Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu inti dari ilmu keperawatan ialah pemberian asuhan keperawatan yang
bersifat holistic, dimana pasien bukan hanya individu yang mengalami suatu penyakit,
tapi juga termasuk orang yang sehat, serta orang yang berada dalam lingkungan
sekitarnya. Dalam hal ini yang menjadi objek pemberian asuhan terpenting yang terkait
dengan lingkungan sekitar adalah keluarga. Karena di sinilah awal mulainya kehidupan
masing-masing individu, sehingga untuk mampu menciptakan individu sehat dapat
dimulai melalui keluarganya.
Keluarga juga dikenal sebagai unit terkecil dari masyarakat penerima asuhan
keperawatan. Ia merupakan bagian transisi antara kehidupan individu dengan masyarakat,
sehingga memiliki sifat unik yang membutuhkan asuhan khusus dari perawat.
Pada dasarnya keperawatan keluarga merupakan bidang kekhususan spesialisasi
yang terdiri dari ketrampilan berbagai bidang keperawatan. Praktik keperawatan keluarga
didefinisikan sebagai pemberian perawatan yang menggunakan prosess keperawatan
kepada keluarga dan anggota-anggotanya dalam situasi sehat dan sakit. Sehingga
keperawatan keluarga sangatlah penting demi terciptanya kehidupan sehat, aman dan
nyaman.
Meskipun sangat penting dalam kehidupan pemberian asuhan kepada keluarga
saat ini belum bisa dikaatakan maju dan berhasil, karena terdapat berbagai permasalahan
Pelayanan keperawatan keluarga yang belum berkembang meskipun telah disusun
pedoman pelayanan keluarga namun belum disosialisaikan secara umum, selain itu
pengetahuan spesifik terkait keperawatan keluarga belum dimiliki oleh seluruh perawat,
sehingga perlu adanya pembekalan yang lebih dari segi keilmuan.
Salah satu hal yang harus mampu dipahami dalam keperawatan keluarga adalah
konsep, karena inilah acuan atau rujukan dalam penerapan asuhan kepada keluarga. Kita
harus mampu mengenal lebih jauh tentang esensi dasar keluarga, salah satu yang penting
untuk dipahami adalah struktur keluarga. Struktur keluarga ini menentukan fungsi
keluaraga dalam kehidupan sehingga tentu dengan memahami secara jelas terkait struktur
dalam keluarga kita dapat memahami fungsi-fungsi yang dijalankan keluarga, serta

bagian-bagian dan pola dalam keluarga yang sangat diperlukan dalam berbagai
pendekatan untuk memberikan asuhan keperawatan keluarga.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan struktur keluarga?
2. Apa fungsi dari keluarga yang berhubungan dengan struktur ?
3. Apa ciri dari struktur keluarga?
4. Apa elemen dalam struktur keluarga?
5. Bagaimana pengkajian struktur keluarga ?
6. Apa tahapan dan indikator keluarga sejahtera?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan struktur keluarga
2. Untuk mengetahui fungsi dari keluarga yang berhubungan dengan struktur
3. Untuk mengetahui ciri dari struktur keluarga
4. Untuk mengetahui elemen dalam struktur keluarga
5. Untuk mengetahui pengkajian struktur keluarga
6. Untuk mengetahui tahapan dan indikator keluarga sejahtera

BAB II
PEMBAHASAN
A. Struktur Keluarga
1 Definisi
Menurut KBBI struktur diartikan sebagai :1 cara sesuatu disusun atau dibangun;
susunan; bangunan; 2 yg disusun dng pola tertentu; 3 pengaturan unsur atau bagian suatu
benda; 4 ketentuan unsur-unsur dari suatu benda;
Sementara keluarga didefinisikan sebagai kumpulan dua orang atau lebih yang
bergabung karena hubungan darah, perkawinan atau adopsi, hidup dalam satu rumah
tangga yang saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan serta
mempertahankan suatu budaya.
Jadi struktur keluarga merupakan susunanan atau pola yang dibangun di dalam
keluarga. Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan
fungsi keluarga di masyarakat sekitarnya. Ia memiliki keterkaitan yang erat dengan
fungsi keluaraga. Selain itu adanya struktur dalam keluarga juga menyatakan cara-cara
yang digunakan untuk menata unit-unit di dalam keluarga.
Struktur keluarga adalah bagaimana keluarga mampu memenuhi fungsi-fungsi
keluaraga. Hal ini sangat penting untuk memudahkan pencapaian fungsi-fungsi keluarga.
Selain itu struktur keluarga dapat diperluas dan dipersempit tergantung dari kemampuan
2

dari keluarga tersebut untuk merespon stressor yang ada dalam keluarga.
Fungsi keluarga yang berhubungan dengan struktur:
a Struktur egalisasi : masing-masing keluarga mempunyai hak yang sama dalam
b
c

menyampaikan pendapat (demokrasi)


