Anda di halaman 1dari 84

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan pola pertanian yang konvensional ke pertanian intensif telah
membawa berbagai konsekuensi baik terhadap lingkungan pertanian maupun
lingkungan sekitarnya. Konsekuensi nyata perkembangan sistem pertanian
intensif antara lain percepatan erosi, efek residu pupuk dan pestisida.
Terjadinya gangguan dalam lingkungan disebabkan adanya kegiatan manusia
yang kurang tepat, kurang kepeduliannya pada ekologi dan akibat penggunaan
teknologi pertanian yang tidak mengacu pada pembangunan berwawasam
lingkungan. Selain itu, tidak terokomodirnya penggunaan atau pemberian
pupk sehingga tidak mampu mencegah terjadinya kerusakan lingkungan
(Nuhfill, dkk 2003).
Agroekosistem terbentuk sebagai hasil interaksi antara sistem sosial
dengan sistem alam, dalam bentuk aktivitas manusia yang berlangsung untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Agroekosistem kebanyakan dipakai oleh negara atau masyarakat yang
berperadaban agraris. Kata agro atau pertanian menunjukan adanya aktifitas
atau campur tangan masyarakat pertanian terhadap alam atau ekosistem.
Dalam mengambil manfaat ini masyarakat dapat mengambil secara langsung
dari alam, ataupun terlebih dahulu mengolah atau memodifikasinya. Jadi suatu
agroekosistem sudah mengandung campur tangan masyarakat yang merubah
keseimbangan alam atau ekosistem untuk menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat.
Pentingnya pengamatan dan analisis sistem dan perlakuan budidaya di
suatu lahan untuk menilai seberapa besar keseimbangan agroekosistem di
lahan tersebut. Dengan mengetahui seberapa besarnya keseimbangan
agroekosistem maka akan bisa menjadi dasar dalam perlakuan selanjutnya,
baik dalam pemeliharaan, perawatan dan sebagainya sehingga agroekosistem
akan dapat berkelanjutan.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum lapang antara lain adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui kondisi umum lahan di Bumiaji
b. Untuk mengetahui sistem budidaya jambu kristal di lahan Bumiaji
c. Untuk mengetahui agroekosistem dari aspek budidaya tanaman, hama
penyakit dan dari aspek tanah.
d. Untuk mengetahui dasar informasi untuk memberikan rekomendasi dalam
pencapaian keseimbangan agroekosistem.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum yang kami lakukan,
mahasiswa dapat mengetahui kondisi umum lahan daerah
Bumiaji dan mengetahui sistem budidaya jambu kristal yang
ada di Bumiaji serta dapat mengetahui agroekosistem yang
ada disana meliputi aspek budidaya, hama penyakit dan
tanah. Diharapkan nantinya mahasiswa mampu mengevaluasi
hal tersebut dan dapat memperbaiki dalam sistem budidaya
dengan merekomendasikan guna pencapaiam keseimbangan
agroekosistem dan mengganti dengan metode yang benar,
sehingga

dapat

menerapkan

sistem

berkelanjutan.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

pertanian

yang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agroekosistem Lahan Basah
Agroekosistem berasal dari kata sistem, ekologi dan agro.

Sistem

adalah suatu kesatuan himpunan komponen-komponen yang saling berkaitan


dan pengaruh - mempengaruhi sehingga di antaranya terjadi proses yang
serasi. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme
dengan lingkungannya. Sedangkan ekosistem adalah sistem yang terdiri dari
komponen biotic dan abiotik yang terlibat dalam proses bersama (aliran energi
dan siklus nutrisi). Pengertian Agro adalah Pertanian dapat berarti sebagai
kegiatan produksi/industri biologis yang dikelola manusia dengan obyek
tanaman dan ternak.

Pengertian lain dapat meninjau sebagai lingkungan

buatan untuk kegiatan budidaya tanaman dan ternak. Pertanian dapat juga
dipandang sebagai pemanenan energi matahari secara langsung atau tidak
langsung melalui pertumbuhan tanaman dan ternak (Sutanto, 2000).
Agroekosistem dapat dipandang sebagai sistem ekologi pada lingkungan
pertanian.
Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya
jenuh dengan air.baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayahwilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan
air yang dangkal. Digolongkan kedalam lahan basah ini. Di antaranya adalah
rawa-rawa (termasuk rawa, bakau), payau dan gambut. Akan tetapi dalam
pertanian dibatasi agroekologinya sehingga lahan basah dapat didefinisikan
sebagai lahan sawah.
Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk bertanam padi sawah
baik terus menerus sepanjang tahun maupun bergiliran dengan tanaman
palawija. Segala macam jenis tanah dapat disawahkan asalkan air cukup
tersedia.Selain itu padi sawah juga ditemukan pada berbagai macam iklim
yang jauh lebih beragam dibandingkan dengan jenis tanaman lain. Karena itu

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

tidak mengherankan bila sifat tanah sawah sangat beragam sesuai dengan sifat
tanah asalnya. (Endang, 2007)
Tanah sawah dapat berasal dari tanah kering yang dialiri. Kemudian
disawahkan atau dari tanah rawa-rawa yang dikeringkan dengan membuat
saluran-saluran drainase. Sawah yang airnya berasal dari air irigasi disebut
sawah irigasi sedang yang menerima langsung dari air hujan disebut sawah
tadah hujan. Di daerah pasang surut ditemukan sawah yang pasang surut,
sedangkan yang dikembangkan di daerah rawa-rawa lebak disebut sawah
lebak.
Penggunaan selama pertumbuhan padi dan pengolahan tanah pada
tanah kering yang disawahkan dapat menyebabkan berbagai perubahan sifat
tanah.baik sifat morfologi, fisika, kimia, mikro biologi maupun sifat-sifat lain
sehingga sifat-sifat tanah dapat sangat berbeda dengan sifat-sifat tanah
asalnya.Sebelum tanah digunakan sebagai tanah sawah,secara alamiah tanah
telah mengalami proses pembentukan tanah sesuai dengan faktor-faktor
pembentuk tanahnya, sehingga terbentuklah jenis-jenis tanah tertantu yang
masing masing mempunyai sifat morfologi tersendiri. Pada waktu tanah mulai
disawahkan dengan cara penggenangan air baik waktu pengolahan tanah
maupun selama pertumbuhan padi melalui perataan, pembuatan teras,
pelumpuran dan lain-lain maka proses pembentukan tanah alami yang sedang
berjalan tersebut terhenti. Semenjak itu terjadilah proses pembentukan tanah
baru, dimana air genangan di permukaan dan metode pengelolaan tanah yang
diterapkan, memegang peranan penting, (Hardjowigno 2007)
2.2 Agroekosistem Lahan Kering
Penciri Agroekosistem tidak hanya mencakup unsur-unsur alami
seperti iklim, topografi, altitude, fauna, flora, jenis tanah dan sebagainya akan
tetapi juga mencakup unsur-unsur buatan lainnya. Agroekosistem lahan kering
dimaknai sebagai wilayah atau kawasan pertanian yang usaha taninya berbasis
komoditas lahan kering selain padi sawah. Kadekoh (2010) mendefinisikan
lahan kering sebagai lahan dimana pemenuhan kebutuhan air tanaman
tergantung sepenuhnya pada air hujan dan tidak pernah tergenang sepanjang
tahun.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Pada umumnya istilah yang digunakan untuk pertanian lahan kering


adalah pertanian tanah darat, tegalan, tadah hujan. Potensi pemanfaatan lahan
kering biasanya untuk komoditas pangan seperti jagung, padi gogo, kedelai,
sorghum dan palawija lainnya. Untuk pengembangan komoditas perkebunan,
dapat dikatakan bahwa hampir semua komoditas perkebunan yang
produksinya beorientasi dapat dihasilkan dari usaha tani lahan kering.
Lahan kering mempunyai potensi besar untuk pertanian, baik tanaman
pangan, holtikultura, maupun tanaman perkebunan. Pengembangan berbagai
komoditas pertanian di lahan kering merupakan salah satu pilihan strategis
untuk meningkatkan produksi dan mendukungketahanan pangan nasional
(mulyani dkk,2006). Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman semusim,
produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti
tekanan

penduduk

yang

terus

meningkat

dan

masalah

biofisik

(Sukmana,2003)
2.3 Kualitas Tanah dan Kesehatan Tanah
Doran & Parkin (1994) memberikan batasan kualitas tanah adalah
kapasitas suatu tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk
melestarikan produktivitas biologi. Memelihara kualitas lingkungan,serta
meningkatkan kesehatan tanaman dan hewan. Kualitas tanah diukur
berdasarkan pengamatan kondisi dinamis indikator-indikator kualitas tanah.
Pengukuran indikator kualitas tanah menghasilkan indeks kualitas tanah.
Indeks kualitas tanah merupakan indeks yang dihitung berdasarkan nilai dan
bobot tiap indikator kualitas tanah. Indikator-indikator kualitas tanah dipilih
dari sifat sifat yang menunjukkan kapasitas fungsi tanah.
Indikator kualitas tanah adalah sifat, karakteristik atau proses fisika,
kimia dan biologi tanah yang menggambarkan kondisi tanah (SQL, 2001).
Menurut Doran & Parkin indikator-indikator tanah harus :
1 Menunjukkan proses-proses yang terjadi dalam ekosistem.
2 Memadukan sifat fisika tanah, kimia tanah dan proses biologi tanah.
3 Dapat diterima oleh banyak pengguna dan dapat ditetapkan di berbagai
4

kondisi lahan
Peka terhadap berbagai keragaman pengelolaan tanah dan perubahan

iklim, dan
Apabila mungkin, sifat tersebut merupakan komponen yang biasa ditemui
pada data dasar tanah.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Karlen et al. (1996) mengusulkan bahwa pemilihan indikator kualitas


tanah harus mencerminkan kapasitas tanah untuk menjalankan fungsinya
yaitu:
1
2
3

Melestarikan aktifitas,diversitas dan produktivitas biologis


Mengatur dan mngarahkan aliran air dan zat terlarutnya
Menyaring,menyangga,merombak,bahan-bahan
anorganik

dan

organik,meliputi limbah industri dan rumah tangga serta curahan dari


4

atmosfer.
Menyimpan dan mendaurkan hara dan unsur lain dalam biosfer.

2.4 Hama dan Penyakit penting Tanaman pada Agroekosistem


a Hama Tanaman Jambu Kristal
Hama yang telah dilaporkan terdapat pada tanaman jambu biji di
berbagai negara antara lain lalat buah, kutu kebul, kutu putih, kutu perisai,
kutudaun, kutu tempurung, Helopeltis sp., kumbang penggerek, larva berbagai
spesies dari ordo Lepidoptera, belalang, rayap, dan tungau.
Hama yang merupakan hama utama pada pertanaman jambu biji di
berbagai negara adalah lalat buah (Gould & Raga 2002). Hama lain
merupakan hama sekunder, pada populasi rendah tidak menimbulkan kerugian
ekonomi yang nyata. Namun jika populasi melimpah pada suatu lokasi
pertanaman atau keberadaannya berasosiasi dengan organisme pengganggu
tanaman lain, hama tersebut menjadi penting. Kerusakan yang diakibatkan
hama dapat berupa kerusakan langsung dan tidak langsung. Pada kerusakan
tidak langsung hama dapat berperan sebagai vektor atau penyebab infeksi
penyakit akibat pelukaan pada tanaman akibat aktifitas makan dan hidupnya.

Lalat Buah (Diptera: Tephritidae)

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Gambar 1. Lalat Buah (Drosophila melanogaster)


Sumber : Google Image
Lalat buah merupakan hama utama pada jambu biji di berbagai negara
penghasil jambu biji. Hama ini tidak hanya menyerang jambu biji, tetapi juga
merupakan hama dari berbagai komoditas pertanian lain.
Lalat buah yang menyerang jambu biji termasuk ke dalam lalat buah
yang menyerang buah. Larva dari lalat buah ini merusak buah dari tanaman
inang, dan menyebabkan buah menjadi busuk dengan lebih cepat (Meritt et al.
2003). Lalat buah betina meletakkan telur pada jaringan buah dengan
menusukkan ovipositornya ke dalam daging buah. Bekas tusukan tersebut
berupa noda/titik kecil berwarna hitam yang tidak terlalu jelas. Noda-noda
kecil bekas tusukan ovipositor ini merupakan gejala awal serangan lalat buah.
Di sekitar bekas tusukan akan muncul nekrosis. Telur akan menetas dalam
beberapa hari, larva membuat lubang dan makan dari bagian dalam buah
selama 7-10 hari bergantung pada suhu. Pada masa perkembangannya,
khususnya jika populasinya tinggi larva akan masuk sampai ke bagian dalam
(pulp) buah jambu biji (Gould & Raga 2002).
Pengelolaan terhadap serangan lalat buah yaitu dengan menggunakan
pestisida berbahan aktif karbamat, pyretroid sintetik, dan organofosfat secara
berjadwal untuk mencegah meningkatnya populasi lalat buah. Membungkus
buah jambu biji dengan plastik saat buah masih kecil (Utami 2008),
menggunakan kombinasi atraktan metil eugenol dari ekstrak tanaman selasih
ungu dengan perangkap, membuang buah-buah yang terserang dan
menguburnya agar tidak menjadi sumber infestasi (Ginting 2009).

Ulat Kantung (Lepidoptera: Psychidae)

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Gambar 2. Ulat

Kantung
(Mahasena corbetti)
Sumber : Google Image

Ulat kantung (bagworm) adalah sebutan untuk larva dari famili


Psychidae, Lepidoptera. Ulat-ulat kantung ini membuat kantung dari partikel
daun, pasir, ranting dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Setiap spesies
akan membuat kantung yang khas baik ukuran, bentuk, maupun komposisinya
sehingga

kantung

yang

berbeda-beda

ini

dapat

digunakan

untuk

mengidentifikasi suatu spesies ulat kantung. Ukuran kemampuan betina


menghasilkan telur yang banyak dengan didukung kondisi lingkungan untuk
perkembangannya akan menyebabkan meledaknya populasi larva ulat kantung
pada pertanaman jambu biji. Gejala yang ditimbulkan oleh serangan ulat
kantung pada umumnya yaitu kerusakan pada daun-daun jambu biji akibat
aktivitas makan larva. Pada beberapa spesies larva memakan daun jambu biji
dengan rakus termasuk tulang daunnya, sehingga menyisakan rantingnya saja.
Pada serangan berat dengan populasi ulat kantung yang tinggi akan
menyebabkan daun tanaman jambu biji menjadi gundul dan terlihat merana
(Pravitasari 2009).

Kutu Putih (Hemiptera: Pseudococcidae)


Beberapa spesies kutu putih yang ditemukan pada tanaman jambu biji
antara lain Cataneococcus (Exallomochlus) hispidus, Ferrisia virgata,
Nipaecoccus nipae, Planococcus lilacinus, dan Planococcus minor (Sartiami et
al.1999). Kutu putih dapat ditemukan pada ranting, kayu cabang, daun, dan
buah. Bagian tanaman yang paling banyak diserang kutu putih adalah

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

permukaan bawah daun, dan paling sedikit pada kayu cabang dan pucuknya
(Sartiami et al. 1999).

Gambar 3. Kutu Putih (Pseudococidae)


Sumber : Google Image
Secara normal, kutu putih tidak menimbulkan kerusakan inang yang
parah. Tetapi pada populasi yang tinggi, bentuk buah akan menjadi tidak serasi
dan cacat. Embun madu yang dihasilkan kutu putih juga dapat menyebabkan
tumbuhnya embun jelaga yang menurunkan nilai jual buah jambu biji. Kutu
putih juga berasosiasi dengan semut. Semut memerlukan embun madu sebagai
makanannya sehingga semut melindungi kutu putih dari serangan parasit dan
predator. Pengendalian hama kutu putih antara lain dengan penyemprotan
minyak atau sabun (Gould & Raga 2002).

