Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Globalisasi merupakan satu hal yang tidak dapat dihentikan
perubahannya. Melihat faktanya, teknologi semakin berkembang pesat di
iringi pengetahuan yang juga berkembang lebih pesat. Karena teorinya
juga demikian, semakin berkembang pengetahuan maka teknologi pun
semakin berkembang. Terutama dalam bidang kedokteran yang akan
menjadi pembahasan dalam makalah ini.
Bidang kedokteran tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan
teknologi, karena teknologi menjadi daya dukung untuk mengembangkan
bidang kedokteran tersebut. Dan manusia sebagai subjek sekaligus objek
adalah tidak penah terlepas dari ketiga hal tersebut, yakni teknologi,
kesehatan, dan pengetahuan.
Operasi, merupakan bagian dari pengetahuan, kedokteran (kesehatan),
dan teknologi, tanpa ada ketiga poin tersebut operasi tidak pernah ada dan
tidak akan pernah terlaksana sampai kapanpun.
Bedah plastik ialah bedah atau operasi yang dilakukan untuk
mempercantik atau memperbaiki satu bagian didalam anggota badan.
Transplantasi ialah pemindahan organ tubuh yang masih mempunyai
daya hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan
tidak berfungsi lagi dengan baik .
Euthanasia ialah mengakhiri hidup dengan cara yang mudah tanpa rasa
sakit.

Transfusi darah ialah memanfaatkan darah manusia, dengan cara


memindahkannya dari (tubuh) orang yang sehat kepada orang yang
membutuhkannya, untuk mempertahankan hidupnya.
Dalam pembahasan ini, penulis mengambil judul Tinjauan islam
terhadap tindakan medis, sebagai pembelajaran studi kasus di lapangan
yang notabene

Transplantasi/Cangkok organ tubuh, Bedah plastik,

Euthanasia dan Transfusi darah itu menjadi bahan perdebatan. Baik oleh
kalangan umum, pakar-pakar kesehatan, maupun para ulama itu sendiri
yang menghujah hukum tentang tindakan medis tersebut.
Ditinjau dari latar belakang dan menjamurnya masalah tersebut, penulis
bermaksud ingin menggali lebih terperinci bagaimana tinjauan hukum
islam dari permasalahan tersebut. Dengan demikian penulis akan
merumuskan masalahnya pada poin poin berikut :
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tinjauan islam terhadap Transplantasi/Cangkok organ
tubuh?
2. Bagaimana tinjauan islam terhadap Bedah plastik?
3. Bagaimana tinjauan islam terhadap Euthanasia?
4. Bagaimana tinjauan islam terhadap Transfusi darah?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan utama pembuatan makalah ini adalah untuk pemenuhan
tugas

mata

kuliah

Al-Islam

Kemuhammadiahan.

Selanjutnya

pembahasan masalah tentang bagaimanakah hukum islam terhadap


tindakan medis yaitu Transplantasi/Cangkok organ tubuh, Bedah
plastik, Euthanasia dan Transfusi darah yang bertujuan untuk
mendalami tentang Dalil Ayat Al-ur'an dan hadits yang mengenai
tindakan medis tersebut. Selain itu, makalah ini juga di harapkan dapat
memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang tinjaun islam
terhadap tindakan medis.
2. Tujuan Khusus
2

a. Agar dapat mengetahui dan

mengerti tinjauan islam terhadap

Transplantasi/Cangkok organ tubuh


b. Agar dapat mengetahui dan mengerti tinjauan islam terhadap
Bedah plastik
c. Agar dapat mengetahui dan

mengerti tinjauan islam terhadap

Euthanasia
d. Agar dapat mengetahui dan

mengerti tinjauan islam terhadap

Transfusi darah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Transplatasi/ Cangkok organ tubuh
1. Pengertian transplantasi
Transplantasi ialah pemindahan

organ

tubuh

yang

masih

mempunyai daya hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang


tidak sehat dan tidak berfungsi lagi dengan baik .

Pencangkokan organ tubuh yang menjadi pembicaraan pada waktu


ini adalah Mata, Ginjal,dan jantung. Karena ketiga organ tubuh tersebut
sangat penting fungsinya untuk manusia, terutama sekali ginjal dan
jantung.
Ada 3 (tiga) tipe donor organ tubuh, dan setiap tipe mempunyai
permasalahan sendiri-sendiri, yaitu ;
a. Donor dalam keadaan hidup sehat. Tipe ini memerlukan seleksi
cermat dan general check up, baik terhadap donor maupun terhadap
penerima (resepient), demi menghindari kegagalan transplantasi
yang disebabkan oleh karena penolakan tubuh resepien, dan
sekaligus mencegah resiko bagi donor.
b. Donor dalam hidup koma atau di duga akan meninggal segera.
Untuk tipe ini, pengambilan organ tubuh donor memerlukan alat
control dan penunjang kehidupan, misalnya dengan bantuan alat
pernapasan khusus. Kemudian alat-alat tersebut di cabut setelah
pengambilan organ tersebut selesai.
c. Donor dalam keadaan mati. Tipe ini merupakan tipe yang ideal,
sebab secara medis tinggal menunggu penentuan kapan donor
dianggap meninggal secara medis dan yudiris dan harus diperhatikan
pula daya tahan organ tubuh yang mau di transplantasi.

