Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH EPIDEMIOLOGI KESEHATAN REPRODUKSI

KONSEP DAN EPIDEMIOLOGI KESEHATAN REPRODUKSI


Dosen : dr. Fauziah Elytha,MSc

Oleh :
Kelompok 2
Roma Yuliana

1311211109

Suciati Marlianasyam
Dion Andhika Dwi Putra
Nabila

1311211010
1311211034
1311211124

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2016

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan ini dengan judul KONSEP
DAN EPIDEMIOLOGI KESEHATAN REPRODUKSI
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis dengan hati terbuka mengharapkan saransaran dan kritikan-kritikan yang membangun demi kesempurnaan tugas yang
akandatang.
Selanjutnya dalam kesempatan ini penulis tidak lupa untuk menyampaikan
ucapan terima kasihkepada semua pihak yang telah memberikan dorongan dan
bantuan, terutama kepada :
1. Sebagai dosen pengampu mata kuliah ini di IKM Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Andalas.
2. Rekan-rekan mahasiswa IKM Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Andalas yang seperjuangan serta seluruh pihak terkait yang turut membantu
penulis dalam menyelesaikan tugas ini,
Akhir kata, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pihak yang
memerlukannya. Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan
bagi para pembaca.

Padang, Januari 2016

Penulis

DAFTAR ISI
i

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB 1 : PENDAHULUAN..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................2
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan............................................................................2
BAB 2 : PEMBAHASAN............................................................................................3
2.1 Defenisi Kesehatan Reproduksi..........................................................................3
2.2 Definisi Epidemiologi Kesehatan Reproduksi....................................................4
2.3 Manfaat Data Epidemiologi................................................................................5
2.4 Indikator Kesehatan Reproduksi.........................................................................5
2.4.1 Angka Mortalitas.........................................................................................7
2.4.2 Angka Morbiditas......................................................................................13
2.5 Morbiditas dan Mortalitas yang Sesuai Untuk Analisis Masalah Kespro........17
BAB 3 : PENUTUP....................................................................................................25
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................25
3.2 Saran.................................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................26
LAMPIRAN JURNAL............................................................................................27

ii

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Undang-Undang No.23 Tahun 1992 mendefinisikan bahwa kesehatan adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang
hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan reproduksi menurut
Koblinsky adalah kemampuan perempuan hidup dari masa adolescence/ perkawinan
tergantung mana yang lebih dahulu, sampai dengan kematian, dengan pilihan
reproduktif, harga diri dan proses persalinan yang sukses serta relatife bebas dari
penyakit ginekologis dan risikonya. Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah
kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, sosial dan lingkungan serta bukan
semata- mata terbebas dari penyakit/kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan
dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Dengan adanya pengertian
kesehatan reproduksi menurut WHO dan Undang-Undang Kesehatan maka kita
harus menjaga segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi
serta prosesnya sehingga akan tercipta suatu perilaku seksual yang sehat.
Sejak tahun 2000, kesehatan reproduksi merupakan salah satu topik penting
yang mendapat perhatian dari berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri.
Meluasnya liputan media massa sampai ke pelosok negeri yang menyajikan fakta
seputar kesehatan reproduksi, baik positif maupun negatif mendorong pemerintah,
perorangan, swasta dan lembaga swadaya masyarakat untuk mengambil peran aktif
dalam menyosialisasikan sekaligus memberikan jalan keluar atas permasalahan
kesehatan reproduksi.
Oleh karena itu, kesehatan reproduksi berarti orang dapat mempunyai kehidupan
seks yang memuaskan dan aman, dan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk
bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan apakah mereka ingin melakukannya,
bilamana dan seberapa seringkah. Termasuk terakhir ini adalah hak pria dan wanita
untuk memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap cara - cara keluarga
berencana yang aman, efektif dan terjangkau, pengaturan fertilitas yang tidak
melawan hukum, hak memperoleh

pelayanan pemeliharaan kesehatan yang

memungkinkan para wanita dengan selamat menjalani kehamilan dan melahirkan


anak, dan memberikan kesempatan untuk memiliki bayi yang sehat.

2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang terdapat beberapa rumusan masalah yaitu :
a.
b.
c.
d.

Apakah definisi kesehatan reproduksi?


Apakah definisi epidemiologi kesehatan reproduksi?
Apa saja manfaat data epidemiologi dalam kesehatan reproduksi?
Apa saja indikator kesehatan reproduksi?

e. Morbiditas dan mortalitas apakah yang sesuai untuk analisis masalah


kesehatan reproduksi ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
a.
b.
c.
d.

Untuk mengetahui definisi kesehatan reproduksi


Untuk mengetahui definisi epidemiologi kesehatan reproduksi
Untuk mengetahui manfaat data epidemiologi dalam kesehatan reproduksi
Untuk mengkaji indikator kesehatan reproduksi

e. Untuk mengkaji morbiditas dan mortalitas apakah yang sesuai untuk analisis
masalah kesehatan reproduksi

BAB 2 : PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Kesehatan Reproduksi


1. Defenisi Sehat
Pengertian sehat Menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik
fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Menurut Pander (1982) sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh
melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi).
Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedagkan
penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan inegitas
sruktural.
2. Defenisi Reproduksi
Istilah reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata
produsi yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi istilah reproduksi
mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan
keturunan demi kelestarian hidupnya.
3. Defenisi Kesehatan Reproduksi
Menurut BKKBN (2011), kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan
sehat mental, fisik, dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang
berhubungan dengan sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan
hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan. Sedangkan menurut
ICPD (1994) kesehatan reproduksi adalah sebagai hasil akhir keadaan sehat
sejahtera secara fisik, mental, dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit
atau kecacatan dalam segala hal yang terkait dengan sistem, fungsi serta
proses reproduksi.
Kespro didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental dan
sosial secara utuh, yang tidak semata-mata bebas dari penyakit atau
kecacatan, dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta
fungsi dan prosesnya. Di Indonesia saat ini, disepakati ada empat komponen
prioritas kespro, yaitu kesehatan ibu dan bayi baru lahir, keluarga berencana,
kespro remaja, PMS dan HIV/AIDS. Pelayanan yang mencakup empat
komponen prioritas diatas disebut Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial

4
(PKRE). Jika PKRE ditambah dengan Pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi
Usia Lanjut, maka pelayanan yang diberikan disebut Pelayanan Kesehatan
Reproduksi Komprehensif (PKRK).
Kesehatan reproduksi manusia dimulai dari pertumbuhan dan
perkembangan seksual yang terwujud dalam masa pubertas, dan akan
berlangsung terus sepanjang hidupnya pada laki-laki dan pada perempuan
akan berakhir pada masa menopause. Kesehatan reproduksi dipengaruhi oleh
fertilitas dan pengambilan keputusan tentang aktivitas seksual, kehamilan dan
pemakaian kontrasepsi.
Kesehatan reproduksi mencakup tiga komponen yaitu kemampuan
(ability), keberhasilan (succes), dan keamanan (safety). Kemampuan berarti
dapat berproduksi. Keberhasilan berarti dapat menghasilkan anak sehat yang
tumbuh dan berkembang. Keamanan berarti semua proses reproduksi
termasuk hubungan seks, kehamilan, persalinan, kontrasepsi, dan abortus
seyogyanya bukan merupakan aktivitas yang berbahaya. Menurut WHO
kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang
utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek
yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya.
Berdasarkan berbagai uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa
kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat menyeluruh, meliputi aspek
fisik, mental dan sosial, bukan sekedar tidak ada penyakit atau gangguan di
segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsinya dan proses
reproduksi itu sendiri.
2.2 Definisi Epidemiologi Kesehatan Reproduksi
Epidemiologi reproduksi adalah studi mengenai distribusi dan determinan
status atau kejadian terkait kesehatan pada populasi manusia dan aplikasi studi ini
untuk meningkatkan kesejahteraan fisik,mental,dan sosial yang sempurna karena
berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi serta prosesnya.
Pemahaman tentang epidemiologi kesehatan reproduksi perlu dilandasi
pemahaman tentang epidemiologi yang utuh. Secara singkat, epidemiologi
didefinisikan sebagai studi tentang pola penyakit, kesehatan dan perilaku manusia.
Seorang epidemiolog, akan mampu menjawab pertanyaan penelitian dengan cara
mengklasifikasi individu ke dalam satu atau lebih kelompok yang berbeda kemudian

5
menilai perbedaan diantara kelompok tersebut. Dengan demikian, Epidemiologi
kesehatan reproduksi merupakan aplikasi dari studi epidemiologi dalam mengkaji
risiko perilaku, lingkungan dan perawatan kesehatan terhadap sistem reproduksi baik
pada laki-laki maupun perempuan serta

risiko terhadap kesehatan anak yang

dilahirkannya. Jadi, epidemiologi kesehatan reproduksi lebih banyak menjangkau


ranah penelitian.
2.3 Manfaat Data Epidemiologi
Epidemiologi memiliki manfaat yang sangat penting dalam kesehatan
reproduksi. Adapun manfaat tersebut adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan reproduksi
b. Menggambarkan masalah kesehatan reproduksi secara komprehensif dan
dinamis
c. Dapat menyebutkan indikator kesehatan reproduksi berupa angka
d. Sebagai tool (alat), selalu menanyakan siapa yang terkena, dimana dan
bagaimana
e. Sebagai metode atau pendekatan dalam penyelesaian masalah kesehatan,
khususnya kesehatan reproduksi
f. Diagnosis komunitas untuk menentukan penyebab mortalitas dan morbiditas
g. Melihat resiko individu dan pengaruhnya pada populasi atau

kelompok

kejadian (misalnya : flu burung, SARS).


2.4 Indikator Kesehatan Reproduksi
Indikator kesehatan adalah penanda kasus kesehatan, pemberian pelayanan, atau
ketersediaan

sumber. Indikator

kesehatan

dirancang

pemantauan pelaksanaan layanan atau tujuan program.

untuk

memungkinkan

Kesehatan reproduksi

berhubungan dengan berbagai dimensi kesehatan. Oleh sebab itu, beberapa indikator
kesehatan telah dikembangkan untuk mendeskripsikan kesehatan reproduksi.
Indikator kesehatan reproduksi sangat bermanfaat karena mendeskripsikan status
kesehatan reproduksi dan memberikan perbandingan dengan kebijakan, program, dan
sarana pelayanan kesehatan. Selain itu, jika indikator kesehatan reproduksi
dilaporkan

berdasarkan

variabel

orang,

tempat

dan

waktu,

hal

tersebut

memungkinkan pemahaman yang lebih baik mengenai orang yang memiliki risiko
paling tinggi dan alasan mereka menjadi lebih rentan terhadap masalah kesehatan.

