Anda di halaman 1dari 8

Analisis Kualitatif Bahan Baku Asetosal Metode Konvensional

Bena Humaira1
1

Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran


Jatinangor, Sumedang

ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan analisis kualitatif bahan baku asetosal dengan metode
konvensional. Pengujian yang dilakukan yaitu organoleptis, kelarutan, titik lebur
dan uji warna. Tujuan dari percobaan ini adalah dapat mengetahui analisis bahan
baku asetosal dengan metode kualitatif. Prinsip yang digunakan yaitu bahan awal
dan analisis kualitatif. Hasil dari percobaan ini yaitu organoleptis, zat agak berbau,
warna putih dan rasa pahit. Untuk kelarutan, larut dalam aseton, etanol dan
kloroform sedangkan dalam air tidak larut. Untuk titik lebur didapatkan 124oC.
Terakhir, untuk uji warna dengan FeCl3 berwarna ungu dan dengan p-DAB
berwarna hijau.
Kata Kunci: Kualitatif, Asetosal, Uji Warna
ABSTRACT
Qualitative analysis xperiments have been carried out of raw materials acetosal
by conventional methods. The tests have been done of organoleptic, solubility,
melting point and color test. The purpose of this experiment is able to know the
analysis of raw materials acetosal with qualitative methods. The principle used is
starting materials and qualitative analysis. The results of this experiment are for
organoleptic test is rather smelling substance, white and bitter taste. For
solubility, soluble in acetone, ethanol and chloroform, while water insoluble. For
melting point is obtained 124oC. The last, for the color test with FeCl3 is purple
and p-DAB is green.
Keywords: Qualitative, Acetosal, Color test

PENDAHULUAN
Kimia analisis dapat dibagi dalam
dua bidang yang disebut dengan
analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif.

Asam asetilsalisilat mempunyai

Analisis kualitatif membahas

nama sinonim asetosal, asam

identifikasi zat-zat. Urusannya

salisilat asetat dan yang paling

adalah

terkenal

adalah

aspirin

unsur

atau

senyawaan apa yang

terdapat

(brandname product dari Bayer).

dalam suatu sampel (contoh).

Serbuk asam asetilsalisilat dari

Analisis kuantitatifberurusan

tidak berwarna atau kristal putih

dengan

atau serbuk atau granul kristal

penetapan banyaknya suatu

zat

yang

berwarna

putih.

Asam

tertentu yang ada dalam sampel.

asetilsalisilat stabil dalam udara

Zat yang ditetapkan, yang sering

kering tapi terdegradasi perlahan

dirujuk

jika terkena uap air menjadi asam

sebagai konstituen yang diingink

asetat dan asam salisilat. Nilai

an atau analit, dapat merupakan

titik lebur dari asam asetilsalisilat

sebagian kecil atau sebagian besar

adalah 135oC. Asam asetilsalisilat

dari contoh yang dianalisis (Day

larut dalam air (1:300), etanol

dan Underwood, 1986).

(1:5), kloroform (1:17) dan eter

Untuk tujuan analisis kualitatif

(1:10-15), larut dalam larutan

sistematik

asetat dan sitrat dan dengan

diklasifikasikan

kation-kation
dalam

lima

adanya

senyawa

yang

golongan berdasarkan sifat-sifat

terdekomposisi,

kation itu terhadap beberapa

asetilsalisilat larut dalam larutan

reagensia. Dengan memakai apa

hidroksida dan karbonat (Clark,

yang disebut reagensia golongan

2005).

secara

sistematik,

dapat

kita

tetapkan ada tidaknya golongangolongan kation, dan dapat juga


memisahkan golongan-golongan
ini untuk pemeriksaan lebih lanjut
(Svehla, 1990).

Dosis

oral

asam

aspirin

untuk

memperoleh efek analgesik dan


antipiretik pada manusia adalah
325 650 mg empat kali
sehari,konsentrasi

dalam

plasmanya 100 300 mcg/ml.


