Anda di halaman 1dari 17

PERAN PERAWAT DALAM PEMBERIAN OBAT

Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar
memberikan pil untuk diminum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah
(parenteral), namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat
tersebut. Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting
dimiliki oleh perawat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan
dan mempertahankan kesehatan klien dengan mendorong klien untuk lebih proaktif
jika membutuhkan pengobatan. Perawat berusaha membantu klien dalam
membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan,
mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan turut serta bertanggungjawab
dalam pengambilan keputusa tentang pengobatan bersama dengan tenaga
kesehatan lain. Perawat dalam memberikan obat juga harus memperhatikan resep
obat yang diberikan harus tepat, hitungan yang tepat pada dosis yang diberikan
sesuai resep dan selalu menggunakan prinsip 12 benar, yaitu:
1. Benar Klien
Selalu dipastikan dengan memeriksa identitas pasien dengan memeriksa
gelang identifikasi dan meminta menyebutkan namanya sendiri.
Klien berhak untuk mengetahui alasan obat
Klien berhak untuk menolak penggunaan sebuah obat
Membedakan klien dengan dua nama yang sama
Benar Obat
Klien dapat menerima obat yang telah diresepkan
Perawat bertanggung jawab untuk mengikuti perintah yang tepat
Perawat harus menghindari kesalahan, yaitu dengan membaca label obat
minimal tiga kali:
1. Pada saat melihat botol atau kemasan obat,
2. Sebelum menuang/menghisap obat
3. Setelah menuang/ mengisap obat
Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah
Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut
Memberikan obat-obatan tanda: nama obat, tanggal kadaluarsa

2.

3. Benar Dosis Obat


Dosis yang diberikan klien sesuai dengan kondisi klien.
Dosis yang diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang
bersangkutan.
Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah dosis yang
akan diberikan, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan/ diminta, pertimbangan
berat badan klien (mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosisi obat harus dihitung
kembali dan diperiksa oleh perawat lain.
Melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat tertentu.

4. Benar Waktu Pemberian


Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari. Misalnya

seperti dua kali sehari, tiga kali sehat, empat kali sehari dan 6 kali
sehari sehingga kadar obat dalam plasma tubuh dapat dipertimbangkan.

Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t ). Obat


yang mempunyai waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan untuk
obat yang memiliki waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari
pada selang waktu tertentu.

Pemberian obat juga memperhatikan diberikan sebelum atau sesudah


makan
atau
bersama
makanan
Memberikan obat obat-obat seperti kalium dan aspirin yang dapat
mengiritasi mukosa lambung bersama-sama dengan makanan.

Menjadi tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah


dijadwalkan untuk memeriksa diagnostik, seperti tes darah puasa yang
merupakan kontraindikasi pemeriksaan obat.
5. Benar Cara Pemberian (rute)
Memperhatikan proses absorbsi obat dalam tubuh harus tepat dan
memadai.
Memperhatikan kemampuan klien dalam menelan sebelum memberikan
obat-obat peroral
Menggunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat melalui rute
parenteral
Memberikan obat pada tempat yang sesuai dan tetap bersama dengan
klien sampai obat oral telah ditelan.
rute yang lebih sering dari absorpsi adalah :
1. oral ( melalui mulut ): cairan , suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul . ;
2. sublingual ( di bawah lidah untuk absorpsi vena ) ;
3. bukal (diantara gusi dan pipi)
4. topikal ( dipakai pada kulit ) ;
5. inhalasi ( semprot aerosol ) ;
6. instilasi ( pada mata, hidung, telinga, rektum atau vagina ) ;
7. parenteral : intradermal , subkutan , intramuskular , dan intravena.
6. Benar Dokumentasikan.
Pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di
rumah sakit. Dan selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai
obat yang telah diberikan serta respon klien terhadap pengobatan.
7. Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien
Perawat mempunyai tanggungjawab dalam melakukan pendidikan
kesehatan pada pasien, keluarga dan masyarakat luas terutama yang
berkaitan dengan obat seperti manfaat obat secara umum,
penggunaan obat yang baik dan benar, alasan terapi obat dan
kesehatan yang menyeluruh, hasil yang diharapkan setelah pembeian
obat, efek samping dan reaksi yang merugikan dari obat, interaksi
obat dengan obat dan obat dengan makanan, perubahan-perubahan
yang diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama sakit,
dsb.

