Anda di halaman 1dari 7

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

Potensi
dan
Peluang
Pengembangan
Transit-Oriented
Development di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung
Ni Luh Asti Widyahari
(1)
(2)

(1)

, Petrus Natalivan Indradjati

(2)

Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK), ITB.
Kelompok Keilmuan Perencanaan dan Perancangan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
SAPPK), ITB.

Abstrak
Selama ini rencana pengembangan transportasi dan tata ruang yang terkait dengan Kawasan
Perkotaan Cekungan Bandung belum menjadi dasar pengembangan kawasan TOD dan masih
dilakukan secara sektoral. Masalah penelitian studi ini adalah prasyarat TOD masih belum
teridentifikasi secara jelas, banyak rencana-rencana transportasi yang ada, serta rencana yang ada
belum menentukan titik-titik lokasi TOD. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menghasilkan
lokasi potensial dan peluang pengembangan TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.
Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan
metode analisis isi. Hasil studi menunjukkan beberapa kawasan memiliki potensi dikembangkan
sebagai TOD dan terdapat beberapa kawasan yang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai
TOD.
Kata-kunci: cekungan Bandung, peluang, perkotaan, potensi, TOD

Pengantar
Di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung,
suburbanisasi
yang
terjadi
merupakan
konsekuensi pertumbuhan jumlah penduduk dan
keterbatasan
lahan
telah
menimbulkan
persoalan
transportasi,
terlebih
Kawasan
Perkotaan
Cekungan
Bandung
memiliki
karakteristik struktur ruang yang monocentric
meskipun rencana struktur ruangnya sudah
dikembangkan dengan pola policentric (Pratama
dan Zulkaidi, 2010). Daya tarik kawasan ini
sebagai wilayah tujuan perjalanan dan
akumulasi
berbagai
aktivitas
ekonomi,
pemerintah,
sosial
dan
budaya
telah
membangkitkan pergerakan komuter (ulangalik) dari kawasan pinggiran menuju kawasan
perkotaan. Hal ini tentu saja memberikan efek
negatif terhadap pergerakan lalu lintas akibat
tidak adanya ketersediaan sarana dan prasarana
transportasi
yang
efektif
yang
dapat
mengakomodasi pergerakan masyarakat di
Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Oleh
sebab itu, untuk mengurangi beban lalu lintas

tersebut perlu pembangunan yang diarahkan


untuk menciptakan sistem transportasi yang
lebih efisien sehingga mampu mendorong
terciptanya mobilitas dan aksesibilitas kegiatan
masyarakat yang lebih baik (Kustiwan, 2011).
Hal ini dapat dilakukan dengan adanya integrasi
terhadap konsep pengembangan perkotaan
untuk mengatasi gejala urban sprawl dan
ketergantungan
penduduk
terhadap
penggunaan kendaraan pribadi, yaitu dengan
menerapkan konsep pengembangan kawasan
berbasis
transit
atau
Transit-Oriented
Development (Suzuki, 2013). Konsep TransitOriented Development (TOD) menawarkan pola
pengembangan kawasan di sekitar stasiun
transit dengan fungsi terpadu (compact
development) dalam populasi masyarakat
berkepadatan tinggi sebagai salah satu
generator penumpang transit dengan prioritas
pada pejalan kaki dan kemudahan penumpang
serta akses menuju stasiun transit (Newman
dan Kenworthy, 1999).

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N2 | 353

Potensi dan Peluang Pengembangan Transit-Oriented Development di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung

Konsep TOD ini telah diterapkan di beberapa


negara dan ditengarai mampu mendorong
mobilitas penduduk, terciptanya kawasan yang
kompak
dan
berwawasan
lingkungan,
mendorong
terjadinya
pergerakan
nonmotorized (walking and bicycling), mendorong
pengurangan penggunaan mobil pribadi dan
beralih kepada transit umum, mendorong
terjadinya peningkatan ekonomi perkotaan,
meningkatkan
sumber-sumber
pendanaan
pembiayaan
pemeliharaan
sarana
dan
prasaranan transportasi, serta mengurangi
pengeluaran rumah tangga untuk biaya
transportasi (Suzuki, 2013). Namun, dalam
upaya menerapkan konsep TOD di Indonesia
pada umumnya dan Kawasan Perkotaan
Cekungan Bandung pada khususnya merupakan
suatu
tantangan
tersendiri
mengingat
banyaknya hambatan pengembangan TOD yang
berasal dari berbagai aspek, terutama aspek
legal, yakni rencana-rencana tata ruang yang
memiliki kekuatan hukum.
Selama ini rencana pengembangan transportasi
dan tata ruang yang terkait dengan Kawasan
Perkotaan Cekungan Bandung belum menjadi
dasar
pengembangan
kawasan
TOD.
Pengembangan kawasan seperti TOD masih
dilakukan secara sektoral. Untuk itu masalah
penelitian dalam studi ini adalah mengenai
prasyarat TOD masih belum teridentifikasi
secara
jelas,
banyak
rencana-rencana
transportasi yang ada, serta rencana yang ada
belum menentukan titik-titik lokasi TOD.
Studi ini bertujuan untuk menghasilkan lokasi
potensial dan peluang pengembangan TOD di
Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Oleh
karena itu, terdapat tiga pertanyaan penelitian
yang diajukan:
1. Apa sajakah prasyarat suatu kawasan
dikembangkan sebagai TOD?
2. Di mana lokasi yang potensial dikembangkan
sebagai TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan
Bandung?
3. Apa syarat yang harus dipenuhi untuk
mengembangkan TOD di Kawasan Perkotaan
Cekungan Bandung?
354 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N2

Tujuan
dari
studi
ini
adalah
untuk
mengidentifikasi
lokasi
yang
dapat
dikembangkan sebagai TOD memiliki potensi
dan peluang untuk dikembangkan sebagai TOD
di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.
Metode
Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang
terbagi
atas
deskriptif
dan
preskriptif.
Pendekatan deskriptif studi ini dimaksudkan
untuk mengetahui kondisi karakterisitik kawasan
TOD di wilayah studi. Pendekatan preskriptif,
yaitu metode analisis dengan cara merumuskan
tindakan pemecahan masalah kawasan yang
telah
teridentifikasi.
Tujuannya
adalah
memberikan gambaran atau merumuskan
masalah sesuai dengan fakta/keadaan yang ada.
Pendekatan preskriptif studi ini dimaksudkan
untuk memberikan rekomendasi terhadap
persoalan peluang pengembangan TOD di
Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.
Dalam penelitian ini terdapat tiga metode yang
diterapkan. Metode ini membantu pengumpulan
data dan informasi yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan dan sasaran studi. Ketiga
metode tersebut adalah riset data kondisi
wilayah studi saat ini, riset survei dan metode
analisis.
Tujuan utama dari riset data survei ini adalah
untuk mengumpulkan data dan informasi dari
kepustakaan. Kepustakaan ini meliputi bukubuku, makalah, jurnal, penelitian akademis,
rencana terkait, dan kumpulan data statistik.
Dari kepustakaan akan didapatkan informasi
mengenai konsep, teori, kriteria, serta indikator
yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi lokasi
potensial dan peluangnya untuk dikembangkan
menjadi kawasan TOD di Kawasan Perkotaan
Cekungan Bandung. Kegiatan ini dilakukan pada
rentang bulan Maret Juni 2013.
Manfaat dari penerapan riset survei dalam studi
ini adalah untuk mengenali bagaimana
karakteristik
kondisi
Kawasan
Perkotaan
Cekungan Bandung saat ini. Kegiatan riset
survei ini dilakukan pada rentang bulan Maret
April 2014.

