Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONCHO PNEUMONIA
Untuk Memenuhi Tugas Clinical Study 2 Departemen Pediatrik

Oleh:
Sanda Prima Dewi
125070201131017
Kelompok 3A Kelas K3LN

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

1. Definisi
Bronchopneumonia merupakan salah satu jenis pneumonia yang sering disebut
pneumonia loburalis. Bronkopneumonia adalah peradangan pada paru dimana proses
peradangannya ini menyebar membentuk bercak-bercak infiltrat yang berlokasi di alveoli
paru dan dapat pula melibatkan bronkiolus terminal (Price, 2005).

Gambar 1. Bronkopneumonia

2. Etiologi dan Faktor Resiko


Etiologi pneumonia sulit dipastikan karena kultur sekret bronkus merupakan tindakan
yang sangat invasif sehingga tidak dilakukan. Patogen penyebab pneumonia pada anak
bervariasi tergantung :
a. Usia
b. Status imunologis
c. Kondisi lingkungan (epidemiologi setempat, polusi udara)
d. Status imunisasi
e. Faktor pejamu (penyakit penyerta, malnutrisi).
Daftar etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan usia yang bersumber dari data
di Negara maju dapat dilihat di tabel 1. (Pedoman Diagnosis dan Terapi Kesehatan Anak,
2005.)
Tabel 1. Etiologi Pneumonia
Usia

Etiologi yang sering

Etiologi yang jarang

Lahir - 20 hari

Bakteri

Bakteri

E.colli

Bakteri anaerob

Streptococcus grup B

Streptococcus grup D

Listeria monocytogenes

Haemophillus influenza
Streptococcus
pneumonie
Virus
CMV
HMV

3 miggu 3

Bakteri

Bakteri

bulan

Clamydia trachomatis

Bordetella pertusis

Streptococcus

Haemophillus

pneumonia

tipe B

Virus

Moraxella catharalis

Adenovirus

Staphylococcus aureus

Influenza

Virus

Parainfluenza 1,2,3

CMV

4 bulan 5

Bakteri

Bakteri

tahun

Clamydia pneumoniae

Haemophillus

influenza

influenza

tipe B
Mycoplasma

Moraxella catharalis

pneumonia
Streptococcus

Staphylococcus aureus

pneumonia
Virus

Neisseria meningitides

Adenovirus

Virus

Rinovirus

Varisela Zoster

Influenza
Parainfluenza
5

tahun

remaja

Bakteri

Bakteri

Clamydia pneumoniae

Haemophillus influenza

Mycoplasma

Legionella sp

pneumonia
Streptococcus

Staphylococcus aureus

pneumonia
Virus
Adenovirus
Epstein-Barr
Rinovirus
Varisela zoster
Saluran Pernafasan Atas

Influenza
Parainfluenza

Kuman terbawa di saluran pencernaan


Infeksi Saluran Pernafasan Bawah
Kuman berlebih di bronkus

Proses peradangan

Infeksi saluran pencernaan


Dilatasi pembuluh darah
Peningkatan
Edema
suhu
antara kaplier dan alveoli

Akumulasi sekret di bronkus


Peningkatan flora normal dalam usus
Eksudat plasma masuk alveoli
Septikimia
Iritasi PMN eritrosit pecah

Gangguan difusi dalam plasma


Peningkatan peristaltik usus
Bersihan jalan nafas
Mukus
tidakbronkus
efektif meningkat
Peningkatan metabolisme
Edema paru
Gangguan pertukaran gas
Bau mulut tidak sedap Malabsorbrsi
Evaporasi meningkat
Pengerasan dinding paru

Anoreksia

Diare

Penurunan compliance paru

Intake kurang
Gangguan keseimbangan cairan dan eletrolit

Suplai O2 menurun

3. Patofisiologi
Nutrisi kurang dari kebutuhan

Bactery dan Virus


a.Usia
b.Status imunologis
c.Kondisi lingkungan
d.Status imunisasi
e.Faktor pejamu

