Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jaringan telekomunikasi dibuat dengan tujuan untuk menyediakan sarana pertukaran
informasi antara pengguna yang menginginkannya ketika ia memerlukan informasi. Dalam
proses tukar-menukar informasi tersebut terjadi perpindahan informasi dari pengirim ke
penerima. Perpindahan informasi dari satu tempat ke tempat lain di dalam jaringan
telekomunikasi tersebut disebut dengan trafik telekomunikasi (teletraffic). Teletrafik atau
disebut juga dengan rekayasa trafik merupakan aplikasi teori rekayasa lalu lintas untuk
telekomunikasi. Rekayasa ini menggunakan pengetahuan dasar statistik seperti teori antrian,
sifat lalu lintas, model praktis, pengukuran dan simulasi yang diperlukan dalam perencanaan
untuk memastikan bahwa biaya jaringan dapat diminimalkan tanpa mengorbankan kualitas
layanan yang diberikan kepada pengguna jaringan. Teori antrian digunakan agar dapat
memprediksi perilaku jaringan telekomunikasi seperti jaringan telepon atau internet. Teori
antrian awalnya dikembangkan untuk jaringan circuit-switched berlaku untuk paket-switched
jaringan. Alat-alat dan pengetahuan dasar membantu memberikan layanan yang handal dengan
biaya rendah. Karena pendekatan ini sangat berbeda dengan jaringan lainnya, jaringan ini akan
ditangani secara terpisah misalnya seperti jaringan broadband dan jaringan mobile.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaplikasian rekayasa trafik dalam per-telekomunikasi an ?
2. Apakah ada hubungan antara Kualitas Pelayanan (QoS), beban trafik, dan
kapasitas sistem ?

1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui pengaplikasian rekayasa trafik dalam per-telekomunikasian
2. Mengetahui hubungan antara kualitas pelayanan (QOS), beban trafik, dan kapasitas sistem

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Rekayasa Trafik
Trafik merupakan statistik jumlah kedatangan panggilan yang dibawa oleh jaringan. Besar
trafik ( intensitas trafik ) akan digunakan untuk menentukan ukuran atau kapasitas jaringan. Secara
kualitatif, trafik mengandung dua hal yaitu jumlah panggilan dan volume panggilan. Trafik dapat
berupa panggilan yang harus disambungkan pada jaringan telepon, paket yang harus dirutekan pada
jaringan data, request untuk web server dsb.

Gambar 2.1 Hubungan Kualitatif Rekayasa Trafik

Pertumbuhan trafik internet di Indonesia selama dekade tahun terakhir terbilang sangat
tinggi. Bahkan para operator telekomunikasi, saat ini lebih cenderung menjual layanan data
daripada layanan suara. Untuk mengetahui karakteristik hubungan kausalitas (sebab-akibat) trafik
internet spasial umumnya dilakukan analisis perhitungan korelasi. Namun pada analisis
menggunakan perhitungan korelasi hanya menunjukkan ada tidaknya hubungan korelasi antara
trafiknya sedangkan arah hubungan antara trafik internet sama sekali tidak diketahui. menggunakan
data trafik Round Trip Time (RTT) pada beberapa router dan dianalisis menggunakan spasial
korelasi.Sedangkan pada analisis yang lain menggunakan data trafik TCP dan UDP dengan
membanding distribusi zipf masing-masing trafiknya. Pada analisis ini trafik internet dianalisis
secara spesial temporal dengan menggunakan Graph Wavelets untuk mendeteksi anomali trafiknya.
Pengaturan lalu lintas harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

1.
2.
3.
4.

Besar/banyaknya perpindahan object.


