Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keyakinan manusia akan hukum kausalitas sudah ada sejak zaman kuno.
Bahwa tidak ada satupun peristiwa terjadi secara kebetulan, melainkan semuanya
mempunyai sebab yang mendahuluinya, dapat kita telusuri sejak peradaban
manusia dalam sejarah.Bukti itu dapat kita temui pada abad kelima sebelum
masehi, yaitu pada ucapan seorang Filosof Yunani Leucipos. Nihil fit sine causa
(tidaka ada satupun peristiwa yang tidak mempunyai sebab). Namun demikian
tidak berarti jauh sebelumnya manusia belum mengenal peristiwa sebab akibat.
Setiap kejadian baik kejadian alam maupun kejadian sosial tidaklah
terlepas dari rangkaian sebab akibat, peristiwa alam maupun sosial yang terjadi
merupakan rangkaian akibat dari peristiwa alam atau sosial yang sudah ada
sebelumnya. Setiap peristiwa sosial menimbulkan satu atau beberapa peristiwa
sosial yang lain, yang satu mempengaruhi yang lain sehingga merupakan satu
lingkaran sebab akibat. Hal ini disebut hubungan kausal yang artinya adalah
sebab akibat atau kausalitas.
Hubungan kausalitas dalam hukum pidana biasanya banyak di bahas dalam
ajaran causalitas (ajaran mengenai sebab dan akibat).Ajaran causalitas ini
bertujuan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan bilamanakah suatu
perbuatan dipandang sebagai suatu sebab dari akibat yang timbul atau dengan
perkataan lain ajaran causalitas bertujuan untuk mencari hubungan sebab dan
akibat seberapa jauh akibat tersebut ditentukan oleh sebab.
B. Rumusan Masalah
Pembahasan masalah dalam makalah ini dibatasi berdasarkan rumusan
berikut:
1. Mengapa ajaran kausalitas penting dalam hukum pidana?
2. Bagaimana ajaran kausalitas dalam KUHP?
3. Apa saja teori-teori dalam ajaran kausalitas?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pentingnya ajaran kausalitas dalam hukum


pidana
2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan ajaran kausalitas dalam KUHP
3. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan teori-teori dalam ajaran kausalitas
D. Manfaat

Adapun manfaat dari dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :


a. Mahasiswa dapat mengetahui Hubungan Kausalitas yang ternyata ada dalam
masyarakat
b. Menguasai berbagai macam metode dan mampu memanfaatkan metode-metode
tersebut menjadi sebuah penalaran yang jelas, efektif dan mudah dimengert
Ketepatan dalam Penalaran Kausalitas.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pentingnya Ajaran Kausalitas

Ajaran kausalitas adalah ajaran yang mempermasalahkan hingga seberapa


jauh suatu tindakan itu dapat dipandang sebagai penyebab dari suatu keadaan,
atau hingga berapa jauh suatu keadaan itu dapat dipandang sebagai suatu akibat
dari suatu tindakan, dan sampai dimana seseorang yang telah melakukan tindakan
tersebut dapat diminta pertanggungjawabannya menurut hukum pidana.
Ilmu pengetahuan hukum pidana mengenal beberapa jenis delik yang penting
dalam ajaran causalitas adalah perbedaan antara delik formal dan delik materiil.
Yang dimaksud dengan delik formal adalah delik yang telah dianggap penuh
dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan suatu
hukuman.1
Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan dengan melarang
melakukan tingkah laku tertentu, artinya dalam rumusan itu secara tegas
disebutnya wujud perbuatan tertentu yang terlarang. Perbuatan tertentu inilah
yang menjadi pokok larangan dalam tindak pidana formil. Dalam hubungannya
dengan penyelesaian tindak pidana formil, kriterianya ialah pada perbuatan yang
dilarang tersebut. Apabila perbuatan terlarang selesai dilakukan, maka selesai
pulalah tindak pidana, tanpa melihat atau bergantung pada akibat apa dari
perbuatan itu.2
Delik materiil

adalah

delik

yang

telah

dianggap

selesai

dengan

ditimbulkannya akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undangundang. Tindak pidana materiil ialah tindak pidana yang dirumuskan dengan
melarang menimbulkan akibat tertentu disebut akibat terlarang. Titik beratnya
larangan pada menimbulkan akibat terlarang (unsur akibat konstitutif).3
Contohnya adalah pembunuhan. Terjadinya suatu pembunuhan tidak bergantung
pada selesainya wujud perbuatan, tetapi apakah dari wujud perbuatan itu telah
menimbulkan akibat berupa matinya seseorang atau tidak. Walaupun pada
kenyataannya, seseorang telah menghujamkan pisau kepada perut seseorang,
1

Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Cet. III (Jakarta: Rajawali Press, 2012), h. 167.
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 2, Cet. II (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), h.
213.
3
Ibid., h. 213-214.
2

tetapi orang itu tidak mati, maka hal demikian belum dikatakan telah terjadi
pembunuhan.4
Terwujudnya tindak pidana materiil secara sempurna adalah apabila akibat
terlarang telah timbul dari tingkah laku. Dalam hal terwujudnya tindak pidana
materiil secara sempurna diperlukan 3 syarat esensial, yaitu:
a. terwujudnya tingkah laku.
b. terwujudnya akibat (akibat konstitutif atau constitutief gevolg)-, dan
c. ada hubungan kausal (causaal verband) antara wujud tingkah laku dengan
akibat konstitutif.5
Perbedaan antara tindak pidana formil dan tindak pidana materiil mempunyai
hubungan yang erat dengan hubungan sebab akibat atau ajaran kausalitas dalam
tindak pidana, terutama pada tindak pidana materiil. Untuk menentukan (dalam
praktik digunakan istilah untuk membuktikan) terwujudnya tingkah laku dengan
terwujudnya akibat, tidaklah terdapat kesukaran. Akan tetapi untuk menentukan
bahwa suatu akibat yang timbul itu apakah benar disebabkan oleh terwujudnya
tingkah laku akan mendapat kesukaran, berhubung seringkali timbulnya suatu
akibat tertentu disebabkan oleh banyak faktor yang saling berkaitan antara yang
satu dengan yang lainnya.6
Contohnya, seorang bapak yang mengidap penyakit jantung mengendarai
sepeda motor hendak menyeberangmengambil jalur yang lain dengan berbelok
ke kanan tanpa memperhatikan kendaraan dari arah belakang, dan ketika itu ada
sebuah mobil yang melaju dari arah belakang. Menghadapi keadaan seperti itu si
pengendara mobil menginjak rem sekuat tenaga sehingga mengeluarkan suara
gesekan ban dijalan yang keras, yang menyebabkan bapak tadi terkejut. Walaupun
mobil tidak sampai menabrak/membentur keras sepeda motor, namun tiba-tiba di
depan mobil yang telah berhenti dan masih duduk di atas sadel sepeda motornya,
bapak itu rubuh dan jatuh pingsan. Kemudian segera dilarikan ke rumah sakit. Di

Mahrus Ali, Dasar-dasar Hukum Pidana, Cet. II (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h. 105.
Adami Chazawi, Op.Cit., h. 214.
6
Ibid., h. 215.
5

rumah sakit ia tidak segera mendapatkan pertolongan, setengah jam kemudian


meninggal dunia.7
Peristiwa di atas, merupakan satu contoh yang sulit dalam praktik hukum
untuk menentukan ada tidaknya causaal verband antara wujud perbuatan (pada
contoh di atas: mengemudikan kendaraan dengan tiba-tiba menginjak rem)
dengan akibat yang timbul yakni kematian bapak tadi. Apakah yang menjadi
peryebab kematian bapak ini? Pada peristiwa di atas, terdapat beberapa faktor
yang berpengaruh sehingga pada ujungnya menimbulkan kematian. Rangkaian
faktor itu ialah:
a. korban berbelok kanan-menyeberang dengan tiba-tiba,
b. pengemudi mobil dengan sekuat tenaga menginjak rem,
c. adanya bunyi keras dari gesekan ban dengan aspal; menyebabkan
d. korban terkejut; menyebabkan
e. kambuhnya penyakit jantung korban,
f. tidak segera mendapatkan pertolongan medis.8
Dalam penentuan pertanggung jawaban pidana, mencari dan menetapkan
faktor yang menyebabkan kematian, ajaran kausalitas menjadi penting. Ajaran
kausalitas akan menunjukkan perbuatan mana sebenarnya yang harus dianggap
sebagai penyebab dari timbulnya akibat.9
Bahwa ajaran kausalitas selain penting dalam hal mencari dan untuk
menentukan adanya hubungan kausal antara wujud perbuatan dan akibat dalam
tindak pidana materiil, juga penting dalam hal mencari dan menentukan adanya
hubungan kausal antara wujud perbuatan dengan akibat dalam tindak pidana yang
dikualifisir oleh unsur akibatnya. Tindak pidana yang dikualifisir oleh unsur
akibatnya ialah suatu tindak pidana bentuk pokok (eenvoudige delicten) yang
ditambah dengan satu unsur khusus yakni unsur akibat yang timbul dari
perbuatan, baik unsur akibat yang menjadikan tindak pidana lebih berat maupun
menjadi lebih ringan.
Contoh unsur akibat yang menjadikan lebih berat dari bentuk pokoknya yakni
pada penganiayaan (Pasal 351 ayat (1) KUHP) yang menimbulkan akibat luka
7

