Anda di halaman 1dari 32

PANCASILA SEBAGAI DASAR NILAI PENGEMBANGAN ILMU

Disusun Oleh Kelompok 3:


M.M. Amirul

1331410124

Mahfira Nuri Santi

1331410104

Meita Dwi Puspita D

1331410126

Meitya Nur Syarifa

1331410124

POLITEKNIK NEGERI MALANG


JURUSAN TEKNIK KIMIA
2015

PANCASILA SEBAGAI DASAR NILAI PENGEMBANGAN ILMU


Oleh Kelompok 31
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Melakukan kajian - kajian tentang perkembangan pemikiran tentang
peranan pancasila dalam berbangsa dan bernegara bukanlah hal yang yang mudah.
Tanpa adanya pendekatan Partisipant observasion dan dengan adanya pancasila
sebagai dasar Negara di jadikan yang di jadikan pedoman hidup bermasyarakat
,berbangsa dan bernegara.
Sejak dulu, ilmu pengetahuan mempunyai posisi penting dalam aktivitas
berpikir manusia. Istilah ilmu pengetahuan terdiri dari dua gabungan kata berbeda
makna, ilmu dan pengetahuan. Segala sesuatu yang kita ketahui merupakan
definisi pengetahuan, sedangkan ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang
yang disusun secara sistematis menurut metode tertentu.
Sikap kritis dan cerdas manusia dalam menanggapi berbagai peristiwa di
sekitarnya, berbanding lurus dengan perkembangan pesat ilmu pengetahuan.
Namun dalam perkembangannya, timbul gejala dehumanisasi atau penurunan
derajat manusia. Hal tersebut disebabkan karena produk yang dihasilkan oleh
manusia, baik itu suatu teori mau pun materi menjadi lebih bernilai ketimbang
penggagasnya. Itulah sebabnya, peran Pancasila harus diperkuat agar bangsa
Indonesia tidak terjerumus pada pengembangan ilmu pengetahuan yang saat ini
semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui teori relativitas Einstein paradigm kebenaran ilmu sekarang sudah
berubah dari paradigm lama yang dibangun oleh fisika Newton yang ingin selalu
membangun teori absolut dalam kebenaran ilmiah. Paradigma sekarang ilmu
bukan sesuatu entitas yang abadi, bahkan ilmu tidak pernah selesai meskipun ilmu
itu didasarkan pada kerangka objektif, rasional, metodologis, sistematis, logis dan

M.M. Amirul, Mahfira Nuri Santi, Meita Dwi Puspita Dewantari,


Meitya Nur Syarifa.
1

empiris. Dalam perkembangannya ilmu tidak mungkin lepas dari mekanisme


keterbukaan terhadap koreksi. Itulah sebabnya ilmuwan dituntut mencari
alternatif-alternatif pengembangannya melalui kajian, penelitian eksperimen, baik
mengenai aspekontologis epistemologis, maupun ontologis.
Karena setiap pengembangan ilmu paling tidak validitas (validity) dan
reliabilitas (reliability) dapat dipertanggungjawabkan, baik berdasarkan kaidahkaidah keilmuan (context of justification) maupun berdasarkan sistem nilai
masyarakat di mana ilmu itu ditemukan/dikembangkan (context of discovery).
Kekuatan bangunan ilmu terletak pada sejumlah pilar-pilarnya, yaitu pilar
ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga pilar tersebut dinamakan pilar-pilar
filosofis keilmuan. Berfungsi sebagai penyangga, penguat, dan bersifat integratif
sertaprerequisite/saling mempersyaratkan. Pengembangan ilmu selalu dihadapkan
pada persoalan ontologi, epistemologi dan aksiologi.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam
tulisan ini dirumuskan sebagai berikut.
a) Bagaimanakah Filsafat Pancasila dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan
di Indonesia?
b) Bagaimanakah Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu ?
c) Apakah Peran Pancasila Dalam Pendidikan di Indonesia?
1.3. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, secara umumpembahasan ini
bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis Pancasila sebagai Dasar Nilai
Pengembangan Ilmu adapun secara khusus pembahasan ini bertujuan untuk
mengetahui dan menjelaskan:
a) filsafat Pancasila dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Indonesia.
b) Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu.
c) peran Pancasila Dalam Pendidikan di Indonesia.
1

II. PEMBAHASAN
2.1.Filsafat Pancasila dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Sejak 18 Agustus 1945, secara epistomologis, Pancasila dikaji oleh para
ahli dan juga diuji oleh berbagai peristiwa-peristiwa yang mencoba merongrong
kemerdekaan dan keutuhan Republik Indonesia. Secara empiris dan kenegaraan,
Pancasila telah menunjukkan ketangguhannya hingga pada saat ini. Pengujian
secara kognitif telah dilakukan oleh para ahli dengan berbagai pendekatan.
Notonegoro dengan analisis teori causal, Driarkara dengan pendekatan antroplogi
metafisik, Eka Darmaputra dengan etika, Suwarno dengan pendekatan historis,
filosofis dan sosio-yuridis, Gunawan Setiardja dengan analisis yuridis ideologis
dan bayak para ahli dan kalangan akademisi membuktikan Pancasila sebagai
filsafat. Pancasila merupakan hasil dari berbagai macam pemikiran yang lahir dari
budaya nusantara. Suku-suku bangsa di nusantara telah melakukan akulturasi
antar suku bangsa, antar bangsa sehingga terbentuklah kepribadian kebudayaan
bangsa. 2
Akulturasi budaya terus berkembang hingga abad ke 16 ketika bangsa
Eropa masuk ke Indonesia dan mulai melakukan usaha penjajahan. Pada masa
penjajahan, bangsa Indonesia banyak mengalami berbagai macam akulturasi
budaya, ekonomi, politik, pendidikan hingga pengetahuan. Anak bangsa
mengalami perkembangan pengetahuan saat dicetuskannya politik etis oleh van
Deventer. Politik etis yang diterapkan oleh pemerintah Hinddia Belanda
membawa pengaruh yang sangat besar bagi lahirnya para pemikir bangsa.
Kelahiran para pemikiri sekaligus pengada Indonesia terlahir dari berbagai macam
latar belakang pendidikan dan suku bangsa. 3
Pemikiran dan pengetahuan yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia,
dan lokal membahur menjadi satu, pemikiran pembentukan negara Indonesia.
2

Satrio, Meison. 2015. Pancasila Sebagai Dasar Nilai


Pengembangan Ilmu.
http://satriomeison.blogspot.co.id/2015/06/pancasila-sebagai-dasarnilai.html.

Ibid.
1

Pengetahuan dan pemikiran dari berbagai macam arah, terwujud pada rumusan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kesadaran para pengada Indonesia
terhadap perkembangan pengetahuan tercermin dalam Pembukaan UUD 1945,
yaitu ... mencerdasaskan kehidupan bangsa... Kalimat ini menunjukkan bahwa
tujuan kemerdekaan Indonesia salah satunya adalah untuk mencerdaskan seluruh
rakyat Indonesia. Pengada Indonesia menyadari bahwa kesejahteraan dapat
dicapai lewat pendidikan yang merupakan sarana pemerolehan ilmu pengetahuan.
Kita ketahui bersama bahwa kemerdekaan Indonesia tercapai karena peran
pendidikan yang telah membawa kesadaran kaum terpelajar Indonesia untuk
mencapai kemerdekaan.4
Pengada Indonesia juga menyadari bahwa kedaulatan suatu negara berada
di tangan rakyat. Kedaulatan rakyat harus berdasarkan kepada Ketuhanan Yang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, serta mewujudkan suatu keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Rumusan tersebut menjelaskan bahwa pengada
Indonesia benar-benar memiliki suatu konsep pemerintahan yang matang. Ini juga
menunjukkan bahwa untuk mencapai kesejahteraan, kita harus memliki keyakinan
theisme religius. Pancasila, yang juga tertuang dalam alenie ke-4 UUD 1945,
merupakan nilai-nilai pokok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila
sebagai filsafat sangat bermanfaat untuk mendukung cita-cita atau tujuan
nasional.5
Pancasila merupakan pedoman dan pegangan dalam hal sikap. Tingkah
laku dan perbuatan dalam hidup sehari-hari dalam masyarakat, berbangsa dan
bernegara. Filsafat Pancasila merupakan hasil dari sistem pemikiran keilmuan dan
disiplin pemikiran keilmuan. Sistem keilmuan, filsafat Pancasila harus bersifat
terbuka dalam mencari kebenaran. Pancasila sebagai filsafat ilmu mengandung
nilai ganda, yaitu harus memberikan landasar teoritik (dan normatif) bagi

