Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Arsitektur adalah bagian yang paling universal dan ekspresif dari karya
seni, sebab arsitektur tidak hanya mengekspresikan arsiteknya, juga manusia
dan zamannya. Suatu bangunan tidak dapat dipahami hanya dengan
mengamati bentuk dan dekorasinya, tetapi perlu diketahui masalah-masalah
yang terkait dengannya seperti masalah fungsi, kostruksi, waktu/zaman dan si
pembuatnya.
Arsitektur klasik adalah gaya bangunan dan teknik medesain yang
mengacu pada zaman klasik Yunani, seperti yang digunakan di Yunani kuno
pada periode Helenistik dan kekaisaran Romawi. Dalam sejarah arsitektur,
Arsitektur Klasik ini juga nantinya terdiri dari gaya yang lebih modern dari
turunan gaya yang berasal dari Yunani.
Langgam Arsitektur Klasik muncul bersamaan dengan dimulainya
peradaban tulisan secara formal. Belum ditemukan secara spesifik kapan era
ini dimulai maupun berakhir. Namun, jenis langgam ini banyak dijumpai di
benua Eropa. Dalama beberapa alasan, jenis arsitektur rumah ini dibangun
dengan tiga tujuan: sebagai tempat berlindung (fungsi rumah tinggal, sebagai
wadah penyembahan Tuhan (fungsi rumah peribadatan) dan tempat berkumpul
(balai kota, pemerintahan,dsb). Untuk alasan kedua dan ketiga inilah
bangunan ini dibuat sedetail mungkin dan seindah mungkin dengan memberi
ornamen-ornamen hiasan yang rumit. Seiring waktu berlalu, bangunan
menjadi lebih rumit dan lebih rinci.
Dalam perkembangannya Arsitektur berkembang dari masa ke masa
dimulai dari perkembangan Arsitektur Yunani hingga pada masa kristen awal.
Masa Kristen Awal terjadi pada abad pertengahan, sedangkan Perkembangan
Yunani dan Romawi terjadi

pada zaman klasik. Pada zaman Kristen awal mulai terjadi perubahan nilai.
Manusia mulai memikirkan hal-hal yang bersifat ukhrawi atau kehidupan
dunia sesudah kematian. Hal ini setidaknya terlihat pada ciri-ciri sebagai
berikut :
Manusia cenderung berintrospeksi pada diri sendiri
Karya arsitekturnya bersifat religius (tempat-tempat ibadah).
Karya seni lebih ditonjolkan untuk kepentingan agama.

1.2 TUJUAN
1. Menjelaskan perkembangan Arsitektur Kristen Awal (330-800)
2. Menyimpulkan tentang karakter khas dari gaya Arsitektur Kristen Awal

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peta penyebaran

2.1
GEOGRAFIS,GEOLOGIS, DAN IKLIM

Agama Kristen Lahir dan berkembang di Wilayah Judea, salah satu


propinsi Roma di wilayah Timur, dibawa oleh Santo Petrus dan Santo Paulus
ke Roma yang kemudian menjadi pusatnya. Wilayah Kekaisaran Roma
mencakup seluruh wilayah di sekeliling Laut Mediterania, termasuk Syria,
Asia Minor, dan Afrika Utara. Pada wilayah itulah berkembang Arsitektur
yang mempunyai ciri khas, pada jaman Kristen Awal (313-800)
Aspek Geologis berpengaruh pada Arsitektur Kristen Awal pada bahan
bangunan khususnya bahan galian. Iklim berpengaruh pada sistem
penghawaan dan pencahayaan alami. Pada wilayah yang lebih panas, biasanya
lebih banyak membuat jendela.