Ibid.
Ibid., h. 216.
9
Mahrus Ali, Op.cit., h. 106.
8

berat (Pasal 351 ayat (2) KUHP), atau menimbulkan kematian (351 ayat (3)
KUHP). Luka berat atau kematian adalah merupakan unsur khusus dari
penganiayaan yang menyebabkan penganiayaan yang dikualifisir oleh unsur
akibat itu menjadi lebih berat daripada bentuk pokoknya .10
B. Ajaran Kausalitas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Penentuan sebab suatu akibat dalam hukum pidana merupakan suatu hal yang
sulit dipecahkan. Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pada
dasarnya tidak tercantum petunjuk tentang cara untuk menentukan sebab suatu
akibat yang dapat menciptakan suatu delik. KUHP hanya menentukan dalam
beberapa pasalnya, bahwa untuk delik-delik tertentu diperlukan adanya suatu
akibat tertentu untuk menjatuhkan pidana terhadap pembuat, seperti misalnya
Pasal 338 KUHP tentang kejahatan terhadap nyawa. Bahwa pembunuhan hanya
dapat menyebabkan pelakunya dipidana apabila seseorang meninggal dunia oleh
pembuat menurut Pasal 338 KUHP tersebut. Kemudian Pasal 378 KUHP tentang
perbuatan curang, bahwa penipuan hanya dapat menyebabkan pembuatnya
dipidana bilamana seseorang menyerahkan barang, memberi hutang maupun
menghapuskan piutang karena terpengaruh oleh rangkaian kebohongan dan tipu
muslihat pembuat sebagaimana tersebut dalam pasal itu.11
Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, dapat diketahui bahwa terjadinya
delik atau actus reus hanya ada pada delik yang mensyaratkan adanya akibat
tertentu, yaitu:
a. Delik materiil, misalnya pembunuhan (Pasal 338 KUHP), penipuan (Pasal
378 KUHP).
b. Delik culpa, misalnya karena kelalaiannya menyebabkan kematian orang lain
(Pasal 359 KUHP), karena lalainya menyebabkan lukanya orang lain (Pasal
360 KUHP).12
Ada pula yang berupa syarat yang memperberat pidana dengan terjadinya
akibat tertentu pada suatu delik atau delik-delik yang dikualifikasikan karena
10

Adami Chazawi, Op.cit., h. 217.


Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 175.
12
Ibid.
11

akibatnya, misalnya penganiayaan yang berunsurkan luka berat (Pasal 351 ayat
(2) KUHP) dan matinya orang lain (Pasal 351 ayat (3) KUHP), Pasal 187 ayat (3)
KUHP yang mengandung unsur timbulnya bahaya terhadap nyawa orang lain dan
mengakibatkan matinya orang.
Tentang keadaan luka berat dan matinya orang lain inilah yang dapat disebut
sebagai keadaan yang secara obyektif memperberat pidana, artinya dalam
keadaan biasa yang pembuat sengaja menganiaya orang lain maka sanksi
pidananya hanya maksimal dua tahun delapan bulan penjara atau pidana denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah (Pasal 351 ayat (1) KUHP). Tetapi
apabila dalam keadaan yang secara obyektif, maka sanksi pidananya menjadi
lebih berat yakni yang mengakibatkan luka-luka berat menjadi paling lama lima
tahun penjara (Pasal 351 ayat (2) KUHP) dan yang mengakibatkan matinya orang
lain menjadi paling lama tujuh tahun penjara (Pasal 351 ayat (3) KUHP). Kalau
kesengajaan pembuat memang tertuju pada luka beratnya orang lain, maka yang
dikenakan ialah sanksi yang tersebut pada Pasal 354 KUHP dengan maksimum
sanksi delapan tahun penjara. Jikalau sengajanya memang tertuju kepada
kematian orang lain, maka ia dapat dikenakan sanksi menurut Pasal 338 KUHP
yaitu maksimum lima belas tahun.13
Di luar ketiga macam delik tersebut di atas, ada delik formil yang tidak
mensyaratkan adanya akibat tertentu, yaitu misalnya sumpah palsu (Pasal 242
KUHP), pemalsuan surat-surat (Pasal 263 KUHP), pencurian (Pasal 362 KUHP),
penghasutan (Pasal 160 KUHP), pemalsuan meterai dan merek (Pasal 253
KUHP), dan sebagainya. Dalam hal delik formil ini, ajaran kausalitas tidak
diperlukan, karena tidak disyaratkan adanya akibat tertentu.14
C. Macam-macam Ajaran Kausalitas
Ada beberapa macam ajaran kausalitas, yang dapat dikelompokkan kedalam 3
teori yang besar, yaitu: 1) teori conditio sine qua non, 2) teori-teori yang