Untuk

memperoleh

efek

antiinflamasi adalah 4 6 gram

secara oral per hari, dan untuk

Sebanyak 125mg p-

mendapatkan efek anti agregasi

Dimetilaminobenzaldehida p

platelet adalah 60 80 mg sacara

dilarutkan dalam campuran

oral per hari (Mycek, et al., 2001).

dingin 65 ml H2SO4 dan 35 ml

Khasiat lain yang dimiliki asetosal


pada penggunaan dosis kecil
adalah sebagai anti platelet yang
dapat mengurangi kemungkinan
terjadinya infark miokard pada
orang dengan resiko tinggi stroke
atau ischemia cerebral, sehingga
asetosal diproduksi dengan dosis
sediaan 80 dan 160 mg/tablet
dengan aturan pakai 1 tablet/hari
(Sweetman, 2002).

air. Lalu ditambahkan 0,05 ml


Besi (III) Klorida (Depkes RI,
1995).
Pengujian asetosal dengan
reagen FeCl3
Asetosal dipanaskan dengan air
selama beberapa menit dan
ditambahkan satu atau dua tetes
FeCl. Akan terjadi perubahan
warna menjadi warna ungu
(Depkes RI, 1995).
Pengujian asetosal dengan

METODE

reagen p-DAB

Alat

Asetosal ditambahkan reagen p-

Alat yang digunakan adalah

DAB dan ditambahkan H2SO4

beaker glass, penangas air,

dan didinginkan. Akan terjadi

penjepit tabung, pipet tetes, plat

perubahan warna menjadi hijau

tetes dan tabung reaksi.

muda (Syaharuddin, 1997).

Bahan

Pengujian organoleptis

Bahan-bahan yang digunakan

Diamati bentuk hablur tidak

antara lain Ammonium Molibdat,

berwarna atau serbuk hablur

Aquadest, Asetosal, Asam Sulfat,

putih, tidak berbau atau hamper

Besi (III) Klorida, dan reagen p-

tidak berbau dan rasa asam

DAB.

(Depkes RI, 1979).


Pengujian kelarutan

Pembuatan reagen FeCl3

Asetosal dilarutkan dalam 10 ml

Besi (III) Klorida heksahidrat

aseton, 7 ml etanol, 300 ml air,

ditimbang sebanyak 9 gram dan

20 ml eter dan 20 ml kloroform

dilarutkan dalam aquadest 100

(Depkes RI, 1979).

ml (Depkes RI, 1995).

Pengujian titik lebur

Pembuatan reagen p-DAB

Ujung pipa kapiler dibakar, ujung


lainnya diberikan tanda 1 cm.

Asetosal digerus dan ditapping

Lalu diamati pada melting point

sampai mampat pada batas 1 cm.

apparatus (Depkes RI, 1979).

HASIL
Pembuatan reagen FeCl3
No Perlakuan
1.

2.

Hasil

Gambar

Ditimbang 2 gr Besi (III) 2 gram Besi (III)


Klorida

Klorida

Dilarutkan dalam 100 ml air

2 gram Besi (III)


Klorida larut

3.

Ditambahkan 2 ml asam Reagen FeCl3


fosfat

Uji Organoleptis
No Perlakuan
1.

Hasil

Gambar

Diamati rasa, warna, bau dan Bau: agak berbau


bentuk

Warna: putih
Bentuk: serbuk
Rasa: pahit

Uji kelarutan
No Perlakuan
1.

Hasil

1 gram asetosal dilarutkan larut


dalam 10 ml aseton

2.

1 gram asetosal dilarutkan larut


dalam 7 ml etanol

Gambar

3.

1 gram asetosal dilarutkan Tidak larut


dalam 300 ml air

4.

1 gram asetosal dilarutkan dalam 20 ml eter

5.

1 gram asetosal dilarutkan larut


dalam 20 ml kloroform

Melting point
No Perlakuan
1.

Hasil

Gambar

Ujung

pipa

kapiler Ujung 1 tertutup

dibakar,

ujun

lainnya

diberi tanda 1 cm
2.

Asetosal

digerus

dan Asetosal

ditapping sampai mampat dalam


pada batas 1 cm
3.

Diamati

pada

ada
pipa

kapiler
melting 127,4oC

point apparatus

Pengujian dengan FeCl3


No Perlakuan
1.

Hasil

Asetosal dilarutkan dalam Tidak larut


5ml air

Gambar

2.

Dipanaskan dalam air selama panas


beberapa menit

3.

Ditambahkan 3 tetes FeCl3

Asetosal + FeCl3

4.

Diamati perubahan warna Ungu


yang terjadi

Pengujian dengan p-DAB


No Perlakuan
1.

