Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

BLOK NEUROENDOCRINE DISORDERS


PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK

Asisten :
Tito Prasetyo
G1A013003
oleh :
Kelompok 1
Karina Zata Amani
Anisa Dinda Nurliana
Ziyan Bilqis Amran
Safina Firdaus
Nadya Hasna Rasyida
Walida Fadillah D.
Intan M. Ulla

G1A014001
G1A014002
G1A014003
G1A014004
G1A014005
G1A014006
G1A014007

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
PURWOKERTO
2015

LEMBAR PENGESAHAN
PRAKTIKUM ANESTESI UMUM

oleh :
Kelompok1
Karina Zata Amani
Anisa Dinda Nurliana
Ziyan Bilqis Amran
Safina Firdaus
Nadya Hasna Rasyida
Walida Fadillah D.
Intan M. Ulla

G1A014001
G1A014002
G1A014003
G1A014004
G1A014005
G1A014006
G1A014007

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian praktikum farmakologi


Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto

Diterima dan disahkan


Purwokerto, 21 Oktober 2015
Asisten

Titp Prasetyo
G1A013003

DAFTAR ISI

Halaman Judul.......................................................................................................
Lembar Pengesahan...............................................................................................
Daftar Isi................................................................................................................
I.

II.

III.
IV.
V.
VI.

Pendahuluan...................................................................................................
A. Latar Belakang.........................................................................................
B. Tujuan.......................................................................................................
C. Manfaat.....................................................................................................
Tinjauan Pustaka............................................................................................
A. Definisi Anestesi.....................................................................................
B. Mekanisme Obat Anestesi.......................................................................
C. Medikasi Pra Anestesi.............................................................................
D. Klasifikasi Obat Anestesi........................................................................
E. Jenis Obat Anestesi Umum.....................................................................
Metode Praktikum..........................................................................................
Hasil dan Pembahasan....................................................................................
Kesimpulan.....................................................................................................
Daftar Pustaka................................................................................................

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anestesi merupakan suatu hal yang wajib dilakukan sebelum
melakukan tindakan yang menyebabkan rasa nyeri yang amat sangat. Anestesi

merupakan suatu kondisi dimana seseorang kehilangan sensasi nyeri dan


dengan disertai atau tanpa disertai hilangnya kesadaran (Katzung, 2007)
Anestesi dibagi menjadi 2, yaitu anestesi umum dan anestesi
lokal.Anestesi umum yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan hilangnya
persepsi terhadap semua sensasi akibat induksi obat.Anestetik umum
seringkali merupakan obat obatan yang menghilangkan kesadaran dan bekerja
di system saraf pusat, yaitu otak dan medulla spinalis. Sedangkan anestesi
lokal adalah anestesi yang hanya menimbulkan efek analgesic atau hilangnya
rasa nyeri, tanpa disertai dengan hilangnya kesadaran.Anestesi lokal bekerja
pada susnan saraf perifer. Hal tersebut menyebabkan mekanisme kerja dari
anestesi umum sangat berbeda dengan anestesi lokal. (Departemen
Farmakologi Universitas Sriwijaya, 2009; Katzung, 2007).
Anestesi umum dapat diberikan melalui 2 cara, yaitu secara parenteral
menggunakan injeksi intravena (IV) dan secara inhalasi (lewat jalur
pernafasan). Masing-masing cara pemberiannya memiliki efek positif dan
negative masing-masing (Farmakologi FK UI, 2014).
B. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui definisi dan cara kerja anestesi
2. Mengetahui perbedaan penggolongan anestesi beserta contohnya
3. Mengamati stadium stadium yang terjadi apabila menggunakan anestesi
pada tikus
4. Mengamati kerja anestesi umum dan efeknya apabila anestesi diberikan
pada hewan coba
C. Manfaat
1. Manfaat Umum
Agar dapat mengetahui mengenai anestesi, jenis jenis anestesi
terutama anestesi umum, cara kerja dan efek-efek yang ditimbulkan pasca
dilakukannya anestesi
2. Manfaat Khusus
A. Bagi mahasiswa
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami mekanisme
anestesi, terutama anestesi umum.