13

H.A. Zainal Abidin, Hukum Pidana 1, Cet. II (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 207.
Andi Hamzah, Op.cit., h. 176.

14

mengindividualisir

(individualiserede

theorien),

dan

3) teori-teori

yang

menggeneralisir (genaraliserende theorien).


1. Teori Conditio Sine Qua Non
Teori ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1873 oleh Von Buri, seorang ahli
hukum Jerman yang pernah menjabat sebagai Presiden Reichtsgericht
(Mahkamah Agung Jerman), yang menulis dua buku mengenai hukum ialah (l)
Uber Kausalitat und deren Verantwortung, dan (2) Die Kausalitat und ibre
strafrechtliche Beziebungen.15
Menurut Von Buri, bahwa semua faktor, yaitu semua syarat yang turut serta
menyebabkan suatu akibat dan yang tidak dapat dihilangkan (niet weggedacht)
dari rangkaian faktor-faktor yang bersangkutan harus dianggap causa (sebab)
akibat itu. Tiap faktor yang dapat dihilangkan (weggedacht) dari rangkaian faktorfaktor yang adanya tidak perlu untuk terjadinya akibat yang bersangkutan, tidak
diberi nilai. Sebaliknya, tiap faktor yang tidak dapat dihilangkan (niet
weggedacht) dari rangkaian faktor-faktor tersebut, yaitu yang adanya perlu untuk
terjadinya akibat yang bersangkutan, harus diberi nilai yang sama. Semua faktor
itu adalah sama dan sederajat.Karena adanya faktor-faktor yang tidak dapat
dihilangkan itu perlu untuk terjadinya akibat yang bersangkutan, maka teori Von
Buri disebut dengan teori conditio sine quanon.16
Teori conditio sine qua non juga dinamakan teori ekuivalensi dan
bedingungtheorie. Disebut teori ekuivalensi, karena menurut pendiriannya, tiaptiap syarat adalah sama nilainya. Semua faktor sama pentingnya terhadap
timbulnya suatu akibat. Disebut bedigungtheorie, karena baginya tidak ada
perbedaan antara syarat (bedingung) dan musabab atau penyebab.17
Secara teoretis teori conditio sine qua non yang dikemukakan oleh Von Buri
merupakan satu-satunya teori kausalitas yang sangat sistematis dan rasional.
Logika yang dibangun Buri dalam mencari penyebab dari timbulnya suatu akibat
sangat rasional, sistematis, dan logis. Sekalipun demikian, di dalam perspektif
15

Adami Chazawi, Loc.cit., h. 218.


Andi Hamzah, Op.cit., h. 177.
17
C.S.T Kansil, Latihan Ujian: Hukum Pidana, Cet. III (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 119.
16

hukum pidana teori ini mengandung kelemahan yang sangat mendasar, karena
dengan dalil yang dibangunnya itu, hubungan kausalitas terbentang tanpa akhir,
mengingat tiap-tiap sebab hakikatnya merupakan akibat dari sebab yang terjadi
sebelumnya.18
Kelemahan mendasar lain teori ini adalah memperluas pertanggungjawaban
dalam hukum pidana. Teori ini jika digunakan akan berimplikasi pada
kemungkinan terjadinya pemidanaan terhadap orang-orang yang seharusnya tidak
boleh dipidana baik berdasarkan rasa keadilan maupun berdasarkan konsep
hukum pidana. Sebab, orang baru bisa dijatuhi sanksi pidana jika memenuhi dua
syarat pokok, yaitu orang tersebut melakukan tindak pidana, dan pada saat
melakukannya