Kutu Kebul (Hemiptera: Aleyrodidae)

Gambar 4. Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn)


Sumber : Google Image
Kutu kebul memiliki siklus hidup yang hampir sama dengan kutu putih
(Gould & Raga 2002). Pada populasi yang tinggi hama ini merugikan karena
selain aktivitas makannya yang menghisap daun juga dapat menyebabkan
tumbuhnya embun madu pada permukaan daun yang menyebabkan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

permukaan fotosintesis akan berkurang. Kutukebul yang ditemukan oleh


Bintoro (2008) di wilayah Bogor dan tanaman jambu biji sebagai inangnya
adalah Aleurodicus dispersusRussel, Aleuroclava psidii, dan Trialeurodides sp.
Cockerell.

Hama Lainnya
Hama lain yang merupakan hama tanaman jambu biji antara lain
kutudaun (Hemiptera: Aphididae), kutu perisai (Hemiptera: Diaspididae),
kututempurung (Hemiptera: Coccidae), trips (Thysanoptera), beberapa
kumbang Scarabaeidae dan Curculionidae (Coleoptera), tungau (Arachnida:
Acarina), ulat penggerek batang Indarbela sp. (Lepidoptera: Metarbelidae),
ulat yang menyerang daun seperti Attacus atlas (Lepidoptera: Saturniidae),
Trabala pallida (Lepidoptera: Lasiocampidae), ulat pucuk, ulat jengkal
(Lepidoptera: Geometridae). (Gould & Raga 2002).

b Penyakit Tanaman Jambu Biji


Patogen yang dapat menyerang tanaman jambu biji antara lain; cendawan,
bakteri, alga, nematoda, dan efifit. Patogen tersebut terdapat pada berbagai bagian
tanaman jambu biji, menyebabkan berbagai penyakit antara lain busuk buah pada
pertanaman dan penyimpanan (busuk kering, busuk basah, busuk lunak, busuk
asam, busuk coklat, busuk masak, kudis, busuk pangkal, busuk bercincin, busuk
pink, busuk buah berlilin), kanker, layu, mati ujung, gugur daun, batang/ranting
kering, bercak daun, hawar daun, antaknosa, karat merah, embun jelaga, karat,
hawar biji, dan rebah kecambah (Misra 2004).

Antraknosa
Antraknosa merupakan penyakit umum pada tanaman jambu biji, yang
tersebar luas di semua daerah penanamannya. Penyebaran penyakit ini sudah
luas ke berbagai negara penghasil jambu biji. Patogen penyebab antraknosa
dapat menyerang semua bagian tanaman, terutama pada buah namun tidak
menyerang akar. Bagian tanaman seperti pucuk, daun muda dan ranting akan
mudah terjangkit penyakit ini ketika masih lunak (Semangun 1994; Misra
2004).

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Gambar 5. Penyakit Antraknosa pada Buah Jambu


Sumber : Dokumentasi
Gejala yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini yaitu mati ujung (die
back), busuk buah, kanker buah, dan bercak daun. gejala pada tunas
menyebabkan perubahan warna dari hijau menjadi coklat tua. Bercak coklat
tersebut kemudian menjadi bercak nekrotik berwarna hitam yang dapat
berkembang kebagian pangkal sehingga menyebabkan mati ujung. Daun-daun
muda mengeriting dengan daerah-daerah mati pada tepi atau ujungnya,
akhirnya daun-daun gugur sehingga hanya ranting kering yang tertinggal.
Buah jambu biji yang mentah dapat terinfeksi dan cendawan penyebabnya
bisa dorman selama 3 bulan, baru aktif dan menyebabkan pembusukan pada
waktu buah mulai matang. (Semangun 1994; Misra 2004).
Penyebab penyakit antraknosa yaitu cendawan Colletotrichum
gloeosporioides (teleomorph: Glomerella cingulata). Pada bagian tanaman
yang sakit dalam cuaca lembab dan teduh cendawan membentuk spora
(konidium) dalam jumlah yang besar, yang terikat dalam massa lendir
berwarna merah jambu (Semangun 1994).

Kanker Berkudis
Kanker buah berkudis umumnya terjadi pada buah yang hijau dan
dapat juga menyebabkan bercak pada daun. Penyebab penyakit ini adalah
Pestalotiopsis psidii (Pat.) Mordue. Cendawan ini merupakan parasit luka,
kanker berhubungan dengan tusukan yang disebabkan oleh aktivitas makan
serangga antara lain Helopeltis theobromae. Pada infeksi awal, mula-mula
pada buah yang masih hijau terdapat bercak gelap, kecil, yang membesar
mencapai garis tengah 1-2 mm, berwarna coklat tua, yang terdiri dari jaringan
mati. Jika buah membesar kanker akan pecah, membentuk kepundan dengan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

tepi tebal dan pusat mengendap (Semangun 1994). Pengelolaan penyakit ini
bisa dilakukan dengan mengendalikan Helopeltis, membuang buah dan daun
yang sakit kemudian dipendam atau dibakar untuk mengurangi sumber
infeksi. Penggunaan ekstrak daun Occimum sanctum dapat menghambat
perkecambahan spora cendawan (Misra 2004).

Bercak Daun
Bercak pada daun jambu biji umumnya tidak merugikan secara
langsung, namun beberapa cendawan penyebabnya dapat menyerang buah
juga maka daun yang sakit dapat memegang peranan penting sebagai sumber
infeksi. Bercak daun dapat disebabkan antara lain oleh Cercosporaspp.,
Pestalotiopsis sp., dan Colletotrichum sp. (Semangun 1994).

Gambar 6. Penyakit Bercak Daun


Sumber : Google Image
Gejala yang ditimbulkan oleh cendawan Cercospora psidii mula-mula
terdapat bercak-bercak bulat atau kurang teratur bentuknya, berwarna merah
kecoklatan. Bercak akan mengering bagian tengahnya berubah menjadi
berwarna putih. Bercak-bercak dapat bersatu membentuk bercak tidak teratur
berwarna putih yang dikelilingi oleh tepi kecoklatan. Cendawan Pestalotipsis
menyebabkan bercak coklat kelabu yang mulanya menginfeksi dari bagian
tepi atau pinggir daun, berangsur-angsur menyebar ke bagian bawah (Misra
2004). Cendawan Colletotrichum menyebabkan daun-daun muda mengeriting
dengan daerah-daerah mati (nekrotik) pada tepi atau ujungnya, akhirnya daundaun gugur sehingga hanya ranting kering yang tertinggal (Semangun 1994).

Karat Merah

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Gambar 7. Penyakit Karat Daun


Sumber : Dokumentasi
Karat merah disebabkan oleh alga hijau yang dapat menyebabkan
bercak pada daun dan kadang-kadang pada buah. Penyebab penyakit ini
adalah Cephaleurosspp. yang dapat menyerang berbagai bagian tanaman
yaitu daun, buah, ranting, dan batang. Cephaleuros menginfeksi daun
jambu biji muda. Bercak pada daun dapat berupa titik kecil sampai bercak
yang besar; menyatu atau terpencar. Daun diinfeksi pada bagian pada tepi,
pinggir atau seringkali pada area dekat tulang daun (Misra 2004). Bercak
berbentuk bulat, berwarna coklat kemerahan. Ganggang hijau ini
mempunyai benang-benang yang masuk ke bagian dalam jaringan
tanaman yang dilekatinya sehingga pada permukaan daun bercak akan
tampak seperti beledu (Semangun 1994)

Busuk Buah
Busuk buah dapat terjadi di pertanaman maupun pada buah jambu
biji dalam simpanan. Beberapa patogen yang menyebabkan busuk buah di
pertanaman antara lain Phomopsis psidii menyebabkan busuk pangkal
buah,

Phytophthora,

Fusarium,

dan

Curvularia.

Cendawan

Botryodiplodia theobromaePat. dan Colletotrichum dapat menginfeksi


jambu biji di pertanaman dan juga pada jambu biji di penyimpanan
(Semangun 1994).
Cendawan B. Theobromae mula-mula menyebabkan terjadinya
bercak coklat yang cepat meluas kurang berbatas jelas, busuk lunak, dan
terbentuk lapisan cendawan berwarna hitam. Terdapat pada ujung atau
pangkal buah. Pembusukan juga mencapai bagian daging buahnya hingga
buah

busuk

dan

berair.

Gejala

yang

disebabkan

cendawan

Colletotrichumyaitu pada buah terbentuk bercak coklat berbatas jelas dan


mengendap (Semangun 1994).

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Gambar 8. Penyakit Busuk Buah Jambu


Sumber : Dokumentasi
2.5 Pengaruh Populasi Musuh Alami Terhadap Agroekosistem
Musuh alami merupakan komponen penyusun keanekaragaman hayati
di

lahan

pertanian.

Keanekaragaman

hayati

di

lahan

pertanian

(agrobiodeversity) meliputi diversitas (keaneka ragaman) jenis tanaman yang


di budidayakan, diversitas (keanekaragaman) spesies liar yang berpengaruh
dan di pengeruhi oleh kegiatan pertanian, dan diversitas ekosistem yang
dibentuk oleh populasi spesies yang berhubungan dengan tipee penggunaan
lahan yang berbeda (dari habitat lahan pertanianintensif sampai lahan
pertanian alami). Diversitas spesies liar berperan penting dalam banyak hal.
Beberapa menggunakan lahan pertanian sebagai habitat ( dari sebagian sampai
yang tergantung pada lahan pertanian secara total) atau mengguanan habitat
lain tetapi di pengaruhi oleh aktivitas pertanian. Adapun yang berperan
sebagai gulma dan spesies hama yang merupakan pendatang maupun yang asli
ekosistem sawah tersebut, yang mempengaruhi prosuksi pertanian dan
agroekosistem (Channa.et,al. 2004).
Dari uraian diatas jelas bahwa terdapat organisme yang berperan
positif terhadap tanaman yang dibudidayakan (produksi pertanian), dan ada
juga yang berperan negatif terhadap tanaman yang dibudidayakan. Musuh
alami (predator, parasitoid dan patogen) dapat berperan positif dalam
pertanian yaitu sebagai berikut:
1. Dapat mengendalikan organisme penggangu yang berupa hama dan gulma.
Dimana setiap jenis hama dikendalikan oleh kompleks musuh alami yang
meliputi predator, parasitoid dan patogen hama. Dibandingkan dengan
memakai pestisida yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap
kesehatan dan lingkungan hidup (Untung, 2006)

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

2. Apabila musuh alami mampu berperan sebagai pemangsa secara optimal


sejak awal, maka populasi hama dapat berada pada tingkat equilibrium
positif atau flukstuasi populasi hama dan musuh lamia menjadi seimbang
shingga

tidak

akan

terjadi

ledakan

hama

(Oneil,et.al.

dalam

Maredia,et.al.2003)
3. Pengelolaan ekosistem pertanian dengan perpaduan optimal teknik-teknik
pengendalian hama dan meminimalkan penggunaan pestisida sintetis yang
berspektrum luas. (Untung,1993).
4. Pembatas dan pengatur populasi hama yang efektif karena sifat
pengaturannya bergantung pada kepadatan (density dependent), sehingga
mampu mempertahankan populasi hama pada keseimbangan umum
(general equilibrium position) dan tidak menimbulkan kerusakan pada
tanaman. Keberadaan musuh alami dapat meningkatkan keanekaragaman
hayati, sehingga tercipta keseimbangan ekosistem (ecosystem balance)
(Ishak, 2012).
5. Musuh alami sebagai salah satu komponen ekosistem berperan penting
dalam

proses

interaksi

intra-

dan

inter-spesies.

Karena

tingkat

pemangsaannya berubah-ubah menurut kepadatan populasi hama, maka


musuh alami digolongkan ke dalam faktor ekosistem yang tergantung
kepadatan (density dependent factors). Ketika populasi hama meningkat,
mortalitas yang disebabkan oleh musuh alami semakin meningkat,
demikian pula sebaliknya (Stehr 1975). (Arifin. 2012)
6. Lebih ekonomis, karena dapat meminimalisir penggunaan pestisida selama
proses budidaya, diman bahwa penggunaan musuh alami bersifat alami,
efektif, murah dna tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan
dan lingkungan hidup (Untung, 2006). Dan dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dalam meningkatkan kualitas dan kwuantitas
produksi hasil panennya.
7. Dapat meningkatkan keanekaragaman hayati dalam agroekosistem,
dinyatakan bahwa keanekaragaman dalam agroekosistem dapat berupa
variasi dari tanaman, gulma, anthropoda, dan mikroorganisme yang
terlibat beserta faktor-faktor lokasi geografi, iklim, edafik, manusia dan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

sosioekonomi.

Menurut

Southwood

&

Way

(1970),

tingkat

keanekaragaman hayati dalam agroekosistem bergantung pada 4 ciri


utama, yaitu:
Keanekaragaman tanaman di dalam dan sekitar agroekosistem
Keragaman tanaman yang sifatnya permanen di dalam agroekosistem
Kekuatan atau keutuhan manajemen
Perluasan agroekosistem
(dalam pengukuhan guru besar, Maryani Cyccu Tobing. 2000)
2.6 Dampak Manajemen Agroekosistem Terhadap Kualitas dan Kesehatan
Tanah
Pengelolaan pertanian secara intensif dengan mengandalkan bahanbahan kimia sebagai tambahan baik untuk pupuk maupun pestisidanya. Jika
dilihat dari keberlanjutan produktivitas lahannya sangat tidak baik, karena
input-input kimiawi yang berlebihan mengakibatkan kesuburan tanah mulai
menurun dan banyak permasalahan lainnya. Permasalahan-permasalahan yang
timbul akibat input kimiawi yang berlebihan yaitu:
a. Ketersediaan unsur hara, pada lahan dengan pengolahan secara intensif
sumber unsur haranya berasal dari input-input kimiawi berupa pupuk
anorganik, petani kurang menerapkan tambahan bahan organik seperti
aplikasi pupuk kandang dan seresah dari tanaman yang diusahakan.,
sehingga petani sangat berketergantungan dengan pupuk kimia, padahal
penggunaan pupuk kimia berlebihan dapat menyebabkan kesuburan tanah
menurun.
b. Bahan organik tanah, pada sistem pertanian yang diolah secara intensif
dengan menerapkan sistem monokultur biasanya jumlah bahan organiknya
sedikit karena tidak ada atau minimnya seresah di permukaan lahan. Dari
hal tersebut dapat diindikasikan pertanian tanpa penerapan tambahan
bahan organik pada lahan pertanian intensif merupakan pengelolaan
agroekosistem yang tidak sehat.
c. pH Tanah (kemasaman tanah) dan adanya unsur beracun, pada sistem
pertanian intensif biasanya agak masam karena seringnya penggunaan
pupuk anorganik seperti urea yang diaplikasikan secara terus-menerus
untuk menunjang ketersediaan unsur hara dalam tanah.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

d. Erosi tanah, erosi umumnya mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas


yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu erosi
mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah.
e. Kedalaman efektif tanah, pada lahan dengan sistem pengolahan intensif
terkadang memiliki sebaran perakaran yang cukup tinggi karena tanaman
yang diusahakan dalam kurun waktu yang lama hanya satu komoditi saja.
f. Keanekaragaman biota dan fauna tanah, pada lahan dengan pengolahan
intensif, jarang terdapat seresah pada lahan tersebut sehingga keberadaan
biota tanah seperti cacing tanah sedikit, padahal aktifitas cacing tanah
dapat memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah, seperti
meningkatkan kandungan unsur hara, mendekomposisikan bahan organik
tanah, merangsang granulasi tanah dan sebagainya.
2.7 Kriteria Indikator dalam Pengelolaan yang Sehat dan Berkelanjutan
1 Dari Segi Kimia Tanah
a. Bahan organik tanah
Bahan organik tersebut berperan langsung terhadap perbaikan
sifat-sifat tanah baik dari segi kimia, fisika maupun biologinya,
diantaranya:

Memengaruhi warna tanah menjadi coklat-hitam

Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah

Meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase tidak


berlebihan, kelembapan dan tempratur tanah menjadi stabil.

