Anda di halaman 1dari 87

TUGAS 3

MANAJEMEN & ORGANISASI PERUSAHAAN BISNIS


Evaluasi Karakteristik Pengawasan PT COCA COLA DISTRIBUTION
INDONESIA.
(Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan mata kuliah manajemen &
organisasi perusahaan bisnis)
Oleh:
Nama

: Agung Idoan A S

Nim

: 2513131047

Jurusan

: Teknik Industri

Kelas

: Reguler Pagi - A

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
BANDUNG
2015

KARAKTERIS
BADAN
USAHA

CV

NV

PT Bersama

MODAL

PEMILIK

PENGAWAS

Modal besar

Minimal terdiri

Komplement

karena didirikan

dari 2 orang atau

er &

banyak pihak

lebih

Komanditer

Terdiri dari
saham
Terdiri dari
saham

Minimal terdiri
dari dua orang

Komisaris

atau lebih
Minimal terdiri
dari dua orang

Komisaris

atau lebih

Dari kekayaan
PT (Persero)

negara yang

Dimiliki oleh

dipisahkan

seseorang

berupa saham

secara pribadi

Negara

saham
PT (Tbk)

Terdiri dari

Dimiliki Oleh

saham

Perorangan

Komplement
er &
Komanditer

PT COCA COLA DISTRIBUTION INDONESIA

A. Profil Perusahaan

PT. Coca Cola Distibution Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak


dibidang industri. Perusahaan tersebut bertekad untuk memberikan nilai terbaik
bagi pemegang saham dengan menjadi perusahaan minuman bebas alkohol
terdepan dalam pasar minuman global. Berbagai merk dari The Coca Cola
Company merupakan tumpuan keberhasilan perusahaan dalam memuaskan
konsumen dan pelanggan, dengan memberikan layanan dan produk yang bermutu
melalui orang orang yang berdedikasi tinggi.

Dan sesuai akte pendirian maka perusahaan ini mempunyai data data

sebagai berikut :

Nama Perusahaan
: PT. Coca Cola Distibution Indonesia
Alamat
: Jl. Medan Belawan Km. 14 Medan Martubung
Luas Tanah
: + 51.353 M

A.1. Sejarah Singkat Perusahaan

Coca Cola mulai diperdagangkan di Indonesia tahun 1932 oleh De Nederlands


Indische meneraal water Fabriek Jakarta dibawah manajemen Bernie Vonings dari
Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan dan masuknya para pemegang saham
dari Indonesia, perusahaan ini berganti nama menjadi Indonesia Beverages
Limitid (IBL). Pada tahun 1971 IBL menjalin kerja sama dengan tiga perusahaan
Jepang dan membentuk PT. Djaya Beverages Bottling Company (DBBC).
PT. Coca Cola Distribution Indonesia merupakan nama dagang yang terdiri dari
perusahaan-perusahaan patungan (Join Venture) antara perusahaan-perusahaan
lokal yang dimiliki oleh pengusaha-pengusaha independen dan Coca Cola Amatil
Limited, yang merupakan salah satu produsen dan distributor terbesar produkproduk Coca Cola di dunia.
Di Sumatera Utara, perusahaan Coca Cola mulai dirintis pada tahun 1972 oleh PT.
Brasseries del Indonesia, yang merupakan perusahaan milik Perancis. Produk
andalan perusahaan ini sebenarnya adalah Bir, sedangkan Coca Cola, Sprite dan
Fanta adalah produk sampingan. Tahun 1980, PT. Brasseries del Indonesia
diambil alih oleh PT. Multi Bintang Indonesia yang juga merupakan perusahaan
minuman Bir terkenal di Indonesia.
Karena ingin berkonsentrasi pada produk utama Bir, PT. Multi Bintang Indonesia
merelokasi pabriknya ke Tangerang dan menjual pabrik pembotolan Coca Cola
Medan kepada PT. Pan Java Bottling Company pada tanggal 2 Mei 1994. PT. Pan
Java Bottling Company sendiri didirikan pada 1 November 1974 dan memiliki 4
pabrik pembotolan Coca Cola di Indonesia.
Karena perkembangan perusahaan yang begitu cepat maka pada tahun 1992,
perusahaan ini melakukan kerja sama dengan Coca Cola Amatil Limited

Australia (CCA) dan sejak itu PT. Pan Java Bottling Company berubah namanya
menjadi PT. Coca Cola Pan Java.
Untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing, pada tanggal 1 Januari 2000,
kesepuluh perusahaan pembotolan dan distribusi Coca Cola yang berada di bawah
bendera perusahaan Coca Cola Amatil Limited, Australia, berubah namanya
menjadi PT. Coca Cola Bottling untuk perusahaan pembotolan dan PT. Coca Cola
Amatil Indonesia untuk perusahaan distribusi yang berpusat di Jakarta.
Adapun sembilan distribusi Sales Center di Sumatera Utara antara lain :

Medan ( Jl. Medan-Belawan Km. 14 Martubung )

Medan Selatan ( Jl. Medan-Tanjung Morawa Km. 11,5 No.29 )