orang

tersebut

merupakan

orang

yang

dapat

dipertanggungjawabkan secara pidana, dalam arti patut dicela atau memiliki


kesalahan.19
Dalam perkembangannya, teori Von Buri banyak menimbulkan berbagai
tanggapan dari kalangan ahli hukum, oleh karena beliau tidak memperhatikan halhal yang sifatnya kebetulan terjadi. Di antaranya Prof. Mr. D. Simons. Beliau
mengemukakan antara lain sebagai berikut.
...suatu perbuatan tertentu baru dapat ditetapkan sebagai suatu sebab dari
suatu akibat bila umumnya menurut pengalaman manusia, ada kemungkinan
bahwa akibat itu akan timbul dari perbuatan itu sendiri. Apabila akibat itu terjadi
karena bantuan keadaan-keadaan dan faktor-faktor luar biasa yang tidak
berhubungan dengan perbuatan itu, hubungan kausal (sebab-akibat) harus
dianggap tidak ada.20
Berikut ini contoh kasus dimana terdapat hal-hal yang sifatnya kebetulan. A
hendak menghukum seorang muridnya yang nakal dengan memasukkannya ke
dalam sebuah kamar yang terkunci dari luar. Tujuan hukuman tersebut adalah
supaya muridnya itu menjadi sadar akan kesalahannya. Tetapi tiba-tiba terjadi
18

Mahrus Ali, Loc.cit., h. 107.


Ibid.
20
Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Cet. VII (Jakarta: Sinar Grafika,
2012), h. 41.
19

gempa yang memporak-porandakan kamar termasuk murid yang tertimpa balok


sebab tidak dapat melarikan diri mengingat kamar terkunci dari luar, dan akhirnya
tewas.21
Dari contoh kasus ini dapat menimbulkan pertanyaan apakah perbuatan
memasukkan murid ke dalam kamar dapat dianggap sebagai causa (sebab)
kematiannya? Menurut Von Buri perbuatan itu dapat dianggap sebagai
penyebabnya. Tetapi hal tersebut kurang dapat dipertanggungjawabkan sebab Von
Buri tidak memperhatikan faktor gempa yang datang dengan tiba-tiba sebagai
sesuatu yang kebetulan terjadi.22
Untuk mengatasi kelemahan Von Buri ini, maka Van Hamel salah seorang
penganutnya melakukan penyempurnaan dengan menambahkan ajaran kesalahan
ke dalam ajaran Von Buri.Menurut van Hamel ajaran von Buri sudah baik, akan
tetapi haruslah dilengkapi lagi dengan ajaran tentang kesalahan (schuldleer).
Bahwa tidak semua orang yang perbuatannya menjadi salah satu faktor di antara
rangkaian sekian faktor dalam suatu peristiwa yang melahirkan akibat terlarang
harus bertanggung jawab atas timbulnya akibat itu, melainkan apabila pada diri si
pembuatnya dalam mewujudkan tingkah lakunya itu terdapat unsur kesalahan
baik kesengajaan maupun kealpaan.23
Berdasarkan pendapat van Hamel ini maka dalam contoh di atas tadi, yang
menurut ajaran von Buri si A harus bertanggung jawab atas murid tersebut, Tetapi
menurut ajaran van Hamel si A tidak perlu dipertanggungjawabkan atas kematian
murid itu, karena pada peristiwa itu tidak ada unsur kesalahan (kesengajaan
maupun kealpaan). A sebenarnya hanya berniat untuk menghukum muridnya saja,
tidak ada niat untuk menjadikan muridnya mati tertimpa balok.
Dalam perkembangan selanjutnya, timbul banyak ajaran tentang hubungan
sebab akibat ini, yang pada pokoknya teori-teori ini berusahan mencari dan
menentukan faktor mana yang merupakan syarat dan faktor mana yang menjadi
penyebab. Teori-teori yang berkembang stelah Von Buri ini dapat dikelompokkan
21

Andi Hamzah, Loc.cit., h. 178.


