Anda di halaman 1dari 14

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)

Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-1

Bab ini menampilkan berbagai analisa terkait dengan kawasan permukiman dengan
menggunakan peta yang bersumber dari Citra satelit dan peta dari Rencana Detail Tata Ruang Perkotaan
Amuntai. Namun pada peta citra satelit tersebut memiliki keterbatasan, sehingga terdapat 3 Kelurahan
yang tidak dapat dihitung jumlah eksiting rumahnya, yaitu: Danau Cermin, Pinangkara dan Pinang
Habang.

5.1.

Analisa Kebutuhan Rumah (Backlog)


Backlog merupakan jumlah kekurangan rumah saat ini. Perhitungan kekurangan jumlah rumah

(Backlog) dilakukan dengan cara menghitung selisih antara jumlah rumah tangga (KK) dengan jumlah
rumah eksisting pada masing-masing desa/ kelurahan di wilayah perencanaan. Berdasarkan hasil
perhitungan diketahui bahwa backlog total untuk wilayah perencanaan yang meliputi Kecamatan
Amuntai Tengah dan Selatan adalah sebesar 812 unit rumah. Rincian backlog rumah untuk masingmasing desa/ kelurahan ditampilkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.1.
Backlog Rumah
No

KecamatanDesa/Kelurahan

Keluarga

Jumlah
Rumah

Backlog

No

Amuntai Tengah

KecamatanDesa/Kelurahan

Keluarga

Jumlah
Rumah

Backlog

Amuntai Selatan

Danau Cermin

197

197

Keramat

213

115

98

Pinangkara

121

121

Panyiuran

232

405

(173)

Pinang Habang

162

162

Cempaka

348

472

(124)

Tapus

289

168

121

Ilir Mesjid

293

399

(106)

Mawar Sari

104

112

(8)

Ujung Murung

411

346

65

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-2
No

KecamatanDesa/Kelurahan

Keluarga

Jumlah
Rumah

Backlog

No

Amuntai Tengah

KecamatanDesa/Kelurahan

Keluarga

Jumlah
Rumah

Backlog

Amuntai Selatan

Datu Kuning

298

163

135

Jarang Kuantan

332

371

(39)

Muara Tapus

397

732

(335)

Kota Raja

872

679

193

517

581

(64)

Jumba

521

487

34

541

614

(73)

Teluk Paring

203

82

121

25

10

Teluk Baru

308

146

162

(36)

11

Cangkering

242

221

21

Simpang Empat

Rantawan
Kandang Halang

10

Pasar Senin

11

Kembang Kuning

12

Kota Raden Hilir

316

334

(18)

12

157

224

(67)

13

Kota Raden Hulu

346

349

(3)

13

Rukam Hulu

141

146

(5)

14

Kebun Sari

1.097

1.161

(64)

14

Rukam Hilir

132

138

(6)

15

Sungai Karias

523

485

38

15

Kutai Kecil

182

80

102

16

Hulu Pasar

289

275

14

16

Padang Darat

142

116

26

17

Tambalangan

382

320

62

17

Telaga Hanyar

169

159

10

18

Tangga Ulin Hulu

119

18

Murung Sari

163

302

(139)

19

Tangga Ulin Hilir

(110)

19

Mamar

248

270

(22)

20

Antasari

1.108

910

198

20

Teluk Sari

112

281

(169)

21

Murung Sari

403

480

(77)

21

Telaga Sari

191

219

(28)

22

Paliwara

647

533

114

22

Simpang Tiga

143

281

(138)

23

Palampitan Hulu

638

518

120

23

Harusan Telaga

172

211

(39)

24

Palampitan Hilir

643

517

126

24

Telaga Silaba

242

399

(157)

25

Sungai Malang

1.562

1.620

(58)

25

Banyu Hirang

132

160

(28)

26

Tigarun

94

26

Pulau Tambak

162

152

10

27

Sungai Baring

(198)

27

Kayakah

358

477

(119)

28

Harus

174

74

100

28

Bajawit

179

97

82

29

Harusan

158

48

110

29

Padang Tanggul

172

167

12.538

11.726

812

30

Murung Panggang
Jumlah

133

56

77

7.305

7.658

(353)

