Anda di halaman 1dari 8

TUGAS TERSTRUKTUR

RESTORASI:
PEMADATAN TANAH DAN CARA MENGATASINYA
Oleh:
LIESNA AMELIA FAUZIAH
135040201111371
Kelas C

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


MINAT MANAJEMEN SUMBER DAYA LAHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah mempunyai peranan yang sangat penting pada pertanian, merupakan bahan
yang sangat ekonomis, mudah didapat dan umummya langsung tersedia di lapangan.
Tanah adalah pondasi pendukung suatu tanaman. Salah satu bentuk pemanfaatan
tanah dalam bidang pertanian adalah sebagai media tumbuh suatu tanaman dan
tempat terjadi penimbunan. Kegiatan timbunan yaitu kegiatan meletakkan atau
menambah volume material dengan tujuan untuk meratakan permukaan, meninggikan
elevasi permukaan untuk mendapatkan permukaan tanah yang lebih baik
(Soedibyo,2003).
Permasalahan yang sering ditemui pada pekerjaan timbunan yakni kegagalan
spesifikasi pekerjaan yang diinginkan. Kegagalan ini dapat terjadi pada timbunan itu
sendiri. Salah satu unsur terpenting yang harus diperhatikan dalam tanah timbunan
adalah karakteristik tanah dan cara stabilisasi tanah itu sendiri. Untuk penentuan
karakteristik tanah harus melalui penelitian karena tanah disuatu lokasi memiliki
karakteristik yang berbeda dengan tanah di lokasi lain.
Kepadatan tanah dipengaruhi oleh besar kecilnya energi pemadatan yang
diberikan. Pada proses pemadatan, peningkatan energi tidak dipengaruhi secara linear
melainkan nilai optimum energi pemadatan yang diperlukan untuk memperoleh
kepadatan maksimum suatu tanah, akan tetapi penambahan air setelah mencapai
kadar air optimum justru cenderung menurunkan berat volume kering dari tanah. Hal
ini disebabkan karena air tersebut menempati ruang-ruang pori-pori dalam tanah yang
seharusnya dapat ditempati oleh partikel-partikel padat dari tanah. Pemadatan yang
berlebihan pada tanah tersebut, juga menyebabkan struktur tanah menjadi rusak dan
tidak mencapai kepadatan maksimum yang diharapkan. Tujuan dari penulisan
makalah ini adalah untuk mengetahui karakteristik pemadatan tanah dan cara
mengatasi permasalahan yang disebabkan pemadatan tanah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pemadatan Tanah
Pemadatan tanah adalah suatu proses dimana partikel tanah didesak menjadi
lebihberdekatan satu sama lain melalui pengurangan rongga udara dengan di gilas
atau metodemekanik lain. Sifat teknistanah dan batuan yang digunakan pada
penimbunan, sebagai contoh kekuatan gesernya, karakteristik konsolidasi,
permeabilitas, dan sebagainya,adalah berkaitan dengan jumlah pemadatan yang telah
diterimanya.(Pusat Litbang Pengairan, Badan Litbang PU,2000: hal 4).
Tingkat kepadatan yang tinggi membantu dalam :
(a) menurunkan biaya pemeliharaan;
(b) menurunkan risiko terjadinya longsoran;
(c) mendapatkan tekanan dukung yang lebih tinggi pada desain fondasi untuk
struktur permanen.
Peningkatan kepadatan kering tanah yang di hasilkan oleh pemadatan, terutama
tergantung pada kadar air dari tanah dan jumlah pemadatan yang di gunakan. Tingkat
pemadatan yang diperlukan ditentukan oleh sifat teknis yang diinginkan untuk urugan
guna memenuhi fungsi desainnya. Tanah yang harus dipadatkan adalah tanah dengan
sifat-sifat teknik bahan sebagai berikut:
(a) kepadatan kering minimum;
(b) rongga udara maksimum yang terkait dengan kadar air maksimum;
(c) prosentase minimum dari kepadatan kering maksimum yang diperoleh dari
standar up laboratorium;
(d) kekuatan geser minimum.
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepadatan Tanah
Antara faktor-faktor yang mempengaruhi pemadatan tanah adalah : Kandungan
air, Tenaga pemadatan yang dikenakan pada tanah dan Sifat-sifat tanah.
a) Kandungan Air.
Kandungan air merupakan satu sifat yang penting dalam pemadatan tanah. Ini
kerana pada kandungan air yang rendah, tanah menjadi kukuh dan sukar untuk
dipadatkan. Denganini, tanah yang dipadatkan mempunyai ketumpatan kering yang
rendah dan nisbah lompangyang tinggi. Peningkatan kandungan air menghasilkan

pelinciran kepada tanah danmenambahkan kebolehkerjaan ( lebih mudah dipadatkan),


seterusnya meningkatkanketumpatan kering tanah tersebut sehingga ke tahap
kandungan air yang optima. Tetapisekiranya kandungan air terlalu tinggi (iaitu
melebihi nilai optima), air akan memisahkanzarah-zarah tanah. Ini menyebabkan
ketumpatan kering tanah menjadi kurang.
b) Tenaga pemadatan
Meningkatkan tenaga pemadatan bermaksud meningkatkan keperluan tenaga keatas
setiap berat unit tanah. Peningkatan tenaga pemadatan menyebabkan nilai ketumpatan
keringmeningkat tetapi kandungan air optima menurun. Walau bagaimanapun,
garisan ketumpatan tidak bergantung semata-mata terhadap tenaga pemadatan. Bagi
tanah yang tertentu, beberapa lengkung ketumpatan kering melawan kandungan air
boleh diperolehi bagi usaha padatan yang berlainan.
Lengkung-lengkung ketumpatan kering melawan kandungan air untuk satu julat
jenistanah dengan usaha padatan yang sama. Tanah berbutir kasar seperti tanah
berkelikir dan tanah berpasir boleh dipadatkan kepada nilai ketumpatan kering yang
lebih tinggi dibandingkan dengantanah berbutir halus seperti tanah berkelodak atau
tanah liat.
2.3 Dampak Pemadatan Tanah
Pemadatan menimbulkan perubahan-perubahan pada struktur tanah berkohesi.
Perubahan-perubahan tersebut meliputi perubahan pada daya rembes,
kemampumampatan, dan kekuatan tanah. Sifat-sifat kemampumampatan satu dimensi
tanah lempung yang dipadatkan pada sisi kering dan sisi basah dari kadar optimum
adalah pada tekanan rendah, suatu tanah yang dipadatkan pada sisi basah dari kadar
optimum akan lebih mudah memampat dibanding tanah yang dipadatkan pada sisi
kering dari kadar air optimum. Kekuatan tanah lempung yang dipadatkan umumnya
berkurang dengan bertambahnya kadar air. Harapdiperhatikan bahwa kira-kira kadar
air optimum, terjadi penurunan kekuatan tanah yang besar.
Perubahan-perubahan yang terjadi apabila tanah dipadatkan adalah :
a.
b.
c.
d.
e.

Volume udara dalam pori-pori tanah berkurang sehingga tanah menjadi


padat.
Kekuatan geser dan daya dukung tanah meningkat.
Kompresibilitas tanah berkurang.
Permeabilitas tanah berkurang.
Lebih tahan terhadap erosi.

Pada proses pemadatan untuk setiap daya pemadatan tertentu, kepadatan yang
tercapai tergantung pada banyaknya air di dalam tanah tersebut, yaitu kadar airnya.
Apabila kadar airnya rendah, tanah mempunyai sifat keras atau kaku sehingga sukar
dipadatkan. Bilamana kadar airnya ditambah maka air itu akan berlaku sebagai
pelumas sehingga tanah akan lebih mudah dipadatkan. Pada kadar air yang lebih
tinggi lagi kepadatannya akan turun karena pori-pori tanah menjadi penuh terisi air
yang tidak lagi dikeluarkan dengan cara memadatkan. Diperlukan kadar air tertentu
yang disebut kadar air optimum (Wopt) dalam suatu proses pemadatan agar
didapatkan hasil kepadatan maksimum. Kadar air ini selalu tergantung pada daya
pemadatannya. Apabila daya pemadatan berlainan maka kadar air optimumnya
(Wopt) juga lain. Tujuan pemadatan di lapangan adalah memadatkan tanah pada
keadaan kadar air optimumnya(Wopt) sehingga tercapai keadaan paling padat.
2.4 Cara mengatasi Pemadatan Tanah
Pelaksanaan perbaikan tanah ini dilakukan guna meningkat kan daya dukung
tanah agar tanah memiliki karakteristik tanah sebagai daya dukung diatasnya dengan
memiliki sifat teknis sesuai dengan desain konstruksi yang direncanakan. Manajemen
air permukaan dan air dalam dilakukan guna mencegat aliran air bebas dan
menurunkan duga air.
Metode Drainase.
1. Drainase dangkal dilakukan pada sekitar area bangunan dengan membuat parit
dengan kedalaman tertentu agar air dapat mengalir dan tertampung.
2. Metode vertival sand drain, cara pemancangan Mandrel mempercepat
konsolidasi air pada lapisan Lumpur yang memiliki ketinggian/ dalam.
3. Metode bor, cara pengeboran tanah pada lapisan Lumpur kedap air dan
dilakukan pemompaan air keluar, dan diganti dengan material penganti yang
dapat membantu stabilitas tanah Lumpur.
4. Metode fabrics reinforcement, melapisi tanah lempung dengan lapisan massif
yang berfungsi sebagai landasan konstruksi, dan melakukan pengekangan
pada lapisan Lumpur.
Bilamana diperlukan untuk membangun diatas lapisan yang lunak, diperlukan
perhatian hal-hal sebagai berikut:

1. Daya dukung Tanah (bearing capasity)


2. Penurunan tanah (setlement)
3. Jenis dan karakteristik Tanah.
Bilamana menghadapi pekerjaan pada tanah yang mudah mengalami longsor, maka
karakteristik teknis dari tanah perlu diupayakan sebagai berikut:
1. Perbaikan karakteristik butiran, untuk menghindari deformasi dan
pengurangan tekanan tanah. melalui perbaikan pengikatan butiran untuk
meningkatkan kohesif antara butiran dalam mendapatkan kerapatan tanah,
cara yang dilakukan melalui pembuatan drainase dan pemadatan tanah,
mengubah gradasi butiran tanah, dan menambah bahan stabilitasi pada tanah
asal
2. Perbaikan kemampatan tanah untuk memperpendek waktu penurunan tanah
karena konsolidasi dan menghindari penurunan residual melalui
meningkatkan kekokohan kerangkah butir atau dengan mengusahakan
pengurangan voluume pori supaya deformasi tanah tetap, cara menekan
deformasi oleh konsolidasi tanah kohesif dilaksanakan lebih dahulu dengan
beban yang cukup besar, sedangkan memperkuat kekokohan butir dengan cara
injeksi mekanis kedalam tanah denganbahan pengikat/stabilitasi, diharapkan
dapat memperkuat ikatan antar butir dan membuat air dalam pori menjadi
beku,
3. Pengurangan permeabilitas untuk menghindari kebocoran rembesan yang
dapat memperpendek waktu penurunan oleh konsolidasi dilakukan dengan
cara memperpendek jarak drainase dengan memasnglapisan permeabilitas
buatan, penambahan injeksi bahan stabilitas guna menutup rembesan air atau
memantapkan kekedapan air
Bilamana karakteristik material tanah sudah cukup baik, maka pelaksanaan stabilitas
tanah hanya dengan mengendalikan/merubah ketinggian air tanah atau dengan
pengilasan atau perbaikan gradasi tanah.
1. Tanah dasar basah dan berair dengan memperbaiki sistem drainase /terbuka,
tertutup berupa saluran dangkal, pipa beton berpori untuk mengeluarkan air
dari pori tanah.

2. Membuat parit kemudian ditimbun dengan batu pecah atau koral alami yang
berfungsi sebagai filter yang akan menurunkan muka air untuk dialirkan
ketempat terendah.
3. Mengunakan lembaran berpori (Fin drain) dipasangkan pada lubang saluran
yang digali kemudian diisikan material tunggal berdiameter hampir sama
sebagai filter.
4. Pada tanah lempung basah, pengeringan dilakukan dengan kapur tohor
(kalsium oksida), kapur akan merubah konsistensi lempung dengan partikel
yang cenderung mengumpal sehingga kelekaatn berkurang dan geser
bertambah. volume kapur tohor 2-5 % dari tanah basah.
Bilamana air tanah rendah dan tanah lapis permukaan cukup baik maka Pekerjaan
Alas dasar berupa lapisan Pasir. Pekerjaan dilakukan dengan menghamparkan pasis
diatas lapisan tanah lunak secara bertahap dan merata setebal 50-1.20 meter, tujuan
dari metode ini adalah:
1. Sebagai drainase air permukaan pada proses konsolidasi lapisan tanah yang
cukup baik.
2. Mempercepat proses merembesan air permukaan ke saluran drainase.
3. Bahan pasir yang baik mempunyai fraksi kurang dari 3 % yang lolos ayakan
74 u.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tingkat pemadatan tanah di ukur dari berat volume kering tanah yang dipadatkan.
Bila air ditambahkan kepada suatu tanah yang sedang dipadatkan, air tersebut akan
berfungsi sebagia unsur pembasah pada partikel-partikel tanah. Untuk usaha
pemadatan yang sama, berat volume kering dari tanah akan naik bila kadar air dalam
tanah meningkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemadatan tanah adalah kadar
air. Disamping kadar air, faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi pemadatan
adalah jenis tanah dan usaha pemadatan. Cara mengatasi pemadatan tanah adalah
dengan cara metode drainase, yaitu menggunakan teknik yang sesuai berdasarkan
sifat tanah dan karakteristik tanah serta material kandungan tanah yang mengalami
pemadatan.