Ni Luh Asti Widyahari

Gambar 1. Kerangka Pikir Studi

Terdapat dua metode analisis pada studi ini,


yakni analisis deskriptif dan analisis isi (content
analysis). Analisis deskriptif ini berfungsi untuk
mengetahui bagaimana karakteristik kondisi saat
ini terkait dengan kriteria dan indikator untuk
potensi maupun peluang pengembangan TOD.
Analisis isi yang berbasis pada data sekunder ini
berfungsi untuk memberikan peniliaian antara
kriteria dan indikator untuk potensi dan peluang
pengembangan TOD dengan rencana-rencana
tata ruang dan transportasi di Kawasan
Perkotaan
Cekungan
Bandung
serta
merumuskan indikator yang sesuai dengan
kriteria
pemilihan
lokasi
potensial
dan
peluangnya untuk dikembangkan sebagai TOD
di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.
Kesulitan menggunakan metode analisis isi
adalah
pada
keseragaman
kelengkapan
informasi yang tersedia pada rencana-rencana
transportasi dan rencana tata ruang terkait
untuk Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.
Diskusi
Untuk mengidentifikasi lokasi yang memiliki
potensial dikembangkan sebagai kawasan TOD
di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung
diperlukan identifikasi tahap awal untuk

mendapatkan lokasi kawasan yang memiliki


potensi berdasarkan rencana sistem transportasi
terkait dengan kriteria dan indikator yang sesuai
dengan Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.
Untuk mengidentifikasikan lokasi potensial
pengembangan TOD, kriteria pertama yang
harus dilihat adalah ketersediaan pelayanan oleh
beberapa moda transportasi baik untuk
commuter jarak dekat, maupun non-commuter
untuk jarak sedang dan jauh. Untuk moda
transportasi commuter dan jarak dekat terdiri
dari minibus/mikrolet, bis kota, LRT/monorel,
streetcar/tram, dan MRT. Untuk non-commuter
jarak sedang dan jauh terdiri dari KRL, bis antar
kota atau provinsi dan kereta api.
Berdasarkan karakteristik, regional center transit
memiliki moda commuter dan non-commuter
baik jarak sedang dan jauh, urban center transit
memiliki moda commuter dan non-commuter
baik jarak sedang dan jauh namun dengan
frekuensi transit di atas 5 menit, suburban
center transit memiliki moda commuter dan
non-commuter namun tidak memiliki stasiun
kereta api, sedangkan transittown transit tidak
dilalui LRT/monorel, bis antar kota/provinsi, dan
kereta api, seperti terlihat pada Tabel 1.
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N2 | 355

Potensi dan Peluang Pengembangan Transit-Oriented Development di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung

berdasarkan rencana pengembangan sistem


transportasi untuk kereta api, BRT, LRT, dan bis
antar kota atau provinsi, dengan asumsi
angkutan perkotaan dan bis kota tidak
mengalami perubahan penurunan jangkauan,
maka lokasi yang memiliki potensi untuk
dikembangkan menjadi TOD adalah:

Tabel
1
selanjutnya
dianalisis
melalui
perbandingan dengan moda-moda transportasi
yang ada di Kawasan Perkotaan Cekungan
Bandung. Berdasarkan data dan informasi dari
masterplan
transportasi
yang
mencakup
Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung, maka
setelah dikomparasi dengan kelengkapan moda
transportasi, berikut lokasi-lokasi potensial
sebagai regional center transit, urban center
transit, sub-urban transit, dan transittown
trasit (Tabel 2).

Regional Center TOD: Gedebage dan Stasiun


Bandung
Urban Center TOD: Cikudapateuh dan
Kiaracondong
SubUrban Center TOD: Buahbatu, Elang,
Kopo, Leuwi Panjang, dan Soekarno Hatta.
TransitTown TOD: Antapani, Caringin,
Sarijadi, Surapati, dan Tegallega.

Berdasarkan perbandingan kriteria dan indikator


potensi penerapan TOD di Kawasan Perkotaan
Cekungan Bandung terhadap lokasi-lokasi yang
direkomendasikan dapat menerapkan TOD

Tabel 1. Prasyarat Pemilihan Lokasi Transit


No
Kriteria
1.Mode transit

Regional Center
Commuter jarak
dekat dan noncommuter jarak

Urban Center
Commuter jarak
dekat dan noncommuter jarak

Sub-Urban Center
Indikator

Commuter jarak dekat


dan non-commuter

Transit-Town Center
Commuter jarak dekat dan
non-commuter jarak sedang

sedang dan jauh.

jarak sedang dan jauh


(minus kereta api)

dan jauh (minus bis antar


kota/provinsi dan kereta api)

v
v
v
v

v
v
v
v

v
v
v
v

v
v
v
v

Bis Antar
Kota/Prov.