2. Pandangan Hukum Islam Terhadap Transplantasi Organ Tubuh


Hadis Nabi SAW : Berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah,
karena sesungguhya Allah tidak meletakkan suatu penyakit, kecuali dia
juga meletakkan obat penyembuhnya, selain penyakit yang satu, yaitu
penyakit tua.(H.R. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Usamah
Ibnu Syuraih)
Hadist tersebut menunjukkan, bahwa wajib hukumnya berobat bila
sakit, apapun jenis dan macam penyakitnya, kecuali penyakit tua. Oleh
sebab itu, melakukan transplantasi sebagai upaya untuk menghilangkan
penyakit hukumnya mubah, asalkan tidak melanggar norma ajaran
islam.
Sebagaimana dijelaskan ada tiga keadaan transplantasi dilakukan,
yaitu pada saat donor masih hidup sehat, donor ketika sakit (koma) dan
4

diduga kuat akan meninggal dan donor dalam keadaan sudah


meninggal. Berikut hukum transplantasi sesuai keadaannya masingmasing.
Pertama, apabila pencangkokan tersebut dilakukan, di mana donor
dalam keadaan sehat wal afiat, maka hukumnya menurut Prof Drs.
Masyfuk Zuhdi, dilarang (haram) berdasarkan alasan-alasan sebagai
berikut:
1. Firman Allah dalam surat Al-Baqaroah: 195
Artinya:Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam
kebinasaan
Dalam kasus ini, orang yang menyumbangkan sebuah mata atau
ginjalnya kepada orang lain yang buta atau tidak mempunyai ginjal,
ia (mungkin) akan menghadapi resiko sewaktu-waktu mengalami
tidak normalnya atau tidak berfungsinya mata atau ginjalnya yang
tinggal sebuah itu (Ibid, 88).
2. Kaidah hukum Islam
Artinya : Menolak kerusakan harus didahulukan atas meraih
kemaslahatan
Dalam kasus ini, pendonor mengorbankan dirinya dengan cara
melepas organ tubuhnya untuk diberikan kepada dan demi
kemaslahatan orang lain, yakni resipien.
Kedua, apabila transplantasi dilakukan terhadap donor yang dalam
keadaan sakit (koma) atau hampir meninggal, maka hukum Islam pun
tidak membolehkan (Ibid, 89), berdasarkan alasan-alasan sebagai
berikut :
1. Hadist Rasulullah

Artinya : Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh


membayakan diri orang lain. (HR. Ibnu Majah).
Dalam kasus ini adalah membuat madaharat pada diri orang lain,
yakni pendonor yang dalam keadaan sakit (koma).
2. Orang tidak boleh menyebabkan matinya orang lain. Dalam kasus ini
orang yang sedang sakit (koma) akan meninggal dengan diambil
organ tubuhnya tersebut. Sekalipun tujuan dari pencangkokan
tersebut adalah mulia, yakni untuk menyembuhkan sakitnya orang
lain (resipien).
Ketiga, apabila pencangkokan dilakukan ketika pendonor telah
meninggal, baik secara medis maupun yuridis, maka menurut hukum
Islam ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Yang
membolehkan menggantungkan pada dua syarat sebagai berikut :
1.

Resipien dalam keadaan darurat, yang dapat mengancam


jiwanya dan ia sudah menempuh pengobatan secara medis dan non
medis, tapi tidak berhasil. (ibi, 89).

2.

Pencangkokan tidak menimbulkan komplikasi penyakit


yang lebih berat bagi repisien dibandingkan dengan keadaan
sebelum pencangkokan.

Adapun alasan membolehkannya adalah sebagai berikut :


1.

Al-Quran Surat Al-Baqarah 195 di atas.


Ayat tersebut secara analogis dapat difahami, bahwa Islam tidak
membenarkan pula orang membiarkan dirinya dalam keadaan
bahaya atau tidak berfungsi organ tubuhnya yang sangat vital,
tanpa usaha-usaha penyembuhan termasuk pencangkokan di
dalamnya.
6

2.

Surat Al maidah ayat 32


Artinya : Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia
seluruhnya.
Ayat Al-Qur`an tersebut di atas dengan jelas menunjukan bahwa
bunuh diri itu dilarang keras oleh Islam dengan alasan apapun.
Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan
membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti
membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan.

B. Bedah Plastik (Operasi Plastik)


1. Pengertian operasi plastik
Operasi plastik atau dikenal dengan plastic Surgery dalam bahasa
arab Jirahah Tajmil, adalah bedah atau operasi yang dilakukan untuk
mempercantik atau memperbaiki satu bagian didalam anggota badan.
Baik yang nampak ataupun tidak, dengan cara ditambah, dikurangi, atau
dibuang dengan tujuan memperbaiki fungsi dan estetika (seni) tubuh.
(Al Mausuah at-Thibbiyah al-Haditsah Li Majmuah minal at-Thibba,
juz 3 : 454).
Menurut Dr. Syauqi Abduh As-Sahi, (1990:129), Sebagian ulama
hadits berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Operasi plastik itu
ada dua :
a. Untuk mengobati aib yang ada di badan, atau dikarenakan kejadian
yang menimpahnya. Seperti : kecelakaan, kebakaran, atau yang
lainnya. Maka operasi plastik ini dimaksud untuk pengobatan.
b. Untuk mempercantik diri, dengan mencari bagian badan yang
dianggap mengganggu atau tidak nyaman untuk dilihat orang. Istilah
yang kedua ini adalah untuk kecantikan dan keindahan.
2. Jenis - jenis operasi plastik

a. Operasi tanpa ada unsur kesengajaan ( Ghairu Ikhtiyariyah )