8. Hak klien untuk menolak


Klien berhak untuk menolak dalam pemberian obat. Perawat harus
memberikan Inform consent dalam pemberian obat.
9. Benar pengkajian
Perawat selalu memer iksa TTV (Tanda-tanda vital) sebelum
pemberian obat.
10. Benar evaluasi
Perawata selalu melihat/ memantau efek kerja dari obat setelah
pemberiannya.
11.Benar reaksi terhadap makanan
Obat memiliki efektivitas jika diberikan pada waktu yang tepat. Jika
obat itu harus diminum sebelum makan (ante cimum atau a.c) untuk
memperoleh kadar yang diperlukan harus diberi satu jam sebelum
makan misalnya tetrasiklin, dan sebaiknya ada obat yang harus
diminum setelah makan misalnya indometasin.
12. Benar reaksi dengan obat lain
Pada penggunaan obat seperti chloramphenicol diberikan dengan
omeprazol penggunaan pada penyakit kronis

Pendahuluan

Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat obatan yang


aman . Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah
pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap
atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang
direkomendasikan . Secara hukum perawat bertanggung jawab jika
mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau
obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien .
Sekali obat telah diberikan , perawat bertanggung jawab pada efek obat
yang diduga bakal terjadi. Buku-buku referensi obat seperti , Daftar Obat
Indonesia ( DOI ) , Physicians Desk Reference (PDR), dan sumber daya
manusia , seperti ahli farmasi , harus dimanfaatkan perawat jika merasa
tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan , kontraindikasi ,
dosis , efek samping yang mungkin terjadi , atau reaksi yang merugikan
dari pengobatan ( Kee and Hayes, 1996 ).
A.

Enam Hal yang Benar dalam Pemberian Obat


Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman , seorang
perawat harus melakukan enam hal yang benar : klien yang benar,
obat yang benar, dosis yang bena, waktu yang benar, rute yang benar,
dan dokumentasi yang benar.
Pada waktu lampau, hanya ada lima hal yang benar dalam
pemberian obat. Tetapi kini ada hal keenam yang dimasukkan yaitu
dokumentasi. Dua hal tambahan klien juga dapat ditambahkan : hak
klien untuk mengetahui alasan pemberian obat, hak klien untuk
menolak penggunaan sebuah obat.
Klien yang benar dapat dipastikan dengan memeriksa identitas
klien, dan meminta klien menyebutkan namanya sendiri. Beberapa
klien akan menjawab dengan nama sembarang atau tidak berespon,
maka gelang identifikasi harus diperiksa pada setiap klien pada setiap
kali pengobatan. Pada keadan gelang identifikasi hilang, perawat harus
memastikan identitas klien sebelum setiap obat diberikan.
Dalam keadaan dimana klien tidak memakai gelang identifikasi
(sekolah, kesehatan kerja, atau klinik berobat jalan), perawat juga
bertanggung jawab untuk secara tepat mengidentifikasi setiap orang
pada saat memberikan pengobatan.
Obat yang benar berarti klien menerima obat yang telah
diresepkan. Perintah pengobatan mungkin diresepkan oleh seorang
dokter, dokter gigi, atau pemberi asuhan kesehatan yang memiliki
izin praktik dengan wewenang dari pemerintah. Perintah melalui
telepon untuk pengobatan harus ditandatangani oleh dokter yang