Tebing Tinggi ( Jl. Sudirman 8D Tebing Tinggi )

Pematang Siantar ( Jl. A. Yani No. 102-104 P. Siantar)

Rantau Prapat ( Jl. H. Adam Malik Kel. Aek. Matio Rantau Prapat )

Kisaran ( Jl. A. Yani No.34 Kisaran)

Padang Sidempuan ( Jl. Silindit Km. 1,5 Desa Aek Tuhul P. Sidempuan )

Kabanjahe ( Jl. Nabung Surbakti No. 101 Kabanjahe )

Sibolga ( Jl. Padang Sidempuan Desa Sibuluan 1 Pandan Sibolga )

A.2. Struktur Organisasi Perusahaan

Perusahaan adalah suatu badan hukum yang menghasilkan barang atau jasa yang
diperlukan pelanggan. (Madura, 2001; 2)
Untuk dapat melaksanakan pengawasan yang baik diperlukan adanya struktur
organisasi. Struktur Organisasi pada dasarnya mengidentifikasikan

tanggung jawab bagi masing-masing jabatan pekerjaan dan hubungan antara


jabatan-jabatan itu sendiri guna untuk memperlihatkan interaksi tanggung jawab
dari para karyawan. (Madura, 2001; 251)
PT. Coca Cola Distribution Indonesia adalah sebuah perusahaan industri yang
bergerak dalam industri minuman ringan, yang dikepalai oleh seorang General
Manager sebagai pimpinan perusahaan. Bentuk struktur organisasi PT. Coca Cola
adalah berbentuk garis, dimana pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab
sudah terstruktur dengan jelas sesuai jabatannya masing-masing dari atas
kebawah.
Adapun struktur organisasi PT.Coca Cola Distribution Indonesia Medan adalah
sebagai berikut :

General Manager
Cold Drink Eq.officer

Secretary
Purchasing Manager

Purchasing Officer

HR

Finance

Sales Center

Tech Operation

IS
Manager

Manager

Manager

Manager

Manager

(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia)

Setiap bagian di dalam organisasi memiliki tugas, wewenang dan tanggung jawab.
Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing bagian PT. Coca
Cola Distribution Indonesia Medan adalah sebagai berikut :

1. General Manager

General Manager merupakan unit fungsional tertinggi dilingkungan wilayah


kerjanya yang bertanggung jawab atas penetapan tujuan dan merumuskan
kebijaksanaan perusahaan secara umum. Adapun tugas, wewenang dan tanggung
jawab General Manager yaitu :
Melaksanakan koordinasi tugas setiap bagian yang berada dibawah General
Manager sesuai dengan struktur kerja yang telah ditetapkan.
Mengendalikan dan mengevaluasi produksi dari segi biaya, mutu dan waktu
secara berkala.
Mengambil keputusan dan kebijaksanaan sehubungan dengan arah dan sasaran
yang ingin dicapai.
Mengupayakan terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dari pihak-pihak
luar ataupun pihak-pihak didalam perusahaan yang berkaitan dengan lingkungan
tugasnya.
Membuat peraturan-peraturan intern perusahaan yang tidak bertentangan dengan
perusahaan.

2. Secretary

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab dari secretary yaitu:

a. Menyiapkan laporan bulanan bagi General Manager.

Mengarsip surat-surat masuk dan keluar.

Menyelenggarakan surat menyurat dan mengatur semua janji General Manager.

Menyiapkan dan menghadiri rapat serta membuat laporan hasil rapat dan
kemudian menyebarkannya.
Bertanggung jawab kepada General Manager.

Purchasing Manager

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab dari Purchasing Manager yaitu:

Mengkoordinir setiap pembelian yang dibutuhkan oleh requesting.

Mengadakan negoisasi dengan supplier.

Mempersiapkan barang sesuai dengan spesialisasi yang telah ditentukan.

Bertanggung jawab kepada General Manager.

4. Purchasing Officer

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab Purchasing Officer yaitu:

Membantu Purchasing Manager melaksanakan tugas pengadaan barang, bahan


baku, barang teknik dan keperluan material lainnya sesuai dengan spesifikasi yang
ditentukan.
Membuat laporan bulanan kepada manajemen yang memberikan informasi jumlah
pembelian yang dilakukan pada bulan laporan, barang yang telah diterima dan
barang yang belum diterima.

Bertanggung jawab kepada Purchasing Manager.

5. Cold Drink Equipment Officer

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab Cold Drink Equipment officer

yaitu:

Mengelola dan melakukan pelaporan peralatan cold drink dan fountain, baik
keadaan maupun jumlah persediaan yang ada.

Mengusulkan permintaan bagi penambahan yang disesuaikan dengan budget serta


memonitor pelaksanaannya.
Membantu dan bertanggung jawab terhadap pencapaian target penjualan
khususnya penempatan cold drink dan fountain sehingga memenuhi target yang
ditetapkan.

Bertanggung jawab kepada General Manager.

