Anda di halaman 1dari 26

Bab I

Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini, berbagai macam kasus kejahatan terhadap kesusilaan semakin marak
terjadi dimasyarakat terutama di Indonesia pada daerah-daerah tujuan wisata.Di seluruh
dunia, prevalensi kekerasan seksual, terutama perkosaan sangat tinggi.Jumlah kasus
pemerkosaan cukup tinggi, dimana satu dari enam wanita di dunia menjadi korban
pemerkosaan selama hidupnya.Pada tahun 2010, 373.476 perempuan diserang secara seksual
di seluruh dunia sementara sekitar 52% (193.124 perempuan) dari mereka diperkosa.
Di Indonesia, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan telah
mendokumentasikan 93.960 kasus pelecehan seksual selama periode 13 tahun dari 1998
sampai 2011. Ini berarti rata-rata 20 perempuan mengalami kekerasan seksual setiap hari.Pada
tahun 2012, rata-rata korban kejahatan seksual yang datang ke RSUP Sanglah Denpasar
sebanyak 7 orang/bulan.
Penderitaan bagi korban perkosaan ialah; penderitaan psikis, kehamilan yang tidak
diinginkan, dan luka fisik pada korban, hal-hal berupa penderitaan bagi korban ini dapat
berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.Di Amerika Serikat, sekitar 84% kasus dugaan
pemerkosaan tidak dapat dibuktikan di pengadilan. Hal ini disebabkan karena minimnya
bukti-bukti forensik yang mendukung pemerkosaan.Oleh karena itu, bukti forensik harus
dikumpulkan sebanyak-banyaknya melalui bukti persetubuhan (tanda penetrasi dan ejakulasi).
Pembuktian adanya ejakulasi dilakukan dengan membuktikan adanya komponenkomponen spesifik yang berasal dari cairan semen, yaitu komponen seluler (spermatozoa) dan
plasma semen.PSA adalah merupakan glikoprotein yang dproduksi oleh glandula prostat dan
disekresi ke dalam plasma seminal. PSA terkonsentrasi dalam jaringan prostat , dan tingkat
serum PSA umumnya sangat rendah. Peningkatan level PSA dapat terjadi pada kondisikondisi seperti; peradangan, keganasan, setelah prosedur biopsi, dan juga setelah
ejakulasi.PSA dapat menjadi penanda untuk mendeteksi adanya cairan semen pada kasus
kejahatan seksual.

1.2. Rumusan Masalah

Prevalensi kasus perkosaan di dunia sangat tinggi, di tahun 2010 sebanyak 193.124

perempuan mengalami kasus perkosaan.


Jumlah kasus pemerkosaan cukup tinggi, dimana satu dari enam wanita di dunia

menjadi korban pemerkosaan selama hidupnya.


Terdapat 93.960 kasus perkosaan di Indonesia sejak tahun 1998 sampai 2011, dalam

artian setiap hari terdapat 20 perempuan yang mengalami kekerasan seksual.


Penderitaan bagi korban perkosaan ialah penderitaan psikis, kehamilan yang tidak

diinginkan, dan luka fisik pada korban.


Prostate Specific Antigen (PSA) dapat menjadi penanda untuk mendeteksi adanya
cairan semen pada kasus kejahatan seksual.

1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahuihubungan kadar Prostate Specific Antigen (PSA) dengan kasus


perkosaan.

1.3.2 Tujuan Khusus

Diketahuinya relevansi Prostate Specific Antigen (PSA) pada kasus perkosaan.

1.4. Manfaat
1.4.1. Manfaat bagi Penulis

Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penulisan

referat.
Mengembangkan daya nalar, minat, dan semangat, serta pengalaman penulisan

referat.
Memberikan keterampilan bagi mahasiswa kedokteran untuk memberikan
sebagian ilmunya berupa penyuluhan mengenai kasus pemerkosaan sebagai
kejahatan seksual.

1.4.2. Manfaat bagi Perguruan Tinggi

Mengamalkan Tridarma perguruan tinggi dalam melaksanakan fungsi atau tugas


perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian,
dan pengabdian bagi masyarakat.
Bab II
1

Pembahasan
2.1. Perkosaan
2.1.1. Definisi Perkosaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta,
pengertian perkosaan dilihat dari etiologi/asal kata yang dapat diuraikan sebagai berikut:1
Perkosa

: gagah; paksa; kekerasan; perkasa.

Memperkosa : 1) menundukkan dan sebagainya dengan kekerasan.


2) melanggar (menyerang dan sebagainya) dengan kekerasan.
Perkosaan

: 1) perbuatan memperkosa; penggagahan; paksaan.


2) pelanggaran dengan kekerasan.

Sedangkan menurut Soetandyo Wignjosoebrotomendefinisikan perkosaan adalah suatu


usaha melampiaskan nafsu seksual oleh seorang lelaki terhadap seorang perempuan dengan
cara yang menurut moral dan atau hukum yang berlaku melanggar. Perkosaan termasuk salah
satu kekerasan seksual.2
2.1.2. Epidemiologi
Di seluruh dunia, prevalensi kekerasan seksual, terutama perkosaan sangat
tinggi.Dewasa ini, berbagai macam kasus kejahatan terhadap kesusilaan semakin marak
terjadi dimasyarakat terutama di Indonesia pada daerah-daerah tujuan wisata.Jumlah kasus
pemerkosaan cukup tinggi, dimana satu dari enam wanita di dunia menjadi korban
pemerkosaan selama hidupnya.Pada tahun 2010, 373.476 perempuan diserang secara seksual
di seluruh dunia sementara sekitar 52% (193.124 perempuan) dari mereka diperkosa. Di
Indonesia, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan telah mendokumentasikan
93.960 kasus pelecehan seksual selama periode 13 tahun dari 1998 sampai 2011. Ini berarti
rata-rata 20 perempuan mengalami kekerasan seksual setiap hari. Selanjutnya, pada tahun
2012, jumlah perempuan kekerasan seksual yang diperiksa di Rumah Sakit Umum Sanglah
adalah tujuh orang per bulan.3
2.1.3.