Maksudnya adalah operasi yang dilakukan untuk pengobatan dari


aib (cacat) yang ada dibadan, baik karena cacat lahir (bawaan)
maupun karena penyakit yang akhirnya merubah sebagian anggota
badan. Hal ini merupakan bukan karena keinginan tetapi untuk
pengobatan, walaupun hasilnya nanti akan lebih indah dari
sebelumnya.
b. Operasi yang dilakukan dengan sengaja ( Ikhtiyariyah )
Yaitu operasi yang tidak dikarenakan penyakit bawaan (turunan)
atau karena kecelakaan. Tetapi atas keinginan sendiri untuk
menambah keindahan dan mempercantik diri. Operasi ini ada
bermacam macam. Akan tetapi yang akan dibahas dalam penyajian
ini hanya garis besarnya saja. Yakni terbagi menjadi dua, dan setiap
bagian memiliki hukum masing masing. Diantaranya yaitu :
1. Operasi anggota badan. Seperti menambah, mengurangi, atau
membuang sebagian anggota badan dengan tujuan ingin terlihat
cantik.
2. Operasi Mempermuda. Seperti orang yang sudah berumur tua
dengan menarik kerutan di wajah atau dibagian bagian tubuh
tertentu agar terlihat lebih muda.
3. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Operasi Plastik
Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa :



Bahwa pada prinsipnya segala sesuatu itu boleh (mubah), kecuali ada
dalil yang mengharamkannya.
Berdasarkan kaidah tersebut, maka apapun yang kita lakukan
sebenarnya boleh kita lakukan, dan selamanya boleh kita lakukan,
hingga adanya dalil atau petunjuk yang menyatakan haramnya
melakukan sesuatu itu. (Masjfuk Zuhdi, 1997 : 59).

Oleh karena itu, operasi plastik tampaknya mesti dilihat dari


tujuannya. Ada yang melakukan operasi karena ingin lebih cantik bagi
perempuan atau lebih tampan bagi laki-laki, ada pula yang melakukan
operasi plastik karena menghilangkan bekas-bekas akibat kecelakaan,
cacat seperti bibir sumbing dan sebagainya.
Permasalahan yang sering kita dapati, tidak sedikit di antara para
muslimah dan termasuk juga para muslim yang melakukan operasi
dengan tujuan agar lebih cantik atau lebih tampan.
Hukum operasi plastik ada yang mubah dan ada yang haram. Operasi
plastik yang mubah adalah yang bertujuan untuk memperbaiki cacat
sejak lahir (al-uyub al-khalqiyyah) seperti bibir sumbing, atau cacat
yang datang kemudian (al-uyub al-thari`ah) akibat kecelakaan,
kebakaran, atau semisalnya, seperti wajah yang rusak akibat kebakaran
atau kecelakaan.
Operasi plastik untuk memperbaiki cacat yang demikian ini
hukumnya

adalah

mubah,

berdasarkan

keumuman

dalil

yang

menganjurkan untuk berobat terlebih hal tersebut bersifat darurat.


Sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Turmudzi Juz 4 hal. 383 yang
artinya:
Riwayat dari Usamah Ibn Syuraik ra. Berkata, Ada beberapa orang
arab bertanya kepada Rasulullah SAW. : Wahai Rasulullah, apakah
kami harus mengobati (penyakit kami), Rasulullah menjawab,
Obatilah. Wahai hamba-hamba Allah lekaslah berobat, karena
sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan satu penyakit kecuali
diturunkan pula obat penawarnya kecuali satu yang tidak bisa diobati
lagi, mereka pun bertanya, apakah itu wahai Rasulullah?,
Rasulullah pun menjawab, Penyakit Tua. (H.R. At-Turmudzi).
Maksud dari hadits tersebut yaitu, bahwa setiap penyakit itu pasti
ada obatnya, maka di anjurkan kepada orang yang sakit agar mengobati
sakitnya. Jangan hanya dibiarkan saja.

Dalam ushul fikih disebutkan bahwa selama tidak ada dalil yang
mengkhususkan dalil umum, maka selama itu pula dalil umum dapat
diamalkan. Hadits di atas dipandang sebagai hadis yang umum, dan
dapat diamalkan atau dapat dijadikan hujjah, karena tidak ditemukan
adanya dalil yang mengkhususkannya. (Bustanul Arifin, dan M. Atho
Mudzar, 2002:18).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa operasi plastik untuk
memperbaiki cacat yang dibawa sejak lahir seperti bibir sumbing, kaki
pincang dan sebagainya atau memperbaiki cacat akibat kecelakaan,
maka hukumnya mubah (boleh) sepanjang tidak ada ketentuan agama
yang dilanggar.
Imam Abu Hanifah dalam kitab Berpendapat, Bahwa tidak
mengapa jika kita berobat menggunakan jarum suntik (yang
berhubungan dengan operasi), dengan alasan untuk berobat, karena
berobat dibolehkan hukumnya, sesuai dengan Ijma Ulama, dan tidak
ada pembeda antara laki laki dan perempuan.
Syaik Dr. Yusuf Al - Qardawi berpendapat : Adapun kalau ternyata
orang tersebut mempunyai cacat yang mungkin menjijikkan pandangan,
maka tidak berdosa bagi orang itu untuk berobat selagi dengan tujuan
menghilangkan kecacatan atau kesakitan yang dapat mengancam
hidupnya. Karena Allah tidak menjadikan agama untuk kita sebagai
penuh kesukaran. (Al Halal Wal Haram Fil Islam).
Adapun kaidah fiqih yang membolehkan operasi plastik dalam
keadaan darurot menurut penulis yaitu:



Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlukan seperti dalam
keadaan terpaksa (emergency). Dan keadaan terpaksa itu
membolehkan melakukan hal yang terlarang.