489
309

194
346

167
121

Jumlah

464
345

75
456

73
319

Sumber: Analisis, 2014

Tabel diatas menunjukkan 2 fakta yang berbeda, yaitu Kecamatan Amuntai Tengah yang
penduduknya membutuhkan penyediaan rumah dan Kecamatan Amuntai Selatan yang jumlah
rumahnya melebihi jumlah penduduknya.
Fakta yang menunjukkan bahwa jumlah penduduk lebih besar dari jumlah rumah dapat
diartikan bahwa terdapat lebih dari 1 KK didalam 1 unit rumah, dengan demikian penduduk yang ada
melebihi jumlah rumah. Misalnya yaitu dapat dimungkinkan karena adanya sebuah keluarga yang
didalamnya terdapat anak yang sudah berkeluarga namun masih tinggal bersama orang tuanya atau

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-3
juga dapat dikarenakan harga rumah yang tidak terjangkau sehingga tiap keluarga baru masih tinggal
bersama orang tua mereka sendiri.
Fakta yang kedua, bahwa jumlah rumah yang ada melebihi jumlah penduduknya
mengindikasikan bawa terdapat perilaku masyarakat yang telah membeli rumah namun tidak ditinggali,
hal tersebut dapat dikarenakan keinginan masyarakat berinvestasi di bidang perumahan

5.2.

Analisa Kepadatan Bangunan Rumah


Kepadatan bangunan kawasan permukiman di wilayah
perencanaan masing-masing yaitu sebesar 19 unit/ha di Kecamatan
Amuntai Tengah dan 15 unit/ha di Kecamatan Amuntai Selatan,
namun kepadatan yang terjadi cenderung mengelompok di suatu
wilayah, di desa/ kelurahan tertentu yang memiliki kondisi
representatif sebagai kawasan perumahan dan permukiman. Desa/

kelurahan tersebut menjadi kondisi seperti ini dikarenakan terletak di sepanjang jalan utama Kabupaten
dan adanya tarikan yang kuat dari wilayah di sekitarnya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut ini.

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

KecamatanDesa/Kelurahan
Amuntai Tengah
Danau Cermin
Pinangkara
Pinang Habang
Tapus
Mawar Sari
Datu Kuning
Muara Tapus
Rantawan
Kandang Halang
Pasar Senin
Kembang Kuning
Kota Raden Hilir
Kota Raden Hulu
Kebun Sari
Sungai Karias
Hulu Pasar
Tambalangan
Tangga Ulin Hulu
Tangga Ulin Hilir

Jumlah
Rumah

168
112
163
732
581
614
464
345
334
349
1.161
485
275
320
75
456

Tabel 5.2.
Kepadatan Bangunan Rumah
Luas
Kepdtn
KecamatanNo
Desa/Kelurahan
Permuk
Bangunan
Amuntai Selatan
2,43
1 Keramat
1,50
2 Panyiuran
1,36
3 Cempaka
9,07
19
4 Ilir Mesjid
14,34
8
5 Ujung Murung
5,44
30
6 Jarang Kuantan
38,88
19
7 Kota Raja
28,79
20
8 Jumba
28,03
22
9 Teluk Paring
26,22
18 10 Teluk Baru
13,70
25 11 Cangkering
12,95
26 12 Simpang Empat
14,82
24 13 Rukam Hulu
68,32
17 14 Rukam Hilir
29,58
16 15 Kutai Kecil
7,40
37 16 Padang Darat
8,36
38 17 Telaga Hanyar
3,31
23 18 Murung Sari
17,16
27 19 Mamar

Jumlah
Rumah
115
405
472
399
346
371
679
487
82
146
221
224
146
138
80
116
159
302
270

Luas
Permuk
8,02
20,59
21,45
19,23
23,67
23,09
33,56
26,26
10,12
13,08
19,07
17,03
9,88
9,29
5,62
8,36
13,79
22,10
16,52

Kepdtn
Bangunan
14
20
22
21
15
16
20
19
8
11
12
13
15
15
14
14
12
14
16

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-4
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

Antasari
Murung Sari
Paliwara
Palampitan Hulu
Palampitan Hilir
Sungai Malang
Tigarun
Sungai Baring
Harus
Harusan
Jumlah