Ibid

Ibid.
1

penguasaan dan pengembangan iptek dan menetapkan tujuan; dan nilai instrinsik
tujuan iptek dilandasi oleh nilai mental kepribadian dan moral manusia.6
Filsafat Pancasila memiliki sifat-sifat universal yang sesuai dengan ciri
khas nasional. Sifat-sifat universal tersebut meliputi:
1. sistematis, fundamental, universal, integral dan radikal menacari
kebenaran yang hakiki
2. filsafat yang monotheis dan religius yang mempercayai adanya sumber
kesemestaan yaitu Tuhan YME
3. monodualisme dan monopluralisme yang mengutamakan ketuhanan,
kesatuan dan kekeluargaan
4. satu kesatuan totalitas yang bulat dan utuh antar sila-sila Pancasila
5. memiliki corak universal, terutama sila I dan sila II serta corak nasional
Indonesia terutama sila III, IV dan V
6. harmoni idiil (asas selaras serasi, dan seimbang)
7. idealisme fungsional (dasar dan fungsi serta tujuan idiil sekaligus
8. memiliki ciri-ciri dimensi idealitas, realitas dan fleksibelitas.7
Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya adalah suatu sistem
pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari Pancasila menjadi pedoman atau dasar
bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia,
masyarakat, bangsa, dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi
manusia Indonesia untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan
kehidupan. Pancasila dalam pengertian seperti itu telah menjadi suatu sistem citacita atau keyakinan-keyakinan (belief system) sehingga telah menjelma menjadi
ideologi (mengandung tiga unsur yaitu : 1. Logos (rasionalitas atau penalaran), 2.
pathos (penghayatan), dan 3. Ethos (kesusilaan). Berbagai pendekatan yang
dilakukan oleh para ahli untuk membukikan filsafat pancasila diterima sebagai
metode epistomologis Pancasila. Prinsip epistomologis Pancasila dapat
dikemukakan dalam proposisi epistemis sebagai berikut.8
6

Ibid.

Arianto, Fajar. 2014. Filsafat Pancasila Dan Perkembangan Ilmu


Pengetahuan. http://kompasiana.com/fajararianto/filsafat-pancasiladan-perkembangan-ilmu pengetahuan.html.

Ibid.
1

1. Aku tahu bahwa aku tidak tahu


Bahwa ada semesta adalah fisiokismis, biotik, psikis, dan human akibat
ketidaktahuanku, aku diperlakukan sebagai dia pemberlakuan sebagai dia
tidak sesuai dengan martabat manusia.
2. Aku tahu bahwa aku harus tahu
Akibat ketidaktahuanku, maka aku diperlakukan sebagai kamu,
pemberlakuan aku sebagai kamu sesuai dengan martabat manusia sebab
adaku sebagai manusia adalah ada bersama dengan sesama manusia
berdasarkan cinta kasih.
3. Aku tahu bahwa ada aku bersama dengan ada kamu
Akibat ada aku bersama kamu, maka kerinduanku adalah sama dengan
kerinduanmu, kerinduanku sama dengan kerinduanmu adalah kerinduan akan
harmoni.
4. Aku tahu bahwa kerinduan akan harmni adalah kerinduan abadi, kerinduan
abadi adalah kerinduan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
5. Aku tahu bahwa kerinduan akan harmoni
Mengaruskan aku memberlakukan kamu dengan cinta kasih, kerinduan akan
harmoni tidak terjadi dalam hubungan aku dia atau mereka, hubungan aku dia
adalah hubungan aku dengan bukan manusia.
6. Aku tahu bahwa Bhinneka Tunggal Ika
Adalah tuntunan menuju kerinduan akan harmoni.9
Proposisi epistomologis Pancasila di atas merupakan landasan keilmuan di
Indonesia secaara ontologis, kosmologis, maupun ekologis. Secara historis,
epistomologis Pancasila terbentuk dari akulturasi budaya yang telah berlangsung
ratusan abad. Akulturasi budaya ini meliputi juga perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang ada di nusantara. Ilmu pengetahuan dan
teknologi berkembang seiring sejalan dengan masuknya agama Hinddu-Buddha,
Islam hingga bangsa Eropa. Atau secara garis besar, perkembangan iptek di
nusantara banyak dipengaruhi dari India, Timur Tengah, Cina, Jepang dan Eropa,
selain dari nusantara sendiri. 10

Ibid.
1

Dalam akulturasi ini, alih iptek memerlukan landasan epistomologis


sebagai sesuatu yang dilakukan oleh pebelajar iptek. Penentuan objek materi ilmu
dalam kerangka sudut pandang pendekatan pencerdasan kehidupan bangsa akan
menentukan pemberlakuan metode penelitian, teknik penelitian, dan analisa
keilmuan tentang objek. Proses akulturasi setiap individu warga kebudayaan
Indonesia berhadapan dengan perangkat item-traits-traits complex-cultural
activities dunia. Hal ini menunjukkan tingkat keterpelajaran individu teruji untuk
memilih atau tidak memilih salah satu perangkat item-traits-traits complexcultural activitiesdunia. Proses akulturasi ini melibatkan kegiatan
pendidikan. Kegiatan pendidikan akan tunduk pada hukum-hukum keilmuan
pendidikan dan juga melibatkan ilmu-ilmu bantu yang memiliki prinsip dan teori
sendiri.11
Pendekatan pencerdasan kehidupan bangsa sebagai awal epistemologi
Pancasila telah dihadapkan pada berbagai cabang ranting dan tangkai ilmu empiris
analitis, ilmu historis hermenutis, dan ilmu-ilmu kritis. Ketiga ilmu tersebut telah
sedemikian maju dan berkembang secara pesat. Epistemologi Pancasila menerima
strategi trikon dan menggunakan pendekatan pencerdasan kehidupan bangsa
sebagai awal pengembangan epistemologi Pancasila dalam menghadapi kemajuan
ilmu- ilmu empiris analitis, ilmu historis hermenutis, dan ilmu-ilmu kritis. Selain
itu, epistemologi Pancasila juga menerima strategi akulturasi dalam
pengembangan ilmu dengan menggunakan paradigma baru. Terkait paradigma
baru tersebut adalah terterimanya empat gaya pemikiran dan penyikapan dalam
melakukan ilmu pengetahuan. Gaya pemikiran dan pengerjaan ilmu pengetahuan
merupakan langkah awal pengerjaan atau pemberlakuan obyek materi ilmu. Uji
kritis tentang paradigma-paradigma penelitian masih harus dilakukan oleh setiap
peneliti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai keahlian.12
10 Ibid.
11

Satrio, Meison. 2015. Pancasila Sebagai Dasa Nilai Pengembangan


Ilmu. http://satriomeison.blogspot.co.id/2015/06/pancasila-sebagaidasar-nilai.html.

