Anda di halaman 1dari 12

INFILTRASI DAN PERKOLASI

Mari kita pelajari bersama perbedaan antara infiltrasi dan perkolasi :h:
kita mulai dari Infiltrasi, menurut Chay Asdak (2007:228) Infiltrasi adalah proses aliran air
(umumnya berasal dari curah hujan) masuk ke dalam tanah. masi menurut Asdak perkolasi
merupakan proses kelanjutan aliran air tersebut ke tanah yang lebih dalam.
Sementara menurut Sitanala Arsyad (1989:36) infiltrasi adalah peristiwa masuknya air ke dalam
tanah, umumnya (tetapi tidak mesti) melalui permukaan tanah dan secara vertikal. Perkolasi
adalah peristiwa bergeraknya air ke dalam profil tanah.
Laju infiltrasi adalah banyaknya air per satuan waktu yang masuk melalui permukaan tanah.
Sementara kapasitas infiltrasi adalah laju maksimum gerakan air masuk ke dalam tanah.
kapasitas infiltrasi terjadi ketika intensitas hujan melebihi kemampuan tanah dalam menyerap
kelembaban tanah. Sebaliknya, apabila intensitas hujan lebih kecil daripada kapasitas infiltrasi,
maka laju infiltrasi sama dengan laju curah hujan. Laju infiltrasi umumnya dinyatakan dengan
mm/jam (milimeter per jam).

Dari pengertian diatas maka dapat dikatakan bahwa infiltrasi yaitu aliran air masuk ke dalam
tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air ke arah lateral) dan gravitasi (gerakan air ke arah
vertikal). setelah lapisan tanah bagian atas jenuh air (kelebihan air), maka air yang berlebih
tersebut mengalir ke tanah yang lebih dalam sebagai akibat gaya gravitasi bumi sebagai proses
perkolasi.
OoooOOoowwhh begono :-bd
emang uda ngerti?? gue aja masi bingung :n:
oke daripada bingung semua mending lanjuuuuutt............
Seperti menurut Sitanala Arsyad diatas, Pergeraa air ke dalam tanah tidak mesti selalu bergerak
verikal namun bisa horizontal. Jika air dalam tanah bergerak secara horizontal dinamakan
rembesan lateral. Rembesan Lateral disebabkan oleh permeabilitas lapisan tanah yang tidak
seragam.
jadi dari pembahasan itu dapat disimpulkan bahwa infiltrasi menyediakan air untuk perkolasi.
Laju infiltrasi suatu tanah yang basah tidak dapat melebihi laju perkolasi.

PERKOLASI
Perkolasi adalah proses bergeraknya air melalui profil tanah karena tenaga gravitasi. Air bergerak
ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air
dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah

permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan. Daya Perkolasi
adalah laju perkolasi yaitu laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan dengan besar yang
dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam daerah tak jenuh. Perkolasi tidak mungkin terjadi sebelum
daerah tak jenuh mencapai daerah medan. Istilah daya perkolasi tidak mempunyai arti penting
pada kondisi alam karena adanya stagnasi dalam perkolasi sebagai akibat adanya lapisan-lapisan
semi kedap air yang menyebabkan tambahan tampungan sementara di daerah tak jenuh.
Perkolasi, disebut juga peresapan air ke dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain tekstur tanah dan permeabilitasnya. Untuk daerah irigasi waduk Gondang termasuk tekstur
berat, jadi perkolasinya berkisar 1 sampai dengan 3 mm/hari. Dengan perhitungan ini nilai
perkolasi diambil sesuai eksisting sebesar 2 mm/hari. Laju perkolasi sangat tergantung pada
sifat-sifat tanah. Data-data mengenai perkolasi akan diperoleh dari penelitian kemampuan tanah
maka diperlukan penyelidikan kelulusan tanah. Pada tanah lempung berat dengan karakteristik
pengolahan (puddling) yang baik, laju perkolasi dapat mencapai 1-3 mm/hari. Pada tanah-tanah
yang lebih ringan, laju perkolasi bisa lebih tinggi. Untuk menentukan Iaju perkolasi, perlu
diperhitungkan tinggi muka air tanahnya. Sedangkan rembesan terjadi akibat meresapnya air
melalui tanggul sawah. Perkolasi juga dapat disimpulkan sebagai gerakan air kebawah dan zone
yang jenuh kedalam daerah jenuh (antara permukaan tanah sampai kepermukaan air tanah)