910
480
533
518
517
1.620
73
319
74
48
11.726

41,10
35,06
22,75
27,01
26,22
102,65
7,22
14,30
3,34
1,90
613

22
14
23
19
20
16
10
22
22
25
19

20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Teluk Sari
Telaga Sari
Simpang Tiga
Harusan Telaga
Telaga Silaba
Banyu Hirang
Pulau Tambak
Kayakah
Bajawit
Padang Tanggul
Murung Panggang
Jumlah

281
219
281
211
399
160
152
477
97
167
56
7.658

16,14
19,65
21,35
14,10
27,91
10,28
11,15
37,81
8,82
12,54
4,10
505

Sumber: Analisis, 2014

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa antara Kecamatan Amuntai Tengah dan
Kecamatan Amuntai Selatan bila dibandingkan maka kepadatan bangunan rumah yang lebih tinggi
adalah Kecamatan Amuntai Tengah daripada Kecamatan Amuntai Selatan. Kepadatan bangunan yang
tinggi tersebut berhubungan dengan nilai historis pertumbuhan kawsasan Amuntai di masa lampau yang
memang terfokus pada kawasan yang sekarang menjadi Kecamatan Amuntai Tengah. Seiring dengan
berjalannya waktu maka perkembangan kawasan kota Amuntai terus melebar hingga salah satunya
adalah Kecamatan Amuntai Selatan, namun Amuntai Tengah tetap mengalami pertumbuhan paling
pesat.
Selain faktor diatas, tingginya kepadatan bangunan di Kecamatan Amuntai Tengah dipicu
dengan tingginya kegiatan penduduk dalam pembangunan rumah baru di pusat Kota Amuntai, dengan
pertimbangan untuk mendapatkan kemudahan akses kawasan, memadainya prasarana dan sarana
pendukung, serta image kawasan.
Terdapat klasifikasi tingkat kepadatan perumahan dan permukiman di wilayah perencanaan
berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Tingkat Kekumuhan, 2002) adalah sebagai berikut:
- Kepadatan tinggi

= > 40 unit /ha

- Kepadatan sedang

= 30 40 unit/ha

- Kepadatan rendah

= < 30 unit/ha

Bersumber dari ketentuan diatas maka kepadatan bangunan di wilayah perencanaan dapat
disimpulkan sebagai berikut:

17
11
13
15
14
16
14
13
11
13
14
15

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-5

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

Tabel 5.3.
Klasifikasi Tingkat Kepadatan Bangunan Rumah
Tingkt Kepdtn
KecamatanKecamatanNo
Desa/Kelurahan
Desa/Kelurahan
Bangunan
Amuntai Tengah
Amuntai Selatan
Danau Cermin
- 1 Keramat
Pinangkara
- 2 Panyiuran
Pinang Habang
- 3 Cempaka
Tapus
Rendah 4 Ilir Mesjid
Mawar Sari
Rendah 5 Ujung Murung
Datu Kuning
30
6 Jarang Kuantan
Muara Tapus
Rendah 7 Kota Raja
Rantawan
Rendah 8 Jumba
Kandang Halang
Rendah 9 Teluk Paring
Pasar Senin
Rendah 10 Teluk Baru
Kembang Kuning
Rendah 11 Cangkering
Kota Raden Hilir
Rendah 12 Simpang Empat
Kota Raden Hulu
Rendah 13 Rukam Hulu
Kebun Sari
Rendah 14 Rukam Hilir
Sungai Karias
Rendah 15 Kutai Kecil
Hulu Pasar
37
16 Padang Darat
Tambalangan
38
17 Telaga Hanyar
Tangga Ulin Hulu
Rendah 18 Murung Sari
Tangga Ulin Hilir
Rendah 19 Mamar
Antasari
Rendah 20 Teluk Sari
Murung Sari
Rendah 21 Telaga Sari
Paliwara
Rendah 22 Simpang Tiga
Palampitan Hulu
Rendah 23 Harusan Telaga
Palampitan Hilir
Rendah 24 Telaga Silaba
Sungai Malang
Rendah 25 Banyu Hirang
Tigarun
Rendah 26 Pulau Tambak
Sungai Baring
Rendah 27 Kayakah
Rendah 28 Bajawit
Harus
Harusan
Rendah 29 Padang Tanggul
30 Murung Panggang
Tingk Kepdt Bang
Rendah
Jumlah

Tingkt Kepdtn
Bangunan
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah

Sumber: Analisis, 2014

Melihat tabel diatas dapat diketahui bahwa tingkat kepadatan bangunan antara Kecamatan
Amuntai Tengah dan Amuntai Selatan masih tergolong rendah, namun di beberapa titik masih banyak
terdapat bangunan-bangunan kumuh yang mengelompok dengan karakteristik fiisik bangunan yang
sama.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-6

5.3.