Ibid.
23
Adami Chazawi, Loc.cit., h. 220.
22

10

ke dalam dua teori besar, yaitu teori yang mengindividualisir dan teori yang
menggeneralisir.
2. Teori-teori yang Mengindividualisir
Teori ini dikemukakan oleh Schepper. Secara garis besar terdapat dua hal
yang menjadi inti dari teori mengindividualisir. Pertama, membicarakan masalah
kausalitas harus dipisahkan dengan membicarakan masalah pertanggungjawaban
pidana. Sebab, persoalan kausalitas adalah bagian dari masalah perbuatan pidana.
Pentingnya pemisahan tersebut agar tidak terjadi kerancuan dalam kesimpulan
hukum. Apabila tidak dipisahkan, kerancuan tersebut dikhawatirkan dapat
berimplikasi pada terjadinya pemidanaan terhadap orang yang seharusnya tidak
boleh dipidana. Kedua, menurut Schepper, sebab adalah kelakuan yang menurut
logika objektif atau berdasarkan ilmu pengetahuan pada saat kasus terjadi, dapat
simpulkan bahwa kelakuan itulah yang mengadakan faktor perubahan secara
langsung menuju pada suatu keadaan berupa terjadinya akibat yang dilarang
hukuum.24
Teori yang mengindividualisir ialah teori yang dalam usahanya mencari faktor
penyebab dari timbulnya suatu akibat dengan hanya melihat pada faktor yang ada
atau terdapat setelah perbuatandilakukan, dengan kata lain setelah peristiwa itu
beserta akibatnya benar-benar terjadi secara konkret (post factum). Menurut teori
ini setelah peristiwa terjadi, maka di antara sekian rangkaian faktor yang terkait
dalam peristiwa itu, tidak semuanya merupakan faktor penyebab. Faktor
penyebab itu adalah hanya berupa faktor yang paling berperan atau dominan atau
mempunyai andil yang paling kuat terhadap timbulnya suatu akibat, sedangkan
faktor lain adalah dinilai sebagai faktor syarat saja dan bukan faktor penyebab.
Pendukung teori yang mengindividualisir ini antara lain Birkmeyer dan Kari
Binding.25
Menurut Birkmeyer (teorinya disebut dengan de meest werkzame factor):
tidak semua faktor yang tidak bisa dihilangkan dapat dinilai sebagai faktor
24

Mahrus Ali, Op.cit., h. 110.


Adami Chazawi, Op.cit., h. 221.

25

11

penyebab, melainkan hanya terhadap faktor yang menurut kenyataannya setelah


peristiwa itu terjadi secara konkret (post factum) adalah merupakan faktor yang
paling dominan atau paling kuat pengaruhnya terhadap timbulnya akibat. Menurut
pendapat ini pada contoh bapak yang mengidap penyakit jantung, setelah
peristiwa terjadi beserta akibatnya, maka dicari dan dinilai di antara rangkaian
faktor yang berkaitan dengan kematian itu. Kiranya faktor serangan penyakit
jantunglah yang paling dominan peranannya terhadap kematian itu. Apabila
ajaran Birkmeyer digunakan pula pada peristiwa ini, maka perbuatan pengendara
mobil menginjak rem dengan kuat yang menimbulkan suara keras dari gesekan
ban dengan aspal, bukanlah sebagai faktor penyebab matinya orang itu, tetapi
sebagai faktor syarat saja. Karenanya dari sudut hukum pidana dia tidak
bertanggung jawab atas kematian itu.26
Demikian juga Kari Binding, yang teorinya disebut dengan ubergewichts
tbeorie, yang menurut beliau bahwa di antara berbagai faktor itu, faktor
penyebabnya adalah faktor yang terpenting dan seimbang atau sesuai dengan
akibat yang timbul. Bahwa dalam peristiwa yang menimbulkan akibat, akibat itu
terjadi oleh karena faktor yang positif yaitu faktor yang menyebabkan timbulnya
akibat lebih unggul daripada faktor yang negatif atau faktor yang bertahan/
meniadakan akibat. Yang disebut sebab adalah syarat-syarat positif dalam
mengungguli (in ihrem Ubergerwicht) terhadap syarat-syarat yang bertahan
(negatif). Satu-satunya faktor sebab (causa) adalah faktor syarat terakhir yang
menghilangkan keseimbangan dan memenangkan faktor positif tadi.
Walaupun teori ini lebih baik daripada yang sebelumnya, pada teori yang
mengindividualisir ini terdapat kelemahan berhubung adanya kesulitan dalam dua
hal, yaitu:
1) dalam hal kriteria untuk menentukan faktor mana yang mempunyai pengaruh
yang paling kuat, dan
2) dalam hal apabila faktor yang dinilai paling kuat itu lebih dari satu dan sama
kuat pengaruhnya terhadap akibat yang timbul.
26

Ibid.

