Anda di halaman 1dari 22

Larutan

Asam- Basa

Oleh:
I Wayan Karta

ASAM DAN BASA


Sifat-sifat asam
1. Bersifat korosif, artinya dapat merusak benda-benda
lain, termasuk logam dan marmer.
2. Dapat bereaksi dengan logam dan menghasilkan gas
hydrogen.
3. Mempunyai rasa masam.
4. Dapat mengubah warna zat lain, seperti lakmus biru,
sari bunga sepatu, sari kol merah.
Sifat-sifat Basa
1. Bersifat kaustik: dapat merusak kulit atau bahanbahan lain.
2. Terasa licin di tangan, karena dapat bereaksi dengan
lemak pada kulit dan membentuk sabun.
3. Mempunyai rasa pahit.
4. Dapat mengubah zat warna lain, seperti lakmus
merah menjadi biru.

Asam basa arhenius

Teori Asam Basa Bronsted Lowry (Asam Basa Konjugasi)


Untuk reaksi umum:
HA + H2O
Asam1

Basa2

H3O+

A-

Asam2Basa1

Konjugasi

Konjugasi

Basa 1 yang dihasilkan dari asam 1 setelah melepaskan proton, disebut basa konjugasi dari
asam 1.
Asam 2 yang dihasilkan dari setelah basa 2 menerima proton, disebut asam konjugasi dari
basa 2.

Contoh: H2O +HCl


H3O+ + CIDalam reaksi diatas,
HCl termasuk asam karena memberi proton.
H2O termasuk basa karena menerima proton.
Zat yang telah menerima proton disebut asam konjugasi, sedangkan yang
telah memberi proton disebut basa konjugasi. Dalam contoh reaksi diatas
H3O+ adalah asam konjugasi,sedangkan Cl- adalah basa konjugasi

Autoionisasi Air
Air mampu bertindak sebagai asam maupun basa
Reaksi Autoionisasi
H2 O
+
H2 O
H3O+
+
OHAsam1
Basa2
Asam2
Basa1
Pasangan asam-basa konjugatnya ialah (1) H2O (asam) dan OH- (basa) dan (2) H3O+
(asam) dan H2O (basa).
[ H ][OH ]
Kc = [ H 3 O ][OH ]
atau Kc =
[ H 2 O]
[ H 2 O]
Kc[H2O] = Kw = [H+] [OH-], Kw adalah konstanta hasil kali ion
Dalam air murni pada 250C, konsentrasi ion H+ sama dengan konsentrasi OH- dan
diketahui sebesar [H+] = 1,0 x 10-7 M dan [OH-] = 1,0 x 10-7 M. Jadi pada 250C,
Kw = 1,0 x 10-14.
Bila ditambahkan H+ (atau dalam asam), maka terdapat kelebihan ion H+ dan [H+] >
[OH-]. Dalam larutan basa (atau penambahan OH-), maka terdapat kelebihan ion OHdan [H+] < [OH-]. Untuk mengitung konsentrasi H+ atau OH- menggunakan konsep Kw
= [H+] [OH-].

Tingkat Keasaman Larutan (pH)


Hubungan antara konsentrasi ion [H+] dan [OH-], larutan asam dan basa
dapat digambarkan pada Gambar 1
[H+]

[OH-]

10-14

10-14

10-13

10-13

10-12

10-12

10-11

10-11

10-10

10-10

10-9

LARUTAN
BASA

LARUTAN
ASAM

10-8

10-8
10-7

NETRAL

NETRAL

10

10-7

10-6

10-6

-5

10-9

LARUTAN
ASAM

LARUTAN
BASA

10-5

10-4

10-4

10-3

10-3

10-2

10-2

10-1

10-1

100

100

Larutan asam : [H+] > 1,0 x 10-7M, pH < 7,00


Larutan basa : [H+] > 1,0 x 10-7M, pH > 7,00
Larutan netral: [H+] = 1,0 x 10-7M, pH = 7,00