Jenis-jenis Perkosaan

Perkosaan dapat digolongkan sebagai berikut:2


a. Sadistic Rape

Perkosaan sadistis, artinya pada tipe ini seksualitas dan agresif berpadu dalam
bentuk yang merusak.Pelaku perkosaan telah nampak menikmati kesenangan erotik
bukan melalui hubungan seksual, melainkan melalui serangan yang mengerikan atas
alat kelamin dan tubuh korban.
b. Anger Rape
Yakni penganiayaan seksual yang bercirikan seksualitas yang menjadi sarana
untuk menyatakan dan melampiaskan rasa geram dan marah yang tertahan.Tubuh
korban

disini

seakanakan

merupakan

obyek

terhadap

siapa

pelaku

yang

memproyeksikan pemecahan atas frustasi-frustasi, kelemahan, kesulitan dan


kekecewaan hidupnya.
c. Domination Rape
Yaitu suatu perkosaan yang terjadi ketika pelaku mencoba untuk gigih atas
kekuasaan dan superioritas terhadap korban.Tujuannya adalah penaklukan seksual,
pelaku menyakiti korban, namun tetap memiliki keinginan berhubungan seksual.
d. Seductive Rape
Suatu perkosaan yang terjadi pada situasi-situasi yang merangsang yang
tercipta oleh kedua belah pihak.Pada mulanya korban memutuskan bahwa keintiman
personal harus dibatasi tidak sampai sejauh persenggamaan.Pelaku padaumumnya
mempunyai keyakinan membutuhkan paksaan, oleh karena tanpa itu tidak mempunyai
perasaan bersalah yang menyangkut seksual.
e. Victim Precipitated Rape
Yaitu perkosaan yang terjadi (berlangsung) dengan menempatkan korban
sebagai pencetusnya.
f. Exploitation Rape
Perkosaan yang menunjukkan bahwa pada setiap kesempatan melakukan
hubungan seksual yang diperoleh oleh laki-laki dengan mengambil keuntungan yang
berlawanan dengan posisi perempuan yang bergantung padanya secara ekonomis dan
sosial.Misalnya istri yang diperkosa oleh suaminya atau pembantu rumah tangga yang
diperkosa oleh majikannya, sedangkan pembantunya tidak mempersoalkan atau
mengadukan kasusnya ini kepada pihak yang berwajib.
Jenis-jenis perkosaan juga dapat dibedakan:2
a. Perkosaan yang pelakunya sudah dikenal korban
1

1) Perkosaan oleh suami atau mantan suami


Perkosaan juga dapat terjadi dalam suatu perkawinan, karena suami maerasa
berhak untuk memaksa istrinya berhubungan seks kapan saja sesuai dengan
keinginannya tanpa mempedulikan keinginan sang istri. Bahkan tidak jarang terjadi
banyak mantan suami yang merasa masih berhak untuk memaksakan hubungan seks
pada mantan istrinya.
2) Perkosaan oleh teman kencan atau pacar
Teman kencan atau pacar bisa memaksa korban untuk berhubungan seks
dengan berbagai dalih; karena ia sudah menghabiskan uang untuk menyenangkan
korban, karena mereka pernah berhubungan seks sebelum itu, karena korban dianggap
sengaja memancing birahi, atau karena si pacar sudah berjanji akan mengawini
korban. ajakan untuk berhubungan seks masih termasuk wajar bila si perempuan
masih punya kesempatan untuk menolak dan penolakannya itu dihormati oleh
pacarnya. Bujuk rayu pun masih bisa dianggap normal bila kegagalan membujuk tidak
diikuti oleh tindakan pemaksaan.Tetapi kalau pacar perempuan itu sampai
memaksakan kehendaknya, itu sudah berarti suatu kasus perkosaan.Sekalipun oleh
pacar sendiri, jika perempuan itu sudah menolak dan berkata tidak tapi pacarnya
nekat melakukannya itu berarti perkosaan. Kasus perkosaan seperti ini sangat jarang
didengar orang lain karena korban malu dan takut dipersalahkan orang.
3) Perkosaan oleh atasan/majikan
Perkosaan terjadi antara lain bila seorang perempuan dipaksa berhubungan
seks oleh atasan atau majikannya dengan ancaman akan di PHK bila menolak, atau
dengan ancaman-ancaman lain yang berkaitan dengan kekuasaan si atasan atau
majikan.
4) Penganiayaan seksual terhadap anak-anak
Seorang anak perempuan atau anak laki-laki dapat diperkosa oleh lelaki
dewasa.Masalah ini sangat peka dan sulit. Anak-anak yang menjadi korban tidak
sepenuhnya paham akan apa yang menimpa mereka, khususnya bila anak itu
mempercayai pelaku. Kalaupun si anak melapor kepada ibu, nenek atau anggota
keluarga yang lain, besar kemungkinan laporannya tidak digubris, tak dipercaya,
bahkan dituduh berbohong dan berkhayal, biasanya mereka menyangkal kejadian itu
hanya dengan alasan tidak mungkin bapak/kakek/paman/dsb tega berbuat begitu.

b. Perkosaan oleh orang tak dikenal2


Jenis perkosaan ini sangat menakutkan, namun lebih jarang terjadi daripada
perkosaan dimana pelakunya dikenal oleh korban.
1) Perkosaan beramai-ramai
Seorang perempuan bisa disergap dan diperkosa secara bergiliran oleh
sekelompok orang yang tidak dikenal. Ada kalanya terjadi perkosaan oleh satu orang
tidak dikenal, kemudian orang-orang lain yang menyaksikan kejadian tersebut ikut
melakukannya. Seringkali terjadi beberapa orang remaja memperkosa seorang gadis
dengan tujuan agar mereka dianggap jantan.
2) Perkosaan di penjara
Di seluruh dunia, banyak perempuan diperkosa oleh polisi atau penjaga penjara
setelah mereka ditahan atau divonis kurungan.Bahkan perkosaan juga umum terjadi
antar penghuni lembaga pemasyarakatan laki-laki, untuk menunjukkan bahwa si
pemerkosa lebih kuat dan berkuasa daripada korbannya.
3) Perkosaan dalam perang atau kerusuhan
Para serdadu yang sedang berada di tengah kancah pertempuran sering
memperkosa perempuan di wilayah yang mereka duduki, untuk menakut-nakuti
musuh atau untuk mempermalukan mereka.Perkosaan beramai-ramai dan perkosaan
yang sistematis (sengaja dilakukan demi memenuhi tujuan politis atau taktis tertentu),
misalnya kejadian yang menimpa kaum perempuan Muslim Bosnia.Tujuan perkosaan
semacam ini adalah untuk unjuk kekuatan dan kekuasaan di hadapan musuh.
Demikian juga halnya di Indonesia, dahulu di masa penjajahan Belanda dan Jepang,
banyak perempuan pribumi dikurung dalam tangsi atau kamp tentara, dipaksa masuk
perdagangan seks atau menjadi budak nafsu para prajurit,dan kalau menolak mereka
akan dibunuh begitu saja sehingga banyak yang terpaksa melakukannya demi
menyelamatkan nyawa. Bisa juga perempuan-perempuan itu terpaksa menuruti
kemauan tentara demi menyelamatkan anak-anak dan keluarga mereka (termasuk
suami), atau demi untuk mendapatkan makanan yang sulit diperoleh di tengah
peperangan.
2.1.4. Penderitaan Korban Perkosaan
Berbagai pendapat pakar mengenai akibat perkosaan di atas dapat disimpulkan sebagai
berikut:2
1

