Anda di halaman 1dari 10

SKIZOFRENIA PARANOID

A. Konsep Dasar Skizofrenia Paranoid


A.1. Pengertian
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu Skizo yang artinya retak atau pecah (split),
dan frenia yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita skizofrenia
adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian ( Hawari,
2003).
Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum
diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas,
serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial
budaya ( Hawari, 2003). Skizofrenia adalah gangguan terhadap fungsi otak yang timbul
akibat ketidakseimbangan dopamine ( salah satu sel kimia dalam otak , dan juga disebabkan
oleh tekanan yang dialami oleh individu. Merupakan gangguan jiwa psikotik paling lazim
dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari
hubungan sosial. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi
(persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Skizofrenia paranoid adalah yang terbanyak
dialami oleh penderita skizofrenia. Terapi pada pasien ini bertujuan untuk mengembalikan
fungsi sosial sehingga dapat memiliki peran sosial di masyarakat. Adapun jenis farmakoterapi
yang diberikan harus melalui beberapa pertimbangan tertentu.Seperti pada kasus di bawah
pada pasien skizofrenia paranoid diberikan Risperidone sebagaiutamapengobatannya.

A.2 Tinjauan Teori


1.

Teori somatogenik
a.

Keturunan

Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %,
bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita
Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998;
215 ).
b.

Endokrin

Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu
pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini tidak
dapat dibuktikan.
c.

Metabolisme

Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung
extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada
penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam
pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik.
d.

Susunan saraf pusat

Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek
otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan
postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan.

2.

Teori Psikogenik
a. Teori Adolf Meyer :
Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat

ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP tetapi Meyer
mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat
mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi
yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan
orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).
b. Teori Sigmund Freud
Pada Skizofrenia Paranoid terdapat:
(1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik
(2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta
terjadi suatu regresi ke fase narsisisme
(3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan

(transference)

sehingga

terapi

psikoanalitik tidak mungkin.


c.

Eugen Bleuler

Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang
terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan
perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer
(gaangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder
(waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).
d.

Teori lain

Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam


sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit
badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui.
A.3. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala menurut (bleuler)
1. Gejala Primer
a. Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan isi pikiran). Yang paling menonjol adalah
gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi
b. Gangguan afek emosi
- Terjadi kedangkalan afek-emosi
- Ramimi dan paratimi (incongruity of affect / inadekuat)
- Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan
- Emosi berlebihan
- Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang

baik

c. Gangguan kemauan
- Terjadi kelemahan kemauan
- Perilaku Negativisme atas permintaan
- Otomatisme : merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang lain
d. Gejala Psikomotor
- Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme
- Stereotipi

- Katelepsi : mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama


- Echolalia dan Echopraxia
2. Gejala sekunder
a.
b.
c.
d.

Delusi
Halusinasi
Cara bicara/berfikir yang tidak teratur.
Perilaku negatif, misalkan: kasar, kurang termotifasi, muram, perhatian menurun.

A.4. Cara Pengobatan


Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan
kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju ke kemunduran mental.
Terapist jangan melihat kepada penderita skizofrenia sebagai penderita yang tidak dapat
disembuhkan lagi atau sebagai suatu mahluk yang aneh dan inferior. Bila sudah dapat
diadakan kontan, maka dilakukan bimbingan tentang hal-hal yang praktis.
Biarpun penderita mungkin tidak sempurna sembuh, tetapi dengan pengobatan dan
bimbingan yang baik penderita dapat ditolong untuk berfungsi terus, bekerja sederhana di
rumah ataupun di luar rumah.
Keluarga atau orang lain di lingkungan penderita diberi penerangan (manipulasi
lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya.
1. Farmakoterapi
Neroleptika dengan dosis efektif rendah lebih bermanfaat pada penderita dengan
skizofrenia yang menahun, yang dengan dosis efektif tinggi lebih berfaedah pada penderita
dengan psikomotorik yang meningkat. Pada penderita paranoid trifuloperazin rupanya lebih
berhasil. Dengan fenotiazin biasanya waham dan halusinasi hilang dalam waktu 2 3

minggu. Bila tetap masih ada waham dan halusinasi, maka penderita tidak begitu terpengaruh
lagi dan menjadi lebih kooperatif, mau ikut serta dengan kegiatan lingkungannya dan mau
turut terapi kerja.
Sesudah gejala-gejala menghilang, maka dosis dipertahankan selama beberapa bulan
lagi, jika serangan itu baru yang pertama kali. Jika serangan skizofrenia itu sudah lebih dari
satu kali, maka sesudah gejala-gejala mereda, obat diberi terus selama satu atau dua tahun.
Kepada pasien dengan skizofrenia menahun, neroleptika diberi dalam jangka waktu
yang tidak ditentukan lamanya dengan dosis yang naik turun sesuai dengan keadaan pasien
(seperti juga pemberian obat kepada pasien dengan penyakit badaniah yang menahun,
umpamanya diabetes mellitus, hipertensi, payah jantung, dan sebagainya). Senantiasa kita
harus awas terhadap gejala sampingan.
Hasilnya lebih baik bila neroleptika mulai diberi dalam dua tahun pertama dari
penyakit. Tidak ada dosis standard untuk obat ini, tetapi dosis ditetapkan secara individual.
2. Terapi Elektro-Konvulsi (TEK)
Seperti juga dengan terapi konvulsi yang lain, cara bekerjanya elektrokonvulsi belum
diketahui dengan jelas. Dapat dikatakan bahwa terapi konvulsi dapat memperpendek
serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. Akan tetapi terapi ini tidak
dapat mencegah serangan yang akan datang.
Bila dibandingkan dengan terapi koma insulin, maka dengan TEK lebih sering terjadi
serangan ulangan. Akan tetapi TEK lebih mudah diberikan dapat dilakukan secara ambulant,
bahaya lebih kurang, lebih murah dan tidak memerlukan tenaga yang khusus pada terapi
koma insulin.

