Anda di halaman 1dari 7

DIBALIK JATUHNYA HARGA MINYAK DUNIA

Oleh:
Divisi Kajian Strategis
BEM KM Himpunan Mahasiswa Geologi, UNPAD

Belakangan ini, sektor perminyakan sedang mengalami kendala. Harga minyak mentah
menyentuh titik terendah sejak beberapa tahun terakhir. Hal ini mengakibatkan banyak
perusahaan yang harus memangkas biaya produksi. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu
merumahkan banyak pegawai dengan latar belakang berbagai disiplin ilmu, termasuk
geologi. Hal tersebut tentunya menimbulkan keresahan bagi para mahasiswa maupun lulusan
geologi yang berniat masuk ke dunia perminyakan.

Meski sempat diisukan akan membaik, harga minyak justru menunjukkan tren yang tidak
stabil. Dalam grafik harian harga minyak Brent Crude (ICE) dalam rata-rata 2 bulan terakhir
menyentuh harga US$ 38 per barel, dengan harga per tanggal 17 maret 2016 mencapai US$
40,33 per barel. Sama halnya dengan harga minyak Nymex, selama 6 bulan terakhir rata-rata
harga sekitar US$ 38,5 per barel. Selama beberapa bulan ke belakang (per tanggal 11 februari
2016), harga minyak sempat anjlok di US$ 27-28 per barel.

Para ekskutif memprediksi akan butuh beberapa tahun sebelum harga minyak dapat kembali
ke angka US$ 90 atau US$100, yang merupakan harga normal selama beberapa dekade
terakhir.

Mengapa harga minyak bisa jatuh?

Lalu sebenarnya apa penyebab dari keadaan ini? Pertanyaan ini mungkin terdengar rumit,
namun hal ini dapat dijelaskan dengan prinsip dasar ekonomi : supply and demand.

Amerika Serikat sebagai salah satu produsen minyak dunia menemukan teknologi baru shale
oil dan shale gas, dimana mereka bisa memanfaatkan source rock secara maksimal. Ini
membuat produksi minyak mereka naik hampir mencapai dua kali lipat selama beberapa
tahun terakhir. Amerika yang awalnya merupakan negara eksportir minyak, mendadak

memiliki persediaan minyak yang cukup untuk konsumsi dalam negeri dan bahkan dapat
mengekspor ke negara lain. Minyak Saudi, Nigeria, dan Aljazair yang dijual di Amerika
Serikat tiba-tiba harus bersaing untuk pasar Asia, dan produsen terpaksa harus menjatuhkan
harga.

Negara-negara produsen minyak lain yang melihat kondisi tersebut bukannya berusaha
menstabilkan pasar namun malah terus menggenjot produksi. Salah satu contohnya, Arab
Saudi sebagai Negara dengan pengaruh terbesar di OPEC sedang dalam perang pangsa pasar
dan tidak mau menurunkan produksi kecuali rival produksi nya mengalami kapitulasi. Begitu
pula dengan Rusia yang meki sedang mengalami masalah ekonomi, tetap memompa produksi
minyaknya

Pasokan minyak yang berlimpah justru diikuti dengan permintaan yang menurun akibat
ekonomi global yang sedang mengalami pelemahan. Sebagai contoh, kondisi perekonomian
China dan India yang saat ini sedang memburuk membuat tingkat permintaan akan minyak
dunia pun berkurang (China merupakan konsumen minyak urutan pertama di dunia,
sedangkan India urutan ke-4). Selain itu, industri otomatif dunia berlomba-lomba
menciptakan teknologi kendaraan hemat energi yang secara tidak langsung juga
mempengaruhi permintaan bahan bakar.

Pihak mana yang paling dirugikan dari permasalahan ini? Tentunya negara-negara penghasil
minyak. Venezuela, Nigeria, Ekuador, Brazil, dan Rusia adalah sedikit contoh negara yang
mengalami turbulensi tidak hanya di bidang ekonomi, bahkan politik. Di Amerika Serikat,
sekarang hampir tidak ada sumur minyak yang memiliki cukup profit untuk dilakukan proses
pengeboran.

Perusahaan besar seperti Chevron, Royal Dutch Shell, dan BP terpaksa mengumumkan
pemotongan gaji untuk menghindari kerugian. Kondisi mereka masih jauh lebik baik
dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil yang harus tutup produksi. Diperkirakan hampir
250000 pegawai perusahaan minyak di seluruh dunia terpaksa kehilangan pekerjaannya.

Kebijakan dan regulasi pemerintah dunia

Permasalahan ini tidak dapat diselesaikan tanpa adanya langkah dari negara-negara produsen
minyak, terutama negara OPEC, Amerika Serikat, dan Rusia. Salah satu jalan keluar yaitu
pembekuan produksi. Pembekuan produksi diharapkan dapat mengurangi jumlah persediaan
minyak dan mengembalikan harga kembali ke angka normal.

Opsi ini sebenarnya sudah direncanakan oleh OPEC dan Rusia. Negara-negara tersebut sudah
setuju untuk menurunkan produksi meski waktu pelaksanaannya belum dapat dipastikan.
Walaupun baru sekedar wacana, kebijakan pembekuan produksi ini sempat mengangkat harga
minyak ke angka US$40 per barrel dan memberi sedikit harapan kepada para pelaku pasar.

