Anda di halaman 1dari 9

I.

KEPADATAN PENDUDUK

Kepadatan Penduduk DKI Jakarta


Kepadatan Penduduk
16,000.00

14,523.80

14,000.00
12,000.00
10,000.00

12,437.64

12,618.04

1990

2000

9,796.61

8,000.00
6,872.80
6,000.00
4,000.00
2,000.00
0.00
1971

1980

2010

Kepadatan penduduk adlaah masalah paling dasar yang dihadapi oleh kota Metropolitan salah
satunya adalah Provinsi DKI Jakarta sebagai ibukota Indonesia. Kepadatan penduduk di
Jakarta sudah menjadi polemik dari waktu ke waktu , polemik ini membentuk sebuah
lingkaran setan yang akan sulit untuk diuraikan masalahnya . Jakarta adalah jantung dari
seluruh kegiatan ekonomi dan politik di Indonesia. Akibat daya tarik tersebut DKI Jakarta
dipandang sebagai primadona bagi penduduk Indonesia yang mencari pekerjaan . Setiap
tahunnya ratusan ribu orang datang ke Jakarta untuk mengadu keberuntungan hidup, apakah
mereka akan menjadi sukses atau malah menjadi beban masyarakat di Jakarta. Menurut
catatan Dinas Kependudukan dan Catatn Sipil Pemprov DKI Jakarta, jumlah penduduk DKI
Jakrta pada tahun 2013 sebanyak 10.090.301 jiwa. Perkembangan jumlah penduduk DKI
jakarta selama dua daswarsa tumbuh dengan pesat dari 4,6 juta jiwa pada tahun 1971 tumbuh
sebesar 4,01 persen hingga menajdi 6,5 juta jiwa. Tahun 1990, penduduk DKI Jakarta naik
menjadi sekitar 1,7 juta jiwa, sehingga jumlah penduduk menjadi 8,3 juta jiwa . selama

periode 1980 1990 laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,42 persen pertahn . laju
pertumbuhan pada periode ini menglamai penuruna sigifikan dibandingkan dengan periode
sepuluh tahun sebelumnya. Pada kurun waktu 1990 2000, pertambahan penduduk DKI
Jakarta dapat dikendalikan sehingga kenaikan jumlah penduduknya hanya sebesar 0, 16
persen per tahun, dan pada tahun 2010 2013 menjadi 0,53 persen (BPLHD Jakarta, 2013 ).
Jumlah penduduk DKI Jakarta yang terus meningkat ini perlu diberikan perhatian yang
maksimal dikarenakan permasalahan ini dapat menimbulkan efek domino pdaa
permasalahan di bidang lainnya. Masalah yang berkaitan erat dengan jumlah penduduk yang
tinggi antara lain pemukiman, kesehatan,pendidikan , transportasi dan ketenagakerjaan serta
sanitasi lingkungan, dan salah satu msalah yang dapat muncul dalah munculnya slum area
atau permukiman kumuh di beberapa wilayah DKI Jakarta.
II.

SEX RATIO

Sex Ratio DKI Jakarta


Sex Ratio
120.00
102.13
100.00

102.58

101.95

102.40

102.83

1980

1990

2000

2010

80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
1971

Pada prinsipnya konsep gender memfokuskan perbedaan peranan antara pria


dengan wanita, yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan norma sosial dan nilai
sosil budaya

masyarakat yang bersangkutan. Peran gender adalah peran sosial yang

tidak ditentukan oleh perbedaan kelamin seperti halnya peran kodrati. Oleh karena itu,
pembagian peranan antara pria dengan wanita dapat berbeda di antara satu masyarakat
dengan masyarakat yang lainnya sesuai dengan lingkungan/budaya.
Hal itu berarti, peran gender dapat ditukarkan
antara pria dengan wanita (Aryani, 2002; Pusat Studi Wanita Universitas Udayana,
2003; Sudarta, 2005).
Kesadaran akan konsep dan peran gender ini yang menyebabkan munculnya kesadaran
terhadap adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan terhadap salah satu jenis kelamin
dalam hal ini wanita di masyarakat.
Kesadaran dan

pemikiran

ini

yang

kemudian

dinamakan

Feminisme,

melontarkan kritik terhadap teori pembangunan yang menjadi sumber kebijakan

negara

dalm

kajian,

melakukan

pembangunan.