Struktur yang hangat, menerima dan toleransi
Struktur yang terbuka, dan anggota yang terbuka : mendorong kejujuran dan

kebenaran (honesty and authenticity)


d Struktur yang kaku : suka melawan dan tergantung pada peraturan
e Struktur yang bebas : tidak adanya aturan yang memaksakan (permisivenes)
f Struktur yang kasar : abuse (menyiksa, kejam dan kasar)
g Suasana emosi yang dingin (isolasi, sukar berteman)
h Disorganisasi keluarga (disfungsi individu, stress emosional)
3 Ciri-Ciri Struktur Keluarga
Adapun cirri-ciri struktur keluarga anatara lain;

a. Terorganisasi, yaitu saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota


keluarga.
b. Ada keterbatasan, dimana setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga
mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.
c. Ada perbedaan dan kekhususan, yaitu setiap anggota keluarga mempunyai peranan
4

dan fungsi masing-masing.


Elemen atau Dimensi dalam Struktur Keluarga
Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga melakukan fungsi
keluarga di masyarakat sekitarnya. Prad dan Caplan (1965) yang diadopsi oleh Friedman
mengatakan ada empat elemen struktur keluarga, yaitu:
a Struktur kekuatan keluarga
1) Definisi
Kekuasaan adalah kemampuan, baik kemampuan potensial maupun actual
dari seorang individu untuk mengontrol, mempengaruhi, dan mengubah tingkah
laku seseorang. Kekuasaan selalu melibatkan hubungan antar pribadi yang
asimetris (satu interakten) menggunakan pengaruh yang lebih besar dalam
hubungan. Komponen utama dari kekuasaan keluarga adalah pengaruh dan
pengambilan keputusan. Pembuatan keputusan ini merujuk pada proses
pencapaian persetujuan dan komitmen anggota keluarga untuk melakukan
serangkain tindakan atau menjaga status quo.
2) Mengukur kekuasan keluarga
Hubungan alokasi tugas dengan kekuasaan kelurga
Menurut Blood dan wolfe (1955) berasumsi bahwa terdapat suatu hubungan
positif antara siapa yang ditugaskan untuk melakukan tugas tertentu dan
kekuasaan dalam bidang tersebut. Selain itu terdapat penelitian pula bahwa

hal ini merupakan pembagian tanggung jawab di dalam keluarga.


Berfokus pada hasil pembuatan keputusan
Dalam hal ini kekuasaan kelurga secara khusus telah di teliti dalam

memusatkan perhatian pada pengambilan keputusan


3) Bidang bidang pengkajian umum
a) Dasar dasar kekuasaan
Kekuasaan atau wewenag yang sah
Contohnya adalah control dominasi orang tua pada anak.
Kekuasaan yang tak berdaya atau putus asa
Contohnya dimana salah satu anggota keluarga sakit secara kronis, cacat,
atau lansia. Seorang suami atau istri atau anggota keluarga yang cacat

dapat mengontrol anggota keluarga atas dasar ketidakberdayaannya atau

kelemahannya.
Kekuasaan referen
Contohnya anak anak meniru tingkah laku anggota keluarga.
Kekuasaan ahli dan sumber
Suami dominan karena ia mengontrol uang belanja, atau istri dominan
karena ia lebih praktis dan terarah pada tujuan daripada suami
Kekuasaan penghargaan
Misalnya anak sering menggunakan tingkah laku yang baik untuk

memperoleh keuntungan yang diinginkan.