Analisa Tipologi Permukiman

5.3.1. Perumahan Swadaya


Perumahan swadaya adalah rumah-rumah yang dibangun oleh masyarakat secara mandiri.
Perumahan ini paling luas dan banyak jumlahnya di wilayah perencanaan dan tersebar keberadaannya.
Tipologi rumah swadaya ini biasanya dikembangkan sendiri oleh masyarakat dan memiliki karakter
besaran dan kualitas bangunan yang beragam.
Perumahan kampung kota ini merupakan bagian kota yang mempunyai kepadatan penduduk
yang tinggi dan dibangun tanpa adanya campur tangan pemerintah sehingga dapat dimungkinkan tidak
sesuai dengan kaidah peraturan yang ada. Dampak yang muncul kemudian adalah kurangnya sarana dan
prasarana pendukung permukiman.
Gambar 5.1.
Tipologi Permukiman Swadaya Mengikuti Alur Sungai/ Di Sekitar Sungai

Sumber: Citra Google Earth, 2013 dan Survey Lapangan, 2014

Permukiman kampung kota ini di wilayah perencanaan umumnya mendekati kawasan/area


pusat perdagangan berupa pasar kota atau berada di pinggir sungai dengan mengikuti alur sungai.
Keberadaan kampung kota tersebut memiliki kecenderungan semakin meluas dan tidak terkendali.
Penghuni permukiman kampung kota selain penduduk asli juga banyak yang merupakan pendatang dari
desa yang mencari penghidupan yang lebih baik di kota. Di permukiman kampung kota inilah mereka
biasanya menetap dengan berbagai alasan di antaranya dekat dengan tempat kerja dan harga untuk
tinggal di permukiman jenis ini relatif dapat dijangkau.
Permukiman kampung kota ini akan menjadi masalah
karena seringkali pertumbuhannya tidak mengindahkan aturanaturan penggunaan lahan dan tidak mengindahkan aturan-aturan
bangunan seperti jarak antar bangunan yang tidak memenuhi

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-7
standar bahkan tidak menyediakan ruang yang cukup untuk sempadan bangunan, sempadan samping
bangunan, lebar jalan lingkungan minimum, sehingga rawan terjadi kebakaran. Demikian juga dengan
sistem drainase, sanitasi lingkungan, norma kesehatan lingkungan seringkali diabaikan seperti tidak
adanya sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, sirkulasi udara yang tidak lancar, jarak jamban dan
sumber air, fasilitas sumber air minum dan sebagainya. Jika dibiarkan tanpa pengendalian maka
permukiman kampung kota akan menjurus ke permukiman kumuh.
Gambar 5.2.
Kondisi Perumahan Swadaya

Sumber: Survey Lapangan, 2014

1)
2)
3)
4)

Tabel 5.3.
Potensi, Masalah dan Kebutuhan Penanganan Kawasan Permukiman Kampung Kota
Potensi
Permasalahan
Kebutuhan Penanganan
Aksesibilitas permukiman cukup
1) Terdapat beberapa jalan yang belum
1) Normalisasi jaringan drainase
baik
tersedia saluran drainase
2) Peningkatan pelayanan
Terletak di pusat kota
2) Sebagian masyarakat yang tinggal
persampahan dan pengadaan
Perkerasan jalan sebagian sudah
dekat sungai membuang sampah di
armada pengangkut sampah
aspal
sungai
3) Perluasan jaringan PDAM bagi
Sebagian masyarakat memiliki MCK
3) Sebagian masyarakat membuang
Masyarakat berpenghasilan rendah
pribadi
limbah padat manusia ke sungai
4) Sosialisasi kepada masyarakat
4) Pembuangan limbah rumah tangga
mengenai pengelolaan sampah 3R
ke lingkungan sekitar
5) Peningkatan kebutuhan perumahan
yang memacu peningkatan
kepadatan hunian dan mendorong
kampung kota menjadi kumuh
6) Pengelolaan aspek kesehatan
lingkungan yang belum optimal
(sampah, sanitasi, air bersih dan
drainase)
Sumber: Analisis Tim, 2014