Agar mahasiswa dapat menerapkan prinsip-prinsip anestesi pada


saat telah menjadi dokter dikemudian hari.

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Anestesi
Anestesi berarti suatu keadaan dengan tidak ada rasa nyeri.Anestesi
umum ialah suatu keadaan yang ditandai dengan hilangnya persepsi terhadap
semua sensasi akibat induksi obat.Dalam hal ini, selain hilangnya rasa nyeri,
kesadaran juga hilang. Obat anestesi umum terdiri atas golongan senyawa kimia
yang heterogen, yang mendepresi SSP secara reversibel dengan spektrum yang
hampir sama dan dapat dikontrol. Obat anastesi umum dapat diberikan secara

inhalasi dan secara intravena.Obat anastesi umum yang diberikan secara


inhalasi (gas dan cairan yang mudah menguap) yang terpenting di antaranya
adalah N2O, halotan, enfluran, metoksifluran, dan isofluran. Obat anastesi
umum yang digunakan secara intravena, yaitu tiobarbiturat, narkotik-analgesik,
senyawa alkaloid lain dan molekul sejenis, dan beberapa obat khusus seperti
ketamin (Munaf, 2008).
Anestesi umum ini digunakan pada pembedahan dengan maksud
mencapai keadaan pingsan, merintangi rangsangan nyeri (analgesia), memblokir
reaksi refleks terhadap manipulasi pembedahan serta menimbulkan pelemasan
otot (relaksasi). Anestesi digunakan pada pembedahan dengan maksud
mencapai keadaan pingsan, merintangi rangsangan nyeri (analgesia), memblokir
reaksi refleks terhadap manipulasi pembedahan serta menimbulkan pelemasan
otot (relaksasi). Anestesi umum yang kini tersedia tidak dapat memenuhi tujuan
ini secara keseluruhan, maka pada anestesi untuk pembedahan umumnya
digunakan kombinasi hipnotika, analgetika, dan relaksasi otot (Neal, 2006).
2.2 Mekanisme Obat Anestesi
Stadium anestesi dibagi dalam 4 yaitu;
1. Stadium I (stadium induksi atau eksitasi volunter)
Dimulai dari pemberian agen anestesi sampai menimbulkan
hilangnya kesadaran.Rasa takut dapat meningkatkan frekuensi nafas dan
pulsus, dilatasi pupil, dapat terjadi urinasi dan defekasi.
2. Stadium II (stadium eksitasi involunter)
Dimulai dari hilangnya kesadaran sampai permulaan stadium
pembedahan.Pada stadium II terjadi eksitasi dan gerakan yang tidak
menurut kehendak, pernafasan tidak teratur, inkontinensia urin, muntah,
midriasis, hipertensi, dan takikardia.
3. Stadium III (pembedahan/operasi)
Terbagi dalam 3 bagian yaitu;
a. Plane I

Ditandai dengan pernafasan yang teratur dan terhentinya anggota


gerak. Tipe pernafasan thoraco-abdominal, refleks pedal masih ada, bola
mata bergerak-gerak, palpebra, konjungtiva dan kornea terdepresi.
b. Plane II
Ditandai dengan respirasi thoraco-abdominal dan bola mata ventro
medial semua otot mengalami relaksasi kecuali otot perut.
c. Plane III
Ditandai dengan respirasi regular, abdominal, bola mata kembali ke
tengah dan otot perut relaksasi.
d. Plane IV
Ditandai dengan respirasi abdominal sempurna, turunnya tekanan
darah dan reflek cahaya negatif.
4. Stadium IV (paralisis medulla oblongata atau overdosis)
Ditandai dengan paralisis otot dada, pulsus cepat dan pupil dilatasi.
Bola mata menunjukkan gambaran seperti mata ikan karena terhentinya
sekresi lakrimal (Munaf, 2008).