12

Oleh

karena

ketidakpuasan

terdapat

bagi

kelemahan-kelemahan

sebagian

ahli

hukum

itu,

menimbulkan

rasa

terhadap

teori-teori

yang

mengindividualisir, maka timbullah teori-teori yang menggeneralisir.27


3. Teori-teori yang Menggeneralisir
Teori yang menggeneralisir adalah teori yang dalam mencari sebab (causa)
dari rangkaian faktor yang berpengaruh atau berhubungan dengan timbulnya
akibat adalah dengan melihat dan menilai pada faktor mana yang secara wajar
dan menurut akal serta pengalaman pada umumnya dapat menimbulkan suatu
akibat. Jadi mencari faktor penyebab dan menilainya tidak berdasarkan pada
faktor setelah peristiwa terjadi beserta akibatnya, tetapi pada pengalaman pada
umumnya menurut akal dan kewajaran manusia atau disebut secara abstracto,
tidak secara inconcreto.28
a. Teori Adequat Subjektif
Teori ini dipelopori oleh J. Von Kries, yang berpendapat bahwa yang menjadi
sebab dari rangkaian faktor-faktor yang berhubungan dengan terwujudnya delik,
hanya satu sebab saja yang dapat diterima, yaitu yang sebelumnya telah dapat
diketahui oleh pembuat.29
Faktor penyebab adalah faktor yang menurut kejadian yang normal adalah
adequat (sebanding) atau layak dengan akibat yang timbul, yang faktor mana
diketahui atau disadari oleh si pembuat sebagai adequat untuk menimbulkan
akibat tersebut. Jadi dalam teori ini faktor subjektif atau sikap batin sebelum si
pembuat berbuat adalah amat penting dalam menentukan adanya hubungan
kausal, sikap batin mana berupa pengetahuan (sadar) bahwa perbuatan yang akan
dilakukan itu adalah adequat untuk menimbulkan akibat yang timbul, dan
kelayakan ini harus didasarkan pada pengalaman manusia pada umumnya. 30 Oleh
karena ajaran von Kries dalam mencari faktor penyebab itu adalah pada

27

Ibid., h. 222.
Ibid.
29
H.A. Zainal Abidin, Loc.cit., h. 211.
30
Adami Chazawi, Op.cit., h. 223.
28

13

dibayangkannya dapat menimbulkan akibat, maka disebut juga dengan teori


subjective prognose (peramalan subjektif).
Pada contoh di atas tentang meninggalnya bapak pengidap penyakit jantung
tadi, menurut teori adequat subjektif, maka pengendara mobil tidaklah dapat
dipersalahkan atas kematian bapak tadi, karena faktor menginjak rem dan dengan
demikian menimbulkan suara (gesekan ban dengan aspal) tidak dapat
dibayangkan pada umumnya adequat untuk menimbulkan kematian orang.
b. Teori Adequat Objektif
Berbeda dengan teori dari von Kries yang dalam hal mencari faktor penyebab
itu pada kesadaran si pembuat bahwa pada kejadian normal pada umumnya faktor
itu layak atau sebanding untuk menimbulkan suatu akibat. Pada ajaran adequat
objektif ini, tidak memperhatikan bagaimana sikap batin si pembuat sebelum
berbuat, akan tetapi pada faktor-faktor yang ada setelah (post factum) peristiwa
senyatanya beserta akibatnya terjadi, yang dapat dipikirkan secara akal (objektif)
faktor-faktor

itu

dapat menimbulkan

akibat. Tentang

bagaimana

alam

pikiran/sikap batin si pembuat sebelum ia berbuat tidaklah penting, melainkan


bagaimana kenyataan objektif setelah peristiwa terjadi beserta akibatnya, apakah
faktor tersebut menurut akal dapat dipikirkan untuk menimbulkan akibat.31
Teori ini dipelopori Rumelin yang ajarannya disebut dengan teori obyectif
nachtragliche prognose atau peramalan yang objektif, karena dalam mencari
causa dari suatu akibat pada faktor objektif yang dipikirkan dapat menimbulkan
akibat. Teori Rumelin mengajarkan bahwa yang menjadi sebab atau akibat adalah
faktor objektif yang diramalkan dari rangkaian faktor-faktor yang berkaitan
dengan terwujudnya delik setelah delik terjadi.32
Tolok ukur teori tersebut bukan ramalan tetapi menetapkan harus timbul suatu
akibat. Jadi akibat itu walau bagaimana pun harus tetap terjadi dengan cara
mengingat keadaan-keadaan obyektif yang ada pada saat sesudah terjadinya delik.