6. Finance Manager

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab Finance Manager yaitu:

Membantu pencapaian sasaran keuangan perusahaan dengan mempersiapkan


laporan secara tepat waktu.
Membantu General Manager mengumpulkan atau menyusun data untuk
rancangan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

Merencanakan dan mengawasi kegiatan pelaksanaan pembukuan dan keuangan


perusahaan.
Mengembangkan dan mendukung kebutuhan sarana dan prasarana informasi bagi
departemen lain.

Memeriksa dan menganalisa data atau laporan keuangan perusahaan.

Bertanggung jawab kepada General Manager.

7. Human Resource (HR) Manager

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab HR Manager yaitu:

Merencanakan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam perusahaan.

Merencanakan penerimaan dan pemberhentian karyawan.

Mengadakan pengawasan terhadap karyawan.

Bertanggung jawab kepada General Manager.

8. Sales Center Manager

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab Sales Center Manager yaitu:

Bertanggung jawab bagi tercapainya target penjualan perusahaan

Menentukan dan meramalkan target keuntungan perusahaan

Memberikan data-data departemen yang dipimpinnya jika dibutuhkan oleh


departemen lain.
Membuat rencana penjualan selama tiga tahun untuk kebutuhan rencana strategi.
Bertanggung jawab terhadap General Manager.

9. Information Service (IS) Manager

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab IS Manager yaitu:

Menyusun strategi perusahaan dan memberikan solusi terhadap masalah yang


dihadapi perusahaan dengan menggunakan sistem teknologi
informasi.

Bertanggung jawab terhadap perawatan jaringan komputer dan sistem


komunikasi.
Mengembangkan pengetahuan dan keahlian karyawan dibidang komputer dan
melaksanakan beberapa pelatihan yang dibutuhkan.
Bertanggung jawab kepada General Manager.

Tehnical Operation Manager

Bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan pada bagian teknik dan produksi.
Mengawasi dan mengkoordinir setiap bagian yang ada dibawahnya.

Mengawasi dan mengevaluasi kegiatan produksi dengan tujuan untuk mengetahui


kekurangan/penyimpangan yang terjadi sehingga dapat dilakukan perbaikan.

Jenis Jenis Modal Kerja

Modal kerja dapat dibedakan menjadi dua jenis (Sahyunan, 2004; 39)

yaitu :

Modal kerja Permanen (Permanent Woking Capital)

Modal kerja permanen adalah modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan
untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan kata lain modal kerja yang secara
terus menerus diperlukan untuk kelancaran suatu usaha. Tanpa adanya modal kerja
ini akan mengakibatkan operasi perusahaan akan berhenti.
Modal kerja permanen ini dapat dibedakan atas :

Modal Kerja Primer (Primary Working Capital)

Modal kerja primer adalah jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada
perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.

Modal Kerja Normal (Normal Working capital)

Modal kerja normal adalah modal kerja yang diperlukan untuk

memenuhi kebutuhan sesuai kapasitas produksi normal secara dinamis.

Modal Kerja Variabel (Variabel Working Capital)

Modal kerja variabel adalah modal kerja yang penggunaannya selalu mengalami
perubahan sesuai dengan keadaan.
Modal kerja ini dapat dibedakan atas ;

Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)

Modal kerja ini jumlahnya berubah- ubah disebabkan karena fluktuasi musiman

Modal Kerja Siklis (Cyclical Working Capital)

Modal kerja ini jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.

Modal Kerja Darurat (Emergency Working Capital)

Modal kerja ini jumlahnya berubah-ubah karena adanya keadaan yang tidak
diketahui sebelumnya, misalnya adanya pemogokan buruh , banjir, perubahan
ekonomi yang mendadak, dan sebagainya.

UNSURUNSUR MODAL KERJA

Unsur-unsur yang ada dalam modal kerja terdiri dari :

1. Kas

Kas merupakan harta yang paling lancar dalam suatu perusahaan yang berupa
uang tunai, baik yang ada dalam perusahaan maupun di bank. Setiap perusahaan
selalu membutuhkan kas untuk membiayai aktivitas usahanya. Oleh karena itu
setiap perusahaan harus mempunyai persediaan uang kas,
sebab perusahaan akan mengalami kesulitan atau tidak dapat menjalankan

usahanya tanpa adanya persediaan uang kas. Namun ini bukan berarti perusahaan
harus menyediakan uang kas berlebihan, karena akan mengakibatkan sejumlah kas
tidak produktif yang akibatnya akan menurunkan produksi atau penjualan dan
pencapaian profit.

Ada tiga motif memegang kas yaitu :

a. Motif Transaksi (transaction Motive)

Motif Transaksi yaitu motif memegang kas untuk merencanakan pembayaran


barang (bahan baku) dan gaji. Motif ini memungkinkan perusahaan untuk
menjalankan operasi sehari-hari seperti melakukan pembelian dan penjualan yang
berhubungan dengan likuiditas, karena itu juga disebut motif likuiditas.

b. Motif Berjaga-jaga (Safety Motive)

Motif berjaga-jaga yaitu motif memegang kas untuk melindungi perusahaan dari
ketidakmampuan memenuhi kebutuhan akan kas. Motif ini berhubungan dengan
ramalan atau proyeksi dari aliran kas masuk dan aliran kas keluar. Bila ramalan
cukup baik maka lebih sedikit kas yang dibutuhkan untuk menjaga keadaan
darurat. Kas dibutuhkan lebih banyak jika perusahaan tidak dapat mencari
pinjaman dalam waktu singkat untuk menutupi kebutuhan kas dengan segera.
Motif ini dapat dipenuhi dengan memiliki aktiva yang dapat diuangkan.

c. Motif Spekulasi (Speculative Motive)

Motif spekulasi yaitu motif memegang kas untuk memanfaatkan dana yang tidak
digunakan guna mencari keuntungan secara tepat dengan memanfaatkan peluang
yang tidak diduga.