12

Ibid.
1

Manusia mencari kebenaran lewat filsafat dan penyelidikan secara ilmiah.


Pencarian kebenaran pada hakekatnya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan
rokhani (hasrat ingin tahu), karena manusia senantiasa (a priori) mencari
kebenaran demi tuntutan dan tujuan rokhaninya. Secara hierarikis kebenaran dan
ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut.13
1. Kebenaran, pengetahuan indera, melalui pengalaman pancaindra
2. Kebenaran ilmiah, sebagai tingkat lanjut dari pengamatan pengalaman
(dengan metode apapun)
3. Kebenaran filsafat sebagai puncak dan prestasi pemikiran murni manusia
untuk menembus tapal batas fisika dan metafisika
4. Kebenaran religious sebegai kebenaran mutlak fundamental yang hakiki
merupakan puncak dan batas tertinggi jangkauan akal budi kepribadian
manusia. Kebenaran religious berwatak supranatural dan supra rasional.14
Keempat tingkat kebenaran ini menunjukkan dimensi kesemstaan, alam,
budaya, agama dan Tuhan sebagai dunia kepribadian martabat manusia. Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi menunjukkan kemampuan pribadi manusia
unggul berkat potensi yang dikembangkannya. Manusia harus dapat
mendayagunakan iptek dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia,
mengembangkan dan melestarikan peradaban, merupakan tanggung jawab moral
manusia. Proses pengembanga iptek secara normatif dan teoritis ilmiah adalah
lewat kelembagaan pendidikan formal. Kelembagaan pendidikan merupakan
tempat untuk proses belajar dan proses penelitian pengembangan iptek. 15
Kelembagaan pendidikan harus melakukan rekonstruksi sistem
pengetahuan dalam kebudayaan Indonesia. Pengembangan iptek merupakan
tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alenia 4,
yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai bangsa yang besar, tiap
warga negara terutama para ilmuwan dan cendikiawan harus memilki budaya
13

Syam, Mohammad Noor. 2007. Filsafat Ilmu, Malang: UNM,


halaman 15.

14

Ibid.

15

Ibid.
1

mengembangkan dan menciptakan pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat


bagi kemaslahatan umat manusia.16
2.2.Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu
Melalui teori relativitas Einstein paradigm kebenaran ilmu sekarang sudah
berubah dari paradigm lama yang dibangun oleh fisika Newton yang ingin selalu
membangun teori absolut dalam kebenaran ilmiah. Paradigma sekarang ilmu
bukan sesuatu entitas yang abadi, bahkan ilmu tidak pernah selesai meskipun ilmu
itu didasarkan pada kerangka objektif, rasional, metodologis, sistematis, logis dan
empiris. Dalam perkembangannya ilmu tidak mungkin lepas dari mekanisme
keterbukaan terhadap koreksi. Itulah sebabnya ilmuwan dituntut mencari alternatif
pengembangannya melalui kajian, penelitian eksperimen, baik mengenai
aspekontologis epistemologis, maupun ontologis. Karena setiap pengembangan
ilmu paling tidak validitas (validity) dan reliabilitas (reliability) dapat
dipertanggungjawabkan, baik berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan (context of
justification) maupun berdasarkan sistem nilai masyarakat di mana ilmu itu
ditemukan/dikembangkan (context of discovery).17
Aspek fenomenal menunjukan bahwa ilmu pengetahuan
mewujud/memanifestasikan dalam bentuk masyarakat, proses, dan produk.
Sebagai masyarakat, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai suatu
masyarakat atau kelompok elit yang dalam kehidupan kesehariannya begitu
mematuhi kaidah-kaidah ilmiah yang menurut partadigma Merton disebut
universalisme, komunalisme, dan skepsisme yang teratur dan terarah. Sebagai
proses, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai aktivitas atau kegiatan
kelompok elit tersebut dalam upayanya untuk menggali dan mengembangkan
ilmu melalui penelitian, eksperimen, ekspedisi, seminar, konggres. Sedangkan
sebagai produk, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai hasil kegiatan
kelompok elit tadi berupa teori, ajaran, paradigma, temuan-temuan lain

16

Ibid.

17

Ibid.
1

sebagaimana disebarluaskan melalui karya-karya publikasi yang kemudian


diwariskan kepada masyarakat dunia.18
Kekuatan bangunan ilmu terletak pada sejumlah pilar-pilarnya, yaitu pilar
ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga pilar tersebut dinamakan pilar-pilar
filosofis keilmuan. Berfungsi sebagai penyangga, penguat, dan bersifat integratif
sertaprerequisite/saling mempersyaratkan. Pengembangan ilmu selalu dihadapkan
pada persoalan ontologi, epistemologi dan aksiologi.19
A. Pilar ontologi (ontology)
Selalu menyangkut problematika tentang keberadaan (eksistensi).
a) Aspek kuantitas : Apakah yang ada itu tunggal, dual atau plural
(monisme, dualisme, pluralisme )
b) Aspek kualitas (mutu, sifat) : bagaimana batasan, sifat, mutu dari
sesuatu (mekanisme, teleologisme, vitalisme dan organisme).
Pengalaman ontologis dapat memberikan landasan bagi penyusunan
asumsi, dasar-dasar teoritis, dan membantu terciptanya komunikasi
interdisipliner dan multidisipliner. Membantu pemetaan masalah, kenyataan,
batas-batas ilmu dan kemungkinan kombinasi antar ilmu. Misal masalah
krisis moneter, tidak dapat hanya ditangani oleh ilmu ekonomi saja. Ontologi
menyadarkan bahwa ada kenyataan lain yang tidak mampu dijangkau oleh
ilmu ekonomi, maka perlu bantuan ilmu lain seperti politik, sosiologi.20
B. Pilar epistemologi (epistemology)
18

Husein, Hamdan. 2014. Pancasila Sebagai Dasar Nilai


Pengembangan Ilmu.
http://Hamdanhusin.blogspot.co.id/2014/09/pancasila-sebagai-dasarnilai.html.

19

Hasim, Anis Lestari. 2014. Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan


Ilmu. http://anislestarihasim.blogspot.co.id/2014/01/pancasilasebagai-dasar-pengembangan.html.

20

Ibid
1

Selalu menyangkut problematika teentang sumber pengetahuan, sumber


kebenaran, cara memperoleh kebenaran, kriteria kebenaran, proses, sarana,
dasar-dasar kebenaran, sistem, prosedur, strategi. Pengalaman epistemologis
dapat memberikan sumbangan bagi kita:
(a)

sarana legitimasi bagi ilmu/menentukan keabsahan disiplin ilmu

(b)
(c)
(d)

tertentu;
memberi kerangka acuan metodologis pengembangan ilmu;
mengembangkan ketrampilan proses;
mengembangkan daya kreatif dan inovatif.21

C. Pilar aksiologi (axiology)


Selalu berkaitan dengan problematika pertimbangan nilai (etis, moral,
religius) dalam setiap penemuan, penerapan atau pengembangan ilmu.
Pengalaman aksiologis dapat memberikan dasar dan arah pengembangan
ilmu, mengembangkan etos keilmuan seorang profesional dan ilmuwan.22
Landasan pengembangan ilmu secara imperative mengacu ketiga pilar
filosofis keilmuan tersebut yang bersifat integratif dan prerequisite. Berikut
ilustrasinya:
1) Prinsip-prinsip berpikir ilmiah
a) Objektif: Cara memandang masalah apa adanya, terlepas dari faktorfaktor subjektif (misal : perasaan, keinginan, emosi, sistem keyakinan,
otorita).
b) Rasional: Menggunakan akal sehat yang dapat dipahami dan diterima
oleh orang lain. Mencoba melepaskan unsur perasaan, emosi, sistem
keyakinan dan otorita.
c) Logis: Berfikir dengan menggunakan azas logika/runtut/ konsisten,
implikatif. Tidak mengandung unsur pemikiran yang kontradiktif.
Setiap pemikiran logis selalu rasional, begitu sebaliknya yang rasional
pasti logis.
21

