Anda di halaman 1dari 23

1

SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN INKLUSIF


MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Mata Kuliah
Pendidikan Inklusif
Dosen Pengampu
Ulfah, S.Pd., M.Pd

Disusun Oleh :
Anita Rahayu

1307526

Putri Yunitasari

1300496

Syifa Eka Oktaviana

1304986

Riana Rizki Indriani

1306740

3D PGSD
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
KAMPUS CIBIRU
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014

LEMBAR PENGESAHAN
Makalah ini telah diterima pada hari.tanggal..
Oleh
Dosen Mata KuliahPendidikanInklusif,

Ulfah, S.Pd.,M.Pd

KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan Kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul Sejarah Perkembangan
Pendidikan Inklusif dengan baik. Shalawat serta salam kami panjatkan kepada
Nabi besar Muhammad SAW kepada keluarganya, sahabatnya dan kepada kita
semua selaku umat-Nya.
Pendidikan inklusif adalah salah satu bentuk sarana
pendidikan yang didalamnya ada proses pembelajarancampuran
antara anak yang normal dengan anak yang berkebutuhan
khusus. Dengana dan pendidikan inklusif diharapkan akan
menjadi

alat

dalam

membangun

solidaritas

antara

Berkebutuhan Khusus ( ABK) dengan teman-teman

Anak

sebayanya

dan akhirnya dengan masyarakat pada umumnya.Pada dasarnya


mereka

memiliki

hak

dan

kesempatan

yang

samauntukmendapatkanpendidikansepertianak yang normal.


Kami menyadari bahwa selama penulisan makalah ini
kami banyak mendapat bantuan dari

.Oleh sebab itu, kami

mengucapkan terima kasih kepada :


1. IbuUlfa,S.Pd, M.Pd selaku dosen mata kuliah
Inklusif

yang

telah

membantu

kami

dalam

Pendidikan
menyusun

makalah ini.
2. Rekan-rekan seangkatan yang telah memotivasi kami untuk
menyelesaikan penyusunan makalah ini.
3. Semua pihak yang tidak bias penulis sebut satu per satu.
Kami mengharapkan tugas makalah ini dapat bermanfaat untuk kita
semua. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kami mengharapakan kritik dan saran yang bersifat konstruktiv dalam
perbaikan dikemudian hari.

Bandung, September 2014


Penyusun
DAFTAR ISI
i

KATA PENGANTAR.....................................................i
DAFTAR ISI...............................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang...............................................................1
Rumusan Masalah..........................................................1
Tujuan.............................................................................2
Sistematika....................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Definisi Pendidikan Inklusif.............................................4


Latar Belakang Pendidikan Inklusif.................................5
Sejarah Perkembangan Pendidikan Inklusif....................7
Landasan Pendidikan Inklusif.........................................9
Tujuan Pendidikan Inklusif..............................................14
Langkah Langkah Pelaksanaan Pendidikan
Inklusif.........................15

BAB III PENUTUP


A. Simpulan........................................................................17
B. Saran..............................................................................18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang
Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dapat

ii

disimpulkan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak


berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu.
Undang Undang tersebut merujuk pada perkembanga pendidikan di Indonesia
yang tidak lepas dari istilah pendidikan inklusif atau inklusi, pendidikan
inkulsif muncul sejak tahun 1990 ketika konferensi dunia tentang pendidikan
untuk semua.
pendidikan

inkulsif

adalah

sistem

layanan

pendidikan

yang

mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat


di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam ONeil,
1994). Ini menandakan bahwa pendidikan tidak mengenal perbedaan fisik,
ras, suku, dan agama.
Tidak semua sekolah regular di Indonesia termasuk kedalam sekolah
inkulsif, karena kurang nya sumber daya manusia yang mumpuni dalam
bidang pendidikan inkulsif. pada tahun 1990 Indonesia menerapkan
pendidikan terpadu, lalu pada tahun 2000 Indonesia mulai menuju pada
pendidikan inkulsif. Hal ini menunjukan perkembangan yang baik bagi
pendidikan di Indonesia.
Dengan adanya pendidikan inkulsif sekolah dituntut melakukaan berbagai
perubahan, mulai cara pandang, sikap, sampai pada proses pendidikan yang
berorientasi pada kebutuhan individual tanpa diskriminasi. Dengan begitu
anak yang memiliki kebutuhan khusus dapat terpenuhi pendidikannya sesuai
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