Pengaruh Asam terhadap kesetimbangan Air


Senyawa asam dilarutkan dalam air akan terionisasi menjadi ionionya
Pelarutan asam menghasilkan ion hidrogen yang akan mempengaruhi
kesetimbangan air/mengalami pergeseran.
Pengaruhnya tergantung pada kuat dan lemahnya asam
Asam kuat
Senyawa-senyawa asam yang mengalami ionisasi (penguraian)
sempurna di dalam larutannnya, sehingga derajat ionisasinya sama
dengan satu (=1)

[H+] = n.Ma,

pH = -log

[H+]

Asam lemah
Senyawa-senyawa asam yang mengalami ionisasi (penguraian) tidak
sempurna dalam larutannya, sehingga lebih kecil dari satu
HA(aq)

H+(aq)

A-(aq)

-log[H ] =
+

Ka [HA]

[ H ][ A ]
Ka
HA

pH = -log [H+] =

= -log {[HA]}
Ka [HA] HA = konsentrasi molar
asam.

Pengaruh Basa terhadap Kesetimbangan Air


Senyawa basa dilarutkan di dalam air, akan terurai menjadi ion-ionnya,
salah satunya ion hidroksida yangmempengaruhi kesetimbangan air
Basa kuat: [OH-] = n.Mb,
Basa lemah: [OH-] =

Kb [BOH ]

pOH = -log [OH-],

pH = pKw pOH

pOH = -log [OH-] = -log Kb [BOH ] = -log {[BOH]

Pengukuran pH
Indikator
Metil Jingga
Metil Merah
Lakmus
Brom Timol
Biru
Fenolftalen

perubahan warna
Merah ke kuning
Merah ke kuning
Merah ke biru
Kuning ke biru
Tak berwarna ke merah
muda

Trayek
pH

Warna Dalam
Larutan Asam

Warna Dalam
Larutan Basa

3,1 -4,4
4,2 -6,2
4,5 -8,3
6,0 -7,6
8,0 -9,6

Merah
Merah
Merah
Kuning
Tak Berwarna

Jingga
Kuning
Biru
Biru
Merah

Reaksi Asam dan Basa


Ketika larutan asam dan basa dalam air dicampurkan, maka terjadi
reaksi netralisasi.
Reaksi ini sangat cepat dan menghasilkan air dan garam. Prinsip ini
digunakan dalam menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara
titrasi

Asam + Basa

Garam + Air

Titrasi Asam Basa


Digunakan untuk menentukan
konsentrasi larutan dengan cara
mereaksikan sejumlah volume
larutan terhadap sejumlah volume
larutan lain yang konsentrasinya
sudah diketahui (larutan standar)
Konsep penting: Titran, Titrat, Titik
akhir reaksi, Titik ekivalen

Penetuan Konsentrasi dalam Titrasi:


Vlarutan1 x Mlarutan1 = Vlarutan2 x Mlarutan2

flash

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER SOLUTION)

Campuran asam lemah dengan basa konjugasinya atau campuran


basa lemah dengan asam kojugasinya.
Dapat menyangga (mempertahankan) pH terhadap pengaruh
penambahan sedikit asam, basa, ataupun pengenceran

Penentuan pH Larutan Penyangga


Larutan penyangga asam lemah dengan basa konjugasinya

[
H
].[
CH
COO
]
3
Ka =
[CH 3COOH ]

[H+] = Ka

pH = [CH 3 COOH ]
[CH 3 COO log
] Ka

mol asam
mol anion garam

Contoh: CH3OOH + CH3COONa


larutan penyangga basa lemah dengan asam konjugasinya
pOH = - log
Kb

mol basa
mol kation garam

Kegunaan larutan penyangga:


Sistem Penyangga dalam sel, dalam pernapasan, dan ginjal

Daerah Buffer
Daerah buffer merupakan daerah pH dimana suatu larutan berfungsi secara efektif.
Perbandingan garam/asam perlu dijaga; paling besar 10/1 dan paling kecil 1/10. Di
lingkungan ini buffer mempunyai daerah buffer yang efektif sebesar dua satuan pH
(pK1).