Sumber ?
2.3 Medikasi Pra Anestesi
Tujuan dari medikasi pra anestesi adalah untuk mengurangi
kecemasan
mengurangi

menjelang
kegawatan

pembedahan,
akibat

memperlancar

anestesi,

selain

induksi,

itu

akan

mengurangi hipersalivasi, bradikardia, dan muntah yang dapat


timbul selama maupun sesudah anestesi. Ada lima golongan obat
yang diberikan sebagai medikasi pra anestetik, yaitu ; analgesik

narkotik, sedatif barbiturat, benzodiazepin, antikolinergik, dan


neuroleptik. ( Nafrialdi, 2007).

a. Barbiturat
Walaupun terdapat beberapa barbiturat dengan masa kerja ultra
singkat, tiopental merupakan obat yang dipergunakan untuk induksi anestesi
dan banyak dipergunakan untuk induksi Anestesi dan banyak dipergunakan
dalam bentuk kombinasi denganan estetik inhalasi lainnya. Setelah
pemberian anestesi intravena, tiopental akan melewati sawar darah otak
secara cepat dan, jika diberikan pada dosis yang mencukupi akan
menyebabkan hipnosis dalam satu waktu sirkulasi. Efek yang sama akan
terlihat pada pemberian barbiturat dengan masa kerja ultra singkat lainnya
seperti tiamilal dan methoheksital. Pada semua barbiturate tersebut,
keseimbangan plasma otak cepat terjadi (kira-kira 1 menit) karena kelainan
lemak yang tinggi.Tiopental cepat berdifusi kelur otak dan jaringan lain yang
sanagat vaskuler serta akan didistribusikan kedalam otot, lemak dan seluruh
jaringan tubuh. Hal ini karena ia cepat dikeluarkan dari jaringan otak
sehingga pemberian dosis tunggal tiopental mempunyai masa kerja ultra
singkat (Craig, 2003).
Metabolime tiopental sangat lambat dan akan didistribusikan ke hati.
Kurang dari 1% dari tiopental yang diberikan akan diekskresikan melalui
ginjal dalam bentuk utuh. Tiopental, seperti barbiturat lainnya mendepresi
pusat pernafasan dan menurunkan sensitivitas pusat pernafasan terhadap
karbon dioksida. Tiopental dapat menrunkan aliran darah hati dan laju filtrasi
glomerulus, tetapi tidak mengganggu fungsi hati dan ginjal (Craig, 2003).
b. Benzodiazepin
Benzodiazepin yang digunakan sebagai anestesia ialah diazepam,
lorazepam, dan midazolam. Dengan dosis untuk induksi anestesia, kelompok
obat ini menyebabkan tidur, mengurangi cemas, dan menimbulkan amnesia
anterograd. Tetapi tidak berefek analgesik. Benzodiazepin digunakan untuk
menimbulkan sedasi untuk tindakan yang tidak memerlukan analgesia

seoerti endoskopi, kateterisasi, kardioversi, atau tindakan radiodiagnostik.


Benzodiazepine juga digunakan untuk medikasi pra-anestetik sebagai
(neurolepanalgesia) dan untuk mengatasi konvulsi yang disebabkan oleh
anesteis lokal dalam anestetik regional. Bersama dengan tiopental dan obat
pra-anestetik, benzodiazepine ini menyebabkan pemuliahan lebih lama,
tetapi amnesia anterograd yang ditimbulkannya bermanfaat mengurangi
kecemasan pascabedah (Zunilda dan Elysabeth, 2007).
2.4 Klasifikasi Obat Anestesi
Anestesi umum dikelompokkan berdasarkan bentuk fisiknya dalam
farmakologi terdahulu, tetapi karena pembagiannya tidak sejalan dengan
penggunaannya di klinik, sehingga anestesi umum sekarang dibedakan menjadi dua
cara yaitu secara inhalasi dan intravena (Zunilda, 2009).
1. Anestesi Inhalasi
Anestesi inhalasi yang sempurna adalah (Katzung, 2012) :
a. masa induksi dan masa pemulihan singkat dan nyaman
b. peralihan stadium anestesinya cepat
c. reaksi otot sempurna
d. berlangsung cukup aman
e. ESO dan efek toksik minimal dengan dosis anestetik lazim
Anestesi inhalasi yang menyebabkan tidak nyaman adalah (Zunilda,
2009) :
a. Bau
b. Sifat iritatif saluran nafas
2. Anestesi Intravena
Tujuan pemberian anestesi intravena adalah (Zunilda, 2009) :
a. Induksi anestesi
b. Induksi dan pemeliharaan anestesi pada pembedahan singkat
c. Menambah efek hipnotis pada anestesi atau analgesi lokal