Hipoksia

Hiperventilasi
Metabolisme anaeraob meningkat
Dispneu

Akumulasi asam laktat


Retraksi dada / nafas cuping hidung
Fatigue
Gangguan pola nafas
Intoleransi aktivitas

4. Manifestasi Klinis
Riwayat klasik dingin menggigil yang disertai dengan demam tinggi, batuk dan nyeri
dada. Anak sangat gelisah, dispnu, pernapasan cepat dan dangkal disertai pernapasan
cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang-kadang disertai muntah dan
diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, mungkin terdapat batuk
setelah beberapa hari mula-mula kering kemudian menjadi produktif. Pada stadium
permulaan sukar dibuat diagnosis dengan pemeriksaan fisik, tetapi dengan adanya nafas
cepat dan dangkal, pernafasan cuping hidung dan sianosis sekitar mulut dan hidung baru
dipikirkan kemungkinan pneumonia. Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan

konjungtivitis, otitis media, faringitis, dan laringitis. Anak besar dengan pneumonia lebih suka
berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk dengan nyeri dada.
Klasifikasi pneumonia berdasarkan Pedoman Diagnosis dan Terapi Kesehatan Anak
(2005) ialah
a. Bayi dan anak berusia 2 bulan 5 tahun :

Pneumonia berat
-

Frekuensi pernafasan pada anak umur 2-12 bulan 50 x/menit, Usia 1-5
tahun 40 x/menit

Adanya retraksi

Sianosis

Anak tidak mau minum

Tingkat kesadaran yang menurun dan merintih (pada bayi)

Anak harus dirawat dan di terapi dengan antibiotik

Pneumonia
-

Frekuensi pernafasan pada anak umur 2-12 bulan 50 x/menit, Usia 1-5
tahun 40 x/menit

Adanya retraksi

Anak perlu di rawat dan berikan terapi antibiotik

b. Bayi berusia di bawah 2 bulan


Pada bayi berusia dibawah 2 bulan, perjalanan penyakit lebih bervariasi.
Klasifikasi pneumonia pada kelompok usia ini adalah sebagai berikut :

Pneumonia
-

Bila ada nafas cepat 60 x/menit atau sesak nafas

Harus dirawat dan diberikan antibiotik

Bukan pneumonia
-

Tidak ada nafas cepat atau sesak nafas

Tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengobatan simptomatik

5. Pemeriksaan Diagnostik
Dalam pemeriksaan fisik ditemukan hal-hal sebagai berikut :

Suhu tubuh 38,5o C

Pada setiap nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal, suprasternal,


dan pernapasan cuping hidung.

Takipneu berdasarkan WHO:


Usia < 2 bulan

60 x/menit

Usia 2-12 bulan

50 x/menit

Usia 1-5 tahun

40 x/menit

Usia 6-12 tahun

28 x/menit

Pada palpasi ditemukan fremitus vokal menurun.

Pada perkusi lapangan paru redup pada daerah paru yang terkena.

Pada auskultasi dapat terdengar suara pernafasan menurun. Fine crackles


(ronki basah halus) yang khas pada anak besar bisa tidak ditemukan pada
bayi. Dan kadang terdengar juga suara bronkial.( Pedoman Diagnosis dan
Terapi Kesehatan Anak,2005)

Selain itu, pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan ialah:


1. Pemeriksaan laboratorium
Pada pneumonia virus dan mikoplasma umumnya leukosit dalam batas
normal. Pada pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang berkisar antara
15.000 40.000/mm3 dengan predominan PMN. Kadang-kadang terdapat anemia
ringan dan laju endap darah (LED) yang meningkat. Secara umum, hasil
pemeriksaan darah perifer lengkap dan LED tidak dapat membedakan antara infeksi
virus dan bakteri secara pasti.
2. C-Reactive Protein (CRP)
Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostik untuk membedakan
antara faktor infeksi dan noninfeksi, infeksi virus dan bakteri, atau infeksi bakteri
superfisialis dan profunda. Kadar CRP biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan
infeksi bakteri superfisialis daripada infeksi bakteri profunda. CRP kadang digunakan
untuk evaluasi respons terhadap terapi antibiotik.
Pemeriksaan CRP dan prokalsitonin juga dapat menunjang pemeriksaan
radiologi untuk mengetahui spesifikasi pneumonia karena pneumokokus dengan nilai
CRP 120 mg/l dan prokalsitonin 5 ng/ml.

3. Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologik untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin
dilakukan kecuali pada pneumonia berat,dan jarang didapatkan hasil yang positif.
Untuk pemeriksaan mikrobiologik, spesimen dapat berasal dari usap tenggorok,
sekret nasofaring tidak memiliki nilai yang berarti. Diagnosis dikatakan definitif bila
kuman ditemukan dari darah, cairan pleura, atau aspirasi paru.
4. Pemeriksaan serologis

Uji serologik untuk medeteksi antigen dan antibodi pada infeksi bakteri tipik
mempunyai sensitivitas dan spesifitas yang rendah. Akan tetapi, diagnosis infeksi
Streptokokus grup A dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibodi seperti
antistreptolisin O, streptozim, atau antiDnase B. Uji serologik IgM dan IgG antara
fase akut dan konvalesen pada anak dengan infeksi pneumonia oleh Chlamydia
pneumonia dan Mycoplasma pneumonia memiliki hasil yang memuaskan tetapi tidak
bermakna pada keadaan pneumonia berat yang memerlukan penanganan yang
cepat.
5. Pemeriksaan Roentgenografi
Foto rontgen toraks proyeksi posterior-anterior merupakan dasar diagnosis
utama pneumonia. Tetapi tidak rutin dilakukan pada pneumonia ringan, hanya
direkomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat dan timbul gejala klinis
berupa takipneu, batuk, ronki, dan peningkatan suara pernafasan. Kelainan foto
rontgen toraks pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis.
Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonia
hanyalah pemeriksaan posisi AP. Lynch dkk mendapatkan bahwa tambahan posisi
lateral pada foto rontgen toraks tidak meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas
penegakkan diagnosis.
Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari:

Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular,


peribronchial cuffing dan overaeriation. Bila berat terjadi pachy consolidation
karena atelektasis.

Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram.


Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris
atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk
sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas dan menyerupai lesi tumor paru
disebut sebagai round pneumonia

Bronkopneumoni ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru


berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru
disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.
Foto rontgen tidak dapat menentukan jenis infeksi bakteri, atipik, atau virus.

Tetapi gambaran foto rontgen toraks dapat membantu mengarahkan kecenderungan


etiologi. Penebalan peribronkial, infiltrat interstitial merata dan hiperinflasi cenderung
terlihat pada pneumonia virus. Infiltrat alveolar berupa konsolidasi segmen atau
lobar, bronkopneumoni dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh
bakteri.

6. Penatalaksanaan Medis
1. Penatalaksanaan antibiotika
Pemberian antibiotika berdasarkan derajat penyakit

Pneumonia ringan
-

Amoksisilin 25 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis sehari selama 3 hari.


Diwilayah resistensi penisilin yang tinggi dosis dapat dinaikan sampai 8090 mg/kgBB.