2.2 SEJARAH SINGKAT

Sejarah Kristen Awal dimulai dari jaman Constantine hingga


Charlemagne (800).pada 410 Roma jatuh ketangan orang-orang Goth di
bawah Alaric. Pada 800, Charlemagne dinobatkan menjadi emperor oleh Paus
dari Roma, sejak itu Kekaisaran menyatu dalam sistem pemerintahan dengan
Tahta Suci Romawi, berlangsung hingga 1806. roma tidak lagi mendominasi
budaya dan arsitektur Kristen sejak tahun 800 hingga 1000, karena selain
timbul regionalisme, juga pengaruh Romanesque menjadi lebih kuat.
Constantine memindah pusat pemerintahan dari Roma ke Istanbul di
wilayah Byzantine yang namanya kemudia berubah menjadi Constantinopel.
Kekuatan Kristen menjadi goyah karena kekacauan ditimbulkan oleh Julian
Apostate sehingga Kekaisaran Romawi pada 364 terpecah menjadi dua.
Suatu rangkaian emperium di Barat berakhir pada 476 M, setelah
emperium barat dan timur diruntuhkan oleh Zeno yang memerintah di
Constatinopel. Kembali lagi terjadi perubahan kekuasaan, menjadi Theodoric
dan Goth yang memrintah Itali (493-526), dimana tercapai masa puncak
kedamaian dan kemakmuran. Pada jaman ini, budaya dan seni Byzantine
banyak mendapat pengaruh dari jaman Kristen Awal. Berikutnya Raja dipilih
dari semacam negara bagian dari Spanyol, Gaul( sebagian besar Perancis
sekarang), Afrika Utara dan Itali sendiri. Emansipasi di Eropa Barat langsung
dengan kontrol dari emperium, mendorong berkembangnya budaya RomanoTeotonic.

2.3 ARSITEKTUR KRISTEN AWAL


Para pengerajin dan seniman pada jaman ini merupan penerus arsitektur
Romawi. Namun, menurunnya kekuasaan membuat pembangunan lebih
menyesuaikan pada kegunaan dan kesedian bahan menjadi faktor

penentu.Bangunan jaman kristen awal mempunyai nilai yang mendasarkan


pada penyelesaian kostruksi. Adapun bangunan pada Kristen Awal antara lain :
Gereja Basilikan dan gereja
Gereja basilikan mempunyai kolom-kolom berjarak lebar menyangga
entablature ataupun pelengkung untuk mendapatkan bentangan lebih lebar.

Ciri lain adalah menggunakan kerangka atap kayu.


Makam dan Babstistery
Meskipun tidak semuanya, namun bentuk gereja segiempat
panjang merupakan kecenderungan dan menjadi salah satu ciri arsitektur
Kristen Awal. Sebaliknya bangunan makan pada jaman yang sama, lebih
banyak yang denahnya lingkaran atau poligonal. Kemungkinan bentuk
lingkaran cocok untuk makam karena mempunyai titik fokus, sehingga
pada titik itulah sangat tepat untuk meletakkan makam.

2.4 ANEKA DEKORASI GEREJA PADA JAMAN KRISTEN AWAL


Pada arsitektur Kristen Awal yang merupakan perkembangan dari gaya
Romawi, dekorasi lebih banyak dari sebelumnya, antara lain dengan mozaik
dan lukisan dinding.

Pengaruh

Yunani

pada
Arsitektur
Romawi
dan
Kristen Awal masih sangat jelas terlihat
pada order yaitu konstruksi terdiri dari
kolom dan balok yang dihias (entablature).
Yang paling banyak digunakan adalah order korintien. Hiasan geometrik, juga

mulai dikembangkan pada jaman ini antara lain pada lantai, dinding, ukiran
pada pintu dan jendela.

2.5 CONTOH BANGUNAN ARSITEKTUR KRISTEN AWAL


Basilika Santo Petrus
Arsitek : Donate Bramante

Tahun :
18

April

1506

18

November 1626
Lokasi : vatikan
Fungsi : Gereja (tempat ibadah umat kristiani)
Sejarah singkat :
Gereja Basilika Santo Petrus adalah Gereja Agung umat Katholik yang
merupakan hasil rancangan beberapa arsitek dan seniman. Pembangunannya
memakan waktu lama, antara tahun 1506-1626. Nama Santo Petrus diambil
dari nama murid Yesus, yang diperkirakan disiksa tentara Romawi di
Mortorio.
Bentuk gereja ini pada awalnya mengambil bentuk bangunan basilika
Romawi. Basilika adalah bangunan yang biasa dipakai untuk pengadilan atau
perniagaan oleh bangsa Romawi. Bentuk basilika inilah kemudian ditiru umat
Nasrani sebagai bangunan gereja, setelah Kaisar Konstantin memberikan
kebebasan terhadap perkembangan agama Kristen di Romawi. Kaisar
Konstantin yang menjadi Kaisar Romawi pada 313 Masehi kemudian
merombak bangunan Santo Petrus di Kota Roma.