menelepon dalam waktu 24 jam. Komponen dari perintah pengobatan


adalah : (1) tanggal dan saat perintah ditulis, (2) nama obat, (3) dosis
obat, (4) rute pemberian, (5) frekuensi pemberian, dan (6) tanda
tangan dokter atau pemberi asuhan kesehatan. Meskipun merupakan
tanggung jawab perawat untuk mengikuti perintah yang tepat, tetapi
jika salah satu komponen tidak ada atau perintah pengobatan tidak
lengkap, maka obat tidak boleh diberikan dan harus segera
menghubungi dokter tersebut untuk mengklarifikasinya ( Kee and
Hayes, 1996 ).
Untuk menghindari kesalahan, label obat harus dibaca tiga kali :
(1) pada saat melihat botol atau kemasan obat, (2) sebelum menuang /
mengisap obat dan (3) setelah menuang / mengisap obat. Perawat
harus ingat bahwa obat-obat tertentu mempunyai nama yang bunyinya
hampir sama dan ejaannya mirip, misalnya digoksin dan digitoksin,
quinidin dan quinine, Demerol dan dikumarol, dst.
Dosis yang benar adalah dosis yang diberikan untuk klien
tertentu. Dalam kebanyakan kasus, dosis diberikan dalam batas yang
direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan. Perawat harus
menghitung
setiap
dosis
obat
secara
akurat,
dengan
mempertimbangkan variable berikut : (1) tersedianya obat dan dosis
obat yang diresepkan (diminta), (2) dalam keadaan tertentu, berat
badan klien juga harus dipertimbangkan, misalnya 3 mg/KgBB/hari.
Sebelum menghitung dosis obat, perawat harus mempunyai
dasar pengetahuan mengenai rasio dan proporsi. Jika ragu-ragu, dosis
obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain.
Waktu yang benar adalah saat dimana obat yang diresepkan
harus diberikan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu
dalam sehari, seperti b.i.d ( dua kali sehari ), t.i.d ( tiga kali sehari ),
q.i.d ( empat kali sehari ), atau q6h ( setiap 6 jam ), sehingga kadar
obat dalam plasma dapat dipertahankan. Jika obat mempunyai waktu
paruh (t ) yang panjang, maka obat diberikan sekali sehari. Obatobat dengan waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada
selang waktu yang tertentu . Beberapa obat diberikan sebelum makan
dan yang lainnya diberikan pada saat makan atau bersama makanan
( Kee and Hayes, 1996 ; Trounce, 1997)
Implikasi dalam keperawatan mencakup :
1.
Berikan obat pada saat yang khusus. Obat-obat dapat diberikan
jam sebelum atau sesudah waktu yang tertulis dalam resep.
2.
Berikan obat-obat yang terpengaruh oleh makanan seperti
captopril, sebelum makan
3.
Berikan obat-obat, seperti kalium dan aspirin, yang dapat
mengiritasi perut ( mukosa lambung ) bersama-sama dengan
makanan.
4.
Tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah
dijadwalkan untuk pemeriksaan diagnostik, seperti endoskopi, tes
darah puasa, yang merupakan kontraindikasi pemberian obat.
5.
Periksa tanggal kadaluarsa. Jika telah melewati tanggalnya, buang
atau kembalikan ke apotik ( tergantung peraturan ).

6.

Antibiotika harus diberikan dalam selang waktu yang sama


sepanjang 24 jam ( misalnya setiap 8 jam bila di resep tertulis t.i.d )
untuk menjaga kadar darah terapeutik.

Rute yang benar perlu untuk absorpsi yang tepat dan memadai.
Rute yang lebih sering dari absorpsi adalah (1) oral ( melalui mulut ):
cairan , suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul . ; (2) sublingual ( di bawah
lidah untuk absorpsi vena ) ; (3) topikal ( dipakai pada kulit ) ; (4)
inhalasi ( semprot aerosol ) ; (5)instilasi ( pada mata , hidung , telinga ,
rektum atau vagina ) ; dan empat rute parenteral : intradermal ,
subkutan , intramuskular , dan intravena.
Implikasi dalam keperawatan termasuk :
a.
Nilai kemampuan klien untuk menelan obat sebelum memberikan
obat obat per oral
b.
Pergunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat . Teknik
steril dibutuhkan dalam rute parenteral .
c.
Berikan obat- obat pada tempat yang sesuai .
d.
Tetaplah bersama klien sampai obat oral telah ditelan.
Dokumentasi yang benar membutuhkan tindakan segera dari
seorang perawat untuk mencatat informasi yang sesuai mengenai
obat yang telah diberikan . Ini meliputi nama obat , dosis , rute ,
waktu dan tanggal , inisial dan tanda tangan perawat . Respon klien
terhadap pengobatan perlu di catat untuk beberapa macam obat
seperti (1) narkotik bagaimana efektifitasnya dalam menghilangkan
rasa nyeri atau (2) analgesik non-narkotik, (3) sedativa, (4)
antiemetik (5) reaksi yang tidak diharapkan terhadap pengobatan,
seperti irigasi gastrointestinal atau tanda tanda kepekaan kulit.
Penundaan dalam mencatat dapat mengakibatkan lupa untuk
mencatat pengobatan atau perawat lain memberikan obat itu
kembali karena ia berpikir obat itu belum diberikan (Taylor, Lillis and
LeMone, 1993 ; Kee and Hayes, 1996 ).
B.