d. Menimbulkan sedasi pada tindak medis


Anestesi intravena ideal adalah (Zunilda, 2009) :
a. Cepat menghasilkan hipnotis
b. Mempunyai efek analgesia
c. Menimbulkan amnesia pasca anestesia
d. Dampak buruk mudah di hilangkan dengan antagonisnya
e. Cepat dieliminasi dalam tubuh
f. Tidak atau sedikit mendepresikan fungsi respiresi dan kardiovaskular
g. Pengaruh farmakokinetik tidak tergantung disfungsi organ

2.5 Jenis Obat Anestesi Umum


Berikut adalah jenis obat anestesi umum, yaitu
1.

Halotan
Merupakan anestetik golongan hidrokarbon yang merupakan anestetik
kuat dengan analgesia lemah.Cairan tidak berwarna, bau enak, tidak iritatif,
mudah menguap, tidak mudah terbakar.Halotan merupakan anestetik dengan
kekuatan 4-5 kali eter atau 2 kali kloroform (Zunilda, 2009).
Keuntungan (Zunilda, 2009):
a. Induksi cepat dan lancar
b. Tidak mengiritasi jalan nafas
c. Bronkodilatasi
d. Pemulihan cepat
e. Proteksi terhadap syok
f. Jarang menyebabkan mual muntah
Kerugian (Zunilda, 2009):
a. Sangat poten
b. Relatif mudah terjadi OD
c. Analgesi dan relaksasi yang kurang (harus kombinasi)
d. Mahal
e. Menimbulkan hipotensi

f. Aritmia
g. Meningkatkan TIK
h. Menggigi pasca anestesi dll.
Dosis induksi 2-4 % dan pemeliharaan 0,5-2 % (Zunilda, 2009).
2. Enfluran
Enfluran adalah anestesi eter berhalogen yang tidak mudah terbakar
dengan fase induksi anestesi yang relative lama.Anestesi inhalasi kuat yang
Juga digunakan untuk anestesi persalinan. Memiliki daya relaksasi dan
analgesi otot yang baik untuk melemaskan otot uterus pada kadar 0,25-1,25.
Tidak begitu menekan SSP. Induksi cepat dan lancar serta pemulihan yang
cepat (Zunilda, 2009).
Pemberian enfluran 1 % bersama N2O dan O2 dapat menurunkan
tekanan introkular yang berguna untuk operasi mataEfek samping enfluran
pasca pemulihan bisa terjadi seperti menggigil, hipotermia, gelisah, delirium
dan lain-lain (Zunilda, 2009).
3. Isofluran
Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar, berbau tajam
dan dalam kadar tinggi dalam nafas membuat pasien menahan nafas dan
terbatuk. Isofluran merelaksasikan otot rangka dengan baik dan meningkatkan
efek pelumpuh otot depolarisasi daripada enfluran (Katzung, 2012).
Keuntungan: irama jantung stabil dan tidak terangsang oleh adrenalin
serta induksi dan masa pulih anestesi cepat (Katzung, 2012)
4. Sevofluran
Turunan eter berhalogen yang paling disukai untuk induksi
inhalasi.Induksi cepat dan nyaman terutama pada anak.Tetapi tidak stabil
secara kimiawi, sehingga kedudukannya sebagai anestesi inhalasi belum jelas.
(Katzung, 2012).
5. Eter
Cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau khas dan mengiritasi
saluran nafas, mudah terbakar/meledak dan dapat terurai oleh cahaya atau

udara.Eter merupakan obat anestesi yang sangat kuat sehingga pasien dapat
memasuki setiap tingkat anestesi.Dapat digunakan dengan berbagai metode
anestesi (Katzung, 2012).
Eter