Bentuk Arsitektur Basilika Santo Petrus


Tiang dan kepala-kepala tiang basilika diambil dari gaya tiang tipe Iona
dan Korinthia Romawi. Di atas tiang-tiang dipasang balok-balok lurus
gaya Yunani (architrave) dengan langit-langit lengkung Romawi. Di
bagian atas jendela-jendelanya dibuat melengkung karena pada masa itu
belum dikenal kaca, sehingga sebagai penutup jendela dipakai papan
pualam yang diukir tembus (ajour). Langit-langit dibuat dari kaso-kaso
kayu yang dipasang miring, karena langit-langit gaya Romawi sangat tebal
dan berat, tidak kuat ditahan oleh tiang-riang Romawi yang bentuknya

ramping.
Gereja dengan bentuk basilika biasanya dilengkapi ruang persegi empat
(atrium) yang dikitari tiang-tiang. Di tengah-tengahnya dibuat kolam
tempat menyucikan diri. Beranda atau teras bertiang yang dihubungkan
dengan beranda depan disebut narthex. Di kemudian hari, kolam dan
narthex ditiadakan, karena dianggap tidak terlalu penting dan tempat ini
dijadikan satu ruang saja. Narthex digunakan sebagai tempat untuk orang
yang telah dibaptis, tetapi belum boleh masuk ke dalam gereja. Bagian
dalam basilika dibagi barisan tiang-tiang membentuk tiga atau lima

ruangan.
Bangunan setengah lingkaran (apsis) yang biasa dipakai sebagai tempat
hakim Romawi, dijadikan tempat paduan suara pendeta. Altar yang
dikelilingi kursi berjejer setengah lingkaran, digunakan untuk biskop dan
pendeta tertua. Altar tersebut diberi langit-langit kebesaran di atas tiangtiang (ciborium). Di bagian tengah gereja basilika terdapat tempat
penyanyi paduan suara yang terbuat dari batu pualam dan dilengkapi
mimbar untuk tempat membaca kitab suci. Sedangkan menara tempat
menggantung lonceng besar (companile) dan ruang pembaptisan
(baptisterium) merupakan ruang tambahan yang dibangun terpisah dari

bangunan induk.
Pemakaian metode konstruksi dari Romawi, yaitu beton/batu yang
diplester dan diberi hiasan ornamen Mosaic yaitu pecahan batuan

berwarna-warni memberikan efek estetis dan plastis, sehingga berkesan

cerah, merah dan biasanya hiasan tersut menceritakan tentang Nabi Isa As.
Dinding kiri dan kanan nave tinggi dan lebar ditopang deretan kolom.
Kolom tersebut bercorak dekorasi korintien. Kolom berderet menyangga
pelengkung pelengkung. Atap dari nave berupa konstruksi kuda kuda
kayu berbentuk pelana. Aisle yang terdiri dari dua lajur, konstruksi atapnya
setengah kuda-kuda dengan satu sisi miring yang disangga oleh deretan
kolom-kolom seoerti pada nave. Konstruksi atap partico setengah kudakuda, sisi miring tunggal. Bagian dalam disangga oleh kolom-kolom
terbuka ke arah atrium, sisi lainnya dinding.