6
Ada beberapa indikator kesehatan reproduksi :
1. Angka Kematian Ibu (AKI) makin tinggi AKI, makin rendah derajat
kesehatan reproduksi
2. Angka Kematian Bayi (AKB) makin tinggi AKB, makin rendah derajat
kesehatan reproduksi
3. Angka cakupan pelayanan keluarga berencana dan partisipasi laki-laki dalam
keluarga berencana (makin rendah angka cakupan pelayanan KB, makin
rendah derajat kesehatan reproduksi).
4. Jumlah ibu hamil dengan 4 terlalu atau terlalu muda, terlalu tua, terlalu
banyak anak, dan terlalu dekat jarak antar kelahiran (makin tinggi jumlah ibu
hamil dengan 4 terlalu, makin rendah derajat kesehatan reproduksi)
5. Jumlah perempuan dan/atau ibu hamil dengan masalah kesehatan, terutama
anemia dan kurang energi kronis/KEK, (makin tinggi jumlah anemia dan
KEK, makin rendah derajat kesehatan reproduksi)
6. Perlindungan bagi perempuan terhadap penularan penyakit menular seksual
(PMS), (makin rendah perlindungan bagi perempuan, makin rendah derajat
kesehatan reproduksi)
7. Pemahaman laki-laki terhadap upaya pencegahan dan penularan PMS (makin
rendah pemahaman PMS pada laki-laki, makin rendah derajat kesehatan
reproduksi).
Dalam pengertian kesehatan reproduksi secara lebih memdalam,
kesehatan

reproduksi

bukan

semata-mata

sebagai

penelitian

klinis

(kedokteran) saja tetapi juga mencakup pengertian social (masyarakat).


Intinya goal kesehatan secara menyeluruh bahwa kualitas hidupnya sangat
baik. Namum, kondisi social dan ekonomi terutama di Negara-negara
berkembang yang kualitas hidup dan kemiskinan memburuk, secara tidak
langsung memperburuk pula kesehatan reproduksi wanita.
Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek
paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh
sebab itu pada wanita di beri kebebasan dalam menentukan hal yang paling
baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang
memutuskan atas tubuhnya sendiri.
Berikut ini penulis akan fokus menjelaskan indiaktor kesehatan
reproduksi tentang angka mortalitas dan angka morbiditas.

7
2.4.1 Angka Mortalitas
a) Definisi Mortalitas
Mortalitas merupakan salah satu dari tiga komponen proses
demografi, selain fertilitasdan migrasi. Mortalitas diartikan sebagai kematian
yang terjadi pada anggota penduduk. Secara etimologi, kematian ( death )
berasal dari kata deeth atau dethyang berarti keadaan mati atau kematian.
Sedangkan secara definitif, kematian adalah terhentinya fungsi jantung dan
paru secara menetap atau terhentinya kerja otak secara permanen. Dari hal
tersebut, maka sudut pandang tentang definisi kematian meliputi tiga hal
pokok, antara lain adalah : (a) kematian jaringan, kematian otak ( b)
kerusakan otak yang tidak dapat pulih (d) kematian klinik yakni kematian
orang tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kematian sebagai
suatu peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara
permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Di negara
Indonesia, terdapat empat konsep tentang kematian.Konsep tersebut antara
lain adalah :
1. Mati karena berhentinya darah mengalir
Dalam peraturan pemerintah nomor 18 tahun 1981, telah dinyatakan
bahwa mati adalah berhentinya fungsi jantung dan paru. Konsep kematian
ini tidak dapat digunakan lagi olehkarena adanya alat yang dapat memacu
kerja jantung ataupun paru kepada seseorang yanghampir mati (alat
resusitasi). Teknologi tersebut memungkinkan jantung dan paru
yangsemula berhenti bekerja dapat dipulihkan kembali.
2. Mati sebagai terlepasnya nyawa dari tubuh.
Konsep ini menimbulkan keraguan kepada masyarakat. Hal ini terjadi
pada prosesresusitasi yang berhasil dan menimbulkan kesan seolah-olah
nyawa

manusia

dapat

ditarik kembali.

Mati

sebagai

hilangnya

kemampuan tubuh secara permanenKonsep ini tidak digunakan lagi.


Konsep ini dipertanyakan karena organ manusia tetap berfungsi secara
mandiri tanpa terkendali walaupun otak telah mati (kondisi koma).
Namun secara moral, tidak dapat diterima karena pada kenyataannya
organ tubuh masih berfungsi meskipun tidak terpadu lagi. Mati sebagai
hilangnya manusia secara permanen untuk kembali sadar dan melakukan

8
interaksi sosial pergerakan dari otak, baik secara fisik maupun sosial,
banyak dipergunakan. Pusat pengendalian manusia ini terletak pada
batang otak. Oleh karena itu, apabila batang otak telah mati, dapat
diyakini bahwa manusia itu secara fisik dan sosial telah mati.
Dalamkeadaan seperti ini, kalangan medis sering menempuh pilihan tidak
meneruskan resusitasi(Amir, 1999).
b) Indikator Mortalitas
Bermacam-macam indikator mortalitas atau angka kematian yang umum
dipakai adalah:
1. Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate (CDR).
2. Angka Kematian Bayi (AKB)
3. Angka Kematian Balita (AKBa 0-5 tahun)
4. Angka Kematian Anak (AKA 1-5 tahun)
5. Angka Kematian IBU (AKI)
6. Angka Kematian Berdasarkan Kelompok Umur (Age Specific Death
Rate)
Berikut uraian masing-masing indikator/ ukuran mortalitas :
1. Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate (CDR)
a) Konsep Dasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang
menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun
tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka ini disebut kasar sebab
belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai
risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk
yang masih muda.
b) Kegunaan
Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak
memperhitungkan pengaruh umur penduduk. Tetapi jika tidak ada
indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan
gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu
tahun yang bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran
Kasar akan menjadi dasar perhitungan pertumbuhan penduduk
alamiah.

9
c) Definisi Angka Kematian Kasar
Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya
kematian per 1000 penduduk pada pertengahan tahun tertentu, di
suatu wilayah tertentu.
Rumus:
CDR = Jumlah kematian yang dilaporkan selama 1 tahun x 1000
Jumlah Penduduk pada pertengahan tahun
d) Manfaat CDR
Manfaat CDR
1. Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat
2. Sebagai

gambaran

tingkat

permasalahan

penyakit

dalam

masyarakat
3. Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi
4. Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis
5. Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk
e) Kelemahan CDR
1. Tidak memperhitungakan pengaruh struktur umur penduduk.
2. Struktur umur penduduk yang berbeda akan menghasilkan
kematian yang berbeda pula.
3. NSB dengan struktur umur penduduk muda memiliki CDR yang
lebih rendah daripada negara maju.
2.

Angka Kematian Bayi (AKB) / Infant Mortality Rate (IMR)


a) Konsep Dasar
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah
bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor
yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi
penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan
eksogen. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan
kematian neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan
pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktorfaktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya
pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.

10
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah
kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang
usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian
dengan pengaruh lingkungan luar.
b) Kegunaan
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial
ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan
Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda
antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena
kematian

neo-natal

disebabkan

oleh

faktor

endogen

yang

berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk


mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan
dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program
pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.
Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka
Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk
mengembangkan

program

imunisasi,

serta

program-program

pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program


penerangan tentang gisi dan pemberian makanan sehat untuk anak
dibawah usia 5 tahun.
c) Definisi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi
berusia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun
tertentu.
Rumus = Jumlah bayi mati umur di bawah 1 tahun x 1000
Jumlah kelahiran hidup selama 1 tahun
d) Pengelompokan AKB
1. Angka Kematian NeoNatal
Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi
sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari, per 1000
kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Rumus = Jumlah bayi mati umur di bawah 1 bulan x 1000
Jumlah kelahiran hidup selama 1 tahun

11
2. Angka kematian Post Neo-natal
Angka Kematian Post Neo-natal atau Post Neo-natal Death
Rate adalah kematian yang terjadi pada bayi yang berumur
antara 1 bulan sampai dengan kurang 1 tahun per 1000
kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Rumus = Jumlah anak mati umur 1 bulan- 1 tahun x 1000
Jumlah kelahiran hidup selama 1 tahun
3. Angka Kematian Anak
a) Konsep
Yang dimaksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang
berusia satu sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan
4 tahun 11 bulan 29 hari. Angka Kematian Anak mencerminkan
kondisi kesehatan lingkungan yang langsung mempengaruhi tingkat
kesehatan anak. Angka Kematian Anak akan tinggi bila terjadi
keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan
yang buruk, tingginya prevalensi penyakit menular pada anak, atau
kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah (Budi Utomo,
1985).
b) Definisi
Angka Kematian Anak adalah jumlah kematian anak berusia 1-4
tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada
pertengahan tahun itu. Jadi Angka Kematian Anak tidak termasuk
kematian bayi.
Rumus = Jumlah anak mati umur 1- 4 tahun

x 1000

Jumlah kelahiran hidup selama 1 tahun


4. Angka Kematian Balita / Under Five Mortality Rate (UFMR)
a) Konsep
Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang
baru lahir, yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11
bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun.

12
b) Definisi
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4
tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada
pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi).
Rumus =Jumlah kematian balita yang dicatat selama satu tahun x1000
Penduduk balita pada tahun yang sama
5. Angka Kematian Ibu (AKI)
a) Konsep
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau
kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa
memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni
kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya,
tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll
(Budi, Utomo. 1985).
(MMR) merupakan ukuran kematian yang disebabkan oleh karena
kematian pada prose smelahirkan akibat komplikasi kehamilan,
persalinan, dan masa nifas yang dicatat selama satutahun per 1000
kelahiran hidup pada tahun yang sama. Tinggi rendahnya angka MMR
tergantung kepada: a) Sosial ekonomi, b) Kesehatan ibu sebelum
hamil, persalinan, dan masa nasa nifas, c) Pelayanan terhadap ibu
hamil, d) Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas
b) Kegunaan
Informasi mengenai tingginya MMR akan bermanfaat untuk
pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama
pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman bebas risiko
tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah
kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistim
rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga
dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran, yang semuanya
bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan meningkatkan
derajat kesehatan reproduksi.
c) Definisi

13
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan
pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa
memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena
kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab
lain, per 100.000 kelahiran hidup.
Rumus = Jumlah kematian ibu karena kehamilan kelahiran x 1000
Jumlah lahir hidup dan lahir mati
d) Keterbatasan AKI
AKI sulit dihitung, karena untuk menghitung AKI dibutuhkan sampel
yang besar, mengingat kejadian kematian ibu adalah kasus yang
jarang. Oleh karena itu kita umumnya dignakan AKI yang telah
tersedia untuk keperluan pengembangan perencanaan program.
6. Angka Kematian Berdasarkan Kelompok Umur
Adalah perbandingan antara jumlah kematian yang diacatat selama 1 tahun
pada penduduk golongan umur x dengan jumlah penduduk golongan umur x
pada pertengahan tahun
Rumus = Jumlah kematian pada kelompok umur tertentu x 1000
Jumlah populasi pada kelompok umur tertentu
Manfaat dari ASDR adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesahatan masyarakat
dengan melihat kematian tertinggi pada golongan umur
b. Untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakatdi berbagai wilayah
2.4.2 Angka Morbiditas
a) Definisi Morbiditas
Morbiditas adalah derajat sakit, cedera atau gangguan pada suatu
populasi atau disebut juga penyimpangan dari status sehat dan sejahtera atau
keberadaan dari suatu kondisi sakit, biasanya dinyatakan dalam angka
prevalensi atau insidensi yang umum.
Morbiditas adalah nama lain dari penyakit atau kesakitan. Morbiditas
diartikan sebagai penyakit dan kesakitan yang dapat menimpa manusia lebih
dari satu kali. Morbiditas merupakan penyimpangan dari keadaan normal
dan biasanya dibatasi pada kesehatan fisik dan mental. Penyakit merupakan

