Anda di halaman 1dari 3

Gorontalo Utara Data Ulang Aset Kendaraan Dinas Operasional (KDO)

[http://bimg.antaranews.com/gorontalo/2015/12/ori/20151206Bupati_Indra_Yasin_didampin
gi_Wabup_Roni_Imran_pada_apel_KDO_pemerintah_daerah.jpg]
Gorontalo, (ANTARA GORONTALO) - Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara mendata
ulang jumlah kendaraan dinas operasional (KDO) yang menjadi aset bergerak pada gerakan
Peduli Aset Daerah, dibuka langsung Bupati Indra Yasin di halaman kantor bupati setempat.
Menurut Indra, Sabtu di Gorontalo, aset merupakan persoalan penting yang harus dibenahi
pemerintah daerah secara serius.
Sebab menjadi salah satu syarat meraih predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) pada
pengelolaan keuangan daerah yang dinilai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
"Kita pernah gagal meraih predikat WTP karena pengelolaan aset belum tepat, masih ada aset
yang tidak terdaftar ataupun terdaftar namun bukti fisik tidak mampu ditampilkan," ujarnya.
Olehnya, selain sistem administrasi yang harus tepat, seluruh aset KDO yang dimiliki harus
diperkuat dengan kepemilikan dokumen dan dimanfaatkan dengan tepat oleh penanggung
jawab secara perorangan maupun instansi.
Aparatur pengguna KDO pun harus terlatih, menguasai aset secara fisik baik yang bergerak
maupun tidak bergerak.
"Jangan sampai aparatur pengguna hanya menguasai aset secara fisik namun tidak memiliki
kekuatan secara yuridis, seperti dokumen kendaraan yang tidak lengkap maupun pengguna
yang tidak memiliki surat izin mengemudi," ujar Indra.
Data November 2015 yang ditampilkan pada apel KDO tersebut, aset bergerak yang dimiliki
sebanyak 14 unit roda enam, 78 unit mobil dinas dan 65 unit KDO.
Ditambah 14 unit roda tiga dan 551 unit roda dua, seluruh kendaraan yang ditampilkan
tersebut berasal dari seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di tingkat kabupaten dan
yang tersebar di 11 kecamatan.
Sumber :
http://gorontalo.antaranews.com/berita/19837/gorontalo-utara-data-ulang-aset-kdo diakses
pada tanggal 7 Desember 2015

Sub Bagian Hukum BPK Perwakilan Provinsi Gorontalo

Catatan:

Salah satu jenis pemeriksaan yang dilaksanakan BPK antara lain pemeriksaan keuangan yang
dimaksudkan untuk memberikan opini apakah laporan keuangan sudah disajikan secara wajar
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). Opini BPK meliputi Wajar Tanpa Pengeculian
(WTP/unqualifield opinion)); Wajar Dengan Pengecualian (WDP/Qualified Opinion); Tidak
Memberikan Pendapat (Disclaimer opinion);dan Tidak Wajar (Adverse opinion).

Menurut Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP),
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat
dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan
dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang,
termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat
umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap
menerangkan bahwa Aset tetap sering merupakan suatu bagian utama aset pemerintah, dan
karenanya signifikan dalam penyajian neraca. Termasuk dalam aset tetap pemerintah adalah: (a)
Aset tetap yang dimiliki oleh entitas pelaporan namun dimanfaatkan oleh entitas lainnya, misalnya
instansi pemerintah lainnya, universitas, dan kontraktor; (b) Hak atas tanah.

Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Barang yang berasal
dari perolehan lainnya yang sah tersebut meliputi :

Barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;

Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak; c.

Barang yang diperoleh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau

Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian


hukum, transparansi, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah meliputi: Perencanaan Kebutuhan dan penganggaran; pengadaan; Penggunaan;
Pemanfaatan; pengamanan dan pemeliharaan; Penilaian; Pemindahtanganan; Pemusnahan;
Penghapusan; Penatausahaan; dan pembinaan, pengawasan dan pengendalian

Pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah dapat berupa: Sewa; Pinjam Pakai; Kerja Sama
Pemanfaatan; Bangun Guna Serah atau Bangun Serah Guna; atau Kerja Sama Penyediaan
Infrastruktur.

Pasal 42 PP 27/2014 menyatakan bahwa Pengelola Barang, Pengguna Barang dan/atau Kuasa
Pengguna Barang wajib melakukan pengamanan Barang Milik Negara/Daerah yang berada dalam
penguasaannya. Pengamanan tersebut meliputi pengamanan administrasi, pengamanan fisik, dan
pengamanan hukum.

Pengamanan Barang Milik Negara/Daerah yang dimaksud adalah:

Sub Bagian Hukum BPK Perwakilan Provinsi Gorontalo

Barang Milik Negara/Daerah berupa tanah harus disertipikatkan atas nama Pemerintah
Republik Indonesia/Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

Barang Milik Negara/Daerah berupa bangunan harus dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas
nama Pemerintah Republik Indonesia/Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan harus dilengkapi dengan bukti
kepemilikan atas nama Pengguna Barang.

Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan harus dilengkapi dengan bukti
kepemilikan atas nama Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

Pengguna

Barang

adalah

pejabat

pemegang

kewenangan

Penggunaan

Barang

Milik

Negara/Daerah. Pengguna Barang dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga melakukan


Inventarisasi Barang Milik Negara/Daerah paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.

Kendaraan Dinas Operasional (KDO) merupakan bagian dari Barang Milik Daerah (BMD) karena
dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau perolehan
lainnya yang sah. Pengelolaan KDO diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri)
No. 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah.

Menurut Permendagri No. 17 Tahun 2007, KDO terdiri atas dua jenis, yaitu Kendaraan Dinas
Operasional dan Kendaraan Dinas Operasional Khusus/Lapangan:

Kendaraan Dinas Operasional terdiri dari: kendaraan bermotor beroda 4 (empat) seperti sedan,
jeep, station wagon, minibus, dan pickup; dan kendaraan bermotor beroda 2 (dua) seperti
sepeda motor dan scooter.

Kendaraan Dinas Operasional Khusus/Lapangan terdiri dari: Mobil ambulans, mobil pemadam
kebakaran, bus, mikro bus, truk, alat-alat besar, pesawat, dan kendaraan di atas air.

Sesuai Permendagri No. 17 Tahun 2007 tersebut, yang menjadi pengguna KDO yaitu Kepala
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), sehingga Kepala SKPD memiliki kewenangan dan
tanggung jawab terhadap KDO seperti:

Mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan KDO yang
diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Daerah melalui
pengelola (Sekretaris Daerah/Sekda);

Melakukan pencatatan dan inventarisasi KDO yang berada dalam penguasaannya;

Menggunakan KDO yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan


tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya;

Mengamankan dan memelihara KDO yang berada dalam penguasaannya; dan

Melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan KDO yang ada dalam
penguasaannya.

Sub Bagian Hukum BPK Perwakilan Provinsi Gorontalo