Anda di halaman 1dari 29

SEDIMENTASI

A. Tujuan Percobaan
:
- Mempelajari pengaruh

tinggi

suspensi

terhadap

kecepatan

pengendapan.
Mempelajari pengaruh konsentrasi padatan dalam suspensi terhadap

kecepatan pengendapan
Mempelajari pengaruh penamambahan flokulan dan flokulan dalam

suspensi terhadap kecepatan pengendapan


Menentukan konstanta sedimen dan titik kritis

B. Alat yang digunakan


:
- Gelas kimia
- Spatula
- Baskom
- Ayakan
- Timbangan
- Stopwatch
C. Bahan yang digunakan
:
- Kapur (CaCO3)
- Air bersi
- Flokulan (Pb(CH3COOH)2.3H20)

D. Dasar Teori

Secara mendasar, proses pemisahan dapat diterangkan sebagai proses perpindahan


massa. Proses pemisahan sendiri dapat diklasifikasikan menjadi proses pemisahan secara
mekanis atau kimiawi. Pemilihan jenis proses pemisahan yang digunakan bergantung
pada kondisi yang dihadapi. Pemisahan secara mekanis dilakukan kapanpun
memungkinkan karena biaya operasinya lebih murah dari pemisahan secara kimiawi.

Untuk campuran yang tidak dapat dipisahkan melalui proses pemisahan mekanis (seperti
pemisahan minyak bumi), proses pemisahan kimiawi harus dilakukan.
Proses pemisahan suatu campuran dapat dilakukan dengan berbagai metode.
Metode pemisahan yang dipilih bergantung pada fasa komponen penyusun campuran.
Suatu campuran dapat berupa campuran homogen (satu fasa) atau campuran heterogen
(lebih dari satu fasa). Suatu campuran heterogen dapat mengandung dua atau lebih fasa:
padat-padat, padat-cair, padat-gas, cair-cair, cair-gas, gas-gas, campuran padat-cair-gas,
dan sebagainya. Pada berbagai kasus, dua atau lebih proses pemisahan harus
dikombinasikan untuk mendapatkan hasil pemisahan yang diinginkan.
Untuk proses pemisahan suatu campuran heterogen, terdapat empat prinsip utama
proses pemisahan, yaitu:

Sedimentasi

Flotasi

Sentrifugasi

Filtrasi
Untuk proses pemisahan suatu campuran homogen, prinsip pemisahan adalah

menciptakan suatu fasa baru sehingga campuran menjadi suatu campuran heterogen yang
mudah dipisahkan. Fasa baru diciptakan dengan memanfaatkan perbedaan sifat fisik dan
kimiawi masing-masing komponen. Berbagai metode yang digunakan untuk menciptakan
suatu fasa baru sehingga campuran homogen dapat dipisahkan adalah:

Absorpsi

Adsorpsi

Kromatografi

Kristalisasi

Distilasi

Evaporasi

Elektroforesis
Evaporation

Ekstraksi
o Leaching

Ekstraksi cair-cair

Ekstraksi padat-cair

Pembekuan fraksional

Presipitasi

Rekristalisasi

Stripping

Sublimasi
Proses sedimentasi adalah proses separasi secara mekanis yang memanfaatkan

gaya grafitasi bumi. Sedimentasi dilakukan untuk memisahkan partikel-partikel padat


maupun cair dari suatu cairan atau gas tertentu. Melalui proses sedimentasi ini, maka
partikel-partikel padat dapat diklasifikasikan menurut massa jenis dan ukuran partikelnya.
Contoh proses sedimentasi ini :

Pengendapan lumpur dan zat padat lainnya pada cairan yang keruh.

Pemisahan minyak dan air ditempat pencucian mobil.


Dibandingkan dengan proses filtrasi, maka proses sedimentasi cenderung lebih

ekonomis jika partikel-partikel penyusun campuran tersebut memiliki perbedaan massa


jenis yang besar, ukuran partikel yang besar dan campuran tersedia dalam jumlah yang
sangat banyak.

