekanan pada proses
pembelajaran maka lesson study merupakan upaya yang dipandang efektif untuk
meningkatkan proses kegiatan belajar mengajar. Lesson study merupakan salah satu upaya
untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif
dan berkelanjutan oleh sekelompok guru berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual
learning untuk membangun komunitas belajar.
Pembelajaran lesson study menggunakan metode sudah menyangkut tiga aspek yaitu
kognitif, afektif dan psikomotorik.
1. Aspek kognitif ditunjukkan oleh kegiatan hasil belajar fisika siswa diperoleh dari nilai
kognitif produk (posttest). Hasil belajar kelas eksperimen lebih besar di bandingkan
dengan hasil belajar kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa lesson study
menggunakan model inquiry memberikan dampak pengaruh yang lebih baik terhadap
hasil belajar siswa. Ditunjukkan oleh tabel dibawah ini

ketuntasan klasikal pada kelas eksperimen (XG) mencapai 85,36%, sedangkan pada
kelas kontrol (XB) mencapai 51,28%. Ketuntasan belajar siswa kelas eksperimen lebih
besar daripada kelas control.

2. Aspek psikomotorik ditunjukkan oleh Aktivitas belajar siswa


Saat digunakan lesson study menggunakan model inquiry aktivitas siswa
tergolong aktif. Hal ini di tunjukkan dari data hasil observasi diperoleh data aktivitas
siswa dari tertinggi hingga terendah pada masing-masing indikator yaitu sebagai
berikut: keterlibatan siswa dalam membaca skala alat ukur, keterlibatan siswa

diskusi kelompok dalam membuat kesimpulan, keterlibatan siswa diskusi kelompok


dalam memahami rumusan masalah, keterlibatan siswa dalam merangkai alat,
keterlibatan siswa diskusi kelompok dalam merumuskan hipotesis, keterlibatan siswa
dalam melengkapi tabel pengamatan adalah 78,81%, 75,49%, 71,53%, 70,07%,
68,35%, 44,92%.
3. Aspek afektif ditunjukkan oleh karakter siswa

Persentase rata-rata perilaku karakter siswa yang tercermin dari aktivitas siswa
selama proses pembelajaran menggunakan model inquiry dari yang terendahi hingga yang
tertinggi pada masing-masing indikator yaitu: jujur (keterlibatan siswa dalam melengkapi
tabel pengamatan), tanggung jawab (Keterlibatan siswa diskusi kelompok dalam membuat
kesimpulan), bekerjasama (Keterlibatan siswa dalam merangkai
alat),
bekerjasama
(Keterlibatan siswa diskusi kelompok dalam merumuskan hipotesis), rasa ingin tahu
(Keterlibatan siswa diskusi kelompok memahami rumusan masalah), dan ketelitian
(Keterlibatan siswa dalam membaca skala alat ukur).
Data rata-rata perilaku karakter siswa secara klasikal di dapatkan bahwa rata-rata
pertemuan pertama, pertemuan kedua dan pertemuan ketiga adalah 66,52%. Dengan kriteria
pada lembar observasi diperoleh kesimpulan bahwa perilaku karakter siswa kelas
eksperimen pada masing-masing indikator tergolong mulai terlihat (MB).

Aktivitas belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol

Judul : Peningkatan Aktivitas dan Ketuntasan Hasil Belajar Menggunakan Model Cooperative
Learning Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dengan Performance
Assessment dalam Pembelajaran IPA Fisika SMP Negeri 1 Wonosari
Penulis : Suhdi, Tjiptaning Suprihati, Sri Astutik
Sumber : Jurnal Pembelajaran Fisika Volume I, Nomor 2, September 2012
Analisis :
Penggunaan Model Cooperative Learning Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
dengan Performance Assessment dalam Pembelajaran IPA Fisika pada pembelajaran sudah
menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
1. Aspek afektif dan psikomotorik ditunjukkan oleh Aktivitas belajar sisw yang meningkat
setelah diterapkan model tersebut. Ditunjukkan oleh tbel dibawah