Kekuasaan memaksa
Kekuasaan afektif
Wanita menjadi sumber kekuasaan karena ia dicintai oleh suaminya.
Kekuasaan menejemen ketengan
Contohnya adalah mengalah dalam perdebatan keluarga
b) Variabel Yang Mepengaruhi Struktur Kekuasaan Keluarga
Hirarki kekuasaan keluarga
Tipe bentuk keluarga(orang tua tunggal,keluarga tunggal,keluarga

campuran,keluarga inti kedua orang tua tradisional,dll)


Pembentukan koalisi/persatuan
Jaringan komunikasi keluarga
Kelas sosial
Tahap perkembangan keluarga.
Latar belakang budaya dan religious.
Kelompok situasuonal
Variable individu (jenis kelamin anggota,usia,harga diri,dan ketrampilan

interpersonal)
Saling ketergantungan emosi pasangan dan tanggung jawab untuk

menikah
4) Kekuasaan Keluarga Keseluruhan
Agar mampu mengklasifikasikan sebuah keluarga sebagai struktur kekuasaan
menyeluruh
b

Struktur Peran Keluarga


1) Teori dan Definisi Peran Keluarga
a) Definisi
Struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai
dengan posisi sosial yang diberikan. Jadi, pada struktur peran bisa bersifat
formal atau informal. Selain itu peran juga adalah orientasi strukturalis

yang menekankan pengruh normatif (cultural), yaitu pengaruh yang


berkaitan dengan status-status tertentu dan peran-peran terkaitnya (Linton,
1945) dan orientasi interaksi dari Turner (1970) yang menekankan
timbulnya kualitas peran yang lahir dari interaksi sosial.
Posisi atau Status
Sebagai tempat seseorang dalam suatu sistem sosial. Sementara
peran-peran adalah perilaku-perilaku yang berkenan dengan siapa

yang memegang suatu posisi tertentu.


Okupan Peran
Okupan peran atau role okupan adalah seorang yang memegang

suatu posisi dalam struktur sosial.


Perilaku Peran
Perilaku peran, performa peran, dan penetapan peran

(role

enactment) adalah istilah yang digunakan secara bergantian yang


menyatakan apa yang sebenarnya seseorang lakukan didalam posisi

tertentu sebagai respon terhadap harapan harapan peran.


Konflik Peran
Konflik antar peran adalah konflik yang terjadi jika pola-pola
perilaku atau norma-norma dari satu peran tidak kongruen dengan

peran lain yang dimainkan secara bersamaan oleh individu.


Dimensi-dimensi Normative Peran
Peran didefinisikan secara normative atau kultur adalah budaya
dimanan

seseorang

berpartisipasi

dan

atau

dimana

individu

mengindentifikasi ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan perilaku

okupan-okupan dari berbagai posisi.


Kebersamaan Peran
Menunjukkan kepada keikutsertaan atau partisipasi dari dua
orang atau lebih dalam peran-peran yang sama meskipun mereka

memegang peran yang sama.


Pemeranan
Peran respiprokal atau Komplementer
Sebuah peran saling bergantung satu sama lain dan berkaitan

dengan peran dari pasangannya.


2) Peran-peran formal keluarga
Peran formal yang standar terdapat dalam keluarga yaitu pencari nafkah,
ibu rumah tangga, tukang perbaiki rumah, juru masak dan sebagainya.
6

Peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami (ayah), isteri
(ibu) antara lain : peran sebagai provider, sebagai pengatur rumah tangga,
perawatan anak, sosialisasi anak, reksreasi, persaudaraan, peran terapeutik, dan
peran seksual.
3) Peran informal keluarga
Peran-peran informal biasanya tidak tampak, dimainkan hanya untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu dan/ atau untuk menjaga
keseimbangan dalam keluarga. Peran informal mempunyai tuntunan yang berbeda
tidak terlalu didasarkan pada usia ataupun jenis kelamin, melainkan lebih
didasarkan pada atribut-atribut personalitas atau kepribadian individu dalam
c

keluarga.
Struktur atau Pola Komunikasi
Komunikasi di dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila dilakukan
secara jujur, terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai, dan ada hierarki
kekuatan. Komunikasi keluarga bagi pengirim yakin mengemukakan pesan secara
jelas dan berkualitas, serta meminta dan menerima umpan balik, dan valid.
Komunikasi yang jelas dan fungsional di kalangan keluarga merupakan
sarana yang penting, yang mana melalui sarana ini perasaan penting menyangkut
makna diri berkembang dan menjadi terinternalisasi. Sebaliknya komunikasikomunikasi yang tidak jelas diyakini sebagai penyebab utama berfungsinya
keluarga yang sangat memperihatinkan (Holman, 1983; Satir, 1983)
Komunikasi dalam keluarga dikatakan tidak berfungsi apabila tertutup,
adanya isu atau berita negative, tidak terfokus pada satu hal, dan selalu
mengulang isu dan pendapat sendiri. Komunikasi keluarga bagi pengirim bersifat
asumsi, ekspresi perasaan tidak jelas, judgemental ekspresi, dan komunikasi tidak
sesuai. Penerimaan pesan gagal mendengar, diskualifiksi, ofensif (bersifat
negative), terjadi miskomunikasi, dan kurang atau tidak valid.
1) Elemen-elemen komunikasi
Komunikasi berfungsi sebagai alat yang penting untuk mengikat
subsistem-subsistem secara bersama-sama dalam rangka membentuk
ikatan (kohesif) menyeluruh dan memelihara seluruh sistem.
Dalam bahasa pemrosesan informasi, komunikasi memberikan seseorang
pengirim suatu pesan, suatu pesan, suatu bentuk saluran pesan, seorang
penerima, dan sejumlah interaksi anatara pengirim dan penerima.

