Anda di halaman 1dari 12

SLAPORAN KEGIATAN

TERAPI MODALITAS DI WISMA KUNTHI


UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
MAGETAN

OLEH:
GEDE ROBIN
15350015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN PROFESI NERS
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2015

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


KEPERAWATAN GERONTIK
UNIVERSITAS MALAHAYATI
DI UPT PELAYANAN SOAIAL LANJUT USIA TRESNA WERDHA
LAPORAN KEGIATAN TERAPI MODALITAS
Hari

: Kamis

Tanggal

: Jumat 2 Oktober 2015

Waktu

: 09.00-10.00 WIB (60 menit)

Tempat

: Di Wisma Seruni

Topik kegiatan

: Terapi Modalitas (Membuat Tasbih)

A.

LATAR BELAKANG
Penuaan adalah suatu proses akumulasi dari kerusakan sel somatik yang

diawali oleh adanya disfungsi sel hingga terjadi disfungsi organ dan pada akhirnya
akan meningkatkan risiko kematian bagi seseorang. Apabila dilihat dari sudut png
yang lebih luas, proses penuaan merupakan suatu perubahan progresif pada
organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel
serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu.
Pada hakikatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu : masa kanak-kanak, masa
remaja, dan masa tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun
psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran baik fisik maupun
psikis.
Corak perkembangan proses penuaan bersifat lambat namun dinamis dan
bersifat individual baik secara fisiologis maupun patologis, karena banyak
dipengaruhi oleh riwayat maupun pengalaman hidup di masa lalu yang terkait
dengan faktor biologis, psikologis, spiritual, fungsional, lingkungan fisik dan
sosial. Perubahan struktur dan penurunan fungsi sistem tubuh tersebut diyakini
memberikan dampak yang signifikan terhadap gangguan homeostasis sehingga
lanjut usia mudah menderita penyakit yang terkait dengan usia misalnya: stroke,
Parkinson, dan osteoporosis dan berakhir pada kematian. Penuaan patologis dapat
menyebabkan disabilitas pada lanjut usia sebagai akibat dari trauma, penyakit

kronis, atau perubahan degeneratif yang timbul karena stres yang dialami oleh
individu. Stres tersebut dapat mempercepat penuaan dalam waktu tertentu,
selanjutnya dapat terjadi akselerasi proses degenerasi pada lanjut usia apabila
menimbulkan penyakit fisik.
Pada dasarnya pelayanan sosial lanjut usia (Lansia), selalu mengacu kepada
terpenuhinya kebutuhan lanjut usia (Lansia) yang meliputi kebutuhan biologis,
psikologis, sosial, intelektual dan spiritual serta kegiatan pengisian waktu luang.
Selain itu, dapat bermanfaat untuk memperpanjang usia harapan hidup dan
produktivitas lanjut usia serta terwujudnya kesejahteraan sosial lanjut usia yang
diliputi rasa tenang, tenteram, bahagia, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
Sampai saat ini, pelayanan sistem Panti atau institusi masih menjadi salah satu
alternatif pelayanan lanjut usia, khususnya bagi lanjut usia yang kurang mampu
secara sosial ekonomi. Pelayanan sistem institusi dalam banyak hal menjadi
model pelayanan yang dapat diadopsi oleh keluarga dan masyarakat dalam
menyelenggarakan pelayanan sosial lanjut usia. Disadari, bahwa kehidupan dalam
institusi terkadang monoton dan rutinitas sehingga membuat para lanjut usia
merasa jenuh atau bosan tinggal dan hidup selamanya di dalam Panti atau
institusi.
Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada upaya pengembangan bakat, minat
dan potensi lanjut usia, maka oleh sebab itu perlu diadakan berbagai kegiatan
positip untuk mengisi waktu-waktu luang, dan perlu dirancang berbagai kegiatan
atau aktivitas yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan lanjut usia
(lansia).
Oleh karena itu diperlukannya pelaksanaan program terapi yang diperlukan
suatu instrument atau parameter yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kondisi
lansia, sehingga mudah untuk menentukan program terapi selanjutnya. Tetapi
tentunya parameter tersebut harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dimana
lansia itu berada, karena hal ini sangat individual sekali, dan apabila dipaksakan
justru tidak akan memperoleh hasil yang diharapkan. Dalam keadaan ini maka
upaya pencegahan berupa latihan-latihan atau terapi yang sesuai harus dilakukan
secara rutin dan berkesinambungan.
B.

TUJUAN
a. Tujuan umum

Setelah mengikuti terapi modalitas diharapkan lansia dapat mengisi


waktu luang untuk suatu kegiatan yang berguna.
2. Tujuan khusus
Setelah diberikan terapi modalitas, lansia dapat :
a. Mengisi waktu luang bagi lansia
b. Meningkatkan kesehatan lansia
c. Meningkatkan produktifitas lansia
d. Meningkatkan interaksi sosial antar lansia
C. PESERTA
1. Lansia yang masih kooperatif di wisma kunthi UPT PSLU Tresna Werdha
2. Lansia yang tinggal di wisma Seruni
3. Lansia yang sering menggunakan waktu senggangnya di kamar.
D. PEMBAGIAN TUGAS
1. Leader
: Gede Robin, S.Kep
2. Co Leader
: Sri Oktami, S.Kep
3. Seksi Perlengkapan : Fitria T., S.Kep
E.
1.

2.
3.
4.

URAIAN TUGAS
Leader
a. Memimpin jalanya Terapi Modalitas Orientasi Realita.
b. Merencanakan, mengontrol dan mengendalikan jalanya terapi.
c. Membuka acara.
d. Menjelaskan aturan main (cara permainan dan waktu permainan).
e. Memimpin terapi modalitas.
f. Menutup acara diskusi.
Co Leader
a. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktivitas klien.
b. mengingatkan leader jika kegiatannya menyimpang.
Fasilitastor
a. Memfalisitasi pasien dalam terapi modalitas orientasi realita.
b. Mengarahkan pasien yang kurang kooperatif.
Observer
a. Mengobservasi jalannya terapi modlitas orientasi realita, mulai dari
persiapan, proses dan penutup dengan format evaluasi perilaku.
b. Menilai aspek kemampuan pasien dalam memperkenalkan diri.

F.
1.

2.

LANGKAH-LANGKAH
Tahap pre interaksi ( 5 menit ):
Leader memberikan salam terapeutik, memperkenalkan diri, menjelaskan
tujuan serta peraturan kegiatan dalam kelompok.
Tahap Orientasi ( 10 menit ):
a. Leader mengevaluasi perasaan klien
b. Leader melakukan kontrak (waktu,tempat, topik).
c. Leader menjelaskan tujuan dan prosedur terapi.

3.

Tahap Kerja :
a. Leader : Memimpin pelaksanaan serta mendemonstrasikan kegiatan terapi
modalitas.
b. Fasilisator : Memfasilitasi klien untuk melaksanakan kegiatan terapi
modalitas.
c. Observer : Mengobservasi kemampuan klien dalam pelaksanaan terapi

4.

modalitas.
Tahap Terminasi :
a. Mengevaluasi perasaan klien.
b. Beri pujian atas keberhasilan klien.
c. Kontrak yang akan datang :
- Topik : sepakati kegiatan yang akan datang.
- Waktu: sepakati waktu pertemuan yang akan datang.
- Tempat : sepakati tempat pertemuan yang akan datang

G. TATA TERTIB
1. Peserta bersedia mengikuti kegiatan terapi modalitas okupasi.
2. Berpakaian rapi dan bersih.
3. Peserta tidak diperkenankan makan dan merokok selama terapi.
4. Peserta tidak meninggalkan kegiatan sebelum kegiatan selesai.
5. Peserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai
H.
I.