Gambar 1a memperlihatkan suspensi didalam suatu tabung pengendap dengan


kedalaman Ho dan dibiarkan mengendap dengan sendirinya dalampengaruh gaya berat.
Sesuai dengan laju pengendapannya, maka akan trbentuk endapan didasar tabung pada
zone D dan bersamaan dengan itu terbentuk pula suatu lapisan lapisan lain (zone A, B
dan C seperti terlihat pada gambar 1b).
Zone A adalah suatu lapisan dimana terdapat suatu cairan yang paling jernih,
sedangkan zone B adalah lapisan dimana terdapat suspensi awal.
Dibawah zone B terdapat zone C yang mengandung partikel - partikel padat
dengan konsentrasi lebih besar daripada dizone B. Jika partikel padat pada suspensi sulit
teraglomerasi, maka zane A akan terlihat agak keruh sekeruh zone B sehingga batas antar
muka (interface) zane A dan zone B menjadi kabur dan sulit diamati.
Selama proses pengendapan berlangsung, kedalaman zone A dan zone D
bertambah, sedangkan zone C tetap dan zone B berkurang (gambar 1c). Dengan makin
bertambahnya zone D, maka terjadi pula proses pemampatan (kompresi), dimana ruangruang antar partkiel dibagian bawah zone D yang terisi oleh cairan seakanakan terperas
keluar akibat tertekan oleh berat partikel-partikel yangterus berjatuhan dari zone C.Proses
pemampatan ini mengakibatkan memadatnya endapan dibagian bawah zone D.
Seterusnya setelah zone B makin menipis dan akhirya menghilang, perlahan-lahan
zone C juga akan ikut menghilang sehingga akhirnya seluruh partikel partikel padat
berada di zone D (gambar 1d). Setelah itu praktis hanya proses pemampatan saja yang
masih berlangsung. Proses pemampatan ini akan berhenti jika telah terjadi kondisi
kesetimbangan mekanik antara zat cair dengan endapan. Dengan selesainya prose
pemampatan ini, maka selesai pula proses pengendapan (gambar 1e).

Laju sedimentasi partikel dapat diamati secara garfish dengan menggambarkan


setiap halaman interface zane A dan zone B pada satuan waktu tertentu. Laju sedimentasi
suatu suspensi tertentu bergantung kepada banyak faktor antara lain:
1. Konsentrasi suspensi
Laju pembentukan endapan menurun dengan meningkatnya konsentrasi tetapi
penurunannya lebih lambat dari pada saat konsentrasi meningkat.Semakin tinggi
konsentrasi suspensi semakin rendah pula laju turunnya garis padatan karena besarnya
kecepatan ke atas cairan yang dipindahkan.Berdasarkan konsentrasi dan sifat partikel
untuk berinteraksi dari suspensi yang akan mengendap tipe sedimentasi dibedakan
atas 4 type yaitu:

Tipe 1:

Klasifikasi tingkat 1

Menunjukkan pengendapan dari partikel bebas yang ada dalam suspensi yang
mempunyai konsentrasi kepadatan rendah.partikel akan mengendapkan secara
individu dan tidak berinteraksi dengan partikel sekelilingnya.

Tipe 2:

Klasifikasi tingkat 2

Menunjukkan pengendapan dari partikel yang mempunyai kecenderungan untuk


berinteraksi atau dengan mengumpul partikel sekelilingnya pada suspensi yang
mempunyai kepadatan rendah.Dengan penggumpalan,massa partikel bertambah
besar dan akan diendapkan dalam waktu yang lama.

Tipe 3:

Klasifikasi daerah pengendapan

Menunjukkan pengendapan yang mempunyai konsentrasi tinggi dimana gaya


interaksi antara partikel cenderung untuk tetap dalam posisinya dan menyebabkan
pengendapan partikel secara merata sehingga terlihat suatu perbedaan yang jelas
pada lapisan permukaan cairan .

Tipe 4:

Daerah kompresi

Menunjukkan pengendapan partikel sedemikian rupa sehingga bentuk suatu


struktur yang kompak. Hal ini disebabkan oleh massa partikel yang bertambah
secara terus menerus selama proses pengendapan berlangsung.
2. Perbandingan luas permukaan dengan kedalaman suspensi

Semakin luas permukaan suatu suspensi maka kedalaman suspensi tersebut semakin
rendah maka proses pengendapannya pun akan berlangsung semakin cepat.
3. Ukuran partikel
Semakin besar ukuran partikel maka proses pengendapan akan semakin cepat dan
sebaliknya semakin kecil ukuran partikel maka proses pengendapan akan berlangsung
lambat.
4. Adanya zat flokulan yang memicu menggumpalnya partikel- partikel

menjadi

partikel berukuran lebih besar.


