Anda di halaman 1dari 11

Identifikasi Gugus Fungsi Sampel Minyak Goreng Dengan Menggunakan

Spektrofotometri IR
Arni Praditasari
Laboratorium Analisis Fisikokimia II, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran,
Jatinangor
ditapraditaas@gmail.com

Abstrak
Spektrofotometri inframerah (IR) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan
untuk menganalisa senyawa kimia. Spektra inframerah suatu senyawa dapat
memberikan gambaran dan struktur molekul senyawa tersebut. Tujuan percobaan
ini untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada sampel minyak baru dan bekas
menggunakan spektrofotometri IR Metode dilakukan dengan mendeteksi sampel
menggunakan alat spektrofotometer IR. Hasil yang didapatkan adalah adanya
gugus fungsi yang terbaca yakni C=C, C=O, O-H, dan C-H serta terdapat
perubahan signifikan pada gugus fungsi minyak sampel nomor 6, 7, dan 8.
Identifikasi gugus fungsi seperti C=C, C=O, C-H, dan O-H pada minyak baru dan
minyak bekas dapat ditentukan dengan menggunakan spektofotometri IR.
Kata kunci : Spektrofotometri, inframerah, gugus, fungsi, minyak
Abstract
Infrared spectrophotometry (IR) is one tool that can be used to analyze chemical
compounds. Infrared spectra of a compound can provide an overview and
molecular structure of these compounds. The purpose of this experiment to
identify the functional groups on new and used oil samples using IR
spectrophotometry method is performed by detecting samples using IR
spectrophotometer. The results obtained are the functional groups which reads the
C = C, C = O, OH, and CH and there are significant changes in the functional
groups oil sample numbers 6, 7, and 8. Identification of functional groups such as
C = C, C = O , CH, and OH on new oil and used oil can be determined by using
IR spectophotometric.
Keywords : spectrophotometry, infrared, groups, functions, oil

PENDAHULUAN
Spektrofotometri inframerah
(IR) merupakan salah satu alat yang
dapat digunakan untuk menganalisa
senyawa kimia. Spektra inframerah
suatu senyawa dapat memberikan
gambaran dan struktur molekul
senyawa tersebut. Spektra IR dapat
dihasilkan
dengan
mengukur
absorbsi radiasi, refleksi, atau emisi
di daerah IR. Daerah inframerah
pada
spektrum
gelombang
elektromagnetik mencakup bilangan
gelombang 14.000 cm-1 hingga 10
cm-1. Daerah inframerah sedang
(4000 - 400 cm-1) berikatan dengan
transisi energi vibrasi dari molekul
yang
memberikan
informasi
mengenai gugus-gugus fungsi dalam
molekul tersebut. Daerah inframerah
jauh (400 - 10 cm-1) bermanfaat
untuk menganalisis molekul yang
mengandung atom-atom berat seperti
senyawa
anorganik,
namun
membutuhkan teknik khusus yang
lebih baik. Daerah inframerah dekat
(12.500 4000 cm-1) yang peka
terhadap vibrasi overtone (Schechter,
1997).
Penyerahan radiasi inframerah
merupakan proses kuantitatif. Hanya
frekuensi (energi) tertentu dan radiasi
inframerah akan diserap molekul.
Dalam proses penyerapan, maka
energy yang diserap akan menaikkan
amplitude gerakan vibrasi ikatan
dalam molekul. Senyawa organik
juga
menyerap
energi
elektromagnetik
pada
derah