14
lawan dari kesehatan, di mana kesehatan memiliki artisuatu kondisi sehat,
baik

secara

fisik,

mental,

spiritual,

maupun

sosial

yang

memungkinkansetiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan


ekonomis (UU RI No.36 tahun 2009tentang Kesehatan).
Sesuai dengan konsep H.L. Blum, konsep penyakit timbul
diakibatkankarena adanya ketidakseimbangan di antara empat komponen
hidup manusia, yakni unsur genetik, layanan kesehatan, perilaku
masyarakat, dan lingkungan. Lingkungan dalam konsepdi sini mencakup
unsur ideologi, sosial, budaya, ekonomi, ras, agama, dan adat.
Serangkaianmorbiditas yang terjadi di masyarakat tersebut disebut dengan
morbiditas kumulatif. Morbiditas kumulatif akhirnya akan menghasilkan
peristiwa yang disebut dengan mortalitas (kematian).
b) Indikator / Ukuran Morbiditas
1) Angka Insidensi
Insidensi digunakan sebagai alat ukur rate dari kasus baru penyakit,
gangguan, atau cedera yang terjadi dalam satu populasi. Insidensi adalah
jumlah kasus baru suatu penyakit yang muncul dalam suatu periode
waktu dibandingkan dengan unit populasi tertentu dalam periode waktu
tertentu.

Untuk dapat

menghitung

angka insidensi suatu penyakit,

sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu tentang :a. Data tentang


jumlah penderita baru b.Jumlah penduduk yang mungkin terkena
penyakit baru ( Population at Risk ).
Rumus : Jumlah kasus baru periode waktu tertentu x 1000
Jumlah populasi berisiko periode tertentu
Angka insiden dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu :
a. Incidence Rate
Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada
suatu jangka waktu tertentu(umumnya 1 tahun) dibandingkan
dengan jumlah

penduduk yang

mungkin

terkena penyakit

baru tersebut pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan.


Rumus :

Jumlah penderita baru

x 1000

Jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tsb


pada pertengahan tahun
Manfaat Incidence Rate adalah :

15
-

Mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi

Mengetahui Resiko untuk terkena masalah kesehatan yang


dihadapi

Mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan oleh


suatu fasilitas pelayanan kesehatan.

b. Attack Rate
Yaitu

Jumlah

ditemukan

penderita

pada

baru

suatu

suatu

penyakit

yang

saat dibandingkan dengan jumlah

penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang


sama.
Manfaat Attack Rate adalah :
-

Memperkirakan derajat serangan atau penularan suatu


penyakit.

Makin

tinggi

nilai

AR, maka makin tinggi

pula

kemampuan Penularan Penyakit tersebut.


c. Secondary Attack Rate
Adalah Jumlah
terjangkit

penderita

baru

suatu

penyakit

yang

pada serangan kedua dibandingkan dengan jumlah

penduduk dikurangi orang/penduduk yang pernah terkena


penyakit pada
suatu

panyakit

serangan
menular

pertama.
dan

Digunakan

dalam

menghitung

suatu populasi yang

kecil ( misalnya dalam satu Keluarga).


2) Prevalensi
Prevalensi adalah jumlah kasus penyakit,orang yang terinfeksi,atau
kondisi yang ada pada
besar

populasi

dari

satu
kasus

waktu

tertentu,dihubungkan

dengan

berasal. Insidensi memasukkan jumlah

kasus baru sementara prevalensi tidak. Prevalensi setara dengan insidensi


yang dikalikan dengan rata-rata durasi kasus.
Faktor yang mempengaruhi prevalensi dalam suatu populasi :
a. Penyakit baru muncul di populasi sehingga menyebabkan angka
insidensi meningkat. Jika insidensi meningkat prevalensi juga
meningkat.

16
b. Durasi

penyakit

mempengaruhi

prevalensi.Jika

penyakit

memiliki durasi yang panjang,prevalensi juga akan lebih lama


pada posisi yang tinggi.
c. Intervensi

dan

prevalensi.Jika
jumlah

perlakuan

perlakuan

kasus,durasi

menurun sehingga
mencegah

efek

diberikan berhasil

penyakit
prevalensi

munculnya

prevalensi.Harapan

mempunyai
dan
juga

kasus

hidup yang

jumlah

menurukan
kasus

akan

menurun.Imunisasi

baru
lebih

pada

dan menurunkan

lama

berarti

dapat

meningkatkan prevalensi penyakit kronis


Angka prevalensi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Prevalensi Periode
Prevalensi

periode

mencakup

total

individu yang pernah

mengalami penyakit yang menjadi sorotan pada periode waktu


tertentu. Prevalensi periode dimulai pada satu titik waktu dan
berhenti pada satu titik waktu.Perhitungan juga memasukkan
kasus

baru

yang

terjadi

selama

periode,begitu

dengan

kekambuhan penyakit selama periode waktu yang berurutan.Cara


lain untuk menyatakan prevalensi periode adalah dengan
memasukkan point prevalence di awal periode waktu kemudian
ditambah dengan semua kasus baru yang terjadi selama periode
waktu.
Rumus = Jumlah kasus penyakit x1000
Rata-rata populasi studi
2) Point Prevalence
Point prevalence adalah jumlah kasus individu yang mengalami
penyakit, kondisi,atau kesakitan pada satu titik waktu yang
spesifik-jumlah kasus yang ada pada satu titik waktu. Point
prevalence mengukur keberadaan penyakit,kondisi pada satu titik
waktu