Pada

arsitektur

zaman

kristen awal
merupakan
perkembangan

Romawi,dekorasi atau ornamen lebih

banyak

dari

gaya

sebelumnya

antara lain mozaik dan lukisan dinding. Salah satu ornamen yang terdapat
pada Bangunan basilika santo petrus lama adalah kolom korintien dengan

corak daun.
Mozaik nevicella (kapal kecil) menutupi semua dinding diatas pintu
lengkung yang menghadap halaman. Mozaik ini menggambarkan santo

petrus sedang berjalan diatas air


Pilar pilar

Gereja S. Apollirane In Classe (534-9)


Gereja ini terletak di Ravenna, sebuah kota di Itali timur, beberapa
kilometer dari Mediterania. Gereja ini didirikan Justanian. Gereja ini didirikan
diatas lokasi yang sebelumnya terdapat kuil pemujaan Apollo. Kemungkinan
besar seniman dan pengerajin dalam membangun gereja byzantine, sehingga
pengaruh Constatinopel cukup besar.

10

Nave adalah ruang umat utama ibadah. Aisle merupakan ruang memanjang
pada gereja pararel dikiri kanan dari nave. Biasanya antara nave dengan aisle
dipisahkan oleh deretan kolom (arcade). Kadang aisle untuk sirkulasi atau gang di
dalam gereja, kadang juga untuk tempat duduk umat.
Apse, yang terkadang juga ditulis apsis yang merupakan istilah dalam
arsitektur untuk bagian bangunan yang melengkung ke luar dan berbentuk
setengah bundar yang tertutup oleh semi-kubah atau kubah setengah bulat.
Biasanya terdapat altar. Narthex sama halnya dengan potico yaitu ruang peralihan
dari luar bangunan kedalam.

Konstruksi khas Arsitektur Kristen

Awal

terletak pada kolom yang menopang lengkungan ataupun entablature, serta


sudah digunakannya kuda-kuda kayu.

11

Ornamen

Ornamen dapat dilihat dari kolom korintien

dan lukisan dinding yang

menceritakan alur kehidupan.

Gereja Basilika San Clemente (1099-1108)


Arsitek

: Carlo Stefano Fontana

Tahun

: 1099-1108

Lokasi

: Roma,Italy

Fungsi

: Gereja

Sejarah Singkat

12

Gereja S. Clemente di Roma ( 1099-1108 ) di bangun kembali di atas lokasi


dimana sebelumnya sudah ada gereja yang jauh lebih tua yang telah dibongkar.
Beberapa pondasi lama masih ada pada ruang-ruang bawah tanah yang beratap
melengkung ( Crypt ) meskipun dibangun setelah jaman kristen awal, namun ciri
arsitektur kristen awal sangat kuat mendominasi gereja ini.

Atrium dikelilingi portico atau arcade di sebelah timur dari unit utama. Bagian
utama gereja seperti hampir semua gereja pada jamannya segi empat. Memanjang
di ujungnya terdapat apse, sanctuary dan altar. Di bagian depan dari nave ada
choir yaitu tempat untuk penyanyi koor gereja. Choir dikelilingi dinding semacam
pagar ( balustrade ), di kiri terdapat gospel ambo, di sebelah kanan epistle ambo,
tempat berkhotbah dan membaca ayat-ayat suci dari injil. Meskipun pandangan
dari luar simetris, namun aisle dari gereja tidak sama. Yang di sebelah selatan
lebih lebar.
Konstruksi portico lateral berupa kolom-kolom Ionik, depan dan belakang
berupa pelengkung patah silang diagonal. Pada ruang utama, kolom-kolom
berderet di kiri-kanan nave juga Ionik menyangga pelengkung-pelengkung dihias
dengan mozaik, molding dan relief. Apse denahnya setengah lingkaran. Beratap
setengah kubah, dihias ornamen gaya Baroque.