Ibid

22

Iryanto, WS. 2009. Bahan Kuliah Filsafat Ilmu. Semarang:


Pascasarjana, halaman 70.
1

d) Metodologis: Selalu menggunakan cara dan metode keilmuan yang khas


dalam setiap berfikir dan bertindak (misal: induktif, dekutif, sintesis,
hermeneutik, intuitif).
e) Sistematis: Setiap cara berfikir dan bertindak menggunakan tahapan
langkah prioritas yang jelas dan saling terkait satu sama lain. Memiliki
target dan arah tujuan yang jelas.23
2) Masalah nilai dalam IPTEK
a) Keserbamajemukan ilmu pengetahuan dan persoalannya
Salah satu kesulitan terbesar yang dihadapi manusia dewasa ini
adalah keserbamajemukan ilmu itu sendiri. Ilmu pengetahuan tidak lagi
satu, kita tidak bisa mengatakan inilah satu-satunya ilmu pengetahuan
yang dapat mengatasi problem manusia dewasa ini. Berbeda dengan ilmu
pengetahuan masa lalu lebih menunjukkan keekaannya daripada
kebhinekaannya. Seperti pada awal perkembangan ilmu pengetahuan
berada dalam kesatuan filsafat. Proses perkembangan ini menarik
perhatian karena justru bertentangan dengan inspirasi tempat pengetahuan
itu sendiri, yaitu keinginan manusia untuk mengadakan kesatuan di dalam
keserbamajemukan gejala-gejala di dunia kita ini. Karena yakin akan
kemungkinannya maka timbullah ilmu pengetahuan. Secara metodis dan
sistematis manusia mencari azas-azas sebagai dasar untuk memahami
hubungan antara gejala-gejala yang satu dengan yang lain sehingga bisa
ditentukan adanya keanekaan di dalam kebhinekaannya. Namun dalam
perkembangannya ilmu pengetahuan berkembang ke arah
keserbamajemukan ilmu.24
a.Mengapa timbul spesialisasi?

23

Husein, Hamdan. 2015. Pancasila Sebagai Dasar Nilai


Pengembangan Ilmu.
http://hamdanhusein.blogspot.co.id/2014/09/pancasila-sebagaidasar-nilai.html.

24

Ibid.
1

Mengapa spesialisasi ilmu semakin meluas? Misalnya dalam ilmu


kedokteran dan ilmu alam. Makin meluasnya spesialisasi ilmu
dikarenakan ilmu dalam perjalanannya selalu mengembangkan macam
metode, objek dan tujuan. Perbedaan metode dan pengembangannya itu
perlu demi kemajuan tiap-tiap ilmu. Tidak mungkin metode dalam ilmu
alam dipakai memajukan ilmu psikologi. Kalau psikologi mau maju dan
berkembang harus mengembangkan metode, objek dan tujuannya
sendiri.25
Contoh ilmu yang berdekatan, biokimia dan kimia umum keduanya
memakai hukum yang dapat dikatakan sama, tetapi seorang sarjana
biokimia perlu pengetahuan susunan bekerjanya organisme-organisme
yang tidak dituntut oleh seorang ahli kimia organik. Hal ini agar supaya
biokimia semakin maju dan mendalam, meskipun tidak diingkari antara
keduanya masih mempunyai dasar-dasar yang sama. Spesialisasi ilmu
memang harus ada di dalam satu cabang ilmu, namun kesatuan dasar
azas-azas universal harus diingat dalam rangka spesialisasi. Spesialisasi
ilmu membawa persoalan banyak bagi ilmuwan sendiri dan masyarakat.
Ada kalanya ilmu itu diterapkan dapat memberi manfaat bagi manusia,
tetapi bisa sebaliknya merugikan manusia.26
Spesialisasi di samping tuntutan kemajuan ilmu juga dapat
meringankan beban manusia untuk menguasai ilmu dan mencukupi
kebutuhan hidup manusia. Seseorang tidak mungkin menjadi generalis,
yaitu menguasai dan memahami semua ilmu pengetahuan yang ada.27

b.Persoalan yang timbul dalam spesialisasi


25

Sutardjo. 1992. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan


Teknologi, Bandung: Tarsito, halaman 19.

26

Ibid.

27

Ibid.
1

Spesialisasi mengandung segi-segi positif, namun juga dapat


menimbulkan segi negatif. Segi positif ilmuwan dapat lebih fokus dan
intensif dalam melakukan kajian dan pengembangan ilmunya. Segi
negatif, orang yang mempelajari ilmu spesialis merasa terasing dari
pengetahuan lainnya. Kebiasaan cara kerja fokus dan intensif membawa
dampak ilmuwan tidak mau bekerjasama dan menghargai ilmu lain.
Seorang spesialis bisa berada dalam bahaya mencabut ilmu
pengetahuannya dari rumpun keilmuannya atau bahkan dari peta ilmu,
kemudian menganggap ilmunya otonom dan paling lengkap. 28
Para spesialis dengan otonomi keilmuannya sehingga tidak tahu
lagi dari mana asal usulnya, sumbangan apa yang harus diberikan bagi
manusia dan ilmu-ilmu lainnya, dan sumbangan apa yang perlu diperoleh
dari ilmu-ilmu lain demi kemajuan dan kesempurnaan ilmu spesialis
yang dipelajari atau dikuasai. Bila keterasingan yang timbul akibat
spesialisasi itu hanya mengenai ilmu pengetahuan tidak sangat
berbahaya. Namun bila hal itu terjadi pada manusianya, maka akibatnya
bisa mengerikan kalau manusia sampai terasing dari sesamanya dan
bahkan dari dirinya karena terbelenggu oleh ilmunya yang sempit. Dalam
praktikpraktik ilmu spesialis kurang memberikan orientasi yang luas
terhadap kenyataan dunia ini, apakah dunia ekonomi, politik, moral,
kebudayaan, ekologi dll. Persoalan tersebut bukan berarti tidak
terpecahkan, ada kemungkinan merelativisir jika ada kerjasama ilmuilmu
pengetahuan dan terutama di antara ilmuwannya. 29
Hal ini tidak akan mengurangi kekhususan tiap-tiap ilmu
pengetahuan, tetapi akan memudahkan penempatan tiaptiap ilmu dalam
satu peta ilmu pengetahuan manusia. Keharusan kerjasama ilmu sesuai
28

Husein, Hamdan. 2015. Pancasila Sebagai Dasar Nilai


Pengembangan Ilmu.
http://hamdanhusin.blogspot.co.id/2014/09/pancasila-sebagai-dasarnilai.html.