10

Hukum operasi plastik yang diharamkan adalah yang bertujuan


semata untuk mempercantik atau memperindah wajah atau tubuh, tanpa
ada hajat untuk pengobatan atau memperbaiki suatu cacat. Contohnya,
operasi untuk memperindah bentuk hidung, dagu, atau operasi untuk
menghilangkan kerutan-kerutan tanda tua di wajah, dan sebagainya.
Dalil keharamannya berdasarkan Firman Allah SWT. Dalam Surat
An-Nissa ayat 119:






Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan
membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh
mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka
benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah
ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya". Barangsiapa
yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka
Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (Q.S. An-Nissa:119)
Menurut kepercayaan Arab jahiliyah, binatang-binatang yang akan
dipersembahkan kepada patung-patung berhala, haruslah dipotong
telinganya lebih dahulu, dan binatang yang seperti ini tidak boleh
dikendarai dan tidak dipergunakan lagi, serta harus dilepaskan saja.
Merubah ciptaan Allah dapat berarti, mengubah yang diciptakan Allah
seperti mengebiri binatang. ada yang mengartikannya dengan meubah
agama Allah.
Ayat ini datang sebagai kecaman (dzamm) atas perbuatan syaitan
yang selalu mengajak manusia untuk melakukan berbagai perbuatan
maksiat, di antaranya adalah mengubah ciptaan Allah (taghyir
khalqillah). Operasi plastik untuk mempercantik diri termasuk dalam
pengertian mengubah ciptaan Allah, maka hukumnya haram. (M. AlMukhtar asy-Syinqithi, Ahkam Jirahah Al-Thibbiyyah, hal. 194).
Rasulullah pun mengutuk seseorang yang telah mengganti alis mata
orang lain dan yang diganti, orang yang menambah bulu dialis mata
orang lain dan yang ditambal.
Selain itu, terdapat hadis Nabi SAW yang melaknat perempuan yang
merenggangkan gigi untuk kecantikan (al-mutafallijat lil husni). (HR
Bukhari dan Muslim). Dalam hadits ini terdapat illat keharamannya,
11

yaitu karena untuk mempercantik diri (lil husni). (M. Utsman Syabir,
Ahkam Jirahah At-Tajmil fi Al-Fiqh Al-Islami, hal. 37).
Imam Nawawi berkata,Dalam hadis ini ada isyarat bahwa yang
haram adalah yang dilakukan untuk mencari kecantikan. Adapun kalau
itu diperlukan untuk pengobatan atau karena cacat pada gigi, maka
tidak apa-apa. (Imam Nawawi, Syarah Muslim, 7/241). Maka dari itu,
operasi plastik untuk mempercantik diri hukumnya adalah haram.
Berdasarkan pemaparan tadi, maka jelaslah bahwa operasi plastik itu
diharamkan menurut syara dengan keinginan untuk mempercantik dan
memperindah diri. Dengan kesimpulan sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Operasi plastik merubah ciptaan Allah SWT.


Adanya unsur pemalsuan dan penipuan.
Dari unsur yang lain, negatifnya lebih banyak dari pada positifnya.
Syarat yang dibenarkan dalam islam memiliki tujuan semata-mata

tujuan kesehatan.
e. Terkadang ada unsur najis untuk bahan bahan yang digunakan.
C. Euthanasia
1. Pengertian Euthanasia
Istilah euthanasia berasal dari bahasa Yunani, yaitu eu dan
thanatos. Kata eu berarti baik, dan thanatos berarti mati. Maksudnya
adalah mengakhiri hidup dengan cara yang mudah tanpa rasa sakit.
Oleh karena itu euthanasia sering disebut juga dengan mercy killing, a
good death, atau enjoy death (mati dengan tenang).
Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah qatlu ar-rahma atau tasyir
al-maut yaitu tindakan memudahkan kematian atau mengahiri hidup
seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit karena kasihan untuk
meringankan penderitaan si sakit. Menurut istilah kedokteran
euthanasia berarti tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang
dialami seseorang yang akan meninggal diperingan juga berarti
mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan
penderitaan hebat menjelang kemaatiannya.
Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa
penderitaan, maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti
sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian, namun untuk
mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang
menghadapi kematiannya. Dalam arti yang demikian itu euthanasia
tidaklah
bertentangan
dengan
panggilan
manusia
untuk
mempertahankan dan memperkembangkan hidupnya, sehingga tidak
menjadi persoalan dari segi kesusilaan.
12

Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang


yang bersangkutan menghendakinya. Akan tetapi dalam perkembangan
istilah selanjutnya, euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang
membunuh karena belas kasihan, maka menurut pengertian umum
sekarang ini, euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang
sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan
penderitaan. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya
berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang,
sehingga banyak masalah yang ditimbulkan dari euthanasia ini.
Adapun Kriteria mati pada jaman dahulu mungkin dikatakan mati
jika dilihat tidak bernafas (bisa saja dia mati suri), kemudian ukuran ini
berubah dengan tidak berfungsinya jantung atau gerak nadi. Kemudian
diketahui bahwa jantungpun ternyata digerakkan oleh pusat saraf
penggerak yang terletak pada bagian batang otak di kepala. Makanya
Prof. Dr. Mahar Mardjono (eks Rektor UI) dan para ahli kedokteran
sepakat bahwa yang menjadi patokan dalam menentukan kematian
adalah batang otak. Jika batang otak betul-betul sudah mati harapan
hidup seseorang sudah terputus.
Menurut dr.Yusuf Misbach (ahli saraf), terdapat dua macam
kematian otak, yaitu kematian korteks otak yang merupakan pusat
kegiatan intelektual, dan kematian batang otak, kerusakan pada batang
otak lebih fatal, karena di bagian itulah terdapat pusat saraf penggerak
yang merupakan motor semua saraf tubuh, hal ini juga dikemukakan
oleh dr. Kartono Muhammad (Wakil Ketua IDI). Ia mengatakan bahwa
seseorang dianggap mati apabila batang otak yang menggerakkan
jantung dan paru-paru tidak berfungsi lagi. Tegasnya batang otak
merupakan pedoman untuk mengetahui masih hidup atau sudah
matinya seseorang yang sudah tidak sadar.
2. Nash yang berhubungan dengan euthanasia
a. Surat An-Nisa ayat 29-30 yang artinya:
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan
jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara
kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan Barangsiapa berbuat
demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan
memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah
bagi Allah. (Q.S An-Nisa: 29-30)
b. Surat Al-An'am ayat 151

13

Artinya: dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan


Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang
benar. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu
memahami(nya). (Q.S Al-An'am ayat 151)
c. Surat Al-Maidah ayat 32
Artinya : Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan
karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena
membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan Barangsiapa yang memelihara
kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah
memelihara kehidupan manusia semuanya. QS Al-Maidah ayat 32
Ayat Al-Qur`an tersebut di atas dengan jelas menunjukan bahwa
bunuh diri itu dilarang keras oleh Islam dengan alasan apapun.
Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan
membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti
membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan.
Syekh Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan bahwa pembunuhan
(mengakhiri hidup) seseorang bisa dilakukan apabila disebabkan oleh
salah satu dari tiga sebab:
a. Karena pembunuhan oleh seseorang secara zalim.
b. Janda (yang pernah bersuami) secara nyata berbuat zina, yang diketahui
oleh empat orang saksi (dengan mata kepala sendiri).
c. Orang yang keluar dari agama Islam, sebagai suatu sikap menentang
jamaah Islam.
Memutuskan hukum dalam masalah euthanasia ini bukan merupakan
hal yang mudah, dalam al-Qur'an tidak ada ayat yang menyinggung
terhadap masalah euthanasia ini secara khusus. Namun karena masalah
euthanasia ini berhubungan masalah pembunuhan, walaupun terdapat
unsur kerelaan dari pihak si terbunuh maka perbuatan tersebut termasuk
perbuatan jarimah, dan hal ini dilarang oleh Allah dengan ancaman neraka
jahannam. Dan sanksi pembunuhan ini adalah hukum Qisas sesuai dengan
kadar dan jenis pembunuhannya.
Perbuatan euthanasia sama dengan bunuh diri yang dilakukan dengan
meminjam tangan orang lain, dan hal ini dianggap sebagai perbuatan yang
menentang takdir Tuhan. Maka euthanasia ini merupakan perbuatan yang
terlarang. Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal
dari pencipta-Nya, yaitu Allah SWT.

14

3. Macam-macam Euthanasia
Dalam praktek kedokteran dikenal dua macam euthanasia, yaitu:
1. Euthanasia aktif
Yang dimaksud Euthanasia aktif yaitu tindakan dokter
mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke
dalam tubuh pasien tersebut. Suntikan dilakukan pada saat keadaan
penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium
akhir, yang menurut perkiraan/pertimbangan medis sudah tidak
mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama. Alasan yang lazim
dikemukakan oleh dokter ialah bahwa pengobatan yang diberikan
hanya akan memperpanjang penderitaan pasien, tidak mengurangi
keadaan sakitnya yang memang sudah parah.
Contoh: seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit
yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. Dalam hal ini,
dokter yakin bahwa yang bersangkutan akan meninggal dunia.
Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi
(overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya
tetapi sekaligus menghentikan pernapasannya.
2. Euthanasia pasif
Yang dimaksud Euthanasia pasif yaitu tindakan dokter berupa
penghentian pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang
secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan.
Penghentian pemberian obat ini berakibat mempercepat kematian
pasien. Alasan yang lazim dikemukakan adalah karena keadaan
ekonomi pasien yang terbatas, sementara dana yang dibutuhkan
untuk biaya pengobatan cukup tinggi, sedangkan fungsi pengobatan
menurut pertimbangan dokter sudah tidak efektif lagi.
Contoh: orang yang mengalami koma sangat lama, dalam
keadaan demikian, ia hanya mungkin dapat hidup dengan
mempergunakan alat pernapasan, sedangkan dokter ahli
berkeyakinan bahwa penderita tidak akan dapat disembuhkan. Alat
pernapasan itulah yang memompa udara ke dalam paru-parunya
dan menjadikannya dapat bernapas secara otomatis. Jika alat
pernapasan tersebut dihentikan (dilepas) maka penderita merasa
sakit sehingga tidak mungkin dapat melanjutkan pernapasannya
sebagai cara memudahkan proses kematiannya.
4. Pandangan Islam mengenai Euthanasia
15