13

14

BAB III
KESIMPULAN

Arsitektur kristen awal merupakan kelanjutan dan perkembangan dari


arsitektur Romawi. Pelengkung yang ada pada jaman Romawi menjadi elemen
konstruksi utama sehingga dapat membangun bangunan besar, bentangan lebr
tanpa kolom di tengah, pada Arsitektur Kristen Awal menjadi bagian dari
dekorasi. Jendela, pintu dan bukaan bukaan ambang atasnya melengkung setengah
lingkaran. Bentuk order Yunani, baik dorik, Ionik dan terutama Korintien,
digabungkan atau dipakai sebagai kolom penyangga dari deretan pelengkung.
Berbeda dengan arsitektur Yunani, deretan order biasanya digunakan pada wajah
bangunan, berderet melintang, pada arsitektur Kristen Awal dipakai dalam deretan
membujur di sisi kiri-kanan dari nave, menjadi batas dengan aisle.
Demikian pula halnya pelengkung atau kubah, kadang tidak lagi menjadi
bagian dari konstruksi, melainkan merupakan bagian dari dekorasi. Pelengkung
pada masa arsitektur Kristen Awal tidak lagi terlalu berperan dalam konstruksi,
karena mulai berkembang konstruksi kuda-kuda dari kayu. Pada ruang dalam
kadang bentuk pelengkung bukan bagian dari konstruksi, namun hanya menjadi
plafond penutup kuda-kuda dan kerangka atap lainnya. Nave dari sebuah gereja
pada jaman itu, dapat terbentuk dalam bentangan lebar tanpa kolom di tengah
kerena menggunakan konstruksi kuda-kuda. Penumpu kuda-kuda pada dasarnya
deretan pelngkung atau arcade, dengan kolom dan pilaster berbentuk order
Yunani. Konstruksi setengah kuda-kuda untuk atap pada aisle, juga menjadi ciri
lain dari Arsitektur Kristen Awal.
Sebagian besar gereja didirikan pada jaman kristen Awal, mempunyai
atrium, yaitu hall di dalam dikelilingi gang, merupakan peralihan dari luar
kedalam. Di tengah biasa terdapat air mancur untuk permandian(pembabtisan).
Atrium merupakan pengaruh dari bangunan-bangunan Romawi, baik rumah
tinggal maupun bangunan lainnya.

15

Atap aisle pada gereja-gereja dalam konstruksi setengah kuda-kuda lebih


rendah dari atap di atas nave. Bentangan lebar dari nave, membuatnta jauh dari
jendela yang ada pada sisi dinding dan penerangan melalui jendela tidak maksimal
atau akan menjadi gelap. Oleh karena itulah maka pada gereja-gereja jaman
Kristen Awal dibuat jendela-atas berderet pada dinding yang muncul akibat
adanya perbedaan ketinggian atap antara nave dan aisle. Ambang atas dari deretan
jendela-atas tersebut berbentuk lengkung, seperti pada konstruksi arsitektur
Romawi, namjun hanya dipakai bentuknya untuk hiasan bukan konstruksi.
Sebagian besar arsitektur klasik Kristen Awal, wajah depannya berupa
proyeksi dari penampang melintang. Wajah depan terdiri dari bagian tengah, yaitu
dinding ujung dari nave, diapit kembar oleh dinding ujung dari aisle di kiri-kanan.
Dengan demikian bentuk dasar wajah simetris, namun kadang menjadi tidak
simetris kerena adanya menara lonceng (campanile).
Pada jaman Kristen Awal, denah gereja dan bangunan religius lainnya
menjadi bervariasi: gabungan segi empat membentuk silang Latin (Latin Cross),
maupun silang Yunani (Greek cross), bahkan ada yang segi banyak dan lingkaran.
Dalam hal berbentuk segi banyak maupun lingkaran, nave dikelilingi oleh aisle,
dalam susunan radial. Pada persilangan antara bagian membujur terdiri dari nave
dan bagian melintang atau transpt pada gereja-gereja berarsitektur Kristen Awal,
biasanya diberi menara, sering beratap kubah beratap piramidal, sering pula
kerucut. Menara dalam gereja pada jaman ini menjadi tanda dari lingkungan
(landmark), terlihat dari mana-mana meskipun bangunan disekitarnya padat.

16

DAFTAR PUSTAKA

Sumalyo,

Yulianto.2003.Arsitektur

Klasik

Eropa.Yogyakarta:Gajah

Mada

University Press
www.google.com

17