Sumber energi dan hara bagi jasad biologis tanah terutama


heterotrofik.

b. pH Tanah (kemasaman tanah) dan adanya unsur beracun


Tanah bersifat asam dapat disebabkan karena berkurangnya
kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Tetapi dengan pH
yang agak masam belum tentu kebutuhan tanaman terhadap pH tanah
tidak cocok karena itu tergantung dari komoditas tanaman budidaya

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

yang dibudidayakan. Untuk pengelolaan pH tanah yang berbeda-beda


dalam suatu agroekosistem maka apabila suatu lahan digunakan untuk
pertanian maka pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH
tanah apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan
dengan pH tertentu.
c. Ketersediaan Unsur hara
Unsur hara yang digunakan tanaman untuk proses pertumbuhan
dan perkembangannya diperoleh dari beberapa sumber antara lain :
Bahan organik, mineral alami, unsur hara yang terjerap atau terikat,
dan pemberian pupuk kimia. Pada lahan pertanian diketahui sumber
unsur hara berasal dari bahan organik, karena pada lokasi tersebut
banyak ditemukan seresah yang merupakan sumber bahan organic
selain itu aplikasi pupuk kandang juga menambah ketersediaan unsur
hara yang berfungsi ganda, diserap oleh tanaman dan memperbaiki
sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
2

Dari Segi Fisika Tanah


a

Kedalaman efektif
Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat
ditembus oleh akar tanaman. Menurut Hardjowigeno (2007),
pengamatan

kedalaman

efektif

dilakukan

dengan

mengamati

penyebaran akar tanaman. Banyakya perakaran, baik akar halus


maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus
tanah, dan bila tidak dijumpai akar tanaman maka kedalaman efektif
ditentukan berdasarkan kedalaman solum tanah.

Kondisi Kepadatan Tanah

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Widiarto (2008) menyatakan bahwa, Bahan organik dapat


menurunkan BI dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu
merupakan tanah yang memiliki bahan organik tanah sedang sampai
tinggi. Selain itu, Nilai BI untuk tekstur berpasir antara 1,5 1,8 g /
m3, Nilai BI untuk tekstur berlempung antara 1,3 1,6 g / m3 dan
Nilai BI untuk tekstur berliat antara 1,1 1,4 g / m3 merupakan nilai
BI yang dijumpai pada tanah yang masih alami atau tanah yang tidak
mengalami pemadatan.
c

Erosi Tanah
Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian
tanah ke tempat lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh
hilangnya vegetasi penutup tanah dan kegiatan pertanian yang tidak
mengindahkan kaidah konservasi tanah. Erosi tersebut umumnya
mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang subur dan baik untuk
pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu erosi mengakibatkan terjadinya
kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah.

Dari Segi Biologi Tanah


a

Keanekaragaman biota dan fauna tanah


Ditunjukkan dengan adanya kascing. Biota tanah memegang
peranan penting dalam siklus hara di dalam tanah, sehingga dalam
jangka panjang sangat mempengaruhi keberlanjutan produktivitas
lahan. Salah satu biota tanah yang paling berperan yaitu cacing tanah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah dapat meningkatkan
kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologis
tanah.
Kascing (pupuk organik bekas cacing atau campuran bahan
organik sisa makanan cacing dan kotoran cacing) mempunyai kadar
hara N, P dan K 2,5 kali kadar hara bahan organik semula, serta

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

meningkatkan porositas tanah (pori total dan pori drainase cepat


meningkat 1,15 kali). Cacing jenis penggali tanah yang hidup aktif
dalam tanah, walaupun makanannya berupa bahan organik di
permukaan tanah dan ada pula dari akar-akar yang mati di dalam tanah.
Kelompok cacing ini berperanan penting dalam mencampur seresah
yang ada di atas tanah dengan tanah lapisan bawah, dan meninggalkan
liang dalam tanah. Kelompok cacing ini membuang kotorannya dalam
tanah, atau di atas permukaan tanah. Kotoran cacing ini lebih kaya
akan karbon (C) dan hara lainnya dari pada tanah di sekitarnya.
(Hairiah, 2004).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum lapang mata kuliah Manajemen Agroekosistem dilaksanakan di
Kebun jambu kristal di Dusun Banaran Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota
Batu pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 2015 pukul 07.00-12.00 WIB.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Aspek HPT
1. Alat
- Sweep net
: Untuk menangkap serangga terbang
- Baskom kuning
: Sebagai wadah air detergen untuk pan trap
- Yellow Trap : Sebagai alat perangkap hama
- Kayu
: Untuk tempat mendirikan pan trap
- Kawat
: Untuk mengikat baskom ke kayu
- Plastik
: Sebagai wadah hama setelah di tangkap
- Kapas
: Alat untuk membius hama dengan alkohol
- Gelas aqua
: Sebagai wadah air detergen untuk pit fall
- Alat tulis
: Untuk mencatat hasil pengamatan
- Kamera
: Alat untuk dokumentasi
2. Bahan
- Alkohol
: Bahan untuk membius hama
- Detergen
: Untuk bahan perangkap hama
- Air
: untuk pelarut detergen
- Serangga yang ditemukan
: untuk pengamatan
-Daun jambu yang terkena penyakit : untuk identifikasi penyakit

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

3.2.2.Aspek BP
- Kuisioner
- Alat tulis
- Kamera

: sebagai acuan pertanyaan kepada narasumber (petani)


: untuk mencatat data informasi hasil wawancara
: untuk mendokumentasikan kegiatan praktikum

3.2.3 Aspek Tanah


1. di Lapang
a. Alat
Ring
Kamera
Penggaris
Gunting
Plastik
Palu
Cetok
Frame

: Untuk mengambil sampel tanah


: Untuk dokumentasi
: Untuk mengukur ketinggian seresah
: Untuk mengguting understorey
:Untuk membungkus sampel tanah,seresah dan under storey
: Untuk memukul ring agar masuk kedalam tanah
: untuk mengambil sampel tanah
: sebagai pembatas plot dalam mengamati seresah dan

understorey
Spidol
: untuk memberi tanda pada plastik yang berisi tanah
b. Bahan
plot lahan (tanah) : digunakan untuk pengambilan sampel tanah,
pengamatan seresah, understorey dan fauna tanah.
2. Di Laboratorium
1) Berat Isi tanah
a) Alat
Jangka sorong : Untuk mengukur diameter ring
Penggaris
: Untuk menghitung tinggi ring
Pistil dan Mortar
: Untuk menghaluskan tanah
Cawan
: untuk tempat meletakan tanah dalam
oven
pisau

batas ring
Timbangan
Oven
Alat tulis
Kamera

: Untuk memotong tanah yang melebihi


: Untuk menghitung berat tanah
: Untuk Mengeringkan tanah
: Untuk mencatat hasil praktikum
:
Untuk
mendokumentasikan
hasil

praktikum

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

b) bahan
sampel tanah utuh

: sebagai bahan praktikum

2) Berat Jenis Tanah


a) alat
Piknometer : untuk tempat tanah yang telah dihaluskan
Mortar
: untuk menghaluskan tanah
Pistil
: untuk menghaluskan tanah
Timbangan : untuk menimbang tanah
Oven
: sebagai pengering tanah
Corong
: sebagai alat bantu untuk menuangkan air

ke dalam

piknometer
Botol semprot : untuk menuangkan air
Nampan : tempat tanah saat di oven
Labu ukur
: Untuk menempatkan tanah yang sudah
halus pada pengujian BJ
Alat tulis : untuk mencatat hasil praktikum
Kamera :
untuk
mendokumentasikan

kegiatan

praktikum
b) bahan
Tanah
: sebagai bahan praktikum
Air yang sudah direbus
: untuk menghomogenkan
dan melarutkan tanah
3) C-organik
a) Alat
Gelas beaker
Alat tulis
Timbangan
tanah
Gelas ukur
larutan
Pipet

: Untuk mengukur volume aquades


: Untuk mencatat hasil praktikum.
: Untuk menimbang sampel
: Untuk mengukur Volume
: Untuk memindahkan larutan dari

satu wadah ke wadah lainya


Buret dan statis
: Alat untuk titrasi
Pengaduk magnetis
: Untuk mengaduk larutan
Labu erlenmeyer 500 ml : Sebagai tempat mencampur tanah + larutan
Ayakan 0,5 mm
: Untuk mengayak sampel tanah
Mortal & pistil
: Untuk menghaluskan tanah

b) Bahan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Tanah
K2Cr2O7 10 ml
H2SO4 20 ml
Aquades 200 ml
H2PO4 85% 10 ml
Difenilatelin 30 tetes
FeSO4

4) pH tanah
a) Alat
Alat tulis
Timbangan
Fial film

: sebagai bahan praktikum


: Untuk mengikat rantai C
:Untuk memisahkan rantai C dengan tanah
: Untuk menghentikan reaksi H2SO4
: Untuk menghilangkan pengaruh Fe
: Sebagai indikator warna
: Sebagai bahan untuk titrasi

: Untuk mencatat hasil praktikum


: Untuk menimbang tanah
: Untuk tempat pencampuran tanah dan

larutan
pH Meter
: Untuk mengukur pH
Mortar dan pistil
: Untuk menghaluskan tanah
Ayakan 2 mm : Untuk mengayak sampel tanah
Gelas Ukur
: Untuk mengukur H2O
b) Bahan
H2O 10 ml
: Untuk menentukan pH aktual
Tanah
: Untuk bahan praktikum

5) eH tanah
a) Alat
Alat tulis
Timbangan
Fial film

: Untuk mencatat hasil praktikum


: Untuk menimbang tanah
: Untuk tempat pencampuran tanah dan

larutan
Mortar dan pistil
: Untuk menghaluskan tanah
Ayakan 2 mm : Untuk mengayak sampel tanah
Gelas Ukur
: Untuk mengukur H2O
Conductivity Meter: Untuk mengukur eH
b) bahan
H2O 10 ml
: Untuk menentukan eH
Tanah
: Untuk bahan praktikum
6) Seresah
a) Alat
Timbangan
Kertas
Oven
Alat Tulis

:
:
:
:

Untuk
Untuk
Untuk
Untuk

menimbang Understorey
membungkus Understorey
mengeringkan Understorey
mencatat hasil praktikum

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Kamera
praktikum
b) Bahan
Seresah

: Untuk mendokumentasikan kegiatan

: Untuk bahan pengamatan

7) Understorey
a) Alat
Timbangan
: Untuk menimbang Understorey
Kertas
: Untuk membungkus Understorey
Oven
: Untuk mengeringkan Understorey
Alat Tulis
: Untuk mencatat hasil praktikum
Kamera
: Untuk mendokumentasikan
b) Bahan
Understorey (Rumput teki, rumput grinting) : Untuk
bahan pengamatan
3.3 Cara Kerja
3.3.1. Aspek HPT
a) Penangkapan Serangga dengan Sweapnet
Menyiapkan alat dan bahan

lahan yang akan diamati pada masing-masing kelas

Lakukan 3 kali ayunan dengan menggunakan sweapnet

Lakukan dari ujung lahan sampai ke ujung lainya dengan arah


vertikal atau horizontal
Setelah sampai diujung tutup sweapnet

Ambil serangga yang tertangkap dalam sweapnet dengan membuka


bagian belakang sweapnet
Bius serangga dengan alkohol dan Simpan dalam plastik
Lakukan identifikasi serangga
Catat hasilnya
Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

dokumentasikan

b) Penangkapan Serangga dengan Pit Fall


Menyiapkan alat dan bahan

Lahan yang akan diamati pada masing-masing kelas


Buat lubang hingga kedalaman yang sesuai
Pasang gelas aqua yang berisi air dan detergen
Tunggu selama 24 jam atau sehari
ambil serangga yang terjebak kedalam pitfall
Masukan kedalam kantong plastik
Lakukan identifikasi
Catat hasilnya
dokumentasikan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

c) Penangkapan Serangga dengan Pan Trap


Menyiapkan alat dan bahan
Lahan yang akan diamati pada masing-masing kelas
Tancapkan 2 batang kayu untuk mendirikan pan trap
Pasang baskom kuning pada kayu tersebut dan ikat dengan kawat
Baskom diisi air dan detergen
Biarkan selama 24 jam
Ambil serangga yang terjebak dalam pan trap
Masukan dalam plastik
Lakukan identifikasi
Catat hasilnya dan dokumentasikan
d) Pengamatan Penyakit
Menyiapkan alat dan bahan
Lahan yang akan diamati pada masing-masing kelas
Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Amati dan identifikasi bagian tanaman yang terkena penyakit


Hitung intensitas serangan penyakit
Catat hasilnya dan dokumentasi
e) Penangkapan Serangga dengan Yellow trap
Menyiapkan alat dan bahan
Lahan yang akan diamati pada masing-masing kelas
Pasang yellow trap pada tengah tengah bedengan
Biarkan selama 24 jam
Ambil serangga yang terjebak dalam Yelow Trap
Masukan dalam plastik
Catat hasilnya
dokumentasikan

3.3.2 Aspek Budidaya Pertanian


Menyiapkan alat dan bahan
Lakukan wawancara dengan petani berdasarkan kuisioner
Catat hasil wawancara dan dokumentasi

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

3.3.3. Aspek Tanah


1) Cara Kerja di Lapang
a) Pengambilan sampel tanah utuh
Menyiapkan alat dan bahan
Lahan yang telah ditetapkan berdasarkan kelas masing-masing

bersihkan tanah yang akan diambil sampel


Cari tanah yang rata dan datar
Tancapkan ring sampel, bila tanah keras tambahkan air biar lebih
mudah ditancapi ring
Pukul ring menggunakan palu sampai ring terisi tanah penuh
Congkel tanah disekitar ring dengan menggunakan cetok

Ratakan tanah dengan membersihkan tanah yang melebihi ring sampel

Masukan ring sampel berisi tanah kedalam plastik dan beri label
Dokumentasikan kegiatan praktikum

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

b) Pengambilan sampel tanah komposit


Menyiapkan alat dan bahan
Lahan yang telah ditetapkan berdasarkan kelas masing-masing
Ambil tanah yang kecil dari 4 titik secara zig zag
Masukan kedalam plastik dan beri label
Dokumentasikan kegiatan praktikum

c) Pengambilan Understory
Menyiapkan alat dan bahan
Pasang frame pada lahan yang telah ditetapkan berdasarkan kelas

Tentukan plot 1 dan plot 2

Ambil understorey pada plot 1 dan plot 2 menggunakan gunting

Masukan kedalam kresek


Beri tanda atau label
Dokumentasikan kegiatan praktikum
Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

d) Pengambilan Seresah
Menyiapkan alat dan bahan
Pasang frame pada lahan yang telah ditetapkan berdasarkan kelas
masing-masing
Tentukan plot 1 dan plot 2 dan ukur ketinggiannya

Ambil seresah pada plot 1 dan plot 2


Masukan kedalam kresek dan beri tanda atau label
Dokumentasikan kegiatan praktikum

2) Cara kerja di Laboratorium


a) Berat Jenis Tanah
Menyiapkan alat dan bahan

Menghaluskan tanah yang sudah dikering oven dengan mortar dan pistil

Timbang labu ukur kosong dan masukkan tanah 20 gr


Timbang labu ukur beserta tanah
Mengisi air dari volume labu ukur dan menghomogenkan

Menghitung nilai Berat Jenis tanah dan catat hasilnya


Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Dokumentasikan kegiatan praktikum

b) Berat Isi Tanah


Menyiapkan alat dan bahan
Timbang ring kosong
Timbang sampel tanah beserta ring
Mengeluarkan tanah yang ada didalam ring
Mengukur tinggi dan diameter ring dengan penggaris dan jangka sorong
Menimbang tanah yang sudah dikeluarkan beserta cawan
Mengoven tanah selama 24 jam dengan suhu 105C
Mengeluarkan tanah dari dalam oven
Menimbang sampel tanah kering oven
Menghitung nilai Berat Isi tanah dan catat hasilnya
Dokumentasikan kegiatan praktikum