1. Penderitaan secara psikologis, seperti merasa tidak lagi berharga akibat kehilangan
keperawanan (kesucian) dimata masyarakat, dimata suami, calon suami (tunangan)
atau pihak-pihak lain yang terkait dengannya. Penderitaan psikologis lainnya dapat
berupa kegelisahan, kehilangan rasa percaya diri, tidak lagi ceria, sering menutup diri
atau menjauhi kehidupan ramai, tumbuh rasa benci (antipati) terhadap lawan jenis dan
curiga berlebihan terhadap pihak-pihak lain yang bermaksud baik padanya.
2. Kehamilan yang dimungkinkan dapat terjadi. Hal ini dapat berakibat lebih fatal lagi
bilamana janin yang ada tumbuh menjadi besar (tidak ada keinginan untuk
diabortuskan). Artinya, anak yang dilahirkan akibat perkosaan tidak memiliki
kejelasan statusnya secara yuridis dan norma keagamaan.
3. Penderitaan fisik, artinya akibat perkosaan itu akan menimbulkan luka pada diri
korban. Luka bukan hanya terkait pada alat vital (kelamin perempuan) yang robek,
namun tidak menutup kemungkinan ada organ tubuh lainnya yang luka bilamana
korban lebih dulu melakukan perlawanan dengan keras yang sekaligus mendorong
pelakunya untuk berbuat lebih kasar dan kejam guna menaklukkan perlawanan dari
korban.
4. Tumbuh rasa kekurang-percayaan pada penanganan aparat praktisi hukum, bilamana
kasus yang ditanganinya lebih banyak menyita perhatiannya, sedangkan penanganan
kepada tersangka terkesan kurang sungguh-sungguh. Korban merasa diperlakukan
secara diskriminasi dan dikondisikan makin menderita kejiwaannya atau lemah
mentalnya akibat ditekan secara terusmenerus oleh proses penyelesaian perkara yang
tidak kunjung berakhir.
5. Korban yang dihadapkan pada situasi sulit seperti tidak lagi merasa berharga dimata
masyarakat, keluarga, suami dan calon suami dapat saja terjerumus dalam dunia
prostitusi. Artinya, tempat pelacuran dijadikan sebagai tempat pelampiasan diri untuk
membalas dendam pada laki-laki dan mencari penghargaan.
2.2. Sistematik Pemeriksaan Forensik Khusus pada Korban Perkosaan
Dalam KUHP pasal-pasal yang mengatur ancaman hukuman bagi pelaku kejahatan
seksual terdapat pada bab tentang Kejahatan Kesusilaan. Bantuan Ilmu Kedokteran dalam
kasus kejahatan seksual dalam kaitannya dengan fungsi penyelidikan ditujukan kepada:4
1.
2.
3.
4.

Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan


Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan
Memperkirakan umur
Menentukan pantas tidaknya korban buat kawin
1

1. Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan


Persetubuhan adalah suatu peristiwa diman alat kelamin laki-laki masuk ke dalam alat
kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya pancaran air
semen. Dengan demikian besarnya zakar dengan ketegangannya, sampai seberapa jauh akar
masuk, keadaan selaput dara serta posisi persetubuhan mempengaruhi hasil pemeriksaan.4
Jika zakar masuk seluruhnya dan keadaan selaput dara masih cukup baik, maka pada
pemeriksaan diharapkan adanya robekan pada selaput dara. Jika selaput daranya elastis tentu
tidak akan ada robekan. Adanya robekan pada selaput dara hanya akan menunjukkan adanya
benda (padat/kenyal) yang masuk, dengan demikian bukan merupakan tanda pasti dari
adanya persetubuhan.4
Adanya pancaran air semen pada pemeriksaan diharapkan dapat ditemukan sel
sperma. Adanya sperma di dalam liang senggama merupakan tanda pasti adanya
persetubuhan. Pada orang yang azoospermia maka pemeriksaan ditujukan pada penentuan
adanya zat-zat tertentu dalam air semen, seperti asam fosfatase, spermin dan kholin, yang
tentunya nilai pembuktian adanya persetubuhan lebih rendah oleh karena tidak mempunyai
nilai deskriptif yang mutlak atau tidak khas. Jika si pelaku mempunyai penyakit kelamin dan
penyakit ini ditularkan pada korban, maka pemeriksaan bakteriologis misalnya untuk mencari
kuman G.O atau sifilis perlu dilakukan dengan catatan nilai pembuktiannya jauh lebih rendah
lagi.4
2. Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan
Kekerasan tidak selalu meninggalkan bekas atau luka, tergantung antara lain dari
penampang benda, daerah yang terkena kekerasan serta kekuatan dari kekerasan itu sendiri.
Oleh karena tindakan membius termasuk tindakan kekerasan juga maka perlu dicari adanya
racun serta gejala gejala akibat obat bius/racun itu sendiri pada korban.Dengan demikian
adanya luka berarti adanya kekerasan, akan tetapi tidak ditemukan luka bukan berarti bahwa
pada korban tidak ada kekerasan. Demikian pula halnya dengan hasil pemeriksaan racun/obat
bius pada korban.4
Perlu diingat bahwa faktor waktu amat berperan, dengan berlalunya waktu luka dapat
menyembuh atau tidak dapat ditemukan racun atau obat bius telah dikeluarkan dari
tubuh.Faktor waktu ini merupakan faktor penting dalam pemeriksaan untuk menemukan
sperma atau air semen. Dengan demikian keaslian barang bukti atau korban serta kecepatan
pemeriksaan perlu dilakukan agar penyidik dapat memperoleh hasil seperti yang diharapkan.4
1

3. Memperkirakan umur
Memperkirakan umur merupakan ekerjaan yang paling sulit, oleh karena tidak ada
satu metode apapun yang dapat memastikan umur seseorang dengan tepat, walaupun
pemeriaksaannya sendiri memerlukan berbagai sarana serta keahlian, seperti pemeriksaan
keadaan pertumbuhan gigi atau tulang dengan memakai alat rontgen.4
Jika kasus kejahatan seksual yang diperiksa merupakan kasus perkosaan seperti yang
dimaksud dalam KUHP pasal 285 atau yang dilakukan pada seorang yang dalam keadaan
tidak berdaya (KUHP pasal 286) penemuan atau perkiraan umur tidak diharuskan.Perkiraan
umur diperoleh untuk menentukan apakah seseorang itu sudah dewasa (21 tahun keatas),
khususnya pada kasus homoseksual atau lesbian. Perkiraan umur juga diperlukan pada kasukasus dimana pasal 287 KUHP dapat dikenakan pada pelaku kejahatan.4
4. Menentukan pantas tidaknya korban untuk dikawin
Penentuan sama sulitnya dengan memperkirakan umur seseorang. Secara biologis jika
persetubuhan itu dimaksudan untuk mendapatkan keturunan, pengertian pantas tidaknya
untuk dikawin tergantung dari kesiapan korban untuk dibuahi dengan semenfestasi
menstruasi.4
2.2.1. Persiapan Sebelum Pemeriksaan Korban
Sebelum korban dikirim ke rumah sakit/fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan oleh
dokter, perlu dijelaskan dengan hati-hati proses pemeriksaan forensik dengan memaparkan langkahlangkah penyelidikan. Sebelum pemeriksaan forensik syarat yang harus dipenuhi adalah: 5-7
1. Harus ada permintaan tertulis untuk pemeriksaan kasus perkosaan dari penyidik atau pihak
yang berwenang. 1,13-15
2. Korban datang dengan didampingi polisi/penyidik.
3. Memperoleh persetujuan (inform consent) dari korban.
4. Pemeriksaan dilakukan sedini mungkin untuk mencegah hilangnya alat bukti yang penting bagi
pengadilan.