Latar Belakang

Infilrasi merupakan proses masuknya air dari permuakan kedalam tanah. Infiltarasi
berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran permukaan atau run off. Infiltrasi dari segi
hidrologi penting, karena hal ini menandai peralihan air permukaan yang bergerak cepat ke air
tanah yang bergerak lambat dari air tanah.( Hardjowigeno,1993)
Kapasitas infiltrasi suatu tanah dipengaruhi sifat sifat fisiknya drajat kemapatannya,
kandungan air dan permiabilitas lapisan bawah permukaan nisbi air dan iklim mikro tanah. Air
yang berinfiltrasi pada suatu tanah hutan karena pengaruh gravitasi dan daya tarik kapiler atau
disebabkan pula oleh tekanan dari pukulan air hujan pada permukaan tanah.Proses
berlangsungnya air masuk ke permuakan tanah kita kenal dengan infiltrasi. Laju infiltrasi
dipengaruhi oleh tekstur dan struktur, kelengasan tanah, kadar materi tersuspensi dalam air juga
waktu.(Suripin, 2001)
Dengan mempelajari proses terjadinya dan faktor yang mempengaruhi dalam proses
infiltrasi terutama pada infiltrasi dibawah tegakan hutan, mahasiswa memahami berbagi fungsi
penting dari hutan sebagai salah satu media untuk meningkatkan proses masuknya air dalam
tanah sehingga peran hutan dalam mengendalikan aliran permukaan nampak lebih jelas. Dengan
memahami proses dan cara pengukurannya, mahasiswa dapat melakukan analisis dan medesain
pembangunan atau pengelolaan suatu kawasan hutan dengan memperhatikan peran proses
infiltrasi didalamnya.
Setelah mempelajari kita akan mengerti dan memahami proses infiltrasi, faktor faktor
yang mempengaruhi, mampu melakukan pengukuran dan perhitung untuk analisis hidrologi
suatu kawasan.
Perkolasi merupakan proses kelanjutan aliran air tersebut ke tanah yang lebih
dalam.Setelah lapisan tanah bagian atas jenuh, kelebihan air tersebut mengalir ke tanah yang
lebih dalam sebagai akibat gaya gravitasi bumi dan dikenal sebagai proses perkolasi. Penentuan
laju

perkolasi

dapat

dilakukan

dengan

memperhatikan

kondisi

fisik

tanah

(permeabilitas,porositas dan tekstrur tanah), kedalaman air tanah dan topografi daerah tinjauan
serta sifat geomorfologi secara umum (Sudjarwadi, 1983).
Dari singkat uraian diatas, maka diperluka percobaan atau pengamatan laju infiltrasi dan
perkolasi.
Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Laju Infiltrasi

Infiltrasi adalah proses masuknya air dari permukaan ke dalam tanah. Perkolasi adalah
gerakan aliran air di dalam tanah (dari zone of aeration ke zone of saturation).Infiltrasi
berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran permukaan dan juga berpengaruh terhadap laju
aliran permukaan atau run off. (Hardjowigeno,1993).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi menurut Suripin (2001) antara lain,
dalamnya genangan di atas permukaan tanah dan tebal lapisan yang jenuh, kelembaban tanah,
pemantapan tanah oleh curah hujan, penyumbatan oleh bahan yang halus(bahan endapan),
struktur tanah, tumbuh-tumbuhan, pemantapan oleh orang dan hewan, udara yang terdapat dalam
tanah, topografi, intensitas hujan, kekasaran permukaan, mutu air, suhu udaradan adanya kerak di
permukaan.
Menurut Baramankusumah (1978), jumlah dan ukuran pori yang menentukan adalah
jumlah pori pori yang berukuran besar. Makin besar pori maka kapasitasi infiltrasi semakin
besar pula.
2. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Laju Perkolasi
Perkolasi merupakan gerakan air ke bawah dari zone air tidak jenuh (daerah antara
permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah) ke dalam daerah yang jenuh atau daerah
dibawah permukaan air (Soemarto, 1987). Proses ini merupakan proses kehilangan air yang
terjadi pada penanaman padi di sawah. Istilah perkolasi kurang mempunyai arti penting pada
kondisi alam, tetapi dalam kondisi buatan, perkolasi mempunyai arti penting, dimana karena
alasan teknis, dibutuhkan proses infiltrasi yang terus menerus. Besarnya perkolasi dinyatakan
dalam mm/hari (Soemarto, 1987). Perkolasi atau peresapan air kedalam tanah dibedakan menjadi
dua, yaitu perkolasi vertikal dan perkolasi horizontal.
Faktor yang mempengaruhi perkolasi menurut (Soemarto, 1987) anatara lain :
1. Tekstur tanah
2. Permeabilitas tanah
3. Letak permukaan air tanah
4. Tebal lapisan tanah bagian atas
5. Perkolasi adalah kehilangan air yang dipengaruhi oleh keadaan fisik dilapangan.