Arah/destinasi perpindahan object
Waktu pemindahan
Sarana yang digunakan untuk mengatur trafik.
Dalam lalu lintas telekomunikasi maka objeknya adalah pembicaraan (informasi). Jika satu

jalur sudah terpakai untuk mengalirkan satu pembicaraan, maka jalur itu tidak dapat digunakan
untuk menyalurkan pembicaraan lain. Jika pembicaraan sudah selesai barulah jalur tersebut dapat
dipakai untuk yang lain. Volume lalu lintas ini akan menentukan ukuran sentral telepon. Intensitas
lalu lintas berubah-ubah dari waktu ke waktu, hari ke hari dan bulan ke bulan. Oleh sebab itu,
dikenal jam sibuk, hari sibuk dan bulan sibuk. Kesibukan yang berbeda-beda untuk setiap tempat.
Sebab itu, untuk jumlah telepon yang sama, maka kapasitas sentral telepon yang dibutuhkan tidak
sama. Secara umum trafik dapat diartikan sebagai perpindahan informasi dari satu tempat ke
tempat lain melalui jaringan telekomunikasi. Besar dari suatu trafik telekomunikasi diukur dengan
satuan waktu, sedangkan nilai trafik dari suatu kanal adalah lamanya waktu pendudukan pada kanal
tersebut. Salah satu tujuan perhitungan trafik adalah untuk mengetahui unjuk kerja jaringan
(Network Performance) dan mutu pelayanan jaringan telekomunikasi (Quality of Service).
2.2 Model Teletrafik

Model teletrafik bersifat stokastik (probabilistik):


Sistemnya sendiri biasanya bersifat deterministik, namun trafik bersifat stokastik
Kita tidak pernah tahu, siapa yang akan menelepon dan kapan.
Variabel-variabel model merupakan variable acak:
Jumlah panggilan keluar
Jumlah paket di dalam buffer
Proses stokastik menggambarkan perkembangan sementara dari variable acak.
Variabel acak digambarkan melalui distribusinya:
Peluang bahwa ada n panggilan keluar
Peluang bahwa ada n paket di dalam buffer
Sistem riil >< model:
Model hanya menggambarkan satu bagian atau satu sifat dari sistem yang diamati.
Deskripsi dari model tidak akurat, hanya merupakan pendekatan .
Pengambilan kesimpulan berdasarkan model harus disertai catatan

2.3 Tipe Model Teletrafik

Model teletrafik sederhana

Gambar 2.3.1 Model Trafik Sederhana


Laju kedatangan pelanggan: (Jumlah pelanggan persatuan waktu) 1/ = waktu
antar kedatangan rata-rata
Saat sibuk, server melayani dengan laju (pelanggan persatuan waktu)
Pelanggan dilayani secara parallel oleh n server 1/ = waktu pelayanan rata-rata
Ada sejumlah n+m pelanggan yang berada di dalam sistem Paling sedikit ada n
pelanggan berada di tempat pelayanan, dan paling banyak ada m pelanggan di
tempat menunggu.
Pelanggan yang datang pada saat kondisi sistem penuh, dianggap hilang.

Loss System
Sistem Loss Murni (Pure Loss System)

Gambar 2.3.2 Loss System


-

Jumlah server terbatas ( n < ), tidak ada tempat menunggu (m=0)

Pelanggan yang datang pada saat sistme penuh, langsung hilang

Dari sisi pelanggan perlu diketahui : beberapa peluang sistem penuh ketika
pelanggan datang

Infinite System

Gambar 2.3.3 Infinite System


Jumlah server tak terbatas (n=), namun tidak ada tempat menunggu (m=0).
Tidak ada pelanggan yang hilang maupun menunggu, semua pelanggan yang datang

langsung dilayani.

Queueing system (sistem antrian)


Sistem Antrian Murni (Pure Queueing System)

Gambar
-

2.3.4 Sistem Antrian Murni


Jumlah server terbatas (n<), namun jumlah tempat menunggu tidak terbatas (m=).
Jika pelanggan datang pada saat seluruh tempat pelayanan terisi, maka pelanggan
tersebut akan mengisi satu tempat di antrian.
- Tidak ada pelanggan yang hilang, hanya harus menunggu sampai dapat dilayani.
- Dari sisi pelanggan, perlu diketahui: Berapa peluang pelanggan harus menunggu
terlalu lama?
Sistem Antrian dengan loss (Lossy Queueing System)

Gambar 2.3.5 Sistem Antrian Dengan Loss


Jumlah server terbatas (n<), dan jumlah tempat antrian jujga terbatas
(0<m<)

Jika pada saat kedatangan pelanggan, semua server sedang melayani


namun ada tempat kosong pada antrian, maka pelanggan tersebut akan

menempati antrian terlebih dulu sebelum dilayani.