Kotrimoksazol (trimetoprim 4 mg/kgBB sulfametoksazol 20 mg/kgBB)


dibagi dalam 2 dosis sehari selama 5 hari

Pneumonia berat
-

Kloramfenikol 25 mg/kgBB setiap 8 jam

Seftriakson 50 mg/kgBB i.v setiap 12 jam

Ampisilin 50 mg/kgBB i.m sehari empat kali, dan gentamisin 7,5 mg/kgBB
sehari sekali

Benzilpenisilin 50.000 U/kgBB setiap 6 jam, dan gentamisin 7,5 mg/kgBB


sehari sekali

Pemberian antibiotik diberikan selama 10 hari pada pneumonia tanpa


komplikasi, sampai saat ini tidak ada studi kontrol mengenai lama terapi
antibiotik yang optimal

Pemberian antibiotik berdasarkan umur

Neonatus dan bayi muda (< 2 bulan) :


-

ampicillin + aminoglikosid

amoksisillin-asam klavulanat

amoksisillin + aminoglikosid

sefalosporin generasi ke-3

Bayi dan anak usia pra sekolah (2 bl-5 thn)


-

beta laktam amoksisillin

amoksisillin-amoksisillin klavulanat

golongan sefalosporin

kotrimoksazol

makrolid (eritromisin)

Anak usia sekolah (> 5 thn)

amoksisillin/makrolid (eritromisin, klaritromisin, azitromisin)

tetrasiklin (pada anak usia > 8 tahun)

2. Penatalaksaan suportif
Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit sampai sesak

nafas hilang atau PaO2 pada analisis gas darah 60 torr


-

Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.

Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena


dengan dosis awal 0,5 x 0,3 x defisit basa x BB (kg). Selanjutnya periksa
ulang analisis gas darah setiap 4-6 jam. Bila analisis gas darah tidak bisa
dilakukan maka dosis awal bikarbonat 0,5 x 2-3 mEq x BB (kg).
Obat penurun panas dan pereda batuk sebaiknya tidak

diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi


reaksi antibiotik awal. Obat penurun panas diberikan hanya pada
penderita dengan suhu tinggi, takikardi, atau penderita kelainan jantung.
Bila penyakit bertambah berat atau tidak menunjukkan perbaikan
yang nyata dalam 24-72 jam ganti dengan antibiotik lain yang lebih tepat
sesuai dengan kuman penyebab yang diduga (sebelumnya perlu diyakinkan
dulu ada tidaknya penyulit seperti empyema, abses paru yang menyebabkan
seolah-olah

antibiotik

tidak

efektif).

(Pedoman

Diagnosis

dan

Penatalaksanaan di Indonesia,2005)
3. Penatalaksanaan bedah
Pada umumnya tidak ada tindakan bedah kecuali bila terjadi
komplikasi pneumotoraks atau pneumomediastinum.(Price,2005)

7. Asuhan Keperawatan
a. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang biasa muncul pada kasus bronko pneumonia ialah:
1.

Bersihan jalan napas tidak efektif bd eksudat dalam alveoli

2.

Pola nafas tidak efektif bd hiperventilasi

3.

Gangguan pertukaran gas bd perubahan membran alveolar kapiler

Diagnosa

Tujuan

Keperawatan

Hasil

Bersihan

jalan

nafas

dan Kriteria

NOC :

Intervensi

NIC :

tidak efektif b.d eksudat

a.

Respiratory

dalam alveoli

status : Ventilation

a.

b.

/ tracheal suctioning

Respiratory

Airway suction
Pastikan kebutuhan oral

status : Airway patency

b.

c.

sebelum

Aspiration

Control

Auskultasi suara nafas


dan

sesudah

suctioning.
c.

Informasikan pada klien

Kriteria Hasil :

dan

a.

suctioning

Mendemonstrasikan

d.

batuk efektif dan suara

sebelum suction dilakukan.

nafas

e.

yang

bersih,

keluarga

Minta klien nafas dalam


Berikan O2 dengan

tidak ada sianosis dan

menggunakan

dyspneu

memfasilitasi

(mampu

mengeluarkan sputum,

nasotrakeal

mampu

f.

bernafas

tentang

nasal

untuk
suksion

Gunakan alat yang steril

dengan mudah, tidak

sitiap melakukan tindakan

ada pursed lips)

g.

b. Menunjukkan jalan

istirahat dan napas dalam

nafas

setelah kateter dikeluarkan

(klien

yang
tidak

paten
merasa

Anjurkan pasien untuk

dari nasotrakeal

tercekik, irama nafas,

h.

frekuensi

pasien

pernafasan

Monitor status oksigen

dalam rentang normal,

i.

tidak ada suara nafas

bagaimana cara melakukan

abnormal)

suksion

c.