Menurut Pandangan Syariah Islam Euthanasia Aktif


diharamkan, karena termasuk dalam kategori pembunuhan sengaja
(al-qatlu al-amd), walaupun niatnya baik yaitu meringankan
penderitaan pasien, hukumnya tetap haram, walaupun atas
permintaan pasien sendiri atau keluarganya. Tidak dapat diterima,
alasan euthanasia aktif yang sering dikemukakan yaitu kasihan
melihat penderitaan pasien sehingga dokter memudahkan
kematiannya. Alasan ini hanya melihat aspek lahiriah (empiris),
padahal dibalik itu ada aspek-aspek lainnya yang tidak diketahui
dan tidak dijangkau manusia. Dengan mempercepat kematiannya,
pasien tidak mendapatkan manfaat dari ujian yang diberikan oleh
Allah swt. Yakni, berupa ke-tawakalan kepada-Nya. Rasulullah saw
bersabda: tidaklah menimpa kepada seseorang muslim suatu
musibah, baik kesulitan, sakit, kesedihan, kesusahan maupun
penyakit, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah
menghapuskan kesalahan atau dosanya dengan musibah yang
dicobakannya itu.(H.R Bukhari dan Muslim).
Adapun hukum Euthanasia pasif, sebenarnya faktanya termasuk
dalam praktik menghentikan pengobatan. Tindakan tersebut
dilakukan berdasarkan keyakinan dokter bahwa pengobatan yang
dilakukan tidak ada gunanya lagi dan tidak memberikan harapan
sembuh kepada pasien. Karena itu, dokter menghentikan
pengobatan kepada pasien, misalnya dengan cara menghentikan
alat pernapasan buatan dari tubuh pasien. Bergantung pada
pengetahuan kita tentang hukum berobat (at-tadaawi) itu sendiri.
Yakni apakah berobat itu wajib, mandub, mubah, atau makruh.
Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Menurut jumhur
ulama, mengobati atau berobat itu hukumnya mandub (sunnah),
tidak wajib. Namun sebagian ulama ada yang mewajibkan berobat,
seperti kalangan ulama Syafiiyah dan Hanabilah, seperti di
kemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Menurut Abdul Qadim Zallum (1998:68) hukum berobat adalah
mandub. Tidak wajib. Hal ini berdasarkan berbagai hadits, dimana
pada satu sisi Nabi SAW menuntut umatnya untuk berobat,
sedangkan di sisi lain, ada qarinah (indikasi) bahwa tuntutan itu
bukanlah tuuntutan yang tegas (wajib), tetapi tuntutan yang tidak
tegas (sunnah). Di antara hadits-hadits tersebut, adalah hadits
bahwa Rasulullah SAW bersabda : sesungguhnya Allah Azza Wa
Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia citakan pula obatnya.
Maka berobatlah kalian! (HR. Ahmad, dari Anas RA).
16

Hadits di atas menunjukkan Rasulullah SAW memerintahkan


untuk berobat. Menurut ilmu Ushul Fiqih, perintah (al-amr) itu
hanya memberi makna adanya tuntutan (li ath-thalab), bukan
menunjukkan kewajiban (li al-wujub). Ini sesuai kaidah Ushul :
(Al-Ashlu fi al-amri li ath-thalab) perintah itu pada asalnya adalah
sekedar menunjukkan adanya tuntutan.
Jadi, hadist riwayat Imam Ahmad di atas hanya menuntut kita
berobat. Dalam hadist itu tidak terdapat suatu indikasi pun bahwa
tuntutan itu bersifat wajib. Bahkan, qarinah yang ada dalm hadishadits lain justru dan akan menunjukkan bahwa perintah di atas
tidak bersifat wajib. Hadits-hadits lain itu membolehkan tidak
berobat. Perintah itu dihubungkan dengan Illat, sesuai dengan
dengan kaidah :

Hukum itu ditentukan ada atau tidak adanya illat [20].
Dengan demikian, memudahkan proses kematian (taisir al-maut)
semacam ini dalam kondisi sudah tidak ada harapan sering
diistilahkan dengan qatlur-rahma (membiarkan perjalanan menuju
kematian karena belas kasihan). Karena dalam kasus ini tidak
didapati tindakan aktif dari dokter maupun orang lain. Tetapi dokter
ataupun orang terkait lainnya dengan pasien hanya bersikap
meninggalkan sesuatu yang hukumnya tidak wajib ataupun tidak
sunnah, sehingga tidak dapat dikenai sanksi hukuman menurut
syariah maupun hukum positif. Tindakan euthanasia pasif oleh
dokter dalam kondisis seperti ini adalah jaiz (boleh) dan dibenarkan
syariah apabila keluarga pasien mengizinkannya demi meringankan
penderitaan dan pasien dan keluarganya.
Secara umum ajaran Islam diarahkan untuk menciptakan
kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia, sehingga aturannya
diberikan secara lengkap, baik yang berkaitan dengan masalah
perdata maupun masalah pidana. Pada prinsipnya, pembunuhan
secara sengaja terhadap orang yang sedang sakit berarti mendahului
takdir. Allah telah menentukan batas akhir usia manusia. Dengan
mempercepat kematiannya, pasien tidak dapat manfaat dari ujian
yang diberikan Allah swt kepadanya.
Masalah kematian setiap manusia itu sudah ditentukan
batasannya oleh Allah swt, maka apabila telah datang kematiannya
17

tidak seorangpun yang dapat mengundurkan atau memajukan


walau sesaatpun. Sebagai mana firman Allah:

Artinya: dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan
(kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan
Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (Q.S AlMunafiqun (63)).
Dapat difahami dari ayat di atas bahwa urusan mati sepenuhnya
merupakan hak Allah swt. Sehingga kalau sampai terjadi seseorang
lain yang mengusahakan kematian untuk orang lain, ini bisa
dikategorikan sebagai pembunuhan. Dan bila ada terjadi seseorang
berusaha untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan kematian, maka
perbuatan demikian bisa dikategorikan sebagai bunuh diri dengan
meminjam tangan orang lain.
Manusia dituntut untuk memelihara jiwanya (hifz an-nafs).
Karena memelihara nyawa manusia merupakan salah-satu tujuan
utama dari lima tujuan syariat yang diturunkan oleh Allah Swt.
Jiwa meskipun merupakan hak asasi manusia, tetapi ia adalah
anugerah Allah Swt. Oleh karenanya, seseorang sama sekali tidak
berwenang dan tidak boleh melenyapkannya tanpa kehendak dan
aturan Allah sendiri.

D. Transfusi darah
1. Pengertian Transfusi Darah
Kata transfusi darah berasal dari bahasa Inggris Blood
Transfution yang artinya memasukkan darah orang lain ke dalam
pembuluh darah orang yang akan ditolong. Hal ini dilakukan untuk
menyelamatkan jiwa seseorang karena kehabisan darah. Menurut AsySyekh Husnain Muhammad Makhluuf merumuskan definisinya sebagai
berikut :







Yang artinya Transfusi darah adalah memanfaatkan darah
manusia, dengan cara memindahkannya dari (tubuh) orang yang sehat

18

kepada orang
hidupnya.

yang

membutuhkannya,

untuk

mempertahankan

Darah yang dibutuhkan untuk keperluan transfusi adakalanya


secara langsung dari donor dan adakalanya melalui Palang Merah
Indonesia (PMI) atau Bank Darah. Darah yang disimpan pada Bank
darah sewaktu-waktu dapat digunakan untuk kepentingan orang yang
memerlukan atas saran dan pertimbangan dokter ahli, hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan antara golongan darah donor
dan golongan darah penerimanya.
Oleh karena itu, darah donor dan penerimanya harus dites
kecocokannya sebelum dilakukan transfusi. Adapun jenis-jenis darah
yang dimiliki manusia yaitu golongan AB, A, B, dan O.
Golongan-golongan yang dipandang sebagai donor darah adalah
sebagai berikut:
a. Golongan AB dapat memberi darah pada AB
b. Golongan A dapat memberi darah pada A dan AB
c. Golongan B dapat memberi darah pada B dan AB
d. Golongan O dapat memberi darah kesemua golongan darah
Adapun golongan darah dilihat dari segi resipien atau penerima
adalah sebagai berikut:
a.

Golongan AB dapat menerima dari semua golongan

b.

Golongan A dapat menerima golongan A dan O

c.

Golongan B dapat menerima golongan B dan O

d.

Golongan O hanya dapat menerima golongan darah O

Meskipun demikian, sebaiknya transfusi dilakukan dengan


golongan darah yang sama, dan hanya dalam keadaan terpaksa dapat
diberikan darah dari golongan yang lain.
2. Hukum Islam terhadap tindakan Transfusi Darah
Menurut hukum Islam pada dasarnya, darah yang dikeluarkan dari
tubuh manusia termasuk najis mutawasithah. Maka darah tersebut
hukumnya haram untuk dimakan dan dimanfaatkan, sebagaimana yang
terdapat dalam surat al-Maidah ayat 3 :
19

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,


(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,..
Ayat diatas pada dasarnya melarang memakan maupun
mempergunakan darah, baik secara langsung ataupun tidak. Akan tetapi
apabila darah merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan jiwa
seseorang yang kehabisan darah, maka mempergunakan darah
dibolehkan dengan jalan transfusi. Bahkan melaksanakan transfusi
darah dianjurkan demi kesehatan jiwa manusia, sebagaimana firman
Allah dalam surat al-Maidah ayat 32 yang berbunyi sebagai berikut :
... Dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia
semuanya....
Yang demikian itu sesuai pula dengan tujuan syariat Islam, yaitu
bahwa sesungguhnya syariat Islam itu baik dan dasarnya ialah hikmah
dan kemaslahatan bagi umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Kemaslahatan yang terkandung dalam mempergunakan darah
dalam transfusi darah adalah untuk menjaga keselamatan jiwa
seseorang yang merupakan hajat manusia dalam keadaan darurat,
karena tidak ada bahan lain yang dapat dipergunakan untuk
menyelamatkan jiwanya. Maka, dalam hal ini najis seperti darah pun
boleh dipergunakan untuk mempertahankan kehidupan. Misalnya
seseorang yang menderita kekurangan darah karena kecelakaan, maka
dalam hal ini diperbolehkan menerima darah dari orang lain. Hal
tersebut sangat dibutuhkan (dihajatkan) untuk menolong seseorang
yang keadaannya darurat, sebagaimana keterangan Qaidah Fiqhiyah
yang berbunyi :
.