2.2.2. Pemeriksaan Genital dari Korban Perkosaan


Pemeriksaan dari akibat-akibat langsung kekerasan seksual yang dialami korban meliputi:

5-7

Kulit genital apakah terdapat eritema, iritasi, robekan atau tanda-tanda kekerasan lainnya.
Eritema vestibulum atau jaringan sekitar.
Perdarahan dari vagina.
1

Kelainan lain dari vagina yang mungkin disebabkan oleh infeksi atau penyebab lain.
Pemeriksaan himen meliputi bentuk himen, elastisitas himen, diameter penis. Robekan himen
bisa jadi tidak terjadi pada kekerasan seksual penetrasi karena bentuk, elastisitas dan diameter

penis.
Untuk yang pernah bersetubuh, dicari robekan baru pada wanita yang belum melahirkan.
Pemeriksaan ada tidaknya ejakulasi dalam vagina dengan mencari spermatozoa dalam sediaan
hapus cairan dalam vagina

Pemeriksaan Himen
Terdapat beberapa variasi dari bentuk himen (selaput dara) sehingga cenderung
mempersulit pemeriksa saat dilakukan pemeriksaan fisik pada daerah genitalia. Tiga jenis
himen yang paling umum ditemukan ialah:8
a. Anular jaringan himen berbentuk bulatan sempurna (arah jam 12 ke jam 12)
b. Kresentik jaringan himen tidak berbentuk bulatan sempurna (arah jam 11 sampai
jam 1 tidak ada)
c. Redundant jaringan himen menempel pada jaringannya sendiri (seperti terlipat)
Dilihat dari bentukbentuknya:
1. Himen Imperforata

3. Himen Kresentik (Bulan Sabit)

4. Himen Redundant

2. Himen Anular

5. Himen Bersepta (Jembatan)


7. Himen Katup

6. Himen Kribiform (Saringan)

Gambar 1-7. Benuk-bentuk Himen8,9


2.2.3. Pengumpulan Barang Bukti dalam Kasus Perkosaan
A. Pengumpulan, Penyimpanan dan Pengiriman Air semen4

Barang bukti yang mengandung bercak semen harus dikeringkan sebelum dikirim
Pakaiandikirim seluruhnya dalam kantung kertas yang terpisah, jangan terlalu

disemenpulasi, jangan menyentuh daerah dimana diduga terdapat bercak.


Selimut, sprei, sarung bantal dan lain-lainnya juga dikirim dengan baik sebagaimana

seharusnya.
Kendaraan sebagai barang bukti
o Ambil dan kirim seluruh tempat duduk.
o Bila dipikirkan perlu untuk melakukan pemeriksaan kendaraan maka dikonsultasikan
terlebih dahulu dengan pihak laboratorium.

B. Rambut Kemaluan4
1. Rambut kemaluan korban harus disisir dengan sisir bersih untuk mengumpulkan
rambut yang terlepas mungkin berasal dari rambut sang pelaku yang terlepas.
2. Dua puluh empat helai rambut atau lebih harus dicabut, baik dari korban maupun
dari tersangka.
Yang Perlu Diketahui dalam Kasus Perkosaan4

Sperma masih dapat diketemukan dalam keadaan bergerak dalam vagina sampai 4-5
jam setelah persetubuhan.Pada orang yang hidup, sperma masih dapat diketemukan
(tidak bergerak) sampai sekitar 24-36 jam setelah persetubuhan: sedangkan pada orang
yang mati sperma masih dapat diketemukann dalam vagina paling lama sampai 7-8

hari setelah persetubuhan.


Pada laki-laki yang sehat, air semen yang keluar setiap ejakulasi sebanyak 2-5 ml,
yang mengandung sekitar 60 juta sperma tiap milimeternya dan sebanyak 90% dari

jumlah tersebut dalam keadaan bergerak (motil).


Untuk menjaga keaslian barang bukti/korban, maka korban tidak perkenakan untuk
membersihkan diri atau mengganti pakaian; hal ini dimaksudkan supaya bercak air
semen atau air semen yang ada tidak hilang demikian pula dengan barang bukti
lainnya seperti bercak darah, rambut, pasir, dan lain sebagainya. Untuk maksud
tersebut dan untuk memenuhi persyaratan yuridis yang berlaku buat barang bukti,
maka korban harus diantar oleh petugas kepolisian / penyidik segera setelah korban
melapor pada polisi.

Untuk mencari bercak air semen yang mungkin tercecer di TKP, misalnya pada sprei
atau kain maka barang-barang tersebut disinari dengan cahaya ultra violet, dimana
bgian yang menandung bercak air semen akan berfluoresensi putih, bagian ini harus

diambil atau dikirim ke laboratorium.


Jika pelaku kejahatan segera tertangkap tidak setelah kejadian, kepala zakar harus
(glans penis) diperiksa, yaitu untuk mencari sel-sel epithel vagina yang melekat pada
zakar. Ini dikerjakan dengan menempelkan gelas objek pada glans penis (tepatnya

sekeliling korona glandis) dan segera dikirim untuk mikroskopis.


Visum et Repertum yang baik harus mencakup dan menjelaskan ke-empat hyal seperti
diatas, dengan disertai perkiraan waktu terjadinya persetubuhan. Hal ini dapat
diketahui dari keadaan sperma serta dari keadaan normal luka (penyembuhan luka)
pada selaput darah, yang pada keadaan normal luka akan sembuh dalam waktu sekitar

7-10 hari.
Dalam kesimpulan Visum et Repertum, dokter tidak akan dan tidak boleh
mencantumkan kata pemerkosaan oleh karena kata tersebut mempunyai arti yuridis

dalam hal paksaan, hal mana di luar jangkauan ilmu kedokteran.


Untuk mencegah hal-hal yang negatif, maka sewaktu pemeriksaan dilakukan
pemeriksaan, pemeriksa perlu didampingi orang ketiga, misalnya juru rawat atau
polwan. Juga korban perlu tahu apa yang akan dilakukan selama pemeriksaan
(prosedur pemeriksaan), sedangkan dengan korban yang dibawah umur izin dari wali
atau orang tua diperlukan, demikian pula mengenai pemberitahuan prosedur

pemeriksaan.
Robekan baru pada selaput dara dapat diketahui jika pada daerah robekan tersebut
masih terlihat darah atau tampak kemerahan (hiperemis). Letak robekan selaput dara
pada persetubuhan pada umumnya di bagian belakang (commisura posterior), letak
robekan dinyatakan sesuai menurut angka pada jam. Robekan lama selaput dara dapat
diketahui jika robekan tersebut sampai ke dasar (insertio) dari selaput dara.