2) Prinsip-prinsip Komunikasi
Tidak mungkin melakukan komunikasi, karena semua perilaku adalah bentuk

komunikasi.
Komunikasi tidak hanya menghantar informasi atau isi, tetapi disertai juga

dengan perintah (intruksi).


Komunikasi meliputi suatu prose transaksi, dan dalam setiap tukar-menukar
respon, terdapat komunikasi yang mendahuluinya, di samping sejarah

hubungan yang mendahuluinya.


3) Komunikasi Fungsional dalam Keluarga
Komunikasi fungsional dalam keluarga menuntut bahwa maksud dan arti
dari pengirim yang dikirim lewat saluran-saluran yang relative jelas dan bahwa
penerima pesan mempunyai suatu pemahaman terhadap arti dari pesan itu yang
mirip dengan pengirim.
4) Pola-Pola Fungsional dari Komunikasi
Pola-pola komunikasi keluarga adalah karakteristik pola-pola interaksi
dari keluarga yang di samping mempengaruhi dan mengorganisir anggota
keluarga, pola-pola ini juga menghasilkan arti transaksi di antara para anggota
keluarga. Adapun pola komunikasi fungsional antara lain, komunikasi emosional,
komunikasi terbuka, adanya hierarki kekuasaan dan aturan-aturan keluarga
dalam komunikasi, konflik keluarga dan resolusi konflik.
5) Komunikasi Disfungsional
Komunikasi dari seorang yang disfungsional seringkali tidak efektif.
Diantaranya komunikasi tersebut dapat berupa asumsi-asumsi (tanpa ada
validasi), ekspresi perasaan tak jelas, ketidakmampuan mengungkapkan
kebutuhan, diskualifikasi (membolehkan penerima untuk tidak setuju terhadap
suatu pesan).
6) Pola-pola Komunikasi Disfungsional
Pola-pola ini dapat berupa sindrom mengabdikan diri dan area komunikasi
d

tertutup.
Struktur Nilai atau Norma Keluarga
Nilai keluarga didefiniskan sebagai suatu sistem ide, sikap, dan kepercayaan
tentang nilai suatu keseluruhan atau konsep yang secara sadar mengikat bersamasama seluruh anggota keluarga dalam suatu budaya lazim (Parad dan Caplan,
1965). Kebudayaan keluarga merupakan sumber sistem nilai dan norma-norma
utama dari sebuah keluarga. Sebaliknya kelompok keluarga merupakan sumber-

sumber utama sistem kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai dan norma-norma yang


menetukan pemahaman individu-individu terhadap sifat dan makna dari dunia,
tempat mereka dalam kelompok keluarga, dan bagaimana mencapai tujuan-tujuan
dan aspirasi mereka.
Nilai-nilai berfungsi sebagai pedoman umum bagi perilaku dan dalam
keluarga nilai-nilai tersebut membimbing perkembangan aturan-aturan dan nilai5

nilai dari keluarga.


Pengkajian struktur Keluarga
Struktur keluarga ini nantinya perlu dikaji oleh perawat yang memberikan asuhan.
Berdasarkan keempat elemen dalam struktur keluarga, diasumsikan bahwa (Leslie &
Korman, 1989; Parson & Bales, 1955):
a. Keluarga merupakan sistem sosial yang memiliki fungsi sendiri.
b. Keluarga merupakan sistem sosial yang mampu menyelesaikan masalah individu dan
lingkungannya.
c. Keluarga merupakan suatu kelompok kecil yang dapat memengaruhi kelompok lain.
d. Perilaku individu yang ditampakkan merupakan gambaran dari nilai dan norma yang
berlaku dalam keluarga.