inframerah. Radiasi inframerah tidak


mempunyai energi yang cukup untuk
mengeksitasi elektron tapi dapat
menyebabkan
senyawa organik
mengalami rotasi dan vibrasi
(Hayati, 2007).
Prinsip kerja spektrofotometer
inframerah adalah sama dengan
spektrofotometer yang lainnya, yakni
interaksi energi dengan suatu materi.
Spektroskopi infrmaerah berfokus
pada radiasi elektromagnetik pada
rentang frekuensi 400 4500 cm-1,
dimana cm-1 yang dikenal sebagai
wavenumber
(1/wavelength),
merupakan unit untuk frekuensi.
Untuk
menghasilkan
spektrum
inframerah,
radiasi
yang
mengandung semua frekuensi di
wilayah IR dilewatkan melalui
sampel. Frekuensi yang diserap
muncul sebagai penurunan sinyal
yang terdeteksi. Infromasi ini
ditampilkan sebagai spektrum radiasi
dari energi yang ditransmisikan
melewati wavenumber (Silverstein,
2002).
Teknik
spektroskopi
inframerah dapat digunakan untuk
mengetahui gugus fungsional yang
terbentuk
dan
sampel
yang
dihasilkan serta memprediksikan
reaksi polimerisasi yang terjadi.
Analisis ini didasarkan apda analisis
dari panjang gelombang puncakpuncak karakteristik dari suatu
sampel. Panjang gelombang puncakpuncak tersbut menunjukkan adanya
gugus fungsi tertentu yang ada pada

sampel, karena masing-masing gugus


fungsi memiliki puncak karakteristik
yang spesifik untuk gugus fungsi
tertentu (Gunawan, 2010).

kelapa sawit, kedelai, jagung, canola


dan kelapa (Sartika, 2008).

Komponen dasar lemak adalah


asam lemak dan gliserol yang
diperoleh dari hasil hidrolisis lemak,
minyak maupun senyawa lipid
lainnya. Asam lemak pembentuk
lemak dapat dibedakan berdasarkan
jumlah atom C (karbon), ada atau
tidaknya ikatan rangkap, jumlah
ikatan rangkap serta letak ikatan
rangkap. Jumlah atom karbon pada
asam lemak berkisar antara 4 sampai
24 atom karbon, dengan pembagian
antara lain asam lemak rantai
pendek/SCFA (24 atom karbon),
rantai medium/MCFA (612 atom
karbon) dan rantai panjang/LCFA
(>12 atom karbon). Semua lemak
bahan pangan hewani dan sebagian
besar minyak nabati mengandung
asam lemak rantai panjang. Titik cair
asam lemak meningkat dengan
bertambah panjangnya rantai karbon.
Umumnya asam lemak yang
menyusun lemak bahan pangan
secara alami terdiri dari asam lemak
dengan konfigurasi posisi cis minyak

Alat

No
1

Perilaku
Minyak
goreng
diteteskan ke wadah
sampel
Gugus fungsi yang
ada pada kedelapan
minyak
dideteksi
dengan
spektrofotometer IR

METODE

Spektrofotometri Infrared
Bahan
Minyak goreng baru dan minyak
goreng bekas, n-heksan
Penentuan Identifikasi Sampel
Minyak goreng yang baru dan bekas
diteteskan ke wadah sampel.
Kemudian gugus fungsi yang ada
pada kedelapan minyak tersebut
dideteksi
menggunakan
spektrofotometer IR. Perubahan
gugus fungsi dalam minyak akibat
adanya
proses
penggorengan
ditentukan.
HASIL
Didapatkan gugus fungsi seperti
C=C, C=O, C-H, dan O-H.
Perubahan gugus fungsi yang
signifikan terdapat pada minyak no
6, 7, dan 8.

Hasil
Minyak goreng diteteskan
sebanyak dua tetes ke
wadah sampel
Didapatkan hasil :
-Minyak 1 : C=C (3), C=O
(2)
-Minyak 2 : C=C (1), C=O
(1)

Keterangan
Sebelumnya
dibersihkan dengan nheksan

-Minyak 3 : C=C (1), C=O


(2)
-Minyak 4 : C=C (2), C=O
(2), O-H (1)
-Minyak 5 : C=C (2), C=O
(2), O-H (1)
-Minyak 6 : C=O (2), C-H
(1)
-Minyak 7 : C-H (3), C=O
(1), O-H (1)
-Minyak 8 : C-H (4), C=O
(1), O-H (2)
Perubahan
gugus Adanya
perubahan
fungsi dalam minyak signifikan gugus fungsi
akibat penggorengan minyak pada sampel no 6, 7,
ditentukan
dan 8
Tabel 1. Hasil Pengamatan Identifikasi Gugus Fungsi Sampel Minyak Goreng
Dengan Menggunakan Spektrofotometri IR