Tabel 1.Perbedaan antara Pemeriksaan Antermortem dan Postmortem pada Kasus


Perkosaan4,10,11
Pemeriksaan
Pemeriksaan tanda
tak langsung
Pemeriksaan
mikroskopik
spermatozoa

Hasil Pemeriksaan Antermortem


kehamilan setelah terjadi perkosaan
didapatkan
penularan
sexual
transmitted disease
sperma masih ditemukan pada 24-36 jam
setelah persetubuhan

Hasil Pemeriksaan Postmortem


tidak dapat diperiksa

sperma masih dapat ditemukan


sehingga 7- 8 hari setelah
persetubuhan

Tes asam fosfatase

Saat
dilakukan
pemeriksaan
Pemeriksaan
violet

ultra

pemeriksaan ini dapat memberiksan hasil


(+) kurang lebih 14 jam setelah
persetubuhan
korban perlu ditesemen polwan atau juru
rawat, sedangkan pada korban yang
belum cukup umur perlu ditesemen wali
untuk melihat migrasi melanosit di tepi
luka yang tidak jelas

asam fosfat lebih cepat didegradasi


sehingga hasil () sebelum 14 jam
tidak diperlukan wali atau orang
ketiga
tidak dilakukan

2.3. Deteksi Cairan Semen sebagai Tanda Persetubuhan


Cairan semen mengandung dua komponen utama, yaitu spermatozoa dan cairan
semen. Cairan semen mengandung berbagai jenis protein dan enzim seperti prostate specific
antigen (PSA), semenogelin (Sg I dan 2), fibronectin, acid phosphatase (AP), alkaline
phosphatase, nucleotidase, pyrophosphatase, dan ATPase. Protein-protein tersebut terdapat
dalam konsentrasi yang tinggi di dalam cairan semen sehingga dapat berperan sebagai marker
atau penanda semen. Identifikasi protein-protein ini sangat berguna untuk membuktikan
adanya penetrasi dan ejakulasi pada kasus perkosaan ketika spermatozoa tidak berhasil atau
tidak bisa diidentifikasi secara mikroskopik. Noda-noda semen dapat dikarakteristikan
dengan memvisualisasi sel-sel sperma dengan uji acid phosphatase (AP) dan PSA atau p30.12
Uji mikrokospik di beberapa laboratorium dapat melihat kehadiran spermatozoa pada
kasus kekerasan seksual. Bagaimanapun laki-laki aspermic atau oligospermic tidak juga
mempunyai sperma atau kadar sperma yang rendah dalam ejakulasi cairan semen mereka.
Sebagai tambahan, vasektomi pada laki-laki tidak akan menghasilkan sperma. Oleh karena itu
pengujian-pengujian yang dapat mengidentifikasi enzim-enzim spesifik semen membantu
memverifikasi kehadiran/keberadaan semen pada kasus-kasus kekerasan seksual.12
Acid phophatase, semenogelin, dan PSA merupakan protein marker yang digunakan
dalam identifikasi forensik keberadaan semen pada kasus-kasus perkosaan. Phospatase
acidadalah enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat di dalam cairan semen dan
didapatkan pada konsentrasi tertinggi di atas 400 kali dalam semen dibandingkan yang
mengalir dibagian tubuh yang lain. Warna ungu dengan penambahan beberapa penurunan
sodium alpha naphthylphospate dan solusi Fast Blue B atau fluoresensi dari 4-methyl
umbelliferyl phospate di bawah sinar ultraviolet (UV) mengindikasikan kehadiran
(keberadaan) AP. Daerah yang luas pada kain dapat disaring dengan menekan kain atau sprei

melawan ukuran kertas penyaring yang basah dan kemudian menggunakan kertas penyaring
untuk tes-tes praduga (presumtimptive).12
2.4. Prostate Specific Antigen (PSA)
2.4.1. Definisi
PSAmerupakan glikoprotein yang dproduksi oleh glandula prostat dan disekresi ke
dalam plasma seminal.PSA dapat menjadi penanda untuk mendeteksi adanya cairan Seminal
pada kasus kejahatan seksual meskipun pelaku vasektomi atau azoospermia (tidak adanya
spermatozoa dalam sperma). PSA ditemukan pada tahun 1970an dan dapat menunjukkan nilai
forensik dengan mengidentifikasi suatu protein dengan nama p30 yang nyata menunjukkan
30.000 bobot molekuler. p30 pada permulaannya adalah gagasan yang unik untuk cairan
Seminal walaupun hal ini dilaporkan mempunyai tingkat yang rendah pada susu ibu dan
cairan-cairan yang lain. Seratec dan diagnosa Abacus menandai PSA/p30 perangkat uji yang
sama untuk menguji kehamilan sederhana dan yang mungkin digunakan untuk identifikasi
forensik cairan semen.12
PSA memiliki nilai normal 4ng/ml. Pemeriksaan PSA sangat baik digunakan
bersamaan dengan pemeriksaan DRE dan TRUSS dengan biopsi. Peningkatan kadar PSA bias
terjadi pada keadaan Benign Prostate Hyperplasya (BPH), infeksi saluran kemih dan kanker
prostat sehingga dilakukan penyempurnaan dalam interpretasi nilai PSA yaitu perubahan laju
nilai PSA, densitas PSA dan nilai ratarata PSA, yang nilainya bergantung kepada umur
penderita.13
Tabel 2. Rata-rata nilai normal Prostat Spesifik Antigen menurut umur13
Umur (tahun)
40 49
50 59
60 69
70 79

Rata-rata nilai normal PSA (ng/mL)


0.0 2.5
0.0 3.5
0.0 4.5
0.0 6.5

Pasien yang memiliki kadar PSA lebih dari 10 ng/mL biasanya menderita kanker
prostat. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa hanya 2% laki laki yang menderita BPH
yang memiliki kadar PSA lebih dari 10 ng/mL. Sedangkan dari 103 pasien dengan semua
stadium kanker prostat, 44% memiliki kadar PSA lebih dari 10 ng/mL .Dimana 305 nya dapat
ditemukan pada pasien dengan stadium kanker T1 2, NX, M0. Dengan demikian jelaslah
bahwa ada hubungan antara peningkatan PSA dengan stadium kanker prostat.13

2.4.2. Sejarah
Pada tahun 1960 dan 1970an, banyak peneliti yang mencari tahu antigen tumor
spesifik yang mungkin berguna sebagai biomarkeratau target untuk imunoterapi kanker.
Percobaanmelibatkan penyuntikan ekstrak dari jaringan manusiaatau cairan tubuh, seperti
jaringanprostat atau cairan semenke dalam kelinci dan menguji serum kelinci untuk melihat
antibodi yang timbul terhadapantigen terhadap dalam ekstrak atau cairan.Laporan awal
tentang antigen dalamprostat muncul dari seorang ahli urologi Amerika, Rubin Kawanani
pada tahun 1960. Pada tahun 1966 Mitsuwo Hara, seorang ilmuwan forensik Jepang,
melaporkan tentang penemuan sebagian proteinyang ia sebut "gamma-seminoprotein".13
Pada tahun 1970, Tien Shun Li dan Carl Beling, melakukanpenelitian tentang
infertilitas pria, mereka melaporkan antigen yang berupa asam amino pada cairan semen
manusia, antigen tersebut yang pada kemudian hari dikenal sebagai PSA. Pada tahun yang
sama, Richard Ablindan rekan kerjanya melaporkan penemuan dua antigen yangkhusus untuk
prostat manusia, salah satunya adalah asam fosfatase.Ablin kemudianmelanjutkan studi klinis
berusaha untuk menginduksi respon imun anti-tumor melalui cryoablation kelenjar prostat.
Pada tahun 1978, ilmuwan forensik GeorgeSensabaugh juga mengidentifikasi protein dalam
cairan semen yang mirip dengan salah satu dariantigen yang ditemukan Shun Li yang
kemudian terbukti memiliki urutan asam amino sama dengan PSA.11
2.4.3. Tahap Pemeriksaan PSA Rapid Test
Secara keseluruhan, ada empat tahap untuk melakukan penelitian PSA.Pertama-tama,
memperoleh dua usapan vagina dari setiap subjek.Sampel diambil dengan kapas usap sekitar
alat kelamin dengan memutar mereka selama 5 - 10 kali.Kedua, salah satu kapas usap
dioleskan pada kaca objek untuk pemeriksaan mikroskopis guna menemukan spermatozoa.
Langkah ketiga, kapas usap dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 2 cc akuades, lalu
cairan itu diambil dari tabung uji dengan menggunakan pipet. Tahap keempat, dua tetes
sampel diletakkan pada perangkap PSA rapid test dan hasilnya d2ntepretasikan dengan
mengamati munculnya garis merah muda pada Tes (T), Referensi (R), dan Kontrol (C).14
Hasil & Interpretasi:12