2. Piutang

Piutang merupakan bagian dari aktiva lancar yang timbul sebagai akibat dari
pelaksanaan kebijaksanaan penjualan kredit. Dengan adanya piutang ini berarti
perusahaan telah menanam atau menginvestasikan modalnya yang diberikan pada
pihak lain. Investasi dalam piutang merupakan bagian dari modal kerja.
Pimpinan perusahaan dalam melakukan manajemen piutang harus dapat
menentukan jumlah piutang yang seimbang antara perolehan laba dan resiko.
Perolehan laba dapat meningkat apabila manajer keuangan memperlunak
persyaratan penjualan kredit. Namun hal itu juga akan menimbulkan berbagai
biaya seperti perlunya menambah pegawai pada unit yang mengurus dan
mengawasi administrasi kredit, meningkatnya biaya bunga pinjaman yang terkait
dengan piutang. Oleh karena itu manajer keuangan harus mengupayakan agar
perolehan laba meningkat karena penjualan kredit dapat menutup kenaikan
berbagai biaya tersebut.

3. Surat-Surat Berharga

Surat berharga adalah investasi yang sifatnya likuid, berjangka pendek, dan yang
dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko
perubahan nilai yang signifikan.
Kelebihan dana yang dimiliki perusahaan dapat digunakan untuk membeli suratsurat berharga. Pembelian ini dilakukan dengan tujuan untuk penjagaan likuiditas
atau memperoleh pendapatan dari dana yang ditanamkan dalam surat-surat
berharga tersebut.
Jenis-Jenis Laporan Keuangan

Jenis-jenis laporan keuangan yang utama dan merupakan pendukung dalam


operasi perusahaan adalah sebagai berikut:
a. Neraca

Neraca disebut juga laporan posisi keuangan perusahaan. Laporan ini


menggambarkan posisi aktiva, hutang, dan modal pada suatu saat tertentu Isi
laporan neraca yaitu:

Harta (Aktiva)

Harta atau aktiva merupakan bentuk dari penanaman modal perusahaan.


Bentuknya dapat berupa harta kekayaan atau hak atas kekayaan yang dimiliki oleh
perusahaan. Harta kekayaan tersebut harus dinyatakan dengan jelas, diukur dalam
satuan uang, dan diurutkan berdasarkan lamanya waktu atau kecepatannya
berubah menjadi uang.
Dalam penyajiannya didalam neraca, aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua
bagian yaitu:
Aktiva Lancar

Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva lain yang diharapkan

dapat dicairkan menjadi uang kas atau uang tunai baik dijual atau

dihabiskan, biasanya dalam jangka waktu satu tahun atau kurang

dari satu tahun melalui operasi normal perusahaan.

Aktiva Tidak Lancar atau Aktiva Tetap

Aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur penggunaan yang
sifatnya permanen atau jangka panjang, yaitu yang mempunyai umur ekonomis
lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dalam satu kali perputaran perusahaan.
Pasiva

Pasiva merupakan kewajiban atau hutang perusahaan kepada pihak lain untuk
membayar sejumlah uang atau menyerahkan barang atau jasa pada waktu tertentu.
Berdasarkan jangka waktu pengembaliannya atau pelunasannya hutang dapat
dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
Hutang Lancar atau Hutang Jangka Pendek

Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban perusahaan kepada
pihak lain yang harus dipenuhi dalam waktu satu tahun atau kurang dari satu
tahun sejak neraca disusun.

Hutang Jangka Panjang

Hutang jangka panjang adalah hutang perusahaan kepada pihak lain yang harus
dipenuhi dalam jangka waktu lebih dari satu tahun.
Modal

Modal adalah dana yang bersumber dari pemilik perusahaan, yang disebut juga
sebagai modal sendiri. Modal dapat diartikan juga sebagai

kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh

hutang-hutangnya.

Perhitungan Laba Rugi

Laporan laba rugi menggambarkan jumlah penerimaan, biaya, dan laba yang dapat
direalisasikan perusahaan selama satu periode tertentu, biasanya dalam waktu satu
tahun.
Tujuan dari penyusunan perhitungan laporan laba rugi adalah untuk mengukur
perkembangan perusahaan dalam menjalankan fungsinya sehubungan dengan sifat
kegiatan perusahaan, dan juga dapat menjelaskan bagaimana pertumbuhan atau
pengurangan aktivitas yang disebabkan penjualan jasa-jasa atau barang-barang.
Laporan Laba Ditahan

Didalam sebuah perusahaan, disamping disajikan laporan laba rugi juga

perlu disajikan laporan yang memperlihatkan perubahan laba yang ditahan.