Kereta Api

sedang dan jauh.

Commuter & Jarak Dekat:


Minibus/ Mikrolet
Bis Kota
BRT

LRT/ Monorel
Non-commuter Jarak Sedang dan Jauh:

Tabel 2. Lokasi Transit di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung

Regional Transit

1. St.
2. St.
3. St.
4. St.

Cimahi
Gedebage
Kiaracondong
Bandung

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Urban Center Transit


Banjaran
Cibereum
Cicalengka
Cikudapateuh
Ciwidey
Dayeuh Kolot
Jatinangor
Kiaracondong
Majalaya
Padalarang
Rancaekek
Soreang
Tanjungsari

356 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N2

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Sub- Urban Transit


Alun-alun
Balubur
Buahbatu
Cibiru
Cicaheum
Cihampelas
Ciumbeluit
Elang
Gardujati
Husein
Juanda
Kopo
Leuwi Panjang
Ledeng
Pasteur
Soekarno Hatta
Ujung Berung

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Transit-Town Transit
Antapani
Caringin
Pasirkaliki
Sarijadi
Surapati
Tegallega

Ni Luh Asti Widyahari

indikator potensi penerapan TOD di Kawasan


Perkotaan Cekungan Bandung terhadap lokasilokasi transit, maka lokasi yang memiliki potensi
untuk dikembangkan menjadi TOD adalah
sebagai berikut:

Setelah mengetahui peluang pengembangan


TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung
untuk setiap tipologi kawasan TOD, maka
berikut
ini
adalah
kesimpulan
peluang
pengembangan TOD di Kawasan Perkotaan
Cekungan Bandung berdasarkan tiga kriteria
analisis yang telah dilakukan (Tabel 3- Tabel 6).

Regional Center TOD: Gedebage dan Stasiun


Bandung
Urban Center TOD: Cikudapateuh dan
Kiaracondong
SubUrban Center TOD: Buahbatu, Elang,

Kesimpulan
Berdasarkan analisis perbandingan kriteria dan

Tabel 3. Peluang Pengembangan Regional Center TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Keterangan:
* Berdasarkan Rencana Pengaturan KDB, KLB Maksimum dan KDH Minimum untuk perumahan KLB 4.0, dapat
diakomodasi dalam rencana, yakni untuk perumahan tipe bangunan tinggi yang berada pada fungsi jalan arteri.
** Berdasarkan Rencana Pengaturan KDB, KLB Maksimum dan KDH Minimum untuk perumahan, KDB minimal
70%, maka yang memenuhi hanya berada pada bangunan Rendah (Maksimum 3 lantai), yakni untuk kepadatan
bangunan tinggi (kepadatan bangunan rata-rata lebih dari 40 bangunan/Ha) dengan hirarki jalan kolektor (70%)
dan lokal (80%), dengan kepadatan penduduk rata-rata di atas 200 jiwa/Ha. *** Berdasarkan Rencana
Pengaturan KDB, KLB Maksimum dan KDH Minimum untuk perkantoran, maka kriteria ini diakomodasi untuk
ketentuan perkantoran dengan luas lantai <5000m2 yang berada pada fungsi jalan arteri.
NO
KRITERIA
Pencampuran

land-use

REGIONAL CENTER TOD


INDIKATOR
Sangat tinggi (minimal 5 land-use)
20% hunian
80% Non-hunian
Tipe hunian:

GEDEBAGE
v

STASIUN BANDUNG
v

v*
v**
v***

v*
v**
v***

High-rise, mid-rise apartements,


Densitas
bangunan

Karakteristik retail

dan kondominium
Sangat tinggi pada inti, sedikit
lebih rendah pada pusat
Minimal KLB 4.0
Minimal KDB 70%
Minimal FAR (KLB) perkantoran
2,0 FAR
Skala regional dan pelayanan lokal