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

C) C-organik
Menyiapkan alat dan bahan
Timbang sampel tanah dan masukkan sampel tanah yanglolos ayakan
0,5 mm dalam labu erlenmeyer 500 ml
Masukkan K2Cr2O7 10 ml dan H2SO4 20 ml
Digoyang goyangkan agar tanah dapat bereaksi sepenuhnya
Diamkan dalam ruang asam selama 15 menit

Tambahkan aquades 200 ml


Masukkan H3PO4 85% 10 ml dan 30 tetes penunjuk difenilamina

Titrasi dengan FeSO4 sampai warna berubah menjadi hijau seperti


warna hijau botol sprite
Catat volume ml sampel dan lakukan perhitungan
Dokumentasikan hasil praktikum

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

d) pH tanah
Menyiapkan alat dan bahan
Masukan 10 gr sampel tanah yang lolos ayakan 2 mm dalam fial film

Masukan H2O 10 ml dalam fial film


Kocok 10 menit dan diamkan selama 15 menit
Ukur Ph sampel menggunakan alat Ph meter
Catat hasinya
Dokumentasikan kegiatan praktikum

e) eH tanah
Menyiapkan alat dan bahan
Masukan 10 gr sampel tanah yang lolos ayakan 2 mm dalam fial film
Masukan H2O 10 ml dalam fial film

Kocok 10 menit dan diamkan selama 15 menit


Ukur eH sampel menggunakan alat conductivity meter
Catat hasilnya
Dokumentasikan kegiatan praktikum

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

f) Pengukuran Seresah
Menyiapkan alat dan bahan
Timbang seresah dan bungkus dengan kertas
Maasukan kedalam oven dan oven selama 3 hari
Timbang kembali seresah kering

Catat hasilnya
Dokumentasikan kegiatan praktikum

g) Pengukuran Understorey
Menyiapkan alat dan bahan
Timbang understorey

Bungkus dengan kertas

Maasukan kedalam oven

Oven selama 3 hari


Timbang berat kering understorey
Catat hasilnya

Dokumentasikan
kegiatan
BAB
IV praktikum

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Kondisi Umum Lahan
Lokasi pelaksanaan kegiatan fieldtrip dilaksanakan di UD. Bumiaji
sejahtera yang terletak di Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji,
Kota Batu dengan batas wilayah sebagai berikut :
a
b
c
d

Sebelah utara berbatasan dengan Desa Bulukerto dan Gunung Arjuno


Sebelah barat berbatasan dengan Desa Sidomulyo
Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pandanrejo
Sebelah timur berbatasan dengan Desa Giripurno
Secara geografis kebun produksi UD Bumiaji Sejahtera terletak di lereng

Gunung Arjuno dengan ketinggian 900-1.400 mdpl. Secara umum Desa Bumiaji
memiliki 7 kelas lereng yaitu 0 sampai 3% (datar); 3 sampai 8% (landai); 8
sampai 15% (agak miring); 15 sampai 30% (miring); 30 sampai 45% (agak
curam); 45 sampai 60% (curam); dan lebih dari 60% (sangat curam). Dan terdiri
dari 5 relief yang meliputi berombak, bergelombang, berbukit kecil, berbukit dan
bergunung.
Dusun Banaran Desa Bumiaji merupakan daerah dengan tipe iklim yang
agak basah. Berdasarkan kondisi alam curah hujannya kurang lebih 1.860 mm per
tahun dengan suhu berkisar antara 14-37oC, kelembaban 60-80 %, penyinaran
matahari pada musim kemarau antara 8-10 jam per hari, sedangkan pada musim
penghujan 5 jam per hari. Jenis tanah di Desa Bumiaji adalah tipe tanah
inceptisol, sangat gembur, dengan warna hitam hingga coklat gelap dan kaya
kandungan unsur hara. Sebagian besar wilayah di desa ini digunakan dalam
sector pertanian baik untuk tanaman pangan dan hortikultura.
4.2 Analisis Keadaan Agroekosistem Lokasi Fieldtrip
4.2.1 Aspek BP
a. PHT (Pengendalian Hama Terpadu)
Data didapatkan saat fieldtrip yang dilakukan dikebun jambu Kristal,
kecamatan bumiaji, batu. Lahan tersebut merupakan lahan display atau lahan
yang digunakan untuk percontohan tanaman budidaya agar dapat dikenal oleh
masyarakat luas. Lahan tersebut dahulu merupakan lahan yang ditanami apel,

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

namun seiring produktivitas apel menerun di daerah Tersebut, maka petani


berinisiatif mengganti tanaman apel dengan tanaman jambu Kristal. Awal
tanam jambu dimulai sejak tahun 2006 dengan mengambil bibit dari
mojokerto sebanyak 16 pohon, namun setelah adanya perkembangan, hingga
saat ini mencapai 3700 pohon dalam 3,5 Ha. Lahan bapak Rahmad Hardianto
ini memilii luas 3,5 Ha atau 7 blok.
Lahan yang diolah oleh bapak Rahmad Hardianto ini merupakan jenis
perkebunan yang tergolong kedalam lahan PHT, artinya lahan tersebut telah
menerapkan sistem PHT seperti pemanfaatan tanaman barier yakni tanaman
ketumbar, kemudian memanfaatkan pencegahan serangan hama dengan
menggunakan pembungkus plastic pada buah, agar buah tidak terserang lalat
buah. Kebun jambu Kristal diolah dengan sistem tanam tumpangsari.
Tumpangsari merupakan pola tanam dalam satu luasan pertanaman yang
terdapat dua atau lebih jenis tanaman dalam waktu yang sama (Gomez dan
Gomez, 1983). tumpangsari merupakan sistem tanam yang efisien, karena
didalam pola ini, terdapat ekosistem yang seimbang, ini juga didukung oleh
pernyataan (wisnu,2010) Penanaman dengan pola tumpangsari dapat
menciptakan agroekosistem pertanaman yang lebih kompleks, mencakup
interaksi antara tanaman sejenis maupun dari jenis tanaman lain. Di dalam
kebunya pak rahmad menggunakan tumpangsari jambu Kristal dengan terong
dan jeruk. Benih tanaman utama atau jambu kristal berasal dari benih
bersertifikat dengan jarak penanaman 3x3 m, jarak diperlukan sedemikian
hingga, agar akar tanaman tidak saling berkompetisi satu sama lain dan
menghindari penumpukan antar kanopi tanaman. Dalam penggunaan pupuk
dasar dengan pupuk kandang, sedangkan pada vase vegetative dengan diberi
kadar N tinggi menggunakan sari azola yakni dalam 5 kg sari azola dilarutkan
kedalam 25 L air ditambah cocopeat sebagai sumber K. Dan memasuki fase
generative pemberian pupuk N,P,K berimbang dalam 1 kg NPK larut dengan
40kg air. Dengan perlakuan demikian umur panen jambu sekitar 2,5 3
bulan, sedangkan produksi 1,5 2 tahun produksi. Sistem pengairan disana
menggunakan irigasi teknis, terdapat beberapa sumber air di tengah lahan,
yang sengaja diberi ikan, yang berperan sebagai indicator kesehatan air

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

tersebut. sedangkan untuk rotasi tanam tidak dilakukan karena mengingat


tanaman yang ditanam adalah tanaman tahunan. Dalam pengolahan lahan
pasti memiliki masalah yang menghambat, salah satu masalah tersebut adalah
rendahnya harga jual. Ini dikarenakan permintaan grade di pasar yang terlalu
tinggi yakni setiap buah memiliki berat 350 gram keatas, untuk grade buah
jambu Kristal berkisar antara 500 gram hingga 200 gram, namun jambu
Kristal dapat berkurang bobot buahnya jika disimpan dalam periode yang
lama, karena menurut (Soesiladi,2012) Susut bobot pada buah berkenaan
dengan banyaknya air yang hilang akibat proses transpirasi melalui pori-pori
buah. Susut bobot buah akan meningkat selama penyimpanan. Dapat juga
dikarenakan kurangnya unsure hara yang terdapat dalam tanah, sehingga
bobot buah kurang maximal. karena tidak tercukupi dengan grade yang tinggi
dan yang terkirim adalah grade dibawahnya maka harga jual jambu Kristal
menurun. Untuk peluang penanaman barusudah ada, yakni dengan
penanaman sayur kale yang mencapai Rp 100.000 / kg
Untuk indikator stabilitas dan keberlanjutan sesuai hasil yang didapat
memiliki skoring 23. artinya menunjukkan perlunya tindakan untuk
melakukan keberlanjutan. Karena untuk memenuhi sistem pertanian berlanjut
maka juga perlu dilihat dari sisi ekologis, Ekologi sendiri dalam bidang
pertanian berarti ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
tanaman (tumbuhan yang dibudidayakan) dengan lingkungannya yang
terdapat dalam suatu ekosistem (Ruslan, 1968). Dan pertanian berlanjut
menurut (Suin, 2002) pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang
berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah,
sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan
sumberdaya alam. Saat dilapang pengendalian hama masih menggunakan
pestisida namun dalam skala yang kecil, penggunaan pestisida juga sedikit
ditekan dengan penggunaan tanaman barier, yakni daun ketumbar dan terung.
Selain itu penggunaan benih hibrida juga dapat mengurangi keanekaragaman
tanaman tersebut.
Penghasilan rata-rata petani jambu Kristal Rp 15.000.000 / minggu.
Atau karena jambu Kristal tidak mengenal musim dan dapat berbuah kapan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

saja maka keuntungan perbulan bisa mencapa Rp 60.000.000. Tanaman


jambu merupakan tanaman tahunan, menurut (Ridwan, 2013) tanaman
tahunan merupakan tanaman yang berumur dan berproduksi lebih dari satu
tahun serta dapat dipanen beberapa kali dalam satu tahun.engan luasan lahan
yang dimiliki petani lebih dari 1 Ha dengan luasan semua lahan 3,5 Ha yang
dibagi atas 7 blok, 4 blok lahan sendiri dan 3 blok lahan sewa.
b. Non PHT
Sejarah Lahan sebelum ditanami komoditas jambu kristal lahan milik
bapak ali mustafa telah ditanami komoditas apel, sayuran dan jambu merah.
Bibit jambu kristal di dapat dari Misi Teknik Taiwan di lokasi proyek
Mojokerto.
Dari hasil wawancara petani, di dapatkan hasil dalam luas lahan 2800
m2 yang di tanami 400 pohon jambu kristal petani mendapatkan pendapatan
Rp 180.000.000 permusim panen. Pendapatan yang tinggi ini diperoleh dari
produktivitas buah yang tinggi sebesar 30 kg per. Dimana perkg memiliki
harga jual sebesar Rp 15.000. Menurut (Ridwan,2013) produktivitas jambu
Kristal pada umur tanaman 2 tahun ini bisa mencapai 20 kg/tahun. Sehingga
lahan ini memilik produktivitas buah yang tinggi.
Dari hasil indikator untuk tetap menjaga stabilitas produksi Menurut
(Ridwan,2013)Petani dapat memanen buah yang telah memenuhi standar
grade yang tinggi agar lebih efisien. Pemanenan bisa lebih baik pada saat
matahari belum terik agar tidak silau dan salah melihat warna dan cacat buah
yang mengurangi harga jual. Pengontrolan waktu panen juga harus dilakukan
agar tidak terjadi lagi kasus jatuhnya harga. Petani yang tanamannya sudah
lebih dari dua tahun dapat meningkatkan keuntungan dengan mencangkok
bibitnya. Hal ini menurut petani yang melakukannya lebih mudah dilakukan
dibanding perawatan buah, kemampuan cangkok per pohon yang tinggi dari
15 hingga 70 bibit per pohon dan tingginya harga jual.
Dari hasil penentuan indicator keberlanjutan yang di interpretasikan
dari hasil wawancara. Lahan milik bapak Ali Mustafa perlu adanya tindakan
untuk keberlanjutan karena skoring mendapat nilai 1 yang masuk penilaian 0-

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

24

dimana

menunjukan

perlu

adanya

tindakan

untuk

melakukan

keberlanjutan. Untuk menuju kearah keberlanjutan dari point min dalam


indicator perlu diperbaiki. Pengunaan pestisida dilahan dapat diminimalisir
atau di tiadakan dengan cara Menurut (Ridwan, 2013) Serangan hama yang
merupakan keluhan umum petani disebabkan oleh masih kurang intensifnya
kegiatan

pengendalian

hama

dan

penyakit

yang

dilakukan

petani.

Pembungkusan juga harus secepatnya dilakukan ketika buah sudah seukuran


kelereng agar buah tidak terserang hama seperti ulat dan semut.
Dari hasil penilaian indikator kemerataan dengan luasan lahan masuk
pada B yaitu 0,25-1 ha, sifat kepemilikan lahan masuk pada lahan sendiri dan
pendapatan petani setiap musim yang mencapai >Rp 5.000.000 menunjukan
bahwa kemerataan telah tercapai. Pendapatan bukan hanya dari penjualan
buah saja tetapi lewat penjualan bibit dan agrowisata petik jambu. Menurut
(Ridwan,2013) Varian jambu biji kristal memiliki biji paling sedikit diantara
varian jambu biji lainnya, buahnya yang berukuran besar dan memiliki daging
buah yang bersih dengan tekstur yang renyah seperti buah apel menjadikannya
sebagai buah jambu biji terfavorit pilihan masyarakat dan prospek cerah
jambu kristal bagi pelaku bisnis khususnya yang bergerak dibidang agro.
Sehingga prospek pasar untuk jambu kristal tinggi.
Dari data yang telah didapat di lahan PHT dan non PHT dalam aspek
BP lebih baik yang PHT karena dilahan PHT selain melakukan pengendalian
hama menggunakan trap juga melakukan pengendalian dengan menanam
tanaman barier untuk mengendalikan hama lalat buah yang menjadi hama
utama di lahan jambu kristal. Pada lahan PHT petani melakukan pola tanam
tumpangsari menurut pernyataan (wisnu,2010) Penanaman dengan pola
tumpangsari dapat menciptakan agroekosistem pertanaman yang lebih
kompleks, mencakup interaksi antara tanaman sejenis maupun dari jenis
tanaman lain. Selain itu pada lahan PHT juga ditanami jeruk dan ketumbar
sebagai tanaman eguanol yang aromanya tidak disenangi lalat buah, selain dua
tanaman diatas di lahan PHT juga ditanam terong sebagai tanaman barier
sehingga hama akan lebih memilih menyerang terong dibandingkan jambu.
Sedangkan di lahan non PHT petani menggunakan pola tanam monokultur dan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

tidak ada tanaman barier sehingga hama akan fokus menyerang tanaman
utama yaitu jambu kristal dan akan menurunkan kulitas dan kuantitas buah.
4.2.2 Hama dan Penyakit pada Lahan PHT Jambu Kristal
A. Data Arthropoda
Dari hasil praktikum lapang yang telah dilakukan di Bumiaji pada lahan
PHT jambu kristal didapatkan data arthropoda yang ditemukan pada lahan
tersebut yaitu sebagai berikut :
Tabel 1 : Hasil Pengamatan Arthropoda PHT
No

Dokumentasi

Nama serangga

Jumla

Perangka

Hama

20

Hama

Sweepnet

Hama

11

Sweepnet

Hama

Sweepnet

Peran

Kutu kebul
1

(Bemisia
tabaci)

Lalat buah
2

(Drosophila
melanogaster)

Belalang hijau
(Oxya
chinensis)

4
Kumbang
kubah spot
(Menochillus
sexmaculatus)

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Capung
5

(Orthetrum

Musuh
alami

sabina)