A. Laju Infiltrasi

Pengamatan Laju Infiltrasi, dimana setiap air yang masuk ke dalam tanah (cm/jam) dengan
perlakuan penambahan air pada volume tertentu, menggunakan alat pengukur Laju Infiltrasi
yaitu infiltrometer selinder ganda atau double ring.
Dari pengamatan dilapangan, sebagaiman terlihat pada gambar 1, yaitu menit ke-20 laju
infiltrasi semakin rendah atau menurun menjadi 0.1 cm/jam dari laju awal 0.3 cm/jam dan pada
menit ke-40 laju infiltrasi menjadi meningkat 0.5 cm/jam. Hal ini dapat diasumsikan bahwa pada
menit ke-20 laju infiltrasi terhalang oleh materi-materi lain selain tanah yang pori-porinya sangat
kecil sehingga air yang masuk kedalam tanah menjadi tersumbat. Setelah 10 menit berikutnya air
ditambahkan lagi dengan volume 300 ml yang mengakibatkan materi halus tadi mendapatkan
tekanan yang yang tinggi sehingga materi halus selain tanah tadi tidak dapat menahan air lagi, air
pun dapat menembus tanah bagian bawah dan melanjutkan proses infiltrasinya.
Dari hasil pengamatan dilapangan laju infiltrasi terlihat jelas pada menit ke-40. Pada menit
ke 30, 40 dan 50, laju infiltrasi sudah mengalami titik constant yaitu 0.5 cm/jam. Hal ini
disebabkan kemampuan air pada daerah permukaan tanah dan masuk kedalam tanah sudah
mencapai titik maksimum. Titik maksimum terjadi karena ketersediaan air yang terdapat dalam
tanah sudah jenuh, sehinga air yang masuk kedalam tanah sudah tidak dapat menembus kedalam
tanah.
Air dalam pipa kapiler tanah tidak bergerak atau mengalir turun karena gaya tarik menarik
antara air dan dinding pipa penahan air dari tarikan gaya tarik menarik antara air dan dinding di
pipa penahan air dari tarikan gravitasi. Akibatnya tanah mungkin berpori-pori tetapi sangat
lambat melewatkan air. Karena molekul air sangat kuat terjerap pada permukaan tanah (infiltrasi)
dan melalui tanah (perkolasi) sebaliknya gaya tarik menarik antara udara dan butir tanah sangat
tidak berarti, sehingga gerak udara terutama tergantung pada volume ruang pori yang kosong,
bukan pada ruang pori (Pairunan,1985).
Faktor lain yang mempengaruhi yaitu rendahnya evaporasi yang teradi pada daerah
pengambilan sampel tersebut, kondisi atau cuaca yang panas namun banyak terdapat vegetasi
dan tanaman naungan disekelilingnya, sehingga pada saat itu mengakibatkan rendahnya proses
evaporasi dan air yang berada dalam tanah sudah cukup tersedia.
Menurut Nanere (1985), Laju infiltrasi dipengaruhi oleh tekstur tanah. Bila tekstur
tanahnya berpasir maka laju infiltrasi semakin cepat. Tanah berpasir ialah tanah-tanah yang
tersusun tidak kurang dari 70 % berat pasir dan dimasukkan ke dalam tanah bertekstur kasar.