Tabel 4. Peluang Pengembangan Urban Center TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung
NO
URBAN CENTER TOD
KRITERIA
INDIKATOR
CIKUDAPATEUH
KIARACONDONG
Pencampuran landSangat tinggi, sedikit di bawah tipe regional
v
v
use
center (minimal 4 land-use)
30% hunian 70% Non- hunian
v
x
Tipe hunian:
v
v
Mid-rise, low-rise, sedikit high-rise dan

townhouse
Densitas bangunan

Karakteristik retail

Sangat tinggi tinggi


Minimal KLB 1,5 3,5
Minimal KDB 60%
KLB Perkantoran 0,75 FAR
Skala regional, pelayanan lokal dan lingkungan

v
v
v
v
v

v
v
v
v
v

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N2 | 357

Potensi dan Peluang Pengembangan Transit-Oriented Development di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung

Kopo, Leuwi Panjang, dan Soekarno Hatta.


TransitTown TOD: Antapani, Caringin,
Sarijadi, Surapati, dan Tegallega.
Berdasarkan analisis peluang pengembangan
TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung,
satu-satunya kawasan yang dapat menerapkan
TOD tanpa syarat berdasarkan prasyarat
pengembangan TOD adalah Kawasan TOD
Cikudapateuh. Kawasan TOD Gedebage meski
telah memiliki rencana sebagai kawasan TOD

pada rencana tata ruang wilayahnya (RTRW


Kota Bandung Tahun 2011-2031) memiliki
kendala peluang pengembangan TOD terkait
dengan
arahan
pengembangan
densitas
kawasan, sedangkan kawasan TOD lainnya
memiliki kendala pada arahan pengembangan
densitas kawasan berdasarkan rencana tata
ruang wilayah terkait, ketentuan KLB dan KDB
minimal perumahan, serta KLB minimal
perkantoran.

Tabel 5. Peluang Pengembangan Sub-Urban Center TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.
Keterangan: 1. Buahbatu; 2. Elang; 3. Kopo; 4. Leuwi Panjang; 5. SoekarnoHatta. * Berdasarkan Rencana
Pengaturan DB, KLB Maksimum dan KDH Minimum untuk perumahan KLB 1,0 - 3,5, maka yang dapat
diakomodasi adalah: 1). Bangunan tinggi yang memiliki fungsi jalan arteri (4.0), kolektor (3.6), dan lokal (2,5).
2). Bangunan sedang yang memiliki fungsi jalan arteri (3.2), kolektor (2,4), dan lokal (2,5). 3). Bangunan rendah
yang memiliki fungsi jalan lokal (1,6) di kepadatan bangunan tinggi. ** Berdasarkan Rencana Pengaturan KDB,
KLB Maksimum dan KDH Minimum untuk perkantoran, yang dapat diakomodasi adalah 1). perkantoran dengan
luas 5000 m2 yang berada pada fungsi jalan arteri (1,6), dan kolektor (1,5). 2). Perkantoran dengan luas <
5000 m2 yang berada pada fungsi jalan arteri (2,0) dan kolektor (1,8). ***Data tidak tersedia
NO
KRITERIA
Pencampuran

land-use

SUB - URBAN CENTER TOD


INDIKATOR
Tinggi (minimal 3 land-use)

1
v

2
v

3
v

4
v

5
v

30% hunian 70% Non hunian


Tipe hunian:
Mid-rise, low-rise, beberapa high-rise, dan

x
x

x
v

x
v

x
v

x
v

v
v*
v
v**
v

v
v*
v
v**
x

v
-***
-***
-***
v

v
v*
v
v**
v

v
v*
v
v**
v

townhouse
Densitas
bangunan

Karakteristik
retail

Tinggi sedang
Minimal KLB 1,5-3,5
Minimal KDB 60%
Minimal KLB Perkantoran 1,5 FAR
Skala regional, pelayanan lokal, dan
lingkungan