TEK baik hasilnya pada jenis katatonik terutama stupor. Terhadap skizofrenia simplex
efeknya mengecewakan; bila gejala hanya ringan lantas diberi TEK, kadang-kadang gejala
menjadi lebih berat.
3. Terapi koma insulin
Meskipun pengobatan ini tidak khusus, bila diberikan pada permulaan penyakit,
hasilnya memuaskan. Persentasi kesembuhan lebih besar bila di mulai dalam waktu 6 bulan
sesudah penderita jatuh sakit. Terapi koma insulin memberi hasil yang baik pada katatonia
dan skizofrenia paranoid.

4. Psikoterapi dan rehabilitasi


Psikoterapi dalam bentuk psikoanalisa tidak membawa hasil yang diharapkan bahkan
ada yang berpendapat tidak boleh dilakukan pada penderita dengan skizofrenia karena justru
dapat menambah isolasi dan otisme. Yang dapat membantu penderita ialah psikoterapi
suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk
mengembalikan penderita ke masyarakat.
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain,
penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak mengasingkan diri lagi, karena
bila ia menarik diri ia dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk
mengadakan permainan atau latihan bersama. Pemikiran masalah falsafat atau kesenian bebas
dalam bentuk melukis bebas atau bermain musik bebas, tidak dianjurkan sebab dapat
menambah otisme. Bila dilakukan juga, maka harus ada pemimpin dan ada tujuan yang lebih
dahulu ditentukan.

Perlu juga diperhatikan lingkungan penderita. Bila mungkin di atur sedemikian rupa
sehingga ia tidak mengalami stres terlalu banyak. Bila mungkin sebaiknya ia dikembalikan ke
pekerjaan sebelum sakit, dan tergantung pada kesembuhan apakah tanggung jawabnya dalam
pekerjaan itu akan penuh atau tidak.
5. Lobotomi prefrontal.
Dapat dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak berhasil dan bila penderita sangat
mengganggu lingkungannya.
Jadi prognosa skizofrenia tidak begitu buruk seperti dikira orang sampai dengan
pertengahan abad ini. Lebih-lebih dengan neroleptika, lebih banyak penderita dapat dirawat
di luar rumah sakit jiwa. Dan memang seharusnya demikian. Sedapat-dapatnya penderita
harus tinggal dilingkungannya sendiri, harus tetap melakukan hubungan dengan keluarganya
untuk memudahkan proses rehabilitasi. Dalam hal ini dokter umum dapat memegang peranan
yang penting, mengingat juga kekurangan ahli kedokteran jiwa di negara kita. Dokter umum
lebih mengenal penderita dengan lingkungannya, keluarganya, rumahnya dan pekerjaannya,
sehingga ia lebih dapat menolong penderita hidup terus secara wajar dengan segala suka dan
dukanya.
6. Katarsis
Proses katarsis sangat dikenal dalam psikologi, terutama dalam aliran psikoanalisis.
Maksudnya adalah adanya pelepasan emosi-emosi yang terpendam. Proses katarsis sangat
penting bagi orang-orang yang sedang menghadapi masalah emosional. Pada umumnya
orang-orang yang menghadapi masalah yang sangat berat atau menghadapi situasi yang
menyedihkan, mengecewakan, menjengkelkan atau seringkali tidak mau atau tidak bisa
mengungkapkanya kepada orang lain.

Mereka lebih senang memendamnya dalam hatinya sendiri atau berusaha melupakanya.
Tapi justru dengan menekan segala macam perasaan, emosi pikiran-pikiran yang
mengganggu alam bawah sadarnya, maka timbul berbagai macam gangguan-gangguan
psikologis, seperti depresi, kecemasan atau berbagai bentuk penyakit fisik seperti: penyakit
jantung, liver atau tekanan darah tinggi.

B. Contoh Kasus
Seorang laki-laki mengaku sering mendengar bisikan-bisikan yang mengejek dirinya
dan kadang ia melihat bayangan yang dideskripsikannya sebagai naga dan macan.
Menurutnya, bayangan itu sering memasuki dirinya. Biasanya setelah naga atau macan
masuk ke dalam tubuhnya, ia mengaku pingsan. Ia juga merasa sering mengeluh sakit kepala
dan badan terasa panas. Ia sering bicara sendiri dan keluar rumah tanpa tujuan pasti dan
sering memukul orang.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

Skizofrenia Paranoid merupakan gangguan psikotik yang merusak, yang dapat


melibatkan gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi (halusinasi), pembicaraan,
emosi dan perilaku. Keyakinan irasional bahwa dirinya seorang yang penting (delusi
grandeur) atau isi pikiran yang menunjukkan kecurigaan tanpa sebab yang jelas, seperti
bahwa orang lain bermaksud buruk atau bermaksud mencelakainya. Para penderita
skizofrenia tipe paranoid secara mencolok tampak berbeda karena delusi dan halusinasinya,
sementara keterampilan kognitif dan afek mereka relatif utuh. Mereka pada umumnya tidak
mengalami disorganisasi dalam pembicaraan atau afek datar.
Penanganan skizofrenia paranoid dapat melakukan beberapa pendekatan seperti:
1. Farmakoterapi
2. Terapi Elektro-Konvulsi (TEK)
3. Terapi koma insulin.
4. Psikoterapi dan rehabilitasi, yaitu psikoterapi suportif individual atau kelompok
5. Lobotomi prefrontal.
6. Katarsis.
7. Hipnotis.