Hak Hak Klien dalam Pemberian Obat


Hak Klien Mengetahui Alasan Pemberian Obat
Hak ini adalah prinsip dari memberikan persetujuan setelah
mendapatkan informasi ( Informed concent ) , yang berdasarkan
pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat suatu
keputusan .
2.
Hak Klien untuk Menolak Pengobatan
Klien dapat menolak untuk pemberian suatu pengobatan . Adalah
tanggung jawab perawat untuk menentukan , jika memungkinkan ,
alasan penolakan dan mengambil langkah langkah yang perlu
untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan . Jika
suatu pengobatan dtolak , penolakan ini harus segera
didokumentasikan. Perawat yang bertanggung jawab, perawat
primer, atau dokter harus diberitahu jika pembatalan pemberian
obat ini dapat membahayakan klien, seperti dalam pemberian
insulin. Tindak lanjut juga diperlukan jika terjadi perubahan pada
1.

hasil pemeriksaan laboratorium , misalnya pada pemberian insulin


atau warfarin ( Taylor, Lillis and LeMone, 1993 ; Kee and Hayes,
1996 ).
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat
pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan
ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien.
Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan
mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip
dalam pemberian obat.

TINJAUAN ASPEK LEGAL DALAM KEPERAWATAN

Pendahuluan

Undang-undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 63 ayat (4) yang berbunyi Pelaksanaan
pengobatan dan/atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Hal ini
memberi arah bahwa siapapun tenaga kesehatan yang akan menangani klien/pasien harus
mempunyai kompetensi yang cukup untuk dapat memberikan asuhan sesuai dengan kewenangannya
yang mungkin akan dapat memberikan kenyamanan kepada pasien sebagai customer dari pelayanan
kesehatan.

Praktisi kesehatan harus mampu menggunakan berbagai telaahan ilmiah, legal etis, praktis dan
juga colegial dalam upaya untuk memberikan asuhan yang tepat kepada pasien serta juga
menggunakan pendekatan Humanistik dalam mengimplementasikan berbagai tindakan yang
dilakukannya. Akibatnya siapapun yang sudah berkecimpung dan memegang profesi dalam bidang
kesehatan harus mempunyai kemampuan yang memadai dalam mengatasi pasiennya secara ilmiah
dengan jalan mengetahui rasional setiap tindakan, secara legal dan etis untuk mengetahui
tindakannya tidak melanggar norma yang ada, secara praktis dalam hal menjalankan standar asuhan,
colegial dalam berhubungan dengan tim kesehatan lainnya dan juga secara humanistik dalam
memperlakukan pasien sebagai subjek dan objek dalam pelaksanaan asuhannya.
Kegiatan keperawatan ditujukan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan pasien dan kemandirian
pasien dalam menangani masalah yang menghadang pada dirinya. Untuk dapat terjadi hal tersebut
maka diperlukan suatu regulasi yang dapat menuntun profesi keperawatan melaksanakan aktifitasnya
sehingga pasien sebagai subjek dan objek dari tindakan keperawatan mendapatkan kepuasan
terhadap pelayanan yang diberikan.
Berdasarkan hasil dari Lokakarya Keperawatan Nasional tahun 1983 didapatkan definisi
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biopsiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik
yang sakit maupun sehat yang mencakkup seluruh siklus hidup manusia.
Personil yang melaksanakan asuhan keperawatan disebut dengan perawat yang menurut Permenkes
No. HK.02.02/Menkes/148/I/2010 dikatakan bahwa perawat adalah seseorang yang telah lulus
pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perawat merupakan suatu profesi yang mana
dalam kegiatannya berusaha untuk memberikan kesejahteraan kepada pasien (individu, keluarga dan
masyarakat) dengan menggunakan cara dan teknik yang diajarkan dalam dunia keperawatan itu
sendiri.
Segi Yuridis Praktik Keperawatan
Dalam pemberian asuhannya, seluruh tenaga kesehatan diatur dalam berbagai peraturan, baik
berhubungan dengan hukum kegiatan perawat dibatasu oleh keahlian dan kewenangan. Keahlian
dalam hal ini merujuk kepada kemampuan yang wajib dikuasai oleh perawat dalam melaksanakan
asuhan keperawatan. Untuk dapat menjaga kesinambungan dan menjaga bahwa tindakan yang
dilakukan tersebut sesuai maka perlu dibuatkan suatu Standar baik standar yang memang merujuk
pada pengetahuan secara global maupun standar yang telah digunakan di lingkup yang lebih kecil di
rumah sakit. Sedangkan Kewenangan merujuk kedalam hak perawat yang diperbolehkan untuk
melakukan segenap tindakan kepada pasien, dimana hak ini akan diseimbangkan dengan tanggung
jawab yang harus dipenuhi oleh perawat itu tadi.
Dalam melakukan semua keahlian dan kewenangan di atas, perlu dibuat suatu regulasi yang dapat
memberikan suatu Izin kepada tenaga keperawatan supaya dapat memberikan tindakan kepada
pasien dalam level aman. Berdasarkan Kepmenkes no 1239/2001 tentang registrasi perawat dan
Permenkes No 148/2009 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat didapatkan beberapa
izin yang harus dipunyai oleh seorang perawat:
1. Surat Izin Kerja selanjutnya disebut SIK adalah bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk

melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan kesehatan


2. Surat Izin Perawat selanjutnya disebut SIP adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk
menjalankan pekerjaan keperawatan di seluruh wilayah Indonesia
3. Surat Izin Praktik Perawat selanjutnya disebut SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan kepada
perawat untuk melakukan praktik keperawatan secara perorangan dan/atau berkelompok
4. STR (Surat Tanda Registrasi) adalah bukti tertulis dari pemerintah kepada tenaga kesehatan yang
telah memiliki sertifikat kompetensi sesuai ketentuan perundang-undangan
Aplikasi Aspek Legal Dalam Keperawatan
Hukum mengatur perilaku hubungan antar manusia sebagai subjek hukum yang melahirkan hak dan
kewajiban. Dalam kehidupan manusia, baik secara perorangan maupun berkelompok, hukum
mengatur perilaku hubungan baik antara manusia yang satu dengan yang lain, antar kelompok
manusia, maupun antara manusia dengan kelompok manusia. Hukum dalam interaksi manusia
merupakan suatu keniscayaan (Praptianingsih, S., 2006).
Berhubungan dengan pasal 1 ayat 6 UU no 36/2009 tentang kesehatan berbunyi : Tenaga kesehatan
adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan
dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Begitupun dalam pasal 63 ayat 4 UU no 36/2009 berbunyi Pelaksanaan pengobatan dan/atau
perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Yang mana berdasarkan pasal ini
keperawatan merupakan salah satu profesi/tenaga kesehatan yang bertugas untuk memberikan
pelayanan kepada pasien yang membutuhkan
Pelayanan keperawatan di rumah sakit meliputi : proses pemberian asuhan keperawatan, penelitian
dan pendidikan berkelanjutan. Dalam hal ini proses pemberian asuhan keperawatan sebagai inti dari
kegiatan yang dilakukan dan dilanjutkan dengan pelaksanaan penelitian-penelitian yang menunjang
terhadap asuhan keperawatan, juga peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang
diperoleh melalui pendidikan dimana hal ini semua bertujuan untuk keamanaan pemberian asuhan
bagi pemberi pelayanan dan juga pasien selaku penerima asuhan.
Berdasarkan undang-undang kesehatan yang diturunkan dalam Kepmenkes 1239 dan Permenkes
No. HK.02.02/Menkes/148/I/2010, terdapat beberapa hal yang berhubungan dengan kegiatan
keperawatan. Adapun kegiatan yang secara langsung dapat berhubungan dengan aspek legalisasi
keperawatan :
1. Proses Keperawatan
2. Tindakan keperawatan
3. Informed Consent
4. Dll
Untuk melindungi tenaga perawat akan adanya tuntutan dari klien/pasien perlu ditetapkan dengan
jelas apa hak, kewajiban serta kewenangan perawat agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan
tugasnya serta memberikan suatu kepastian hukum, perlindungan tenaga perawat. Hak dan
kewajiban perawat ditentukan dalam Kepmenkes 1239/2001 dan Keputusan Direktur Jenderal