Asetosal

Hasil

Gambar

ditambahkan Asetosal + p-DAB

reagen p-DAB
2.

Ditambahkan H2SO4

Asetosal + p-DAB
+ H2SO4

3.

Diamati perubahan warna Warna coklat


yang terjadi

bahan asetosal yang disediakan

PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini dilakukan
analisis kualitatif asetosal dengan
menggunakan

metode

konvensional. Hal yang dilakukan


pertama adalah uji organoleptis
asetosal, yaitu dengan melihat

pernah dibuka dalam waktu yang


agak lama sebab asetosal dapat
teroksidasi menjadi asam oleh
karena itu kenapa zat yang
dipakai agak berbau pekat atau
asam.

bentuk, rasa, warna dan bau.

Selanjutnya

Bentuk asetosal yang akan diuji

kelarutan asetosal denga beberapa

adalah seperti serbuk panjang

pelarut

putih, dengan rasa pahit dan bau

dalam Farmakope Indonesia III.

pekat.

menurut

Dari hasil pengujian didapatkan

Farmakope

bahwa asetosal larut dalam 7 ml

Indonesia III rasa dari asetosal

etanol, 20 ml kloroform, dan 10

tersebut adalah asam dan baunya

ml aseton. Sedangkan aspirin

hampir tidak berbau. Ini dapat

tidak larut dalam 300 ml air. Ini

menjadi

semua sesuai dengan literature.

literature

Seharusnya
yaitu

kemungkinan

bahwa

yang

adalah

ada

pengujian

disebutkan

Selanjutnya dilakukan uji titik

bau cuteks remover atau etil

lebur

asetat.

dengan

menggunakan

melting point apparatus. Suhu


yang didapatkan adalah 127,40C.
Seharusnya menurut

literature

melting point dari asetosal adalah


141,50C.

Kemungkinan

dapat

disebabkan oleh sampel yang


digunakan.
Pengujian

selanjutnya

yaitu

reagen

dilarutkan

dahulu

dengan

FeCl3.
terlebih

HCl

dan

dipanaskan agar mempercepat


reaksi. Setelah itu diteteskan
dengan FeCl3 dan menghasilkan
warna ungu. Hal ini sesuai dengan
literature.

Warna

ungu

yang

diberikan oleh FeCl3 disebabkan


karena

asetosal

mengandung

gugus fenol dari asam salisilat,


nukleofil
tersebut

dalam
akan

gugus

menyerang

OH
Fe

dengan melepaskan atom H nya


untuk

Analisis kualitatif yang dilakukan


yaitu organoleptis, uji kelarutan,
uji

melting

point,

analisis

fisikokimia dengan FeCl3 dan p-

menggunakan
Asetosal

SIMPULAN

membentuk

ikatan

O-

FeCl2.

DAB. Hasil FeCl3 ungu dan pDAB coklat.


DAFTAR PUSTAKA
Clark, M., and Kumar, P., 2005.
Clinical Medicine. 6th ed.
London,

UK:

Elseveir

Saunders: 1153-1154
Day dan Underwood, A. L.
1986. Analisis

Kimia

Kantitatif. Jakarta: Erlangga.


Depkes RI. 1979. Farmakope
Indonesia

Edisi

Ketiga.

Jakarta: Depkes RI
Depkes RI. 1995. Farmakope
Indonesia

Edisi

Keempat.

Jakarta: Depkes RI
Mycek, M.J., Harver, R.A., dan

Terakhir, asetosal diuji dengan

Champe,

reagen

Farmakologi

p-DAB

HCl,

dengan

P.C.

(2001).
Ulasan

reagen ini memberikan warna

Bergambar. Jakarta: Widya

coklat,

Medika. Halaman 196-199.

padahal

seharusnya

berwarna hijau. Dalam reaksi ini

Svehla,

G.

1990. Buku

Teks

seharusnya adanya ikatan atara

Analisis Anorganik Kualitatif

OH- dengan ikatan asetil, yang

Makro dan Semimikro Bagian

nantinya juga akan menimbulkan

I. PT Kalman Media Pusaka:


Jakarta.

Sweetman C.S. 2002. Martindale


The

Complete

Reference,

Drug

33th

edition,

Pharmaceutical

Press,

London, UK, p. 14-18


Syaharuddin.
Farmasi

1997.
I.

Analisis
Makassar:

Universitas Hassanudin