Kapasitas Buffer
Kapasitas buffer ditentukan oleh jumlah asam kuat atau basa kuat yang dapat
ditambahkan tanpa mengakibatkan perubahan pH yang berarti. Keefektifan suatu
larutan buffer dapat diketahui dari kapasitas buffer.

jumlah basa yang ditambahkan


perubahan pH oleh pertambahan basa

Kegunaan larutan penyangga dalam tubuh


Darah orang normal, pH darah berkisar antara 7,35 7,45
Apabila mekanisme pengaturan pH dalam tubuh gagal, misalnya
sakit berat, mengakibatkan pH darah turun di bawah 7,0 atau
naik diatas 7,8 dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh
permanen atau kematian
Asidosis: Bila pH darah lebih kecil dari 7,35.
Penyebab: penyakit jantung, ginjal, diabetes mellitus, diare yang
terus menerus, makan makanan yang berkadar protein tinggi
dalam jangka waktu lama, olahraga intensif yang dilakukan
terlalu lama
Alkalosis: Bila pH darah lebih besar dari 7,45.
Faktor penyebab: muntah hebat, hyperventilasi (bernapas
berlebihan), misalkan para pendaki gunung atau cemas.

SISTEM PERTAHANAN TUBUH DALAM MENJAGA pH DARAH


Sistem Penyangga
H2CO3 MHCO3
MH2PO4 M2HPO4
HHbO2 MhbO2
HProtein Mprotein

M = kation monovalen, seperti Na+, K+


H2CO3 = asam karbonat
H2PO4- = asam dihidrogen fosfat
HCO3- = asam bikarbonat
HPO42- = asam monohidrogen fosfat
HHbO2 = oksihemoglobin
HHb = hemoglobin bebas
Hprotein = protein bebas

Cara kerja buffer


1. Buffer H2CO3 HCO3- (cairan luar sel)
Proses metabolism dalam tubuh yang terus menerus menghasilkan zat-zat yang
bersifat asam, seperti HCl, H2SO4, H3PO4, asam laktat dan lain-lain, maka
kelebihan asam (H+) dapat diikat oleh HCO3-.
HCO3- (aq) + H+(aq)
H2CO3(aq)
Bila dalam tubuh ada kelebihan basa (OH-) maka kelebihan basa akan diikat oleh
H2CO3.
H2CO3(aq) +
OH-(aq)
HCO3- (aq)
+ H2O(l)
Agar pH dipertahankan 7,4 maka perbandingan konsentrasi HCO3- terhadap H2CO3
adalah 20:1.
Jumlah relatif jauh lebih banyak karena hasil metabolisme dalam tubuh lebih banyak
yang bersifat asam sehingga ketika asam-asam tersebut masuk pembuluh darah akan
diikat oleh HCO3- menjadi H2CO3, kemudian H2CO3 akan terurai menghasilkan CO2 lalu
dikeluarkan melalui pernapasan

2. Buffer H2PO4- - HPO42-(cairan intrasel)

Bila ada kelebihan asam (H+) akan diikat oleh HPO42- dan bila ada kelebihan basa (OH-)
akan diikat oleh H2PO4- sehingga pH tubuh kurang lebih tepat.
HPO42- (aq) + H+(aq)
H2PO4-(aq)
HPO4-(aq)
+ OH-(aq)
HPO4-(aq) + H2O(l)

3. Buffer Hb (dalam eritrosit)


Bila ada kelebihan asam H2CO3 (atau CO2) biasanya dinetralkan oleh buffer Hb.
CO2(g) + H2O(l)
H2CO3(aq)
H2CO3(aq) + Hb(aq)
H2CO3(aq) + HbO2(aq)

HCO3-(aq)
+ H+HbO(aq)
HCO3-(aq) + H+HbO(aq)

4. Buffer protein (dalam plasma)


Bila ada kelebihan asam H2CO3 (atau CO2) dan basa (OH-) di dalam plasma
biasanya dinetralkan oleh buffer protein.
CO2(g) + H2O(l)
H2CO3(aq)
H2CO3(aq) + protein-(aq)
HCO3-(aq)
+ HProtein(aq)
Protein + H+(aq)
H-Protein

Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan dipakai buffer H2CO3 dan HCO3- karena ada hubungan dengan
kemampuan pengeluaran CO2.
Bila kelebihan asam [H3O+] , berarti pH turun maka pusat pernapasan akan
dirangsang sehingga pernapasan menjadi lebih dalam, akibatnya kelebihan CO2
akan dikeluarkan melalui paru-paru.
HCO3-(aq) + H3O+(aq)
H2CO3(aq) +
H2O(l)
H2CO3(aq)
H2O(l) CO2(g)
Bila kelebihan basa (OH-) akan diikat oleh H2CO3.
H2CO3(aq) +
OH-(aq)
HCO3- (aq)
+ H2O(l)
Bila kelebihan basa (OH-) akan diikat oleh H2CO3.
H2CO3(aq) +
OH-(aq)
HCO3- (aq)
+ H2O(l)
Pengontrolan pH oleh ginjal
Ion H+ juga dikeluarkan dari tubuh oleh ginjal melalui pembentukan ion dan dibuang
sebagai garam dalam urine.
HPO42-(aq) + H+(aq)
H2PO4-(aq)
Ketiga sistem ini (buffer, pernapasan, ginjal) bekerja sama mengatur pH darah menjadi
konstan. Jika salah satu tidak bekerja, dapat mengakibatkan fatal, dan kematian.

Proses Pelarutan Dari Sudut Pandang Molekul


2
1

Tahap 1.
Pemisahan
molekul
pelarut

Tahap 2.
Pemisahan
molekul
terlarut

Tahap
3.
Molekul
pelarut
dan
molekul
zat
terlarut
bercampur

Molekul-molekul pelarut terpisah dari kelompoknya. Tahap ini memerlukan


energi panas untuk mengatasi gaya tarik antar molekul.
Molekul-molekul dari zat terlarut terpisah dari kelompoknya. Tahap ini
memerlukan panas.
Molekul-molekul pelarut dan terlarut yang masing-masing telah berada
dalam keadaan terpisah itu selanjutnya bersatu membentuk larutan. Energi
panas dilepaskan pada tahap ini karena terjadi gaya tarik menarik antar
molekul pelarut dan molekul zat terlarut.

Gaya Tarik Menarik Antar Molekul


Partikel zat

Jenis ikatan

Ion
Molekul
Molekul
Molekul yang mengandung
gugus OH, - O -, - NH2, =
O, -NH-.

Ion
Kovalen polar
Kovalen murni
Kovalen polar

Gaya tarik menarik antar


partikel
Elektrostatik
Elektrostatik
Gaya Van der Waals
Bisa membentuk ikatan hidrogen

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan

1. Struktur molekul (sifat pelarut dan zat


terlarut)
2. Temperatur
3. Tekanan
4. Pengadukan
5. Besar kecilnya zat terlarut (luas permukaan
6. Cosolvensi
7. Salting Out
8. Salting In
9. Pembentukan Kompleks

Satuan Konsentrasi Larutan


No.

Pernyataan
Konsentrasi
Persen berat/berat

Simbol

Hubungan satuan

Penggunaan

% (w/w)

%(w/w) = massa zat x 100%

Kelarutan dan lainnya

Persen
volume/volume

% (v/v)

%(w/v)

4.

Persen
berat/volume
Molaritas

5.

Molalitas

m (molal)

1.
2.

3.

massa larutn

%(v/v) = (Volume zat/Volume larutan) x 100%


%(w/v) = massa zat x 100%
mL larutn

M (Molar) M = mol zat terlarut/Liter larutan


m = mol zat terlarut
kg pelarut

6.

Normalitas

N = ekivalen zat terlarut / Liter larutan

7.

Keformalan

F = massa rumus zat terlarut / Liter larutan

8.

Fraksi mol

X
X=

9.

Parts per milion ppm


(bagian persejuta)

10.

Osmolaritas

Osm

Beberapa penggunaan
praktis

mol zat terlarut


mol zat terlarut mol zat pelarut

jumlah zat
x 10 6
ppm =
jumlah larutn

Osm = mol partikel aktif osmotik


Liter larutn

Analisa kuantitatif dan


kualitatif
Sifat
koligatif,
elektrokimia,
termodinamika larutan
elektrolit
Analisa volumetri, daya
hantar ekivalen
Analisa kuantitatif dan
kualitatif
Sifat koligatif, hukum
Dalton, Hukum Raoult,
termodinamika
Larutan
encer

yang

Peristiwa osmosis

sangat