METODE
Demonstrasi
EVALUASI KEGIATAN
1. Evaluasi Struktur :
Persiapan telah disiapkan satu hari sebelum acara. Sarana dan prasarana
telah disiapkan satu hari sebelum acara.
2. Evaluasi Proses
Kegiatan terapi modalitas dilaksanakan pada hari senin tanggal 18 februari
jam 10.00 wib sd 11.00 wib bertempat di ruang tamu wisma kunthi. Lansia
yang mengikuti terapi modalitas sejumlah 9 orang dari 10 orang yang ada
di wisma kunthi. 1 lansia tidak mengikuti terapi modalitas dikarenakan
sakit. Selama berlangsungnya acara tidak ada peserta yang meninggalkan
tempat. Peserta antusias terhadap kegiatan yang di lakukan, namun ada
beberapa peserta yang masih membutuhkan bantuan dari mahasiswa untuk
memasukkan benang nylon ke dalam manik-manik. Masingmasing
mahasiswa bekerja sesuai dengan jobdisc. Kegiatan berjalan dengan lancar
dan tujuan mahasiswa tercapai dengan baik.

3. Evaluasi Hasil
Peserta dapat membuat tasbih dengan baik.

LAMPIRAN 1
MATERI
1.1

Pengertian
Terapi modalitas adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang
bagi lansia.

1.2

Tujuan
a. Mengisi waktu luang bagi lansia
b. Meningkatkan kesehatan lansia
c. Meningkatkan produktifitas lansia
d. Meningkatkan interaksi sosial antar lansia

1.3

Jenis Kegiatan
1. Psikodrama
Bertujuan untuk mengekspresikan perasaan lansia. Tema dapat dipilih
sesuai dengan masalah lansia.
2. Terapi aktivitas kelompok ( TAK )
Terdiri atas 7-10 orang. Bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan,
bersosialisasi, bertukar pengalaman, dan mengubah perilaku. Untuk
terlaksananya terapi ini dibutuhkan Leader, Co-Leader, dan fasilitator.
Misalnya : cerdas cermat, tebak gambar, dan lain-lain.
3. Terapi Musik
Bertujuan untuk mengibur para lansia seningga meningkatkan gairah
hidup dan dapat mengenang masa lalu. Misalnya : lagu-lagu kroncong,
musik dengan gamelan.
4. Terapi Berkebun
Bertujuan untuk melatih kesabaran, kebersamaan, dan memanfaatkan
waktu luang. Misalnya : penanaman kangkung, bayam, lombok, dan lainlain.

5.

Terapi dengan binatang

Bertujuan untuk meningkatkan rasa kasih sayang dan mengisi hari-hari


sepinya dengan bermain bersama binatang. Misalnya : mempunyai
peliharaan kucing, ayam, dan lain-lain.
6. Terapi okupasi
Bertujuan untuk memanfaatkan waktu luang dan meningkatkan
produktivitas dengan membuat atau menghasilkan karya dari bahan yang
telah disediakan. Misalnya : membuat kipas, membuat keset, membuat sulak
dari tali rafia, membuat bunga dari bahan yang mudah di dapat (pelepah
pisang, sedotan, botol bekas, biji-bijian, dll), menjahit dari kain, merajut
dari benang, kerja bakti (merapikan kamar, lemari, membersihkan
lingkungan sekitar, menjemur kasur, dan lain-lain).
7. Terapi kognitif
Bertujuan agar daya ingat tidak menurun. Seperti menggadakan cerdas
cermat, mengisi TTS, tebak-tebakan, puzzle, dan lain-lain.
8. Life review terapi
Bertujuan untuk meningkatkan gairah hidup dan harga diri dengan
menceritakan pengalaman hidupnya. Misalnya : bercerita di masa mudanya.
9. Rekreasi
Bertujuan untuk meningkatkan sosialisasi, gairah hidup, menurunkan
rasa bosan, dan melihat pemngan. Misalnya : mengikuti senam lansia,
posyandu lansia, bersepeda, rekreasi ke kebun raya bersama keluarga,
mengunjungi saudara, dan lain-lain.
10. Terapi keagamaan
Bertujuan untuk kebersamaan, persiapan menjelang kematian, dan
meningkatkan rasa nyaman. Seperti menggadakan pengajian, kebaktian,
sholat berjamaah, dan lain-lain.
11. Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota
keluarga sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga
adalah agar keluarga mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran
utama terapi jenis ini adalah keluarga yang mengalami disfungsi; tidak bisa
melaksanakan fungsi-fungsi yang dituntut oleh anggotanya.
Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan
diidentifikasi dan kontribusi dari masing-masing anggota keluarga terhadap
munculnya masalah tersebut digali. Dengan demikian terlebih dahulu
masing-masing anggota keluarga mawas diri; apa masalah yang terjadi di
keluarga, apa kontribusi masing-masing terhadap timbulnya masalah, untuk