Semut hitam
6

(Dolichoderus
thoracicus)

Helen
(Abisara
neophron)

Serang
ga lain

34
53 100% = 64,15%

Musuh alami :

8
53 100% = 15,09%

dan
yellow
trap

Serang

Total
53

Perhitungan :
Hama

Sweepnet

Pit fall

ga lain

Tabel 2 : hasil perhitungan arthropoda PHT


Peran
Musuh
Serangga
Hama
alami
lain
Jumlah
34
8
11

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Hama
64,15

Sweepnet

Persentase (%)
Musuh Serangg
alami
15,09

a lain
20,75

Serangga lain :

11
53 100% = 20,75%

Segitiga Fiktorial
PHT
SL

Berdasarkan data yang didapatkan pada daerah Bumiaji dengan komoditas


Jambu Kristal pada aspek HPT-PHT diperoleh data biodiversitas Hama, Serangga
H Musuh Alami. Pengamatan pada komoditas Jambu Kristal
MAtersebut
Lain dan
dilakukan di 2 petak komoditas Jambu Kristal dengan 8 bedengan, dengan setiap
bedengnya ada 3 tanaman jambu.
Berdasarkan data pengamatan Arthropoda didapatkan beberapa serangga
pada 8 bedeng komoditas Jambu Kristal yang diamati didapatkan diantaranya kutu
kebul (Bemisia tabaci), Lalat buah (Drosophila melanogaster), Belalang hijau
(Oxya chinensis), dan Kumbang kubah spot M (Menochillus sexmanculatus) yang
berperan sebagai hama. Kemudian didapatkan juga Capung (Orthetrum Sabina)
sebagai musuh alami serta didapatkan pula Semut hitam (Dolichoderus thoracicus
Smith) dan Helen (Abisara neophron) sebagai serangga lain.
Dari data hasil pengamatan dapat diketahui presentase dari peranan
masing-masing arthropoda yang didapat. Dalam peranannya arthropoda yang
berperan sebagai hama didapatkan presentase sebesar 64,15 %, peranan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

arthropoda sebagai musuh alami didapatkan 15,09 %, dan peranan arthropoda


sebagai serangga lain didapatkan 20,75 %.
Berdasarkan data persentase peranan arthropoda diatas dapat disimpulkan
dengan menggunakan segitiga fiktorial. Dari hasil segitiga fiktorial dapat
diketahui bahwa terdapat titik potong antara jumlah hama dan serangga lain. Dari
titik potong didapatkan perpotongan pada daerah hama. Hal tersebut sesuai
dengan data tabel yang menyatakan bahwa nilai dan jumlah hama lebih besar
dibandingkan dengan nilai dari peranan arthropoda yang lainnya.
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui kondisi agroekosistem pada lahan
tersebut memiliki keanekaragaman arthropoda yang banyak. Ditinjau dari hasil
segitiga fiktorial didapatkan perpotongan pada daerah hama, denagan presentase
sebesar 64,15 %. Hal tersebut memiliki arti bahwa jumlah populasi hama lebih
besar dibandingkan dengan populasi peranan serangga selain hama. Kondisi ini
dikarenakan adanya adaptasi dan persaingan hidup antar individu yang ketat, hal
ini sesuai dengan literatur Oka (1995), menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mengatur kepadatan suatu populasi dapat terjadi karena persaingan antara individu
dalam satu populasi atau dengan spesies lain, Perubahan lingkungan kimia akibat
adanya sekresi dan metabolisme, kekurangan makanan,adanya serangga
predator/parasit/penyakit,dan adanya emigrasi.
Dari hasil yang diperoleh pada data di atas maka dapat dikatakan
keseimbangan ekosistem pada lahan PHT Jambu Kristal masih kurang baik dilihat
dari keragaman arthropoda dan terdapatnya populasi hama yang memiliki
persentase tinggi. Hal ini dikarenakan kurang adanya manajemen ekosistem yang
baik dalam pengendalian populasi hama serta tersedianya kualitas makanan yang
cukup baik sehingga keberadaan hama tinggi. Hal ini juga didukung dengan yang
dikemukakan Riyanto (1995), bahwa tersedianya makanan dengan kualitas yang
cocok dan kuantitas yang cukup akan menyebabkan naiknya populasi dengan
cepat. Sebaliknya bila keadaan makanan kurang maka populasi dapat menurun
pula.

Menurut

Soemarwoto

(1997)

menyatakan

bahwa

pada

dasarnya

keseimbangan ekosistem terjadi karena adanya komponen komponen yang


saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Masing masing komponen
mempunyai relung (cara hidup) dan fungsi yang berbeda dan berkaitan satu

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

dengan yang lainnya. Selama komponen tersebut melaksanakan fungsinya dan


bekerjasama dengan baik maka keteraturan ekosistem akan tetap terjaga.
Hama dan Penyakit pada Lahan Non PHT Jambu Kristal
Dari hasil praktikum lapang yang telah dilakukan di Bumiaji pada lahan
non PHT jambu kristal didapatkan data arthropoda yang ditemukan pada lahan
tersebut yaitu sebagai berikut :
Tabel 3: Hasil Pengamatan Arthropoda Non-PHT
N
Dokumentasi
Nama serangga
Peran
o

Jumlah

Lalat buah
1

(Bactrocera

Pan trap
Hama

30

dan yellow

dorsalis)

trap

Ngengat

Pan trap

(Spodoptera

Hama

exigua)
Nyamuk
3

Perangkap

(Aedes
albopictus)

dan yellow
trap

Serangga
lain

Pan trap

Pit fall

Pit fall

Ulat grayak
4

(Spodoptera

Hama

exigua)

Tomcat
5

(Paederus
littoralis)

Musuh
alami

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Dari Tabel dapat dilihat hasil pengamatan Arthropoda dengan perlakuan


non-PHT yang ditemukan di lapang. Pada pan trap dan yellow trap ditemukan
lalat buah (Bactrocera dorsalis) dan ngengat (Spodoptera exigua). Kedua
Arthropoda ini berperan sebagai hama. Selain itu ada nyamuk (Aedes albopictus)
yang berperan sebagai serangga lain ditemukan pada pan trap. Sedangkan pada pit
fall ditemukan ulat grayak (Spodoptera exigua) yang juga berperan sebagai hama
dan tomcat (Paederus littoralis) sebagai musuh alami.
Tabel 4 : Hasil Perhitungan Arthropoda Non-PHT
Peran
Musuh
Serangga
Hama
alami
lain
Jumlah
33
2
2

Total
37

Hama

Persentase (%)
Musuh
Serangga

81

alami
5,4

Perhitungan :
:

33
37 100% = 81%

Musuh alami :

2
37 100% = 5,4%

Serangga lain :

2
37 100% = 5,4%

Hama

Dari Tabel

dapat dilihat bahwa jumlah hama relatif lebih banyak

dibandingkan dengan musuh alami dan serangga lain. Dapat diperkirakan bahwa
kondisi ekologi lahan tersebut tidak sehat, karena kemungkinan musuh alami
berperan mengendalikan populasi hama sangat kecil. Ditambah lagi ketersediaan
serangga lain yang sangat sedikit. Meskipun ada, serangga lain juga tidak dapat
menjamin kelangsungan hidup musuh alami jika populasi hamanya tinggi.

Segitiga Fiktorial
Non-PHT
SL

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

MA

lain
5,4

Segitiga fiktorial menyajikan komposisi hama, musuh alami dan serangga


lain yang digambarkan/diwakili oleh satu koordinat dalam suatu segitiga sama
sisi, yang titik sudutnya mewakili peran. Dengan menggunakan segitiga fiktorial
ini kita dapat melihat serangga apa yang mendominasi di kebun jambu kristal.
Dari segitiga fiktorial di atas terlihat jelas bahwa kebun jambu kristal
didominasi oleh hama. Maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ekologi di lahan
tersebut tidak sehat atau bahaya, sebab dalam ekosistemnya sangat miskin
serangga lain dan musuh alami. Ekosistem semacam ini banyak dijumpai di
pertanaman rumah kaca, serta pada lahan-lahan yang tinggi penggunaan racun
kimianya. Dalam hal ini lahan perkebunan jambu kristal yang merupakan lahan
non-PHT dapat dikatakan tergolong lahan yang tinggi penggunaan racun
kimianya.
Berdasarkan keadaan tersebut, sangat diperlukan adanya penanganan
khusus dalam upaya pengembangan tindakan preemptif. Tujuannya adalah untuk
memprakondisikan lingkungan agar populasi hama dan penyakit tidak
berkembang ke tingkat yang dapat merugikan secara ekonomis.
Pada lahan PHT dan non PHT komoditas jambu kristal di dapatkan hasil
persentase hama, musuh alami, dan serangga lain. Persentase hama lahan PHT
sebesar 64,15% sedangkan pada lahan non PHT sebesar 81%. Hal tersebut
menunjukkan bahwa persentase hama lebih besar pada lahan non PHT dibanding

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

PHT. Musuh alami pada lahan PHT 15,09% dan pada non PHT 5,4% berarti lebih
tinggi pada lahan PHT. Persentase serangga lain pada lahan PHT 20,75% dan pada
lahan non PHT 5,4% berarti lebih tinggi pada lahan PHT.
Klasifikasi Arthropoda yang Ditemukan di Lahan
1. Kutu Kebul (Bemisia tabaci)
Menurut Kalshoven (1981)
Kingdom: Animalia
Phyllum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Famili: Aleyrodidae;
Genus : Bemisia;
Species : Bemisia tabaci.
2. Lalat Buah (Drosophila melanogaster)
Menurut Borror (1992)
Kingdom

: Animalia

Phyllum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Diptera

Famili

: Drosophilidae

Genus

: Drosophila

Spesies

: Drosophila melanogaster

3. Belalng hijau (Oxya chinensis)


Menurut Kalshoven (1981)
Kingdom

: Animalia

Phyllum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Orthoptera

Family

: Acridididae

Genus

: Oxya

Spesies

: Oxya chinensis

4. Kumbang Kubah Spot M (Menochillus sexmaculatus)


Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Menurut Kalshoven (1981)


Kingdom
Filum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Anamalia
: Arthropoda
: Insekta
: Coleoptera
: Minochilas
: Menochilus
: Menochillus sexmaculatus

5. Capung (Orthetrum sabina)


Menurut (Drury, 1770)
Kingdom

: Animalia

Phyllum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Odonata

Family

: Libellulidae Rambur

Genus

: Orthetrum Newman

Species

: Orthetrum sabina

6. Semut Hitam ( Dolichoderus thoracicus S.)


Menurut Kalshoven (1981)
Kingdom
Filum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
7.

: Animalia
: Arthropoda
: Hexapoda
: Hymenoptera
: Formicidae
: Dolichoderus
: Dolichoderus thoracicus S.

Helen (Abisara neophron)


Menurut Mastrigt (2005)
Kingdom

: Animalia

Divisi

: Rhopalocera

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Lepidoptera

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Famili

: Riodinidae

Genus

: Abisara

Spesies

: Abisara neophron

B. Data Penyakit pada Lahan PHT Jambu Kristal


Dari hasil praktikum lapang yang telah dilakukan di Bumiaji pada lahan
PHT jambu kristal didapatkan data penyakit yang ditemukan pada lahan tersebut
yaitu sebagai berikut :
Tabel 5 : Penyakit yang Ditemukan di Lahan
No.

Dokumentasi

Nama
Penyakit

1.

Keterangan
Gejala serangan ditandai
dengan munculnya bercak
bulat berwarna kecoklatan
pada buah. Bercak semakin

Antraknosa

lama semakin membesar,


menyatu, dan muncul bercak
kehitaman dengan bagian
tengah berwarna putih dan
spora yang berwarna
kemerahan.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

2.
Gejala permukaan daun
Embun Jelaga

terdapat lapisan berwarna

(Capnodium

hitam. Selaput hitam terbentuk

citri)

dari hifa yang menjalin.

Karat daun

Bercak merah seperti gosong

(Phakospora

dan keluar serbuk hitam seperti

pachyrhizi)

tepung

3.

Penyakit yang ditemukan di lahan yang menyerang tanaman jambu kristal


pada lahan PHT adalah penyakit antraknosa, penyakit karat daun (Phakospora
pachyrhizi) dan embun jelaga (Capnodium citri). Pada penyakit antraknosa
menyerang pada bagian buah sedangkan penyakit embun jalaga menyerang pada
bagian daun ditandai dengan permukaan daun yang berwarna hitam serta
ditemukan karat daun yang tandai dengan permukaan daun seperti berkarat
berwarna hitam kekuning-kuningan.
Persentase penyakit yang paling banyak ditemukan di lahan jambu kristal
PHT adalah penyakit embun jalaga namun tidak ditemukan di seluruh tanaman
hanya satu tanaman yang terserang parah penyakit ini. Sedangkan penyakit
antraknosa, dan karat daun persentase penyakitnya kecil.
Data Penyakit PHT
Tabel 6: Serangan Intensitas Penyakit dengan Konsep PHT
Sampel
Tanaman
1
2
3
4

0
320
363
150
205

1
19
24
14
14

Skor Penyakit (v)


2
3
5
17
17
8
5
0
8
10

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

N
4
21
15
0
9

382
427
169
246

5
6
7
8
9
10

20
172
263
220
220
344

37
9
24
19
11
10

24
11
9
12
9
26

69
0
15
21
18
9

143
0
6
25
0
13

293
192
317
297
258
402

Perhitungan :

Tanaman 1
(n v)
I = z n 100%

( 320 0 ) + ( 19 1 ) + ( 5 2 ) + ( 17 3 ) + ( 21 4 )
100
=
4 382

= 10,7%

Tanaman 2
(n v)
I = z n 100%

( 363 0 ) + ( 24 1 ) + ( 17 2 )+ ( 8 3 ) + ( 15 4 )
100 = 8.31%
=
4 427

Tanaman 3
(n v)
I = z n 100%
=

Tanaman 4
(n v)
I = z n 100%
=

( 205 0 ) + ( 14 1 ) + ( 8 2 )+ (10 3 ) + ( 9 4 )
100
4 246

=9,75%

Tanaman 5
(n v)
I = z n 100%
=

( 150 0 ) + ( 14 1 ) + ( 5 2 ) + ( 0 3 ) + ( 0 4 )
100 = 3.71%
4 169

( 20 0 ) + ( 37 1 ) + ( 24 2 )+ ( 69 3 ) + ( 143 4 )
100
4 293

Tanaman 6

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

= 73,7%

I =

(n v)
z n 100%

( 172 0 )+ ( 9 1 ) + ( 11 2 ) + ( 0 3 )+ ( 0 4 )
100
=
4 192

Tanaman 7
(n v)
I = z n 100%
=

=8,72%

( 220 0 ) + ( 19 1 ) + ( 12 2 )+ ( 21 3 ) + ( 25 4 )
100
4 297

=18.59%

Tanaman 9
(n v)
I = z n 100%
=

( 263 0 ) + ( 24 1 ) + ( 9 2 )+ ( 15 3 ) + ( 6 4 )
100
4 317

Tanaman 8
(n v)
I = z n 100%
=

= 4,03%

( 220 0 ) + ( 11 1 ) + ( 9 2 ) + ( 18 3 )+ ( 0 4 )
100
4 258

= 10.01%

Tanaman 10
(n v)
I = z n 100%
=

( 344 0 ) + ( 10 1 ) + ( 26 2 )+ ( 9 3 ) + ( 13 4 )
100
4 402

= 8.78%

Hasil yang diperoleh dari perhitungan yang telah dilakukan yaitu pada
tanaman 1 intensitas serangannya adalah 10,7% ; pada tanaman 2 intensitas
serangannya adalah 8,31% ; pada tanaman 3 intensitas serangannya adalah
3,71% ; pada tanaman 4 intensitas serangannya adalah 9,75% ; pada tanaman 5
intensitas serangannya adalah 73,7% ; pada tanaman 6 intensitas serangannya
adalah 4,03% ; pada tanaman 7 intensitas serangannya adalah 8,72% ; pada
tanaman 8 intensitas serangannya adalah 18,59% ; pada tanaman 9 intensitas