29

Ibid.
1

dengan sifat social manusia dan segala kegiatannya. Kerjasama seperti


itu akan membuat para ilmuwan memiliki cakrawala pandang yang luas
dalam menganalisis dan melihat sesuatu. Banyak segi akan dipikirkan
sebelum mengambil keputusan akhir apalagi bila keputusan itu
menyangkut manusia sendiri.30
b) Dimensi moral dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan
Tema ini membawa kita ke arah pemikiran: (a) apakah ada kaitan
antara moral atau etika dengan ilmu pengetahuan, (b) saat mana dalam
pengembangan ilmu memerlukan pertimbangan moral/etik? Akhir-akhir
ini banyak disoroti segi etis dari penerapan ilmu dan wujudnya yang paling
nyata pada jaman ini adalah teknologi, maka pertanyaan yang muncul
adalah mengapa kita mau mengaitkan soal etika dengan ilmu
pengetahuan? Mengapa ilmu pengetahuan yang makin diperkembangkan
perlu sapa menyapa dengan etika? Apakah ada ketegangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan moral?31
Untuk menjelaskan permasalahan tersebut ada tiga tahap yang perlu
ditempuh.
1. Pertama, kita melihat kompleksitas permasalahan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam kaitannya dengan manusia.
2. Kedua,membicarakan dimensi etis serta kriteria etis yang
diambil.
3. Ketiga, berusaha menyoroti beberapa pertimbangan sebagai
semacam usulan jalan keluar dari permasalahan yang muncul.32
a. Permasalahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Kalau perkembangan ilmu pengetahuan sungguhsungguh menepati
janji awalnya 200 tahun yang lalu, pasti orang tidak akan begitu
mempermasalahkan akibat perkembangan ilmu pengetahuan. Bila
30

Ibid.

31

Ibid.

32

Ibid.
1

penerapan ilmu benar-benar merupakan sarana pembebasan manusia dari


keterbelakangan yang dialami sekitar 1800-1900-an dengan menyediakan
ketrampilan know how yang memungkinkan manusia dapat mencari
nafkah sendiri tanpa bergantung pada pemilik modal, maka pendapat
bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan atas dasar patokanpatokan ilmu pengetahuan itu sendiri (secara murni) tidak akan mendapat
kritikan tajam seperti pada abad ini. Namun dewasa ini menjadi nyata
adanya keterbatasan ilmu pengetahuan itu menghadapi masalahmasalah
yang menyangkut hidup serta pribadi manusia. Misalnya, menghadapi
soal transplantasi jantung, pencangkokan genetis, problem mati hidupnya
seseorang, ilmu pengetahuan menghadapi keterbatasannya. Ia butuh
kerangka pertimbangan nilai di luar disiplin ilmunya sendiri.33
Kompleksitas permasalahan dalam pengembangan ilmu dan
teknologi kini menjadi pemikiran serius, terutama persoalan keterbatasan
ilmu dan teknologi dan akibatakibatnyabagi manusia. Mengapa orang
kemudian berbicara soal etika dalam ilmu pengetahuan dan teknologi?34
b.Akibat teknologi pada perilaku manusia
Akibat teknologi pada perilaku manusia muncul dalam fenomen
penerapan kontrol tingkah laku (behavior control). Behaviour
control merupakan kemampuan untuk mengatur orang melaksanakan
tindakan seperti yang dikehendaki oleh si pengatur (the ability to get
some one to do ones bidding). Pengembangan teknologi yang mengatur
perilaku manusia ini mengakibatkan munculnya masalahmasalah etis
seperti berikut.
1. Penemuan teknologi yang mengatur perilaku ini menyebabkan
kemampuan perilaku seseorang diubah dengan operasi dan manipulasi
syaraf otak melalui psychosurgerys infuse kimiawi, obat bius
tertentu. Electrical stimulation mampu merangsang secara baru
bagian-bagian penting, sehingga kelakuan bias diatur dan disusun.
33

Ibid.

34

Ibid.
1

Kalau begitu kebebasan bertindak manusia sebagai suatu nilai


diambang kemusnahan.
2. Makin dipacunya penyelidikan dan pemahaman mendalam tentang
kelakuan manusia, memungkinkan adanya lubang manipulasi, entah
melalui iklan atau media lain.
3. Pemahaman njlimet tingkah laku manusia demi tujuan ekonomis,
rayuan untuk menghirup kebutuhan baru sehingga bisa mendapat
untung lebih banyak, menyebabkan penggunaan media (radio, TV)
untuk mengatur kelakuan manusia.
4. Behaviour control memunculkan masalah etis bila kelakuan
seseorang dikontrol oleh teknologi dan bukan oleh si subjek itu
sendiri. Konflik muncul justru karena si pengatur memperbudak orang
yang dikendalikan, kebebasan bertindak si kontrol dan diarahkan
menurut kehendak si pengontrol.
5. Akibat teknologi pada eksistensi manusia dilontarkan oleh
Schumacher. Bagi Schumacher eksistensi sejati manusia adalah bahwa
manusia menjadi manusia justru karena ia bekerja. Pekerjaan bernilai
tinggi bagi manusia, ia adalah ciri eksistensial manusia, ciri kodrat
kemanusiaannya. Pemakaian teknologi modern condong
mengasingkan manusia dari eksistensinya sebagai pekerja, sebab di
sana manusia tidak mengalami kepuasan dalam bekerja. Pekerjaan
tangan dan otak manusia diganti dengan tenaga-tenaga mesin,
hilanglah kepuasan dan kreativitas manusia.35
c.Beberapa pokok nilai yang perlu diperhatikan dalam pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi
Ada empat hal pokok agar ilmu pengetahuan dan teknologi
dikembangkan secara konkrit, unsur-unsur mana yang tidak boleh

35 Yacob, T. 1993. Manusia, Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta: PT.


Tiara Wacana, halaman 50.
1

dilanggar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam


masyarakat agar masyarakat itu tetap manusiawi.36
1. Rumusan hak azasi merupakan sarana hukum untuk menjamin
penghormatan terhadap manusia. Individu individu perlu dilindungi
dari pengaruh penindasan ilmu pengetahuan.
2. Keadilan dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi sebagai hal
yang mutlak. Perkembangan teknologi sudah membawa akibat
konsentrasi kekuatan ekonomi maupun politik. Jika kita ingin
memanusiawikan pengembangan ilmu dan teknologi berarti bersedia
mendesentralisasikan monopoli pengambilan keputusan dalam bidang
politik, ekonomi. Pelaksanaan keadilan harus memberi pada setiap
individu kesempatan yang sama menggunakan hak-haknya.
3. Soal lingkungan hidup. Tidak ada seorang pun berhak
menguras/mengeksploitasi sumber-sumber alam dan manusiawi tanpa
memperhatikan akibat-akibatnya pada seluruh masyarakat. Ekologi
mengajar kita bahwa ada kaitan erat antara benda yang satu dengan
benda yang lain di alam ini.
4. Nilai manusia sebagai pribadi. Dalam dunia yang dikuasai teknik,
harga manusia dinilai dari tempatnya sebagai salah satu instrumen
sistem administrasi kantor tertentu. Akibatnya manusia dinilai bukan
sebagai pribadi tapi lebih dari sudut kegunaannya atau hanya dilihat
sejauh ada manfaat praktisnya bagi suatu sistem. Nilai sebagai pribadi
berdasar hubungan sosialnya, dasar kerohanian dan penghayatan
hidup sebagai manusia dikesampingkan. Bila pengembangan ilmu dan
teknologi mau manusiawi, perhatian pada nilai manusia sebagai
pribadi tidak boleh kalah oleh mesin. Hal ini penting karena sistem
teknokrasi cenderung dehumanisasi.37

36 Husein, Hamdan. 2015. Pancasila Sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu.


http://hamdanhusin.blogspot.co.id/2014/09/pancasila-sebagai-dasar-nilai.html.

