Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

DIARE AKUT DEHIDRASI SEDANG (DADS)


Stase Keperawatan Anak

Oleh :
Dimas Kurniawan
NIM : G3A 015 024

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016

LAPORAN PENDAHULUAN
DIARE AKUT DEHIDRASI SEDANG

A. Pengertian
Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari.
Menurut Suradi & Rita (2010), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana
terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi
karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau
cair.
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan
lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna
hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 2005).
Diare cair akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya
kurang dari 7 hari) dengan pengeluaran tinja yang lunak atau cair yang sering
dan tanpa darah, mungkin disertai muntah dan panas. Akibat diare akut adalah
dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi
penderita diare.

B. Klasifikasi Diare
KLASIFIKASI
Gejala/tanda

Ringan (<3% BB
turun)

Keadaan umum

Baik, compos mentis

Anxietas

Letargi/tidak sadar

Denyut jantung

Normal

Sedikit meningkat

Takikardi atau
bradikardi

Kualitas denyut

Normal

Sedikit lemah

Lemah
hinggaimpalpable

Napas

Normal

Agak meningkat

Takipnea-hiperpnea

Mata

Normal

Cekung

Cekung

Fontanella

Normal

Agak cekung

Cekung

Air mata

Normal

Sedikit menurun

Tidak ada

Mukosa

Lembab

Agak kering

Kering hingga pecahpecah

Sedang (3 9% BB
Berat (>9% BB turun)
turun)

KLASIFIKASI
Gejala/tanda

Ringan (<3% BB
turun)

Sedang (3 9% BB
Berat (>9% BB turun)
turun)

Rasa haus

Minum biasa, tidak


haus

Sangat haus

Tidak minum

Turgor kulit

Kembali cepat

Kembali lambat
(<2)

Kembali sangat lambat


(>2)

Capillary Refill
Time

< 2

Agak memanjang

Memanjang dan kurang


merah

Extremitas

Hangat

Dingin

Sianosis

Tabel Tingkatan dehidrasi ( King et al., 2003)

C. Etiologi
Menurut Ngastiyah (2005), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa
faktor yaitu :
1. Faktor infeksi
Infeksi enteral : infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut :
a. Infeksi bakteri : Vibrio, E.colli, Salomnella, Shigella, Campylobacter ,
Yersinia , Aeromonas , dan sebagainya.
b. Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie , Poliomyelitis),
Adeno-virus , Rotavirus , Astrovirus , dan lain-lain.
c. Infeksi parasit : cacing (Ascari, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides);
Protozoa (Entamoeba Histolytica,

Giardia Lamblia, Trichomonas

Hominis); Jamur ( Candida Albicans )


2. Infeksi Parenteral
Adalah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (
OMA ) , Tonsilitis atau tonsilofaringitis , bronkopneumonia , ensefalitis ,
dsb. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak yang berumur 2
tahun.

a. Faktor Malabsorpsi
1) Malabsorpsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltose
dan sukrosa); monosakarida (intoleransi glukosa , fruktosa dan
galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering (
intoleransi laktosa).
2) Malabsorpsi lemak
3) Malabsopsi protein
b. Faktor Makanan: makanan basi , beracun , alergi terhadap makanan.
c. Faktor psikologis: rasa takut dan cemas

D. Patofisiologi
Makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya
diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Adanya

gangguan

motalitas

usus,

terjadinya

hiperperistaltik

akan

mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan


sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan

bakteri

timbul

berlebihan

yang

selanjutnya

dapat

menimbulkan diare pula.


Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke
dalam

usus

setelah

berhasil

melewati

rintangan

asam

lambung,

mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin


dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan
menimbulkan diare.
Sedangkan akibat dari diare baik akut maupun kronik akan terjadi beberapa
hal sebagai berikut:

1. Kehilangan air (dehidrasi)


Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari
pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja.
Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam
tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia
jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak
dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya
pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering
pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena
adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan
adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika
kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada
anak-anak.
4. Gangguan gizi
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan
oleh :
a. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau
muntah yang bertambah hebat.
b. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan
susu yang encer ini diberikan terlalu lama.
c. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi
dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya
perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat,
dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak
segera diatasi klien akan meninggal