Dengan penambahan flokulan akan banyak membantu pembentukan
gumpalan-gumpalan baru karena terdapat inti dari kelompok-kelompok yang saling
bersatu sehingga akan terbentuk endapan yang lebih besar dan berat yang sangat
mudah dipisah.Penggabungan partikel dapat terjadi bilamana ada kontak antara
partikel tersebut.Pada flokulasi terjadi penambahan volume, massa dan kohesi dari
partikel-partikel.Ukuran partikel ini diubah dengan cara:

Difusi sempurna secara cepat dari koagulan dengan pengadukan singkat.

Pengadukan secara perlahan-lahan dan merata untuk menambah muatan


partikel-partikel koloid.

Pemakaian produk sebagai agen flokulasi dengan mempercepat reaksi.

5. Pengadukan
Pengadukan data menyebabkan penggabungan partikel melalui kontak yang
dihasilkan oleh gerakan cairan itu sendiri.Semakin cepat pengadukan maka akn
semakin lambat proses pengendapan dan sebaliknya.Hal ini terjadi karena apabila
pengadukan cepat maka flok yang sudah terbentuk pecah lagi atau flok belum
terbntuk secara sempurna.
6. Aliran
Aliran berpengaruh terhadap konsentrasi cairan suspensi yang tidak seragam.
Peningkatan laju alir massa sebagai akibat tingginya densitas padatan dalam lapisan
sedimen sehingga proses pengendapan berlangsung lambat.
7. Dan lain sebagainya.

Dalam percobaan ini dipelajari 4 faktor yang mempengaruhi

kecepatan

pengendapan suatu suspensi, yakni faktor ketinggian suspensi, faktor konsentrasi


suspensi, faktor penambahan zat flokulan dan ukuran partikel.
Zat flokulan adalah zat yang memiliki sifat mampu membentuk partikelpartikel
menjadi suatu flok ( gabungan partikelpartikel menjadi partikel berukuran lebih besar).
Sehingga pengendapan berlangsung relative lebih cepat.
Berikut adalah rumus sedimentasi :
Ln (H He) = -b . t + Ln (Hc He)

Keterangan :
H

: Ketinggian interface A B pada saat t

He

: Ketinggian akhir sediment

Hc

: Ketinggian kritis, yakni ketinggian interface A D

: Waktu proses sedimentasi

Konstanta pengendapan.

Partikel-partikel yang lebih berat dari flui da temapt partikel itu tersuspensi dapat
dikeluarkan di dalam kotak pengendap atau tangki pengendap, dimana kecepatan fluida
itu cukup kecil dan partikel itu mendapat waktu yang cukup untuk mengendap keluar dari
suspensi itu. Akan tetapi, piranti sederhana seperti itu terbatas kegunaannya karena
pemisahannya tidaklah tetap, disampaing itu memerlukan tenaga kerja untuk
menggeluarkan zat padat dari dasar tangki.
Separator-separator industri hampir semuanya mempunyai fasilitas untuk
mengeluarkan zat padat yang mengendap, pemisahan itu bisa sebagian atau bisa pula
hampir lengkap. Peralatan pengendap yang dapat memisahkan hampir seluruh partikel
dari zat cair dinamakan Klarifikator sedang pirranti yang memisahkan zat padat menjadi
2 fraksi disebut Klasifikator, pada kedua alat ini berlaku prinsip sedimentasi yang sama