31

Ibid., h. 224.
H.A. Zainal Abidin, Op.cit., h. 211-212.

32

14

Tolok ukur tersebut merupakan logika yang dicapai menurut pengetahuan alam
yang objektif.33
Seorang juru rawat telah dilarang oleh dokter untuk memberikan obat tertentu
pada seorang pasien, diberikan juga olehnya. Sebelum obat itu diberikan pada
pasien, ada orang lain yang bermaksud membunuh si pasien dengan memasukkan
racun pada obat itu yang tidak diketahui oleh juru rawat. Karena meminum obat
yang telah dimasuki racun, maka racun itu menimbulkan akibat matinya pasien.34
Menurut ajaran von Kries (adequat subjektif), karena juru rawat tidak dapat
membayangkan atau tidak mengetahui perihal dimasukkannya racun pada obat
yang dapat menimbulkan kematian jika diminum, maka perbuatan meminumkan
obat pada pasien bukanlah penyebab kematian pasien. Perbuatan meminumkan
obat dengan kematian tidak ada hubungan kausal atau hubungan sebab-akibat.
Lain halnya apabila dipandang dari teori Rumelin (adequat objektif). Karena
perbuatan orang lain memasukkan racun ke dalam obat tadi menjadi
pertimbangan dalam upaya mencari penyebab matinya, walaupun tidak diketahui
oleh juru rawat, perbuatan juru rawat meminumkan obat yang mengandung racun
adalah adequat terhadap matinya, karena itu ada hubungan kausal dengan akibat
kematian pasien.35

BAB III
KESIMPULAN
1. Ajaran kausalitas adalah ajaran yang mempermasalahkan hingga seberapa jauh
suatu tindakan itu dapat dipandang sebagai penyebab dari suatu keadaan, atau
hingga berapa jauh suatu keadaan itu dapat dipandang sebagai suatu akibat dari
33

Andi Hamzah, Loc.cit., h. 180.


Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Cet. VII (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 111.
35
Ibid.
34

15

suatu tindakan, dan sampai dimana seseorang yang telah melakukan tindakan
tersebut dapat diminta pertanggungjawabannya menurut hukum pidana.
2. Di dalam KUHP, pada dasarnya tidak tercantum petunjuk tentang cara untuk
menentukan sebab suatu akibat yang dapat menciptakan suatu delik. KUHP hanya
menentukan dalam beberapa pasalnya, bahwa untuk delik-delik tertentu
diperlukan adanya suatu akibat tertentu untuk menjatuhkan pidana terhadap
pembuat, seperti misalnya Pasal 338 KUHP tentang kejahatan terhadap nyawa.
Bahwa pembunuhan hanya dapat menyebabkan pelakunya dipidana apabila
seseorang meninggal dunia oleh pembuat menurut Pasal 338 KUHP tersebut.
3. Ada beberapa macam ajaran kausalitas, yang dapat dikelompokkan kedalam 3
teori yang besar, yaitu: teori conditio sine qua non, teori-teori yang
mengindividualisir

(individualiserede

theorien),

dan

teori-teori

yang

menggeneralisir (genaraliserende theorien). Teori conditio sine qua non


menyatakan bahwa penyebab adalah semua faktor yang ada dan tidak dapat
dihilangkan untuk menimbulkan suatu akibat. Teori ini tidak membedakan mana
faktor syarat dan yang mana faktor penyebab.

DAFTAR PUSTAKA
Adami Chazawi. 2005. Pelajaran Hukum Pidana 2. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Andi Hamzah. 2010. Asas-asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta.
C.S.T Kansil. 2007. Latihan Ujian: Hukum Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.

16

H.A. Zainal Abidin. 2007. Hukum Pidana 1. Jakarta: Sinar Grafika.


Leden Marpaung. 2012. Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.
Mahrus Ali. 2012. Dasar-dasar Hukum Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.
Moeljatno. 2002. Asas-asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta.
Teguh Prasetyo. 2012. Hukum Pidana. Jakarta: Rajawali Press.

17