Laba yang ditahan adalah bagian laba yang ditanamkan kembali dalam
perusahaan. Laba yang diperoleh perusahaan tidak semuanya dibagikan kepada
para pemilik (pemegang saham) sebagai dividen tetapi sebagian akan ditahan dan
ditanamkan kembali dalam perusahaan untuk berbagai keperluan.
Laporan Perubahan Posisi Keuangan

Laporan perubahan posisi keuangan merupakan bagian dari suatu laporan

keuangan sebagai pelengkap, yang tujuannya memberikan informasi

mengenai berbagai perubahan perkiraan-perkiraan aktiva dan passiva untuk satu


periode tertentu, yang umumnya satu tahun.
Laporan ini merupakan ikhtisar perubahan sumber dan penggunaan modal kerja
yang memperlihatkan dari mana sumber-sumber modal kerja diperoleh dan
bagaimana penggunaan dan penggeluaran modal yang dilakukan.
Untuk menganalisa hal tersebut, maka diperlukan neraca pada dua tahun berturutturut sehingga penambahan dan penurunan suatu perkiraan pada neraca dapat
diketahui dari suatu periode keperiode berikutnya yang akan memberikan dampak
pada modal kerja.
Berdasarkan uraian-uraian tentang laporan keuangan tersebut, maka berikut ini
dilampirkan laporan keuangan pada PT. Coca Cola Distribution Indonesia untuk
periode tahun 2004, 2005 dan tahun 2006:

Tabel 1

PT COCA COLA DISTRIBUTION INDONESIA MEDAN NERACA


PER 31 DESEMBER 2004

(Dalam ribuan rupiah)

KETERANGAN
2004

Aktiva Lancar

Kas
464.000
Surat Berharga
3.500.000
Piutang Usaha
11.000.000
Persediaan
27.000.000
Total Aktiva Lancar
41.964.000
Aktiva Tetap

Mesin
18.000.000
Akumulasi Penyusutan
(1.575.000)
Gedung
16.050.000
Akumulasi Penyusutan
(1.495.000)
Tanah
10.500.000

Total Aktiva Tetap


41.480.000
Total Aktiva
83.444.000

PASIVA

Hutang Lancar

Hutang Dagang
2.680.500
Hutang Wesel
4.680.000
Hutang Gaji
5.906.500
Total Hutang Lancar
13.267.000
Hutang Jangka Panjang

Obligasi Jangka Panjang


32.336.500
Modal

Modal Saham
4.310.000
Surplus Modal
1.400.000

Laba ditahan
32.130.500
Total Pasiva
83.444.000
(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia)

Tabel 2
PT COCA COLA DISTRIBUTION INDONESIA MEDAN NERACA
PER 31 DESEMBER 2005

(Dalam ribuan rupiah)

KETERANGAN

2005

Aktiva Lancar

Kas
478.500
Surat Berharga
3.802.500
Piutang Usaha
12.837.000
Persediaan
27.507.000
Total Aktiva Lancar
44.625.000
Aktiva Tetap

Mesin
18.945.000
Akumulasi Penyusutan
(1.755.000)
Gedung
16.335.000
Akumulasi Penyusutan
(1.545.000)
Tanah

10.500.000
Total Aktiva Tetap
42.480.000
Total Aktiva
87.105.000

PASIVA

Hutang Lancar

Hutang Dagang
2.790.000
Hutang Wesel
4.815.000
Hutang Gaji
6.120.000
Total Hutang Lancar
13.725.000
Hutang Jangka Panjang

Obligasi Jangka Panjang


33.311.100
Modal

Modal Saham
5.160.000

Surplus Modal
1.800.000
Laba ditahan
33.108.900
Total Pasiva
87.105.000
(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia)

Tabel 3
PT COCA COLA DISTRIBUTION INDONESIA MEDAN NERACA
PER 31 DESEMBER 2006

(Dalam ribuan rupiah)

KETERANGAN

2006

Aktiva LancarQ

Kas
450.000
Surat Berharga
3.825.000
Piutang Usaha
13.050.000
Persediaan
27.675.000
Total Aktiva Lancar
45.000.000
Aktiva Tetap

Mesin
21.945.000
Akumulasi Penyusutan
(2.565.000)
Gedung
16.875.000
Akumulasi Penyusutan
(1.815.000)
Tanah

10.500.000
Total Aktiva Tetap
45.000.000
Total Aktiva
90.000.000

PASIVA

Hutang Lancar

Hutang Dagang
2.700.000
Hutang Wesel
4.950.000
Hutang Gaji
6.300.000
Total Hutang Lancar
13.950.000
Hutang Jangka Panjang

Obligasi Jangka Panjang


33.930.000
Modal

Modal Saham
5.850.000

Surplus Modal
1.800.000
Laba ditahan
34.470.000
Total Pasiva
90.000.000

(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia)

Tabel 4

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN LABA RUGI

PER 31 DESEMBER 2004

(Dalam Ribuan Rupiah)