Untuk klasifikasi atau pemisahan zat padat yang agak kasar yang mempunyai
kecepatan pengendapan cukup besar, pemisahan dengan gravitasi pada kondisi
pengendapan bebas atau terganggu biasanya cukup memuaskan. Untuk memisahkan
partikel halus yang diameternya

beberpaa mikrometer atau kurang, kecepatan

pengendapannya terlalu rendah dan agar operasinya praktis partikel-partikel itu mesti di
aglomerasikan atau diflokulasikan sehingga menjadi partikel besar yang mempunyai
kecepatan pengendapan yang memadai.
Partikel yang terflokulasi mempunyai 2 karakeristik pengendapan yang penting.
Karakteristik yang pertama ialah bahwa struktur flok itu sangat rumit. Agregasinya
longgar dan ikatan antara partikel-partikelnya lemah dan flok itu mengandung air yang
cukup banyak didalam strukturnya, yang ikut bersama flok itu turun kebawah. Walaupun
pada mulanya flok itu mengendap dalam pengendapan bebas atau terganggu, dan
persamaan umum pada prinsaipnya berlaku, namun tidaklah praktis bila kita
menggunakan hukum-hukum pengendapan secara kuantitatif karena diameter dan bentuk
flok itu tidak mudah didefenisikan.

E. Prosedur Kerja

Menyiapkan peralatan dan bahan yang digunakan.

Menghaluskan bubuk kapur

Mengayak bubuk kapur di dalam baskom.

Melakukan percobaan dengan variasi ketinggian berbeda konsentrasi


sama

Ditimbang kapur sebanyak 78 gram, 65 gram, dan 52 gram.

Kemudian kapur 78 gram dimasukkan ke dalam tabung nomor 1, 65 gram


ke dalam tabung 2, dan 52 gram ke dalam tabung nomor 3.

Dimasukkan air 1200 ml ke dalam tabung nomor 1, 1000 ml ke dalam


tabung nomor 2, dan 800 ml ke dalam tabung nomor 3.

Kemudian dihomogenkan masing-masing larutan dalam tabung dengan


membolak-balikkan tabung secara bersamaan

Diletakkan masing-masing pada tempat sedimentasi

Diamati perubahan ketinggian setiap interval waktu 3 menit dari ketiga


tabung tersebut.

Pengamatan dihentikan setelah tidak terjadi lagi perubahan ketinggian.


Variasi konsentrasi berbeda ketinggian sama

Ditambahkan air pada tabung 2 sebanyak 200 ml dan pada tabung


ketiga sebanyak 400 ml.

Dihomogenkan kembali ketiga tabung dengan membolak-balikkan

tabung secara bersamaan lalu diletakkan di tempat sedimentasi


Pengamatan diakukan kembali dengan interval waktu 3 menit sampai

tidak lagi terjadi perubahan ketinggian pada ketiga tabung.


Variasi Konsentrasi dan ketinggian sama dengan penambahan

flokulan.

Ditambahkan kapur sebanyak 13 gram pada tabung 2 dan 26 gram kapur pada
tabung 3.

Ditambahkan zat flokulan sebanyak 0.1 gram pada tabung 1, 0.2 gram
pada tabung 2, dan 0.3 gram pada tabung 3.

Ketiga tabung ditutup dan dikocok secara bersamaan, lalu diletakkan di


tempat sedimentasi.

Pengamatan diakukan kembali dengan interval waktu 1 menit sampai


tidak lagi terjadi perubahan ketinggian pada ketiga tabung.

F. Data Pengamatan
1. Percobaan I dengan variasi ketinggian awal beda, konsentasi sama.
No
T
H1
H2
H3
(Menit
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

)
0
3
6
9
12
15
18
21
24
27
30
33
36
39
42
45
48
51
54

(mm)
600
545
495
450
409
360
319
280
249
215
194
180
170
160
153
145
138
132
126

(mm)
500
455
410
369
325
285
250
213
180
161
148
138
130
124
116
110
104
99
95

(mm)
400
355
315
275
235
202
169
140
123
113
104
98
92
87
81
77
73
69
68

20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

57
60
63
66
69
72
75
78
81
84

121
116
112
108
104
100
99
95
95
95

90
87
85
82
80
79
79
79
-

65
64
64
64
-

2. Percobaan II dengan variasi ketinggian awal sama, konsentasi beda.


No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

T
(Menit

H1

H2

H3

)
0
3
6
9
12
15
18
21
24
27
30
33
36
39
42
45
48
51
54
57
60
63
66
69
72
75
78
81
84
87
90
93
96
99

(mm)
605
560
522
487
450
415
379
342
308
275
240
209
194
180
170
163
155
148
141
135
130
125
120
115
111
107
104
100
98
97
97
95
95
95