dengan potensi masing-masing


Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
Apa pengertian pendidikan inkulsif ?
Apa yang melatar belakangi dilaksanakannya pendidikan inkulsif ?
Bagaimana sejarah perkembangan pendidikan inkulsif ?
Apa landasan dari dilaksanakannya pendidikan inkulsif ?
Apa tujuan dari dilaksanakannya pendidikan inkulsif ?
Apa saja Langkah-Langkah Pelaksanaan Pendidikan Inklusif ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui serta memahami pengertian pendidikan inkulsif.
2. Mengetahui apa yang melatarbelakangi dilaksanakannya pendidikan
inkulsif.
3. Mengetahui sejarah perkembangan pendidikan inkulsif.

4. Mengetahui serta memahami landasan dari dilaksanakannya pendidikan


inkulsif.
5. Mengetahui tujuan dari dilaksanakannya pendidikan inkulsif.
6. Untuk Mengetahui Langlah Langkah Pelaksaan Pendidikan Inklusif.
D. SistematikaPenulisan
Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Metode yang digunakan dalam metode deskriptif. Data
teoritis dalam makalah ini dikumpulkan dengan teknik studi
pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan
membaca berbagai literature dan menggunakan media internet
yang relevan untuk melengkapi data dengan temamakalah.Data
tersebut

diolah

dengan

teknik

analisis

melalui

kegiatan

mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut


dalam konteks temamakalah.
Makalah ini terdiri dari tiga BAB yang disusun untuk memudahkan para
pembaca dalam memahami makalah ini, yaitu:
BAB I Pendahuluan. Di bagian ini, penyusun membaginya menjadi empat bagan
yaitu latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika
penulisan.
BAB II Pembahasan. Dibagian terdiri dari 5 bagian, yaitu membahas tentang
definisi pendidikan Inklusif, latar belakang pendidikan Inklusif, sejarah
perkembangan pendidikan Inklusif, tujuan dan manfaat pendidikan Inklusif.
BAB III Penutup, bagian ini terdiri dari Simpulan dan Saran dari makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Pendidikan Inklusif


Istilah pendidikan inklusif atau inklusi, mulai muncul sejak tahun
1990 ketika konferensi dunia tentang pendidikan untuk semua, yang
diteruskan dengan pernyataan salamanca tentang pendidikan inklusif pada
tahun 1994. Pendidikan inklusif memiliki prinsip dasar bahwa selama
memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa
memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada diri
mereka. Pendidikan inklusif yaitu pendidikan yang dilaksanakan oleh
Sekolah /Kelas dengan melibatkan seluruh peserta didik tanpa kecuali (PUS)

meliputi: anak-anak yang memiliki perbedaan bahasa, anak-anak yang


beresiko putus sekolah karena sakit, kekurangan gizi dan tidak berprestasi
dengan baik, anak-anak yang berbeda agama, anak-anak penyandang
HIV/Aids, dan anak-anak yang berusia sekolah tetapi tidak sekolah, mereka
dididik dan diberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan cara yang
ramah dan penuh kasih sayang tanpa diskriminasi
Pendapat lain menyatakan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem
layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di
sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya
(Sapon-Shevin dalam ONeil, 1994). Sekolah inklusif adalah sekolah yang
menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan
program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan
kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang
dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak berhasil (Stainback,1980).
Berdasarkan batasan tersebut pendidikan inklusif dimaksudkan
sebagai

sistem

layanan

pendidikan

yang

mengikutsertakan

berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah

anak

reguler

yang

terdekat

dengan

tempat

tinggalnya.

Semangat

penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan atau


akses yang seluas-luasnya kepada semua anak untuk memperoleh pendidikan
yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa
diskriminasi.Pendidikan inklusif bukan semata memasukan anak luar
biasa/anak berkebutuhan khusus kesekolah umum, namun justru berorientasi
bagaimana layanan pendidikan ini diberikan dalam rangka memenuhi
kebutuhan secara alamiah telah mereka miliki.
Pendidikan inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan
terpadu. Pada sekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan
khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan
melakukan berbagai modifikasi dan/atau penyesuaian, mulai dari kurikulum,
sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran
sampai pada sistem penilaiannya. Dengan kata lain pendidikan inklusif
mensyaratkan pihak sekolah yang harus menyesuaikan dengan tuntutan
kebutuhan individu peserta didik, bukan peserta didik yang menyesuaikan
dengan sistem persekolahan. Keuntungan dari pendidikan inklusif anak
berkebutuhan khusus maupun anak biasa dapat saling berinteraksi secara
wajar sesuai dengan tuntutan kehidupan sehari-hari di masyarakat, dan
kebutuhan pendidikannya dapat terpenuhi sesuai potensinya masing-masing.
Konsekuensi penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah pihak sekolah
dituntut melakukaan berbagai perubahan, mulai cara pandang, sikap, sampai
pada proses pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan individual tanpa
diskriminasi.
B. Latar Belakang Pendidikan Inklusif
Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang
Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dapat
disimpulkan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak
berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu.
Hal ini menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus berhak pula
memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya (reguler) dalam