E. Pathways
Faktor Infeksi

Faktor Malabsorbsi
KH, Lemak, Protein

Faktor Makanan

Faktor Psikologi

Masuk &
berkembang
dalam usus

Tekanan osmotic
meningkat

Toksin tidak
dapat diserap

CEMAS

Hipersekresi air dan


elektrolit

Pergeseran air dan


elektrolit ke rongga
usus

Hiperperistaltik

Menurunnya kesempatan usus


menyerap makanan

DIARE

Frekuensi BAB
meningkat

Kehilangan cairan &


elektrolit berlebihan

Gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit

Resiko hipovolemik (syok)

Distensi abdomen

Integritas kulit
perianal

Asidosis
metabolik

Mual dan muntah

Nafsu makan
menurun

Sesak

BB menurun

Gangguan oksigenasi

Ketidakseimbangan
nutrisi

F. Manifestasi Klinis
1. Pasien cengeng, gelisah, Suhu tubuh meningkat, nafsu makan tidak ada
2. Timbul diare, tinja cair, kadang-kadang disertai lendir dan darah.
3. Anus dan sekitarnya lecet karena sering defekasi
4. Timbul muntah
5. Bila pasien kehilangan cairan dan elektrolit yang banyak, akan nampak :
a. BB menurun
b. Turgor berkurang
c. Pada bayi ubun-ubun besar dan mata cekung
d. Selaput lendir bibir dan mulut kering
e. Kulit tampak kering

G. Komplikasi
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari
pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare
2. Renjatan hipovolemik
Pada dehidrasi berat menyebabkan volume darah berkurang sehingga
terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala nadi cepat dan lemah, pasien
sangat lemah dan kesadaran menurun.
3. Hipokalemia
Hipokalemia ditandai dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah,
bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram.
4. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering
pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena
adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan
adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika
kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada
anak-anak.

5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase


karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga
mengalami kelaparan.

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Tinja
Adanya lendir berarti rangsangan atau radang dinding usus, adanya darah
dapat menjadi petunjuk lokasi perdarahan
2. Laboratorium
a. Feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
b. Serum elektrolit : Hiponatremi, Hipernatremi, hipokalemi
c. AGD : asidosis metabolic (Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2
meningkat, HCO3 menurun)
d. Faal ginjal : Peningkatan Ureum dan Kreatinin
3. Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemonia

I. Penatalaksanaan Diare
Dasar pengobatan diare adalah :
1. Pemberian cairan : jenis cara pemberian, dan jumlah pemberian dengan
memperhatikan derajat dehidrasi dan keadaan umum
a. Cairan Peroral :
1) Dehidrasi ringan dan sedang : Naol, NaHCO3, Kcl, Glukosa, biasa
berupa Oralit.
2) Untuk pengobatan sementara sebelum ke rumah sakit dan
mencegah dehidrasi lebih jauh
b. Cairan Parenteral :
1) Jumlah cairan
Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan
cara/rumus:

a) Metode Pierce:
Berdasarkan keadaan klinis, yakni:
Diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB
Diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB
Diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB
b) Metode Perbandingan BB dan Umur
BB
(kg)

Umur

PWL

NWL

CWL

Total
Kehilangan
Cairan

<3
3-10
1015
1525

< 1 bln
1 bln-2
thn
2-5 thn
5-10 thn

150
125
100
080

125
100
080
025

25
25
25
25

300
250
205
130

Keterangan:
PWL

: Previus Water Lose (ml/kgBB) = cairan muntah

NWL : Normal Water Lose (ml/kgBB) = cairan diuresis,


penguapan, pernapasan
CWL : Concomitant Water Lose (ml/KgBB) = cairan
diare dan muntah yang terus menerus
2) Jadwal pemberian cairan
a) Belum ada dehidrasi
Oral: 1 gelas setiap kali anak buang air besar
Parenteral dibagi rata dalam 24 jam
b) Dehidrasi ringan
Satu jam pertama: 25-50 ml/kgBB peroral atau intragastrik
Selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari
c) Dehidrasi sedang
Satu jam pertama: 50-100ml/kgBB peroral atau intragastrik
Selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari

d) Dehidrasi berat
Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg
1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt
(infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit
(set infus 1 ml=20 tetes).
7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt
(infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit
(set infus 1 ml=20 tetes).
16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit atau
intragastrik.
Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15
kg
1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1
ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
7 jam berikutnya: 10 ml/kg BB/jam atau 3 tetes/kg
BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 4 tetes/kg BB/menit (1
ml=20 tetes)
16 jam berikutnya: 125 ml/kg BB oralit per oral atau
intragastrik.
Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25
kg
1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1
ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt
(1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral atau anak
tidak mau minum dapat diberikan DG aa intravena 1
tetes/kg BB/ menit (1 m= 15 tetes) atau 1 tetes/kg
BB/ menit (set 1 ml= 20 tetes)

Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg


Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250
ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa
5% + 1 bagian NaHCO3 1 %.
Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6
tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20
tts).
Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan
kurang dari 2kg
Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan
4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 %).
Kecepatan cairan: sama dengan pada bayi baru lahir.
2. Pengobatan Dietetik (Makanan)
a. Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat
badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:
1) Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan
lemak tak jenuh, misalnya LLM, Almiron atau sejenisnya)
2) Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim),
bila anak tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa
3) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan
misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak
yang berantai sedang atau tak jenuh.
Cara memberikannya:
1) Hari 1, setelah rehidrasi segera diberikan makanan peroral. Bila
diberi ASI/ susu formula tetap diare masih sering, supaya diberikan
oralit selang seling dengan ASI, misalnya 2x ASI/ susu khusus.
2) Hari ke-2 sampai ke-4, ASI/ susu formula rendah laktosa penuh.
3) Hari ke 5, bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. Kembali
susu atau makanan biasa, disesuaikan dengan umur bayi dan berat
badannya.

3. Obat-obatan
Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang
mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, ait tajin,
tepung beras dan sebagainya)
Obat-obatan yang diberikan pada anak diare adalah:
a. Obat anti sekresi
1) Asetosal dosis 25 mg/tahun dengan dosis minimum 30 mg.
2) Klorpromazin, dosis 0,5-1 mg/kg BB/hari.
a) Obat spasmolitik (papaverin, ekstrakbelladone)
b) Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi telah diidentifikasi)

J. Pencegahan
1. Mencegah berkembang baiknya lalat dengan menghilangkan sarang-

sarang, dengan cara :


a. Membuang sampah pada tempat tertutup
b. Membakar sampah
c. Mencegah lalat hinggap/mengotori makanan/minuman.
2. BAB pada tempat tertentu (WC), Tinja harus dibuang di tempat yang

aman
3. Memelihara kebersihan rumah dan pekarangan
4. Cuci tangan setelah buang air besar atau membersihkan tinja, sebelum

makan, menyuapi anak atau menyiapkan makanan


5. Menjaga kebersihan alat-alat makan/minum.
6. Menghindari makanan yang menyebabkan diare.
7. Menjaga agar air minum terbebas dari kontaminasi bahan bahan tinja, baik

di rumah maupun di sumbernya.


8. Pengolahan dan penyajian makanan harus sesuai dengan syarat kesehatan.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia, ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat
dari pola makan dan perawatannya.
2. Keluhan Utama
BAB lebih dari 3 x
3. Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja.
Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari
(diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari
(diare kronis).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah

mengalami

diare

sebelumnya,

pemakian

antibiotik

atau

kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit


menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
5. Riwayat Nutrisi
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang
dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan
susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara
pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi
makanan, kebiasan mencuci tangan.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
7. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan,
lingkungan tempat tinggal.

8. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan


a. Pertumbuhan

1) Kenaikan BB karena umur 1 3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg


(rata-rata 2 kg), PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.
2) Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun
kedua dan seterusnya.
3) Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan
gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 16 buah
4) Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.
b. Perkembangan

1) Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.


Fase anal
Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai
menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal
dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan,
perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata
sederhana, hubungna interpersonal, bermain).
2) Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson
Autonomy vs Shame and doundt
Perkembangn keterampilan motorik dan bahasa dipelajari anak
toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh dari
kemampuannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan
orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua
terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka
anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan
tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.
3) Gerakan kasar dan halus, bicara, bahasa dan kecerdasan, bergaul
dan mandiri
Umur 2-3 tahun
a) Berdiri dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun 2
hitungan (GK)

b) Meniru membuat garis lurus (GH)


c) Menyatakan keinginan sedikitnya dengan dua kata (BBK)
d) Melepasa pakaian sendiri (BM)
9. Pemeriksaan Fisik
a. Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan
mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
b. Keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
c. Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada
anak umur 1 tahun lebih
d. Mata : cekung, kering, sangat cekung
e. Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen,
peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah,
minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus,
minum sedikit atau kelihatan bisa minum
f. Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena
asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
g. Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi
menurun pada diare sedang
h. Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu
meningkat > 375

c, akral hangat, akral dingin (waspada syok),

capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
i. Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/
24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
j. Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami
stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap
tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan
kemudian menerima.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan skunder
terhadap diare
2. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik, iritasi
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual, muntah, anoreksia
4. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
skunder terhadap diare
5. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan
frekuensi diare