yang

singkat,secara

teoritis

semenit,sejam.
Rumus = Jumlah kasus penyakit x 1000
Total populasi studi

menghentikan

waktu

17
2.5 Morbiditas dan Mortalitas yang Sesuai Untuk Analisis Masalah Kespro
1) Angka Kematian Ibu
a. Besaran Masalah
Morbiditas dan mortalitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah
besar di negara berkembang. Kematian ibu di dunia, 99 % terjadi di
negara berkembang (Guiterrez, 2007). Kematian saat melahirkan menjadi
faktor utama (Saifuddin, 2002). Angka kematian ibu (AKI) di negara
berkembang berkisar antara 50-800 per 100.000 kelahiran hidup. Negara
dengan jumlah kematian ibu terbesar menurut data World Health
Organization (WHO) tahun 2004 adalah India, Nigeria, Pakistan,
Republik Kongo dan Ethiopia, Tanzania, Afganistan, Banglades, Angola,
Cina dan Kenya, Indonesia dan Uganda. Semua negara tersebut
menyumbang 67% dari seluruh kematian ibu di dunia (WHO, 2004).
Data WHO memperkirakan 210 juta per tahun terjadi kehamilan di
seluruh dunia, 20 juta mengalami kesakitan akibat kehamilan, 8 juta
mengalami komplikasi yang mengancam jiwa, dan lebih dari 500.000
mengalami kematian pada tahun 1995. Sebanyak 50% kematian terjadi di
negara-negara Asia

Selatan

dan

Tenggara,

termasuk

Indonesia

(Prawirohardjo, 2008).
b. Faktor- Faktor yang Menyebabkan Kematian Ibu
1) Penyebab Langsung

2)

Perdarahan (42%)

Eklampsi/Preeklampsi (13%)

Abortus (11%)

Infeksi (10%)

Partus lama/persalinan macet (9%)

Penyebab lain (15%)


Penyebab tidak langsung

1. Pendidikan
Pendidikan ibu berpengaruh pada sikap dan perilaku dalam
pencapaian akses informasi yang terkait dalam pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan ibu. Masih banyak ibu dengan pendidikan
rendah terutama yang tinggal di pedesaan yang menganggap
bahwa kehamilan dan persalinan adalah kodrat wanita yang harus

18
dijalani

sewajarnya

tanpa

memerlukan

perlakuan

khusus

(pemeriksaan dan perawatan).


2.

Sosial ekonomi dan social budaya


Sosial ekonomi dan social budaya yang masih rendah pengaruh
budaya setempat masih sangat berkaitan dengan pengambilan
keputusan ibu dalam upaya

pemeliharaan dan peningkatan

kesehatan ibu. Contoh : budaya Indonesia mengutamakan kepala


keluarga untuk mendapat makanan bergizi, dan ibu hamil hanya
sisanya.
3.

Empat (4) terlalu dalam melahirkan


Yaitu terlalu muda (batasan reproduksi sehat 20 35 tahun);
terlalu tua (kehamilan berisiko pada usia di atas 30 tahun); terlalu
sering (jarak ideal untuk melahirkan : 2 tahun); terlalu banyak
(jumlah persalinan di atas 4).

4.

Tiga (3) terlambat


-

Terlambat mengambil keputusan

sering dijumpai pada

masyarakat kita, bahwa pengambil keputusan bukan di tangan


ibu, tetapi pada suami atau orang tua, bahkan pada orang yang
dianggap penting bagi keluarga. Hal ini menyebabkan
keterlambatan dalam penentuan tindakan yang akan dilakukan
dalam kasus kebidanan yang membutuhkan penanganan
segera. Keputusan yang diambil tidak jarang didasari atas
pertimbangan factor social budaya dan factor ekonomi.
-

Terlambat

dalam

pengiriman

ke

tempat

rujukan

keterlambatan ini paling sering terjadi akibat factor penolong


(pemberi layanan di tingkat dasar).
-

Terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan keterlambatan


dalam mendapatkan pelayanan kesehatan merupakan masalah
di tingkat layanan rujukan. Kurangnya sumber daya yang
memadai, sarana dan prasarana yang tidak mendukung dan
kualitas layanan di tingkat rujukan, merupakan factor
penyebab terlambatnya upaya penyelamatan kesehatan ibu.

19
c. Kendala untuk penurunan AKI
1. Belum adanya kesamaan persepsi antara pemerintah pusat,
pemerintah

daerah,

dan

stakeholder

yang

menangani

permasalahan AKI di Indonesia


2. Belum adanya komitmen dari pemerintah pusat dan daerah untuk
menjalankan amanah Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang
kesehatan untuk mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar 5%
APBN dan 10% APBD di luar gaji
3. Dari anggaran kesehatan yang ada, hampir semua daerah tidak
memiliki alokasi khusus untuk penanganan masalah kematian ibu
4. Belum ada semangat memberikan pelayanan kesehatan reproduksi
sebagai upaya mencegah terjadinya kematian ibu
5. Beberapa kebijakan untuk mengurangi AKI memang sudah dibuat
oleh pemerintah namun implementasi dan monitoring terhadap
pelaksanaan masih sangat kurang maksimal dijalankan
6. Kebutuhan akan alat kontrasepsi masih belum dapat dipenuhi serta
angka unmet need masih cukup tinggi
7. Kurangnya sosialisasi dan pelibatan masyarakat terhadap upaya
penurunan AKI, khususnya di daerah terpencil
8. Belum meratanya fasilitas kesehatan di daerah terpencil, sekalipun
ada fasilitas kesehatan tidak selalu memiliki tenaga kesehatan
yang memadai untuk melakukan pemeriksaan kehamilan dan
bantuan persalinan kepada ibu melahirkan
9. Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang
pencegahan AKI di Indonesia, ditambah sebagian besar daerah
terpencil Indonesia masih mengalami masalah kelaparan dan
kurang gizi yang juga menimpa ibu hamil yang membutuhkan
banyak asupan makanan sehat