Setelah

dilakukan

berbagai

diketahui bahwa memang ada korelasi positif antara ketimpangan perlakuan dan kesempatan
yang terjadi pada wanita dengan kegagalan pembangunan sebuah negara. Todaro,
misalnya, mengemukakan

bahwa ada hubungan terbalik antara pendidikan wanita

dengan jumlah anak dalam


keluarga, terutama di kalangan penduduk yang taraf pendidikannya relatif rendah.
Artinya,

semakin

tinggi

fertilitas atau kecenderungan untuk memiliki


sebaliknya,

pendidikan

pendidikan seorang wanita, tingkat


anaknya

akan

semakin

wanita

rendah cenderung memiliki anak yang banyak (Todaro, 2008).

rendah/sedikit;
yang

Perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada


suatu daerah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki
per 100 perempuan, dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

Nilai sex ratio yang ditunjukkan dari hasil perhitungan yang dirangkum dari data BPS tahun
1971 2010 menunjukkan bahwa rentang sex ratio yang stabil. Dimana selisih nilai hanya
bekisar 0,1 . Nilai sex ratio di Provinsi DKI Jakarta adalah 102 hal ini menunjukkan bahwa
terdapat 102 laki laki dari 100 wanita Nilai sex ratio ini menunjukkan bahwa perbedaan
antara jumlah perempuan dan laki laki di provinsi DKI Jakarta tidak terlalu besar , namun
tetap nilai 102 tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki laki masih lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah penduduk wanita . hal ini tidak menunjukkan adanya
ketimpangan gender antara laki laki dan perempuan.
untuk mengakses

pendidikan

telah

menambah

Perluasan
angka

kesempatan wanita

partisipasi

wanita

dalam

pendidikan,
meskipun untuk kategori pendidikan tinggi proporsinya masih jauh di bawah pria.
Konsekuensinya

terhadap

perencanaan

pembangunan

yang

harus

dilakukan

pemerintah adalah menyediakan lapangan kerja bagi penduduk wanita. Jika tidak dilakukan,
permasalahan yang muncul kemudian adalah meningkatnya jumlah penganggur wanita
terdidik. Secara demografi, penduduk usia produktif (1564 tahun) adalah penduduk
usia kerja yang menanggung konsumsi penduduk usia tidak produktif (usia 014 dan
65+ tahun).

Berarti, apabila ada penduduk yang tidak bekerja/sedang mencari

pekerjaan/menganggur, akan menambah beban ketergantungan (devendency ratio)


yang harus ditanggung penduduk usia produktif yang benarbenar bekerja. Artinya,

secara ekonomi, wanita/pria usia produktif dan terdidik yang menganggur tidak
menguntungkan negara karena logikanya ada cost yang sudah dikeluarkan negara
untuk

biaya

pendidikan,

tapi

tidak menghasilkan apa

apa untuk negara dan malah menjadi beban


III.

DEPEDENCY RATIO

Dependency Ratio DKI Jakarta


Dependency Ratio
90.00
80.04
80.00
70.00

68.19

60.00

50.61

50.00
40.00

35.14

36.94

2000

2010

30.00
20.00
10.00
0.00
1971

1980

1990

Dependency ratio adalaha nagka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya orang
yang tidak produktif ( 0-14 tahun dan 65+) dengan banyaknya orang yang termasuk usia
produktif ( umur 15 64) , dinyatakan dengan rumus :

Secara kasar angka ini dapat digunakan sebagai indikator ekonomi dari suatu negara
apakah tergolong maju atau tidak. Dependency ratiomerupakan salah satu indikator
demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan
semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai
hidup

penduduk

yang

belum

produktif

dan

tidak

produktif

lagi.

Sedangkan

persentase dependency ratioyang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban


yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif
dan tidak produktif lagi.