Keterangan
2004
Penjualan
84.700.430
Harga pokok penjualan
71.423.670
Laba kotor
13.276.760
Total biaya operasi
7.038.380
EBIT
6.238.380
Bunga
1.841.828
EBT
4.396.552
Pajak
867.652
NI sebelum Deviden Preferen
3.528.900
Deviden Preferen
120.000
NI tersedia untuk saham biasa
3.408.900
Deviden saham biasa
1.650.000

Penambahan pada laba ditahan


1.758.900
(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia)

Tabel 5

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN LABA RUGI

PER 31 DESEMBER 2005

(Dalam Ribuan Rupiah)

Keterangan
2005
Penjualan
90.000.000
Harga pokok penjualan
73.332.000

Laba kotor

16.668.000

Total biaya operasi

8.148.000

EBIT

8.520.000

Bunga

2.640.000

EBT

5.880.000

Pajak

1.926.100

NI sebelum Deviden Preferen

3.953.900

Deviden Preferen

120.000

NI tersedia untuk saham biasa

3.833.900

Deviden saham biasa

1.740.000

Penambahan pada laba ditahan

2.093.900
(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia)

Tabel 6

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN LABA RUGI

PER 31 DESEMBER 2006

(Dalam Ribuan Rupiah)

Keterangan

2006
Penjualan

102.659.760
Harga pokok penjualan

84.000.000
Laba kotor

18.659.760
Total biaya operasi

9.690.000
EBIT

8.969.760
Bunga

3.039.000
EBT

5.930.760
Pajak

2.119.660
NI sebelum Deviden Preferen

3.811.100
Deviden Preferen

120.000
NI tersedia untuk saham biasa

3.691.100
Deviden saham biasa

1.820.000
Penambahan pada laba ditahan

1.871.100

Tabel 7

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN PERUBAHAN MODAL KERJA

PER 31 DESEMBER 2004 - 31 DESEMBER 2005

(Dalam Ribuan Rupiah)

KETERANGAN
NERACA
PERUBAHAN MODAL KERJA

2004
2005
BERTAMBAH
BERKURANG

AKTIVA LANCAR

Kas
464,000
478,500
14,500

Surat Berharga
3,500,000
3,802,500
302,500

Piutang Usaha
11,000,000
12,837,000
1,837,000

Persediaan
27,000,000
27,507,000
507,000

Total Aktiva lancar


41,964,000
44,625,000

KEWAJIBAN LANCAR

Hutang Dagang

2,680,500
2,790,000

109,500

Hutang Wesel
4,680,000
4,815,000

135,000

Hutang Gaji
5,906,500
6,120,000

213,500

Total Hutang Lancar


13,267,000

13,725,000

Modal Kerja
28,697,000
30,900,000
2,661,000
458,000

Penambahan Modal

Kerja

2,203,000

2,661,000
2,661,000

(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia (diolah))

Tabel 8

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN PERUBAHAN MODAL KERJA
PER 31 DESEMBER 2005 - 31 DESEMBER 2006

(Dalam Ribuan Rupiah)

PERUBAHAN MODAL

NERACA
KERJA

KETERANGAN
2005
2006
BERTAMBAH
BERKURANG

AKTIVA LANCAR

Kas

478,500
450,000

28,500

Surat Berharga
3,802,500
3,825,000
22,500

Piutang Usaha
12,837,000
13,050,000
213,000

Persediaan
27,507,000
27,675,000
168,000

Total Aktiva lancar

44,625,000
45,000,000

KEWAJIBAN LANCAR

Hutang Dagang
2,790,000
2,700,000
90,000

Hutang Wesel
4,815,000
4,950,000

135,000

Hutang Gaji
6,120,000

6,300,000

180,000

Total Hutang Lancar


13,725,000
13,950,000

Modal Kerja
30,900,000
31,050,000
493,500
343,500

Penambahan Modal Kerja

150,000

493,500
493,500

(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia (diolah))

Tabel 9

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA
DALAM ARTIAN KAS

PER 31 DESEMBER 2004 - 31 DESEMBER 2005

(Dalam Ribuan Rupiah)

Sumber

Penggunaan

Laba Bersih
3,953,900
Pembayaran Deviden
1,740,000
Bertambahnya Depresiasi Mesin
180,000
Bertambahnya Surat Berharga
302,500
Bertambahnya Depresiasi Gedung
50,000
Bertambahnya Piutang
1,837,000
Bertambahnya Hutang Wesel
135,000
Bertambahnya Persediaan
507,000
Bertambahnya Hutang Gaji
213,500
Bertambahnya Mesin
945,000
Bertambahnya Hutang dagang

109,500
Bertambahnya Gedung
285,000
Bertambahnya Obligasi
974,600

Total Sumber Dana


5,616,500
Total Penggunaan Dana
5,616,500
(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia (diolah))

Tabel 10

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA
DALAM ARTIAN KAS
PER 31 DESEMBER 2005 - 31 DESEMBER 2006

(Dalam Ribuan Rupiah)