20
2) Angka Kesakitan dan Kematian Bayi
a. Angka Kematian Bayi Dan Balita
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi
lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang
dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi
penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan
eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian
neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah
dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa
anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi
atau didapat selama kehamilan. Kematian bayi eksogen atau kematian
post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan
sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor
yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar
Tiga penyebab utama bayi meninggal adalah akibat berat badan rendah
sebesar 29 persen, mengalami gangguan pemapasan sebesar 27 persen
dan masalah nutrisi sebesar 10 persen," ungkap dr Badriul Hegar
SpA(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (TDAI), dalam acara
talkshow "Di Balik Kematian Bayi dan Balita dalam Rangka Hari
Kesehatan Nasional 2009" di Jakarta Convention Center Jumat (4/12).
Hal itu dilakukan dengan memberikan pelayanan kesehatan yang
berkualitas dan terjangkau, termasuk memberi rujukan, di mana setiap
janin dalam kandungan harus tumbuh dengan baik dan bayi yang lahir
harus sehat dan selamat.
b. Angka Kesakitan Bayi Dan Balita
Angka kesakitan bayi dan balita didapat dari hasil pengumpulan data
dari sarana pelayanan kesehatan (Facility Based Data) yang diperoleh
melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Adapun beberapa indikator
dapat diuraikan sebagai berilkut:
1. Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit polio telah
dilakukan melalui gerakan imunisasi polio. Upaya ini juga
ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara

21
aktif terhadap kasus-kasus AFP kelompok umur <15 tahun hingga
dalam kurun waktu tertentu, untuk mencari kemungkinan adanya
virus polio liar yang berkembang di masyarakat dengan
pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. Ada 4
strategi dalam upaya pemberantasan polio, yaitu: imunisasi (yang
meliputi peningkatan imunisasi rutin polio, PIN, dan Mop up),
surveilans AFP, sertifikasi bebas polio, dan pengamanan virus
polio di laboratorium
2. TB Paru
Merupakan penyakit infesi yang meular pada sistem parnafasan
yang disebabkan oleh mikrobakteium tuberculosa yag dapat
megenai bagian paru.proses peularan melalui udara atau langsung
seperti saat batuk Upaya pencegahan dan pemberantasan TB Paru
dilakukan

dengan

pendekatan

DOTS

(Directly

Observed

Treatment Shortcourse Chemotherapy) atau pengobatan TB paru


dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat
(PMO). (Depkes RI, 2007) Pada tahun 2007 terdapat kasus BTA
(+) sebanyak 758 orang, diobati 758 orang, dan yang sembuh 693
orang (91,42%).
3. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
ISPA masih merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi
dan balita di Indonesia. Dari beberapa hasil SKRT diketahui
bahwa 80% - 90% dari seluruh kasus kematian akibat ISPA,
disebabkan oleh pneumonia. Pneumonia merupakan penyebab
kematian pada balita dengan peringkat pertama hasil Surkesnas
2001. ISPA sebagai penyebab utama kematian pada bayi dan balita
diduga karena pneumonia merupakan penyakit yang akut dan
kualitas penatalaksanaan masih belum memadai.
4. HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS)
Penderita penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan
meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus
dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah,
menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia,
meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui penyuntikan,

22
secara stimultan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran
HIV/AIDS. Pada Penkajian anak yang terinfeksi dengan HIV
positif dan AIDS meliputi : indetitas terjadinya HIV positif atau
AIDS pada anak rata rata dimasa perinatal sekitar usia 9-17
bulan.keluhan utamanya adalah demam dan diere berkepanjangan,
takipne,batuk,sesak nafas,dan hopoksia.kemudian diikuti adanya
perubahan berat badan yang turun secara drastis.
5. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas ke
seluruh wilayah propinsi. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB
dengan angka kesakitan dan kematian relatif tinggi. Angka insiden
DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada
awalnya pola epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun dalam
kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan
dengan periode antara 2 5 tahunan, sedangkan angka kematian
cenderung menurun. Pengkajian pada anak dengan DBD di
temukan adanya peningkatan suhu yang mendadak di sertai
menggigil,adanya

perdarahan

kulit

seperti

petekhie,ekimosis,hematom,epistaksis,hematemesis

bahkan

hematemesis melena.
6. Diare
Angka kesakitan diare hasil survey tahun 1996 yaitu 280 per 1000
penduduk dan episode pada balita 1,08 kali per tahun. Menurut
hasil SKRT dalam beberapa survei dan Surkesnas 2001, penyakit
diare masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita
(Depkes RI, 2003). Pada kasus kematian yang tinggi biasanya
jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita ketika saat itu
mereka rentan terhadap penyakit. Statistik menunjukkan bahwa
lebih dari 70% kematian disebabkan Diare, Penumonia, Campak,
Malaria, dan Malnutrisi. (Depkes RI, 2007). Pegkajian pada anak
di tandai dengan frekuensi BAB pada bayi lebih dari 3 kali sehari
dan pada neonatus lebih dari 4 kali per hari, bentuk cair pada
buang air besar nya kadang kadang di sertai oleh lender dan