Positif: Jika terdapat dua garis merah muda, masing-masing pada zona reaksi T
dan zona kontrol C, hasil tes positif menandakan bahwa level PSA setidaknya
lebih atau sama dari 4 ng/ml.

Negatif: Jika hanya ada satu garis merah muda, (pada zona kontrol C). Hal ini
mengindikasikan beberapa kemungkinan:
1. Ketiadaan PSA dalam cairan semen
2. PSA yang dikandung kurang dari 4 ng/ml.
3. Adanya efek hook dosis tinggi yang dapat memberikan hasil negatif palsu
dikarenakan kelebihan konsentrasi PSA pada strip, seperti misalnya pada
cairan semen murni. Dalam kasus seperti sampel dapat diuji ulang

menggunakan 10 kali lipat menjadi 10.000 dilusi.


Invalid: Jika tidak ada garis merah muda yang terlihat di C atau zona kontrol.
Ulangi tes dan menguji kembali prosedur uji dengan hati-hati.

Gambar 8. Hasil positif dan negatifABAcard test p30


Sebuah studi cross sectional dilakukan antara Oktober sampai Desember
2012.Enambelas usap vagina telah dikumpulkan berturut-turut dari wanita korban perkosaan
yang diperiksa di ginekologi bangsal darurat Rumah Sakit Umum Sanglah. Usap vagina diuji
dengan PSA rapid test dan diekstraksi untuk analisis gen SRY sebagai standar emas untuk
mengkonfirmasi materi genetik laki-laki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai
diagnostik PSA rapid test untuk mendeteksi komponen laki-laki pada usap vagina, didapatkan
sensitivitasnya 84,62% dan spesifisitasnya 100%. Nilai-nilai ini lebih baik dari pemeriksaan
spermatozoa. Berdasarkan penelitian ini, PSA rapid test sangat dianjurkan sebagai standar
baru untuk membuktikan hubungan seksual di Indonesia. Pemeriksaan ini dapat memberikan
hasil negatif palsu serta sensitivitas rendah, terutama pada wanita yang telah dicuci vagina.
Selain itu, sangat penting untuk mempertimbangkan ketidakmungkinan spermatozoa
ditemukan di pelaku azoospermia.14
Jurnal Departemen Patologi Unit Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Mahidol
di Thailand melaporkan penelitian pada 500 subjek perempuan korban kekerasan seksual
dengan menggunakan PSA rapid test pada usap vagina didapatkan hasil positif sebanyak 139
kasus dari 500 subjek tersebut. Dari 139 kasus dengan PSA positif didapatkan 91 kasus

(65,4%) merupakan korban yang mengalami kekerasan seksual satu hari sebelum dilakukan
pemeriksaan PSA. Sedangkan korban yang mengalami kekerasan seksual dua hari sebelum
pemeriksaan PSA sebesar 24 kasus (17,2%) dan yang mengalami kekerasan seksual tiga hari
sebelum pemeriksaan PSA sebanyak 8 kasus (5,7%).15

2.4.4. Perbandingan PSA Rapid Test dengan Tes Asam Fosfatase


Pada Jurnal Departemen Patologi Unit Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Mahidol di Thailand juga melaporkan perbandingan PSA rapid test dengan tes asam
fosfatase.Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbandingan spesifisitas, sensitivitas,
akurasi, nilai prediksi untuk hasil positif dan negatif dari masing-masing tes tersebut. Hasil
yang didapatkan untuk masing-masing tes secara berurutanadalah sensitivitas 81% dan
78,9%; spesifisitas 84,6% dan 82,7%; akurasi 84% dan 82%; nilai prediksi positif 55,4% dan
51,7%; nilai prediksi negatif 95% dan 94,3%. Hasil ini menunjukkan bahwa PSA rapid test
lebih baik dibandingkan tes asam fosfatase.15
2.4.5. Perbandingan PSA Rapid Test dengan Pemeriksaan Spermatozoa
Pada hasil penelitian yang membandingkan PSA rapid test dengan pemeriksaan
spermatozoa pada usap vagina yang diambil dari korban kekerasan seksual untuk mendeteksi
komponen laki-laki yang mengarah pada konfirmasi tanda hubungan sekssual menunjukkan
bahwa kekhususan pemeriksaan spermatozoa dan PSA rapid test memiliki tingkat yang sama
baik, yaitu 100%. Dengan demikian, kedua tes ini sangat spesifik untuk mendeteksi air semen
atau komponen laki-laki dalam alat kelamin perempuan. Oleh karena itu, hasil positif dari
pemeriksaan spermatozoa dan PSA rapid test pada usap vagina memastikan bahwa hubungan
seksual telah terjadi.14
Disisi lain, pemeriksaan spermatozoa memiliki sensitivitas rendah (23,08%)
dibandingkan dengan PSA rapid test (84,62%). Data ini menunjukkan bahwa kemungkinan
hasil negatif palsu pada pemeriksaan spermatozoa cukup tinggi, terutama pada korban yang
telah mencuci alat kelamin mereka.Probabilitas hasil negatif palsu pada PSA rapid test lebih
kecil daripemeriksaan spermatozoa karena cukup sensitive untuk mendeteksi PSA dalam
keeadaan konsentrasi rendah.StudimenunjukkanbahwaPSA rapid testmemiliki 87,5%
akurasiuntukmendeteksikomponenlaki-laki. HasilserupaditunjukkanolehChomon, et al yang
menemukanakurasiPSA

rapid

testmencapai

81%.Olehkarenaitu,

PSA

rapid

testdianjurkanuntukmenggantikanpemeriksaan

spermatozoa

yang

hanyamemilikitingkat

akurasi sebesar 37,5%.16

Tabel 3. Perbedaan PSA rapid test, tes asam fosfatase, danmikroskopik spermatozoa
Jenis Tes
Penilaian
Sensitivitas