Sumber

Penggunaan

Laba Bersih
3,811,100
Pembayaran Deviden
1,820,000
Bertambahnya Depresiasi Mesin
810,000
Bertambahnya Surat Berharga
22,500
Bertambahnya Depresiasi Gedung
270,000
Bertambahnya Piutang
213,000
Bertambahnya Hutang Wesel
135,000
Bertambahnya Persediaan
168,000
Bertambahnya Hutang Gaji
180,000
Bertambahnya Mesin
3,000,000
Bertambahnya Obligasi

618,900
Bertambahnya Gedung
540,000
Berkurangnya Kas
28,500
Berkurangnya Hutang Dagang
90,000
Total Sumber Dana
5,853,500
Total Penggunaan Dana
5,853,500
(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia (diolah))

Tabel 11

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA
DALAM ARTIAN MODAL
PER 31 DESEMBER 2004 - 31 DESEMBER 2005

(Dalam Ribuan Rupiah)

Sumber

Penggunaan

Laba Bersih
3,953,900

Pembayaran Deviden
1,740,000
Bertambahnya Kas
14,500
Bertambahnya Mesin
945,000
Bertambahnya Depresiasi Mesin
180,000
Bertambahnya Gedung
285,000
Bertambahnya Depresiasi Gedung
50,000
Bertambahnya Modal Kerja
2,203,000
Bertambahnya Obligasi
974,600

Total Sumber Dana


5,173,000
Total Penggunaan Dana
5,173,000
(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia (diolah))

Tabel 12

PT. COCA COLA DISTRUBUTION INDONESIA


LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA

DALAM ARTIAN MODAL

PER 31 DESEMBER 2005 - 31 DESEMBER 2006

(Dalam Ribuan Rupiah)

Sumber

Penggunaan

Laba Bersih
3,811,100
Pembayaran Deviden
1,820,000
Bertambahnya Depresiasi Mesin
810,000
Bertambahnya Mesin
3,000,000

Bertambahnya Depresiasi Gedung


270,000
Bertambahnya Gedung
540,000
Bertambahnya Obligasi
618,900
Bertambahnya Modal Kerja
150,000
Total Sumber Dana
5,510,000
Total Penggunaan Dana
5,510,000
(Sumber: PT. Coca Cola Distribution Indonesia (diolah))

a) Perhitungan Perputaran komponen aktiva lancar

Kas
=

Penjualan

Rata-rata kas.

Penjualan

[(Kas awal + Kas Akhir)/2]


Pada tahun (2005)
=

90.000.000.000

[(464.000.000 + 478.500.000)/2]

90.000.000.000 471.250.000

190,98 kali

Pada tahun (2006)

102.659.760 .000

[(478.500.000 + 450.000.000)/2]

102.659.760 .000 464.250.000

221.13 kali

Piutang usaha
=
Penjualan

Rata-rata piutang

Penjualan

[(Piutang awal + piutang akhir) /2]

Pada tahun (2005)

= 90.000.000.000

[(11.000.000.000 + 12.837.000.000)/2]

90.000.000.000 11.918.500.000

7,55 kali

Pada tahun (2006) = 102.659.760 .000


[(12.837.000.000 + 13.050.000.000)/2]

102.659.760.000 12.943.500.000

7,93 kali

Persediaan
=

Harga pokok penjualan

Rata-rata persediaan

Harga pokok penjualan

[(Persediaan awal + persediaan akhir )/2]


Pada tahun (2005)
=
73.332.000.000

[(27.000.000 + 27.507.000)/2]

73.332.000.000

27.253.500.000

2,69 kali
Pada tahun (2006)
=

84.000.000.000

[(27.507.000 + 27.675.000)/2]

84.000.000.000

27.591.000.000

3,04 kali

Menghitung jangka waktu keterikatan dana

Kas (2005)
= 360 hari / 190,98 kali
=
1,88
hari

Putang usaha (2005)


= 360 hari / 7,55
kali
=
47,68
hari

Persediaan (2005)
= 360 hari / 2,69
kali

=
133,82
hari

Total Waktu Keterikatan Dana

=
183,38
hari
hari

Kas (2006)
= 360 hari / 221,13 kali
=
1,62
hari

Putri
Mitasari :
Analisa
Sumber
Dan
Penggun
aan
Modal
Kerja
Pada Pt
Coca
Cola
Distributi
on
Medan,
2008.

Putang usaha (2006)


= 360 hari / 7,93 kali
=
45,39
hari

Persediaan (2006)
= 360 hari / 3,04 kali
=
118,42

Indonesi
a

Total Waktu Keterikatan Dana

= 165,43 hari
Perputaran Modal Kerja
=

360 hari

Lama terikatnya modal kerja


Pada tahun (2005)
=

360
hari

183,38 hari

=
1,96 hari
Pada tahun (2006)
=

360
hari

165,43 hari

= 2,18 hari

ANALISA DAN EVALUASI

Berdasarkan uraian yang telah disajikan pada bab sebelumnya, maka pada bab ini
penulis memberikan analisa dan evaluasi mengenai sumber dan penggunaan
modal kerja pada PT. Coca Cola Distribution.

A. Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Dari laporan sumber dan penggunaan modal kerja pada akhir tahun 2005 terlihat
bahwa sumber modal kerja yang paling besar berasal dari laba bersih sebesar Rp.
3.953.900.000, dan hutang jangka panjang sebesar Rp. 974.600.000. Dari sumber
modal kerja yang ada terlihat bahwa perusahaan mengutamakan laba bersih untuk
membiayai pembelanjaanya. Sedangkan penggunaan modal kerja

yang paling menonjol adalah pembayaran deviden yaitu sebesar Rp.


1.740.000.000.
Pada tahun 2005 perusahaan mengalami peningkatan modal kerja sebesar Rp.
2.203.000.000. Ini dikarenakan perusahaan tidak melakukan pembelian aktiva
tetap yang terlalu banyak sehingga modal kerja yang ada akan bertambah di
neraca. Karena modal kerja di tahun 2005 mengalami peningkatan maka hal ini
tidak mengganggu kegiatan operasi perusahaan dan perusahaan tersebut dapat
dikatakan efisien dalam mengelola modal kerjanya.
Untuk tahun 2006 sumber modal kerja yang paling besar berasal dari laba bersih
sebesar Rp. 3.811.100.000. Dari sumber modal kerja yang ada terlihat bahwa
perusahaan mengutamakan laba bersih untuk membiayai pembelanjaanya.
Sedangkan penggunaan modal kerja yang paling besar berasal dari pembelian
mesin yaitu sebesar Rp. 3.000.000.000, dan pembayaran deviden
Rp.1.820.000.000, serta adanya penambahan gedung sebesar Rp. 540.000.000.
Di tahun 2006 perusahaan juga mengalami kelebihan modal kerja namun lebih
kecil dari tahun 2005 yaitu sebesar Rp. 150.000.000, hal ini disebabkan karena
perusahaan menggunakan sumber modal kerja untuk pembelian aktiva tetap yaitu
mesin dan gedung. Penambahan modal kerja pada tahun 2006 yang lebih kecil
dari tahun 2005 diakibatkan penggunaan dana untuk pembelian aktiva tetap yaitu
mesin dan gedung.
Dari uraian data diatas dapat dianalisa bahwa PT. PT. Coca Cola Distribution
sudah efisien dalam mengelola sumber dan penggunaan modal kerjanya, dan hal
ini tidak akan mengganggu kegiatan operasi perusahaan.

B. Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja (dalam bentuk kas)

Dalam laporan sumber dan penggunaan modal kerja (dalam bentuk kas) pada
akhir tahun 2005, terlihat bahwa sumber dana yang paling besar berasal dari laba
bersih 2005 sebesar Rp. 3.959.900.000, kemudian sumber dana yang lain yaitu
hutang jangka panjang Rp. 974.000.000, hutang jangka gaji Rp.213.500.000,
hutang wesel Rp. 135.000.000, hutang dagang Rp. 109.500.000. Sedangkan
penggunaan modal kerja yang paling besar adalah bertambahnya piutang sebesar
Rp.1.837.000.000, kemudian penggunaan yang lain yaitu pembayaran deviden
sebesar Rp. 1.740.000.000, pembelian mesin Rp.945.000.000, penambahan
persediaan Rp. 507.000.000, bertambahnya surat berharga Rp. 302.500.000, dan
penambahan gedung Rp. 285.000.000.
Pada tahun 2006 sumber modal kerja yang paling besar berasal dari laba bersih
sebesar Rp. 3.811.100.000 kemudian hutang jangka panjang sebesar
Rp.618.900.000, hutang gaji Rp. 180.000.000, hutang wesel Rp.135.000.000,
sedangkan penggunaan modal kerja yang paling besar mesin sebesar
Rp3.000.000.000,
Dalam dua tahun terakhir hutang yang harus dibayar mengalami peningkatan,
untuk hutang lancar tahun 2005 sebesar Rp. 13.725.000.000 dan pada tahun 2006
sebesar Rp. 13.950.000.000, maka terjadi peningkatan sebesar Rp. 225.000.000
dan untuk hutang jangka panjang tahun 2005 sebesar Rp. 33.311.100.000 dan
pada tahun 2006 sebesar Rp.33.930.000.000, maka terjadi peningkatan sebesar
Rp.618.900.000.

Dari laporan sumber dan penggunaan modal kerja (dalam bentuk kas) tahun 2005 tersebut dapat
dilihat bahwa penggunaan dana yang utama adalah karena bertambahnya piutang , pembayaran
deviden dan pembelian mesin. Sedangkan pada akhir tahun 2006 sumber dana paling besar dari
laba bersih sebesar Rp.3.811.100.000, kemudian obligasi sebesar Rp.618.900.000, laba bersih
pada tahun 2006 menurun dari tahun sebelumnya sebab biaya operasional pada tahun 2006
meningkat dan digunakan untuk membayar deviden yang cukup besar yaitu sebesar
1.820.000.000. Kemudian kenaikan penyusutan sebesar Rp.850.000.000, kenaikan penyusutan ini
dari tahun sebelumnya karena adanya penambahan aktiva tetap.