Pelayanan Medik Nomor Y.M.00.03.2.6.956


a. Kewajiban Perawat
1. Mempunyai izin untuk melakukan pekerjaan maupun untuk melakukan praktik keperawatan (Pasal
1, 3, 6, 8)
2. Membantu Program Pemerintah di bidang kesehatan (Pasal 18)
3. Meningkatkan mutu pelayanan profesi (Pasal 19)
4. Mencantumkan Surat Izin Praktik Perawat di ruang praktiknya (untuk praktik perorangan) (Pasal
21)
5. Memenuhi persyaratan mutu layanan dalam bentuk ketersediaan sarana dan prasarana minimal
bagi perawat (pasal 22, 23) dan berpraktik sesuai dengan peraturan perundangan (Pasal 30)
6. Menjalankan fungsi keperawatan berdasarkan ketentuan
7. Mengumpulkan sejumlah angka kredit (Ketentuan MenPAN 94/2001)
b. Hak Perawat
Dalam Kepmenkes 1239/2001 hak perawat tidak dijelaskan secara eksplisit tetapi dapat kita lihat
pada pasal 15 dan 20 sebagai berikut
Pasal 15 : dalam melaksanakan praktik keperawatan berwenang untuk:
1. Melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan,
perencanaan, melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
2. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir (1) meliputi : intervensi keperawatan,
observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan.
3. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud angka (1) dan (2) harus sesuai
dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi
4. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaaan tertulis dari dokter.
Pasal 20, menjelaskan sebagai berikut:
1. Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seorang/pasien, perawat berwenang untuk
melakukan tindakan pelayanan kesehatan di luar kewenangan sebagai dimaksud dalam pasal 15
2. Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk
penyelamatan jiwa.
Masalah hukum perdata dan hukum umum dalam praktekKeperawatan
Tort : Adalah kesalahan yang di buat kepada seseorang atau hak miliknya.
1) Tort intensional. Tindakan terencana yang melanggar hak orang lain, seperti kekerasan, ancaman
dan kesalahan penahanan.
a) Ancaman adalah intensional yang mengandung maksud melakukan kontak yang menyerang dan
membahayakan. Contoh: perawat mengancam akan tetap melakukan tindakan x-ray walaupun
pasien tidak menyetujui hal itu.
b) Kekerasan adalah segala sentuhan yang disengaja di lakukan tanpa ijin. Contoh: perawat
mengancam untuk melakukan injeksi tanpa persetujuan klien, jika perawat tetap memberikan injeksi
maka itu disebut kekerasan.
c) Kesalahan penahanan terjadi jika seorang ditahan tanpa adanya surat resmi. Contoh: hal ini terjadi

ketika perawat menahan klien dalam area terbatas yang mengganggu kebebasan klien tersebut.
2) Tort Kuasi-Intensional adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak akan menimbulkan hal yang
tidak diinginkan jika tindakan tersebut dilakukan, seperti pelanggaran privasi dan pencemaran nama
baik.
a) Pelanggaran privasi adalah melindungi hak klien untuk bebas dari gangguan terhadap masalah
pribadinya. 4 tipe pelanggaran pribadi: gangguan terhadap privasi, peniruan nama, pemberitaan
tentang fakta pribadi/fakta yang memalukan, dan publikasi palsu tentang seseorang. Contoh:
pemberian informasi medis klien kepada pihak yang tidak berwenang seperti wartawan atau atasan
klien.
b) Pencemaran nama baik adalah publikasi pernyataan palsu yang merusak reputasi seseorang. Niat
buruk berarti pihak yang mengeluarkan pernyataan tersebut mengetahui bahwa pernyataan tersebut
adalah palsu dan tetapi tetap melakukannya.
Slander terjadi saat seseorang memberikan pernyataan palsu secara lisan. Contoh: seorang perawat
memberitahukan kepada orang lain bahwa seorang klien menderita penyakit menular seksual dan hal
itu mempengaruhi karir bisnis klien.
Libel adalah pencemaran nama baik secara tertulis. Contoh: penulisan data palsu.
3) Tort Nonintensional adalah kelalaian atau malpraktek.
a) Kelalaian adalah tindakan yang dapat menjatuhkan standar pelayanan. Contoh: pemasangan
cairan intravena yang salah pada klien/memperbolehkan asisten keperawatan memasukan obat,
biasanya akan berakibat pendisiplinan terhadap hal tersebut.
b) Malpraktek adalah salah satu bentuk kelalaian yang sering disebut kelalaian profesional.
Malpraktek keperawatan adalah akibat dari pelayanan keperawatan yang dilakukan dibawah standar
praktek keperawatan. Contoh: perawat memasukan obat pada klien padahal pada rekam medis klien
tercantum bahwa klien memiliki alergi terhadap obat tersebut.
Etika Keperawatan
Nilai
Keyakinan(beliefs) mengenai arti dari suatu ide, sikap, objek, perilaku, dll yang menjadi standar dan
mempengaruhi prilaku seseorang. Nilai menggambarkan cita-cita dan harapan- harapan ideal dalam
praktik keperawatan.
Nilai ini bebas untuk dipilih individu yang melandasi sikap individu dan terlihat dari hubungan kita
dengan orang lain, dan dapat dilihat secara objektif (misal, cara berpakaian, bahasa, kebiasaan,
interaksi sosial dll)
Moral
Adalah keyakinan bahwa sesuatu adalah mutlak : Baik atau Buruk walaupun situasi berbeda
Etik
Kesepakatan tentang praktik moral, keyakinan, sistem nilai, standar perilaku individu dan atau