Jika pada saat kedatangan pelanggan, semua server sedang melayani dan
tidak ada tempat kosong pada antrian, maka pelanggan tersebut tidak akan

dilayani, dan hilang.


Sharing system
Sistem Berbagi Murni (Pure Sharing System)

Gambar 2.3.6 Sharing System


Jumlah server terbatas (n<), dan jumlah tempat pelayanan tidak

terbatas (n+m=). Tidak ada tempat antrian.


Jika ada paling banyak n pelanggan di dalam sistem (x<n), maka setiap
pelanggan mempunyai server masing-masing. Jika kondisi tersebut tidak
terpenuhi (x>n), maka laju pelayanan total (n) dibagikan secara adil ke

seluruh pelanggan.
Jadi laju pelayanan pelanggan = min {,n/x}
Tidak ada pelanggan yang hilang dan tidak ada pelanggan yang harus

menunggu sebelum dilayani.


Semakin banyak pelanggan di dalam sistem, semakin besar delay yang
dialami. Jadi pada sistem ini, delay merupakan ukuran penting dari sisi
pelanggan.

Sistem Berbagi dengan Loss (Lossy Sharing


System)

Gambar 1.16 Lossy Sharing System

- Jumlah server terbatas (n<), dan jumlah tempat pelayanan juga


terbatas
(n+m<). Tidak ada tempat
antrian.
-

Jika ada paling banyak n pelanggan di dalam sistem (x<n), maka


setiap pelanggan mempunyai server masing-masing. Jika kondisi tersebut
tidak terpenuhi (x>n), maka laju pelayanan total (n) dibagikan secara adil
ke seluruh pelanggan.

Jadi laju pelayanan pelanggan = min {,n/x}

Sebagian pelanggan ada yang hilang namun tidak ada pelanggan yang
harus menunggu sebelum dilayani.

2.4 Aplikasi Teletrafik


Sebelum melangkah kepada pembicaraan yang lebih jauh, untuk mengetahui tentang
penggunaan pengetahuan teletrafik pada sistem real-life meka diberikancontoh-contoh berikut.
Contoh 1 :
Andaikan bahwa seseorang diminta untuk menentukan jumlah trunk diantara dua PBX
(Private Branch Exchange) yang tepisah, masing-masing menampung 1000 set telepon, seperti
yang tampak pada gambar 1. Untuk menjamin agar semua set telepon yang ada pada kedua PBX
dapat berbicara satu sama lain secara serentak maka jumlah trunk yang dibutuhkan haruslah
sebesar s = 1000. Menggunakan jumlah trunk yang sedemikian banyaknya tentu tidak
bermanfaat karena permintaan yang sebanyak itu (ekstrim) jarang sekali terjadi. Pada keadaan
ekstrim lainnya jika s = 1, pelayanan sangat tidak mencukupi. Dengan menggunakan teori
teletrafik persoalan ini dapat diselesaikan sehingga diperoleh jumlah trunk yang optimum.
Misalkan, setiap telkom digunakan (secara acak) rata-rata 6 menit dalam 1 jam, dengan demikian
dapat ditentukan bahwa dengan jumlah s = 64 akan menjamin koneksi dengan probablilitas 99%.