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

serangannya adalah 10,01% ; pada tanaman 10 intensitas serangannya adalah


8,78% .
Dari perhitungan intensitas penyakit didapatkan hasil intensitas yang
paling tinggi pada tanaman ke 5 dan tanaman 8 dengan intensitas masing- masing
73,7% dan 18,59% selain itu intensitas penyakit cuma sekitar sampai 10%. Hal
tersebut karena pada tanaman ke 5 terserang penyakit embun jalaga yang sudah
hampir menyerang seluruh bagian tanaman terutama bagian daunnya.
Data Penyakit pada Lahan Non PHT Jambu Kristal
Dari hasil praktikum lapang yang telah dilakukan di Bumiaji pada lahan
non PHT jambu kristal didapatkan data penyakit yang ditemukan pada lahan
tersebut yaitu sebagai berikut :
Tabel 7: Hasil Pengamatan Penyakit Non-PHT
N
Dokumentasi
Nama penyakit
o

Karat daun
1

Gejala

Bercak merah dan

(Phakospora

keluar serbuk

pachyrhizi)

seperti tepung

Permukaan daun
terdapat lapisan

berwarna hitam
Lapisan hitam
membuat

Embun jelaga

temperatur pada

(Capnodium citri)

permukaan daun

semakin tinggi
Temperature
tinggi, daun layu
dan cepat gugur

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Dari Tabel dapat dilihat bahwa penyakit yang menyerang tanaman jambu
kristal dengan perlakuan non-PHT adalah karat daun (Phakospora pachyrhizi) dan
embun jelaga (Capnodium citri). Hal ini diperlihatkan oleh gejala bercak merah
dan keluar serbuk seperti tepung pada daunnya sehingga diidentifikasi bahwa
penyakit tersebut adalah karat daun. Gejala yang lain adalah adanya lapisan hitam
pada permukaan daun yang menyebabkan temperatur pada daun semakin tinggi
dan akhirnya daun menjadi layu serta cepat gugur sehingga diidentifikasikan
sebagai penyakit embun jelaga.
Data Penyakit Non-PHT
Tabel 8 : Hasil Perhitungan Intensitas Penyakit Non-PHT
Tanaman
ke-

Skor
0
250
515
108
280
405
278
365
367
335
387
246

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

1
105
110
19
62
20
79
40
14
60
52
105

2
75
25
0
30
25
69
12
4
68
20
15

Total
Daun
3
25
0
0
0
11
6
28
7
20
8
0

4
0
0
0
8
15
15
11
6
17
4
12

Perhitungan :

Tanaman 1

I =
=

(n v)
z n 100%

( 250 0 ) + ( 105 1 ) + ( 75 2 ) + ( 25 3 ) + ( 0 4 )
100
4 500

=16.5%

Tanaman 2

(n v)
I = z n 100%

( 515 0 ) + ( 110 1 ) + ( 25 2 ) + ( 0 3 ) + ( 0 4 )
100
=
4 650

Tanaman 3

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

=4.44%

500
650
127
380
476
447
447
398
500
471
378

I =

(n v)
z n 100%

( 108 0 ) + ( 19 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+ ( 0 4 )
100 = 3.71%
=
4 127

Tanaman 4

I =
=

(n v)
z n 100%

( 280 0 ) + ( 62 1 ) + ( 30 2 ) + ( 0 3 ) + ( 8 4 )
100 =10.13%
4 380

Tanaman 5

(n v)
I = z n 100%
=

( 405 0 ) + ( 20 1 ) + ( 25 2 )+ (11 3 ) + ( 15 4 )
100 = 8.56%
4 476

Tanaman 6

I =
=

( 278 0 ) + ( 79 1 ) + ( 69 2 ) + ( 6 3 )+ (15 4 )
100 =16.49%
4 447

Tanaman 7

I =
=

(n v)
z n 100%

(n v)
z n 100%

( 365 0 ) + ( 40 1 ) + ( 12 2 ) + ( 28 3 )+ (11 4 )
100 =8.99%
4 456

Tanaman 8

(n v)
I = z n 100%

( 367 0 ) + ( 14 1 ) + ( 4 2 ) + ( 7 3 ) + ( 6 4 )
100 =4.2%
=
4 398

Tanaman 9

I =
=

(n v)
z n 100%

( 335 0 ) + ( 60 1 ) + ( 68 2 ) + ( 20 3 )+ (17 4 )
100 =16.13%
4 500

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Tanaman 10

I =
=

(n v)
z n 100%

( 387 0 ) + ( 52 1 ) + ( 20 2 ) + ( 8 3 ) + ( 4 4 )
100 =7%
4 471

Tanaman 11

I =
=

(n v)
z n 100%

( 246 0 ) + ( 105 1 ) + ( 15 2 ) + ( 0 3 )+ (12 4 )


100
4 378

=12.10%

Serangan penyebab penyakit biotik (patogen) dapat mengakibatkan


terjadinya kerusakan pada tanaman. Tingkat kerusakan tanaman tersebut
dinyatakan dalam suatu nilai atau angka yang disebut intensitas penyakit.
Penghitungan intensitas penyakit didasarkan pada data yang didapatkan dari
pengamatan gejala penyakit.
Untuk menghitung intensitas serangan penyakit pada tanaman jambu
kristal tersebut, diambil sampel 11 tanaman dari seluruh tanaman yang ada.
Kemudian perhitungan dilakukan dengan menggunakan skala deskriptif (skor
penyakit). Skala deskriptif adalah angka yang menggambarkan tingkat kerusakan
tanaman atau bagian tanaman oleh penyakit. Skala ini diperoleh dengan membagi
gejala penyakit dalam beberapa kategori atau kelas, dari mulai bebas penyakit
sampai penuh dengan penyakit. Tabel 4 merupakan hasil pengamatan intensitas
serangan penyakit pada lahan non-PHT jambu kristal dengan pemberian skor
penyakit.
Hasil yang diperoleh dari perhitungan yang telah dilakukan yaitu pada
tanaman 1 intensitas serangannya adalah 16,5% ; pada tanaman 2 intensitas
serangannya adalah 4,44% ; pada tanaman 3 intensitas serangannya adalah
3,71% ; pada tanaman 4 intensitas serangannya adalah 10,13% ; pada tanaman 5
intensitas serangannya adalah 8,56% ; pada tanaman 6 intensitas serangannya
adalah 16,49% ; pada tanaman 7 intensitas serangannya adalah 8,99% ;

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

pada tanaman 8 intensitas serangannya adalah 4,2% ; pada tanaman 9 intensitas


serangannya adalah 16,13% ; pada tanaman 10 intensitas serangannya adalah 7%
dan pada tanaman 11 intensitas serangannya adalah 12,10%. Dengan demikian,
dari 11 tanaman tersebut intensitas serangan tertinggi ada pada tanaman pertama
yaitu 16,5%.
Pada lahan PHT menggunakan sampel 10 tanaman dari seluruh tanaman
yang ada. Dari sampel tersebut diperoleh intensitas penyakit tertinggi ada pada
tanaman ke-5 yaitu 73,7%. Sedangkan di lahan non PHT menggunakan sampel 11
tanaman dengan intensitas serangan tertinggi ada pada tanaman pertama yaitu
16,5%. Dalam hal ini terlihat bahwa intensitas penyakit pada lahan PHT lebih
tinggi dibandingkan intensitas penyakit pada lahan non PHT. Namun secara
umum lahan non PHT lebih banyak terserang penyakit dibandingkan lahan PHT.
Hal ini disebabkan karena pada lahan PHT hanya satu tanaman yang terserang
parah oleh penyakit sehingga intensitas serangan tertinggi ada pada tanaman
tersebut. Sedangkan pada lahan non PHT hampir seluruh tanaman yang dijadikan
sampel terserang penyakit meskipun dengan intensitas yang kecil.
Dalam pengendalian hama penyakit terpadu menurut Adang (2009) ada
empat prinsip PHT yaitu: (1) budidaya tanaman sehat, (b) pelestarian musuh
alami, (c) pengamatan agroekosistem secara rutin, dan (d) petani menjadi ahli
PHT dan manajer di kebunnya.
4.2.3 Aspek Tanah
a. PHT
1

Biodivertias Tanaman (Biologi)

Keanekaragaman jenis dan perakaran


Lahan yang diamati dilapangan merupakan lahan yang digunakan untuk
budidaya jambu kristal. Jambu Kristal ini juga merupakan komoditas utama
tanpa adanya tanaman pendamping atau merupakan lahan budidaya
monokultur. Untuk perakaran sendiri, Jambu Kristal merupakan tanaman yang
memiliki tipe perakaran dalam mengingat tanaman tersebut merupakan
tanaman berkayu. Jadi, bisa disimpulkan bahwa jenis perakaran jambu kristal

adalah akar tunggang.


Mikroorganisme Tanah (Cacing dan Non Cacing)

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Pada saat pengamatan dilapangan, tidak ditemukan organisme dalam tanah


pada setiap bedengan pengamatan. Cacing tanah merupakan salah satu fauna
tanah yang berperan sangat besar dalam perbaikan kesuburan tanah dengan
menghancurkan secara fisik pemecahan bahan organik menjadi humus,
menggabungkan bahan yang membusuk pada lapisan tanah bagian atas, dan
membentuk kemantapan agregat antara bahan organik dan bahan mineral
tanah (Muys. 1997).Cacing tanah adalah fauna yang memanfaatkan tanah
sebagai habitat atau lingkungan yang mendukung aktifitas biologinya.
Terdapat beberapa fauna tanah pada bedengan satu yaitu semut hitam,
keong dan laba-laba.
c

Total seresah dan understorey di permukaan


Tabel 9 : Total seresah dan understorey di permukaan
Frame
BB (gr)
BKO (gr)
Seresah 1
14,2
8,6
Seresah 2
65,8
49,9
Under Storey 1
288,2
34,5
Under Storey 2
195,5
39,6
Menurut Hauriah Kurniatun dkk (2004) tanah-tanah pertanian di
daerah tropik basah umumnya memiliki kandungan bahan organik yang sangat
rendah di lapisan atas. Pada tanah yang masih tertutup vegetasi permanen
(hutan), umumnya kadar bahan organik di lapisan atas masih sangat tinggi.
Perubahan hutan menjadi lahan pertanian mengakibatkan kadar BOT menurun

dengan cepat. Hal ini antara lain disebabkan oleh beberapa alasan:
Pelapukan (dekomposisi) bahan organik berlangsung sangat cepat, sebagai

akibat tingginya suhu udara dan tanah serta curah hujan yang tinggi.
Pengangkutan bahan organik keluar tanah bersama panen secara besar-besaran
tanpa diimbangi dengan pengembalian sisa-sisa panen dan pemasukan dari
luar, sehingga tanah kehilangan potensi masukan bahan organik. Menurunnya
kandungan BOT ini sangat mudah dikenali di lapangan antara lain tanah
berwarna pucat dan padat.
Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan dilapangan yang kondisi
tanahnya kering dan keras serta berwarna pucat. Sehingga dapat di indikasikan
jika tanah tersebut memiliki kandungan bahan organik tanah yang tidak terlalu
tinggi. Hal ini diduga karena kondisi dari seresah yang tidak mudah lapuk
akibat tidak adanya organisme dekomposer.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Pada lahan budidaya Jambu Kristal ditemukan beberapa understorey


pada plot pengamatan. Jenis understory yang ditemukan merupakan jenis
tanaman liar seperti rumput teki dan rumput grinting.
Tetapi saat dilapangan understory tersebut diidentifikasi tidak terlalu
mengganggu tanaman utama pada lahan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari
kondisi tanaman utama yang berupa jenis pohon berkayu. Fungsi tanaman
bawah adalah untuk menahan daya perusak butir butir hujan yang jatuh dan
derasnya aliran air di atas permukaan tanah, karena tumbuhan bawah
menambah bahan organik tanah dan melakukan transfer yang memperbesar
kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan aliran air hujan yang jatuh.
Menurut Aprianis (2011), Faktor penyebab jumlah seresah berbeda
beda disebabkan secara umum terjadi karena penambahan biomassa seresah
seiring dengan penambahan umur pohon dan kerapatan tajuk. Kerapatan tajuk
atau tegakan merupakan factor yang mempengaruhi jatuhnya seresah hutan
karena adanya persaingan untuk mendapatkan sinar matahari. Semakin rapat
suatu tegakan atau tajuk akan menghasilkan jumlah seresah yang lebih banyak
karena pohon pohon yang tumbuh yang agak rapat lekas melepaskan cabang
cabang dan daun daun mulai dari bawah, sebab cahaya tidak cukup
baginya untuk proses fotosintesis. Selain faktor penambahan umur pohon dan
kerapatan tajuk seresah juga dipengaruhi jatuhan seresah baik jumlah maupun
kualitasnya dipengaruhi oleh factor lingkungan (iklim, ketinggian, kesuburan
tanah), jenis tanaman dan waktu (musim dan umur tegakan).
Produktifitas seresah juga dipengaruhi oleh vegetasi dan curah hujan.
Curah hujan mempengaruhi fisiologi vegetasi karena semakin tinggi curah
hujan maka semakin rendah guguran daun, ranting, bunga dan buah, pada saat
curah hujan tinggi kelembaban akan meningkat maka penguapan daun akan
menurun sehingga daun tetap segar dan tidak mudah gugur.
2

Kepadatan Tanah (Fisika)


Tabel 10 : Tabel Kepadatan Tanah (Fisika)
Diameter

Tinggi

Berat

Ring
5 cm

Ring
5,5 cm

Total
130,61
gr

BB

BKO

Cawa

70,6

60,2

n
4,48

5 gr

2 gr

gr

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Berat Labu (a)

Berat Labu + Tanah

Berat Labu + Tanah + Air

50,76 gr

(b)
70,76 gr

(c)
162,37 gr

Perhitungan :

Berat Isi dan Berat Jenis


Dari perhitungan di atas didapatkan volume tanah 107,93 cm3 volume
tanah merupakan volume tanah yang ada di dalam ring sampel yang
digunakan untuk sampel, sedangkan pada kadar air pada tanah yang di ambil
sampel adalah 0,18 kg/kg dari selisih berat basah dengan berat kering oven
dibagi dengan selisi berat kering oven dengan cawan.
Nilai BI dan BJ dari lahan tersebut, berdasarkan hasil laboratorium
pada hari Selasa, tanggal 26 Mei 2015 di lab Fisika Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya, di dapat nilai dari berat isi 1,02 gr/cm3 dan berat
jenisnya 2,38 gr/cm3. Sedangkan porositas tanah sampel yang di dapat adalah
58% dan kadar air ialah 0,18. Dari hasil tersebut ditarik kesimpulan bahwa
lahan tersebut cukup kering dengan kadar air yang rendah

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Sedangkan untuk BJ tanah, menurut literatur, menyatakan bahwa keadaan tanah


secara umum nila Bj antara 2,6-2,7 g/m3sedangkan yang ada di lahan 2,38 gr/cm3
nilai tersebut hampir sama meskipun ada dibawahnya. Bila semakin banyak
kandungan BO, maka nilai BJ semakin kecil. berat jenis adalah perbandingan massa
total dari partikel padatan dengan total volume yang di dalamnya tidak
termasuk ruang pori yang ada. Berat jenis berhubungan dengan bahan organik.
Apabila bahan organik selama tinggi maka berat jenis akan semakin rendah.
Menurut Hardjowigeno dan Sarnono (1992) Berat isi adalah perbandingan antara
massa tanah dengan volume partikel ditambah dengan ruang pori yang berada
diantaranya
Widiarto

(2008)

menyatakan

bahwa,

Bahan

organik

dapat

menurunkan BI dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu merupakan
tanah yang memiliki bahan organik tanah sedang sampai tinggi. Selain itu,
Nilai BI untuk tekstur berpasir antara 1,5 1,8 g / m3, Nilai BI untuk tekstur
berlempung antara 1,3 1,6 g / m3 dan Nilai BI untuk tekstur berliat antara
1,1 1,4 g / m3 merupakan nilai BI yang dijumpai pada tanah yang masih
alami atau tanah yang tidak mengalami pemadatan.
Faktor yang mempengaruhi berat isi tanah adalah struktur tanah, pengolahan tanah,
bahan organik,dan agregasi tanah.Sedangkan faktor yang mempengaruhi berat jenis tanah
adalah tekstur tanah dan bahan organik tanah.
b

Porositas
Pori pori tanah dapat dibedakan menjadi pori mikro, pori meso dan
pori makro. Pori-pori mikro sering dikenal sebagai pori kapiler, pori meso
dikenal sebagai pori drainase lambat, dan pori makro merupakan pori drainase
cepat. Hal tersebut ditunjukkan pada porositas pengamatan PHT yaitu 58%. .
Akan tetapi dengan porositas 58%, infiltrasi tanah cukup besar dan kehilangan
air tanah juga cukup tinggi akibat kemampuan lahan untuk mempertahankan
air cukup rendah.