PSA Rapid Test

Tes Asam Fosfatase

81%

78,9%

Mikroskopik
Spermatozoa
23,08%

84,6%
84%
55,4%
95%

82,7%
82%
51,7%
94,3%

100%
37,5%
100%
23,08%

Spesifisitas
Akuransi
Nilai prediksi positif
Nilai prediksi negatif

2.4.6. Penemuan PSA pada Cairan Lain di Dalam Tubuh


Perkembangan

yang

ada

sekarang

inidiketahuibahwa

PSAdapat

ditemukan

padabanyak cairan dan jaringanselain pada air semen, diantaranya jaringan payudara,
tumor,kelenjar periuretra,ASI, cairan ketuban, dan urin perempuan Tabel 1. Konsentrasi
terbesar dari PSA selaindariair semenadalahpada ASI dan cairan ketuban. Salah satu kasus
yangpernahdilaporkanadalahditemukannya PSA di popokbayiyang menyusu, ternyataberasal
dari kolostrum dalam ASI.17,18
Tabel4.Konsentrasi PSA pada Cairan-cairan Tubuh

Tabel 5.Konsentrasi PSA di urin, serum, dan semen

Jumlah PSAdapat ditemukan dalam urin perempuan, serum perempuan, dan air semen
laki-laki, berdasarkan temuan yang dipublikasikantercantum dalam Tabel 5. Pada tabel 2,
nilai-nilai yang digunakan untukkonsentrasi PSA adalah jumlah maksimum yang diamati
dalam urin dan serum, serta nilai rata-rata dari PSA dalam air semen. Penelitian yang
dilakukan untuk mendapatkan hasil Tabel 5 adalah dari usap atau noda yang diekstrak dalam
volume minimal 1 mL atau sesuaibuffer, kemudian hanya 200 uL ekstrak yang ditambahkan
padaalat tes dan hasilnya harus dibacadalam waktu 10 menit. Kegagalan untuk mengikuti
petunjuk tersebut dapat mengakibatkanhasil yang tidakakurat.17
2.5. Laporan Kasus10
Otopsi pada korban perkosaan dengan menggunakan tes PSA kit sebagai inovasi
terbaru untuk investigasi kekerasan seksual di Thailand
Seorang wanita Thailad berusia 30 tahun telah ditemukan tewas di lantai dasar
disebuah monumen kecil dijalan Raja Dumnern Bangkok, Thailad, dengan memakai kaos
oblong tanpa lengan dan tidak menggunakan pakaian bagian bawah, dengan di temukan
bercak darah di seluruh bagian tubuh korban sebanyak lebih kurang 1000 cc. Penyelidikan
kasus telah di lakukan pada tanggal 24 Januari 2006 sekitar jam 10 malam.

Pemeriksaan pada jenazah menunjukkan, jenazah merupakan seorang wanita paruh


baya, berkebangsaan Thailand dengan paras menarik namun terlihat pucat. Terlihat beberapa
luka disebabkan oleh senjata tajam yang terdapat pada leher dan dada. Pada pemeriksaan luar
ditemukan :
1. Pada bagian leher kanan terdapat luka bacok dengan sudut lancip dengan ukuran
lebar 1,6 cm panjang 9 cm dan dalam 15,5 cm, yang menembus sampai ke ruang
mediastinum bagian atas, yang memotong trakea dan arteri karotis eksterna kanan
2. Di bagian tengah dan bagian bawah leher ditemukan 2 luka tusuk. Luka pertama
berukuran lebar 1 cm panjang 2,5 cm dan dalam 6 cm, luka tusuk kedua berukuran
lebar 0,3 cm panjang 2,5 cm dan dalam 3,5 cm
3. Luka pada leher kanan bawah berukuran lebar 0,8 cm, panjang 9,5 cm, dan dalam
3,3 cm dan pada luka pada daerah supralavikula kiri lebar 0,3 cm, panjang 8 cm,
dalam 2,5 cm. Luka pada dada bagian atas berukuran lebar 0,7 cm, panjang 7 cm,
dalam 1,7 cm dan pada bagian tengah bahu kiri terdapat luka berukuran lebar 0,7
cm, panjang 2,5 cm dalam 2 cm
Pemeriksaan khusus pada bagian genitalia :
1. Di temukan luka robek pada bagian vulva berukuran 1x2 cm
2. Di temukan luka lecet pada dinding vagina bagian posterolateral kanan
3. Di temukan luka robek pada ostium cervix
Setelah dilakukan otopsi kurang lebih 12 jam setelah kematian didapatkan trakea yang
terpotong secara lengkap 3,5 cm dibawah pita suara, luka yang mengiris arteri karotis eksterna
kanan dengan berukuran 0,3 cmx 1cm dan luka yang mengiris otot leher. Organ dalam yang
lain tidak ada kelainan. Sebab kematian seperti yang dilaporkan yaitu terdapat luka yang
memotong trakea dan arteri karotis kanan yang disebabkan oleh luka tusuk dan luka bacok
(beberapa buah luka akibat kekerasan benda tajam) dan kasus ini bermotifkan pembunuhan.
Pada pemeriksaan toksikologi ditemukan etanol dalam darah 395 mg% dan juga
ditemukan kafein yang positif didalam darah, 1,51 gr/ml.Pada post mortem usap vagina tidak
ditemukan sperma dan tes asam fosfatasenya negatif tetapi positif kuat pada tes PSA kit
dengan dikonfirmasikan menggunakan ELISA untuk PSA 52,07 ng/ml.
Diskusi
Berdasarkan hasil investigasi pada TKP dimana korban ditemukan meninggal dalam
keadaan telanjang, di duga korban merupakan korban kekerasan seksual yang dibunuh.Pada