Mampu

j.

Ajarkan

Hentikan suksion dan

mengidentifikasikan

berikan

dan mencegah factor

pasien

yang

bradikardi,

menghambat

dapat
jalan

keluarga

oksigen

apabila

menunjukkan
peningkatan

saturasi O2, dll.

nafas
Airway Management

a.

Buka

jalan

nafas,

guanakan teknik chin lift atau


jaw thrust bila perlu
b.

Posisikan pasien untuk

memaksimalkan ventilasi
c.

Identifikasi

perlunya

pasien

pemasangan

alat

jalan nafas buatan


d.

Pasang mayo bila perlu

e.

Lakukan

fisioterapi

dada jika perlu


f.

Keluarkan

sekret

dengan batuk atau suction


g.

Auskultasi suara nafas,

catat adanya suara tambahan


h.

Lakukan suction pada

mayo
i.

Berikan bronkodilator

bila perlu
j.

Berikan

pelembab

udara Kassa basah NaCl


Lembab
k.

Atur intake untuk cairan

mengoptimalkan
keseimbangan.
l.

Monitor respirasi dan

status O2

Pola nafas tidak efektif

NOC :

NIC :

b.d hiperventilasi

a. Respiratory status :

Airway Management

Ventilation

a.

b. Respiratory status :

guanakan teknik chin lift atau

Airway patency

jaw thrust bila perlu

c. Vital sign Status

b.

Kriteria Hasil :

memaksimalkan ventilasi

Buka

jalan

nafas,

Posisikan pasien untuk

a.

c.

Mendemonstrasikan

perlunya

batuk efektif dan suara

jalan nafas buatan

nafas

bersih,

d.

tidak ada sianosis dan

e.

dyspneu

dada jika perlu

yang

(mampu

Identifikasi

pasien

pemasangan

alat

Pasang mayo bila perlu


Lakukan

fisioterapi

mengeluarkan sputum,

f.

mampu

dengan batuk atau suction

bernafas

Keluarkan

sekret

dengan mudah, tidak

g.

ada pursed lips)

catat adanya suara tambahan

b. Menunjukkan jalan

h.

nafas

mayo

(klien

yang
tidak

paten
merasa

Auskultasi suara nafas,


Lakukan suction pada

i.

Berikan bronkodilator

tercekik, irama nafas,

bila perlu

frekuensi

j.

pernafasan

Berikan

pelembab

dalam rentang normal,

udara Kassa basah NaCl

tidak ada suara nafas

Lembab

abnormal)

k.

c. Tanda Tanda vital

mengoptimalkan

dalam rentang normal

keseimbangan.

(tekanan darah, nadi,

l.

pernafasan)

status O2

Atur intake untuk cairan

Monitor respirasi dan

Terapi Oksigen
a.

Bersihkan mulut, hidung

dan secret trakea


b.

Pertahankan jalan nafas

yang paten
c.

Atur

peralatan

oksigenasi
d.

Monitor aliran oksigen

e.

Pertahankan

posisi

pasien
f.

Onservasi adanya tanda

tanda hipoventilasi
g.

Monitor

adanya

kecemasan pasien terhadap

oksigenasi
Vital sign Monitoring
a.

Monitor TD, nadi, suhu,

dan RR
b.

Catat adanya fluktuasi

tekanan darah
c.

Monitor VS saat pasien

berbaring, duduk, atau berdiri


d.