Keseimbangan Hara (Kimia)


Tabel 11 : Tabel Keseimbangan Hara (Kimia)
ml blanko

ml sample

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

7 ml

5,3 ml

C-organik
Derajat

Kemasaman

(pH)
Potensial Redoks (eH)
Daya Hantar Listrik

1,71%
6,0
59,3 mV
0,20 ms

(eC)

Tanah merupakan tubuh alam yang bebas yang tersusun oleh komponen
organik maupun anorganik. Diseluruh permukaan bumi terdapat beraneka
macam tanah mulai dari yang paling gersang sampai yang paling subur. Mulai
dari warna yang paling gelap himgga yang warna cerah. Keanekaragaman
tanah itu memiliki sifat dan kandungan yang berbeda dalam komponennya.
Antara lain sifat kimia yang merupakan komponen inti dalam tanah. tanah satu
dengan

yang

lain

memiliki

perbedaan

sifat

kimia

yang

tentunya

mempengaruhi tingkat kesuburan dalam tanah tersebut. Kesuburan itu sendiri


pada akhirnya erat kaitannya dengan pertumbuhan suatu tanaman.Untuk
mempermudah mengkaji dan menganalisisa keadaan itu maka diperlukan
kemampuan untuk mengenal beragam komponen kimia dalam masing-masing
jenis tanah.
a

pH Tanah
Pada sampel tanah daerah Bumiaji pH tanah cenderung netral yaitu 6,0.
Ini menujukan tanah tidak butuh dilakuakan pengapuran karena kandungan
pH tanah sudah sesuai untuk pertumbuhan optimal budidaya jambu Kristal.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Potensial Redoks (eH)


Potensial redoks (Eh) merupakan indeks yang menyatakan kuantitas
elektron dalam suatu sistem. Potensial redoks juga dipengaruhi oleh aktivitas
mikro organisme, dimana menurut Yoshida (1978), aktivitas mikro organisme
tidak hanya mempengaruhi proses transformasi senyawa-senyawa organik dan
anorganik, tetapi juga mempengaruhi kemasaman dan potensial redoks tanah.
Nilai eH pada lahan Bumiaji PHT yaitu 59,3 termasuk status potensial redoks
rendah.

Daya Hantar Listrik (eC)


Pada lahan Bumiaji PHT nilai eC yang didapat adalah 0,20. Tanah
dengan nilai eC dibawah 4 termasuk tanah normal.nilai EC berpengaruh
terhadap proses serapan air dan unsur hara oleh akar untuk pertumbuhan
tanaman. Tingkat garam terlarut yang tinggi dalam tanah dapat menyebabkan
reaksi osmosis dan hidrolisis terhadap akar tanaman.. Kondisi ini
menunjukkan bahwa kadar garam dalam tanah tidak berpengaruh bagi
pertumbuhan tanaman.

Bahan Organik dan C-organik


Peran bahan organik yang paling besar terhadap sifat fisik tanah
meliputi : struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat air, dan yang tidak
kalah penting adalah peningkatan ketahanan terhadap erosi.
Untuk % Bahan organik sendiri berhubungan dengan adanya Corganik, sebab % Bahan organik dapat dihitung menggunakan hasil dari % Corganik. % Bahan organik pada perlakuan PHT dihasilkan 2,94%. Bahan
organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk
mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun,
kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun.
B. Non PHT
Hasil Pengukuran Kondisi Tanah
Aspek Biologi
Dari pengamatan yang dilakukan ditemukan beberapa jenis makrofauna
yang ada di dalam tanah, seperti cacing. Selain itu, ditemukan juga
kascing. Vegetasi yang ada di daerah bumiaji adalah jambu kristal.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Biologi Tanah
1. Cacing
: Frame I : 1 ekor (Kedalaman : 0 - 7 cm)
Frame II : 2 ekor (Kedalaman : 7 20 cm)
2. Kascing : Frame I : 6,9 g
Frame II : 11,8 g
Sebelum dioven
Frame I : 9,6 g
Frame II : 5,6 g
Setelah dioven
BK subcontoh ( g )
BK =
Total BB ( g )
Frame I :
BB subcontoh ( g )

Frame II

9,6
6,9=9,59
6,9
BK =

BK subcontoh ( g )
Total BB ( g )
BB subcontoh ( g )
5,6
11,8=5,6
11,8

3. Understory :
Frame I
Total BK ( g ) =

Total BK =

Total BK ( g ) =

BK subcontoh ( g )
Total BB( g)
BB subcontoh ( g )

16,7
86,1=16,69 gram
86,1

Frame II

BK s ubcontoh ( g )
Total BB ( g )
BB subcontoh ( g )
Total BK =

21,1
98,7=21,09 gram
98,7

4. Seresah :
Frame I
Total BK ( g ) =

BK subcontoh ( g )
Total BB( g)
BB subcontoh ( g )

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Total BK =

Total BK ( g ) =

8,2
18,6=8,19 gram
18,6

Frame II

BK subcontoh ( g )
Total BB( g)
BB subcontoh ( g )
Total BK =

2
98,7=1,99 gram
98,7

5. Ketebalan Seresah
Tabel 12 : Hasil Pengukuran Ketebalan Seresah
Frame 1
1 cm

Frame 2
14 cm

Aspek Fisika

Fisika Tanah
1. Perhitungan Bobot Isi
Tabel 13 : Tabel Perhitungan Bobot Isi
Diameter

Panjang

Berat

( cm )

( cm )

Total

1.

4,9

4,7

164,4

79,49

2.

4,7

5,7

166,8

62,59

Titik

Massa Total
Tb + C To + C

BI
C

( g / cm3 )

63,84

9,93

0,01 gram / gram

31,93

4,74

0,12 gram / gram

Keterangan :
Tb

: Berat Basah Tanah sebelum di Oven

To

: Berat Kering Tanah setelah di Oven

: Berat Cawan tempat peletakkan tanah

Kadar Air
1. KA =

Massa Air ( Tb+C ) ( +C)


Massa Padatan( )

79,4963,84
63,849,93

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

=
2. KA =
=

15,65
53,91

= -38,26 gram / gram100= -3,826

Massa Air ( Tb+C ) ( +C)


Massa Padatan( )
30,66
27,19

62,5931,93
31,934,74

= 1,12 gram / gram

Vt ( Volume Tanah ) :
1. Vt = 2r x tinggi tabung
= 3,14 x (2,45)2 x 4,7 = 88,58 cm
2. Vt = 2r x tinggi tabung
=3,14 x (2,35)2 x 5,7 = 98,84 cm
Berat Isi :
1. Frame I =
=
2. Frame I =
=

massa padatan
/vt =
1+ KA
63,849,93
1+(38,26)

( + c )( c)
1+ KA

53,91
/88,58 = 39,26 /88,58=-1,44/88,58= 0,01

massa padatan
/vt =
1+ KA

( + c )( c)
1+ KA

31,934,74
1+(1,12)

27,19
2,12 /98,84= 0,12

/98,84 =

2. BJ (Berat Jenis)
Tabel 14 : Perhitungan Bobot Jenis Tanah
Titik 1
Kelas

Labu

Labu + To

Labu + To + 100 ml

Bobot Jenis

E2, F2, G2, H2, I2

54,2 gr

74,2 gr

164,4 gr

2,040 gr/cm3

Ket : To adalah tanah yang telah dioven. Pada praktikum ini digunakan 20 gr To.

Rumus Bobot Jenis :


Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Labu+T 0+100 mlLabu+


100
Bobot Jenis =
( Labu+ )Labu

Bobot Jenis =

Labu+T 0+100 mlLabu+


100
=
( Labu+ )Labu

20
9,8

74,254,2
100(164,474,2)

= 2,040 gr / cm3

Tabel 15 : Perhitungan Bobot Jenis Tanah


Titik 2
Kelas

Labu

Labu + To

Labu + To + 100 ml

Bobot Jenis

E2, F2, G2, H2, I2

55,97 gr

75,97 gr

166,8 gr

2,181 gr/cm3

Rumus Bobot Jenis :


Labu+T 0+100 mlLabu+
100
Bobot Jenis =
( Labu+ )Labu

Bobot Jenis =

Labu+T 0+100 mlLabu+


100
=
( Labu+ )Labu

20
90,83

a. % Porositas
% Porositas = 1 X

= 2,181 gr / cm3

Bobot Isi
Bobot Jenis

1. % Porositas = 1 X

75,9755,97
100(166,875,97)

X 100 %

Bobot Isi
Bobot Jenis

X 100 % = 1 X

X 100 % = 0,49 %

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

0,01 gr /cm 3
2,040 gr /cm 3

2. % Porositas = 1 X

Bobot Isi
Bobot Jenis

X 100 % = 1 X

0,12 gr /cm3
2,181 gr /cm3

X 100 % = 5,5 %

Aspek Kimia (Kimia Tanah)

Frame I

COrganik=

(ml blangkoml sample)3 100+%KA

ml blangko 0,5
100

COrganik=

(74,2) 3 100+(3,826)

7 0,5
100

8,4 61,74

3,5 100

2,4 0,6174=1,48

%Bahan organik=

100
%COrganik
58

Frame II

COrganik=

100
1,48=2,55
58

(ml b langkoml sample) 3 100+%KA

ml blangko0,5
100

COrganik=

(74,2) 3 100+112

7 0,5
100

8,4 100+1,12

3,5
100

2,4 1,0112=24,26

%Bahan organik=

100
%COrganik
58

100
24,26=41,82
Ph = 5,3
58

1. Dari segi kimia tanah


a. Bahan organik tanah
Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman
dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

kembali. Pada lahan pertanian di Bumiaji, terdapat seresah daun yang


merupakan sumber bahan organik. Menurut Widiarti (2008) tanah yang sehat
memiliki kandungan bahan organik di Bumiaji pada frame I adalah 2,55% dan
pada frame II adalah 41,82%. Jadi dapat diketahui bahwa tanah daerah
Bumiaji tidak sehat.
b. PH tanah
pH tanah di daerah Bumiaji 5,3 hal ini disebabkan karena banyaknya
seresah yang mana seresah tersebut akan menjadi BO dan BO dapat
menurunkan pH karena bersifat asam. Tanah bersifat masam disebabkan
karena berkurangnya Kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium.
Tetapi dengan pH yang masam, belum tentu kebutuhan tanaman terhadap
tanah tidak cocok, hal itu tergantung pada jenis tanamannya.
2. Dari segi Fisika Tanah
Widiarto (2008) menyatakan bahwa, Bahan Organik dapat menurunkan
BI, dan tanah yang memiliki nilai BI <1 merupakan tanah yang memiliki
Bahan Organik sedang sampai tinggi. Nilai BI untuk tekstur berpasir antara
1,5-1,8 g/m3, sedangkan tanah bertekstur lempung antara 1,3-1,6 g/m3, dan
tekstur berliat antara 1,1-1,4 g/m3. Bobot isi tanah di lahan jambu kristal di
daerah Bumiaji

<1 pada frame I diperoleh -0,01g/m dan pada frame II

diperoleh 0,12 g/m. Pada frame yaitu 1,345 g/m2. Hal ini dikarenakan bahan
organik yang terkandung dalam tanah di Bumiaji, masih sangat rendah.
Sedangkan untuk BJ tanah, menyatakan bahwa keadaan tanah secara
umum nilai BJ antara 2,6-2,7 g/m3. Bila semakin banyak kandungan BO, maka
nilai BJ semakin kecil. Pada desa Bumiaji, nilai BJ pada frame I adalah 2,040
g/m3 dan frame II yaitu 2,181 g/cm3. Berarti didaerah tersebut masih belum
normal.
3. Dari segi Biologi
a. Keanekaragaman biota dan fauna tanah yang ditunjukkan dengan adanya
cascing

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Biota tanah memiliki peranan penting dalam siklus hara didalam


tanah. Sehingga dalam jangka panjang dapat sangat mempengaruhi
keberlanjutan produktifitas lahan. Salah satu biota tanah yang paling
berperan yaitu cacing tanah. Cascing (pupuk organik bekas cacing)
mempunyai kadar hara N,P, dan K 2,5 kali kadar hara bahan organik
semula, serta meningkatkan porositas tanah (pori total dan pori drainase
cepat meningkat 1,15 kali). Pada lahan pertanian daerah Bumiaji,
ditemukan kascing pada frame I yaitu 9,5 gr dan pada frame II yaitu 5,6 gr.
Menurut Hairiah (2004), kotoran cacing kaya akan karbon (C) dan hara
lainnya. Sehingga dapat diketahui bahwa daerah di Bumiaji kandungan
karbon (C ) tinggi.