37

Ibid.
1

c) Pancasila sebagai Dasar Nilai Dalam Strategi Pengembangan ilmu


pengetahuan dan Teknologi
Karena pengembangan ilmu dan teknologi hasilnya selalu bermuara
pada kehidupan manusia maka perlu mempertimbangan strategi atau caracara, taktik yang tepat, baik dan benar agar pengembangan ilmu dan
teknologi memberi manfaat mensejahterakan dan memartabatkan manusia.
Dalam mempertimbangkan sebuah strategi secara imperatif kita
meletakkan Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi di Indonesia. Pengertian dasar nilai menggambarkan
Pancasila suatu sumber orientasi dan arah pengembangan ilmu. Dalam
konteks Pancasila sebagai dasar nilai mengandung dimensi ontologis,
epistemologis dan aksiologis. Dimensi ontologis berarti ilmu pengetahuan
sebagai upaya manusia untuk mencari kebenaran yang tidak mengenal titik
henti, atau an unfinished journey.38
Ilmu tampil dalam fenomenanya sebagai masyarakat, proses dan
produk. Dimensi epistemologis, nilai-nilai Pancasila dijadikan pisau
analisis/metode berfikir dan tolok ukur kebenaran. Dimensi aksiologis,
mengandung nilai-nilai imperatif dalam mengembangkan ilmu adalah silasila Pancasila sebagai satu keutuhan. Untuk itu ilmuwan dituntut
memahami Pancasila secara utuh, mendasar, dan kritis, maka diperlukan
suatu situasi kondusif baik struktural maupun kultural. Ilustrasinya dapat
dilihat pada bagan 2 berikut ini.39
d) Strategi Pengembangan IPTEK Pancasila Sebagai Dasar Nilai
Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus senantiasa
berorientasi pada nilai-nilai Pancasila. Sebaliknya Pancasila dituntut
terbuka dari kritik, bahkan ia merupakan kesatuan dari perkembangan ilmu
yang menjadi tuntutan peradaban manusia. Peran Pancasila sebagai
paradigma pengembangan ilmu harus sampai pada penyadaran, bahwa
fanatisme kaidah kenetralan keilmuan atau kemandirian ilmu hanyalah
38

Ibid.

39

Ibid.
1

akan menjebak diri seseorang pada masalah-masalah yang tidak dapat


diatasi dengan semata-mata berpegang pada kaidah ilmu sendiri,
khususnya mencakup pertimbangan etis, religius, dan nilai budaya yang
bersifat mutlak bagi kehidupan manusia yang berbudaya.40
2.3.Peran Pancasila dalam Pendidikan di Indonesia
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan/keahlian dalam kesatuan organis harmonis dinamis,
didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu
pengembangan pendidikan haruslah berorientasi kepada dua tujuan, yakni untuk
pembinaan moral dan intelektual. Moral tanpa intelektual akan tidak berdaya.
Intelektual tanpa moral akan berbahaya, karena seseorang dapat menggunakan
kepandaiannya itu untuk kepentingannya sendiri dan merugikan orang lain. Selain
itu pendidikan juga suatu proses secara sadar dan terencana untuk membelajarkan
peserta didik dan masyarakat dalam rangka membangun watak dan peradapan
manusia yang bermartabat. 41
Ialah manusia manusia yang beriman dan brtaqwa kepada Tuhan Yang
Mahakemanusiaan, menghargai sesama, santun dan tenggang rasa, toleransi dan
mengembangkan kebersamaan dan keberagaman, membamgun kedisiplinan dan
kemandirian, sesuai dengan nilai nilai pancasila. Oleh karena itu proses dan isi
pembelajaran hendaknya dirancang secara cermat sesuai dengan tujuan
pendidikan. Pada giliran selanjutnya akan menjadi potensi bagi proses
pembelajaran yang berkualitas.42Sedangkan untuk saat ini pendidikan di Indonesia
selama ini dianggap terlalu mahal dan menguntungkan pihak atau masyarakat
yang mampu atau masyarakat yang mempunyai kekayaan lebih sehingga mereka
40

Ibid.

41

Satrio, Meison. 2015. Pancasila Sebagai Dasar Nilai


Pengembangan Ilmu.
http://satriomeison.blogspot.co.id/2015/06/pancasila-sebagai-dasarnilai.html.

42

Ibid.
1

mampu menyekolahkan putra putrinya bahkan sampai ke luar negeri sekalipun


untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan memadai, sebaliknya dengan
warga miskin atau warga kurang mampu banyak yang kesulitan untuk
menyekolahkan anaknya minimal memenuhi target pemerintah untuk program
wajib belajar 9 tahun sampai lulus SMP atau lulus sekolah menengah tingkat
pertama, para orang tua ini bahkan terpaksa menyuruh anaknya untuk bekerja dan
putus sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.43
Kemudian pemerintah melakukan gebrakan melalui Menteri Pendidikan
Nasional Professor Bambang Sudibyo dengan cara mencanangkan program
sekolah gratis wajib belajar 9 tahun sampai lulus SMP khusus siswa yang sekolah
di SD/SMP negeri kecuali sekolah yang sudah bertaraf internasional agar para
anak-anak penerus bangsa ini tidak bodoh dan buta huruf dan juga agar
pendidikan di Indonesia menjadi bertambah maju. Sehingga pelaksanaan wajib
belajar 9 tahun dilaksanakan diberbagai penjuru kota di Negara ini. Setelah semua
masyarakat sepakat dengan konsep tentang wajar, maka tugas kita bisa bersamasama untuk memajukan pendidikan. Pendidikan bukan hanya tanggungjawab guru
atau sekolah, melainkan seluruh warga Negara terutama orang tua. Pendidikan
adalah investasi jangka panjang, pendidikan adalah tanggung jawab bersama.44
Bagaimana agar program sekolah gratis bisa efektif dan tepat sasaran
untuk anak-anak miskin dan kurang mampu agar mau mengikuti program sekolah
gratis dan bagaimana bentuk atau cara-cara jitu pemerintah dan pihak sekolah agar
orang tua murid mau melepas anak mereka untuk bersekolah kembali. Setiap
program yang dicanangkan oleh pemerintahan tentunya harus sesuai dengan
peraturan yang berlaku di Negara ini, sudah pasti yaitu pancasila yang merupakan
sumber dari segala sumber hukum. Sehingga proses pelaksanaannya harus
disesuaikan dengan pancasila.45

43

Ibid.

44

Ibid.

45

Ibid.
1

Untuk meningkatkan kualitas Pendidikan Indonesia yang sesuai dengan


Peranan Nilai-nilai Pancasila Pemerintah menyelenggarakan Program Wajib
Belajar 9 Tahun adalah:
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Peranan sila pertama sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan.
Dalam kegiatan belajar-mengajar siswa akan diajarkan berbagai macam ilmu
mulai dari penjaskes, Pkn (pancasila dan Kewarganegaraan), kesenian,
biologi, fisika dan lainnya salah satunya agama. Dalam pendidikan agama
akan dibahas lebih dalam lagi mengenai ajaran agama tentunya sesuai dengan
agama yang dianut oleh masing-masing siswa. Sehingga ditegaskan bagi
setiap warga Indonesia terutama bagi warga yang sudah berkeluarga itu
mengharuskan anak-anak untuk bersekolah, karena sekolah sebagai salah satu
sarana untuk pengembangan diri. Tetapi masih saja banyak warga Indonesia
yang tidak menjalankan perintah ini dengan alasan tidak mampu dalam
membiayai anaknya.46
Oleh sebab itu keseimbangan antara pendidikan dunia maupun agama
itu sangatlah berarti dalam kehidupan setiap manusia. Sehingga dengan tolak
ukur bahwa pendidikan itu sangat penting bagi suatu bangsa maka
pemerintahan melaksanakan sekolah gratis wajar 9 tahun. Hal tersebut tidak
lepas dari sumber daya manusianya yang berkualitas. Sehingga peran
pendidikan sangat penting karena sebagai sarana dalam mengembangkan
potensi dari setiap warga Negara. Peran dari bidang pendidikan adalah
menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas serta menjadikan
siswanya memiliki akhlak yang baik.47
2.Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

46

Sriyani, Endang. 2013. Makalah Peranan Nilai-Nilai Pancasila


Dalam Perkembangan, Pendidikan di Indonesia.
http://endangsriyani.blogspot.co.id/2013/03/makalah-peranan-nilainilai-pancasila.html.