Tabel 2. Data Korelasi Gugus Fungsi Pada Spektro IR

Gambar 1. Minyak 1 (baru)

Gambar 2. Minyak 2 (baru)

Gambar 3. Minyak 3 (baru)

Gambar 4. Minyak 4 (bekas)

Gambar 5. Minyak 5 (bekas)

Gambar 6. Minyak 6 (bekas)

Gambar 7 . Minyak 7 (bekas)

Gambar 8. Minyak 8 (bekas)

PEMBAHASAN
Praktikum kali ini tujuan
untuk menganalisis senyawa dari
minyak menggunakan instrument
spektrofotemeter
infrared.
Uji
menggunakan
spektrofotometer
inframerah biasanya
digunakan
untuk menguji kualitatif secara

instrumental
untuk
mengetahui
apakah zat tersebut minyak atau
bukan dilihat dari gugus fungsinya.
Berdasarkan analisis tersebut maka
dapat diketahui perbedaan gugus
fungsi antara minyak goreng baru
dan minyak goreng yang telah
digoreng
berkali-kali.

Spektrofotometer menghasilkan sinar


dari spektrum dengan panjang
gelombang tertentu. Pada percobaan,
digunakan spektrofotometer yang
menghasilkan spectrum pada daerah
serapan daerah inframerah (700
3000 nm).
Prinsip
analisis
dengna
menggunakan FTIR adalah, sampel
ditembakkan dengan suatu sinar
infrared sehingga ikatan kimia yang
ada pada molekul akan bervibrasi
secara
khas
yang
akan
diinterpretasikan sebagai suatu sinyal
elektrik
untuk
diolah
secara
computer oleh instrument. Sinar infra
merah yang berperan sebagai sumber
sinar dibagi menjadi dua berkas, satu
dilewatkan melalui sampel dan yang
lain melalui pembanding. Kemudian
secara
berturut-turut
melewati
copper. Setelah melalui prisma atau
grating, berkas akan jatuh pada
detektor dan diubah menjadi sinyal
listrik yang kemudian direkam oleh
rekorder. Selanjutnya diperlukan
amplifier bila sinyal yang dihasilkan
sangat lemah (Svanberg, 1992).
Inilah
yang
menyebabkan
spektrofotometri infra merah dapat
dipergunakan untuk menentukan
gugus fungsi yang ada di dalam
minyak baru dan lama.
Hal yang pertama yang harus
dilakukan saat menganalisis dengan
spektrometri
infrared
adalah
meletakkan sampel dalam kuvet.
Kuvet merupakan tempat yang
digunakna untuk meletakkna sampel

yang akan dianalisis. Sebelum


digunakan, kuvet terlebih dahulu
dibersihkan menggunakan n-heksana
kemudian dikeringkan dengan tissue.
N-heksana merupakan pengganti
sikloheksana yaitu senyawa non
polar yang dapat digunakan untuk
membersihkan
kuvet.
Spektrofotometri
infra
merah
merupakan instrumen yang sangat
sensitif terhadap adanya. molekulmolekul yang berikatan kovalen yang
dapat mempengaruhi pembacaan
serapan IR. Setelah dikeringkan
menggunakna tissue tidak diperlukan
proses pembilasan dengan air atau
zat organik lain karena dalam
molekul air terdapat ikatan kovalen
yang kuat yaitu ikatan O-H yang
apabila tertinggal pada kuvet akan
terbaca pada alat spektro IR.
Setelah kuvet bebas dari
pengotor, sampel minyak goreng
diambil dengan pipet lalu diteteskan
pada kuvet. Terdapat delapan variasi
sampel minyak goreng sawit yang
digunakan sebagai sampel penelitian
yaitu minyak baru dan minyak bekas.
Pembacaan alat dimulai dari
pembacaan BKG kemudian sampel.
BKG dilakukan untuk penentuan
energi radiasi inframerah yang
digunakan. Sedangkan pada menu
sampel digunakan untuk analisis
sampel.
Berdasarkan hasil serapan
yang ditunjukkan pada sampel
minyak baru no 1, 2, dan 3. Masih
ada ikatan C=C yang menandakan