Tanah-tanah berpasir menunjukkan sifat pasir yang jelas. Tanah sangat mudah dilalui air dan
udara (premeable), dan mudah ditembus akar
Sementara pada tanah dengan tekstur liat atau halus dapat menyimpan air lebih banyak dari
pasir, karena liat memiliki permukaan yang luas yang dapat diseliputi air. Sehingga laju infiltrasi
pada tanah liat sangat lambat.
Pada cuaca yang cenderung stabil, misalnya dalam waktu satu minggu sering terjadi hujan,
maka akan berpengaruh pada laju infiltrasi. Laju infiltrasi sekalipun pada tanah berpasir tetapi
jika dipengaruhi cuaca yang demikian maka secara otomatis laju infiltrasi akan berkurang.
B. Laju Perkolasi
Perkolasi merupakan gerakan air ke bawah dari zone air tidak jenuh atau daerah antara
permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah ke dalam daerah yang jenuh atau daerah
dibawah permukaan air (Soemarto, 1987). Proses ini merupakan proses kehilangan air yang
terjadi pada penanaman padi di sawah. Istilah perkolasi kurang mempunyai arti penting pada
kondisi alam, tetapi dalam kondisi buatan, perkolasi mempunyai arti penting, dimana karena
alasan teknis, dibutuhkan proses infiltrasi yang terus menerus. Besarnya perkolasi dinyatakan
dalam mm/hari (Soemarto, 1987). Perkolasi atau peresapan air kedalam tanah dibedakan menjadi
dua, yaitu perkolasi vertikal dan perkolasi horizontal.
Faktor yang mempengaruhi perkolasi adalah :
1. Tekstur tanah
2. Permeabilitas tanah
3. Letak permukaan air tanah
4. Tebal lapisan tanah bagian atas
Dari hasil pengamatan di laboratoium, pada titik pengamatan pertama dengan waktu lima
menit di peroleh tinggi air yang masuk ke dalam tanah mencapai 2cm/menit pada lapisan
pertama yang berbentuk seperti huruf V, dimana tekstur tanahnya berpasir. Setelah itu, titik
pengamatan kedua, pada menit ke sepuluh dengan tinggi air 3cm/menit bertekstur halus sehingga
membentuk melengkung. Dan pada menit ke lima belas dan menit kedua puluh mengalami
perubahan bentuk dari melengkung menjadi huruf V pada tanah lapisan ketiga yang kasar
(berpasir).
A. Laju Infiltrasi