kemudian mencari solusi untuk mempertahankan keutuhan keluarga dan


meningkatkan atau mengembalikan fungsi keluarga seperti yang seharusnya.
Proses terapi keluarga meliputi tiga tahapan yaitu fase 1 (perjanjian),
fase 2 (kerja), dan fase 3 (terminasi). Di fase pertamaperawat dan klien
mengembangkan hubungan saling percaya, isu-isu keluarga diidentifikasi,
dan tujuan terapi ditetapkan bersama. Kegiatan di fase kedua atau fase
kerja adalah keluarga dengan dibantu oleh perawat sebagai terapis berusaha
mengubah pola interaksi di antara anggota keluarga, meningkatkan
kompetensi masing-masing individual anggota keluarga, eksplorasi batasanbatasan dalam keluarga, peraturan-peraturan yang selama ini ada. Terapi
keluarga diakhiri difase terminasi di mana keluarga akan melihat lagi proses
yang selama ini dijalani untuk mencapai tujuan terapi, dan cara-cara
mengatasi

isu

yang

timbul.

Keluarga

juga

diharapkan

dapat

mempertahankan perawatan yang berkesinambungan.


1.4

Pembuatan tasbih ( Terapi Okupasi )


Tasbih adalah alat bantu doa bagi umat Muslim dalam mengagungkan

nama Allah. Itulah sebabnya ada 99 butir mata ornamen dalam sebuah tasbih.
Sebab bagi umat Muslim ada 99 nama Allah. Alangkah senangnya jika dapat
membuat tasbih rancangan sendiri
Tasbih sendiri saat ini bisa dibuat dengan dua pilihan. Yang pertama dan
utama tentunya dengan 99 mata ornamen. Sedangkan yang kedua adalah dengan
dengan 33 mata ornamen. Pilihan kedua ini dibuat sebab 99 adalah kelipatan 3
dari 33. Dengan ukuran yg lebih kecil ini tentunya Tasbih lebih mudah untuk
disimpan dan dibawa kemana-mana.
Alat dan bahan
1. Benang Nylon

2. Manik manik tasbih

3. Alat perangkai benang


Berikut ini adalah cara membuat Tasbih yang 9rna lakukan sendiri:
1. Bahan utama yang dibutuhkan adalah mata 9rnament dan talinya. Untuk mata
9rnament, umumnya Tasbih terbuat dari 9rnam kayu. Sebagai alat bantu untuk
beribadah kepada Allah, tentunya hanya ingin yang terbaik saja
2. Sebelum merangkai kita perlu mengenal lebih dulu bagian-bagian dari Tasbih
supaya kita dapat menentukan kombinasi mata 9rnament yang akan
digunakan.
Adapun bagian dari Tasbih adalah:
a. Mata 9rnament utama, adalah mata 9rnament yang sebagian besar
digunakan untuk merangkai Tasbih.
b. Nisane, adalah mata 9rnament berbentuk piringan yang memisahkan 33
mata 9rnament. Kenapa dipisahkan? Sebab 33 mata 9rnament pertama
adalah untuk pujian kepada Allah, Subhanallah. Sedangkan 33 mata
9rnament kedua adalah untuk memuliakan Allah, Alhamdulilah. Dan 33
mata 9rnament terakhir adalah untuk membesarkan nama Allah, Allahu
akbar. Pada tasbih berukuran kecil, 33 mata 9rnament, Nisane hanya