pendidikan.Selama ini, layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di


Indonesia disediakan melalui tiga macam lembaga pendidikan yaitu, Sekolah
Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan
Terpadu. SLB, sebagai lembaga pendidikan khusus tertua, menampung anak
dengan jenis kelainan yang sama sehingga ada SLB untuk anak dengan
hambatan penglihatan (Tunanetra), SLB untuk anak dengan hambatan
pendengaran

(Tunarungu),

SLB

untuk

anak

dengan

hambatan

berpikir/kecerdasan (Tunagrahita), SLB untuk anak dengan hambatan (fisik


dan motorik (Tunadaksa), SLB untuk anak dengan hambatan emosi dan
perilaku (Tunalaras), dan SLB untuk anak dengan hambatan majemuk
(Tunaganda). Sedangkan SLB menampung berbagai jenis anak berkebutuhan
khusus. Sedangkan pendidikan terpadu adalah sekolah reguler yang juga
menampung anak berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, guru, sarana
pengajaran, dan kegiatan belajar mengajar yang sama. Namun selama ini
baru menampung anak dengan hambatan penglihatan (tunanetra), itupun
perkembangannya kurang menggembirakan karena banyak sekolah reguler
yang keberatan menerima anak berkebutuhan khusus.
Pada umumnya, lokasi SLB berada di ibu Kota Kabupaten, padahal anak
anak

berkebutuhan

khusus

tersebar

hampir

di

seluruh

daerah

(kecamatan/desa), tidak hanya di ibu kota kabupaten. Akibatnya sebagian dari


mereka, terutama yang kemampuan ekonomi orang tuanya lemah, terpaksa
tidak disekolahkan karena lokasi SLB jauh dari rumah, sementara kalau akan
disekolahkan di SD terdekat, sekolah tersebut tidak bersedia menerima
karena merasa tidak mampu melayaninya. Sebagian yang lain, mungkin
selama ini dapat diterima di sekolah terdekat, namun karena ketiadaan guru
pembimbing khusus akibatnya mereka beresiko tinggal kelas dan akhirnya
putus sekolah. Permasalahan diatas dapat berakibat pada kegagalan program
wajib belajar.Untuk mensukseskan wajib belajar pendidikan dasar, dipandang
perlu meningkatkan perhatian terhadap anak berkebutuhan khusus, baik yang
telah memasuki sekolah reguler (SD) tetapi belum mendapatkan pelayanan
pendidikan khusus maupun yang belum mengenyam pendidikan sama sekali

karena tidak diterima di SD terdekat atau karena lokasi SLB jauh dari tempat
domisilinya.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan
bagi anak berkebutuhan khusus. Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan
khusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk
peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan
luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan
pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.Pasal inilah
yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak
berkelaianan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusi. Secara lebih
operasional, hal ini diperkuat dengan peraturan pemerintah tentang
Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.Dengan demikian
pelayanan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak lagi
hanya di SLB tetapi terbuka di setiap satuan dan jenjang pendidikan baik
sekolah