Auskultasi

kedua

TD

pada

lengan

dan

bandingkan
e.

Monitor TD, nadi, RR,

sebelum,

selama,

dan

setelah aktivitas
f.

Monitor kualitas dari

nadi
g.

Monitor frekuensi dan

irama pernapasan
h.

Monitor suara paru

i.

Monitor

pola

pernapasan abnormal
j.

Monitor suhu, warna,

dan kelembaban kulit


k.

Monitor sianosis perifer

l.
triad

Monitor adanya cushing


(tekanan

nadi

melebar,

yang

bradikardi,

peningkatan sistolik)
m.

Identifikasi

penyebab

dari perubahan vital sign


3

Gangguan

pertukaran

NOC :

NIC :

gas

b.d

perubahan

a. Respiratory Status :

Airway Management

membran

kapiler-

Gas exchange

a.

b. Respiratory Status :

guanakan teknik chin lift atau

ventilation

jaw thrust bila perlu

alveolar

Buka

jalan

nafas,

c. Vital Sign Status

b.

Kriteria Hasil :

memaksimalkan ventilasi

a.

c.

Mendemonstrasikan

perlunya

peningkatan

jalan nafas buatan

ventilasi

dan oksigenasi yang

d.

adekuat

e.

b.

Memelihara

Posisikan pasien untuk


Identifikasi

pasien

pemasangan

alat

Pasang mayo bila perlu


Lakukan

fisioterapi

dada jika perlu

kebersihan paru paru

f.

dan bebas dari tanda

dengan batuk atau suction

tanda

g.

distress

Keluarkan

sekret

Auskultasi suara nafas,

pernafasan

catat adanya suara tambahan

c.

h.

Mendemonstrasikan

mayo

batuk efektif dan suara

i.

nafas

perlu

yang

bersih,

Lakukan suction pada


Berika bronkodilator bial

tidak ada sianosis dan

j.

dyspneu

udara

(mampu

Barikan

mengeluarkan sputum,

k.

mampu

mengoptimalkan

bernafas

Atur intake untuk cairan

dengan mudah, tidak

keseimbangan.

ada pursed lips)

l.

d.

status O2

Tanda tanda vital

dalam rentang normal

pelembab

Monitor respirasi dan

Respiratory Monitoring
a.

Monitor rata rata,

kedalaman, irama dan usaha


respirasi
b.

Catat

dada,amati

pergerakan
kesimetrisan,

penggunaan otot tambahan,


retraksi otot supraclavicular
dan intercostal
c.

Monitor suara nafas,

seperti dengkur
d.

Monitor pola nafas :

bradipena,

takipenia,

kussmaul,

hiperventilasi,

cheyne stokes, biot


e.

Catat lokasi trakea

f.

Monitor kelelahan otot

diagfragma

(gerakan

paradoksis)
g.

Auskultasi suara nafas,

catat area penurunan / tidak


adanya ventilasi dan suara
tambahan
h.

Tentukan

kebutuhan

suction

dengan

mengauskultasi crakles dan


ronkhi

pada

jalan

napas

utama
i.

auskultasi suara paru

setelah

tindakan

untuk

mengetahui hasilnya

DAFTAR PUSTAKA

1.

Behrman RE, Vaughan VC. Nelson Ilmu Kesehatan


Anak. Bagian II. Edisi 15. EGC, Jakarta: 2000.

2.

Guyton, Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 2.


EGC, Jakarta: 2006.

3.

Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Media


Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta: 2000.

4.

Pedoman Diagnosis dan Terapi Kesehatan Anak,


UNPAD, Bandung: 2005.

5.

Pedoman

Diagnosis

dan

Penatalaksanaan

di

Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Bandung: 2005.


6.

Pedoman Pelayanan Medis. Jilid 1. Ikatan Dokter Anak


Indonesia. Jakarta: 2010.
Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi 6,
Penerbit EGC, Jakarta: 2005.