(mm)
605
550
500
457
408
364
318
275
235
196
161
141
136
129
121
115
110
99
99
95
90
87
85
82
81
80
80
79
79
79
-

(mm)
605
530
460
400
330
270
218
172
121
110
101
99
89
83
79
74
70
69
68
66
65
64
64
62
61
61
61
61
-

3. Percobaan III dengan variasi ketinggian awal dan konsentasi sama.


No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

t
(Menit

H1

H2

H3

)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

(mm)
650
465
290
255
230
213
199
188
180
174
168
164
156
155
154
149
148
146
145
144
144
144
144

(mm)
650
420
282
245
220
205
193
184
177
172
168
164
159
156
155
154
148
146
145
144
144
144
144

(mm)
650
415
295
255
230
213
199
188
180
174
168
164
156
156
155
154
149
148
146
144
144
144
144

G. Perhitungan dan Grafik


1. Percobaan I dengan variasi ketinggian awal beda, konsentasi sama.

Menghitung konsentrasi pada percobaan I


Konsentrasi pada tabung 1
b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

78 g ram
x 100
gr
1200 ml x 1
+78 gram
ml

= 6.10 %
Konsentrasi pada tabung 2
b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

65 gram
x 100
gr
1000 ml x 1
+65 gr
ml

=6.10 %
Konsentrasi pada tabung 3
b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

52 gram
x 100
gr
800 ml x 1
+52 gr
ml

=6.10 %
Membuat grafik waktu vs ketinggian pada percobaan I
Grafik waktu vs ketinggian pada tabung I

Grafik waktu vs ketinggian pada tabung II

Grafik waktu vs ketinggian pada tabung III

Membuat grafik t vs ln (H-He) pada percobaan I


Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 1

Grafik t vs ln (H-He)
5.5
5

f(x) = - 0.01x + 5.51

ln (H-He) 4.5
4
35

45

55

65

t (menit)

Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 2

75

85

95

Grafik waktu vs ln (H-He)


5

ln (H-He)

f(x) = - 0.01x + 5.22

4.5
4

35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85
Waktu

Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 3

Grafik t vs ln (H-He)
4.8
4.6
f(x) = - 0.01x + 4.98

4.4
ln (H-He) 4.2
4
3.8
30

35

40

45

50

55

60

65

70

t (menit)

Menghitung nilai HC dan konstanta pengendapan pada percobaan I,


serta menbandingkan nilai Hc pada grafik t vs H dengan grafik t vs ln
(H-He).
ln (H-He) = Intersept
HC-He = exp (Intersept)
HC
= exp (Intersept) + He
ln (H-He) = -b
slope
= -b
-slope
=b
Pada tabung 1
Persamaan :
Slope
b
-b

y = -0.0122x + 5.0366
= -0.0122
= -0.0122
= 0.0122

Titik kritis (HC) = 170

ln (H-He)
(H-He)
(H-He)
HC
Pada tabung 2
Persamaan :
Slope
b
-b
Titik kritis (HC)
ln (H-He)
(H-He)
(H-He)
HC
Pada tabung 3
Persamaan :
Slope
b
-b
Titik kritis (HC)
ln (H-He)
(H-He)
(H-He)
HC

= 5.0366
= e 5.0366
=153.94
=153.94+95
= 248.94
y = -0.0119x + 4.7583
= -0.0119
= -0.0119
= 0.0119
= 130
= 4.7583
= e 4.7583
=116.55
=116.55+79
= 195.55
y = -0.0136x + 4.5325
= -0.0136
= -0.0136
= 0.0136
= 105
= 4.5325
= e 4.5325
=92.99
=92.99+64
= 156.99

2. Percobaan II dengan variasi ketinggian awal sama, konsentasi beda.


Menghitung konsentrasi pada percobaan II
Konsentrasi pada tabung 1
b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

78 gram
x 100
gr
1200 ml x 1
+78 gram
ml

= 6.10 %
Konsentrasi pada tabung 2
b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

65 gram
x 100
gr
1200 ml x 1
+85 gram
ml

= 5.14 %
Konsentrasi pada tabung 3
b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