kelompok tentang penilaian terhadap apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana
yang buruk, apa yang merupakan kebajikan dan apa yang merupakan kejahatan, apa yang dikendaki
dan apa yang ditolak
Etika Keperawatan
Kesepakatan/peraturan tentang penerapan nilai moral dan keputusan- keputusan yang ditetapkan
untuk profesi keperawatan
Prinsip Etik
1) Respect (Hak untuk dihormati)
2) Autonomy (hak pasien memilih): Hak pasien untuk memilih treatment terbaik untuk dirinya
3) Beneficence (Bertindak untuk keuntungan orang lain/pasien). Kewajiban untuk melakukan hal tidak
membahayakan pasien/ orang lain dan secara aktif berkontribusi bagi kesehatan dan kesejahteraan
pasiennya
4) Non-Maleficence (utamakan-tidak mencederai orang lain)
kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja menimbulkan kerugian atau cidera
Prinsip :
Jangan membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, jangan menyebabkan nyeri atau penderitaan
pada orang lain, jangan membuat orang lain berdaya dan melukai perasaaan orang lain.
5) Confidentiality (hak kerahasiaan) menghargai kerahasiaan terhadap semua informasi tentang
pasien/klien yang dipercayakan pasien kepada perawat.
6) Justice (keadilan) : kewajiban untuk berlaku adil kepada semua orang. Perkataan adil sendiri
berarti tidak memihak atau tidak berat sebelah.
7) Fidelity (loyalty/ketaatan) : Kewajiban untuk setia terhadap kesepakatan dan bertanggungjawab
terhadap kesepakatan yang telah diambil
Era modern , pelayanan kesehatan : Upaya Tim (tanggungjawab tidak hanya pada satu profesi).
8) Veracity (Truthfullness & honesty) : Kewajiban untuk mengatakan kebenaran, Terkait erat dengan
prinsip otonomi, khususnya terkait informed-consen
Prinsip veracity mengikat pasien dan perawat untuk selalu mengutarakan kebenaran.
KODE ETIK KEPERAWATAN INDONESIA
Berdasarkan Keputusan MUNAS VI PPNI Nomor : 09 MUNAS VI/PPNI/2000
PERAWAT DAN KLIEN
1. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia,
keunikan klien ,dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan kesukuan, warna kulit, umur,
jenis kelamin, aliran politik dan agama yang di anut serta kedudukan sosial.

2. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan


yang menghomati nilai nilai budaya adat-istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari klien.
3. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan.
4. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang di ketahui sehubungan dengan tugas yang di
percayakan kepadanya kecuali jika di perlukan oleh yang berwenang sesuai ketentuan hukum yang
berlaku.
PERAWAT DAN PRAKTEK
1. Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi di bidang keperawatan melalui belajar terus
menerus.
2. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran
profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan klien.
3. Perawat dalam membuat keputuskan didasarkan pada informasi yang adekuat dan
mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi menerima
delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain.
PERAWAT DAN MASYARAKAT
Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung
berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.
PERAWAT DAN TEMAN SEJAWAT
1. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga
kesehatan lainnya,dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam
mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
2. Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan
secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal.
PERAWAT DAN PROFESI
1. Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan
keperawatan serta menerapkan dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan .
2. Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan .
3. Perawat berpartisifasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara kondisi kerja
yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi.
Penutup
Pelayanan keperawatan sebagai salah satu bagian tak terpisahkan dari pelayanan kesehatan
terdepan dan terlama yang berhubungan dengan pasien sangat memungkinkan sekali terjadinya
klaim tanggung gugat dari pengguna layanan. Oleh karena itu perlindungan terhadap tata kerja

perawat merupakan suatu keniscayaan dan juga perlunya pengetahuan perawat tentang aspek
hukum yang menjadi area kerjanya.
Legalitas dan perundang-undangan yang berhubungan dengan keperawatan sangatlah banyak,
dalam materi ini hanya disajikan beberapa sumber hukum yang memang secara langsung perlu
diketahui oleh perawat terutama UU No 36/2009 tentang kesehatan dan Kepmenkes 1239/2001
tentang registrasi dan praktek keperawatan.

Rujukan Utama
Praptianingsih, S. 2006. Kedudukan Hukum Perawat Dalam Upaya Pelayanan Kesehatan di Rumah
Sakit. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Sumber Bacaan Lain


Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang Registrasi dan Praktek
Keperawatan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02-148/Menkes/148/2010 Tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat
Somantri, I. (2006). Konsep Dasar Keperawatan. Bandung: Stikes A. Yani Press.
Susilaningsih, F.S. 2002. Evaluasi Pembelajaran Klinik Keperawatan. PSIK-FK Unpad: Proceeding
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144144)

Menghitung Dosis Obat


Kebanyakan intruksi dan label obat ditulis dalam sitem pengukuran metrik. Jika jumlah obat spesifik yang
dibutuhkan sama dengan jumlah obat yang tertera dalam label obat, tidak diperlukan perhitungan dosis obat,
dan obat dapat disiapkan dengan cara yang sederhana. Sebagai contoh, jika kebutuhan dosis ibuprofen 400 mg
PO dan di kemasan obat tertulis ibuprofen 400 mg pertablet ini jelas berarti 1 tablet yang akan diberi. Tetapi
bagaimana jika obat yang dibutuhkan dengan dosis 400 mg, dan obat yang tersedia tablet dengan dosis 200 mg ?
pertanyaannya adalah berapa banyak 200 mg tablet yang diberikan untuk memenuhi dosis 400 mg? Pada kasus
ini dapat dihitung mudah yaitu 2 tablet. Contoh tersebut merupakan contoh sedrhana untuk mengilustrasikan
perhitungan matematika pada obat. Masalah tersebut dapat dipecahkan oleh beberapa metode.
Rumus:

D = desired dose dosis yang dinginkan (dosis yang dipesan, biasanya dalam milligrams)

H = on-hand dosis ditangan atau available dose dosis yang tersedia (dosis yang tercantum dalam
label kemasan biasanya ditulis dalam tablet, kapsul, atau mililiter)
X = unknown (jumlah obat yang belum diketahui)
V = unit atau satuan (bisa dalam tablet,per mililiter atau cc, dll)

Apa yang terjadi jika permintaan obat dan label obat ditulis dalam unit (satuan) berbeda? Sebagai
contoh, intruksi pemberian obat Amoxicillin 0.5 g dan pada label kemesan tertulis amoxcilin 500
mg/ kapsul untuk menghitunh jumlah kapsul yang sesuai dengan kebutuhan dosis, langkah pertama
adalah merubah 0.5 g ke satuan miligram. Atau merubah 500 mg ke satuan gram. Dosis yang
dinginkan (yang diperintahkan) dan dosis yang tersedia (atau yang tertulis dalam kemasan) harus
dalam satuan ukur yang sama.
Langkah 1: kita rubah dari gram (g) ke miligram (mg)-> kembali ke pelajaran SD

Langkah 2: kita hitung menggunakan rumus.

Cara dan rumus yang sama dapat digunakan untuk menghitung dosis obat dalam bentuk kapsul atau
cair. Contohnya sebagai berikut.

Anda mungkin juga menyukai