5.3.2. Perumahan Formal


Keberadaan perumahan formal di wilayah perencanaan tidak banyak ditemui, berdasarkan
hasil survey lapangan hanya ditemui 2 (dua) perumahan, yaitu:
1. Perumahan Jumba Lestari, dengan rincian kawasan sebagai berikut:

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-8
-

Air bersih telah terlayani oleh jaringan PDAM

Terdapat gerobak sampah sebagai alat angkut sampah dari rumah menuju TPS yang
dilaksanakan setiap hari

Rumah yang dibangun adalah rumah tipe 36

Jaringan jalan masih berupa jalan tanah

Jaringan drainase tidak ada

2. Perumahan Citra Permata Sari


-

Air bersih telah terlayani oleh jaringan PDAM

Terdapat mobil sampah sebagai alat angkut sampah dari rumah menuju TPS yang dilaksanakan
setiap hari

Rumah yang dibangun adalah rumah tipe 36 dan yang lebih besar

Jaringan jalan masih berupa jalan tanah

Jaringan drainase tidak ada


Terdapat beberapa poin penting yang harus diperhatikan didalam arahan perencanaan

lingkungan perumahan pada wilayah perencanaan, yaitu:


1. Perumahan yang sudah terbangun berawal dari kepemilikian lahan oleh seseorang dengan
ukuran yang cukup luas dengan ijin sebagai tempat tinggal dan bukan sebagai kawasan
perumahan.
2. Kurang optimalnya tindakan pengawasan dan pengendalian dari pemerintah kabupaten
terhadap pembangunan kawasan perumahan.
3. Diperlukan ketegasan didalam peraturan pembangunan perumahan pada wilayah perencanaan
bagi pengembang perumahan untuk menyediakan prasarana dan sarana pendukung perumahan
secara memadai sebagai persyaratan utama dalam pelaksanaannya.

5.4.

Analisa Tingkat Penghunian Rumah


Tingkat penghunian rumah digunakan untuk menghitung dan mengetahui jumlah penghuni

atau orang yang menempati satu rumah, cara menghitung jumlah penghunian rumah pada masingmasing desa/ kelurahan dilakukan dengan membagi antara jumlah penduduk dengan jumlah rumah.
Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa tingkat penghunian rumah di wilayah
perencanaan secara total adalah 4 jiwa/rumah. Ditinjau dari tingkat penghunian di tiap desa/kelurahan
yang paling besar terdapat di desa/kelurahan Harusan Kecamatan Amuntai Tengah sebesar 12 jiwa.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5-9
Sedangkan yang paling kecil sebesar 1 jiwa/rumah berada di desa/kelurahan Sungai Baring Kecamatan
Amuntai Tengah dan Teluk Sari Kecamatan Amuntai Selatan.
Fakta diatas menunjukkan bahwa secara umum di wilayah perencanaan untuk tingkat
penghunian rumah tidak melebihi standar yang ada. Namun di beberapa desa/ kelurahan yang tingkat
penguhunian rumahya melebihi angak 4 jiwa/rumah memerlukan perhatian khusus dengan salah
satunya adalah penyediaan Kasiba/ Lisiba atau perumahan dengan harga yang terjangkau.
Adapun hasil perhitungan jumlah penghunian rumah pada masing-masing kecamatan di
wilayah perencanaan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5 - 10

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

KecamatanDesa/Kelurahan
Amuntai Tengah
Danau Cermin
Pinangkara
Pinang Habang
Tapus
Mawar Sari
Datu Kuning
Muara Tapus
Rantawan
Kandang Halang
Pasar Senin
Kembang Kuning
Kota Raden Hilir
Kota Raden Hulu
Kebun Sari
Sungai Karias
Hulu Pasar
Tambalangan
Tangga Ulin Hulu
Tangga Ulin Hilir
Antasari
Murung Sari
Paliwara
Palampitan Hulu
Palampitan Hilir
Sungai Malang
Tigarun
Sungai Baring
Harus
Harusan
Jumlah