dipakai untuk memisahkan setiap 11 mata 10rnament. Selain itu juga


10rna memilih mata 10rnament yang sama tetapi berbeda ukuran dan
warna.
c. Pul, ini adalah mata 10rnament yang lebih kecil untuk menkan mata
10rnament dengan urutan ke-7. Penempatan pada urutan ketujuh
disebabkan angka tujuh melambangkan kesempurnaan yang juga mewakili
kesempurnaan Allah. Pada Tasbih yang berukuran kecil, Pul tidak
digunakan. Untuk Pul ini 10rna digunakan mata 10rnament yang sama
dengan mata 10rnament 33 itu hanya dibedakan dengan ukurannya saja.
d. Imame, adalah bagian yang 10rna dibilang semacam bagian cabang dari
Tasbih yang meni titik awal rangkaian Tasbih dalam memulai doa. Ujung
atas dari Imame disebut Tepelik. Pada bagian Imame ini 10rna dibuat dari
rangkaian mata 10rnament yang sama dengan mata rangkaian utama
dipadukan dengan clasp/jump ring. Jumlah clasp/jump ring ini 10rna dua
buah untuk ditempatkan pada bagian ujung awal dan ujung akhir Imame.
Diantara clasp/jump ring itulah 10rna kita isi dengan mata 10rnament.
e. Tepelik, adalah bagian ujung dari Imame.
3. Setelah mengenal bagian-bagian dari Tasbih tentu kita dapat menentukan mata
10rnament yang akan kita gunakan untuk merangkai Tasbih. Pemilihan dapat
disesuaikan dengan selera kita. Meski mata 10rnament dari batu semi mulia
dan mulia dipercaya dapat memberikan efek psikologis yang baik di samping
untuk membantu kegiatan doa . Seperti misalnya turquoise memiliki efek
menenangkan dan meredakan stress. Sementara amethyst dipercaya memiliki
kemampuan mereduksi alergi, sakit kepala, gangguan mata dan jantung.
4. Pilih benang yang akan digunakan senar pancing, Dandyline, Power Pro atau
berbagai pilihan lainnya. Pilihan benang tergantung dari mata 10rnament yang
pilih, karena setiap benang memiliki karakternya masing-masing.
5. Masukan benang ke dalam lubang mata 10rnament. Susun mata 10rnament
sesuai ketentuan urutan dari Nisane, kemudian masukan mata 10rnament
utama. Jangan lupa menyelipkan mata 10rnament Pul pada setiap urutan ke-7.
Setelah 33 mata 10rnament jangan lupa untuk menyelipkan Nisane.

6. Setelah itu kedua ujung benang dijadikan satu untuk membuat bagian Imame.
Masukan kedua ujung benang bersamaan ke dalam mata 11rnament yang lebih
panjang. Dan kemudian sebagai Tepelik gunakan tassel mungil dan ikatkan
pada kedua benang menjadi satu. Alternatif lain membuat Imame adalah
menggunakan eye pin yang 11rna kombinasikan dengan mata 11rnament
yang berbeda sehingga lebih menarik. Caranya adalah simpulkan kedua ujung
benang pada ujung eye pin yang satu kemudian masukan beberapa mata
11rnament yang berbeda ke dalam eye pin. Kemudian tekukkan ujung eye pin
itu menggunakan tang Round Nose

Daftar Pustaka