menyebabkan

mual

dan

muntah

terutama

pada

masa

pemulihan,tetapi dapat pula terjadi saat induksi, sering pula menyebabkan


iritasi lambung dari eter yang tertelan (Katzung, 2012).
6. Obat Anestesi IV
Seperti ketamin adalah obat yang diberikan melalui jalur IV, baik yang
berefek hipnotik atau analgesik maupun pelumpuh otot.Anestesi ketamin
diawali dengan disosiasi mental di 15 detik pertama kadang sampai halusinasi,
pulih setelah 10-15 menit dan analgesia bertahan hingga 40 menit dengan
amnesia yang berlangsung hingga 1-2 jam. Pada masa pemulihan juga bisa
terjadi emergence phenomenon kelainan berupa ilusi sensoris, perseptif dan
mimpi buruk dapat dikurangi dengan pemberian diazepam 0,2-0,3 mg/kgBB 5
menit sebelum pemberian ketamine (Zunilda, 2009).
7. Propofol
Secara kimiawi propofol tidak ada hubungannya dengan anestesi IV
lain. Zat yang dikemas dalam emulsi lemak berwarna putih susu bersifat
isotonik dengan kepekatan 1 %. Suntikan IV sering menyebabkan nyeri,
sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg
IV.Pengenceran propofol hanya boleh dengan dextrosa 5%, pada manula dosis
dikurangi, pada anak < 3 tahun dan ibu hamil tidak dianjurkan (Katzung,
2012).
Kelebihan propofol adalah bekerja lebih cepat dari tiopental konfusi
pasca bedah minimal dan sedikit menyebabkan mual muntah pasca bedah,
dengan efek samping kejang atau bahkan terjadi gerakan involunter selama
induksi (Katzung, 2012).
8. Fenthanyl dan droperidol
Tersedia dalam kombinsai tetap, mengandung fentanyl sitrat 0,05 mg
dan droperidol 2,5 mg/mL yang digunakan untuk analgesik dan anestesi

neuroleptic dengan kedua obat ini dan diberikan bersama N 2O keadaan ini
digunakan

pada

sistoskopi,

bronkoskopi,

kateterisasi

jantung

dan

penggantian pembalut luka bakar. Anestesi neuropatik dapat mencapai


anestesi umum yang baik dan memuaskan dan kesadarn cepat kembali
dengan jika pemberian N2O dihentikan (Zunilda, 2009).

III METODE PRAKTIKUM


3.1 Alat dan Bahan
1. Alat

1. Bahan

a.
b.
c.
d.
:

Beaker glass 100cc


Kapas
Aluminium foil
Spuit Tuberculini
Eter

3. Hewan coba: Rattus novergicus


3.2 Metode Praktikum

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Waktu (menit)

Pernapasan

Penurunan kesadaran

5
10
15

Tak teratur
Teratur
-

+
++
-

Hasil Pengamatan Eter

4.2 Pembahasan
Anestesi yaitu hilangnya rasa nyeri
baik dengan kesadaran atau tanpa kesaadaran.

Anestesi sendiri memiliki

beberapa stadium, yaitu:


1. Stadium Analgesia/Cisorientasi
Stadium ini dimulai dari induksi sampai hilangnya kesadaran.Pada stadium
ini pasien tidak lagi merasakan nyeri (analgesia), tetapi masih sadar dan dapat
mengikuti perintah.Stadium ini diakhiri dengan tanda hilangnya refleks bulu
mata.Selain itu, pada stadium ini juga dapat dilakukan tindakan pembedahan
ringan.
2. Stadium Eksitasi/Delirium
Dimulai dari hilangnya kesadaran sampai munculnya pernafasan yang
teratur.Pada

stadium

ini

pasien

seringkali

mengalami

delirium

dan

eksitasi.Pernafasan menjadi tidak teratur dan timbul gerakan-gerakan tidak


teratur, serta bisa mual dan muntah bila dirangsang.Sehinhgga stadium ini harus
cepat dilalui.Stadium ini diakhiri dengan kembalinya pernafasan yang teratur.
3. Stadium Operasi

Diawali dengan pernafasan regular yang teratur dan berlanjut hingga


terhentinya pernafasan spontan (Apnea). Dibagi dalam 4 plana, yaitu:
a. Plana 1
Pernafasan teratur, spontan, seimbang antara pernafasan dada dan perut,
gerakan bola mata involunter, miosis, tonus otot rangka masih ada.
b. Plana 2
Pernafasan teratur tetapi frekuensi lebih kecil, bola mata tidak bergerak,
pupil melebar, otot rangka melemas, dan refleks laring hilang sehingga bisa
dilakukan intubasi.
c. Plana 3
Pernafasan perut lebih nyata dibanding dada karena lumpuhnya otot
intercostal, relaksasi otot rangka sempurna, pupil melebar dan refleks cahaya
menghilang.
d. Plana 4
Pernfasan abdominal sempurna, lumpuh total otot intercostal, tekanan darah
mulai turun, pupil melebar maksimal, refleks cahaya menghilang.

4. Stadium Depresi Medula Oblongata/Paralisis.


Kedalaman stadium anestesi ini ditandai dengan terjadinya depresi berat
pusat vasomotor dan pernafasan di medulla oblongata yang diikuti dengan
kegagalan sirkulasi
Berdasarkan teori yang sudah ada dilakukan pengamatan dengan hewan
coba (Rattus norvegicus) guna mengamati pergantian stadium beserta
efeknya.Digunakan bahan anastesi pada percobaan yang diberikan kepada
probandus salah satunya adalah eter.Eter merupakan cairan yang tidak
berwarna, mudah menguap, mudah meledak dan berbau tidak enak.Eter
memiliki sifat analgesik sangat kuat tetapi pasien masih dalam keadaan sadar.

Hewan coba (Rattus norvegicus) dimasukkan ke dalam beker glass yang


telah berisi kapas didasarnya.Beker glass ditutup dengan alumunium foil yang
sebelumnya telah dilubangi untuk mencegah hipoksia. Setelah itu dimasukkan
0.5 cc eter melalui spuit tuberculin dan ditusukkan kedalam aluunium foil,
pastikan eter mengenai kapas.Setelah itu praktikan mengamati pergantian
stadium

dari

stadium

analgesik

hingga

stadium

depresi

medua

oblongata.Setiap 5 menit sekali diberikan 0.5 cc eter sampai masuk ke


stadium 4 yaitu depresi medula oblongata.
Hasil yang didapat dari percobaan dengan eter didapatkan pernapasan
dalam 1 menit pertama masih normal, lalu masuk ke menit berikutnya sampai
menit ke-5mulai kehilangan kesadaran dan nafas mulai tak teratur. Pada 5
menit kedua diberikan 0.5 cc eter setelah itu nafas hewan mulai teratur tetapi
frekuinsinya lebih kecil. Lalu 5 menit ke 3 diberikan lagi 0.5 cc eter hasilnya
hewan coba nafasnya sudah tak terlihat lagi dan dan tak ada respon saat
dirangsang. Sehingga kami memutuskan bahwa hewan telah memasuki
stadium ke 4 yaitu depresi medula oblongata, sehingga kami tak melanjutkan
pemberian eter pada menit selanjutnya.
Anestesi yang diberikan pada hewan coba adalah dengan cara inhalasi
dengan sistem tetes setengah terbuka (semi-open drop sytem) karena hewan
coba dibiarkan menghirup udara yang tercampur dengan eter yang sudah
ditetes ke kapas di dalam beker glass yang telah ditutup alumunium foil.
Jika hasil percobaan eter dibandingkan dengan hasil percobaan dengan
obat anestesia umum lain seperti ketamin, propofol dan fenobarbital, eter
menunjukkan efek yang paling cepat dalam segi pernapasan, penurunan
kesadaran dan analgesia. Efek kejang yang tidak terlihat pada pengamatan eter
dapat terlihat pada pengamatan ketamin dan propofol.Efek vasodiltasi yang
tidak terlihat pada pengamatan eter juga dapat diamati pada pengamatan
ketamin dan fenobarbital. Berdasarkan pengamatan eter mempunyai sifat