52 gram
x 100
gr
1200 ml x 1
+52 gram
ml

= 4.15%

Membuat grafik waktu vs ketinggian pada percobaan II


Grafik waktu vs ketinggian pada tabung 1

Grafik waktu vs ketinggian pada tabung 2

Grafik waktu vs ketinggian pada tabung 3

Membuat grafik t vs ln (H-He) pada percobaan II


Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 1

Grafik t vs ln (H-He)
5.5
5

f(x) = - 0.01x + 5.47

ln (H-He) 4.5
4
35

45

55

65

75

t (menit)

Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 2

85

95

105

Grafik (H-He)
5

ln (H-He)

f(x) = - 0.01x + 5.17

4.5
4
35

45

55

65

75

85

95

80

90

t (menit)

Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 3

Grafik t vs ln (H-He)
4.8
4.6
4.4

f(x) = - 0.01x + 4.81

ln (H-He) 4.2
4
3.8
30

40

50

60

70

t (menit)

Menghitung nilai HC dan konstanta pengendapan pada percobaan II,


serta menbandingkan nilai Hc pada grafik t vs H dengan grafik t vs ln
(H-He).
ln (H-He) = Intersept
HC-He = exp (Intersept)
HC
= exp (Intersept) + He
ln (H-He) = -b
slope
= -b
-slope
=b
Pada tabung 1
Persamaan :
Slope
b
-b

y = -0.0101x + 4.9879
= -0.0101
= -0.0101
= 0.0101

Titik kritis (HC) = 175

ln (H-He)
(H-He)
(H-He)
HC
Pada tabung 2
Persamaan :
Slope
b
-b

= 4.9879
= e 4.9879
=146.62
=146.62+95
= 241.62
y = -0.0103x + 4.7714
= -0.0103
= -0.0103
= 0.0103

Titik kritis (HC) = 140


ln (H-He)
= 4.7714
(H-He)
= e 4.7714
(H-He)
=118.08
HC
=118.08+79
= 197.08
Pada tabung 3
Persamaan :
Slope
b
-b

y = -0.0095x + 4.4654
= -0.0095
= -0.0095
= 0.0095

Titik kritis (HC) = 105


ln (H-He)
= 4.4654
(H-He)
= e 4.4654
(H-He)
=86.95
HC
=86.95+61
= 147.95
3. Percobaan III dengan ketinggian awal dan konsentasi sama, serta
ditambahkan flokulan
Menghitung konsentrasi pada percobaan III
Konsentrasi pada tabung 1
b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

78 gram
x 100
gr
1200 ml x 1
+78 gram
ml

= 6.10 %
Konsentrasi pada tabung 2
b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

78 gram
x 100
gr
1200 ml x 1
+78 gram
ml

= 6.10 %

Konsentrasi pada tabung 2


b
m
=
x 100
% b (V x )+ m

78 gram
x 100
gr
1200 ml x 1
+78 gram
ml

= 6.10 %
Membuat grafik waktu vs ketinggian pada percobaan III
Grafik waktu vs ketinggian pada tabung 1

Grafik waktu vs ketinggian pada tabung 2

Grafik waktu vs ketinggian pada tabung 3

Membuat grafik t vs ln (H-He) pada percobaan III


Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 1

Grafik t vs ln (H-He)
5.4
5.2
ln (H-He)

f(x) = - 0.02x + 5.29

5
4.8
5

11 13 15 17 19 21 23
t (menit)

Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 2

Grafik t vs ln (H-He)
5.2
5.1
ln (H-He)

f(x) = - 0.02x + 5.28

5
4.9
4.8
5

11 13 15 17 19 21 23
t (menit)

Grafik t vs ln (H-He) pada tabung 3

Grafik t vs ln (H-He)
f(x) = - 0.02x + 5.29
ln (H-He)

11 13 15 17 19 21 23
t (menit)