Jumlah
Pnddk (Jiwa)
806
580
596
1.283
486
1.228
1.620
2.248
2.233
1.934
1.183
1.240
1.339
4.326
2.153
1.111
1.546
767
1.355
4.386
1.561
2.326
2.510
2.634
6.270
577
434
676
590
49.998

Jumlah
Rumah

168
112
163
732
581
614
464
345
334
349
1.161
485
275
320
75
456
910
480
533
518
517
1.620
73
319
74
48
11.726

Tabel 5.4.
Tingkat Penghunian Rumah
Tk hunian
KecamatanNo
Desa/Kelurahan
Rumah
Amuntai Selatan
- 1 Keramat
- 2 Panyiuran
- 3 Cempaka
8
4 Ilir Mesjid
4
5 Ujung Murung
8
6 Jarang Kuantan
2
7 Kota Raja
4
8 Jumba
4
9 Teluk Paring
4 10 Teluk Baru
3 11 Cangkering
4 12 Simpang Empat
4 13 Rukam Hulu
4 14 Rukam Hilir
4 15 Kutai Kecil
4 16 Padang Darat
5 17 Telaga Hanyar
10 18 Murung Sari
3 19 Mamar
5 20 Teluk Sari
3 21 Telaga Sari
4 22 Simpang Tiga
5 23 Harusan Telaga
5 24 Telaga Silaba
4 25 Banyu Hirang
8 26 Pulau Tambak
1 27 Kayakah
9 28 Bajawit
12 29 Padang Tanggul
4 30 Murung Panggang
Jumlah

Jumlah
Pnddk (Jiwa)
822
863
1.365
1.094
1.514
1.230
3.272
2.103
747
1.076
872
686
538
430
410
501
659
552
908
366
754
537
684
1.003
445
632
1.390
684
633
531
27.301

Jumlah
Rumah

Tk hunian
Rumah

115
405
472
399
346
371
679
487
82
146
221
224
146
138
80
116
159
302
270
281
219
281
211
399
160
152
477
97
167
56
7.658

7
2
3
3
4
3
5
4
9
7
4
3
4
3
5
4
4
2
3
1
3
2
3
3
3
4
3
7
4
9
4

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5 - 11

5.5.

Analisa Permasalahan Perumahan dan Permukiman

5.5.1. Kawasan Permukiman Sempadan Sungai


Kawasan permukiman sempadan sungai ini adalah kawasan permukiman yang berada di
sepanjang kanan kiri sungai, termasuk sungai buatan/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat
penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Bantaran sungai seharusnya merupakan
daerah terlarang untuk permukiman, akan tetapi berhubung semakin mahalnya harga lahan untuk
pembangunan rumah banyak masyarakat yang memilih tinggal di lokasi semacam itu.
Pada umumnya pengamanan lahan di bantaran sungai tidak
begitu ketat sehingga memungkinkan tumbuhnya penghunian. Hunian
di bantaran sungai ini terus berkembang dan semakin menjorok ke
sungai sehingga mengganggu aliran sungai yang selanjutnya dapat
menimbulkan bahaya banjir yang berdampak bagi masyarakat luas.
Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai seringkali
mempunyai kebiasaan buruk yaitu membuang sampah ke sungai yang
menyebabkan pendangkalan dan sumbatan di beberapa tempat.
Permukiman yang ada di kawasan sempadan sungai di Kabupaten Hulu
Sungai Utara berada mengikuti alur sungai yaitu Sungai Balangan, Nagara, dan Tabalong.
Berdasarkan RDTR Kawasan Perkotaan Amuntai, untuk sungai-sungai di kawasan perkotaan
Amuntai ditetapkan dengan lebar sempadan sungai sejauh 10 meter yang dihitung dari sisi luar kanan
dan kiri tepi sungai.
Gambar 5.5.
Kondisi Permukiman di Bantaran Sungai