Penduduk DKI Jakarta Tahun 2010 Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
75+
70 - 74
65 - 69
60 - 64
55 - 59
50 - 54
45 - 49

Perempuan

40 - 44

Laki-Laki

35 - 39
30 - 34
25 - 29
20 - 24
15 - 19
10 - 14
5-9
0-4
600,000 400,000 200,000

200,000 400,000 600,000

Penduduk DKI Jakarta Tahun 1971 Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

Perempuan
Laki-Laki

400,000300,000200,000100,000 0 100,000200,000300,000400,000

Nilai dependency ratio yang terdapat di provinsi DKI Jakarta menunjukkan grafik yang
menurun. Grafik yang menurun ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa terjadinya
peningkatan kualitas dari variasi usia produktif dan menunjukkan bahwa terjadinya
kecenderungan peningkatan produktivitas yang ada di Provinsi DKI Jakarta. Dengan
meningktanya produktivitas maka pendapatan perkapita dari Provinsi DKI Jakarta pun makin
besar. Nilai dependency ratio tahun 2010 menunjukkan bahwa setiap 35 orang yang non
produktif ditanggung oleh 100 orang produktif. Dari hasil ini dapat terlihat bahwa jumlah
usia produktif yang terdapat di DKI Jakarta semakin lama semakin meningkat . Hal tersebut
dapat mengimplikasikan hal baik apabila pemerintah dapat benar benar menyalurkan usia
usia produktif ini masuk dalam pasar kerja yang berkualitas. Apabila pemerintah tidak dapat
mengendalikan ini maka usia usia produktif hanya akan menjadi beban di suatu wilayah
dan dapat menyebabkan efek domino seperti naiknya jumlah pengangguran dan naiknya
tingkat kriminalitas. Pemerintah harus dapat memeprsiapkan lapangan pekerjaan yang seluas
luasnya bagi usia usia produktif ini.

Dilihat dari piramida penduduk DKI Jakarta antara tahu 1971 dengan 2010
mengalami perubahan proporsi kelompok umur tertentu dimana pada ytahun 1971 piramida
penduudk mengerucut pada bagian atas, hal tersebut menandakan bahwa prorporsi kelompok
umur 0 39 tahun masih mendominasi jumlah penduduk . Memabandingkan dengan
piramida penduduk yang ada pada tahun 2010 dimana terjadi bentuk piramida yang tidak
proporsional dimana bagian tengah piramida mengalami penggelembungan sedangkan bagian
atas dan bagian bawah piramida mempunyai bentuk yang sama. Hal tersbut menandakan
telah terjadinya pola gaya hidup pada masyarakat, dimana akses kesehatan modern membuat
angka harapan hidup masyarakat menjadi tinggi dan terlihat kelompok usia 65+ jumlahnya
masih tinggi. Sedangkan untuk penduduk kelompok usia 0 19 tahun cenderung mengalami
penurunan jumlah hal ini dapat diindikasikan bahwa program keluarga berencana yang
dicannagkan pemerintah telah berhasil menekan angka kelahiran , disamping itu juga
perubahan pola pikir penduduk Jakarta telah berubah dimana sudut pandang tentang anak
adalah rejeki mulai dittinggalka. Dapat disimpulkan bahwa anak dapat diannggap sebagai
beban dimana pada zaman modern ini memiliki banyak anak akan menjadi tnaggungan bagi
orang tuanya dalam memenuhi hak hak hidupny ayang membuthkan biaya yang besar.
Maka dari itu, apabila memiliki banyak anak maka baiya pengeluaran untuk kebutuhan hidup
akan semakin banyak .

Referencee
BPS . 1971 . Sensus penduduk DKI Jakarta Tahun 1971. BPS Pusat :
jakarta
BPS . 1980 . Sensus penduduk DKI Jakarta Tahun 1980. BPS Pusat :
jakarta

BPS . 1990 . Sensus penduduk DKI Jakarta Tahun 1990. BPS Pusat :
jakarta
BPS . 2000 . Sensus penduduk DKI Jakarta Tahun 2000. BPS Pusat :
jakarta
Bank
Dunia.
2005.
Laporan Penelitian

Pembangunan

Berprespektif

Gender:

Kebijakan Bank Dunia. Jakarta: Dian Rakyat.


BPLHD Jakarta. 2013. SLHD Provinsi DKI Jakarta tahun 2013 ( akses online tanggal
22/3/16 pukul17.38

http://bplhd.jakarta.go.id/SLHD2013/Docs/pdf/Buku%20I/Buku%20I

%20Bab%203B.pdf )
Todaro, M, dan Stephen C. Smith. 2008. Pembangunan Ekonomi. Jakarta:
Erlangga. Yayasan Kesejahteraan Fatayat. 2002. Anotasi 50 Buku
Penguatan Hak Reproduksi Perempuan. Yogyakarta: Yayasan
Kesejahteraan Fatayat.