Menghitung nilai HC dan konstanta pengendapan pada percobaan III,


serta menbandingkan nilai Hc pada grafik t vs H dengan grafik t vs ln
(H-He).
ln (H-He) = Intersept
HC-He = exp (Intersept)
HC
= exp (Intersept) + He
ln (H-He) = -b
slope
= -b
-slope
=b
Pada tabung 1
Persamaan :
Slope
b
-b

y = -0.0052x + 5.1456
= -0.0052
= -0.0052
= 0.0052

Titik kritis (HC) = 230


ln (H-He)
= 5.1456
(H-He)
= e 5.1456
(H-He)
=171.67
HC
=171.67+144
= 315.67
Pada tabung 2
Persamaan :
Slope
b
-b

y = -0.0051x + 5.1453
= -0.0051
= -0.0051
= 0.0051

Titik kritis (HC) = 230

ln (H-He)
(H-He)
(H-He)
HC

= 5.1453
= e 5.1453
=171.62
=171.62+144
= 315.62

Pada tabung 3
Persamaan :
Slope
b
-b

y = -0.0052x + 5.1496
= -0.0052
= -0.0052
= 0.0052

Titik kritis (HC) = 230


ln (H-He)
= 5.1453
(H-He)
= e 5.1496
(H-He)
=172.36
HC
=172.36+144
= 316.36

4. Gabungan grafik t vs H
Grafik waktu vs ketinggian pada percobaan I

Grafik waktu vs ketinggian


800
600

H1

H (mm) 400
200

H2
H3

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
t (menit)

Grafik waktu vs ketinggian pada percobaan II

Grafik waktu vs ketinggian


800
600

H1

H (mm) 400
200

H2

0
0

H3
20

40

60

80

100 120

t (menit)

Grafik waktu vs ketinggian pada percobaan III

Grafik waktu vs ketinggian


800
600

H1

H (mm) 400
200

H2

0
0

H3
5

10

15

20

25

t (menit)

5. Gabungan grafik t vs ln (H-He)


Grafik t vs ln (H-He) pada percobaan I
f(x) =

Grafik t vs ln (H-He)
H1

5
4.5

ln (H-He)

f(x) = - 0.01x + 5.15


f(x) = - 0.01x + 4.98

Linear (H1)
H2
Linear (H2)

H3

3.5
30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90
t (menit)

Grafik t vs ln (H-He) pada percobaan 2

Linear (H3)

f(x) =

Grafik t vs ln (H-He)
5

H1

4.5
ln (H-He)

f(x) = - 0.01x + 5.14

Linear (H1)

f(x) = - 0.01x + 4.81

H2
Linear (H2)

H3
3.5

Linear (H3)
30

40

50

60

70

80

90

100

110

t (Menit)

Grafik waktu vs ketinggian pada percobaan III

Grafik t vs ln (H-He)
5.3

H1

5.2

Linear (H1)

5.1
ln (H-He)

f(x) = - 0.02x + 5.29


5.28

H2

Linear (H2)

4.9

H3

4.8

Linear (H3)
5

11

13

15

17

19

21

23

t (Menit)

H. Pembahasan
Nama : Muh Ashabul Kahfi
Kelas

: 2.C

Nim

: 331 14 065
Pada praktikum kali ini yakni sedimentasi, sedimentasi sendiri merupakan suatu

proses yang bertujuan untuk memisahkan padatan tersuspensi dalam air dengan cara
pengendapan. Dimana partikel yang mengendap disebut slurry dan cairan yang jernih
disebut supernatant. Prinsip kerja pada sedimentasi sendiri cukup sederhana adalah
dengan membiarkan padatan mengendap dengan sendirinya. Setelah partikel - partikel
mengendap maka air yang jernih dapat dipisahkan dari padatan yang semula tersuspensi
di dalamnya. Kecepatan pengendapan partikel yang terdapat di air tergantung pada berat
jenis, bentuk dan ukuran partikel, viskositas air dan konsentrasi padatan.