Tabel 6. Peluang Pengembangan Transit-Town TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Keterangan: 1.
Antapani; 2. Caringin; 3. Sarijadi; 4. Surapati; 5. Tegallega.
NO
TRANSIT - TOWN TOD
KRITERIA
INDIKATOR
1
2
3
4
5
Pencampuran landSedang (minimal 2 land-use)
v
v
v
v
v

use

30% hunian 70% Non-hunian


Tipe hunian:

x
v

x
v

x
v

x
v

x
v

Mid-rise, low-rise, townhouse, small-lot


single family
Densitas bangunan

Sedang
Minimal KLB 1,5 3,5
Minimal KDB 60%
Minimal KLB Perkantoran 0,5 FAR

v
v
v
v

x
v
v
v

v
v
v
v

x
v
v
v

x
v
v
v

Karakteristik retail

Skala lingkungan, pelayanan lokal

358 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N2

Ni Luh Asti Widyahari

Rekomendasi yang dapat diberikan, yakni:


1. Berdasarkan RTRW Kota Bandung Tahun
20112031, kawasan Gedebage memiliki
rencana untuk dikembangkan sebagai
kawasan TOD. Untuk mencapai hal tersebut
diperlukan beberapa penyesuaian yakni
perubahan
arahan
pengembangan
perumahan kepadatan rendah menjadi
kepadatan tinggi.
2. Arahan pengembangan TOD berdasarkan
lokasi
pengembangannya
adalah
redevelopment site dan infill site untuk
kawasan TOD Gedebage, sedangkan
kawasan potensial TOD lainnya adalah
cukup dengan redevelopment site.
3. Perlunya upaya penyelarasan ketentuan
terhadap ketentuan persentase hunian dan
non-hunian, KLB dan KDB perumahan, serta
KLB minimal perkantoran di rencanarencana tata ruang untuk kawasan-kawasan
TOD potensial agar dapat mengembangkan
permukiman ataupun perkantoran agar
persyaratan teknis pengembangan TOD
tidak melenceng terlalu jauh pada
ketentuan rencana tata ruang terkait.
4. Perlunya pembentukan ketentuan KLB dan
KDB untuk wilayah yang tercakup ke dalam
Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr.
Petrus Natalivan Indrajati selaku pembimbing,
atas bimbingannya dalam menyusun penelitian
ini.

Daftar Pustaka
Calthorpe, Peter. 1993. The Next American
Metropolis. Princeton: Princeton Architectural
Press.
Center of Transit Oriented Development,
Commison (CTOD). 2007. Station Area
Planning Manual. Metropolitan Transportation
Commision.
Ditmarr, Hank, dan Gloria Ohland. 2004. The
New Transit Town. Washington, DC: Island
Press.
Katz, Peter. 1994. The New Urbanism: Toward
an Architecture of Community. New York:
McGraw Hill.
Kustiwan,
Iwan.
2011.
Pengendalian
Perkembangan Fisik Kota: Penangan Urban
Sprawl. Bunga Rampai Pembangunan Kota

Indonesia Abad 21, Edisi 2.

Newman and Kenworthy. 1999. Sutainability and


Cities: Overcoming Automobile Dependence.
Washington, DC: Island Press.
Pratama, Yudistira dan Denny Zulkaidi. 2010.

Karakteristik Struktur dan Pola Ruang Kawasan


Metropolitan di Indonesia. Urban Planning and
Design Research Group. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Suzuki, H., Cervero, R., and Kanako Iuchi. 2013.

Transform Cities with Transit: Transit and


Land-use Integration for Sustainable Urban
Development. Washington, DC: The World
Bank.
Wheelar, Stephen M. 2000. Planning for
Metropolitan Sustainability, Journal of Planning
Education Research 20:133 144. Association
of Collegiate Schools of Planning.
Witoelar, Erna. 2012. Semakin Minim Urbanisasi,
Semakin Minim Pula Permukiman Kumuh. Kota
Tanpa Kumuh 2020: HUDMagz edisi 2 , hal.
24-25. Jakarta: The HUD Institute.

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N2 | 359

Beri Nilai