23
darah, nafsu makan menurun warna nya lama-kelamaan hijau
kejauan karena tercampur empedu.
7. Malaria
Pada tahun 2007 perkembangan penyakit Malaria di Kabupaten
Banyuwangi yang dipantau melalui Annual Pavasite Lincidence
(API) dari hasil SPM penderita Malaria yang diobati sebesar
100% (3.153 penderita). Sedangkan penderita klinis sebanyak
3.141 dan terdapat 12 penderita positif Malaria. sampai saat ini
penyakit Kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan
masyarakat.
8. Kusta
Dalam kurun waktu 10 tahun (1991 2001), angka prevalensi
penyakit Kusta secara nasional telah turun dari 4,5 per 10.000
penduduk pada tahun 1991, lalu turun menjadi 0,85 per 10.000
penduduk pada tahun 2001, pada tahun 2002 prevalensi sedikit
meningkat menjkadi 0,95 per 10.000, dan pada tahun 2003
kembali menurun menjadi 0,8 per 10.000 penduduk. (Depkes RI,
2003). Meskipun Indonesia sudah mencapai eliminasi Kusta pada
pertengahan tahun 2000,
9. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/
ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi, diantaranya
penyakit Tetanus Neonatorum, Campak, Difteri, Pertusis, dan
Hepatitis B.
c. Faktor-Faktor yang menyebabkan Morbiditas dan Mortalitas Pada
Bayi dan Balita
1. Faktor kesehatan
Faktor kesehatan ini merupakan faktor utama yang dapat
menentukan status kesehtan anak secara umum. Faktor inin
ditentukan olehb status kesehatan anak itu sendiri, status gizi dan
kondisi sanitasi.
2. Faktor Sosial Ekonomi
Pengaruh sosial ekonomi sangat terasa bagi masyarakat Indonesia,
karena tingkat kemiskinan di Indonesia masih tinggi, sehingga

24
pemberian gizi atau makanan yang layak kepada bayi dan balita
masih dianggap kurang di Indonesia.
3. Faktor kebudayaan
Pengaruh kebudayaan juga sangat menentukan status kesehatan
anak, dimana terdapat keterkaitan secara langsung antara budaya
dan pengetahuan.budaya di masyarakat dapat menimbulakan
penurunan kesehatan anak, misalnya terdapat beberapa budaya di
masyarakat yang dianggap baik oelh masyarakat padahal budaya
tersebut justru menurunkan kesehtan anak. Sebagai contoh, anak
badannta panas akan di bawa ke dukun dengan kenyakinan terjadi
kesurupan, anak paska oprasi dilarang memakan daging sysm
karena daging ayam menambah nyeri pada luka. Berbagai contoh
budaya

yang

ada

di

masyarakat

tersebut

sangat

besar

mempengaruhi kesehatan anak, mengingat anak dalam masa


pertumbuhan dan perkembangan yang tentunya membutuhkan
perbaikan gizi atau nutrisi yang cukup.
4. Faktor keluarga
Faktor keluarga dapat menentukan keberhasilan perbaikan status
kesehatan anak pengaruh keluarga pada masa pertumbuhan dan
perkembangan anak sangat besar melalui pola hubungan anak dan
keluarga serta nilai-nilai yang di tanamkan peningkatan status
kesehatan anak juga berkaitan langsung dengan peran dan fungsi
keluarga terhadap anaknya serta membesarkan anak,memberikan
dan menyediakan makanan melindungi kesehatan mempersiapkan
pendidikan anak,dll.

25
BAB 3 : PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesehatan reproduksi manusia dimulai dari pertumbuhan dan perkembangan
seksual yang terwujud dalam masa pubertas, dan akan berlangsung terus sepanjang
hidupnya pada laki-laki dan pada perempuan akan berakhir pada masa menopause.
Manfaat data epidemiologi adalah :
a. Mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan reproduksi
b. Menggambarkan masalah kesehatan reproduksi secara komprehensif dan
dinamis
c. Dapat menyebutkan indikator kesehatan reproduksi berupa angka
d. Sebagai tool (alat), selalu menanyakan siapa yang terkena, dimana dan
bagaimana
e. Sebagai metode atau pendekatan dalam penyelesaian masalah kesehatan,
khususnya kesehatan reproduksi
f. Diagnosis komunitas untuk menentukan penyebab mortalitas dan morbiditas
Indikator kesehatan reproduksi adalah angka mortalitas dan morbiditas.
Mortalitas atau kematian adalah peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda
kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup
(WHO). Sedangkan morbiditas diartikan sebagai penyakit dan kesakitan yang dapat
menimpa manusia lebih dari satu kali. Ukuran mortalitas adalah IMR, MMR, CDR,
NMR, PNMR, ASDR. Sedangkan ukuran morbiditas adalah insidensi ( Incidence
rate, attack rate,secondary attack rate) dan prevalensi (period prevalence rate, point
prevalenci rate).
3.2 Saran
Penulis menyarankan agar pembaca dapat memahami konsep dan
epidemiologi kesehatan reproduksi serta dapat mengkaji indikator kesehatan
reproduksi yaitu angka mortalitas dan morbiditas sehingga nantinya dapat
menganalisis masalah kesehatan reproduksi dengan benar.
.

26
DAFTAR PUSTAKA

Merrill, Ray M. 2009. Epidemiologi Reproduktif (Reproductive epidemiology:


principles and methods). Jakarta : Buku kedokteran EGC.
Marni. 2013. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Pustaka Belajar .
Kumalasari, Intan dan Iwan Andhyantoro .2012. Kesehatan Reproduksi untuk
mahasiswa kebidanan dan keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Mardiah, dkk. 2010. Epidemiologi untuk Kebidanan. Jakarta : EGC Kedokteran.
Stania, Gitalova. Kematian Ibu. 2013. https:// oshigita. wordpress .com/2013/05/07/
penyebab-kematian-ibu/ (diakses pada tanggal 28 Januari 2016, pukul 20.15
WIB).
Shiro. 2011. Kesehatan Reproduksi. 2013..http:// shirennyannyan.blogspot.co.id/
p/blog-page_21.html (diakses pada tanggal 28 Januari 2016, pukul 20.17
WIB).
Dinfannia. 2011. Mortalitas. https: //dinfannia. Wordpress.com /2011 /03/ 17/ 31/
(diakses pada tanggal 28 Januari 2016, pukul 20.17 WIB).