C. Intervensi Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan skunder
terhadap diare
Tujuan : keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan secara
maksimal
NOC : Fluid Status
Kriteria hasil :
a. Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR :
40-60 x/mnt )
b. Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong,
UUB tidak cekung
c. Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari
NIC : Fluid Balance
Intervensi :
a. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
Rasional

Penurunan

sirkulasi

volume

cairan

menyebabkan

kekeringan mukosa dan pemekatan urin. Deteksi dini memungkinkan


terapi pergantian cairan segera

b. Pantau intake dan output


Rasional : Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus
membuat keluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
c. Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama
dengan kehilangan cairan 1 lt
d. Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
e. Kolaborasi :
1) Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
Rasional : koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk
mengetahui faal ginjal (kompensasi).
2) Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan
cepat.
3) Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
Rasional : anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan
elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi
normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk
menghambat endotoksin.

2. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik, iritasi


Tujuan : nyeri berkurang
NOC : Pain Control
Kriteria Hasil :
a. Melaporkan nyeri berkurang
b. Ekspresi wajah rileks, tidak rewel
c. TTV dalam rentang normal

NIC : Pain Management


a. Kaji keluhan nyeri (skala 1-10),perubahan karakteristik nyeri,
petunjuk verbal dan non verbal
Rasional : Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan
intervensi selanjutnya
b. Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
Rasional

Menurunkan

tegangan

permukaan

abdomen

dan

mengurangi nyeri.
c. Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti
masase punggung dan kompres hangat abdomen
Rasional : Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian
kliendan meningkatkan kemampuan koping.
d. Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai
indikasi
Rasional : Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk
menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis.

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan mual, muntah, anoreksia
Tujuan

: kebutuhan nutrisi terpenuhi

NOC : Nutritional Status : food and Fluid Intake


Kriteria Hasil:
a. Mual muntah berkurang
b. Nafsu makan meningkat
c. BB meningkat atau normal sesuai umur
d. Asupan nutrisi terpenuhi
NIC : Nutrition Management
Intervensi :
a. Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik.

b. Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau
sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
Rasional : Situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan
c. Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet
Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
d. Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi.
Rasional : Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/
mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut.

4. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi


dampak sekunder dari diare
Tujuan : tidak terjadi peningkatan suhu tubuh
NOC

: Risk control

Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
b. Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)
NIC: Temperature Regulation
Intervensi :
a. Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
Rasional : Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh (
adanya infeksi)
b. Berikan kompres hangat
Rasional : merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan
produksi panas tubuh
c. Kolaborasi pemberian antipirektik
Rasional : Merangsang pusat pengatur panas di otak

5. Resiko

gangguan

integritas

kulit

perianal

berhubungan

dengan

peningkatan frekuensi BAB


Tujuan

: integritas kulit tidak terganggu

NOC : Tissue integrity : skin and mucous membrans


Kriteria hasil :
a. Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
b. Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik
dan benar
NIC: Pressure Management
Intervensi :
a. Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
Rasional : Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
b. Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila
basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
Rasional : Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh
karena kelebaban dan keasaman feces
c. Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
Rasional : Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang
lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi

D. Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan skunder
terhadap diare
a. Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR :
40-60 x/mnt
b. Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong,
UUB tidak cekung.
c. Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari

2. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik, iritasi


a. Melaporkan nyeri berkurang
b. Ekspresi wajah rileks, tidak rewel
c. TTV dalam rentang normal
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual, muntah, anoreksia
a. Mual muntah berkurang
b. Nafsu makan meningkat
c. BB meningkat atau normal sesuai umur
d. Asupan nutrisi terpenuhi
4. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
dampak sekunder dari diare
a. Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
b. Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)
5. Resiko

gangguan

integritas

kulit

perianal

berhubungan

dengan

peningkatan frekuensi BAB


a. Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
b. Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik
dan benar

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E. J. 2008. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.


Doengos, M. E. 2005. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. 2015. Diagnosa Keperawatan, Definisi dan
Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. 2013. Aplikasi NANDA & NIC NOC. Yogyakarta:
Mediaction.
Suriadi, Rita. 2010. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : Sagung Seto
Suryanah. 2000. Keperawatan Anak. Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith M dan Nancy R Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan Edisi 9. Jakarta : EGC