Anda di halaman 1dari 6

ORANG UTAN

Orangutan Sumatra (Pongo abelii) adalah spesies orangutan terlangka. Orangutan Sumatra
hidup dan endemik terhadap Sumatra, sebuah pulau yang terletak di Indonesia.
Kehidupan
Orangutan Sumatra lebih sosial daripada orangutan Kalimantan. Orangutan-orangutan ini
berkumpul untuk makan sejumlah besar buah di pohon beringin. Akan tetapi, orangutan jantan
dewasa umumnya menghindari kontak dengan jantan dewasa lain. Pemerkosaan umum terjadi di
antara orangutan. Jantan sub-dewasa akan mencoba kawin dengan betina manapun, meskipun
mungkin mereka gagal menghamilinya karena betina dewasa dengan mudah menolaknya.
Orangutan betina dewasa lebih memilih kawin dengan jantan dewasa
Rerata jangka waktu kelahiran orangutan Sumatra lebih lama daripada orangutan Kalimantan
dan merupakan rerata jangka waktu terlama di antara kera besar. Orangutan Sumatra melahirkan
saat mereka berumur sekitar 15 tahun. Bayi orangutan akan dekat dengan induknya hingga tiga
tahun. Bahkan setelah itu, anaknya masih akan berhubungan dengan induknya. Kedua spesies
orangutan mungkin hidup beberapa dekade; perkiraan panjang umurnya dapat melebihi 50 tahun.
Rata-rata perkembangbiakan pertama P. abelii adalah sekitar 12,3 tahun tanpa ada tanda
menopause.
Makanan

Orangutan tergolong Omnivora. Orangutan memakan hampir sebagian besar jenis buah-buahan
yang terdapat di dalam hutan (60% makanan orangutan adalah buah-buahan, seperti : rambutan,
mangga, durian, manggis, duku, dan sebagainya). Selain buah-buahan sebagai makanan pokok,
sumber makanan lainnya adalah daun-daunan, kulit kayu, tunas muda, bunga-bungaan, serta
beberapa jenis serangga seperti rayap dan semut pohon. Berdasarkan pengamatan orangutan juga
dapat memakan daging. Biasanya mereka memakan daging siamang atau monyet yang telah
mati.
Untuk mendapatkan air, mereka melubangi bagian batang pepohonan yang berguna untuk
manampung air hujan dan meminumnya dengan cara menghirup dari pergelangan tangannya.
Orangutan juga mengambil makanan yang berupa mineral dari dalam tanah, namun dalam
jumlah yang sangat sedikit.
Tempat tinggal
Mereka tidur di sarang mereka, setiap malam mereka tidur di sarang baru. Batang2 pohon
mereka rajut menjadi keranjang. Kadang kualitasnya sangat bagus. Kadang lebar keranjang bisa
mencapai satu meter. Orangutan selalu membuat sarang dipagi hari untuk beristirahat dan
bermain; jika sang betina memiliki beberapa anak, ia bisa membuat 2 atau 3 sarang per hari.
Sang betina juga menggunakan sarang sebagai tempat melahirkan.
Ciri-ciri
Kebalikan dari orangutan Borneo, orangutan Sumatera mempunyai kantung pipi yang panjang
pada orangutan jantan. Panjang tubuhnya sekitar 1,25 meter sampai 1,5 meter. Berat orangutan
dewasa betina sekitar 30-50 kilogram, sedangkan yang jantan sekitar 50-90 kilogram. Bulubulunya berwarna coklat kemerahan.
Jantan dewasa umumnya penyendiri sementara para betina sering dijumpai bersama anaknya di
hutan. Rata-rata setiap kelompok terdiri dari 1-2 orangutan dan kedua jenis kelamin mempunyai
daya jelajah sekitar 2-10 kilometer yang banyak bertumpang tindih tergantung pada ketersediaan
buah di hutan. Setelah disapih pada umur 3,5 tahun, anak orangutan akan berangsur-angsur
independen dari induknya setelah kelahiran anak yang lebih kecil. Orangutan Sumatera betina
mulai berproduksi pada usia 10-11 tahun, dengan rata-rata usia reproduksi sekitar 15 tahun.

BADAK BERCULA SATU (BADAK JAWA)

Badak Jawa sering kali disebut dengan Badak Bercula Satu kecil ( Rhinoceros sondaicus )
yaitu anggota dari famili Rhinocerotidae serta satu dari lima badak yang mana tetap ada. Badak
ini masuk ke genus yang sama juga dengan badak india serta mempunyai kulit bermosaik yang
mana mirip baju baja. Badak ini mempunyai panjang antara 3,1 sampai 3,2 m serta tinggi antara
1,4 sampai 1,7 m. Badak ini lebih kecil dari pada badak india serta lebih dekat atau hampir sama
besar tubuhnya dengan badak hitam. Ukuran culanya umumnya kurang dari 20 cm, lebih kecil
dari pada cula spesies badak yang lain.
Ciri-ciri Badak Jawa
Badak jawamemiliki ciri lebih kecil dari pada sepupunya, badak india, dan mempunyai besar
tubuh yang hampir sama dengan badak hitam. Panjang tubuh badak Jawa ( terhitung dari
kepalanya ) bisa kian lebih 3,1 sampai 3,2 m dan tingginya bisa mencapai antara 1,4 sampai 1,7
m. Badak dewasa dilaporkan mempunyai berat antara 900 sampai 2.300 kilogram. Penelitian
dalam upaya menghimpun pengukuran akurat badak Jawa tak pernah dikerjakan dan bukan
hanya prioritas. Tak ada perbedaan besar pada type kelamin, namun badak Jawa betina ukuran