B. Keluarga Sejahtera Beserta Indikatornya


Berdasarkan kemampuan keluarga untuk pemenuhan kebutuhan dasar, kebutuhan
psikososial, kemampuan memenuhi ekonominya dan aktualisasi keluarga di masyarakat,
serta memperhatikan perkembangan Negara Indonesia menuju Negara industri, Indonesia
menginginkan terwujudnya Keluarga Sejahtera. Di Indonesia keluarga dikelompokkan
menjadi lima tahap, yaitu:
1. Keluarga Prasejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar
secara minimal, yaitu kebutuhan pengajaran agama, pangan, sandang, papan dan
kesehatan atau keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator
Keluarga Sejahtera Tahap I.
2. Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I) adalah keluarga yang telah dapat memenuhi
kebutuhan dasar secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan
sosial psikologisnya, yaitu kebutuhan pendidikan, Keluarga Berencana (KB), interaksi
dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transportasi.
Indikator Keluarga Sejahtera Tahap I

Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang dianut.


9

Makan dua kali sehari atau lebih.

Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan.

Lantai rumah bukan dari tanah.

Kesehatan (anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-KB dibawa ke

sarana/petugas kesehatan.
3. Keluarga Sejahtera Tahap II (KS II) adalah keluarga yang telah dapat memenuhi
kebutuhan dasar secaraa minimal serta telah memenuhi seluruh kebutuhan sosial
psikologisnya, tetapi belum dapat memnuhi kebutuhan pengembangan, yaitu kebutuhan
untuk menabung dan memperoleh informasi.
Indikator Keluarga Sejahtera Tahap II

Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang dianut.

Makan dua kali sehari atau lebih.

Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan.

Lantai rumah bukan dari tanah.

Kesehatan (anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-KB dibawa ke
sarana/petugas kesehatan.

Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama masingmasing yang dianut

Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu

Memperoleh pakaian baru dalam 1 tahun terakhir

Luas lantai tiap penghuni rumah 8 m2 per orang.

Anggota keluarga sehat dalam 3 bulan terakhir sehingga dapat melaksanakan


fungsi masing-masing.

Keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap.

Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang berumur 10
sampai dengan 60 tahun.

Anak usia sekolah (7-15 tahun) bersekolah.

Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai kontrasepsi.

4. Keluarga Sejahtera Tahap III (KS III) adalah keluarga yang telah dapat memnuhi seluruh
kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis, dan kebutuhan pengembangan, tetapi
10

belum dapat memberikan sumbangan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat


secara teratur (dalam waktu tertentu) dalam bentuk material dan keuangan untuk sosial
kemasyarakatan, juga berperan serta secara aktif dengan menjadi pengurus lembaga
kemasyarakatan atau yayasan sosial, keagamaan, kesenian, olahraga, pendidikan, dan lain
sebagainya.
Indikator Keluarga Sejahtera Tahap III

Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang dianut.

Makan dua kali sehari atau lebih.

Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan.

Lantai rumah bukan dari tanah.

Kesehatan (anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-KB dibawa ke
sarana/petugas kesehatan.

Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama masingmasing yang dianut

Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu

Memperoleh pakaian baru dalam 1 tahun terakhir

Luas lantai tiap penghuni rumah 8 m2 per orang.

Anggota keluarga sehat dalam 3 bulan terakhir sehingga dapat melaksanakan


fungsi masing-masing.

Keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap.

Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang berumur 10
sampai dengan 60 tahun.

Anak usia sekolah (7-15 tahun) bersekolah.

Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai kontrasepsi.

Upaya keluarga untuk meningkatkan/menambah pengetahuan agama.

Keluarga mempunyai tabungan.

Makan bersama paling kurang sekali sehari.

Ikut serta dalam kegiatan masyarakat.

Rekreasi bersama/penyegaran paling kurang dalam 6 bulan

Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi, dan majalah.


11

Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi.


5. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus (KS III Plus) adalah keluarga yang telah dapat
memenuhi seluruh kebutuhannya, baik yang bersifat dasar, sosial psikologis, maupun
pengembangan, serta telah mampu memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan
bagi masyarakat.
Indikator Keluarga Sejahtera Tahap III Plus

Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang dianut.

Makan dua kali sehari atau lebih.

Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan.

Lantai rumah bukan dari tanah.

Kesehatan (anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-KB dibawa ke
sarana/petugas kesehatan.

Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama masingmasing yang dianut

Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu

Memperoleh pakaian baru dalam 1 tahun terakhir

Luas lantai tiap penghuni rumah 8 m2 per orang.

Anggota keluarga sehat dalam 3 bulan terakhir sehingga dapat melaksanakan


fungsi masing-masing.

Keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap.

Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang berumur 10
sampai dengan 60 tahun.

Anak usia sekolah (7-15 tahun) bersekolah.

Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai kontrasepsi.

Upaya keluarga untuk meningkatkan/menambah pengetahuan agama.

Keluarga mempunyai tabungan.

Makan bersama paling kurang sekali sehari.

Ikut serta dalam kegiatan masyarakat.

Rekreasi bersama/penyegaran paling kurang dalam 6 bulan

Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi, dan majalah.

12

Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi.

Memberikan sumbangan secara teratur (waktu tertenu) dan suka rela dalam
bentuk material kepada masyarakat.
Aktif sebagai pengurus yayasan/pamti.

Penduduk miskin di Indonesia telah ada puluhan tahun yang lalu. Tahun 1970, proporsi
penduduk miskin sekitar 60 %, tahun 1996 menjadi 11 %, dan tahun 1998 menunjukkan
proporsi keluarga miskin meningkat kembali menjadi 39%. Survei Biro Pusat Statistik
akhir Desember tahun 1998 menunjukkan keluarga miskin sekitar 24,2%. Kecendrungan
tingginya keluarga miskin di Indonesia akibat adanya krisis ekonomi yang melanda
Negara-negara Asia termasuk Indonesia.
Dari batasan yang ada di atas, keluarga miskin adalah keluarga yang dibentuk
berdasarkan atas perkawinan yang sah, yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar
hidup material yang layak khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, sandang, dan
pangan (Rhina, 1999 dalam Suprajitno). Berdasarkan Intruksi Presiden Nomor 3 tahun
1996

tentang

Pembangunan

Keluarga

Sejahtera

Dalam

Rangka

Peningkatan

Penanggulangan Kemiskinan, keluarga miskin adalah keluarga prasejahtera dan keluarga


sejahtera I (KS I). Tahun 2000 Badan Kesejahteraan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) menetapkan sembilan indikator keluarga miskin
Indikator Keluarga Miskin

Tidak bisa makan dua kali sehari atau lebih.

Tidak bisa menyediakan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang


seminggu sekali

Tidak bisa memliki pakaian yang berbeda untuk setiap aktivitas.

Tidak bisa memperoleh pakaian baru minimal 1 stel dalam 1 tahun sekali.

Bagian terluas lantai rumah dari tanah.

Luas lantai rumah kurang dari 8 m2 untuik setiap penghuni rumah.

Tidak ada anggota keluarga berusia 15 tahun mempunyai penghasilan tetap.

Bila anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-KB tidak bisa
kefasilitas kesehatan.

Anak usia sekolah (7-15 tahun) tidak bersekolah.

13

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga melakukan fungsi
keluarga di masyarakat sekitarnya. Prad dan Caplan (1965) yang diadopsi oleh Friedman
mengatakan ada empat elemen struktur keluarga, yaitu: Struktur peran keluarga, Nilai
atau norma keluarga, Pola komunikasi keluarga, dan Struktur kekuatan keluarga.
Berdasarkan kemampuan keluarga untuk pemenuhan kebutuhan dasar, kebutuhan
psikososial, kemampuan memenuhi ekonominya dan aktualisasi keluarga di masyarakat,
serta memperhatikan perkembangan Negara Indonesia menuju Negara industri, Indonesia
menginginkan terwujudnya Keluarga Sejahtera. Di Indonesia keluarga dikelompokkan
menjadi lima tahap, yaitu: Keluarga Prasejahera, Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I ),
Keluarga Sejahtera Tahap II (KS II), Keluarga Sejahtera Tahap III (KS III), dan Keluarga
Sejahtera Tahap III Plus (KS III Plus),
B. Saran
1 Untuk institusi kesehatan
Puskesmas sebagai unit pelayanan primer dibidang kesehatan yang berhubungan
langsung dengan masyarakat diharapkan mampu meningkatkan dan mengembangkan
dalam rangka pelayanan kesehatan yang bermutu guna mewujudkan keluarga
Indonesia yang sehat dan sejahtera, yang juga akan berdampak terhadap peningkatan
2

berbagai pembangunan di Indonesia teruatama bidang kesehatan.


Untuk Masyarakat
Perlu pemahaman yang mendalam terhadap struktur keluarga, terutama masingmasing elemen harus dipahami secara mendalam sehingga dapat diketahui bagaimana
pola kehidupan dalam keluarga yang sangat penting untuk acuan dalam berkeluarga.

14