pemeriksaan luar didapatkan beberapa buah luka yang disebabkan oleh kekerasan benda tajam
yang diperjelas dengan temuan bercak darah yang banyak.
Pemeriksaan khusus pada alat genitalia perempuan menunjukkan adanya luka robek
pada vulva, luka lecet pada dinding vagina bagian posterolateral kanan dan luka robek
sekeliling tulang servikal yang membuktikan bahwa korban mengalami kekerasan seksual
sebelum meninggal.
Pemeriksaan pada organ dalam menambah bukti sebab kematian disebabkan oleh luka
yang memotong trakea dan arteri karotis kanan yang disebabkan oleh luka bacok (beberapa
buah luka akibat kekerasan benda tajam).
Penemuan etanol dalam darah 395 mg% menyebabkan korban berada dalam keadaan
koma dan kemungkinan tidak berdaya untuk membela diri dari serangan pelaku.Pada post
mortem usap vagina yang didapatkan dari fornix porsio dari vagina korban dilakukan untuk
menginvestigasi kekerasan seksual pada korban sebelum mati.Spermatozoa yang tidak
ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik menunjukkan pelaku laki-laki mungkin telah
melakukan vasektomi.
Test asam fosfatase yang negatif mungkin dapat dijelaskan oleh kerana degredasi asam
fosfatase yang cepat pada jenazah korban disebabkan oleh kondisi vagina yang postmortem.
Seperti yang dijelaskan oleh Hochmeister M et al, waktu kasar terdeteksi maksimum bagi test
asam fosfatase dalam kasus penyerangan seksual adalah 14 jam. Di sisi lain, saat terdeteksi
maksimum PSA adalah lagi (14-47 jam) dalam kondisi vagina antemortem; dengan demikian,
waktu degradasi protein biologis mungkin akan lebih cepat dalam situasi postmortem.
Menurut penelitian lain oleh Simich JP et al, waktu rata-rata bagi perusakan dari PSA telah
ditemukan kira-kira 27 jam. Namun, fosfatase asam dari vagina pasca senggama sama
penyeka menunjukkan waktu peluruhan vagina rata-rata 14 jam.
Hasil ini untuk kit tes PSA adalah sangat positif, yang dikonfirmasi oleh tinggi tingkat
PSA ELISA metode kuantitatif 52,07 ng / ml. Secara umum, artefak dari baik itu cairan tubuh
laki-laki atau perempuan atau bahkan urin laki-laki menunjukkan tingkat rata-rata PSA di
bawah 52,07 ng / ml. Menurut Samich JP et al, nilai batas yang wajar untuk negatif sampel
ditetapkan menjadi 1,77 ng / ml dengan 99,997% kepastian bahwa tidak ada yang positif
palsu yang terjadi. Oleh karena itu, penulis yakin dapat menyimpulkan bahwa dari
pemeriksaan usap vagina dikumpulkan dari vagina korban terdiri dari air semen laki-laki.
Levine et al telah melakukan penelitian pada penggunanaan PSA dalam identifikasi
cairan semen pada kasus post mortem dan menyetujui ada persamaan antara PSA
imunoradiometric assay dan identifikasi menggunakan spermatozoa pada 67 dari 80 kasus

(84%). Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan PSA dapat valid untuk deteksi dan
identifikasi cairan semen pada kasus post mortem dengan hasil yang bagus dibandingkan
dengn cara baku emas yaitu identifikasi spermatozoa.
Akhirnya karena spesifisitas dan sensitifitas cara PSA dalam mendeteksi cairan semen
pada usap vagina lebih baik dari tes asam fosfat dan karena tes asam fosfat hanya di gunakan
untuk skrining manakala tes PSA ini untuk tes konfirmasi, jadi hasil penelitian yang terbaru
mengusulkan tes PSA di jadikan tes tambahan bersamaan tes konvensional sperm smear dan
tes asam fosfat untuk kasus kejahatan seksual di Thailand.

Bab III
Penutup
3.1. Kesimpulan
Terdapat relevansi pemeriksaan PSA pada kasus perkosaan. Perbandingan PSArapid
test dengan tes lain untuk mengidentifikasi pelaku perkosaan seperti tes asam fosfatase dan
pemeriksaan mikroskopik spermatozoa menunjukkan hasil keunggulan pada PSA rapid test.
Oleh karena itu ilmu kedokteran forensik di negara-negara maju sudah semakin banyak
menggunakan tes PSA.Namun, PSA rapid test juga memiliki kelemahan dapat menghasilkan
hasil negatif palsu bila tidak dilakukan sesuai dengan prosedur.
3.2. Saran
3.2.1. Institusi kesehatan

Disarankan institusi kesehatan di Indonesia, terutama bagian ilmu forensic


mempertimbangkan peggunaan PSA rapid testsebagai tes konfirmasi kasus perkosaan
berdampingan dengan pemeriksaan yang sudah digunakan sebelumnya, seperti tes

asam fosfatase dan tes mikroskopik spermatozoa.


Memberikan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang hal-hal yang harus
dilakukan bila terjadi perkosaan, misalnya segera melapor kepada pihak berwenang
dan tidak melakukan banyak manipulasi yang dapat menghilangkan atau merusak
barang bukti.

Daftar Pustaka

1. W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Balai


Pustaka, 1984. h.741.
2. Dwiati I. Perlindungan hukum terhadap korban pidana perkosaan dalam peradilan
pidana. Semarang : Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. 2007.
3. Hengky. Uji diagnostic rapid test pengukuran prostate specific antigen (PSA) dengan
gen SRY sebagai bahan baku standar pada usapan vagina korban kejahatan seksual.
Dipublikasikan tannggal 9 Maret 2013 dari http://www.sanglahhospitalbali.com/
v1/penelitian.php?ID=49. Diunduh tanggal 20 Oktober 2015.
4. Idries, AM. Tjiptomartono, AL. Penerapan ilmu kedokteran forensik dalam proses
penyidikan. Edisi 2. Jakarta: Sagung Seto, 2011. H. 113-22.
5. Muller K. Forensic science in medicine: what every doctor should know. CPD. 2003.p.
41-5.
6. Philip SL. Clinical Forensic Medicine : Much Scope for Development in Hong Kong.
Hongkong : Department of Pathology Faculty of Medicine University of Hong Kong.
2007.
7. Aitken C. Robert P. Jackson G. Probability and Statistical Evidence in Criminal
Proceedings. Fundamentals of Probability and Statistical Evidence in Criminal
Proceedings. Guidance for Judges, Lawyers, Forensic Scientists and Expert Witnesses.
Practitioner guide No 1.
8. A normal ano-genital exam: sexual abuse or not?. Hornor G. 2010. Diunduh dari:
http://www.medscape.com/viewarticle/723678_3 pada 22 Oktober 2015.
9. Imperforate hymen. Hillard PJA. Dipublikasikan pada 12 Juni 2013. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/269050-overview#showall pada 22 Oktober
2015.
10. Talthip, J. Case report: an autopsy report case of rape victim by the aplication of PSA
test kit as a new innovation for sexual assault investigation in Thailand. In: J Med
Assoc Thai 2007; 90(2):348-51.
11. Dahlan S. Ilmu kedokteran forensuk: Pedoman bagi dokter dan penegak hukum.
Semarang: badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2007.h.130.
12. Kurnia, UH. Evaluasi penggunaan one step abacard p30 test dan seratec semeiquant
kit sebagai rapid test pada deteksi prostate-specific antigen (PSA) dalam semen.
Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, 2012.
13. Catalona, WJ. History of the discovery and clinicaltranslation of prostate-specific
antigen. Department of Urology, Northwestern University Feinberg School of
Medicine, Chicago, USA.

14. Henky. Prostate specific antigen (PSA) rapid diagnostic tests compared with SRY gene
for detecting male component in vaginal swabs. In: Indonesian Journal of Legal and
Forensic Sciences 2012,2(2): 37-41.
15. Peonim V. Effectiveness of the prostate specific antigen (PSA) for the semen detection
in vaginal specimens of raped women. In Royal Thai Air Force Medical Gazette.
Vol.56 No.2. May-August 2010. Thailand: Mahidol University.
16. Henky. The Validity of Rapid Test to Detect Prostate-Specific Antigen (PSA) in
Seminal Fluid. Medical Journal of Indonesia 2011; 20(4): 278-82.
17. Breul J, Pickl U, Hartung R. Prostate-specific antigen in urine. Eur Urol 1994, 26(1):

P.18-21.
18. Bosco PJ, Hapack B. Probable cause of a false positive reaction with ABA card test for

p30 protein in semen. MAFS Newsletter 2001, 30 (1): 21.

Anda mungkin juga menyukai