Pada siklus I didapatkan prosentaseaktivitas belajar rata-rata siswa sebesar71.84%,


seperti yang ditunjukkan padaTabel 2 yang berarti aktivitas belajarsiswa kelas VIII.A SMP
Negeri 1Wonosari dengan mengunakan modelpembelajaran STAD dengan performance
assessment tergolong kriteria aktif. Dan pada siklus II didapatkan prosentaseaktivitas belajar
rata-rata siswa sebesar 85.82%, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2 yang berarti aktivitas
belajar siswa kelas VIII.A SMP Negeri 1 Wonosari dengan mengunakan model pembelajaran
STAD dengan performance assessment tergolong kriteria sangat aktif. Jadi penggunaan model
Cooperative Learning Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dengan Performance
Assessment bisa meningkatkan aktivitas belajar siswa
2. Aspek kognitif ditunjukkan oleh kegiatan hasil belajar fisika siswa

Ketuntasan hasil belajar yang diperoleh siswa kelas VIII.A SMP Negeri 1
Wonosari mencapai 82.76% ini menunjukkan bahwa ada peningkatan dari penggunaan
model STAD dengan performance assessment yang dari pra siklus 37.93% menjadi
82.76%, hal ini dapat dikatakan tuntas karena siswa yang memperoleh nilai 73 terdapat
24 siswa dari 29 siswa sehingga hanya terdapat 5 siswa yang belum mencapai kriteria
ketuntasan. Dan dapat dikatakan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I telah

memenuhiketuntasan hasil belajar yang diharapkan yaitu mencapai 82.76% dari standar
ketuntasan minimal 75%. Untuk siklus II Setelah dilakukan analisis dari hasil belajar
siswa pada siklus II menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar yang diperoleh siswa
kelas VIII.A SMP Negeri 1 Wonosari mencapai 93.1%, hal ini dapat dikatakan tuntas
karena siswa yang memperoleh nilai 73 terdapat 27 siswa dari 29 siswa sehingga hanya
terdapat 2 siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan. Dan dapat dikatakan bahwa
ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II telah memenuhi ketuntasan hasil belajar yang
diharapkan yaitu mencapai 93.1% dari standar ketuntasan minimal 75%.

Dari tabel dan grafik diatas dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan Model
Cooperative Learning Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dengan
Performance Assessment dapat meningkatan hasil belajar siswa.

KESIMPULAN

Jurnal Pendidikan Fisika Penggunaan Model Pembelajaran Creative Problem


Solving disertai LKS Kartun Fisika pada Pembelajaran di SMP, Pengaruh Lesson Study
Menggunakan Model Inquiry pada Pembelajaran Fisika Siswa Kelas X SMAN 1
Tenggarang, dan Peningkatan Aktivitas dan Ketuntasan Hasil Belajar Menggunakan
Model Cooperative Learning Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dengan
Performance Assessment dalam Pembelajaran IPA Fisika SMP Negeri 1 Wonosari samasama memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa dan tujuan tersebut
berhasil. Hasil dari penelitian menggunakan ketiga model diatas adalah hasil belajar fisika
dan aktivitas siswa meningkat. Tujuan lain dari penelitian kedua model yaitu untuk
mengetahui perbedaan saat diterapkan model dan saat tidak diterapkan model
Model CPS disertai LKS Kartun Fisika hanya menekankan pada peningkatan aspek
kognit. psikomotorik, dan juga adektif ditunjukkan dengan siswa yang bias menyelesaikan
persoalan misalkan ulangan tidak hanya dengan hafalan tetapi meraka juga dilatih untuk
berfikir kreatif. Pada Lesson Study Menggunakan Model Inquiry menekankan semua aspek
yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada Model Cooperative Learning Tipe
Student Teams Achievement Division (STAD) dengan Performance Assessment juga bisa
meningkatkan semua aspek, baik dari segi kognitif, psikomotorik maupun afektif. Model
pembelajaran yang baik seharusnya bisa mencakup semua aspek, jadi Lesson Study
Menggunakan Model Inquiry merupakan model yang baik. Untuk model yang pertama
sebaiknya diberi tambahan kegiatan yang bisa memunculkan aspek afektif juga
psikomotorik, tidak hanya aspek kognitif saja.
Untuk langkah kedepan ingin membuat suatu model pembelajaran yang bisa
membuat hasil belajar (aspek kognitif) siswa meningkat dengan ditunjang aspek afektif
beserta aspek psikomotorik tetapi lebih menekankan pada aspek spiritual dan sosial siswa
dalam pencapaian tujuan tersebut .