Perbandingan antara Lahan PHT dan Non PHT dari Aspek Tanah
a. pH Tanah
Pada lahan PHT didapat nilai pH sebesar 5,3 sedangkan dilahan non PHT
nilai pH yang didapat adalah 6,0. pH tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor
termasuk lima faktor pembentuk tanah ditambah musim tanam, pola tanam, kadar
air data waktu pengambilan contoh tanah dan cara penentuan pH. pH adalah
faktor yang penting dalam budidaya karena mempengaruhi pertumbuhan tanaman
budidaya. pH yang paling cocok pertumbuhan tanaman jambu kristal berkisar 5,5
6,5, jika dibawah 4,0 maka pertumbuhan jambu kristal menjadi tidak bagus.
sehingga dapat disimpulkan pH yang mendukung pertumbuhan tanaman jambu
kristal terletak di lahan Bumiaji PHT.
b. C-Organik dan Bahan Organik
Syarat tanah sebagai media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia yang
baik. Keadaan fisik tanah yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan akar
tanaman dan mampu sebagai tempat aerasi dan lengas tanah, yang semuanya
berkaitan dengan peran bahan organik. Peran bahan organik yang paling besar
terhadap sifat fisik tanah meliputi : struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat
air, dan yang tidak kalah penting adalah peningkatan ketahanan terhadap erosi.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Pada perlakuan PHT dihasilkan bahan organik yaitu 2,94% sedangkan pada
non PHT yaitu 2,55% termasuk dalam kriteria tinggi hal ini sesuai dengan tabel
kriteria kandungan bahan organik pada tanah yang menyatakan bahwa kandungan
bahan organik antara 2-4 % termasuk dalam kriteria tinggi. Sehingga dapat
disimpulkan Bahan organik pada perlakuan PHT dan non PHT tidak jauh berbeda
sama-sama mengandung bahan organik yang tinggi.
c. Berat Isi dan Berat Jenis
Widiarto (2008) menyatakan bahwa, Bahan organik dapat menurunkan BI
dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu merupakan tanah yang memiliki
bahan organik tanah sedang sampai tinggi.
Berdasarkan hasil laboratorium diketahui bahwa nilai BI pada lahan PHT
yaitu 1,02 gr/cm3 termasuk cukup, sedangkan lahan non PHT yaitu 0,01gr/cm 3.
Sehingga untuk hasil BI yang sesuai dengan literatur adalah perlakuan non PHT.
Untuk berat jenis tanah menunjukkan kerapatan dari partikel kepadatan tanah.
Dari hasil perhitungan berat jenis yang di dapat diperoleh nilai BJ pada
pengamatan PHT sebesar 2,38 gr/cm3 pada pengamatan Non PHT sebesar 2,04
gr/cm3.
d. Porositas
Pori pori tanah dapat dibedakan menjadi pori mikro, pori meso dan pori
makro. Pori-pori mikro sering dikenal sebagai pori kapiler, pori meso dikenal
sebagai pori drainase lambat, dan pori makro merupakan pori drainase cepat. Hal
tersebut ditunjukkan pada porositas pengamatan PHT yaitu 58%, sedangkan Non
PHT 49%. Hasil penelitian sesuai dengan pendapat Soepardi dalam jurnal Elsa
(2013) menyatakan bahwa semakin halus tekstur tanah maka porositasnya akan
semakin kecil. Sehingga pada pengamatan lahan PHT porositas masih belum
termasuk tinggi dan hal tersebut dapat mendukung kesuburan tanahnya gembur
memiliki rongga atau pori-pori yang banyak maka penyerapan air akan baik atau
cepat.
e. Ketebalan Seresah
Serasah adalah lapisan tanah bagian atas yang terdiri dari bagian tumbuhan
yang telah mati seperti guguran daun , ranting dan cabang, bunga dan buah, kulit

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

kayu serta bagian lainnya, yang menyebar di permukaan tanah di bawah hutan
sebelum bahan tersebut mengalami dekomposisi.
Dari hasil laboratorium, berat seresah perlakuan PHT pada frame 1 yaitu 8,6gr
dan frame 2 yaitu 49,9. Sedangkan untuk perlakuan non PHT frame 1 yaitu 8,19gr
dan frame 2 yaitu 1,99gr
Ketebalan seresah memiliki hubungannya dengan bahan organik tanah.
Semakin tebal seresah maka bahan organik yang ada semakin banyak. Semakin
banyak bahan organik yang terkandung dalam tanah maka semakin subur tanah.
f. Mikroorganisme Tanah
Salah satu biota tanah yang paling berperan yaitu cacing tanah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah
melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologis tanah. Kascing (pupuk organik
bekas cacing atau campuran bahan organik sisa makanan cacing dan kotoran
cacing) mempunyai kadar hara N, P dan K 2,5 kali kadar hara bahan organik
semula, serta meningkatkan porositas tanah (pori total dan pori drainase cepat
meningkat 1,15 kali). Cacing jenis penggali tanah yang hidup aktif dalam tanah,
walaupun makanannya berupa bahan organik di permukaan tanah dan ada pula
dari akar-akar yang mati di dalam tanah. Kelompok cacing ini berperanan penting
dalam mencampur seresah.
Pada perlakuan non PHT terdapat tiga ekor cacing tanah, sedangkan untuk
perlakuan PHT tidak ditemukannya cacing tanah, tapi terdapat fauna lain seperti
laba-laba, semut hitam, dan keong.
4.3 Rekomendasi
a. Aspek BP
Berdasarkan hasil pengamatan, maka kami merekomendasikan bahwa
yang perlu diperbaiki adalah lahan non PHT, karena kurangnya
keberlanjutan dan stabilitas di lahan tersebut. Pada lahan non PHT
menggunakan pola tanam monokultur dan hanya memasang trap, serta
pembungkusan buah untuk mengendalikan hama. Cara perbaikannya
dengan meniru pola tanam pada lahan PHT yaitu melakukan tumpangsari
di lahan non PHT karena penanaman dengan pola tumpangsari akan
membuat lebih beragamnya vegetasi dan lebih banyak interaksi antar
Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

organisme. Selain itu, jika menggunakan pola tumpangsari dengan


tanaman

yang dapat menjebak serangga/tanaman barier dapat

menurunkan tingkat serangan hama.


b. Aspek HPT
Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi
pertanian agar produksi tetap optimal. Pengendalian OPT merupakan
usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menekan populasi OPT
sampai di bawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi. Kondisi
agroekosistem pada saat di lapang yaitu Desa Bumi Aji, kecamatan Bumi
Aji Kabupaten Malang termasuk dalam kondisi yang kurang sehat karena
pada lahan begitu banyak ditemukan hama dan banyak tanaman jambu
yang terserang hama. Kondisi agroekosistem terebut belum seimbang
dikarenakan populasi hama lebih mendominasi jauh dibandingkan dengan
musuh alami. Seharusnya jumlah populasi hama harus seimbang dengan
populasi musuh alami.
Campur tangan manusia seharusnya tidak terlalu banyak. Manusia
hanya bertugas untuk mengontrol adanya ambang ekonomi dari suatu
hama. Jika populasi musuh alami dibawah populasi hama, barulah
manusia turut andil dalam pengendalian OPT. Dengan tingkat kesadaran
yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang
berkelanjutan diperlukan cara yang tepat dan ramah lingkungan seperti
pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan hama yang ada di lahan.
Apabila dengan pemanfaatan musuh alami populasi hama masih tinggi,
dapat dilakukan penyemprotan pestisida nabati maupun kimia dengan
penggunaan yang tepat dosis.
Kondisi agroekosistem di lapang mempunyai topografi daerah yang
kurang bagus, kondisi lahan yang ada tidak terlalu terletak pada daerah
pegunungan sehingga pembentukan lahan untuk pertanian masih bisa
ditata secara baik. Pembentukan terasering yang seharusnya berlapis dari
atas ke bawah tetapi di lahan jambu Bumi Aji bentuk teraseringnya adalah
tidak teratur. Kondisi yang seperti itu biasanya sangat berpotensi terjadi
erosi ataupun longsor.
Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Adapun rekomendasi yang kami buat yaitu mengganti atau menambah


keragaman pada agroekosistem yang agar musuh alami efektif dan
populasinya meningkat dengan menyediakan inang alternatif dan mangsa
pada saat kelangkaan populasi inang, menyediakan pakan (tepung sari dan
nektar) parasitoid dewasa, menjaga populasi hama yang dapat diterima
pada waktu tertentu untuk memastikan kelanjutan hidup dari musuh alami.
Hal ini efektif untuk meningkatkan intensitas musuh alami sebagai
pengendali biologisnya. Strategi peningkatan musuh alami tergantung dari
jenis herbivora dan musuh-musuh alaminya, komposisi dan karakteristik
tanaman, kondisi fisiologis tanaman, atau efek langsung dari spesies
tanaman tertentu. Mekanisme-mekanisme alami seperti predatisme,
parasitisme, patogenisitas, persaingan intraspesies dan interspesies,
suksesi, produktivitas, stabilitas dan keanekaragaman hayati dapat
dimanfaatkan untuk mencapai pertanian berkelanjutan.
Budidaya tanaman monokultur juga dapat mendorong ekosistem
pertanian rentan terhadap organisme serangga hama. Salah satu pendorong
meningkatnya serangga pengganggu adalah tersedianya makanan terus
menerus sepanjang waktu dan di setiap tempat. Untuk mewujudkan
pertanian berkelanjutan maka tindakan mengurangi serangan hama melalui
pemanfaatan musuh alami serangga dan meningkatkan keanekaragaman
tanaman seperti penerapan tumpang sari, rotasi tanaman dan penanaman
lahan-lahan terbuka sangat perlu dilakukan karena meningkatkan stabilitas
ekosistem serta mengurangi resiko gangguan hama (Altieri & Nicholls,
1999).
c. Aspek Tanah
Dengan diperolehnya data dari praktikum ini tanah pada lahan PHT
termasuk lahan sehat dan tanah pada lahan non PHT tergolong tanah yang
belum sehat. dengan adanya data tersebut dapat direkomendasikan pada
lahan PHT dengan mempertahankan kualitas tanah dengan cara melakukan
perawatan secara optimal dan untuk lahan non PHT dengan kualitas tanah
yang belum memenuhi kualitas tanah yang baik maka perlu dikelola
dengan baik lagi. hal yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan
Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

pengelolaaan lahan penambahan bahan organik. penambahan bahan


organik bertujuan untuk memperbaiki sifat sifat tanah diantaranya pH
tanah dan kandungan bahan organik dalam tanah untuk mendukung
pertumbuhan tanaman. Tanah yang subur dan gembur dapat dicapai
dengan penggunaan pupuk organik karena fungsi pupuk organik
sangat penting dalam hal memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi
tanah.
Untuk mempertahankan tanah pada lahan PHT yang termasuk lahan
yang sehat dengan mempertahankan kualitas tanah dengan cara melakukan
perawatan

secara

optimal.

Perawatan

mempertahankannya kondisi

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

intensif

ditinjau

dari

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Lahan yang diolah oleh bapak Rahmad Hardianto merupakan jenis
perkebunan yang tergolong kedalam lahan PHT yang diolah dengan sistem
tanam tumpangsari. Sistem pengairan yang digunakan ialah irigasi teknis. Dari
data yang telah didapat, di lahan PHT dan non PHT dalam aspek BP lebih baik
pada lahan PHT sehingga kami merekomendasikan bahwa yang perlu diperbaiki
adalah lahan non PHT karena kurangnya keberlanjutan dan stabilitas di lahan
tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui kondisi agroekosistem pada
lahan PHT jambu Kristal memiliki keanekaragaman arthropoda yang banyak
sehingga keseimbangan ekosistem masih kurang baik. Kondisi ekologi di lahan
non-PHT dapat dikatakan tidak sehat sehingga diperlukan adanya penanganan
khusus dalam upaya pengembangan tindakan preemptif sehingga rekomendasi
yang kami buat yaitu mengganti atau menambah keragaman pada agroekosistem
Untuk aspek tanah, tanah pada lahan PHT termasuk tanah sehat dan tanah pada
lahan non PHT tergolong tanah yang belum sehat sehingga direkomendasikan
pada lahan PHT dengan mempertahankan kualitas tanah dan untuk lahan non PHT
perlu mengelola tanah dengan lebih baik lagi.
5.2 Saran terhadap Keberlanjutan Agroekosistem
Harapan kedepan kami adalah tetap terjaganya keseimbangan ekosistem
untuk mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan dengan memperhatikan
budidaya tanaman yang sehat, pengendalian hama terpadu dan manajemen tanah
berlanjut.
5.3 Saran Praktikum
Saran praktikum untuk lebih mendalami prinsip-prinsip manajemen
agroekosistem yang diterapkan. Terima kasih

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

DAFTAR PUSTAKA
Aprianis, Y. 2011. Produksi dan Laju Dekomposisi Seresah. Hutan Tanaman :
Riau. 4:41-47
Borror, D. J. and D. M. Delong. 1970. An Introduction to the Study of Insect. Halt
Rimehart and Winston., New York.
Borror. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga, edisi VI. Yogyakarta : Gajah
Mada University Press
Channa,N.B., Bambaradeniya and Felix P.Amarasinghe. 2004. Biodiversity
Associated With The Rice Field Agro Ecosystem In Asian Countries : A
Brief Review. Ghana, Pakistan, South Afrika, Srilanka, Thailand : IWMI.
Cyccu,M. 2000. Keanekaragaman hayati dan pengelolaan serangga hama dalam
agroekosistem. Pengukuhan Guru besar. Universitas Sumatera Utara.
Doran JW & Parkin. 1994. Defining and Assessing Soil Quality, IN. J. W. Doran
D.C. Coleman D.F. Bezdick and B.A Stewart (eds). Defining Soil Quality
for Sustainable Enironment. SSSA Special publication. SSSA Madison.
Elsa Rosyidah, Ruslan Wirosoedarmo.2013. Pengaruh Sifat Tanah Pada
Konduktivitas Hidrolik Jenuh Di 5 Penggunaan Lahan (Studi Kasus Di
Kelurahan Sumbersari Malang).Jurnal agritech vol 33,No.3. Malang;
Gomez, A.A. and K.A. Gomez. 1983. Multiple Cropping in the Humid Tropics of
Asia. International Development Research Center. 284 p.
H. van Mastrigt dan E. Rosariyanto. 2005. Buku Panduan Lapangan Kupu-kupu
untuk Wilayah Mamberamo sampai Pegunungan Cyclops.
Hardjowigeno, Sarnono. 1992. Ilmu Tanah. Jakarta : Maduatama Sarana Pratama.
Hardjowigwno, Sarwono dkk.__. Morfologi dan Klasifikasi Tanah Sawah.
Kadekoh, I. 2010. Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Kering
Berkelanjutan Dengan Sistem Polikultur.
Kalshoven, L. G. E. 1981. Pest of Crops in Indonesia. Direvisi dan ditranslate
oleh P. A. Vand der Lann. Ikhtiar Baru, Van Haeve Jakarta.

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Karlen, DL., MJ. Mausbach, JW. Doran,RG. Cline, RF. Harris, & GE. Schuman.
1996. Soil Quality: Concept, Rationale and Research Needs. Soil.Sci.Am.J:
60:33-43
Kurniatun, Hairiah, dkk. 2004. Ketebalan Seresah sebagai Indikator Daerah
Aliran Sungai (DAS) Sehat. FP-UB. Malang.
Misra, R. & Castillo, L.G. (2004). Academic Stress Among College Students:
Comparison of American and International Students. International Journal
of Stress Management. vol 11 (2) 132-148.
Mulyani,A. 2006. Potensi Lahan Kering Masam untuk Pengembangan Pertanian.
Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol 28 (2): 16-17. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Oka, I.N., 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia.
UGM-PresS,Yogyakarta
Ridwan, Muhammad.2013.Analisis Usaha Tani Jambu Kristal Desa Cikarawang
Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor.IPB:Bogor
Riyanto, 1985. Ekologi Dasar. Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri
Indonesia Bagian Timur, Ujung Pandang.
Semangun H. 1994. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. UGM
Press. Jokyakarta
Soemarwoto, 0. 1994. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan:
Jakarta. Cet 7.
Southwood, T.R.E. & M.J. Way. 1970. Ecological background to pest
management. Dalam Concepts of Pest Management, pp.7-13. R.L. Rabb &
F.E. Guthrie, eds. North Carolina State University, Raleigh
SQI, 2001. Guidelines for Soil Quality Assessment in Conservation Planning. Soil
Quality Institute. Natural Resources Conservation Services. USDA.
Stehr, F.W. 1982. Parasitoids and predators in pest management. In: R.L. Metcalf
and W.H. Luckmann (Eds.). Introduction to Insect Management. John Wiley
and Sons, New York. pp. 135-173.
Sutanto, R. 2000. Penerapan Pertanian Organik. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Untung, K., 1993. Konsep Pengendalian Hama terpadu. Andi ofset. Yogyakarta.
150 h

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Untung,K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu (Edisi Kedua).


Yogayakarta : Gadjah Mada University Press
Wardhana,whisnu.2010.Pengaruh Waktu Tanam Terhadap Pertumbuhan dan
Produksi Pada sistem Tanam Tumpangsari Ubijalar dan Jagung
Manis.Skripsi Fakultas Pertanian.Institut Pertanian Bogor : Bogor
Widiarto. 2008. Pengantar Ilmu Tanah. PT. Rineka Cipta Jakarta
Widodo,E Soesiladi.2012.Pengaruh Penambahan Indole Acetic Acid (IAA) Pada
Pelapis Kitosan Terhadap Mutu Dan Masa Simpan Buah Jmbu Biji
Psidium

guajava

CRYSTAL.Universitas

Agrotropika.17(1):14-18 : Lampung

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Lampung.Jurnal

LAMPIRAN
Dokumentasi di Laboratorium

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Dokumentasi Lapang

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem

Laporan Praktikum Manajemen Agroekosistem