anestesi yang sangat kuat, tetapi sangat toksik serta dapat mengiritasi saluran
pernafasan sehingga sekarang secara klinis sudah tak digunakan lagi.
APLIKASI KLINIS
1. Laparoskopi apendiktomi
Laparoskopi apendiktomi merupakan operasi pengangkatan apendix
yang dilakukan dengan teknik bedah laparoskopi.Laparoskopi adalah bagian
dari teknik endoskopi(Namir et al., 2013).Sebelum operasi dimulai, pasien
menjalani puasa selama kurang lebih enam jam sebelum operasi dimulai dan
diberikan Petidin per IM guna mengurangi rasa nyeri saat pembedahan
dan Midazolam per IV. Pada saat induksi, pasien akan diberikan Propofol per
IV

dan Succinylcholine

per

IV.

Saat operasi berlangsung pasien diobservasi tekanan darah, nadi, dan


pernapasannya. Lalu diberi anestesi umum berupa anestesi inhalasi berupa
halotan, N2O, dan O2.
Kemudian diberi injeksi relaksan otot (Atracurium), injeksi Ketorolac per IV,
dan injeksi antibiotik seftriakson per IV (Namir et al., 2013).
Petidin merupakan golongan narkotika yang memiliki sifat analgesik
yang kuat dan memiliki durasi yang lebih pendek daripada morfin serta
memiliki efek minimal pada pernafasan.Petidin diberikan secara IM dengan
dosis 1 mg/ kgbb atau intravena 0,5 mg/Kgbb, sedangkan morfin sepersepuluh
dari petidin dan fentanil seperseratus dari petidin. Midazolam merupakan obat
gologan benzodiazepin yang memiliki sifat antiansietas, sedatif, amnesik,
antikonvulsan, dan relaksan otot skelet. Dosis midazolam yaitu 0,025-0,1
mg/kgBB (5mg/5cc) dengan awitan aksi IV 30 detik, efek puncak 3-5 menit,
dan lama aksi 15-80 menit (Boulton dan Blogg, 2006).
Pada tahap induksi, diberikan propofol dan Succinylcholine. Propofol
adalah salah satu obat hipnotik intravena diisopropilfenol yang dapat
menimbulkan induksi anestesi yang cepat dengan aktivitas eksitasi minimal.

Propofol diberikan pada pasien dewasa dan pasien anak anak usia lebih dari
3 tahun dengan dosis 2-2,5 mg/kgBB (200mg/20cc) dengan awitan aksi 40
detik, dengan efek puncak 1 menit dan lama aksi 5-10 menit. Dosis induksi
memiliki efek tidak sadar untuk pasien, dimanapropofol dalam dosis yang
kecil dapat menimbulkan efek sedasi, tanpa disertai efek analgetik, dan
pemulihan kesadaran berlangsung cepat.Succinylcholine adalah salah satu
obat

untuk

relaksan

otot

skelet

depolarisasi

beraksi

ultrapendek.

Succinylcholine tidak mempunyai efek terhadap kesadaran, ambang nyeri,


serebrasi, dan tidak mempunyai efek langsung terhadap otot polos. Dosis
intravena 0,7-1 mg/kgBB (BoultondanBlogg, 2006).
Saat operasi, pasien diberi anestesi umum melalui proses anestesi
inhalasi menggunakan hallotan, N2O, dan O2. Hallotan merupakan salah satu
anestetik kuat dengan efek analgesia lemah, induksi dan tahapan anestesia
dilalui dengan mulus, bahkan pasien akan segera bangun setelah anestetik
dihentikan. Halotan merupakan agen anestestikinhalasi paling murah karena
keamanannya hingga kini tetap digunakan di dunia.Hallotan menghambat otot
jantung dan otot polos pembuluh darah serta menurunkan aktivitas saraf
simpatis.N2O sukar larut dalam darah dan merupakan anestetik yang kurang
kuat.Setelah induksi dicapai, tekanan parsial akan diturunkan untuk
mempertahankan anestesia. Dengan perbandingan N2O:O2 = 85:15, induksi
cepat dicapai tetapi tidak boleh terlalu lama karena dapat mengakibatkan
hipoksia. Kombinasinya