Pada percobaan kali ini dilakukan 3 kali pengujian dengan kapur sebagai zat
tersuspensi dicampurkan dalam air, pada percobaan pertama dengan konsentrasi suspensi
berbeda dan ketinggian awal berbeda, kedua dengan konsentrasi berbeda dan ketinggian
awal sama dan yang terakhir dengan konsentrasi sama dan ketinggian awal sama beserta
penambahan flokulan.
Pada hasil praktikum dapat dilihat pada percobaan pertama dengan konsentrasi
suspensi berbeda dan ketinggian berbeda, semakin tinggi konsentrasi padatan maka waktu
yang dibutuhkan untuk mengendap sempurna semakin lama. Lalu nilai Hc yang diperoleh
pada grafik menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi atau ketinggian awal maka
nilai Hc yang diperoleh semakin tinggi hal tersebut dapat dilihat pada grafik waktu vs
ketinggian pada percobaan pertama.
Pada percobaan kedua dengan konsentrasi berbeda dan ketinggian awal yang sama,
terjadi hal yang sama seperti pada percobaan pertama semakin tinggi konsentrasi padatan
maka waktu yang dibutuhkan untuk mengendap sempurna semakin lama, lalu nilai Hc
yang diperoleh dari grafik menunjukkan walaupun ketinggian awal sama namun nilai Hc
yang diperoleh berbeda karena dipengaruhi oleh konsentrasi padatan.
Pada percobaan ketiga dengan konsentrasi yang sama dan ketinggian awal yang
sama beserta penambahan flokulan, dalam hal ini digunakan flokulan Lead(II) trihydrat
acetate (Pb(CH3COOH)3H2O). Dengan adanya flokulan maka memicu menggumpalnya
partikel- partikel menjadi partikel berukuran lebih besar. Penggabungan partikel dapat
terjadi bilamana ada kontak antara partikel tersebut. Pada hasil percobaan dapat dilihat
bahwa dengan adanya flokulan waktu yang dibutuhkan untuk mengendap sempurna
sangat cepat. Hal ini sesuai dengan literature bahwa semakin besar ukuran partikel maka
proses pengendapan akan semakin cepat dan sebaliknya semakin kecil ukuran partikel
maka proses pengendapan akan berlangsung lambat. Lalua nilai Hc yang diperoleh pada
grafik menunjukkan nilai pada tabung 1 dan 3 nilai Hc sama namun pada tabung 2 nilai
Hc berbeda walaupun sangat kecil perbedaannya, secara teori dikatakan bahwa dengan
ketinggian awal yang sama dan konsentrasi padatan sama maka akan diperoleh nilai Hc
yang sama. Hal yang mungkin menyebabkan nilai Hc pada tabung 2 berbeda karena
kesalahan praktikan selama praktikum yakni pada saat penimbangan bobotnya kurang
maupun saat mengukur volume air.
Kemudian yang terakhir pada hasil perhitungan secara grafik yang pertama
penentuan nilai Hc

yang digambarkan pada suatu garis singgung, lalu yang kedua

melalui suatu persamaan garis lurus. Pada hasil perhitungan melalui dua cara tersebut
nilai yang diperoleh berbeda. Hasil yang mungkin paling tepat pada persamaan garis
lurus, karena menurut praktikan kesalahan yang mungkin terjadi pada saat penarikan garis
singgung sangat besar, sehingga nilai yang diperoleh tidaklah sama.

I. Kesimpulan
Setelah melakukan pratikum sedimentasi, kami dapat menyimpulkan bahwa:

Sedimentasi adalah proses pemisahan yang memanfaatkan gaya gravitasi bumi


terhadap dilute slurry/suspension menjadi dua bagian, yakni bagian jernih dan
bagian yang memiliki kandungan padatan tinggi.

Faktor yang mempengaruhi sedimentasi adalah gaya gravitasi, berat jenis


partikel, dan penambahan koagulan.

Semakin tinggi suspensi maka laju sedimentasi semakin lambat.

Semakin besar konsentrasi suspensi maka laju sedimentasi semakin lambat.

Penambahan flokulan akan memperbesar partikel suspensi sehingga laju


sedimentasi semakin cepat.

Daftar Pustaka

Buku panduan praktikum Laboratorium Satuan Operasi; Teknik


Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang,

Mangampa Yakoba, Penelitian Akhir Proses Sedimentasi pada


Pengelolahan Air Over Flow Cooling Tower Di PT. PLN (PERSERO) Wilayah VIII
Sektor Tello, 1992.

Mc Cabe, Julia C Smith dan Peter Harriot Operasi Teknik


Kimia , jilid II tahun 1990.

Perry, J.H, (edr) ; Chemichal Engginer Handbook , Eds V, Mc


Graw-Hill, New York, 1973.

Foust, A.S, L.A. Wenzel, C.W.Clump, L.Maus, dan L.B.


Andersen : Principles of Unit Operations , eds 2.

Taggart, A.F. : Handbooks of Mineral Dressing : Ores and


Industrial Minerals , New York, 1945.