bahwa minyak tersebut belum terjadi


pemanasan yang dapat menguraikan
ikatan rangkap dari asam lemak tak
jenuh tersebut. Namun kualitas dari
minyak
baru
tersebut
dapat
dibandingkan melalui ikatannya yang
paling kuat terbaca pada serapan IR
adalah
minyak
baru
no
1
dibandingkan
dengan
sampel
lainnya.
Sampel
yang
lain
memperlihatkan bahwa intensitasnya
tidak terlalu kuat sehingga tidak
terbaca oleh serapan IR.
Sedangkan
pada
sampel
minyak bekas no 4 hingga 8 terlihat
bahwa
ada
perubahan
yang
signifikan hanya pada sampel no 6,7,
dan 8. Pada ketiga sampel tersebut
sudah tidak ada ikatan C=C yang
terdeteksi oleh spektro IR. Hal ini
menjadi bukti bahwa minyak bekas
mengandung asam lemak yang jenuh
dan tidak baik bagi kesehatan tubuh.
Ikatan C=C ini dapat terurai bila
mengalami pemanasan berulangulang lebih dari 2 kali. Pada minyak
bekas no 4 dan 5 masih terdapat
ikatan C=C yang menunjukkan
bahwa pemanasan minyak bekas
belum lebih dari 2 kali sehingga
ikatan C=C masih dapat terbaca pada
spektro IR.
Berdasarkan apa yang telah
disebutkan diatas, minyak baru
mengandung gugus fungsi C=O dan
C=C sedangkan minyak bekas
memiliki kandungan gugus fungsi
C=O, C-H, dan O-H. Hal demikian
dapat diartikan bahwa minyak baru

(lemak tak jenuh) memiliki ikatan


rangkap yang banyak serta mampu
untuk menurunkan LDL (kolesterol
jahat) dan meningkatkan HDL
(kolesterol baik).
Apabila minyak baru tersebut
sudah digunakan lebih dari 10 kali
penggorengan
berulang
akan
mengalami oksidasi sehingga ikatan
rangkap yang ada dalam minyak
tersebut lebih sedikit, bahkan sama
sekali tidak ada ikatan rangkap, yang
sering disebut lemak jenuh atau
lemak jahat. Lemak jahat dapat
meningkatkan LDL (kolesterol jahat)
dan menurunkan HDL (kolesterol
baik).
SIMPULAN
Identifikasi gugus fungsi seperti
C=C, C=O, C-H, dan O-H pada
minyak baru dan minyak bekas dapat
ditentukan dengan menggunakan
spektofotometri IR.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Budi dan Azhari, Citra
Dewi. 2010. Karakterisasi
Spektrofotometri
IR
dan
Scanning Electron Microscopy
(SEM) Sensor Gas dari Bahan
Polimer Poly Ethylen Glycol
(PEG). Malang. Jurnal Sains
dan Teknologi Volume 3 (2).
Hayati, E.K,. 2007. Dasar-dasar
Analitis Spektroskopi. Malang:
KJM.

Sartika, RAD.2008. Pengaruh Asam


Lemak Jenuh, Tidak Jenuh dan
Asam Lemak Trans terhadap
Kesehatan. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional Vol. 2 (4)
: 155-160
Schechter, I., Barzilai, I.L., dan
Bulatov, V. 1997. Online
Remote Prediction of Gasoline
Properties
by
Combined
Optical Method. Ana. Chim.
Aota Volume 339 (133-199).
Silverstein. 2002. Identification of
Organic Compound Third
Edition. New York : John
Wiley & Sons Ltd.