luar

biasa

maupun

sekolah

reguler/umum.Dengan

adanya

kecenderungan kebijakan ini, maka tidak bisa tidak semua calon pendidik di
sekolah umum wajib dibekali kompetensi pendidikan bagi ABK. Pembekalan
ini perlu diwujudkan dalam Mata Kuliah Pendidikan Inklusif atau Pendidikan
Anak Berkebutuhan Khusus.
C. Sejarah Perkembangan Pendidikan Inklusif
Sejarah perkembangan pendidikan inklusif di dunia pada mulanya
diprakarsai dan diawali dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia,
Swedia). Di Amerika Serikat pada tahun1960-an oleh Presiden Kennedy
mengirimkan pakar-pakar Pendidikan Luar Biasa ke Scandinavia untuk mempelajari
mainstreaming dan Least restrictive environment, yang ternyata cocok untuk
diterapkan di Amerika Serikat. Selanjutnya di Inggris dalam Ed.Act. 1991 mulai
memperkenalkan adanya konsep pendidikan inklusif dengan ditandai adanya
pergeseran model pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dari segregatif ke
integratif.
Tuntutan penyelenggaraan pendidikan inklusif di dunia semakin nyata
terutama sejak diadakannya konvensi dunia tentang hak anak pada tahun 1989 dan
konferensi dunia tentang pendidikan tahun 1991 di Bangkok yang menghasilkan

deklarasi education for all. Implikasi dari statemen ini mengikat bagi semua
anggota konferensi agar semua anak tanpa kecuali (termasuk anak berkebutuhan
khusus) mendapatkan layanana pendidikan secara memadai.Sebagai tindak lanjut
deklarasi Bangkok, pada tahun 1994 diselenggarakan konvensi pendidikan di
Salamanca Spanyol yang mencetuskan perlunya pendidikan inklusif yang
selanjutnya dikenal dengan the Salamanca statement on inclusive education yang
berbunyi :

(1) Semua anak sebaiknya belajar bersama


(2) Pendidikan didasarkan kebutuhan siswa
(3) ABK diberi layanan khusus
Sejalan dengan kecenderungan tuntutan perkembangan dunia tentang
pendidikan inklusif, Indonesia pada tahun 2004 menyelenggarakan konvensi
nasional dengan menghasilkan Deklarasi Bandung dengan komitmen Indonesia
menuju pendidikan inklusif.Untuk memperjuangkan hak-hak anak dengan
hambatan belajar, pada tahun 2005 diadakan simposium internasional di Bukittinggi
dengan menghasilkan Rekomendasi Bukittinggi yang isinya antara lain menekankan
perlunya terus dikembangkan program pendidikan inklusif sebagai salah satu cara
menjamin

bahwa

semua

anak

benar-benar

memperoleh

pendidikan

dan

pemeliharaan yang berkualitas dan layak.Berdasarkan perkembangan sejarah


pendidikan inklusif dunia tersebut, maka Pemerintah Republik Indonesia sejak awal
tahun 2000 mengembangkan program pendidikan inklusif. Program ini merupakan
kelanjutan program pendidikan terpadu yang sesungguhnya pernah diluncurkan di
Indonesia pada tahun 1980-an, tetapi kemudian kurang berkembang, dan baru mulai
tahun 2000 dimunculkan kembali dengan mengikuti kecenderungan dunia,
menggunakan konsep pendidikan inklusif.

D. Landasan Pendidikan Inklusif


1. Landasan Filosofis
a. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya dengan lambang
negara Burung Garuda yang berarti bhineka tunggal ika.
Keragaman dalam etnik, dialek, adat istiadat, keyakinan, tradisi,
dan budaya merupakan kekayaan bangsa yang tetap menjunjung

tinggi persatuan dan kesatuan dalam Negara Kesatuan Republik


Indonesia (NKRI).
b. Pandangan Agama (khususnya Islam) antara lain ditegaskan
bahwa : (1) manusia dilahirkan dalam keadaan suci, (2) kemuliaan
seseorang di hadapan Tuhan (Allah) bukan karena fisik tetapi
taqwanya, (3) Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali
kaum itu sendiri (4) manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling
silaturahmi (inklusif).
c. Pandangan universal Hak azasi manusia, menyatakan bahwa setiap
manusia mempunyai hak untuk hidup layak, hak pendidikan, hak
kesehatan, hak pekerjaan.
2. Landasan Yuridis
a. UUD 1945 (Amandemen) Ps. 31 : (1) berbunyi Setiap warga
negara berhak mendapat pendidikan. Ayat (2) Setiaap warga
negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya.
b. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Ps. 48
Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9
(sembilan) tahun untuk semua anak. Ps. 49 Negara, Pemerintah,
Keluarga, dan Orangtua wajib memberikan kesempatan yang
seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan.
c. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ps. 5
ayat (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk
memperoleh pendidikan yang bermutu. Ayat (2) : Warganegara
yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual
dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Ayat (3)
Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta
masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan
layanan khusus. Ayat (4) Warga negara yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan
khusus. Pasal 11 ayat (1) dan (2) Pemerintah dan pemerintah
daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin
terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga

10

negara tanpa diskriminasi. Pemerintah dan pemerintah daerah


wajib

menjamin

tersedianya

dana

guna

terselenggaranya

pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai


dengan lima belas tahun. Pasal 12 ayat (1) Setiap peserta didik
pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan
pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya (1.b).
Setiap peserta didik berhak pindah ke program pendidikan pada
jalur dan satuan pendidikan lain yang setara (1.e). Pasal 32 ayat (1 )
Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran
karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Ayat (2) Pendidikan
layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah
terpencil atau terbelakang, masyarakat adat terpencil, dan/atau
mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari
segi ekonomi. Dalam penjelasan Pasal 15 alinea terakhir
dijelaskan bahwa Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan
pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik
yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara
inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat
pendidikan dasar dan menengah. Pasal 45 ayat (1) Setiap satuan
pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan
prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan
pertumbuhan

dan

perkembangan

potensi

fisik,

kecerdasan

intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.


d. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Estndar Nasional
Pendidikan. Pasal 2 ayat (1) Lingkungan Stndar Nasional
Pendidikan meliputi stndar isi, stndar proses, stndar kompetensi
lulusan, stndar pendidik dan kependidikan, stndar sarana
prasarana, stndar pengelolaan, stndar pembiayaan, dan stndar
penilaian pendidikan. Dalam PP No. 19/2005 tersebut juga

11

dijelaskan bahwa satuan pendidikan khusus terdiri atas : SDLB,


SMPLB dan SMALB.
e. Surat
Edaran
Dirjen

Dikdasmen

Depdiknas

No.

380/C.C6/MN/2003 tanggal 20 Januari 2003 Perihal Pendidikan


Inklusif : menyeelenggarakan dan mengembangkan di setiap
Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya 4 (empat) sekolah yang
terdiri dari : SD, SMP, SMA, dan SMK.
3. Landasan Empiris
a. Deklarasi Hak Asasi Manusia, 1948 (Declaration of Human
Rights),
b. Konvensi Hak Anak, 1989 (Convention on the Rights of the Child),
c. Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, 1990 (World
Conference on Education for All),
d. Resolusi PBB nomor 48/96 tahun 1993 tentang Persamaan
Kesempatan bagi Orang Berkelainan (the standard rules on the
equalization of opportunities for persons with disabilities),
e. Pernyataan Salamanca tentang Pendidikan Inklusi, 1994 (The
Salamanca Statement on Inclusive Education),
f. Komitmen Dakar mengenai Pendidikan untuk Semua, 2000 (The
Dakar Commitment on Education for All), dan
g. Deklarasi Bandung (2004) dengan komitmen Indonesia menuju
pendidikan inklusif,
h. Rekomendasi Bukittinggi (2005), bahwa pendidikan yang inklusif
dan ramah terhadap anak seyogyanya dipandang sebagai:
(1) Sebuah pendekatan terhadap peningkatan kualitas sekolah
secara menyeluruh yang akan menjamin bahwa strategi
nasional untuk pendidikan untuk semua adalah benar-benar
untuk semua;
(2) Sebuah cara untuk menjamin bahwa semua anak memperoleh
pendidikan dan pemeliharaan yang berkualitas di dalam
komunitas tempat tinggalnya sebagai bagian dari programprogram untuk perkembangan usia dini anak, pra sekolah,
pendidikan dasar dan menengah, terutama mereka yang pada
saat ini masih belum diberi kesempatan untuk memperoleh

12

pendidikan di sekolah umum atau masih rentan terhadap


marginalisasi dan eksklusi; dan
(3) Sebuah kontribusi terhadap pengembangan masyarakat yang
menghargai dan menghormati perbedaan individu semua
warga negara.
Disamping itu juga menyepakati rekomendasi berikut ini untuk
lebih meningkatkan kualitas sistem pendidikan di Asia dan benua-benua
lainnya:
(1) Inklusi seyogyanya dipandang sebagai sebuah prinsip fundamental
yang mendasari semua kebijakan nasional
(2) Konsep kualitas seyogyanya difokuskan pada perkembangan
nasional, emosi dan fisik, maupun pencapaian akademik lainnya
(3) Sistem asesmen dan evaluasi nasional perlu direvisi agar sesuai
dengan prinsip-prinsip non-diskriminasi dan inklusi serta konsep
kualitas sebagaimana telah disebutkan di atas
(4) Orang dewasa seyogyanya menghargai dan menghormati semua
anak, tanpa memandang perbedaan karakteristik maupun keadaan
individu, serta seharusnya pula memperhatikan pandangan mereka
(5) Semua
kementerian
seyogyanya
berkoordinasi
untuk
mengembangkan strategi bersama menuju inklusi
(6) Demi menjamin pendidikan untuk Semua melalui kerangka
sekolah yang ramah terhadap anak (SRA), maka masalah nondiskriminasi dan inklusi harus diatasi dari semua dimensi SRA,
dengan upaya bersama yang terkoordinasi antara lembaga-lembaga
pemerintah dan non-pemerintah, donor, masyarakat, berbagai
kelompok local, orang tua, anak maupun sektor swasta
(7) Semua pemerintah dan organisasi internasional serta organisasi
non-pemerintah, seyogyanya berkolaborasi dan berkoordinasi
dalam

setiap

upaya

untuk

mencapai

keberlangsungan

pengembangan masyarakat inklusif dan lingkungan yang ramah


terhadap pembelajaran bagi semua anak
(8) Pemerintah seyogyanya mempertimbangkan implikasi sosial
maupun ekonomi bila tidak mendidik semua anak, dan oleh karena

13

itu dalam Manajemen Sistem Informasi Sekolah harus mencakup


semua anak usia sekolah
(9) Program pendidikan pra-jabatan maupun pendidikan dalam jabatan
guru seyogyanya direvisi guna mendukung pengembangan praktek
inklusi sejak pada tingkat usia pra-sekolah hingga usia-usia di
atasnya dengan menekankan pada pemahaman secara holistik
tentang perkembangan dan belajar anak termasuk pada intervensi
dini
(10)

Pemerintah (pusat, propinsi, dan local) dan sekolah

seyogyanya

membangun

dan

memelihara

dialog

dengan

masyarakat, termasuk orang tua, tentang nilai-nilai sistem


pendidikan yang non-diskriminatif dan inklusif.

E. Tujuan dan Manfaat Pendidikan Inklusif


1.
Tujuan Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan
yang mengikut-sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan
anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya.
Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan
penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan,
maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu
peserta didik.
Pendidikan inklusif di Indonesia diselenggarakan dengan tujuan :
a) Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak
(termasuk anak berkebutuhan khusus) mendapatkan pendidikan
yang layak sesuai dengan kebutuhannya.
b) Membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar.
c) Membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah
dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah.
d) Menciptakan
sistem
pendidikan
yang
menghargai
keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta ramah terhadap
pembelajaran.

14

e) Memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Ps. 32


ayat 1 yang berbunyi setiap warga negara negara berhak mendapat
pendidikan, dan ayat 2 yang berbunyi setiap warga negara wajib
mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya
Ps. 5 ayat 1 yang berbunyi setiap warga negara mempunyai hak
yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. UU No.
23/2002 tentang Perlindungan Anak, khususnya Ps. 51 yang
berbunyi anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental
diberikana kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk
memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa.

2.

Manfaat Pendidikan Inklusif


a) Membangun kesadaran dan konsensus pentingnya pendidikan
inklusif sekaligus menghilangkan sikap dan nilai yang
diskriminatif.
b) Melibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan
analisis situasi pendidikan lokal, mengumpulkan informasi
semua anak pada setiap distrik dan mengidentifikasi alasan
mengapa mereka tidak sekolah.
c) Mengidentifikasi hambatan berkaitan dengan kelainan fisik,
sosial dan masalah lainnya terhadap akses dan pembelajaran.
d) Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan
monitoring mutu pendidikan bagi semua anak.
F. Langkah Langkah Pelaksanaan Pendidikan Inklusif
Pelaksanaan yang dijalankan secara berpangkat ini bertujuan untuk

memudahkan untuk mengenal pasti guru guru kelas normal sesuai dan inovatif
sebagai guru integritas. Pilihan yang tepat sangat penting dalam menjayakan
program pendidikan inlusif

15

Sekolah inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu.


Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menampung
semua murid dikelas yang sama . sekolah ini menyediakan program pendidikan
yang layak, menantang , tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan
setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru.

Hal hal yang harus diperhatikan dalam penyelanggara pendidikan inklusif.