tubuhnya bisa semakin besar. Badak di Vietnam lebih kecil dari pada di Jawa menurut penelitian
bukti melewati photo dan pengukuran jejak kaki mereka..
Layaknya sepupunya di India, badak jawa mempunyai satu cula ( spesies lain mempunyai dua
cula ). Culanya yaitu cula paling kecil dari seluruh badak, umumnya lebih sedikit dari 20 cm dng
yang terpanjang selama 27 cm. Badak jawa jarang memakai culanya utk bertarung, namun
memakainya utk memindahkan lumpur di kubangan, utk menarik tanaman supaya bisa dimakan,
dan buka jalur melewati vegetasi tidak tipis. Badak Jawa mempunyai bibir panjang, atas dan
tingginya yang membantunya mengambil makanan. Gigi serinya panjang dan tajam ; saat badak
jawa bertempur, mereka memakai gigi ini. Di belakang gigi seri, enam gigi geraham panjang
dipakai utk mengunyah tanaman kasar. Layaknya seluruh badak, badak jawa mempunyai
penciuman dan pendengaran yang baik namun mempunyai pandangan mata yang jelek. Mereka
diperkirakan hidup sepanjang 30 hingga 45 th..
Kulitnya yang sedikit berbulu, memiliki warna abu-abu atau abu-abu-coklat membungkus di
pundak, punggung dan pantat. Kulitnya mempunyai pola mosaik alami yang mengakibatkan
badak mempunyai perisai. Pembungkus leher badak Jawa lebih kecil dari pada badak india,
namun terus membentuk wujud pelana pada pundak. Di karenakan risiko mengganggu spesies
terancam, badak jawa dipelajari melewati sampel kotoran dan kamera. Mereka jarang didapati,
dilihat atau di ukur dengan cara langsung.
Kehidupan & Tempat tinggal Badak Jawa
Badak ini dulu menjadi satu di antara badak di Asia yang sangat banyak menyebar. Walau
disebut dengan badak jawa, binatang ini tak terbatas hidup di Pulau Jawa saja, namun di semua
Nusantara, di sepanjang Asia Tenggara serta di India dan Tiongkok. Spesies ini saat ini statusnya
amat krusial, dimana cuma sedikit populasi yang bisa ditemukan di alam bebas, serta tak ada di
kebun binatang. Badak ini kemungkinan merupakan mamalia terlangka yang ada di bumi.
Sekitar 40-50 populasi badak hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa, Indonesia.
Dan populasi Badak Jawa di alam bebas yang lain terdapat di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam
dan diperkiraan populasi tak kian lebih delapan ekor pada th. 2007. Menyusutnya populasi badak
jawa disebabkan oleh perburuan untuk di ambil culanya, yang amat bernilai pada proses
pengobatan tradisional Tiongkok, dan harganya mencapai $30. 000 per kilogram di pasar gelap.
Menyusutnya populasi badak ini juga dikarenakan oleh kehilangan habitat, yang terlebih

disebabkan oleh perang, layaknya perang Vietnam di Asia Tenggara juga mengakibatkan
menyusutnya populasi badak Jawa serta menghambat pemulihan. Tempat yang masih tersisa
cuma ada di dua tempat yang telah dilindungi, namun badak jawa tetap ada pada risiko diburu,
sensitif pada penyakit serta menciutnya keragaman genetik menyebabkannya terganggu dalam
proses berkembangbiak. WWF Indonesia mengupayakan untuk mengembangkan ke-2 untuk
badak jawa di karenakan bila berlangsung serangan penyakit atau bencana alam layaknya
tsunami, letusan gunung berapi Krakatau serta gempa bumi, populasi badak jawa dapat segera
punah. Disamping itu, di karenakan invasi langkap ( arenga ) serta persaingan dengan populsai
banteng untuk ruang dan juga sumber, maka populasinya makin terdesak. Lokasi yang
diidentifikasikan aman serta relatif dekat yaitu Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa
Barat yang mana dulu jadi habitat badak Jawa
Badak jawa bisa hidup sepanjang 30-45 th. di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan yang
ada di dataran rendah, padang rumput basah serta tempat daratan banjir besar. Badak jawa
umumnya memiliki sifat yang tenang, terkecuali pada saat kenal-mengenal serta membesarkan
anak, meskipun satu grup terkadang bisa berkumpul di dekat kubangan serta area memperoleh
mineral. Badak dewasa tak mempunyai hewan pemangsa sebagai musuhnya. Badak jawa
umumnya menjahui manusia, namun dapat menyerang manusia bila ia merasa diganggu. Peneliti
serta pelindung alam jarang meneliti binatang itu dengan cara langsung di karenakan kelangkaan
mereka serta ada bahaya mengganggu sbuah spesies terancam. Peneliti memakai kamera serta
sampel kotoran untuk bisa mengukur kesehatan serta perilaku mereka. Badak Jawa lebih sedikit
dipelajari dari pada spesies badak yang lain.
Makanan
Badak jawa merupakan hewan herbivora dan makan berbagai macam spesies tanaman, terlebih
tunas, ranting, dedaunan muda dan buah yang jatuh. Umumnya tumbuhan yang disukai oleh
spesies ini tumbuh di tempat yang terkena cahaya matahari : pada pembukaan hutan, semaksemak dan jenis vegetasi yang lain tanpa pohon besar. Badak menjatuhkan pohon muda utk
meraih makanannya dan mengambilnya dng bibir atasnya yang bisa memegang. Badak Jawa
yaitu pemakan yang sangat bisa beradaptasi dari seluruh spesies badak. Badak diperkirakan
makan 50 kg makanan /hari. Layaknya badak Sumatra, spesies badak ini membutuhkan garam

utk makanannya. Area melacak mineral umum tak ada di Ujung Kulon, namun badak Jawa
tampak minum air laut utk nutrisi sama yang diperlukan.