47

Ibid.
1

Pendidikan memainkan peranan penting dalam pengembangan


kemampuan dan pembentukan karakter yang menjadi landasan utama bagi
terciptanya manusia Indonesia yang mampu hidup dalam zaman yang selalu
berubah.Sistem pendidikan nasional harus dapat memberi pendidikan dasar
bagi setiap warga negara Republik Indonesia, agar masing-masing
memperoleh sekurang-kurangnya pengetahuan dan kemampuan dasar, yang
meliputi kemampuan membaca, menulis dan berhitung serta menggunakan
bahasa Indonesia, yang diperlukan oleh setiap warga negara untuk dapat
berperanserta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Maka diharapkan Setiap warga negara mengetahui hak dan kewajiban
pokoknya sebagai warga negara serta memiliki kemampuan untuk dapat
memenuhi kebutuhan diri sendiri, ikut serta dalam upaya memenuhi
kebutuhan masyarakat, dan memperkuat persatuan dan kesatuan serta upaya
pembelaan negara. Pengetahuan dan kemampuan ini harus dapat diperoleh
dari sistem pendidikan nasional. Hal ini dimaksudkan untuk memberi makna
pada amanat Undang-Undang Dasar 1945, BAB XIII, Pasal 31 ayat (1) yang
menyatakan, bahwa "Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran".48
Warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan pada tahap
manapun dalam perjalanan hidupnya pendidikan seumur hidup, meskipun
sebagai anggota masyarakat ia tidak diharapkan untuk terus-menerus belajar
tanpa mengabdikan kemampuan yang diperolehnya untuk kepentingan
masyarakat. Pendidikan dapat diperoleh, baik melalui jalur pendidikan
sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah. Pembelajaran pancasila di
sekolah dasar menjadi sangat penting, karena mengingat pancasila merupakan
jiwa dari seluruh rakyat Indonesia. Hal ini mengandung makna bahwa di
dalam pancasila mengandung jiwa yang luhur, nilai-nilai yang luhur dan sarat
dengan ajaran moralitas. Dengan adanya program pemerintah yaitu program
wajib belajar 9 tahun dapat memberikan pengajaran tentang makna dan dasardasar Pancasila. Pembelajaran di sekolah dapat memberikan informasi
bagaimana melaksanakan kewajiban dan hak-hak yang dimiliki sesuai dengan
koridor yang seharusnya. Manusia itu dilahirkan mempunyai hak yang tidak
48

Ibid.
1

dapat dirampas dan dihilangkan. Hak-hak itu harus dihormati oleh siapapun.
Golongan manusia yang berkuasa tidaklah diperkenankan memaksakan
kehendaknya yang bertentangan dengan hak seseorang.49
3.Sila Persatuan Indonesia
Negara Indonesia adalah Negara yang sedang berkembang. Dibutuhkan
sumber daya masyarakat yang bagus untuk membuat Indonesia menjadi
semakin berkembang. Dibutuhkan pula persatuan yang erat antar sesama
warga negara. Dengan adanya pendidikan maka dapat dijadikan sarana untuk
meningkatkan persatuan dengan pola pikir pancasila yang selalu diterapkan
dilingkungan pendidikan. Sila Persatuan Indonesia harus dijadikan sebagai
dasar persatuan dikalangan intelektual dan harus selalu diterapkan dalam
lingkungan pendidikan, terutama saat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah
Menengah Pertama (SMP) yang dicanangkan dalam program Wajib Belajar 9
Tahun.50
4.Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan dan Perwakilan
Wajib belajar 9 tahun yang merupakan salah satu program yang gencar
di galangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS).
Diwajibkan setiap warga Negara untuk bersekolah selama 9 tahun, pada
jenjang pendidikan dasar yaitu dari tingkat kelas 1 sekolah dasar (SD) /
Madrasah Diniyah (MI) hingga kelas 9 sekolah menengah pertama (SMP)
atau Madrasah Tsanawiyah (MTS). Pendidikan merupakan satu aspek penting
untuk membangun bangsa. Hampir semua bangsa menempatkan
pembangunan pendidikan sebagai prioritas utama dalam Program
Pembangunan Nasional. Sumber daya manusia yang bermutu yang

49

Ibid.

50

Choiriyah, Nurul. 2012. Peran Pancasila Dalam Pendidikan Dan


Kehidupan di Indonesia. http://dhechoiriyahnurul.blogspot.co.id/2012/05/peran-pancasila-dalam-pendidikandan-kehidupan-di-indonesia.html.
1

merupakan Produk Pendidikan dan merupakan kunci keberhasilan suatu


Negara.51
Mendiknas menargetkan wajib belajar 9 tahun kepada seluruh anak
Indonesia, tanpa kecuali. Berdasarkan sila keempat Pancasila : Kerakyatan
Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau
perwakilan. Semua kebijakasanaan pemerintah harus berdasarkan kebutuhan
rakyat. Semua kebijaksanaan yang pemerintah buat harus berdasarkan
kesepakatan rakyat (yang diwakili oleh wakil rakyat di parlemen).Salah satu
kebijaksanaan tersebut adalah Program Wajib Belajar 9 tahun yang telah
diberlakukan pada tahun 2009. Banyak pendapat pro-kontra yang tersebar di
tengah-tengah masyarakat luas.52
Program Wajib Belajar 9 Tahun harus merupakan program bersama
antara pemerintah, swasta dan lembaga-lembaga sosial serta masyarakat.
Upaya-upaya untuk menggerakkan semua komponen bangsa melalui gerakan
nasional dengan pendekatan budaya, sosial, agama, birokrasi, legal formal
perlu dilakukan untuk menyadarkan mereka yang belum memahami
pentingnya pendidikan dan menggalang partisipasi masyarakat untuk
mensukseskan program nasional tersebut. Oleh karena itu Program Wajib
Belajar ini ditujukan oleh seluruh anak Bangsa Indonesia untuk menjadi
generasi penerus bangsa yang berpendidikan dan diharapkan jumlah anak
putus sekolah (drop out) bisa diminimalisir dan salah satu strategi untuk
meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun
adalah program nasional. Oleh karena itu, untuk mensukseskan program itu
perlu kerjasama umtuk tetap meningkatkan partisipasinya dalam Program
Wajib Belajar 9 Tahun. Sebagai masyarakat yang baik kita harus ikut
berpartisipasi dan ikut serta dalam mendukung wajib belajar 9 tahun, karena
51

Satrio, Meison. 2015. Pancasila Sebagai Dasar Nilai


Pengembangan Ilmu.
http://satriomeison.blogspot.co.id/2015/06/pancasila-sebagai-dasarnilai-pengembangan-ilmu.html.

52

Ibid.
1

program ini sangat baik untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab
kita semua terhadap masa depan generasi penerus bangsa yang berkualitas
serta upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.53
5.Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Seiring perkembangan jaman, perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan semakin tidak dapat dikendalikan juga. Pendidikan menjadi hal
terpenting yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua, agar anak-anak
mereka menjadi anak-anak yang mampu bersaing dengan lingkungan yang
ada saat ini. Tapi terkadang masalah ekonomi menjadi hambatan bagi para
orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Dalam hal ini, peran serta
pemerintah sangat diperlukan. Salah satu program pemerintah dalam
meningkatkan pendidikan di Indonesia adalah dengan mengadakan program
wajib belajar 9 tahun (WAJAR 9 tahun). 54
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pendidikan di Indonesia. Selain
itu, pemerintah pun memberikan bantuan-bantuan bagi dalam bidang
pendidikan, seperti memberikan BOS (Biaya Operasional Siswa). Hal ini
diharapkan agar setiap warga negara Indonesia bisa mendapatkan pendidikan
seperti yang tertera pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 sampai
5, yang berbunyi :
a. Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan .
b.

Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan


pemerintah wajib membiayainya .

c. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem


pendidikan nasional .
d. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-jkurangnya
20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah .
53

Ibid.

54

Setiyaningsih, Trisna. 2012. Peranan Pancasila Dalam Pendidikan.


http://trisna-setiyaningsih.blogspot.co.id/2012/12/peranan-pancasiladalam-pendidikan.html.
1

e. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan


menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk
kemajuan peradaban serta kesejahteraan manusia .55
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan diwajibkannya Program
WAJAR 9 tahun ini, semakin memperjelas mengenai peranan sila ke-5
Pancasila dalam mewujudkan salah satu tujuan negara, yaitu untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan pendidikan secara
layak dan adil untuk setiap warga Negara Indonesia.56Jika dikaji secara
keseluruhan sila-sila pancasila, maka pancasila memiliki beberapa peranan
dalam pendidikan, diantaranya adalah.57
1. Sebagai dasar dan tujuan pendidikan
Pendidikan erat kaitannya dengan nilai dan norma. Karena hakikat
dari pendidikan itu sendiri adalah memanusiakan manusia. Berdasarkan
makna dari isi pancasila tersebut, maka semua orang yang terlibat dalam
pendidikan memiliki dasar untuk menentukan tujuan, kurikulum, metode
pembelajaran, dan sebagainya. Pancasila sebagai dasar dan tujuan
pendidikan ini merupakan dasar pelaksanaan pendidikan nasional
Indonesia. Melalui pancasila yang tidak mungkin berlangsung tanpa arah
dan tujuan menjadi lebih terarah. Tujuan pendidikan di Indonesia yang
sesuai pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdasakan
kehidupan bangsa. Namun cerdas tersebut bukan hanya cerdas dari segi
intelektual saja, namun juga cerdas akal budi pekerti sesuai dengan nilainilai yang berlaku serta cerdas dalam bersikap. 58
Di sinilah pancasila berperan dalam menciptakan rakyat Indonesia
yang tidak hanya cerdas dalam segi intelektual saja, manun melalui
pancasila ini seseorang diajarkan mengenai nilai-nilai yang akan
55

Ibid.

56

Ibid.

57

Ibid.

58

Ibid.
1

membentuk kepribadian mereka sehingga mereka cerdas dalam bersikap.


Dengan adanya pancasila ini diharapkan mampu menciptakan pribadi
yang taat kepada Tuhannya, memilki rasa kemanusiaan, persatuan,
kerakyatan serta mampu berlaku adil kepada semua makhluk ciptaan
Tuhan.59
2. Sebagai dasar kurikulum
Tujuan pendidikan yang hendak dicapai haruslah sesuai dengan
kurikulum. Maka dalam pembentukan kurikulum harus berdasarkan
pancasila agar tujuan umum pendidikan nasional Indonesia mampu
tecapai. Berdasarkan pancasila tujuan yang hendak pendidikan yang
diinginkan oleh sekolah pun akan lebih terarah. Kurikulum ini
menunjaukkan segala hal yang akan dipelajari untuk mencerdaskan
kehidupan bangsanya, untuk itu pembentukan kurikulum disesuaikan
dengan tujuan nasional Indonesia agar tujuan pendidikan purn dapat
tercapai sebagaimana mestinya. Berdasarkan kurikulum harus sesuai pada
nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.60

59

Ibid.

60

Ibid.
1

III. PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Berdasarka hasil pembahasan dan temuan diatas dapat disimpulkan sebagai
berikut.
a) Filsafat Pancasila dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Indonesia
meliputi:
a. Pancasila sebagai filsafat harus memberikan landasan teoritik
(dannormatif) bagi penguasaan dan pengembangan iptek dan menetapkan
tujuan.
b. nilai instrinsik tujuan iptek dilandasi oleh nilai mental kepribadian dan
moral manusia.
b) Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu meliputi:
a. Pancasila mengawasi perkembangan ilmu supaya tidak menyalahi nilainilai dalam kehidupan manusia
b. Pancasila sebagai pedoman hidup manusia, supaya dengan kemajuan ilmu
tidak meninggalkan rasa humanis
c) Peran Pancasila Dalam Pendidikan di Indonesiayaitu
a. Memberikan pendidikan kepada rakyat Indonesia sesuai isi sila-sila
Pancasila
b. Mencerdaskan kehidupan bangsa
3.2.Saran
Program Wajib Belajar ini ditujukan oleh seluruh anak Bangsa Indonesia untuk
menjadi generasi penerus bangsa yang berpendidikan dan diharapkan jumlah anak
putus sekolah (drop out) bisa diminimalisir dan salah satu strategi untuk
meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.Penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun
adalah program nasional. Oleh karena itu, untuk mensukseskan program itu perlu
kerjasama umtuk tetap meningkatkan partisipasinya dalam Program Wajib Belajar
9 Tahun. Sebagai masyarakat yang baik kita harus ikut berpartisipasi dan ikut
serta dalam mendukung wajib belajar 9 tahun, karena program ini sangat baik
untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab kita semua terhadap masa
depan generasi penerus bangsa yang berkualitas serta upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa. Dalam penulisan makalah ini masih terdapat beberapa
kekurangan dan kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan
kalimatnya. Dari segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, kami
1

sangat mengharapkan kepada para pembaca makalah ini agar dapat memberikan
kritikan dan masukan yang bersifat membangun.

DAFTAR PUSTAKA

Arianto, Fajar. 2014. Filsafat Pancasila Dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan.


http://kompasiana.com/fajararianto/filsafat-pancasila-dan-perkembanganilmu -pengetahuan.html. Diakses tanggal 29 November 2015.
Choiriyah, Nurul. 2012. Peran Pancasila Dalam Pendidikan Dan Kehidupan di
Indonesia. http://dhechoiriyah-nurul.blogspot.co.id/2012/05/peran-pancasiladalam-pendidikan-dan-kehidupan-di-indonesia.html. Diakses tanggal 30
November 2015.
Hasim, Anis Lestari. 2014. Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu.
http://anislestarihasim.blogspot.co.id/2014/01/pancasila-sebagai-dasarpengembangan. html. Diakses tanggal 29 November 2015
Husein, Hamdan. 2014. Pancasila Sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu.
http://Hamdanhusin.blogspot.co.id/2014/09/pancasila-sebagai-dasar-nilai.
html. Diakses tanggal 29 November 2015.
Iryanto, WS. 2009. Bahan Kuliah Filsafat Ilmu. Semarang: Pascasarjana.
Satrio, Meison. 2015. PANCASILA SEBAGAI DASAR NILAI
PENGEMBANGAN ILMU. http:///satriomeison.blogspot.co.id/2015/06/
pancasila-sebagai-dasar-nilai.html. Diakses tanggal 29 November 2015.
Setiyaningsih, Trisna. 2012. Peranan Pancasila Dalam Pendidikan. http://trisnasetiyaningsih.blogspot.co.id/2012/12/peranan-pancasila-dalam-pendidikan.
html. Diakses tanggal 1 Desember 2015.
Sriyani, Endang. 2013. Makalah Peranan Nilai-Nilai Pancasila Dalam
Perkembangan, Pendidikan di Indonesia. http://endangsriyani.blogspot.
co.id/2013/03/makalah-peranan-nilai-nilai-pancasila.html. Diakses tanggal 30
November 2015.
Sutardjo. 1992. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
Bandung: Tarsito.
Syam, Mohammad Noor. 2007. Filsafat Ilmu, Malang: UNM.
Yacob, T. 1993. Manusia, Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

Anda mungkin juga menyukai