1. Sekolah harus menyediakan kondisi kelas yang hangat, ramah,
menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan
2. Sekolah harus siap mengelola kelas yang heterogen dengan
menerapkan kurikulum dan pembelajaran yang bersifat individual
3. Guru harus menerapkan pembelajaran yang interaktif
4. Guru dituntut melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumberdaya
lain dalam perencaan pelaksanaan dan evaluasi.
5. Guru dituntut melibatkan orang tua secara bermaknsa dalam proses
pendidikan.

16

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Sejarah perkembangan pendidikan inklusif di dunia pada mulanya
diprakarsai dan diawali dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia,
Swedia). Di Amerika Serikat pada tahun1960-an oleh Presiden Kennedy
mengirimkan pakar-pakar Pendidikan Luar Biasa ke Scandinavia untuk
mempelajari mainstreaming dan Least restrictive environment, yang ternyata
cocok untuk diterapkan di Amerika Serikat.
Berdasarkan perkembangan sejarah pendidikan inklusif dunia tersebut,
maka Pemerintah Republik Indonesia sejak awal tahun 2000 mengembangkan
program pendidikan inklusif. Program ini merupakan kelanjutan program
pendidikan terpadu yang sesungguhnya pernah diluncurkan di Indonesia pada
tahun 1980-an, tetapi kemudian kurang berkembang, dan baru mulai tahun
2000 dimunculkan kembali dengan mengikuti kecenderungan dunia,
menggunakan konsep pendidikan inklusif.
Pendidikan inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan
terpadu. Pada sekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan
khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan
melakukan berbagai modifikasi dan/atau penyesuaian, mulai dari kurikulum,
sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran
sampai pada sistem penilaiannya. Dengan kata lain pendidikan inklusif
mensyaratkan pihak sekolah yang harus menyesuaikan dengan tuntutan
kebutuhan individu peserta didik, bukan peserta didik yang menyesuaikan
dengan sistem persekolahan. Keuntungan dari pendidikan inklusif anak
berkebutuhan khusus maupun anak biasa dapat saling berinteraksi secara
wajar sesuai dengan tuntutan kehidupan sehari-hari di masyarakat, dan
kebutuhan pendidikannya dapat terpenuhi sesuai potensinya masing-masing.
Konsekuensi penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah pihak sekolah
dituntut melakukaan berbagai perubahan, mulai cara pandang, sikap, sampai

18

pada proses pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan individual


tanpa diskriminasi.

B. Saran
Semoga pendidikan inklusif dapat diselenggarakan di Indonesia secara
menyeluruh dan pelaksanaannya dapat berjalan dengan optimal sesuai dengan
landasan-landasan penyelenggaraan pendidikan inklusif.Dengan adanya
pendidikan inklusi diharapkan tidak adalagi diskriminasi dalam dunia
pendidikan.Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan
Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dapat disimpulkan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada
anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang
bermutu.

DAFTAR PUSTAKA

Ashman,A.& ElkinsJ.1994.Educating Children With Special Needs.


New York:Prentice Hall.

19

Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. 2006. Pedoman Umum


Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif. Depdiknas Jakarta
(Draf Naskah tidak diterbitkan)
Johnsen, Berit H dan Miriam D. Skjorten. 2003.Pendidikan
Kebutuhan Khusus. Bandung : Unipub
Mulyono, Abdulrahman. 2003. Landasan Pendidikan Inklusif Dan
Implikasinya dalam penyelenggaraan LPTK.Makalah
disajikan dalam pelatihan penulisan buku ajar Bagi Dosen
jurusan PLB yang diselenggarakan oleh Ditjen Dikti.
Yogyakarta
Stainback,W. & Sianback,S.1990.Support Networks for Inclusive
Schooling. Independent Integrated Education.Baltimore: Paul
H.Brooks.
Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
UNESCO (1994). The Salamanca Statement and Framework For
Action on Special Needs Education. PARIS:Author.
Warnock,H.M.1978. Special Educational Needs:Report of The
committee of Enquiry into the Education of Handicapped
Young People. London: Her Majestys, Stationary Office
Anonim. 2013. KonsepPendidikanInklusif. [Online]
http://ycaitasikmalaya46111.wordpress.com. [ 6
September 2014 ]

20

Anonim. 2008. Pendidikan Inklusif. [Online]


http://bamperxii.blogspot.com/2008/12/pendidikaniklusif.html.
[ 6 September 2014]
Hidayat, Luqman. 2010. PerkembangansekolahInklusi Di Indonesia. [Online]
http://inklusiuntuksemua.blogspot.com. ( 6 September 2014)