Pengamatan Laju Infiltrasi, dimana setiap air yang masuk ke dalam tanah (cm/jam) dengan
perlakuan penambahan air pada volume tertentu, menggunakan alat pengukur Laju Infiltrasi
yaitu infiltrometer selinder ganda atau double ring.
Dari pengamatan dilapangan, sebagaiman terlihat pada gambar 1, yaitu menit ke-20 laju
infiltrasi semakin rendah atau menurun menjadi 0.1 cm/jam dari laju awal 0.3 cm/jam dan pada
menit ke-40 laju infiltrasi menjadi meningkat 0.5 cm/jam. Hal ini dapat diasumsikan bahwa pada
menit ke-20 laju infiltrasi terhalang oleh materi-materi lain selain tanah yang pori-porinya sangat
kecil sehingga air yang masuk kedalam tanah menjadi tersumbat. Setelah 10 menit berikutnya air
ditambahkan lagi dengan volume 300 ml yang mengakibatkan materi halus tadi mendapatkan
tekanan yang yang tinggi sehingga materi halus selain tanah tadi tidak dapat menahan air lagi, air
pun dapat menembus tanah bagian bawah dan melanjutkan proses infiltrasinya.
Dari hasil pengamatan dilapangan laju infiltrasi terlihat jelas pada menit ke-40. Pada menit
ke 30, 40 dan 50, laju infiltrasi sudah mengalami titik constant yaitu 0.5 cm/jam. Hal ini
disebabkan kemampuan air pada daerah permukaan tanah dan masuk kedalam tanah sudah
mencapai titik maksimum. Titik maksimum terjadi karena ketersediaan air yang terdapat dalam
tanah sudah jenuh, sehinga air yang masuk kedalam tanah sudah tidak dapat menembus kedalam
tanah.
Air dalam pipa kapiler tanah tidak bergerak atau mengalir turun karena gaya tarik menarik
antara air dan dinding pipa penahan air dari tarikan gaya tarik menarik antara air dan dinding di
pipa penahan air dari tarikan gravitasi. Akibatnya tanah mungkin berpori-pori tetapi sangat
lambat melewatkan air. Karena molekul air sangat kuat terjerap pada permukaan tanah (infiltrasi)
dan melalui tanah (perkolasi) sebaliknya gaya tarik menarik antara udara dan butir tanah sangat
tidak berarti, sehingga gerak udara terutama tergantung pada volume ruang pori yang kosong,
bukan pada ruang pori (Pairunan,1985).
Faktor lain yang mempengaruhi yaitu rendahnya evaporasi yang teradi pada daerah
pengambilan sampel tersebut, kondisi atau cuaca yang panas namun banyak terdapat vegetasi
dan tanaman naungan disekelilingnya, sehingga pada saat itu mengakibatkan rendahnya proses
evaporasi dan air yang berada dalam tanah sudah cukup tersedia.
Menurut Nanere (1985), Laju infiltrasi dipengaruhi oleh tekstur tanah. Bila tekstur
tanahnya berpasir maka laju infiltrasi semakin cepat. Tanah berpasir ialah tanah-tanah yang
tersusun tidak kurang dari 70 % berat pasir dan dimasukkan ke dalam tanah bertekstur kasar.

Tanah-tanah berpasir menunjukkan sifat pasir yang jelas. Tanah sangat mudah dilalui air dan
udara (premeable), dan mudah ditembus akar
Sementara pada tanah dengan tekstur liat atau halus dapat menyimpan air lebih banyak dari
pasir, karena liat memiliki permukaan yang luas yang dapat diseliputi air. Sehingga laju infiltrasi
pada tanah liat sangat lambat.
Pada cuaca yang cenderung stabil, misalnya dalam waktu satu minggu sering terjadi hujan,
maka akan berpengaruh pada laju infiltrasi. Laju infiltrasi sekalipun pada tanah berpasir tetapi
jika dipengaruhi cuaca yang demikian maka secara otomatis laju infiltrasi akan berkurang.
B. Laju Perkolasi
Perkolasi merupakan gerakan air ke bawah dari zone air tidak jenuh atau daerah antara
permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah ke dalam daerah yang jenuh atau daerah
dibawah permukaan air (Soemarto, 1987). Proses ini merupakan proses kehilangan air yang
terjadi pada penanaman padi di sawah. Istilah perkolasi kurang mempunyai arti penting pada
kondisi alam, tetapi dalam kondisi buatan, perkolasi mempunyai arti penting, dimana karena
alasan teknis, dibutuhkan proses infiltrasi yang terus menerus. Besarnya perkolasi dinyatakan
dalam mm/hari (Soemarto, 1987). Perkolasi atau peresapan air kedalam tanah dibedakan menjadi
dua, yaitu perkolasi vertikal dan perkolasi horizontal.
Faktor yang mempengaruhi perkolasi adalah :
1. Tekstur tanah
2. Permeabilitas tanah
3. Letak permukaan air tanah
4. Tebal lapisan tanah bagian atas
Dari hasil pengamatan di laboratoium, pada titik pengamatan pertama dengan waktu lima
menit di peroleh tinggi air yang masuk ke dalam tanah mencapai 2cm/menit pada lapisan
pertama yang berbentuk seperti huruf V, dimana tekstur tanahnya berpasir. Setelah itu, titik
pengamatan kedua, pada menit ke sepuluh dengan tinggi air 3cm/menit bertekstur halus sehingga
membentuk melengkung. Dan pada menit ke lima belas dan menit kedua puluh mengalami
perubahan bentuk dari melengkung menjadi huruf V pada tanah lapisan ketiga yang kasar
(berpasir).