Contoh 2 :
Pada suatu sistem transmisi data ( seperti diperlihatkan gambar 2 ), 2400 bit paket yang
panjangnya tetap tiba dengan laju 3 paket per detik secara acak. Pertanyaan yang muncul, sistem
yang manakah yang memiliki GOS yang lebih baik ?
a.4 saluran, 2400 bit/detik, atau
b.1 saluran ( tunggal ), 9600 bit/detik.
Gambar 2 : Sistem Transmisi Paket.
Untuk melakukan evaluasi unjuk kerja yang demikian, berbagai faktor seperti kuantitas
permintaan, pola pembangkitan panggilan dan tipe pelayanan harus ditentukan. Faktorfaktor tersebut berada dalam lingkup teori teletrafik dan akan dijelaskan pada bagian berikut.
2.4.1 Beban Trafik
Pada sistem teletrafik, sebuah panggilan didefenisikan sebagai sebuah permintaan untuk
sebuah koneksi atau disebut juga dengan customer atau pelanggan. Holding time didefenisikan
sebagai lamanya sebuah panggilan dan disebut juga waktu pelayanan atau service time. Beban
trafik didefenisikan sebagai total holding time per unit waktu. Satuan dari beban trafik disebut
erlang ( erl ). Berikut ini disajikan sebuah contoh berkenaan dengan defenisi-defenisi yang telah
disebutkan di atas.

Contoh :
Anggap bahwa ada tiga panggilan per jam dengan holding time 5, 10 dan 15 menit
( seperti diperlihatkan pada gambar 3 ) maka beban trafik a dihitung sebagai berikut.
(5 + 10 + 15 ) menit
A=

= 0,5 erl.
60 menit

2.4.2 Distribusi Waktu Pelayanan


Berikutnya akan dibahas distribusi waktu pelayanan. Pada kasus yang sangat sederhana,
dianggap bahwa sebuah panggilan diakhiri secara acak. Ambil satu saat awal pembangkitan
panggilan. Probabilitas bahwa panggilan berakhir pada ( t,t+t ) adalah t dan tidak
bergantung kepada t ( dari asumsi pembubaran acak ). Fungsi distribusi komplementer H ( t )
( probabilitas bahwa waktu pelayanan lebih besar dari t ) adalah sama dengan probabilitas bahwa
panggilan tidak diakhiri pada ( 0,t ).
Dengan membagi ( 0,t ) menjadi sejumlah n sub bagian yang cukup besar dan menempatkan t =
t/n maka jika probabilitas yang disebut belakangan sama dengan ( 1-t ) dimana n , H ( t )
ditentukan oleh :
H ( t ) = lim 1

Jadi,

waktu

t
= e -t
n
pelayanan

adalah

terdistribusi

secara

eksponensial

dengan rata-rata -

1,dimana disebut dengan laju pelayanan atau laju pembubaran atau sering juga disebut dengan
waktu pelayanan eksponensial. Beban yang ditawarkan, diekspresikan dengan a =/u.

2.5 Hubungan antara Kualitas Pelayanan (QoS), beban trafik, dan kapasitas sistem
Sistem dapat berupa:
-

Peralatan tunggal, misalnya: saluran antara dua sentral telepon, saluran dalam
jaringan IP, atau packet processor pada jaringan data.

Keseluruhan jaringan (telepon atau data), atau bagian dari jaringan tersebut.
Trafik terdiri dari:

Kumpulan dari: bit, paket, burst, koneksi, panggilan. Tergantung dari sistem dan skala
waktu yang digunakan.

Kualitas pelayanan atau Quality of Service (QoS) dapat dilihat dari titik pandang:
-

Pelanggan, misalnya : jumlah panggilan yang diblocking, paket yang hilang, delay
paket, throughput.

Sistem, dalam hal ini digunakan istilah kinerja sistem, misalnya: pemanfaatan
saluran atau processor, beban jaringan maksimum.

Pelayanan

sistem

trafik

Gambar 2.5.1 Hubungan segitiga Sistem-QoS-Trafik


Contoh: Panggilan telepon

2505221

Gambar 2.5.2 Panggilan Telepon

Trafik Panggilan telepon oleh setiap pelanggan


Sistem

Jaringan Telepon

QoS Peluang telepon yang dihubungi berdering

KRIIING!!

Kapasitas Sistem

QoS

QoS

Beban trafik

Beban trafik

Kapasitas Sistem

Pada QoS

Pada kapasitas sistem

Pada beban trafik

yang diberikan

yang diberikan

yang diberikan

Gambar 2.5.3 Hubungan Kualitatif antara Sistem - Trafik - QoS


Hubungan Kuantitatif : Diperlukan model matematis untuk menggambarkan hubungan kuantitatif
dari ketiga faktor di atas