Perkara hajat (kebutuhan) menempati posisi darurat (dalam
menetapkan hukum Islam), baik yang bersifat umum maupun yang
khusus.

.


Tidak ada yang haram bila berhadapan dengan keadaan darurat, dan
tidak ada yang makruh bila berhadapan dengan hajat (kebutuhan).

20

Maksud yang terkandung dalam kedua Qaidah tersebut


menunjukkan bahwa Islam membolehkan hal-hal yang makruh dan
yang haram bila berhadapan dengan hajat dan darurat. Dengan
demikian transfusi darah untuk menyelamatkan seorang pasien
dibolehkan karena hajat dan keadaan darurat.
Kebolehan mempergunakan darah dalam transfusi dapat dipakai
sebagai alasan untuk mempergunakannya kepada yang lain, kecuali
apabila ada dalil yang menunjukkan kebolehannya. Hukum Islam
melarang hal yang demikian, karena dalam hal ini darah hanya
dibutuhkan untuk ditransfer kepada pasien yang membutuhkannya saja,
sesuai dengan kaidah Fiqhiyah:
.

Sesuatu yang dibolehkan karena darurat dibolehkan hanya sekedar
menghilangkan kedharuratan itu.
Memang dalam Islam membolehkan memakan darah binatang bila
betul-betul dalam keadaan darurat, sebagaimana keterangan dalam ayat
al-Quran yang berbunyi sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama)
selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa
(memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat diatas menunjukkan bahwa bangkai, darah, daging babi dan
binatang yang ketika disembelih disebut nama selain nama Allah,
adalah haram dimakan. Akan tetapi apabila dalam keadaan terpaksa dan
tidak melampaui batas, maka boleh dimakan dan tidak berdosa bagi
yang memakannya.
Sesungguhnya Allah menghendaki kemudahan dan tidak
menghendaki kesukaran dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama.
Maka penyimpangan terhadap hukum-hukum yang telah ditetapkan
oleh nash dalam keadaan terpaksa dapat dibenarkan, asal tidak
melampaui batas. Keadaan keterpaksaan dalam darurat tersebut bersifat
sementara, tidak permanen. Ini hanya berlaku selama dalam keadaan
darurat.

21

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah penulis paparkan, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa:
1. Transplantasi organ hukumnya mubah dan dapat berubah hukumnya
sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Transplantasi ini
dapat di qiyaskan dengan donor darah dengan illat bahwa donor darah
dan organ tubuh dapat dipindahkan tempatnya, keduannya suci dan
tidak dapat diperjual belikan. Tentu saja setelah perpindahan itu
terjadi maka tanggung jawab atas organ itu menjadi tanggungan orang
yang menyandangnya.
2. Operasi plastik adalah operasi yang dilakukan untuk mempercantik
atau memperbaiki satu bagian pada anggota badan. Baik yang nampak
ataupun tidak, dengan cara ditambah, dikurangi, atau dibuang dengan
tujuan memperbaiki fungsi dan estetika (seni) tubuh. Jenis-jenis
operasi plastik ada dua. Yang pertama adalah operasi plastik dengan
unsur sengaja dan yang kedua operasi plastik dengan tidak ada unsur
sengaja. Adapun hukum operasi plastik itu ada yang diperbolehkan
dan juga ada yang diharamkan. Semuanya tergantung kepada niat dan
alasan dilakukannya operasi plastik tersebut. Selain itu operasi plastik
juga memiliki dampak positif dan negatif. Salah satu dampak
positifnya seperti akan menambah kecantikan yang melakukan operasi
jika operasi itu berhasil. Adapun dampak negatifnya seperti kerusakan
jika operasi itu mengalami kegagalan.
3. Euthanasia adalah mengakhiri hidup dengan cara yang mudah tanpa
rasa sakit. Macam-macam Euthanasia :

22

a. Euthanasia aktif, yaitu tindakan dokter mempercepat kematian


pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien
tersebut.
b. Euthanasia pasif, yaitu tindakan dokter berupa penghentian
pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis
sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan.
Menurut Pandangan Syariah Islam Euthanasia Aktif diharamkan,
karena termasuk dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu
alamd). Adapun hukum Euthanasia pasif, sebenarnya faktanya
termasuk dalam praktik menghentikan pengobatan.
4. Tranfusi darah dimaksudkan adalah untuk menolong manusia yang
sedang membutuhkan dalam menyelamatkan jiwanya.
Dalam transfusi darah itu, tidak dipersyaratkan adanya kesamaan
agama/kepercayaan antara donor (pemberi) maupun resipien
(penerima). Semua dilakukan untuk menolong dan menghormati
harkat dan martabat manusia.
Dengan demikian, bahwa hukum transfusi darah menurut Islam
adalah boleh, karena tidak adanya hadis atau ayat yang jelas dan tegas
melarangnya.

23