Sumber: Survey Lapangan, 2014

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5 - 12
5.5.2. Kawasan Permukiman di Daerah Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana, merupakan bagian dari kawasan lindung yang memiliki kriteria lahan
dimana tidak layak difungsikan untuk kawasan terbangun, terutama untuk lahan terbangun
permukiman. Kondisi eksisting di wilayah perencanaan masih terdapat permasalahan-permasalahan
berupa penempatan lahan terbangun (permukiman) di daerah rawan bencana. Hal ini terjadi
dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai lokasi-lokasi yang tidak layak untuk
terbangun dan kurang tegasnya sistem regulasi yang berhubungan dengan pengendalian kawasan
terbangun. Kawasan permukiman di daerah
rawan bencana identik dengan kawasan
yang teridentifikasi sering terjadi bencana
alam berupa banjir.
Kawasan rawan bencana banjir
sedapat mungkin tidak dipergunakan untuk
permukiman, demikian pula kegiatan lain
yang dapat merusak atau mempengaruhi
Sumber gambar: RTRW Kabupaten Tanah Bumbu, 2011

kelancaran sistem drainase,

pada daerah

rawan banjir ini perlu adanya pemantapan kawasan lindung diantaranya dengan langkah reboisasi jenis
tanaman khusus (tanaman tahunan). Selain itu, berdasarkan undang-undang penataan ruang yaitu UU
No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah disebutkan bahwa setiap daerah harus mempunyai
ruang atau lahan untuk evakuasi korban bencana alam.

5.6.

Analisa Prasarana Permukiman

5.6.1. Jaringan Jalan Lingkungan


Kondisi jaringan jalan pada wilayah perencanaan terbagi menjadi 2 jenis, yaitu: jaringan jalan
yang ada di darat dan yang ada di atas perairan (tambak/ rawa).
-

Jaringan jalan yang ada di darat

Sebagian besar kondisi jalan yang ada masih dalam kondisi baik dengan
lebar rata-rata 3 sampai 5 meter. Kerusakan jalan ini disebabkan banjir
yang terjadi menggenangi lingkungan permukiman dan termasuk jaringan
jalan sehingga mengakibatkan aspal mengelupas dan rusak.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5 - 13
-

Jaringan jalan yang ada di atas perairan (tambak/ rawa)

Sebagian besar kondisi jalan yang ada masih dalam kondisi baik dengan
lebar rata-rata 1 sampai 2 meter. Konstruksi jalan ini adalah berupa kayu
ulin yang memiliki ketahanan penggunana yang lama dan tidak mudah
lapuk
5.6.2. Jaringan Drainase dan Sewerage
Jaringan drainase (air hudijan) dan sewerage (air limbah) pada
wilayah perencanaan menjadi satu tempat jaringan, khusus untuk
permukiman yang ada di darat. Namun demikian terdapat juga jaringan
jalan yang tidak disertai dengan jaringan
drainase.
Sedangkan untuk permukiman diatas perairan tidak terdapat
Jaringan drainase dan sewerage karena air hujan dan air limbah
langsung dibuang kebawah rumah (tambak atau rawa).
5.6.3. Jaringan Air Bersih
Penduduk

pada wilayah perencanaan mendapatkan air bersih

bersumber dari 3 jenis, yaitu: sumur, PDAM dan sumber lainnya,


misalnya mengambil air sungai.
PDAM belum mampu memberikan pelayanan hingga mencakup seluruh
wilayah perencanaan, sehingga penduduk

berusaha memenuhi nya

dengan membuat sumur atau menggunakan air sungai bagi yang berlokasi di dekat sungai.
5.6.4. Jaringan Listrik dan Jaringan Telepon
Kedua jenis jaringan ini pada wilayah perencanaan telah mampu
menjangkau seluruh kawasan. Namun demikian, keberadaan dan
penempatan di lapangan memerlukan perbaikan dan pemeliharaan.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

5 - 14
5.6.5. Jaringan Sampah
Sampah yang dihasilkan di wilayah perencanaan ditangani dengan 3 cara
yang berbeda, yaitu: diangkut oleh alat angkut sampah, dibakar dan
dibuang ke sungai.
Kawasan permukiman yang dilalui jalur utama transportasi maka
persampahan akan dilayani dengan alat angkut sampah, yaitu truk
sampah. Sedangkan yang jauh dari jalur transportasi , maka sampah
yang dihasilkan akan dibakar di dekat rumah penduduk masing-masing
dan yang bertempat tinggal di dekat sungai, maka sampah akan dibuang
ke sungai