dengan agen anestetik inhalasi lain dapat

menurunkan MAC agen inhalasi tersebut sampai 50% (BoultondanBlogg,


2006).
2. Generalized Anxiety Disorder
Generalized anxiety disorder atau kecemasan yang berlebihan tanpa alasan
atas kejadian-kejadian dalam kehidupan ini biasanya ditangani dengan obatobatan, biasanya dalam hubungannya dengan psikoterapi. Obat yang paling
sering digunakan untuk kecemasan adalah benzodiazepine. Karena gejala-

gejala kecemasan dapat disembuhkan dengan banyak jenis benzodiazepine,


maka sulit untuk memperlihatkan keunggulan satu obat atas obat lainnya.
Namun, alpazolam efektif dalam penanganan penderita gangguan panik dan
agorafobia, dan lebih selektif dibandingkan

jenis benzodiazepine lainnya

(Katzung, 2007).
3. Nyeri Ginjal Akut dan Kolik Bilier
Dibutuhkan agonis opioid guna menghilangkan nyeri pada keadaan akut nyeri
gagal ginjal dan kolik bilier yang parah.Tetapi, obat yang sering digunakan
dapat menimbulkan peningkatan tonus otot polos yang dapat menimbulkan
peningkatan

paradoksal

pada

nyeri

sekunder

akibat

peningkatan

spasme.Biasanya peningkatan dosis opioid berhasil memberikan efek analgesi


yang kuat (Katzung, 2007).

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, maka kesimpulan yaang didapat:

1. Senyawa Eter merupakan senyawa kuat untuk anestesi umum yang cara
pemberiannya melalui inhalasi.
2. Senyawa Eter memberikan efek anestesi yang sangat cepat. Pada setiap
tahapan anestesi dapat dilalui hanya beberapa waktu saja dan sampai pada
tahap akhir anastesi yang dapat menyebabkan paralisis medulla oblongata
sehingga dapat menyebabkan kematian.
3. Oleh karena senyawa Eter merupakan senyawa kuat, maka penggunaan
senyawa Eter untuk anastesi umum manusia sudah tidak diperbolehkan.

DAFTAR PUSTAKA

Boulton, T., Blogg, C. 2006. Anestesiologi. Jakarta: EGC

Craig, Charles R. 2003. General Anesthesia: Intravenous and Inhalational Agents.


Modern Pharmacology with Clinical Application Fifth Edition.Mc-Graw
Hill.291-310
E.B.C, et al., 2008.Anestesiologi.Edisi 10. Jakarta: EGC.
Departemen Farmakologi FKUI. 2010.Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran UI, Jakarta
Munaf, S., 2008.Kumpulan Kuliah Farmakologi. Palembang: EGC.
M.J.Neal.2006.AtglanceFarmakologiMedis.Edisi5.Erlangga:JakartaOlson,James,M.D
Nafrialdi ; Setawati, A., 2007. Farmakologi dan Terapi.Edisi 5. Departemen
Namir, K., Mason, R., Shirin, T., Gevorgyan, A., Essani, R. 2013.Laparoscopic
Versus Open Appendectomy.Annals of Surgery.242(3): 439450.
Katzung, Bertram G. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik Buku 2 Edisi 10.Jakarta :
Salemba Medika.
Katzung, B. G. (2012). Basic and Clinical Pharmacology 12th Edition. San
Fransisco: Mc Graw Hill Lange.
Ph.D.2003.Belajar Mudah Farmakologi.Jakarta:EGC
Zunilda, D, S., Elysabeth. 2007. Obat Susunan Saraf Pusat Dalam Buku Farmakologi
dan Terapi FKUI.Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Zunilda, D, S., Elysabeth. 2009.Farmakologi dan Terapi FKUI.Jakarta : Balai
Penerbit FKUI