Akan tetapi rencana tersebut menemukan berbagai kendala dan tidak kunjung terealisasikan.
Salah satunya adalah tidak semua negara memberi respon positif. Iran salah satu negara yang
menolak rencana ini. Meraka enggan menurunkan produksi dan justru berniat melakukan
ekspor global minyak selepas embargo ekonominya dicabut.

Hingga kini belum dapat dipastikan kapan, atau bahkan apakah rencana pembekuan produksi
ini akan tetap dilakukan. Yang pasti, belum ada tanda-tanda dari para negara produsen
minyak untuk menurunkan produksinya.

Dampak penurunan harga minyak bagi Indonesia

Penurunan harga minyak akan memberi efek negatif bagi aliran investasi dalam sektor migas
dalam negeri. Produksi akan menurun dan mengurangi pendapatan ekspor. Lebih lanjut hal
ini akan berpotensi memberi dampak pada merosotnya pertumbuhan ekonomi nasional.

Perusahaan-perusahaan minyak multinasional mulai berniat menarik diri dari Indonesia


karena profit yang menurun akibat penurunan harga minyak. PT Chevron Pasific Indonesia
akan mengakhiri kontrak mereka di Kalimantan Timur setelah 50 tahun beroperasi di sana.
Perusahaan asing lain seperti British Petroleum (BP), ConocoPhillips, dan perusahaan
nasional lainnya seperti Energi Mega Persada, akan mengambil langkah sama sebagai respon
terhadap memburuknya harga minyak.

Hal ini tentu akan berdampak pada menurunnya pendapatan negara. Selama ini, hasil
penjualan minyak mentah baik ekspor maupun penjualan ke dalam negeri, langsung masuk
ke dalam kas pemerintah dalam bentuk bagi hasil minyak. Jika harga minyak terus jatuh
hingga menyentuh angka US$ 10 per barel, ada kemungkinan pemerintah akan benar-benar
kehilangan pendapatan dari minyak. Target produksi minyak sekitar 830 ribu barel per hari
dan target pendapatan minyak sebesar US$ 11,65 miliar akan sulit dicapai.

Akan tetapi, penurunan harga minyak tidak hanya memberi dampak negatif. Kondisi ini dapat
diambil sisi positifnya dalam bentuk penurunan harga jual minyak pada masyarakat. Hal itu
akan mengurangi biaya produksi dan ongkos distribusi barang dan jasa, yang pada akhirnya
dapat menurunkan harga-harga kebutuhan pokok masyarakat.dan mendorong pertumbuhan
ekonomi nasional. Pemerintah akan dapat memperoleh keuntungan dari peningkatan
penerimaan pajak dan pendapatan lain yang diperoleh dari sektor non-migas.

Hal tersebut akan tercapai apabila pengelolaan migas nasional sepenuhnya berada di bawah
kontrol negara. Selama ini fluktuasi harga minyak menimbulkan kemelut ekonomi nasional
karena kurangnya kontrol negara terhadap kekayaan minyak. Rencana perubahan UU Migas
yang saat ini masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas) tahun 2016 harus menjadi
momentum untuk membenahi tata kelola migas nasional agar selaras dengan amanat UUD
1945 Pasal 33 ayat 1,2 dan 3.

Penutup

Permasalahan harga minyak merupakan permasalahan global yang diakibatkan karena


ketidakseimbangan antara persediaan dan permintaan. Maka solusi nya tiada lain adalah
menyeimbangkan kembali persediaan minyak yang ada dengan jumlah permintaan. Negaranegara produsen minyak harus dapat mengesampingkan ego masing-masing dan mengambil
langkah tepat dengan pertimbangan berbagai dampak yang dapat terjadi apabila keadaan ini
terus berlanjut

Problem ini juga menuntut para calon geologist untuk semakin kreatif dan merencanakan
karirnya dengan matang. Tidak ada yang dapat memastikan sampai kapan kondisi ini akan
terus berlanjut. Yang dapat kita lakukan adalah terus memperkaya wawasan dan mengasah
kemampuan agar selalu siap dalam menghadapi segala kondisi di masa yang akan datang.

Sumber:

http://www.nytimes.com/interactive/2016/business/energy-environment/oil-prices.html?_r=0
https://www.weforum.org/agenda/2016/03/what-s-behind-the-drop-in-oil-prices
http://fortune.com/2016/01/29/russia-saudi-arabia-opec-oil-production-cut/
http://www.forbes.com/sites/arthurberman/2016/03/07/oil-prices-should-fall-possiblyhard/#e6decb46f452
http://www.worldoil.com/news/2016/3/10/opec-russia-oil-freeze-coalition-struggles-with-itsvery-first-step
http://money.cnn.com/2016/03/14/news/oil-prices-opec-saudi-arabia-russia/index.html
http://bisnis.liputan6.com/read/2431727/opini-seperti-ini-dampak-serius-penurunan-hargaminyak-dunia

Gambar untuk di attach: